Fara terbangun dari tidurnya saat suara bel pintu terdengar nyaring, berbunyi beberapa kali berturut-turut. Dengan mata yang masih berat dan tubuh yang belum sepenuhnya sadar, ia melirik jam di meja nakas. Hampir pukul delapan pagi. Mengernyit bingung, ia berjalan perlahan ke arah pintu depan sambil menguap lebar, rambutnya berantakan, dan langkahnya terasa malas.
Ketika mengintip melalui lubang kecil di pintu, Fara langsung terlonjak kaget. Di depan sana, berdiri Halimah, ibu Damian, mertuanya. Wanita itu mengenakan blus krem lembut yang dipadukan dengan rok panjang berwarna senada, serta sepatu datar yang tampak nyaman tapi tetap elegan. Rambutnya sebagian beruban, tetapi ditata dengan sangat rapi, seolah Halimah adalah gambaran sempurna seorang wanita yang menjaga keanggunannya di usia lebih dari enam puluh tahun.
Dengan cepat Fara membuka pintu, meski rasa kantuk masih terasa berat di kepalanya. “Ibu? Selamat pagi,” sapanya dengan senyum gugup, mencoba terlihat tenang meski jelas sekali ia belum sepenuhnya siap menyambut tamu.
“Selamat pagi, Fara,” jawab Halimah dengan suara lembut namun penuh makna. Tatapannya langsung menyapu penampilan Fara yang hanya mengenakan dress tipis selutut, rambut berantakan, dan wajah polos tanpa riasan yang masih menyiratkan sisa tidur. Senyum Halimah sedikit melebar, namun ada lirikan tajam yang membuat Fara merasa seperti anak sekolah yang ketahuan guru.
“Aku terlalu pagi, ya?” Halimah melanjutkan, senyumnya tetap ramah namun terasa menggoda.
“Oh, tidak, Bu. Maksud saya…” Fara gugup, mencoba menyusun kata-kata sambil menahan rasa malunya. “Saya hanya kaget. Tidak menyangka Ibu akan datang pagi-pagi.”
Halimah terkekeh kecil. “Keputusan mendadak, sayang. Aku pikir, kapan lagi menjenguk anak dan menantu? Lagi pula, sudah lama aku tidak melihat kalian. Rasanya Damian semakin sibuk, dan kamu juga pasti punya banyak kesibukan, bukan?”
Fara hanya mengangguk kecil sambil membukakan pintu lebih lebar. “Tentu saja, Bu. Silakan masuk.”
Begitu Halimah melangkah masuk dengan anggun, tatapannya kembali jatuh ke dress Fara yang kusut. Ia menggeleng kecil sambil tersenyum tipis. “Tapi, Fara, kamu ini terlalu santai. Damian tidak keberatan istrinya menyambut tamu dengan... ya, pakaian tidur seperti ini?” tanyanya sambil mengangkat alis, nada bicaranya setengah menggoda namun jelas menyiratkan keprihatinan khas seorang mertua.
Fara yang sudah merasa canggung sejak awal hanya bisa tersipu malu. Ia tertawa kecil, berusaha menyembunyikan rasa tidak nyamannya. “Maaf, Bu. Saya tadi baru bangun tidur. Tidak menyangka akan ada tamu pagi-pagi.”
Halimah hanya tersenyum sambil duduk di sofa ruang tamu. Gerakannya anggun, setiap langkah dan sikapnya terlihat penuh perhitungan, seperti seorang bangsawan yang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. “Ah, Fara, kamu ini lucu sekali. Tidak apa-apa, sayang. Tapi ingat, seorang istri sebaiknya selalu siap. Siapa tahu ada kejutan seperti ini lagi, kan?”
“Iya, Bu. Saya akan ingat,” jawab Fara, mencoba terdengar percaya diri meskipun wajahnya masih memerah.
Fara segera menuju dapur untuk menyiapkan minuman. Di tengah aktivitasnya menyeduh teh, telinganya samar-samar menangkap gumaman Halimah yang hampir seperti bisikan, “Anak muda zaman sekarang. Untung Damian itu sabar.”
Fara menghela napas panjang, mendengar gumaman itu dengan perasaan campur aduk. “Astaga, malu banget,” pikirnya sambil menuangkan teh ke dalam cangkir. Ia berjanji dalam hati untuk tidak mengulangi kekacauan ini di lain waktu.
Kembali ke ruang tamu dengan secangkir kopi panas di tangan, Fara berusaha menenangkan dirinya. “Ini, Bu. Tehnya. Saya harap cocok dengan selera Ibu.”
