"Sebentar Darling, aku akan menyuruh Donovan untuk mengemudikan kapal kembali ke Santa Monica Pier. Aku masih ingin menemanimu di kabin!" ujar Jordan sembari mengenakan celana pendek selututnya yang berwana khaki di hadapan istrinya.Wajah Chantal sehabis bergumul panas bersamanya masih diselimuti gairah dan Jordan tahu itu. Dia pun sama halnya dengan istrinya masih mendambakan kehangatan. Namun, sayangnya langit mulai gelap, dia tak ingin mengambil risiko yang tak perlu dengan ancaman pembajakan di tengah laut ataupun serangan hiu bawah air.Dengan langkah tegap pria tampan itu meninggalkan kabin dan menuju ke anjungan untuk menemui kepala pengawal pribadinya. Rupanya Donovan sedang minum secangkir kopi sore yang dia buat sendiri di pantry tadi."Don, kemudikan yacht menuju dermaga. Hari mulai petang, aku tak ingin mencari perkara yang tak perlu. Hati-hati, oke!" titah Jordan menepuk-nepuk bahu Donovan sebelum kembali mencari istrinya di kabin.Keempat pengawal lainnya masih berjaga
"Sergio, apa kau sudah lakukan apa yang kuperintahkan?" tanya David Guilermo di telepon kantornya kepada anak buah kepercayaannya."Segalanya sudah siap kapanpun Anda perintahkan, Sir. Pria yang menjadi musuh Anda itu menebar banyak bibit dendam di masa lalunya. Dia pengusaha yang tiran dan suka menginjak pengusaha kecil bila merasa tersinggung," jawab Sergio Portabelo yang sedang duduk di cafe seberang Sky Eternity Intercontinental Tower.Mata David memicing dengan seringai puas mendengar laporan anak buahnya. Dia memang sudah menduga bahwa Jordan memiliki banyak musuh. Dan baginya musuh dari rivalnya adalah kawan yang potensial untuk dimintai dukungan dalam perangnya melawan Jordan."Kembalilah ke kantor, Sergio. Bekerjalah seperti biasanya. Waktu kita masih cukup banyak untuk menyusun serangan yang telak nanti di saat yang tepat! HA-HA-HA," titah David Guilermo sebelum memutus sambungan teleponnya. Banyak hal yang harus diaturnya sebelum terang-terangan melawan Jordan Fremantle. K
Dari dalam mobil Bughati silver miliknya, David Guilermo mengamati mantan kekasihnya turun dari limousine dibantu oleh Jordan Fremantle. Rasanya dia ingin berteriak frustasi karena wanita yang seharusnya menjadi pendamping hidupnya justru dimiliki pria lain yang memporak porandakan kehidupannya."Barry, aku turun di depan restoran itu. Tunggu aku hingga selesai makan siang," perintah David dengan jelas kepada sopir pribadinya.Pengawalnya yang berjumlah 6 orang yang mengikutinya di mobil van di belakang Bughati itu mengawalnya masuk ke restoran The Chariot Fame. Dengan ramah David disambut oleh waiter berpakaian seragam restoran tersebut dan dicarikan meja kosong untuk satu orang.Kebetulan tanpa dia minta, mejanya berdekatan dengan meja yang ditempati oleh Jordan dan Chantal. Mata pria muda itu memicing penuh amarah karena rasa cemburu yang telak menghunjam jantungnya melihat kemesraan gestur pasangan suami istri tersebut."Baby Girl, bagaimana kalau besok sepulang kerja kita nonton
"Jadi apa tadi David Guilermo menciummu di toilet, Chant?" pancing Jordan dengan ekspresi wajah datar yang tentunya palsu. Emosi kecemburuan bergejolak di bawah sana.Alis bak bulan sabit itu berkerut tak nyaman. Perempuan itu menggelengkan kepalanya dengan jantung berdetak kencang. Dia takut suaminya akan meradang karena pertemuan tak sengajanya di toilet dengan mantan pacarnya tadi."Apa kau marah padaku, Hubby? A—aku tidak tahu dia di sana dan membekap mulutku tadi agar tidak berteriak—"Jordan menggeretakkan rahangnya penuh amarah. Memang bukan Chantal yang bersalah, pria pecundang itu yang membuat suasana siang ini kacau dengan ulahnya. Sebelumnya sudah dia sindir hingga meninggalkan meja makan di samping mejanya dan Chantal. Akan tetapi, yang terjadi justru David Guilermo menyergap istri kesayangannya di toilet wanita."Lantas apa saja yang kalian berdua lakukan di dalam toilet tadi? Semoga bukan quickie express!" sindir Jordan lagi dengan nada tajam yang membuat Chantal terpera
