Home / Pendekar / Giok Langit / Bab 22 : Mengembara [Season 1]

Share

Bab 22 : Mengembara [Season 1]

Author: Adidan Ari
last update Last Updated: 2025-02-03 08:08:26
Rasanya matahari pagi ini tidak bersinar seterang pagi sebelumnya. Rasanya langit yang membentang sejauh mata memandang tidak sebiru seperti hari kemarin. Rasanya kicau burung yang selalu berisik itu tidak sesunyi hari ini. Entah kenapa, Long Wei merasakan beberapa perbedaan di sekelilingnya. Atau semua itu berubah karena perasannya yang juga ikut berubah?

Selama tujuh tahun Long Wei tinggal di sini, hidup berdua dengan Yang Feng untuk menuntut ilmu. Pada tahun-tahun awal, Long Wei selalu berpikir “Aku ingin balas dendam.” Seiring berjalannya waktu, pikirannya berubah menjadi “Aku ingin jadi pendekar.” Kemudian hari ini, tepat beberapa waktu lalu, belum terlalu lama, hatinya berbisik “Kakek ini guruku.”

Bertahun-tahun ia hidup bersama Yang Feng, bahkan melakukan perjalanan jauh mencari tempat sembunyi, menjadi buronan, kini harus berakhir di sini. Setelah bertahun-tahun, baru kali inilah Long Wei mengakui Yang Feng sebagai sosok guru setelah selama ini bersikeras dengan pesan mendiang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Giok Langit   Bab 23 : Hartawan Cia

    Hal pertama yang ia ingin lakukan adalah mencari musuh-musuh lamanya yaitu Zhu Ren pemimpin bajak laut Iblis Laut. Kemudian Pertapa Putih dan Tangan Maut. Long Wei rasanya belum bisa menjadi seorang anak yang berbakti seandainya belum menghabisi nyawa ketiga orang tersebut.Dari barat, dia menuju timur ke kawasan sungai Bai He. Tempat Desa Mingxia dan persembunyian mereka sudah menyeberangi sungai tersebut, maka ketika Long Wei tiba sana, ia berada di sisi barat.Pemuda ini mengikuti arus sungai dengan berjalan kaki. Di wilayah ini memang sepi sekali manusia karena masih jarang terdapat desa. Jika sekali waktu nampak seseorang, mungkin adalah orang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Jika hanya nelayan pencari ikan di sungai, agaknya tak mungkin sampai di tempat seperti ini.Ketika sedang berjalan itulah dia melihat satu perahu yang cukup besar lewat perlahan dari arah utara ke selatan mengikuti arus sungai. Perahu itu kelihatan kokoh kuat dan terawat. Long Wei mengamati penuh perh

    Last Updated : 2025-02-04
  • Giok Langit   Bab 24 : Naga dan Cacing

    Dari lima belas orang yang Long Wei lihat, tiga di antaranya dalam keadaan berdiri dan tiga orang ini pula yang tadi membentak preman terakhir. Mereka masih muda-muda, umurnya mungkin sekitar dua puluh sampai tiga puluh tahun.Sedangkan untuk dua belas biksu lain yang seumuran dan lebih tua, masih duduk menikmati hidangan di atas meja. Semuanya berupa sayur, tidak ada daging.“Kau juga bagian dari mereka?” tanya salah satu biksu yang sedang berdiri itu. “Kalau iya, sebaiknya lekas bawa kawan-kawanmu pergi dari sini.”Long Wei terkejut dan spontan melihat dirinya sendiri. Jubah putih sederhana, apakah menandakan kalau dia bagian dari mereka yang berpakaian kasar-kasar seperti para bajak itu?Pemuda itu mengangkat tangan. “Bukan, aku pengunjung di sini,” katanya diakhiri senyum tipis.Tiga biksu itu masih memicingkan mata sampai salah satu dari mereka, orang muda tapi yang sikapnya lebih dewasa, menegur. “Biarkan saja. Kalau dia bagian dari mereka pun, biarlah asal tidak mengganggu.” Pr

