“Sialan, apa maumu?” Alex tetap melawan walau kepala dan perutnya terasa sakit.
“Apa mauku? Yang kumau hanya menyingkirkan laki-laki brengsek sepertimu!” Pria itu melayangkan pinggiran telapak tangannya ke leher kanan Alex, membuat Alex pingsan seketika. Segera, dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi asisten pribadinya.
[Halo Ardo, singkirkan lelaki di depan kamar hotel nomor 16, sekarang!]
[Baik Tuan.]
Ardo menyeret Alex ke kamar sebelah, mengikat tangan dan kakinya di kamar mandi, lalu menguncinya dari luar.
Sedangkan pria tadi, dia melihat Lily dan sempat terbuai. Beberapa kali dia menelan saliva, tapi dia sadar, laki-laki sejati tidak pernah memanfaatkan wanita karena keadaan.
Gleg.
Ada gelenyar aneh menyeruak di dirinya.
“Sialan, kenapa tubuhnya begitu elok?! Arghh, aku juga laki-laki normal. Brengsek, kenapa? Kenapa dia sangat menggoda?!”
Dengan penuh kehati- hatian, lelaki itu berniat membenarkan kembali pakaian Lily namun tangannya tak sengaja menyentuh pundak Lily. Nafsunya kembali meningkat. Pelan-pelan dia menikmati sentuhan itu, semakin ke bawah hingga ke bagian sedikit berisi di atas perut.
"Alex sialan, jangan sentuh aku! Aku tidak akan memberikan tubuhku ke pria bajingan sepertimu!" pekik Lily.
Laki-laki itu terjengkang dan mengambil jarak. Dia takut Lily berpikir macam-macam tentang dirinya. "Li-Lily, maafkan aku. Aku tidak bermaks-“
“Ka-kamu...” Lily menatap pria itu, penuh harap.
"Kamu?!" ucap Lily terkejut melihat Nicho di depannya. Ya, lelaki itu adalah Nicho, kakak Lily yang lebih tepatnya disebut kakak angkat.
Nicho segera menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Lily. "Tutup tubuhmu dan segera pakai bajumu." Baru ditangkupkan selimut tersebut, Lily menolak.
"Aku tidak mau," ucap Lily membuangnya kasar selimut dan menatap nanar pada Nicho. Begitu kuat efek serbuk sialan di tubuh Lily. Dia bergerak sesuai nalurinya, akal pikiran tak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
"Aah, aku tak tahan lagi, tolong aku… aku mohon?"
Nicho terpaku atas ucapan Lily, memandang sayu manik mata coklat hazel di depannya. Dia tak menyangka, Lily yang dikenal polos bisa berubah seperti wanita malam hanya karena meminum serbuk sialan itu.
"No, no Lily. Kita saudara, aku kakakmu. Sadarlah, kamu terpengaruh obat…"
Lily bergerak dengan kacau, merasakan tubuhnya panas, hasratnya membludak ingin segera disalurkan. Tiba- tiba Lily melakukan hal yang tak pernah dibayangkan oleh Nicho, menarik tubuhnya dan mengikis jarak diantara mereka.
Awalnya Nicho bisa bertahan namun Lily terus melakukan keagresifan di ambang batas wajar. Bahkan Lily tak segan-segan membawa tangan Nicho untuk menyentuhnya. Bukankah selama ini Nicho menyukai Lily?
Runtuh sudah pertahanan lelaki yang normal ini.
Nicho mulai membalas ciuman Lily, menikmati rasa yang baru kali ini mereka lakukan. Rasa baru dan pengaruh serbuk sialan yang membuat Lily menginginkan lebih.
'Persetan dengan hubungan ini, kamu bukan saudara kandungku jadi tidak apa- apa kan aku melakukannya? Aku mencintaimu Lily dan aku akan bertanggung jawab,' batin Nicho.
Dengan gerakan cepat Lily mulai melepas jaket Nicho, membuka paksa kemeja sampai kancing baju bagian atas terlepas dan terjatuh di lantai. Dibuang kasar kemeja itu dan terus agresif, membuat Nicho semakin menikmati rasa yang membuatnya mabuk kepayang.
"Apa kamu begitu menginginkannya, Lily? apa kamu tak akan menyesal?"