Ponsel Chantal di nakas samping tempat tidur terus berbunyi sejak ia masuk ke kamar mandi tadi. Dia pun penasaran pesan dari siapa yang masuk ke inbox miliknya. Maka dia pun meraih ponsel itu sembari duduk di tepi ranjang berseprai putih yang sudah dirapikan cleaning service tadi."Hahh? David lagi yang mengirimiku email beruntun," ucap Chantal sembari membaca isi pesan surel dari mantan pacarnya itu. 'Chantal Dear, ikutlah denganku ke Paris atau Milan. Kau bekerja di bidang fashion, di sana pusat fashion Eropa. Aku pasti mendukung pekerjaanmu!' 'Tinggalkan saja Jordan Brengsek itu, dia tak layak untukmu!''Kita bisa berangkat kapan saja asal kau setuju. Balas pesanku, Chant!''Jangan ragu, Sayang. Aku menunggu balasan pesanmu!''Hello, Darling. Jangan abaikan aku, please!'Ada terlalu banyak email yang dikirimkan oleh David Guilermo ke alamat surel Chantal hingga perempuan itu malas membaca sisa email lainnya dari pria tersebut. Dia pun berdecak kesal, pertengkarannya dengan Jordan
Hari telah petang ketika Jordan dan Chantal terbangun dari tidur lelap mereka yang hanya sejenak. Perut Chantal berbunyi kencang hingga membuat Jordan terkekeh geli. "Darling, apa cacing di perutmu sedang berdemo? Kencang sekali suaranya!" goda Jordan."Itu tandanya aku kelaparan, Hubby. Beri istrimu ini makanan bergizi," jawab Chantal mencubit hidung mancung suaminya. Wajah Jordan sangatlah berkarakter dengan rahang yang tegas dan tatapan mata birunya yang keras seolah kehendaknya tak terbantahkan.Dulu memang Chantal sering kali ketakutan saat ditatap lurus oleh pria yang tengah memeluk erat tubuhnya. Sekarang dia tak takut lagi dan mampu melihat ada kelembutan serta kasih sayang di dalam tatapan sepasang mata biru cemerlang itu."Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan memesan makan malam ke dapur. Chef Oliver Zhao atau Chef Arnold Suarez, Darling?" tanya Jordan sebelum bangkit dari ranjang hangat dimana istrinya sedang bergelung."Chef Oliver Zhao, aku ingin masakan oriental otentik bu
"HOOEEKK ... HOOEEEKK!" Suara mual dari arah kamar mandi di pagi-pagi buta itu membangunkan Jordan Fremantle. Dia berlari kecil menuju ke dalam kamar mandi dan segera memijit tengkuk istri kecilnya yang sedang memuntahkan cairan asam lambung ke kloset. "Are you okay, Chant?" tanya Jordan cemas bersitatap dengan wajah Chantal yang pucat pasi."Sepertinya aku ... hamil. Datang bulanku belum juga muncul, Jordan. Perutku begitu mual pagi ini!" jawab Chantal dengan suaranya yang pelan. Dia bimbang apakah ini akan jadi kabar bahagia bagi suaminya atau tidak sekalipun Jordan pernah mengatakan bahwa dia ingin anak.Senyum bahagia terkembang di wajah tegas pria itu. "Semoga benar. Pagi ini juga aku akan mengantarmu ke dokter kandungan untuk memeriksa apa benar kau sedang hamil, Chant!" ujar Jordan dengan antusias."Apa kau siap menjadi seorang ayah yang akan membuatmu terbangun di tengah malam saat ada suara tangisan bayi lapar atau mengompol, Jordan?" tanya Chantal mengulik kesiapan suaminya
"Selamat memang istri Anda sedang hamil lima minggu, Sir!" ucap Dokter Beverly Anderson, spesialis Obsgyn setelah memeriksa rahim Chantal dengan alat USG.Pasangan suami istri itu saling bertukar pandang dengan senyuman kebahagiaan. "Jaga anak kita, Chantal Darling!" pesan Jordan sebelum mengecup kening istrinya. "Akan saya resepkan suplemen asam folat dan vitamin untuk trimester pertama kehamilan Nyonya Chantal. Pemeriksaan berikutnya bisa datang kembali 2 bulan ke depan," tutur dokter wanita itu sambil menuliskan resepnya. "Baik, Dok. Kami pasti akan datang dua bulan lagi," jawab Jordan dengan antusias. Kemudian dia mengajak Chantal untuk menebus resep dokter di bagian farmasi.Usai menyelesaikan administrasi rumah sakit, Jordan mengantarkan istrinya ke tempat kerja wanita itu di Le Feminine Sorella. Dia mencereweti Chantal sepanjang perjalanan agar menjaga dirinya baik-baik selama kehamilan. Jordan mengingatkan bahwa Chantal sedang membawa calon pewaris kerajaan bisnis Fremantle