    Last Updated : 2025-02-04
  • Giok Langit   Bab 25 : Putri Xi Yan

    Di sisi lain sungai itu, lebih tepatnya di selatan, terdapat pula desa nelayan yang keadaannya jauh lebih baik dari tempat Long Wei berada. Desa ini lebih besar dan otomatis lebih ramai. Namanya adalah Desa Cin Wu, sebuah desa nelayan yang masih berada dalam naungan bajak laut Iblis Laut pimpinan Zhu Ren.Jika desa tempat Long Wei berada selalu ketakutan dengan sosok bernama Hartawan Cia, maka di sini yang mereka takuti langsung adalah Zhu Ren atau yang biasa mereka panggil Raja Zhu. Lelaki ini memimpin desanya dengan sedikit lebih baik ketimbang Hartawan Cia, tapi tetap saja kejam dan semena-mena. Aturan yang dibuat bersifat mutlak dan tak bisa ditawar lagi. Hal ini membuat banyak orang di sana selalu menundukkan kepala dengan murung.Siang itu mereka kedatangan tamu dari tempat jauh, seorang gadis berjubah merah dengan motif bunga teratai. Rambut hitam panjangnya digelung di atas kepala, membiarkan beberapa hela berjuntai menutupi dahi di sisi kanan dan kiri. Matanya walau tampak le

    Last Updated : 2025-02-05
  • Giok Langit   Bab 26 : Kerajaan Zhu Ren

    Maka terlupakanlah segala rencana tadi. Bersama tujuh pengawal yang dibawa Xi Yan sebelumnya, Cang Er pergi menuju pondok yang dimaksudkan.Tempat tinggal Zhu Ren berada di sisi timur desa. Di sana terdapat satu komplek bangunan yang dikelilingi tembok tinggi, sudah seperti istana saja kelihatannya. Semua orang tahu di balik tembok tinggi itu terdapat raja bajak laut yang selama ini sudah terkenal namanya, Zhu Ren.Ini juga termasuk dalam tugas Cang Er untuk datang ke desa ini. Dia mendapat perintah dari Cao Yin untuk meluruskan sepak terjang Zhu Ren yang sudah belok. Gadis ini telah mendengar secara singkat betapa beberapa tahun lalu ada satu bajak laut besar yang bernama Hantu Samudra. Bajak laut itu hancur setelah Cao Yin sendiri terjun dalam pertarungan dibantu oleh bajak laut lain yaitu bajak laut milik Zhu Ren.Sudah ada perjanjian pula bahwa setelah itu Zhu Ren tak akan membajak orang dengan semena-mena lagi kecuali para pejabat korup atau orang kaya yang berlaku seenaknya. Nam

    Last Updated : 2025-02-05
  • Giok Langit   Bab 27 : Usaha Cang Er

    Suara jerit tertahan menyusul setelah bunga api terlontar ke mana-mana. Kepala pengawal tadi yang menangkis lemparan pasak lawan dengan pedangnya yang langsung patah seketika. Namun, akibat perbuatannya ini serangan itu berhasil dibelokkan.“Terima kasih.” Cang Er buru-buru bangkit lalu keluar dari ruangan membawa Xi An diikuti oleh kepala pengawal.Di depan, lima orang pengawal sudah berkumpul dengan sikap tegang menanti-nanti apa yang akan terjadi. Ketegangan menjalar ke segenap sendi dan seluruh aliran darah mereka. Beberapa orang bahkan sampai kesulitan mengatur napas, satu hal yang wajar saat menghadapi maut di depan mata.“Kalian bawa Nona Xi An ini kepada Paman Xi.” Cang Er menyerahkan gadis tersebut. “Biar kutahan dia.”Lagi-lagi kepala pengawal membantah. “Kubilang jangan gegabah, dia kuat sekali. Lebih baik kita pergi dari sini sekarang.”Gadis itu merasa jengkel juga bahwa setiap keputusan yang diambilnya selalu mendapat bantahan dari orang ini. Cang Er ingin memberontak ka

