"Alea," bentak Dion tak suka."Maaf sayang, tapi aku begitu menginginkannya? Kita sudah satu minggu tak bertemu. Aku merindukan belaianmu." Alea mengalungkan kedua lengannya pada leher Dion. Menghirup aroma mint yang membuatnya candu. Mereka adalah partner ranjang yang cocok dan Dion tak pernah menolak ajakannya. Namun sekarang, Dion tiba tiba saja menolak dan Alea harus tahu alasannya. "Katakan, siapa yang menghubungimu? Setelah itu aku akan melepasmu.""Nicho. Ya, Nicho yang menghubungiku. Dia meminta aku mencari data pribadi dari seseorang.""Seseorang? Siapakah itu?""Rahasia." Dion melepas pelukan Alea dan memicingkan mata tajamnya. "Aku sudah memberitahumu, sekarang pergilah!""Tidak mau."Dion sangat marah dengan sikap keras kepala Alea. Mata hitam itu menatapnya seperti seekor elang yang siap menerkam mangsanya membuat wanita berpakaian seksi itu langsung ketakutan. Dengan enggan, Alea pergi meninggalkan tamu langganannya. Dion sendiri segera pergi menuju apartemennya, bernia
Dalam keadaan takut dan panik, Lily mencoba sekuat tenaga berontak. 'Tolong, tolong!'MmphSuara Lily tercekat di tenggorokan akibat mulutnya yang dibungkam. Tangannya segera diikat agar tak memberontak lagi. "Cepat urus wanita ini agar Diam. Aku akan menghubungi Bos," perintah ketua bodyguard Alex."Halo, Boss Alex. Kami membawa wanita yang Anda inginkan.""Kalian sungguh hebat. Tak sia sia aku langsung terbang kemari," ucap Alex di seberang. Dari suara, tampak sekali jika dia sangat bahagia. "Segera bawa ke tempatku."Lily melotot, tubuhnya gemetar saat mendengar percakapan melalui telepon itu. Dia sangat takut saat ini, mengingat Alex-lah yang memberinya obat laknat malam itu. Ya, Alex yang menyuruh tiga anak buahnya untuk menculik Lily. Dengan menculiknya, diharapkan lelaki yang bersama Lily datang untuk menolongnya.Tak butuh waktu lama, anak buah Alex dan Lily sudah tiba. Segera dihadapkan pada seorang lelaki yang kini duduk di kursi kebesarannya. Asap mengepul dari bibir, menam
Setelah melarikan diri dari kejaran polisi, Alex menghubungi Lila dan berharap bisa bertemu kekasihnya. [Halo Lila, kamu di mana? Aku ada di Kanada. Temui aku sekarang.][Halo. Halo.]Suasana sangat berisik karena Lila berada di Club malam.[Maaf aku tak mendengarmu Alex. Suasana di sini sangat ramai.][Halo Lila, halo!?]Tut. Tut.Lila menutup panggilan Alex dan ingin segera pergi dari tempat tersebut. Dirinya berbohong tak mendengar Alex padahal Lila sangat takut jika bertemu Alex."Jenny bolehkah aku tidur di apartemenmu malam ini?" tanya Lila pada temannya Clubing saat ini."Em, boleh. Kebetulan pacarku di luar kota. Jadi aku ada teman jika kamu menginap.""Baiklah kalau begitu ayo kita pergi sekarang!"Mereka meninggalkan Club. Lila mengaktifkan sim card 2 yang hanya di ketahui Alex sedangkan sim card yang biasa digunakan tak diaktifkan agar Lily dan keluarga tak mengganggu kegiatannya. Malam ini dia ingin bersenang senang namun semua gagal karena panggilan dari Alex.Sedangkan