Lily menggeleng mantap, tak peduli apapun saat ini. Dia begitu Ingin menuntaskan hasrat yang terpendam. Begitu kuat efek dari obat laknat itu, Lily yang awalnya tak tahu tentang bercinta tiba- tiba saja berubah seperti wanita yang haus akan belaian.
Nicho segera menggendong Lily ala bridal, membaringkan tubuhnya di ranjang empuk yang sebentar lagi menjadi saksi pergolakan adik kakak ini. "Maafkan aku Lily, Aku mencintaimu," ucap Nicho sebelum benar- benar melakukan penyatuan.
Akal dan logikanya sudah hilang tertutupi oleh hasrat bercinta, ingin segera merasakan nikmatnya memadu kasih. Malam itu menjadi saksi bisu atas jeritan dan desahan dua anak manusia yang menguar mengiringi penyatuan pertama mereka.
Nicho merasakan bahagia sekaligus sedih. Bahagia bisa melakukannya dengan gadis yang dia sukai. Sedih karena telah melakukannya di bawah pengaruh obat. Entah bagaimana reaksi Lily saat dia sadar nanti?
Lalu bagaimana hubungan mereka setelah ini?
Setelah pergulatan panjang malam ini, Nicho menjadi gusar dan takut.
Dikecup lama kening Lily. Satu hal yang pasti, dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan kepada Lily. Mereka pun terlelap setelah kehabisan tenaga, tidur saling memeluk penuh cinta.
****
Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela transparan di hotel tempat Lily kini berada. Nicho terbangun dan menutupi wajah Lily dengan wajahnya, menghalau sinar yang masuk karena silau.
"Pagi, adikku sayang," ucap Nicho hendak menyentuh pipi Lily namun suara seseorang diluar sana menghentikannya.
"Cepat buka pintunya! Aku akan membayar berapapun yang kamu minta, cepat!"
Suara itu membuat Nicho gugup dan panik. Hal yang terlintas saat ini adalah kamar mandi, Nicho segera mengambil seluruh pakaiannya dan berlari masuk serta memakai pakaiannya.
Ceklek.
Pintu Hotel terbuka, menampilkan wanita berwajah serupa berjalan menuju ranjang dan membangunkan Lily.
"Lily, bangun Lily?!" Wanita itu terkejut saat melihat pundak Lily terekspos dan bagian lainnya tertutupi selimut. Digoyang goyangkan tubuh Lily hingga tersadar.
"Lila," ucap Lily ketika membuka mata. Wanita itu tak lain adalah Lila, saudara Lily.
Dilihat dari ranjang yang berantakan, Lila sudah bisa menebak jika telah terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan. "Lily, ada apa ini?" tanya Lila menggoyangkan tubuh kakaknya lagi.
"Lila, aku…" Lily menggantung kalimatnya bingung dan mencoba untuk duduk. "Awh sakit."
Lily meringis merasakan sakit pada bagian bawah tubuhnya, reflek Lily membuka selimut di dadanya dan sungguh syok melihat tubuhnya tak berpakaian sama sekali. "Oh God, apa yang terjadi?"
"Harusnya aku yang bertanya padamu?"
"Maaf Lila, aku tak tahu apa yang terjadi padaku, aku… aduh!" Lily mengerang kesakitan, merasakan pusing hebat disertai nyeri di seluruh tubuhnya.
"Lily, jangan bilang kamu telah melakukannya dengan Alex?"
"Alex?"
Lily mencoba mengingat ingat kejadian tadi malam dimana Alex memberi minuman lemon kepadanya. "Mungkinkah?" tanya Lily ragu pada diri sendiri. "No, no." Lily berteriak kencang menolak prasangkanya sendiri.
Nicho yang ada di kamar mandi mendengarkan dengan seksama semua percakapan adik kembarnya. Untungnya Nicho segera bersembunyi saat pintu hampir dibuka sehingga Lila juga tak sempat melihatnya.
"Ini pasti ulah Alex," teriak Lila marah.
"No, Lila itu tidak mungkin," tolak Lily sambil menggenggam erat sprei yang membelit tubuhnya.
"Kalau bukan Alex, lalu siapa? Pria hidung belang?" tuduh Lila membuat Nicho melotot marah.
'Aku orangnya Lila, akulah orang yang mengambil mahkota paling berharga milik Lily,' jawab Nicho. Namun mereka tak dapat mendengarnya karena Nicho hanya menjawab dalam hatinya saja.