Halimah menerima cangkir itu dengan senyum hangat. “Terima kasih, Fara. Kamu memang menantu yang baik, meskipun kadang-kadang…” Ia berhenti sejenak, seolah ingin menggoda lagi, namun akhirnya memilih diam.
Fara hanya bisa tersenyum canggung sambil duduk di sofa sebelah, merasa seperti sedang menjalani ujian tanpa persiapan. Meski begitu, ia tahu Halimah tidak berniat jahat. Semua komentar mertuanya, meskipun terasa menusuk, datang dari kasih sayang yang tulus.
Suasana yang semula terasa sedikit canggung berubah menjadi lebih menenangkan seiring berjalannya waktu. Fara dan Halimah mulai berbicara lebih santai, meskipun masih ada ketegangan tipis yang tergantung di udara. Halimah tampaknya merasa lebih nyaman dengan topik-topik ringan, seperti cuaca dan berita terbaru seputar keluarga besar.
Namun, percakapan itu tidak berlangsung lama sebelum Halimah mengalihkan topik ke sesuatu yang lebih sensitif. “Fara, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini? Kamu dan Damian baik-baik saja, kan?” tanyanya, suaranya terdengar lebih dalam, seolah mencoba menggali lebih jauh.
Fara sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tapi ia mencoba menjaga ekspresinya. “Kami baik-baik saja, Bu. Damian sangat sibuk, seperti yang Ibu bilang tadi,” jawabnya sambil mengatur duduk lebih nyaman di sofa.
Halimah mengangguk, matanya menatap Fara dengan tajam. "Tentu. Tapi kamu tahu, Fara, aku berharap... kalian bisa lebih fokus pada... keluarga kecil kalian." Kalimat itu terasa lebih tajam daripada yang diinginkan, dan Fara merasakan desakan yang hampir tak terhindarkan di dalamnya.
“Fara, kamu sudah menikah dua tahun, kan? Aku pikir sudah saatnya kalian...,” Halimah berhenti sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat, sebelum melanjutkan, "memikirkan soal anak. Kamu tahu betapa pentingnya itu, bukan?"
Fara terdiam sejenak, kata-kata itu membuatnya sedikit tercekik. Ada ketegangan di dada, rasa tidak nyaman yang perlahan menyelimuti suasana. Ia tahu benar bahwa pertanyaan itu akan muncul. Keluarga Damian, terutama Halimah, sudah cukup sering mengungkitnya, dan itu selalu membuat Fara merasa terpojok.
“Ibu...” Fara mencoba mencari kata-kata yang tepat, merasa canggung untuk membicarakan hal ini. “Kami memang sedang berusaha. Tapi... kamu tahu, semuanya memerlukan waktu, Bu. Kami... kami sudah berbicara tentang itu, tapi belum ada rezeki,” kata Fara dengan suara yang lebih rendah, mencoba menyembunyikan perasaan kecewanya.
Halimah menatap Fara dengan mata yang tajam, seolah menilai setiap kata yang keluar dari bibir menantunya. “Aku tahu, sayang. Tapi kamu harus ingat, tidak ada yang bisa menunda waktu. Usia tidak akan berhenti, dan kalian harus memikirkan masa depan kalian.” Ada nada serius di suara Halimah, yang membuat Fara merasa seolah sedang diuji.
Fara menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Ia tahu bahwa Halimah hanya ingin yang terbaik untuk keluarga mereka, namun kadang-kadang, perasaan tertekan itu sangat sulit untuk ditahan. “Iya, Bu. Kami akan berusaha,” jawab Fara dengan tenang, meski hatinya terasa berat.
Halimah menghela napas panjang, tampak sedikit lega. “Baiklah, Fara. Aku tahu kalian sedang berusaha. Aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja.” Ia tersenyum, namun senyumnya terasa lebih tipis dari sebelumnya. “Jangan terlalu terburu-buru, sayang. Semua akan datang pada waktunya.”
Fara mengangguk pelan, meskipun dalam hati ia merasa sedikit lelah. Bagaimana ia bisa meyakinkan Halimah bahwa mereka sudah melakukan segala yang kami bisa? Ia merasa beban itu semakin berat, dan tekanan yang datang dari keluarga Damian seolah semakin intens.