Lily mendengar ucapan Nicho meski samar, untuk itulah Lily menanyakannya."Ah, tidak apa apa. Aku hanya berharap kamu baik baik saja, Lily.""Oh begitu."Seminggu berlalu.Ujian telah selesai, Lily dan Lila memutuskan untuk kembali ke Amerika. Selama satu minggu Nicho menghindar, tak menemui kedua adiknya membuat Lily sedikit tenang dan fokus menjalani ujian. Namun, hal ini membuat Nicho sungguh tersiksa. Dia tak bisa menggapai wanita yang disukai walau hanya memandang sejenak. Semua ini harus dia lakukan demi kebaikan bersama mengingat Lily seperti menjaga jarak darinya.Tiap malam Nicho memimpikan kenangan indah satu malamnya dengan Lily. Dia harus terbangun di tengah malam dengan keringat membanjiri dan basah pada bagian tubuh bawahnya. Semua seperti nyata, tak ayal tiap tengah malam Nicho selalu mandi air dingin untuk menetralkanya. Rasa itu benar benar membuat candu dan begitu menyiksa. Ingin sekali dia melampiaskan pada wanita di club malam namun kembali dia memikirkan Lily. Cuk
"Kejadian apa?" tanya Marco bingung.Auwh.Mendengar aduan Lila, Nicho tak fokus dan terkena pecahan piring."Kak, kamu berdarah," ucap Lily segera menarik tangan Nicho menuju pancuran air mengalir dari kran. Melihat perhatian Lily pada Nicho membuat Lila kesal dan berlari menuju kolam. Marco segera berlari mengejar Lila. "Lila, tunggu."Catlyn pun mengikuti mereka."Kamu tak apa apa, Lily?"Lily memandang Nicho sekilas dan melap jemarinya. "Harusnya aku yang menanyakan itu Kak. Yang terluka kamu bukan aku?"Nicho menunjuk bagian hati Lily, "kamu yang terluka di situ, jangan bilang kakak tak tahu." Seketika Lily tersenyum simpul dan tatapan mereka beralih pada Lila. Berharap jika sang adik tidak akan mengatakan hal yang mereka sepakati. 'Bagaimana jika Lila mengatakannya pada Daddy?' batin Lily menggigit bibir bawahnya dan memilin baju yang dipakai. Nicho melihat dan mengerti kegelisahan sang adik. "Tenanglah, Lila tak akan semudah itu mengatakan semuanya pada Daddy. Bukankah kalian
"Siapa?" tanya Lila penasaran."Tenanglah aku akan membuktikannya padamu.""Hal itu menunggu waktu lebih lama sedangkan aku tak bisa berlama lama."Lila mempunyai satu ide di mana rencana itu akan menguntungkannya. "Aku punya satu rencana.""Apa itu, Lila?""Kamu bertanggung jawablah menggantikan pelaku tersebut.""Apa?""Kamu sudah gila, ya? Bukan aku yang memperkosa Lily," teriak Alex marah namun Lila malah menggeleng."Aku punya bukti saat kamu membawa Lily masuk ruang hotel. Aku bisa memberitahukannya kepada Daddy Marco," ancam Lily."Tapi aku tak melakukannya?""Siapa yang akan percaya karena kamu tak punya bukti."Alex menyugar kasar rambutnya."Sudahlah Alex, ikuti saja rencana ini. Kamu yang akan diuntungkan di sini. Kamu bisa merasakan tubuh Lily sepuasnya," jelas Lila membuat Alex menimang nimang ucapan Lila.Sebenarnya Alex juga menginginkan tubuh Lily, melihat wanita itu dipermainkan saudara perempuannya sendiri membuat Alex kasihan."Tapi Lila, yang aku inginkan hanya kam
"Itu …, tidak apa apa. Aku kemarin sakit perut dan Lila mengajakku periksa ke Rumah Sakit.""Apa yang terjadi? Mengapa aku tidak tahu? Lalu, bagaimana kondisimu saat ini?""Aku baik baik saja. Aku tidak perlu ke Rumah Sakit.""Benarkah itu Lily?"Lily mengangguk pelan, merasa tak nyaman telah membohongi Nicho. Sebenarnya, dia khawatir jika benar benar hamil tapi tidak mungkin juga dirinya pergi ke rumah sakit di saat Nicho tahu hal ini. Bisa bisa lelaki itu akan mengikuti ke mana