Lily mencoba mengingat kembali kejadian semalam, namun dia sama sekali tak ingat apapun. Begitu hebat obat yang Alex berikan hingga Lily tak ingat sama sekali betapa ganas permainan ranjangnya pada Nicho tadi malam.
"Bagaimana kalau kita lihat rekaman CCTV hotel?" ucap Lily ragu.
"Itu bukan ide yang buruk. Aku akan ke pusat pelayanan hotel ini," Lila berjalan keluar sambil berkata, "sekarang kamu cepat pakai pakaianmu!"
Lily mulai mengambil pakaian yang berserakan di lantai dan menemukan kancing berinisial M tergeletak di lantai. Mencoba mengingat-ingat lagi, sekelebat ciuman dan bagaimana kancing itu terlepas, semuanya menari indah di otak Lily.
"Akh."
Apa yang terjadi pada Lily?
"Akh!"Lily merasakan sakit kepala yang begitu hebat datang melanda. Bukan karena potongan ingatan yang timbul, lebih tepatnya Lily menolak ingatan tentang hal itu. Bagaimana tidak? Ciuman itu membuat kepalanya sakit.Hiks hiks.'Lily.'Nicho melihat Lily terduduk di lantai melalui celah pintu kamar mandi. Ingin sekali menolong Lily yang menangis, namun dia takut ketahuan.Tak ada alasan yang tepat untuk mendekati Lily. Nicho juga ingin tahu, apa yang sebenarnya Lila rencanakan. 'Kenapa dia menyuruh Lily menggantikan posisinya? tidak, aku tidak akan gegabah. Sabar Nicho,' batin Nicho memikirkan banyak hal, namun tatapannya tak beralih dari adik yang telah ditiduri. Lily melepas sprei yang membalut tubuhnya.Gleg.Nicho seketika meremang, teringat kembali kejadian penuh gairah semalam. Tubuh Lily begitu mulus dan putih seputih salju, sungguh tubuh yang proporsional.Jika tidak memakai pakaian ketat, orang lain tak akan tahu jika Lily mempunyai tubuh yang begitu indah. Dan Nicho suda
“Brengsek!” rintih Alex. “Aku pasti membalas semua perbuatanmu, aku janji!” Getaran ponsel di saku celana yang berserakan di lantai membuat Alex berusaha keras mengambilnya. Dengan tangan terikat, bisa dipastikan Alex sangat kesulitan mengambil ponsel tersebut. Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya Alex berhasil mengangkat teleponnya seraya menekan tombol loudspeaker."Halo Boss, sudah semalaman Boss tidak memberi kabar. Apakah semua baik?" Terdengar suara laki-laki yang panik dari ujung telepon."Bagus, akhirnya kamu mencemaskanku. Cepat kesini, bodoh! aku di kamar …, entah dimana aku ini!""Apa? Ba– baik, boss."Tak lama kemudian, anak buah Alex datang dan memanggil-manggil bosnya. Mereka terkejut melihat Alex diikat di kamar mandi tanpa sehelai busana pun. Usai ikatan dilepas, Alex segera menghantam dua anak buahnya dengan satu pukulan.Plak"Dasar kalian, sungguh bodoh!""A– ampun boss!""Ais, sudahlah. Sekarang cari lelaki yang membawa Lila-ku keluar hotel ini. Cepat periksa
Lila diminta masuk oleh Evelyn setelah Lily pingsan mendengar kabar kehamilannya. Evelyn menasehati Lila agar dia tetap mendampingi Lily, apapun keadaannya. Evelyn juga menjelaskan kalau Lily sedang berada di fase terendah dalam hidupnya. Jika dia tidak didampingi, ditakutkan kondisi Lily semakin memburuk, bahkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi."Bulan depan, bawa Lily kembali ke sini ya .... Kita lihat perkembangan pada fisik dan psikisnya. Kuatkan dia, apapun yang terjadi! Jangan sampai Lily sendirian, apalagi sampai dia depresi.” Evelyn memeluk Lila yang pipinya sudah dibanjiri air mata."Terima kasih Dokter, Anda sudah menghubungiku karena kondisi Lily pingsan tadi."Evelyn mengangguk dan tersenyum. "Kamu mau janji sama Dokter untuk menemani Lily, kan?” Evelyn bertanya halus.“I-ini semua salahku, Dok! Aku yang memintanya masuk ke bar untuk menggantikanku, saudara kembarnya. Aku yang salah. Aku yang harusnya menderita. Tapi, kenapa Lily yang malah jadi korban? Kenapa, D