    Last Updated : 2025-02-06
  • Giok Langit   Bab 28 : Syarat

    Dengan kemarahan yang ditahan-tahan, Cang Er tidak punya pilihan lain selain ikut bersama rombongan tersebut. Dia meletakkan pedang dengan pasrah, membiarkan seorang tukang pukul mengambil dan mengaguminya kemudian tiga orang lain mengikat tangannya.Shi dan pria berkumis panjang tadi masih memperdebatkan soal Cang Er dan Xi An.“Kalian juga membunuh para pengawal Nona ini, kenapa tidak membiarkanku membunuhnya?” Shi membantah.“Mereka hanya pengawal tak berguna. Dua Nona ini pasti lebih berguna, makanya jangan dibunuh.”“Dasar penjilat!” bentak Shi jijik. “Kau hanya ingin menyerahkan mereka kepada raja agar mendapat keuntungan.”Wajah pria berkumis tadi menandakan kejengkelan luar biasa. Terpaksa orang itu hanya mampu menelan kemarahan dan berbalik pergi memimpin rombongan menuju komplek Zhu Ren.Dari jauh Shi bersorak. “Pek Sian Si Penjilat!”Pria berkumis itu, yang ternyata bernama Pek Sian, melontarkan sumpah serapah sambil terus berjalan. Mereka melewati tempat mayat-mayat para p

    Last Updated : 2025-02-07
  • Giok Langit   Bab 29 : Desa Cin Wu

    Setelah menginap di desa tersebut selama satu malam, Long Wei bersama lima belas biksu Taring Naga bersiap melanjutkan perjalanan. Pada saat itulah Long Wei kaget sekali ketika melihat keributan di luar. Ternyata dia adalah Gu Peng, orang yang membantu menyeberangkan Long Wei, sedang dikelilingi oleh orang-orang desa.Mereka berseru-seru seolah bergembira karena sesuatu. Long Wei menduga mereka tentu senang sekali setelah kepergian para tukang pukul itu.Salah satu warga terdengar berteriak nyaring. “Kepala desa kembali!”Tanpa terasa pula Long Wei terhenyak. “Kepala desa?”Pada saat itu ia bersama rombongan Taring Naga berdiri di parahu besar tempat menginap mereka tadi malam, dan mereka menonton keramaian itu dari air.“Kau kenal dia?” Siauw Ki, pemuda yang menjadi pimpinan rombongan ini, yang sejak kemarin memperlihatkan sikap lebih bijak daripada teman-temannya, bertanya.“Dia yang menyeberangkanku kemarin.”“Oh?”“Dia mengaku hanya sebagai orang biasa,” lanjut Long Wei. “Tak kusa

    Last Updated : 2025-02-07
  • Giok Langit   Bab 30 : Keterkejutan

    Ada rasa girang menghampiri Long Wei. Desa Cin Wu yang cukup besar ini telah kedatangan tamu-tamu orang sakti. Pertama adalah rombongan dari Taring Naga, lalu kakek dengan rambut tipis yang amat disayangkan telah tumbang, kemudian lelaki berbaju biru tua itu. Long Wei hampir tertawa membayangkan wajah Zhu Ren ketika sadar keadaannya amat terancam. Tentu saja mereka mengincar Zhu Ren atas kelakuannya yang semena-mena, memangnya apa lagi? Demikian pikir Long Wei.Long Wei memutuskan untuk mengikuti lelaki berpakaian serba biru itu dari jauh. Karena lelaki itu bergerak cepat dan buru-buru, Long Wei pikir lebih baik menguntit saja daripada menyapa.Sosok itu menuju sebelah komplek Zhu Ren yang berupa hutan. Setelah menengok ke kanan dan kiri, dia melompat tinggi melewati pagar tembok, tampak mudah sekali. Long Wei melakukan aksi yang sama.Sampai di atas tembok, sejenak Long Wei terbelalak melihat kemegahan komplek ini. Bangunan-bangunan mewah tersebar ke segenap penjuru. Tidak ada satu p