"Hello, Gorgeous!" Perempuan itu tersenyum miring di ambang pintu penthouse Calvin Fremantle yang berada di Queens, New York.Calvin mendengkus geli sembari bersedekap menghadapi Jessica Carrera. Dia sudah sebulan ini menghindari wanita muda yang merengek meminta alamat tempat tinggalnya sekarang."Bagaimana bisa kau mendapatkan alamat tempat tinggalku, Jess?" tanya Calvin menghela napas dalam-dalam lalu mempersilakan wanita yang jauh-jauh terbang dari Los Angeles ke tempatnya itu masuk.Ketika Calvin menutup pintu penthousenya, Jessica segera memeluknya erat dari belakang punggungnya. "Aku mendesak Jordan agar memberi tahukan alamatmu. Kau tega meninggalkanku, Honey!" rajuknya."Hmm ... memang hanya Jordan yang mengetahui tempat tinggalku dan beberapa kolega dekatku yang pastinya tak kau kenal," jawab Calvin dengan perasaan bercampur aduk. Dia lalu bertanya, "Jess, untuk apa kau mencariku? Bukankah banyak pemuda yang berlutut di bawah kakimu untuk mendapatkan perhatian darimu?"Jessi
"Welcome home, Jordan, Chantal!" sambut Calvin di ruangan CEO Sky Eternity Intercontinental Tower. Dia memeluk hangat putera dan menantu kesayangannya bergantian. Kemudian dia menggendong cucu pertamanya sembari menyapa Raphael juga yang menjawab dengan bahasa bayi."Papa, maaf telah merepotkanmu begitu lama!" ujar Jordan sambil terkekeh mengamati kakek dan cucunya yang cepat sekali akrab itu."Hey, it's okay. Duduk dulu di sofa dan mengobrol," ajak Calvin berjalan menuju ke sofa vinyl hitam.Setelah duduk Jordan bertanya, "Apa Papa tertarik untuk menetap di LA? Aku akan suruh bawahanku menyiapkan unit mewah yang kosong di SEI Tower."Penthouse Jordan hanya memiliki sebuah ranjang dan dia telah kembali meninggalinya tak lama lagi. Calvin pun mengerti itu tanpa harus dikatakan secara lugas oleh puteranya. Maka dia pun menjawab, "Lebih baik sore nanti Papa kembali ke Queens, tak perlu repot-repot menyiapkannya, Jordan!""Aku ikut apa yang baik menurut Papa saja. Di SEI Tower banyak unit
Pemberhentian kapal Fortune Marine selanjutnya adalah Norwegia. Negara yang tenang dan sedikit penduduknya itu alamnya masih banyak yang tak tersentuh karena terdiri dari fyord, pegunungan tinggi yang tertutup salju, dan lembah bertebing curam. Julukannya adalah The Land of Midnight Sun karena pada puncak musim panas bulan Mei dan Juni, matahari masih tampak bersinar pada malam hari. Namun, saat itu bulan Oktober.Kapal Jordan mengarungi perairan Laut Norwegia menuju ke Kepulauan Lofoten di malam hari dengan kecepatan yang diperlambat oleh Kapten Andres Fuller. Malam itu Jordan sengaja mengajak Chantal naik ke dek kapal untuk melihat langit menakjubkan yang bertabur bintang dan dapat melihat perubahan cahaya warna-warni di kejauhan di atas daratan."Indah bukan?" tanya Jordan memegangi gelas berisi port wine dengan seringai lebar di wajahnya sembari menemani Chantal yang sedang mengamati langit dengan teleskop tersangga sebuah tripod.Donovan dan John sekali lagi beralih profesi menja
Tiga minggu lamanya Jordan dan Chantal berada di Afrika Selatan. Mereka berpidah-pindah kota dari Johannesburg ke ibu kota Pretoria yang jalanannya dinaungi pohon Jacaranda di tepian kanan kiri hingga nampak rindang. Pada musim semi bunganya yang berwarna ungu penuh mengiasi setiap rantingnya yang subur.Kemudian juga mereka mengunjungi Pantai Nahoon di East London yang berombak dan cocok untuk berselancar. Jordan menyukai surfing, dia menyewa papan selancar di tempat persewaan bersama Donovan serta beberapa rekan pengawalnya yang memang bisa berselancar. Sedangkan, Chantal duduk bersantai di tepi pantai bersama Raphael menikmati sinar hangat matahari sambil minum air kelapa muda asli yang banyak dijual di sana.Setelah itu mereka juga mengunjungi Knysna, sebuah kota di sebelah laguna yang dihiasi hutan-hutan kuno indah dan pegunungan yang mengelilinginya. Di sana mereka berkunjung ke Taman Nasional Tsitsikamma.Upington yang berada di tepi Sungai Orange tak ketinggalan didatangi juga