Alex tercengang mendengar kalimat yang keluar dari Lila. “Saudara Kembar?” tanyanya memastikan jika tak salah dengar.Lila memutar bola mata jengah. Duduk di Sofa dan meminum segelas air dingin.“Dia memang jarang di ekspos majalah dan infotainment tapi dia aktif di sosial media. Dia begitu berbanding terbalik denganku. Aku sampai merasa mual dengan cara berpakaiannya yang serba tertutup,” ejek Lila.Tangan Alex mengepal. Dia berusaha mencerna baik baik apa yang dijelaskan Lila. “Jadi, kau mencoba menipuku?” teriak Alex marah dan mencekik leher jenjang sang kekasih.“Tolong …, Lepaskan aku. Akh.”Lila berusaha melepas cengkraman tangan Alex dan memukul mukulnya sekuat tenaga.“Mati saja kau bitch. Berani sekali membohongiku.”Alex semakin kuat mencengkram leher Lila namun setan jahat menyuruhnya berhenti.‘kenapa juga aku harus membunuhnya? Bukankah menikmati tubuhnya lebih nikmat daripada membunuhnya,' bisik setan dalam diri Alex.Uhuk, uhuk, uhuk.Alex melepas cekikan di leher Lila.
"Alea," bentak Dion tak suka."Maaf sayang, tapi aku begitu menginginkannya? Kita sudah satu minggu tak bertemu. Aku merindukan belaianmu." Alea mengalungkan kedua lengannya pada leher Dion. Menghirup aroma mint yang membuatnya candu. Mereka adalah partner ranjang yang cocok dan Dion tak pernah menolak ajakannya. Namun sekarang, Dion tiba tiba saja menolak dan Alea harus tahu alasannya. "Katakan, siapa yang menghubungimu? Setelah itu aku akan melepasmu.""Nicho. Ya, Nicho yang menghubungiku. Dia meminta aku mencari data pribadi dari seseorang.""Seseorang? Siapakah itu?""Rahasia." Dion melepas pelukan Alea dan memicingkan mata tajamnya. "Aku sudah memberitahumu, sekarang pergilah!""Tidak mau."Dion sangat marah dengan sikap keras kepala Alea. Mata hitam itu menatapnya seperti seekor elang yang siap menerkam mangsanya membuat wanita berpakaian seksi itu langsung ketakutan. Dengan enggan, Alea pergi meninggalkan tamu langganannya. Dion sendiri segera pergi menuju apartemennya, bernia
Dalam keadaan takut dan panik, Lily mencoba sekuat tenaga berontak. 'Tolong, tolong!'MmphSuara Lily tercekat di tenggorokan akibat mulutnya yang dibungkam. Tangannya segera diikat agar tak memberontak lagi. "Cepat urus wanita ini agar Diam. Aku akan menghubungi Bos," perintah ketua bodyguard Alex."Halo, Boss Alex. Kami membawa wanita yang Anda inginkan.""Kalian sungguh hebat. Tak sia sia aku langsung terbang kemari," ucap Alex di seberang. Dari suara, tampak sekali jika dia sangat bahagia. "Segera bawa ke tempatku."Lily melotot, tubuhnya gemetar saat mendengar percakapan melalui telepon itu. Dia sangat takut saat ini, mengingat Alex-lah yang memberinya obat laknat malam itu. Ya, Alex yang menyuruh tiga anak buahnya untuk menculik Lily. Dengan menculiknya, diharapkan lelaki yang bersama Lily datang untuk menolongnya.Tak butuh waktu lama, anak buah Alex dan Lily sudah tiba. Segera dihadapkan pada seorang lelaki yang kini duduk di kursi kebesarannya. Asap mengepul dari bibir, menam