    Last Updated : 2025-02-08

Latest chapter

  • Giok Langit   Bab 62 : Kabur

    “Satu.”“Apa tidak terlalu sedikit?”“Terlalu banyak justru berbahaya. Ini istana, tak bisa kita samakan dengan yang lain-lain.” Zhen Yu memberi penjelasan dengan ekspresi yakin. “Kelemahannya juga satu, kalau ketahuan selesai sudah.”Kakek Raja Perahu yang sejak tadi diam kini ikut bersuara. “Kalian memang seperti singa, berani sekali. Menyusupkan orang ke istana hanya satu orang?”“Harus kukatakan lagi?”Menurut penjelasan Zhen Yu, Singa Emas sudah sejak lama menanam orang di istana dan jumlahnya hanya satu. Pemuda itu menjamin kalau kepandaian orang itu sangat lihai dalam hal penyamaran dan penyusupan. Kali ini jika ada orang yang menyelamatkan mereka, pastilah si penyusup itu.“Atau dengan tambahan orang dari luar,” tambah Zhen Yu setelah berpikir sebentar. “Untuk menyelamatkanku, kalau hanya satu orang kupikir terlalu sedikit.”Di tengah pembicaraan mereka yang dilakukan setengah berbisik, samar-samar mereka mendengar suara gaduh dari atas. Tak ada yang merasa heran dengan itu ka

  • Giok Langit   Bab 61 : Penjara

    Ketika Long Wei terbangun, dia mendapati dirinya sedang berada di sebuah ruangan remang-remang tanpa cahaya. Matanya mampu melihat wujud ruangan batu di sekelilingnya hanya karena cahaya obor dari luar yang terbawa masuk sekalian. Di depannya terdapat jeruji besi yang tampak tebal dan kuat, sekali pandang saja ia sudah mengerti bahwa ini ada di penjara.Ia menekan lantai batu dingin di bawah menggunakan dua tangan dalam usahanya bangkit mendudukkan diri. Terasa sakit di seluruh badan, tapi semua luka yang diakibatkan dari pertempuran melawan Shi dan lain-lain sudah mengering.Long Wei menyandarkan diri di dinding batu belakangnya lantas menghela napas panjang. Dia tidak mau berpikir pendek dan langsung menyerah putus asa. Dia akan mencari jalan keluar bagaimanapun caranya, tugas besar yang ia emban belum selesai. Tangan Maut dan Pertapa Putih masih berkeliaran, urusan antara Pedang Api dan Singa Emas belum selesai sedangkan dia sudah berjanji kepada Xu Qinghe untuk memperbaikinya, Gio

  • Giok Langit   Bab : 60 - Keretakan

    Ruangan luas dengan segala perabotan mewah itu membuat siapa saja yang melangkah masuk merasa dirinya kecil bagai debu terbawa angin. Jauh di depan sana, puluhan langkah dari pintu masuk yang besar dan berat, terdapat kursi megah nan agung. Sebuah kursi yang jika siapa pun melihat dalam sekali pandang akan langsung tahu kalau yang pantas menghuni kursi itu pastilah orang penting.Kursi besar itu letaknya sedikit naik dari batu pualam di ruang tersebut, ada beberapa undak tangga yang harus dilewati sebelum mencapai tubuh kursi. Di sebelah kanan dan kiri tangga terdapat pilar besar warna merah dengan hiasan patung naga yang melingkarinya, seolah naga-naga itu menjadi penjaga bagi kursi besar tersebut. Lalu di depan pilar, ada meja kecil tinggi yang di atasnya terdapat hilo berukir indah yang menguarkan bau harum semerbak.Di depan tangga itu banyak meja-meja kecil yang saling berhadapan. Satu deretan meja yang lurus dengan pilar sebelah kiri, satu lagi deretan yang lurus dengan pilar se