Fara menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya. Ia tahu suasana ini harus dicairkan. Sekuat tenaga, ia memasang senyuman yang meski tipis tetap terlihat tulus, lalu menatap Halimah yang sedang menyeruput teh di sofa.“Ibu suka tehnya? Saya mencoba merek baru ini. Damian juga bilang aromanya lebih wangi daripada teh yang biasanya kita beli,” ujarnya, mencoba memulai percakapan ringan.Halimah menaruh cangkir tehnya di atas meja dengan gerakan lambat, tatapannya meneliti wajah Fara. “Lumayan,” jawabnya singkat. “Tapi rasanya agak hambar. Kalau Damian di sini, dia pasti langsung bilang teh ini terlalu lemah untuk seleranya.”Fara tersenyum kaku. Kalimat itu terdengar seperti komentar biasa, tapi baginya menyiratkan sindiran yang cukup tajam. Namun, ia tetap menahan diri. “Oh, maaf, Bu. Lain kali saya akan cari teh yang lebih sesuai,” balasnya, mencoba tetap ramah.Halimah hanya mengangguk kecil, lalu m
Dua hari berlalu sejak pertemuannya dengan Halimah, dan perasaan Fara masih berkecamuk. Ia mencoba menepis kata-kata mertuanya yang terus terngiang di kepala, tetapi semakin ia mencoba, semakin dalam kata-kata itu menusuk. Damian pun, seolah sengaja menguatkan kesan bahwa ia tidak peduli. Selama dua hari penuh, hanya sekali Damian menghubunginya, itu pun sebatas obrolan singkat yang berlangsung kurang dari lima menit."Maaf sayang, banyak yang harus aku kerjakan. Nanti aku kabari lagi."Itu saja. Tidak ada nada perhatian, tidak ada pertanyaan tentang bagaimana perasaan Fara setelah pertemuannya dengan Halimah. Hanya nada datar seorang pria yang tenggelam dalam dunianya sendiri.Fara merasa marah, kesal, dan terabaikan. Ia muak duduk sendirian di rumah, mencoba menebak-nebak isi kepala Damian, sambil mengingat ucapan Halimah yang seolah menyalahkan semua padanya. Malam itu, setelah lama menatap pantulan wajahnya di cermin, ia mengambil ponselnya dan menelepon Kia
Di bawah cahaya redup klub malam, alkohol mulai menguasai Fara. Cocktail yang diminumnya barusan seolah membakar semua ragu yang tersisa. Tubuhnya terasa lebih ringan, pikirannya seolah melayang. Irama musik dan dentuman bass yang berulang membenamkan dirinya lebih dalam ke dalam euforia malam itu.Pria yang menari bersamanya, yang kini memperkenalkan dirinya sebagai Arman, tampak menikmati setiap gerakan Fara. Tatapan matanya tidak pernah lepas dari tubuh Fara yang bergerak dengan sensual di bawah sorotan lampu strobo. Fara tersenyum, kali ini senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya—senyuman nakal yang menyembunyikan rasa percaya diri baru yang muncul dari dalam dirinya."Kamu menari dengan baik," bisik Arman di telinganya, suaranya bergetar nyaris kalah oleh suara musik.Fara mendekat, memiringkan kepalanya dengan gaya menggoda. "Mungkin itu bukan karena aku... mungkin kamu yang membuatku merasa nyaman," balasnya dengan nada yang lembut tapi penuh g
"Jadi begini caramu bersenang-senang?" Suara keras dan penuh kejutan itu menghantam Fara, membuatnya terhenyak. Ia menoleh dengan cepat, dan di sana, berdiri Damian—suaminya. Ekspresinya serius, wajahnya kaku, penuh kerutan kekecewaan yang sulit disembunyikan. Tatapan matanya yang biasa penuh kasih kini berubah tajam, menyorotnya dengan penuh kemarahan.Fara merasa seolah-olah dunia di sekitarnya berhenti berputar. Damian ada di sana, berdiri tegak di belakangnya, dengan tubuh yang tegang, seolah menunggu penjelasan, atau lebih tepatnya, mencari jawaban atas kekecewaannya yang sudah menggunung.Di belakang Damian, Kiara tampak canggung. Sambil memberikan isyarat dengan tangannya, ia berusaha menenangkan situasi yang semakin memanas. Sepertinya Kiara tahu betul bahwa keadaan ini lebih rumit dari yang Fara duga, tapi yang ia lakukan justru malah membuat suasana menjadi lebih canggung.Fara bisa merasakan ketegangan yang menyelimuti ruang itu, seperti udara y