Setelah melarikan diri dari kejaran polisi, Alex menghubungi Lila dan berharap bisa bertemu kekasihnya. [Halo Lila, kamu di mana? Aku ada di Kanada. Temui aku sekarang.][Halo. Halo.]Suasana sangat berisik karena Lila berada di Club malam.[Maaf aku tak mendengarmu Alex. Suasana di sini sangat ramai.][Halo Lila, halo!?]Tut. Tut.Lila menutup panggilan Alex dan ingin segera pergi dari tempat tersebut. Dirinya berbohong tak mendengar Alex padahal Lila sangat takut jika bertemu Alex."Jenny bolehkah aku tidur di apartemenmu malam ini?" tanya Lila pada temannya Clubing saat ini."Em, boleh. Kebetulan pacarku di luar kota. Jadi aku ada teman jika kamu menginap.""Baiklah kalau begitu ayo kita pergi sekarang!"Mereka meninggalkan Club. Lila mengaktifkan sim card 2 yang hanya di ketahui Alex sedangkan sim card yang biasa digunakan tak diaktifkan agar Lily dan keluarga tak mengganggu kegiatannya. Malam ini dia ingin bersenang senang namun semua gagal karena panggilan dari Alex.Sedangkan
Lily mendengar ucapan Nicho meski samar, untuk itulah Lily menanyakannya."Ah, tidak apa apa. Aku hanya berharap kamu baik baik saja, Lily.""Oh begitu."Seminggu berlalu.Ujian telah selesai, Lily dan Lila memutuskan untuk kembali ke Amerika. Selama satu minggu Nicho menghindar, tak menemui kedua adiknya membuat Lily sedikit tenang dan fokus menjalani ujian. Namun, hal ini membuat Nicho sungguh tersiksa. Dia tak bisa menggapai wanita yang disukai walau hanya memandang sejenak. Semua ini harus dia lakukan demi kebaikan bersama mengingat Lily seperti menjaga jarak darinya.Tiap malam Nicho memimpikan kenangan indah satu malamnya dengan Lily. Dia harus terbangun di tengah malam dengan keringat membanjiri dan basah pada bagian tubuh bawahnya. Semua seperti nyata, tak ayal tiap tengah malam Nicho selalu mandi air dingin untuk menetralkanya. Rasa itu benar benar membuat candu dan begitu menyiksa. Ingin sekali dia melampiaskan pada wanita di club malam namun kembali dia memikirkan Lily. Cuk
Catlyn tak tahu harus berkata apa lagi selain mengikuti kemauan Lila."Baiklah jika semua sudah deal. Besok saya akan ke sini lagi," ucap Zico berpamitan pada keluarga Marco."Sweety siapkan semuanya," ucap Marco berdiri setelah kepergian Zico."Tapi Sweety, aku melihat bahwa Lila tak setuju dan bingung dalam keputusan ini.""Apa maksudmu?" tanya Marco tak mengerti."Lila, apa benar yang dikatakan Mommy-mu?"Lila terdiam membuat Marco marah.BrakhMarco menggebrak meja sebagai pelampiasan amarahnya. "Jawab, Lila?"Lila gemetar melihat ayahnya yang emosi. Dirinya tak tahu harus berkata apa. Namun, rasa takut terhadap emosi sang ayah membuatnya semakin gemetar. Mau tak mau Lila harus jujur kepada Marco. "Maaf Dad aku hamil lagi.""Apa??""Aku belum sempat memakai kontrasepsi saat Alex menculik dan memperkosaku lagi," jawab Lila disertai tangis yang menjadi."Ya Tuhan!?" keluh Marco terduduk di sofa sambil memegang kedua kepalanya."Maaf Dad, harusnya aku berkata jujur kepadamu, tapi aku
Mereka mengambil mantel tebal dan memakainya, berharap jika salju di pegunungan itu tak sedingin dugaan mereka karena Lily tak tahan hawa dingin dan Nicho tahu itu.Meski bukan musim salju, area Sky di pegunungan ini tetaplah yang terbaik dan suasLily romantis sangat mendukung.Lily dengan lincah bermain sky. Karena Lily seorang penari balet, menjaga keseimbangan tubuh sudah menjadi rutinitas untuknya dan dirinya tak kesulitan sama sekali bermain Sky.Berbeda dengan Nicho. Dia sedikit kesulitan, pasalnya dia jarang sekali bermain sky. Lily dengan mudah menarik tubuhnya dan mereka sangat menikmatinya.Mereka terus bermain sampai tiba tiba Lily mengerem mendadak dan Nicho menabraknya."Brukh."Mereka jatuh berguling guling saling menindih berpelukan."Lily, kamu baik baik saja?" tanya Nicho menyibak rambut Lily di wajahnya ketika berhenti berguling. Kini tubuhnya menindih tubuh Lily.Lily terdiam membuat Nicho gelisah dan takut."Lily."'Lily?"Nicho menepuk nepuk pipi Lily membuat si e