perginya."Lily, Lily?""Akh, iya.""Apa yang kamu pikirkan sampai sampai kamu melamun?""Tidak ada. Aku hanya lelah.""Oh begitu. Baiklah, kamu istirahat sekarang. Maaf telah mengganggu waktumu."Nicho pergi meninggalkan Lily meski dia tahu betul jika sang adik menyembunyikan banyak hal kepadanya. Mungkin ini kah hukumannya? Entahlah, yang terpenting saat ini adalah memastikan kebahagiaan dan keselamatan Lily. Berharap jika Lily segera bangkit dari trauma kejadiaan naas malam itu. Di sisi lain, Lily duduk l
"Apa kau sudah mengingatnya, Son?" tanya Marco melihat telinga anaknya yang memerah.Nicho sungguh tak menyangka bisa bertemu Cella, perempuan cantik yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertamanya.Jika Nicho tak pernah memikirkan pertemuan ini, berbeda dengan Cella, dia sudah memikirkan secara matang bekerja di perusahaan Marco dan memang berharap bertemu Nicho suatu saat nanti. Setelah hampir satu tahun bekerja di perusahaan Marco, baru kali ini dia bertemu dengan Nicho, lelaki tampan yang dari dulu menjadi kekasih pujaan hati."Baiklah, Daddy akan meeting sebentar dengan klien. Kalian bicara saja berdua dulu."Berdua saja, Nicho tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana sedangkan Cella hanya menunduk malu tak sanggup memulai pembicaraan."Em, bagaimana kabarmu?" tanya Nicho membuka obrolan."Baik, Tuan.""Nicho, panggil saja aku Nicho."Cella menatap Nicho sekilas namun Nicho malah menghindari tatapan itu."Anda adalah anak boss Marco, jadi aku akan tetap memanggil Anda,
Catlyn tak tahu harus berkata apa lagi selain mengikuti kemauan Lila."Baiklah jika semua sudah deal. Besok saya akan ke sini lagi," ucap Zico berpamitan pada keluarga Marco."Sweety siapkan semuanya," ucap Marco berdiri setelah kepergian Zico."Tapi Sweety, aku melihat bahwa Lila tak setuju dan bingung dalam keputusan ini.""Apa maksudmu?" tanya Marco tak mengerti."Lila, apa benar yang dikatakan Mommy-mu?"Lila terdiam membuat Marco marah.BrakhMarco menggebrak meja sebagai pelampiasan amarahnya. "Jawab, Lila?"Lila gemetar melihat ayahnya yang emosi. Dirinya tak tahu harus berkata apa. Namun, rasa takut terhadap emosi sang ayah membuatnya semakin gemetar. Mau tak mau Lila harus jujur kepada Marco. "Maaf Dad aku hamil lagi.""Apa??""Aku belum sempat memakai kontrasepsi saat Alex menculik dan memperkosaku lagi," jawab Lila disertai tangis yang menjadi."Ya Tuhan!?" keluh Marco terduduk di sofa sambil memegang kedua kepalanya."Maaf Dad, harusnya aku berkata jujur kepadamu, tapi aku
Mereka mengambil mantel tebal dan memakainya, berharap jika salju di pegunungan itu tak sedingin dugaan mereka karena Lily tak tahan hawa dingin dan Nicho tahu itu.Meski bukan musim salju, area Sky di pegunungan ini tetaplah yang terbaik dan suasLily romantis sangat mendukung.Lily dengan lincah bermain sky. Karena Lily seorang penari balet, menjaga keseimbangan tubuh sudah menjadi rutinitas untuknya dan dirinya tak kesulitan sama sekali bermain Sky.Berbeda dengan Nicho. Dia sedikit kesulitan, pasalnya dia jarang sekali bermain sky. Lily dengan mudah menarik tubuhnya dan mereka sangat menikmatinya.Mereka terus bermain sampai tiba tiba Lily mengerem mendadak dan Nicho menabraknya."Brukh."Mereka jatuh berguling guling saling menindih berpelukan."Lily, kamu baik baik saja?" tanya Nicho menyibak rambut Lily di wajahnya ketika berhenti berguling. Kini tubuhnya menindih tubuh Lily.Lily terdiam membuat Nicho gelisah dan takut."Lily."'Lily?"Nicho menepuk nepuk pipi Lily membuat si e