Damian terpaku, mulutnya terkatup rapat. Fara bisa melihat kilatan kebingungan dan sedikit rasa bersalah di mata suaminya, namun ia tahu bahwa itu hanya sementara. Keheningan kembali menyelimuti mobil mereka, namun kali ini, terasa lebih berat. Fara merasakan setiap detik berlalu seolah menjadi beban yang tak tertahankan. Ia merasakan ketegangan yang ada di antara mereka, bukan hanya karena kata-kata yang terucap, tetapi karena kenyataan bahwa mereka tidak lagi bisa berhubungan seperti dulu.Fara menatap ke luar jendela, tidak ingin melihat wajah Damian. Ia merasa terperangkap dalam kebisuan yang semakin membangun jarak di antara mereka. Semua kata-kata yang tidak pernah terucapkan selama ini, semuanya terpendam dalam dada Fara, bergejolak, ingin keluar dan menghancurkan segala sesuatu yang mereka bangun. Ia tahu ini bukan hanya tentang apa yang terjadi malam ini—ini adalah akumulasi dari rasa sakit yang telah menumpuk selama bertahun-tahun, saat ia merasa tidak diharga
Beberapa hari berlalu, suasana di rumah Damian dan Fara tetap terasa dingin. Tak ada percakapan berarti di antara mereka. Damian, seperti biasa, tenggelam dalam pekerjaannya. Ia lebih sering berada di ruang kerjanya, menatap layar laptop seolah semua masalah bisa diselesaikan dengan tenggelam dalam tumpukan dokumen dan rapat online. Fara, di sisi lain, lebih sering duduk di ruang tamu, menatap televisi tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ditayangkan. Rutinitas harian mereka berjalan seperti dua orang asing yang tinggal di bawah satu atap. Hanya ada keheningan yang memisahkan, sesekali pecah oleh obrolan singkat yang terasa hambar—lebih mirip kewajiban berbicara daripada komunikasi yang tulus.Fara merasa semakin terasing di rumahnya sendiri. Setiap sudut rumah, yang dulu terasa hangat oleh tawa dan percakapan, kini hanya menyisakan bayangan luka. Sofa di ruang tamu yang dulu menjadi tempat mereka berbincang hangat kini hanya menjadi tempat Fara melamun. Ruang makan
“Cuma bercanda,” kata Fara menggoda Kiara sambil tertawa kecil. Sejak percakapan itu, Fara merasa ada sesuatu yang menggelitik di pikirannya tentang tetangga baru itu. Rasanya, penasaran mulai muncul begitu saja, seperti sesuatu yang tak bisa diabaikan.Hari itu, Fara sedang membersihkan rumah, menyapu dan mengatur segala sesuatunya dengan gerakan otomatis, ketika tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Pikirannya sedikit melayang, mengingat percakapan dengan Kiara beberapa hari sebelumnya, namun dia berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya.Dengan langkah agak malas, Fara berjalan menuju pintu dan membukanya. Berdiri di sana seorang pria, mengenakan penampilan yang cukup mengejutkan. Fara tertegun sejenak melihatnya."Dih, culun banget," pikir Fara dalam hati. Gayanya benar-benar tak sesuai dengan apa yang ia bayangkan. Pria itu mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru yang dimasukkan begitu saja ke dalam celana jeans yang tampak sedikit kebesaran
“Kiara, kamu nggak bakal percaya deh! Dia bener-bener culun banget! Penampilannya kayak nggak cocok sama lingkungan sini,” kata Fara, suaranya penuh dengan gelak tawa kecil. “Bayangin aja, dia pakai kemeja kotak-kotak yang dimasukin ke celana jeans kebesaran, terus kacamata tebal yang bikin dia makin susah dikenali. Duh, aku sampe bingung deh, ini beneran tetangga baru kita?”Kiara yang ada di seberang telepon terdengar tertawa ringan. “Hahaha, seriusan? Bener-bener nggak sesuai ekspektasi ya? Terus, dia bawa kue bolu gitu? Kayak udah siap jadi tetangga baik yang klise banget!”“Iya, dia bawa kue bolu buat ‘tanda pertemanan’. Tapi jujur, aku nggak tahu ya, ini tuh lebih kayak canggung banget daripada manis. Dia nggak ada rasa malu gitu, Ki. Aku sempat mikir, ‘Kok bisa sih ada orang segitu nggak peduli sama penampilan?’” Fara melanjutkan ceritanya, sambil tertawa pelan. “Pokoknya, itu si Juan bener-bener bikin aku bingung deh. Gimana bisa dia nggak sadar penampilannya kayak gitu?”Perca