  • Giok Langit   Bab : 59 - Tumbang

    Entah dibawa lari ke mana, yang jelas Xu Qinghe merasa tubuhnya bagai terbang menunggang angin. Bahkan untuk berteriak pun dia kesusahan, sehingga hanya mampu diam dan pasrah saat Setan Sakti membawanya dalam kecepatan gila.Di sebuah hutan yang ia rasa letaknya cukup jauh dari tempat Long Wei tadi, tiba-tiba Setan Sakti berhenti berlari. “Sudah aman,” katanya yang tak dimengerti Xu Qinghe.Perlahan Setan Sakti menurunkan tubuh itu. “Nah, kau sudah aman,” katanya lagi. “Kau bisa tenang.”Walau itu Xu Qinghe yang memiliki kepandaian tinggi, tapi dibawa dengan cara dan kecepatan seperti itu membuatnya agak pening juga. Akan tetapi hanya sebentar sebelum kepalanya ringan kembali dan keningnya berkerut.“Aman? Apa maksud Anda? Aman dari siapa?”Setan Sakti menatapnya sedikit tidak percaya, kemudian perlahan-lahan matanya menyipit. “Kau tidak tahu tentang Long Wei? Atau dia yang tak pernah menceritakannya?”Rasa heran Xu Qinghe semakin hebat. “Memangnya ada apa dengan dia? Yang kutahu dia

  • Giok Langit   Bab 58 : Pengurungan

    Xu Qinghe masih menundukkan muka dengan takut-takut. Sesekali ia melirik Long Wei yang ada di sebelahnya, tapi ketika dia melirik Setan Sakti tentu langsung dialihkannya lagi.Kakek itu sendiri tak mau melepas pandangan dari diri Xu Qinghe, entah apa maksudnya.Long Wei berdeham tiga kali untuk mencairkan suasana dan berkata. “Jadi, kau sudah sembuh total.”Kepala Xu Qinghe benar-benar terangkat sekarang, memandang Long Wei. “Benarkah? Aku memang sudah tak merasa sakit lagi di kaki.”“Tapi bekasnya masih ada,” potong Setan Sakti.Spontan Xu Qinghe melirik kakinya, tampak di sana sebuah area hitam di kaki sebelah kanannya. Warna kehitaman yang ada di sekeliling luka gigitan ular. Xu Qinghe tersenyum pahit, sebagai seorang wanita sedikit banyak dia juga mementingkan penampilan dan kondisi kakinya saat ini memang sangat mengganggu.“Warna hitam itu bukan berarti masih ada racun yang tertinggal, tapi karena dagingmu sudah membusuk.” Kakek itu melanjutkan.Xu Qinghe tersentak. “Busuk?”Set

  • Giok Langit   Bab 57 : Obat

    Dengan panik, Long Wei terus mengguncang tubuh itu. Xu Qinghe terus bungkam dengan apa pun yang Long Wei lakukan. Pemuda itu sudah menggoyang-goyangkan pundak, menampar pipi, menggoncang lagi, tapi ia sama sekali tak mau membuka mata.Kemudian Long Wei mengamati luka Xu Qinghe di kaki sebelah kanan. Celananya sudah robek sedikit terkena gigitan ular. Dia melihat kaki gadis itu berlumuran darah merah gelap yang terus mengucur. Makin banyak mengucur, warnanya berubah semakin hitam. Luka itu berupa dua lubang hitam.“Sial!” Memeras segala ingatannya, Long Wei mencoba memaksa darah itu keluar menggunakan tenaga dalam. Cara ini pernah diajarkan Yang Feng beberapa tahun lalu, tapi tidak sering dan karena itu ada bagian-bagian yang Long Wei agak terlupa.Ia menotok jalan-jalan darah di sekitar luka sampai darah yang mengucur itu melambat, kemudian menggunakan tangan kanan ia mengurut kaki di sekitar luka sambil mengerahkan tenaga dalam perlahan. Lambat laun, darah hitam pun keluar. Long Wei