"Hah?"Lily melongo, pikirannya sudah melayang kemLily mLily ternyata sang kakak malah mengucapkan keinginan yang jauh dari pemikirannya.Matanya memerah, ingin sekali menangis."Hiks, hiks, hiks."Nicho kebingungan mendapato Lily menangis saat ini."Hei, kenapa menangis?""Minggirlah, tubuhmu sangat berat"."Srekh."Lily mendorong tubuh dan duduk berpaling dari Nicho.Nicho menopang tubuhnya dengan lengan agar tak oleng."Hei, kamu marah Lily?"Lily hanya terdiam, duduk membelakangi membuat Nicho bangkit dan memeluk Lily dari belakang."Maaf sayang."Nicho menghela nafas berat seolah menahan sesuatu.Hal itu dapat Lily rasakan saat sesuatu menonjol menyentuh belakang tubuhnya."Aku begitu menginginkannya Lily, menjamah tubuh ini," ucap Nicho kembali menghirup ceruk leher beraroma lily blossom itu."Tapi ,..."Lily menoleh pada Nicho membuat Nicho tersenyum dan mencium pipi Lily."Cup.""Tapi aku tak mau memaksamu. Bukankah kamu juga sudah berjanji kepada Daddy bisa menjaga diri terma
Marco terkejut bukan main mendengar ucapan lantang dari Zico, antara shock dan tak siap memberi jawaban kepadanya. "Maaf dokter Zico, aku tak mengerti maksud Anda.""Aku merasa simpati kepada Lila dan aku ingin berbagi kesedihan dengannya," jelas Zico.Marco masih tak percaya jika Zico berani mengatakan hal seperti itu. "Maaf Dokter Zico, aku butuh waktu membicarakan hal ini kepada Lila dan istriku.""Benarkah, Tuan Marco? Anda mau mempertimbangkannya?"Marco tersenyum. "Aku akan mempertimbangkannya.""Terima kasih Tuan Marco."Dokter Zico pergi meninggalkan Marco. Dirinya tersenyum smirk di dalam mobil. "Sedikit lagi, aku akan mendapatkanmu, Lila," ucap Zico merasa senang.Kira-kira siapakah Zico? Dan apa tujuan dia datang di kehidupan Lila? "Sweety, tahukah kamu apa yang dikatakan Zico kepadaku tadi?" ucap Marco menghampiri sang istri dan duduk di sampingnya."Dokter Zico bicara apa? Beritahu aku, Suamiku?""Dia bilang jika penyakit yang diderita Lila saat ini cukup parah. Dia memin
Lila terlihat sangat kurus, badannya lemas, tak terisi makanan sama sekali.Catlyn sangat sedih melihat Lila seperti ini. Dia sudah berusaha membujuk dan merayu Lila agar mau makan dan membuka dirinya. Namun, semua usahanya tak membuahkan hasil.Setelah memanggil Dokter Alexa dan Dokter Evelyn. Kini Catlyn berinisiatif memanggil Dokter Zico ke kediamannya. “Terima kasih Dokter Ziko, anda sudah mau datang ke sini,” ucap Catlyn saat Zico datang.“Aku melakukan ini sesuai permintaan Anda, Nyonya,” jawab Zico santun dan ditanggapi secara welcome dari Catlyn. “Baiklah. Bisa Anda tunjukkan di mana Nona Lila berada?”“Dia berada di kamar.”Zico dan Catlyn berjalan beriringan menuju kamar Lila. Catlyn menyukai sikap santun dari Zico. Lelaki yang begitu sempurna untuk menjadi menantu. Namun entahlah, hanya Tuhan yang mempunyai kehendak menjodohkan anaknya, Lila dengan siapa dan Lily dengan siapa, nantinya.“Lila.”Catlyn masuk kamar, diiringi Zico di belakangnya.“Ada Dokter Ziko menjengukmu.