Fara tetap terdiam menatap danau, pikirannya mengembara jauh. Suara air yang tenang seolah membawanya kembali ke masa kecilnya—masa di mana ia selalu bertanya-tanya kenapa ia tidak seperti anak-anak lain.Juan menoleh ke arahnya, melihat ekspresi sendu yang tak kunjung hilang dari wajah Fara. Ia tahu ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tuntutan mertua atau kecemasan terhadap rumah tangganya.Setelah beberapa saat hening, Juan akhirnya membuka suara. “Apa yang bikin kamu sekeras ini pengen punya anak?” tanyanya pelan.Fara menghela napas panjang, lalu menautkan jari-jarinya erat di atas lutut. Ia butuh waktu sebelum akhirnya berkata, “Karena aku ingin merasakan bagaimana rasanya punya keluarga.”Juan mengernyit. “Kamu kan udah punya suami?&r
Damian telah tertidur pulas, sementara Fara masih terjaga dalam kegelapan kamar. Matanya menatap langit-langit tanpa benar-benar melihat apa pun. Ada perasaan mengganjal dalam dadanya, perasaan yang sejak tadi berusaha ia abaikan, tapi tetap mendesak untuk diakui.Ia membalikkan badan, mencoba mencari posisi nyaman, tetapi tetap saja gelisah. Napasnya berat, pikirannya terus berputar seperti kaset yang diputar ulang.Akhirnya, dengan gerakan pelan agar tidak membangunkan Damian, Fara bangkit dari tempat tidur. Ia menyambar jaket tipis, kemudian melangkah keluar kamar. Rumah terasa sunyi, hanya terdengar dengkuran halus dari Damian yang seakan menjadi bukti bahwa hanya dia yang tersiksa oleh pikirannya sendiri.Tanpa ragu, Fara berjalan menuju garasi, mengambil sepeda listrik yang selama ini jarang ia gunakan. Udara malam m
Begitu mobil berhenti di garasi, Fara segera membuka pintu dan turun tanpa menunggu Damian. Ia melangkah cepat ke dalam rumah, berusaha menghindari pembicaraan yang masih menggantung di udara. Namun, Damian tidak membiarkannya begitu saja. Ia menyusul ke dalam, menutup pintu dengan lembut, lalu mendekati istrinya yang kini berdiri di ruang tengah, memunggunginya.“Fara,” suara Damian terdengar tenang tapi sarat dengan ketegasan. “Dengar aku dulu.”Fara mengusap wajahnya dengan kasar, menahan isakan yang ingin pecah. “Aku lelah, Damian. Aku nggak mau mendengar alasanmu lagi.”“Tapi kamu harus dengar.” Damian berjalan mendekat dan berdiri di belakangnya. “Aku ngerti kamu sakit hati karena omongan Mama tadi. Aku tahu kamu ingin membuktikan sesuatu. Tapi Fara, kita nggak bis
Damian meraih tangan Fara yang gemetar di pangkuannya, mencoba menenangkannya. Mata istrinya masih berkaca-kaca, bibirnya terkatup rapat seolah menahan emosi yang nyaris meluap. Damian tahu betul bagaimana perasaan Fara saat ini—terluka, terhina, dan mungkin juga kecewa.“Fara…” suaranya pelan, penuh kehati-hatian.Fara menggeleng, berusaha menarik tangannya dari genggaman Damian, tapi suaminya menahannya. “Jangan dengarkan omongan Ibu,” lanjut Damian. “Dia nggak punya hak buat ngomong kayak tadi.”Tapi Fara hanya menunduk, air matanya jatuh ke pangkuannya. “Kamu dengar sendiri, kan?” suaranya nyaris berbisik. “Dia bilang aku nggak berguna sebagai istri karena aku nggak bisa kasih kamu anak.”Damian menghela n
Halimah menatap Damian dengan ekspresi tidak puas, tapi akhirnya menghela napas dan memilih diam.Namun, Fara bisa merasakan ketidaksetujuan mertuanya. Bagi Halimah, seorang istri yang sudah menikah selama lebih dari dua tahun tapi belum memberikan cucu adalah sesuatu yang patut dipertanyakan.Di sisi lain, Hartono—ayah Damian—yang sedari tadi lebih banyak diam akhirnya bersuara."Kalian tidak perlu terburu-buru," katanya dengan suara berat namun tenang. "Setiap pasangan punya waktunya masing-masing. Asal kalian bahagia, itu sudah cukup."Damian tersenyum tipis, sedikit lega karena setidaknya ayahnya tidak ikut menekan mereka.Namun, sebelum suasana benar-benar kembali santai, Halimah tiba-tiba b