  • Giok Langit   Bab 56 : Hidup dan Mati

    Bagi seorang ahli silat tingkat tinggi, yang menyerang lebih dulu justru akan membuka satu lowongan dan itu berbahaya sekali karena dapat dimanfaatkan oleh musuh. Begitu pula yang ada dalam pikiran mereka berdua.Sudah kurang lebih sepeminuman teh mereka hanya berdiri saling diam dan saling pandang dengan kuda-kuda siap tempur. Tak ada yang berniat memberi serangan lebih dulu karena di kepala masing-masing sudah memikirkan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi jika salah langkah. Dari semua kemungkinan, tak ada yang tidak berbahaya.Tangan Maut yang jauh lebih kosen pun agaknya waspada mengingat guru Long Wei. Demikian pula Long Wei yang tak mau sembrono menghadapi tokoh tua berpengalaman ini.Setelah dua peminuman teh berlalu, Tangan Maut tertawa mengejek dan berkata. “Apakah si tua Yang Feng hanya mengajarimu cara berdiri?”“Ya,” balas Long Wei tanpa ragu. “Guru mengajariku cara berdiri yang benar dengan dua kaki.”Merah muka kakek itu mendapat balasan yang tak terduga ini. Mema

  • Giok Langit   Bab 55 : tangan Maut

    “Lompat!” Tiba-tiba Xu Qinghe berseru.Tubuh gadis itu melayang ke salah satu pohon sembari menyambit dua senjata rahasia berupa pisau tipis terbakar. Dua kepala ular yang ada di pohon itu langsung berlubang dan mereka tumbang seketika dalam keadaan tak bernyawa.Long Wei tahu gadis itu memilih melompat karena di atas pohon jumlah ular yang ada lebih sedikit. Apalagi dengan kepandaian mereka, mereka bisa pergi dengan cara berlompatan dari pohon ke pohon. Namun sebelum ia sendiri melompat mengikuti apa yang Xu Qinghe lakukan, selusin ular sudah mematuknya.Tongkat Long Wei bergerak cepat menyabet ke kanan dan kiri, menciptakan gulungan sinar kuning gelap yang langsung menewaskan banyak ekor ular.Dari atas Xu Qinghe melihat kesusahan pemuda itu dan tanpa ragu lagi ia menyambit enam senjata rahasia pisau terbakar.Ketika pisau-pisau itu menancap tanah, api segera menyebar membakar rerumputan dan daun-daun kering.“Gila kau!” Long Wei melambung tinggi lantas bergelantungan di salah satu d

  • Giok Langit   Bab 54 : Ular

    “Maaf selalu merepotkanmu.”“Bagus kalau kau sadar.”Xu Qinghe berhenti mendadak dan menatap Long Wei dengan tatapan tajam. “Kau bahkan tak coba menyangkal?”“Bohong itu kurang baik,” kata pemuda itu, “maksudku, jujur lebih baik.”Ia memalingkan wajah dengan muka gemas, membanting kaki kanannya sekali lalu berjalan pergi dengan langkah dihentak-hentakkan.Long Wei menatap punggung gadis itu. Perasaan geli timbul dan membuatnya menahan tawa. Memang Xu Qinghe adalah gadis yang angkuh luar biasa, walau memang diimbangi dengan kepandaian tinggi. Namun setelah kejadian malam itu, Long Wei merasakan perubahan besar dalam sikapnya. Keangkuhannya berkurang jauh dan keberaniannya meningkat pesat. Tak hanya sekali ia menggelengkan kepala karena kagum.Beberapa hari lalu, mereka mendengar kabar kalau di jalur ini siapa pun yang lewat akan terkena penyakit lalu meninggal. Awalnya mereka tak percaya dan memutuskan untuk lewat sini dalam upaya membuktikan hal tersebut.Betapa kaget hati mereka keti

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status