"Hah?"Lily melongo, pikirannya sudah melayang kemLily mLily ternyata sang kakak malah mengucapkan keinginan yang jauh dari pemikirannya.Matanya memerah, ingin sekali menangis."Hiks, hiks, hiks."Nicho kebingungan mendapato Lily menangis saat ini."Hei, kenapa menangis?""Minggirlah, tubuhmu sangat berat"."Srekh."Lily mendorong tubuh dan duduk berpaling dari Nicho.Nicho menopang tubuhnya dengan lengan agar tak oleng."Hei, kamu marah Lily?"Lily hanya terdiam, duduk membelakangi membuat Nicho bangkit dan memeluk Lily dari belakang."Maaf sayang."Nicho menghela nafas berat seolah menahan sesuatu.Hal itu dapat Lily rasakan saat sesuatu menonjol menyentuh belakang tubuhnya."Aku begitu menginginkannya Lily, menjamah tubuh ini," ucap Nicho kembali menghirup ceruk leher beraroma lily blossom itu."Tapi ,..."Lily menoleh pada Nicho membuat Nicho tersenyum dan mencium pipi Lily."Cup.""Tapi aku tak mau memaksamu. Bukankah kamu juga sudah berjanji kepada Daddy bisa menjaga diri terma
Marco terkejut bukan main mendengar ucapan lantang dari Zico, antara shock dan tak siap memberi jawaban kepadanya. "Maaf dokter Zico, aku tak mengerti maksud Anda.""Aku merasa simpati kepada Lila dan aku ingin berbagi kesedihan dengannya," jelas Zico.Marco masih tak percaya jika Zico berani mengatakan hal seperti itu. "Maaf Dokter Zico, aku butuh waktu membicarakan hal ini kepada Lila dan istriku.""Benarkah, Tuan Marco? Anda mau mempertimbangkannya?"Marco tersenyum. "Aku akan mempertimbangkannya.""Terima kasih Tuan Marco."Dokter Zico pergi meninggalkan Marco. Dirinya tersenyum smirk di dalam mobil. "Sedikit lagi, aku akan mendapatkanmu, Lila," ucap Zico merasa senang.Kira-kira siapakah Zico? Dan apa tujuan dia datang di kehidupan Lila? "Sweety, tahukah kamu apa yang dikatakan Zico kepadaku tadi?" ucap Marco menghampiri sang istri dan duduk di sampingnya."Dokter Zico bicara apa? Beritahu aku, Suamiku?""Dia bilang jika penyakit yang diderita Lila saat ini cukup parah. Dia memin
Lila terlihat sangat kurus, badannya lemas, tak terisi makanan sama sekali.Catlyn sangat sedih melihat Lila seperti ini. Dia sudah berusaha membujuk dan merayu Lila agar mau makan dan membuka dirinya. Namun, semua usahanya tak membuahkan hasil.Setelah memanggil Dokter Alexa dan Dokter Evelyn. Kini Catlyn berinisiatif memanggil Dokter Zico ke kediamannya. “Terima kasih Dokter Ziko, anda sudah mau datang ke sini,” ucap Catlyn saat Zico datang.“Aku melakukan ini sesuai permintaan Anda, Nyonya,” jawab Zico santun dan ditanggapi secara welcome dari Catlyn. “Baiklah. Bisa Anda tunjukkan di mana Nona Lila berada?”“Dia berada di kamar.”Zico dan Catlyn berjalan beriringan menuju kamar Lila. Catlyn menyukai sikap santun dari Zico. Lelaki yang begitu sempurna untuk menjadi menantu. Namun entahlah, hanya Tuhan yang mempunyai kehendak menjodohkan anaknya, Lila dengan siapa dan Lily dengan siapa, nantinya.“Lila.”Catlyn masuk kamar, diiringi Zico di belakangnya.“Ada Dokter Ziko menjengukmu.