Fara menatap bayangannya di cermin, menghela napas panjang sebelum merapikan blus sutra yang ia kenakan. Meski sudah berusaha tampak rapi, matanya tetap terlihat lesu, seakan ada beban yang terus menghimpit dadanya.Damian yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya, perlahan mendekat dan melingkarkan lengannya di pinggang Fara. Ia mengecup pelan puncak kepala istrinya, suaranya lembut ketika berbisik, "Semua akan baik-baik saja."Fara hanya tersenyum tipis. Ia ingin percaya, ingin berpikir bahwa malam ini akan berlalu tanpa insiden, tanpa komentar yang menekan, tanpa tatapan yang menusuk. Namun, pengalaman selama ini mengajarinya untuk tidak berharap terlalu banyak.Mereka tiba di restoran tepat waktu. Cahaya keemasan dari lampu gantung memberikan kesan elegan pada ruangan. Pelayan berseragam hitam putih berjalan dengan anggun, menyajikan hidangan kepada tamu-tamu istimewa.Di sebuah meja besar, keluarga besar Damian sudah berkumpul.Halimah, mertuanya, duduk anggun di samping suamin
Setelah kepergian Juan, Fara masih berdiri di dekat pintu, jemarinya memainkan ujung kaosnya tanpa sadar. Jantungnya masih berdebar pelan, mengingat tatapan Juan sebelum pria itu pergi terburu-buru."Kenapa dia mendadak jadi aneh begitu?" pikirnya.Fara menghela napas, lalu menggelengkan kepalanya sendiri. Ia harus berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak. Ini bukan pertama kalinya ia bertemu Juan, tapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda.Saat malam tiba, Damian pulang kerja lebih awal dari biasanya. Fara yang tengah sibuk di dapur mendengar suara langkah kaki suaminya mendekat."Hei," sapa Damian sambil mencium keningnya sekilas sebelum duduk di meja makan.Fara tersenyum kecil. "Tumben cepat pulang?""Rapatnya selesai lebih cepat," jawab Damian sambil membuka kancing kerah bajunya. Ia lalu m
Fara mendorong troli perlahan di antara rak-rak supermarket, matanya menyapu deretan barang yang tersusun rapi. Ia hanya berniat membeli beberapa kebutuhan dapur, tapi tanpa sadar, daftar belanjaannya bertambah panjang.Saat hendak mengambil sekotak susu, suara familiar menyapanya dari samping. "Kamu lagi borong persediaan sebulan?"Fara menoleh cepat. Juan berdiri di sana, masih dengan penampilan uniknya—kemeja sedikit kebesaran dengan jaket hitam yang tampak tidak serasi, dan rambut acak-acakan seolah baru bangun tidur. Namun, berbeda dari sebelumnya, kali ini ekspresinya lebih ramah.Fara menghela napas. "Nggak juga, cuma… kayaknya aku terlalu impulsif kalau belanja."Juan melirik isi troli yang sudah cukup penuh. "Jelas banget. Kalau kamu butuh saran, aku bisa bantu milihin. Aku lumayan ngerti soal bahan makanan."Fara tersenyum tipis. "Boleh juga."Mereka mulai berjalan beriringan, memilih sayur dan buah dengan lebih selektif. Juan sesekali memberikan komentar tentang kualitas pro
Fara yang tersipu malu hanya bisa tersenyum, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Dengan langkah sedikit terburu-buru, ia berjalan menuju kasir terlebih dahulu, sementara Juan mengikuti dari belakang.Di meja kasir, Juan dengan cekatan melayani pembayaran Fara. Tangannya dengan luwes memasukkan croissant cokelat ke dalam kantong kertas, lalu menyerahkannya dengan senyum tipis yang masih menghiasi wajahnya. “Ini pesanannya. Semoga suka,” ujarnya dengan suara hangat.Fara menerima kantong roti itu dengan hati yang masih berdebar. “Terima kasih,” ucapnya pelan, lalu segera berbalik sebelum kegugupannya semakin terlihat. Kiara yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka, hanya menahan tawa geli sebelum akhirnya ikut melangkah keluar dari toko.Saat mereka berjalan pulang, Kiara tak bisa menahan diri untuk menggoda sahabatnya. “Astaga, Fara, tadi itu apa?” tanyanya sambil menyeringai, matanya berbinar penuh rasa jahil.