"Benarkah itu, Kak?""Tentu saja Lily. Kamu suka?"Lily mengangguk antusias.Mereka menyusuri jembatan dengan tangan saling menggenggam. Nicho menyetir pelan, sesekali dia mencium punggung tangan Lily sedangkan Lily memandangi indahnya pemandangan laut dari atas jembatan.Lama perjalanan dan terasa bahagia, membuat waktu lebih cepat berjalan.Mereka tiba di tujuan sudah malam saja.Nicho sengaja mengajak Lily ke Rocky Mountain karena mereka satu hobi dalam hal ini yaitu sama-sama menyukai pegunungan yang mencakup wilayah seluas 4.830 kilometer dari British Columbia, Kanada hingga Meksiko tersebut.Aktivitas wisata yang bisa dilakukan saat berada di Rocky Mountain adalah :Memancing, Ski, Rafting, Arung jeram, Pendakian, Panjat tebing, Dan Berkuda.Nicho ingin naik Banff Gondola bersama Lily. Sebuah fasilitas wisata yang akan membawa para wisatawan ke spot terbaik Rocky.Duduk berdua menikmati indahnya pemandangan, pasti sangat romantis.Nicho berencana mengajak Lily melakukan semua itu
Boom.DuarMobil seketika meledak membuat Alex dan Wilson terpental. Untung saja ambulance segera datang dan membawa semua korban ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, Catlyn menangis, dirinya sungguh menyesal membiarkan Nicho menginap di desa."Cepat bawa anak ini ke ruang ICU!" perintah Dokter jaga.Nicho segera di bawa masuk dan mendapat penanganan medis. Baru lima menit berselang, dokter keluar ruangan dan meminta Catlyn mendonorkan darahnya untuk sang anak. “Kami butuh pendonor darah untuk anak Anda!”Catlyn menggeleng, membuat Wilson bertanya tanya. Ibu macam mana yang tak mau mendonorkan darah untuk anaknya yang sedang kritis."Maaf Dokter, darah saya tidak sama dengan Nicho," jawab Catlyn. Dia segera mendekati Wilson. "Wilson darah Nicho, Ab+, apakan kamu sama?" tanya Catlyn, membuat Wilson terkejut."I- iya darah saya Ab, Nyonya.""Syukurlah Wilson, aku mohon selamatkan Nicho, karena saat ini darah yang sama hanya Diego.""Diego?”Nicho yang mendengar pembicaraan ters
"A- apa maksudmu Nicho?"Nicho memandang laut lepas. "Sebenarnya aku adalah anak Diego yang diasuh Daddy and Mommy Catlyn sejak bayi karena ibu kandungku meninggal setelah melahirkanku.""Apa?" teriak Wilson. "Benarkah itu, Nicho?"Nicho mengangguk. "Apa kamu tidak ingat kejadian pada ulang tahunku saat umurku sepuluh tahun?""Sepuluh tahun?"Wilson berusaha mengingat masa di mana dirinya berperan penting dalam menyelematkan seorang Nicho dari maut.Ya, Wilson mengingat semuanya sekarang.Flashback 12 tahun lalu."Tolong!""Tolong!"Hal itu bermula saat Nicho ikut Alex pulang setelah menginap di rumah Dilon semalam."Nicho, ayo kita ke kota. Aku antar kamu pulang sekalian paman mau ke rumah sakit," ucap Alex setelah sarapan.Nicho dan Alex kemudian berpamitan kepada Sienna."Bibi di mana Dilon? sehabis sarapan aku tak menemukannya."Sienna memandang sekitar mencari keberadaan Dilon."Entahlah sayang mungkin dia di toilet. Kalian pergilah nanti aku bilang kepada Dilon," jawab Sienna ber
Evelyn datang dan memeriksa keadaan Lila, memberi kesaksian jika Lila mengalami tindakan kekerasan dari Alex.Marcosegera memerintahkan polisi menangkap Alex.Saat ini Alex sedang syuting terakhir filmnya. Baru saja merebahkan diri, Polisi datang dengan dua orang ajudannya, menemui seorang Alex.Mereka membawa surat perintah penangkapan atas kasus pelecehan seksual yang dilakukan Alex kepada Lila."Maaf, Tuan Alex, dengan berat hati kami harus menangkap Anda."Atas dasar apa kalian menangkapku?" tanya Alex."Atas pengaduan kasus kekerasan seksual yang Anda lakukan kepada saudara Lila."Alex tersenyum smirk dan berkata, "cepat sekali surat penangkapan ini datang kepadaku."Polisi mengkode ajudannya untuk segera menangkap Alex.Tanpa perlawanan, Alex membiarkan tangannya diborgol."Boss."John berusaha menghentikan aksi ajudan dengan menarik tubuh mereka."Biarkan saja mereka menangkapku John. Kamu tenang saja, Aku tak akan lama ditahan di sana," ucap Alex penuh kesombongan.Alex dibawa