"Benarkah itu, Kak?""Tentu saja Lily. Kamu suka?"Lily mengangguk antusias.Mereka menyusuri jembatan dengan tangan saling menggenggam. Nicho menyetir pelan, sesekali dia mencium punggung tangan Lily sedangkan Lily memandangi indahnya pemandangan laut dari atas jembatan.Lama perjalanan dan terasa bahagia, membuat waktu lebih cepat berjalan.Mereka tiba di tujuan sudah malam saja.Nicho sengaja mengajak Lily ke Rocky Mountain karena mereka satu hobi dalam hal ini yaitu sama-sama menyukai pegunungan yang mencakup wilayah seluas 4.830 kilometer dari British Columbia, Kanada hingga Meksiko tersebut.Aktivitas wisata yang bisa dilakukan saat berada di Rocky Mountain adalah :Memancing, Ski, Rafting, Arung jeram, Pendakian, Panjat tebing, Dan Berkuda.Nicho ingin naik Banff Gondola bersama Lily. Sebuah fasilitas wisata yang akan membawa para wisatawan ke spot terbaik Rocky.Duduk berdua menikmati indahnya pemandangan, pasti sangat romantis.Nicho berencana mengajak Lily melakukan semua itu
Boom.DuarMobil seketika meledak membuat Alex dan Wilson terpental. Untung saja ambulance segera datang dan membawa semua korban ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, Catlyn menangis, dirinya sungguh menyesal membiarkan Nicho menginap di desa."Cepat bawa anak ini ke ruang ICU!" perintah Dokter jaga.Nicho segera di bawa masuk dan mendapat penanganan medis. Baru lima menit berselang, dokter keluar ruangan dan meminta Catlyn mendonorkan darahnya untuk sang anak. “Kami butuh pendonor darah untuk anak Anda!”Catlyn menggeleng, membuat Wilson bertanya tanya. Ibu macam mana yang tak mau mendonorkan darah untuk anaknya yang sedang kritis."Maaf Dokter, darah saya tidak sama dengan Nicho," jawab Catlyn. Dia segera mendekati Wilson. "Wilson darah Nicho, Ab+, apakan kamu sama?" tanya Catlyn, membuat Wilson terkejut."I- iya darah saya Ab, Nyonya.""Syukurlah Wilson, aku mohon selamatkan Nicho, karena saat ini darah yang sama hanya Diego.""Diego?”Nicho yang mendengar pembicaraan ters
"A- apa maksudmu Nicho?"Nicho memandang laut lepas. "Sebenarnya aku adalah anak Diego yang diasuh Daddy and Mommy Catlyn sejak bayi karena ibu kandungku meninggal setelah melahirkanku.""Apa?" teriak Wilson. "Benarkah itu, Nicho?"Nicho mengangguk. "Apa kamu tidak ingat kejadian pada ulang tahunku saat umurku sepuluh tahun?""Sepuluh tahun?"Wilson berusaha mengingat masa di mana dirinya berperan penting dalam menyelematkan seorang Nicho dari maut.Ya, Wilson mengingat semuanya sekarang.Flashback 12 tahun lalu."Tolong!""Tolong!"Hal itu bermula saat Nicho ikut Alex pulang setelah menginap di rumah Dilon semalam."Nicho, ayo kita ke kota. Aku antar kamu pulang sekalian paman mau ke rumah sakit," ucap Alex setelah sarapan.Nicho dan Alex kemudian berpamitan kepada Sienna."Bibi di mana Dilon? sehabis sarapan aku tak menemukannya."Sienna memandang sekitar mencari keberadaan Dilon."Entahlah sayang mungkin dia di toilet. Kalian pergilah nanti aku bilang kepada Dilon," jawab Sienna ber
Evelyn datang dan memeriksa keadaan Lila, memberi kesaksian jika Lila mengalami tindakan kekerasan dari Alex.Marcosegera memerintahkan polisi menangkap Alex.Saat ini Alex sedang syuting terakhir filmnya. Baru saja merebahkan diri, Polisi datang dengan dua orang ajudannya, menemui seorang Alex.Mereka membawa surat perintah penangkapan atas kasus pelecehan seksual yang dilakukan Alex kepada Lila."Maaf, Tuan Alex, dengan berat hati kami harus menangkap Anda."Atas dasar apa kalian menangkapku?" tanya Alex."Atas pengaduan kasus kekerasan seksual yang Anda lakukan kepada saudara Lila."Alex tersenyum smirk dan berkata, "cepat sekali surat penangkapan ini datang kepadaku."Polisi mengkode ajudannya untuk segera menangkap Alex.Tanpa perlawanan, Alex membiarkan tangannya diborgol."Boss."John berusaha menghentikan aksi ajudan dengan menarik tubuh mereka."Biarkan saja mereka menangkapku John. Kamu tenang saja, Aku tak akan lama ditahan di sana," ucap Alex penuh kesombongan.Alex dibawa