Mendekati perairan Afrika Selatan gelombang lautan semakin tenang, cuaca cerah dan mataharu bersinar terik di siang hari. Jordan dan seisi kapal Fortune Marine sudah tidak memerlukan pakaian rangkap lagi seperti ketika mereka melintasi perairan Antartika."Sebetulnya apa yang membuatmu ingin mengunjungi Afrika, Jordan?" tanya Chantal yang berdiri bersama suaminya di dek kapal. "Afrika Selatan negara yang unik, percayalah ... perjalanan berat kita akan terbayar saat kau melihat-lihat seperti apa Negeri Pelangi itu. Hanya Afrika Selatan yang memiliki 3 ibu kota di seluruh dunia, Pretoria, Cape Town, dan Bloemfonstein. Namun, kota terbesarnya adalah Johannesburg yang menjadi penghasil emas, berlian, nikel, dan logam lainnya. Selain itu hanya di negara ini kita bisa menemukan satwa the big five yang liar paling sulit diburu; macan tutul, badak, kerbau Cape, gajah Afrika, dan singa. Aku akan mengajakmu ke Kruger National Park, itu salah satu game reserve terbesar di dunia. Kita akan kelil
Kapten Andres Fuller ternyata tidak menemukan kerusakan pada bodi maupun mesin kapal Fortune Marine. Maka Jordan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka dengan bertolak dari dermaga di siang hari usai makan siang di salah satu restoran yang ada di pelabuhan. "Aku senang kita bisa berlayar lagi. Suhu udara yang membekukan hingga ke tulang nampaknya tak cocok denganku, Jordan!" ujar Chantal saat kapal sudah mulai melaju dalam kecepatan stabil 21 knots.Gelombang laut Samudera Selatan masih tenang dan Kapten Andres memanfaatkan waktu di mana matahari masih bersinar sekalipun tidak secerah di daerah tropis. "Nampaknya kita akan menghabiskan waktu agak lama di lautan, semoga bahan bakarnya cukup," jawab Jordan yang tidak terlalu optimis dengan perjalanan mereka. "Mungkin akan membosankan, Jordan. Aku rindu menetap di daratan," ujar Chantal dengan nada lesu. Tidur di atas kapal yang terombang-ambing di tengah lautan terkadang membuatnya cemas.Kapal itu melaju setiap hari di saat
"AAARRGHH!" pekik Chantal mencari keseimbangan pada dinding kabin ketika kapal yacht itu terombang-ambing parah karena gelombang lautan yang ganas disertai angin badai. Dia baru saja buang air kecil di kamar mandi karena suhu udara dingin membuatnya sering berkemih."Baby Girl, apa kau baik-baik saja?!" seru Jordan menghampiri Chantal di tengah kabin sambil mendekap erat puteranya yang tumben agak rewel. Chantal pun menjawab, "Aku baik-baik saja, Jordan. Bagaimana dengan Raphael? Dia masih menangis terus!""Coba kau susui dia, Chant. Dia pasti tidak tenang karena goyangan kapal yang terlalu heboh ini," usul Jordan sembari membantu istrinya kembali ke ranjang. Maka Chantal menuruti ide Jordan yang dia pikir tepat. "Aku akan naik ke kokpit sebentar untuk memeriksa keadaan. Pelayaran ini sedikit membuatku kuatir," pamit Jordan sebelum mengenakan jaket anti air di luar sweaternya. Udara di dalam kabin berpenghangat itu saja terasa dingin, apa lagi di luar ruangan.Jordan mengetok pintu
Tangannya berkelana mulai membuka kancing kemeja putih tuxedo Calvin dan juga sabuk celana pria itu. Akhirnya, Calvin membiarkan Jessica mengambil alih kendali atas tubuhnya yang juga mendambakan petualangan seks kilat dan meledak-ledak dengan daun muda yang molek itu.Ketika kain-kain penghalang di tubuh Calvin terlepas, Jessica membenamkan wajahnya di antara pangkal paha pria itu. Batang berurat Calvin memang masih berfungsi normal terasa sangat keras di dalam mulutnya yang sibuk menjilati dan mengurutnya ketat."Ohh ... luar biasa. Kau membuatku merasa muda kembali, Jess!" desis Calvin menahan sensasi kuat yang membuat dirinya ingin tumpah di bawah sana."Artinya kau setuju dengan permintaanku tadi. Jadi jangan protes lagi!" putus Jessica lalu menarik melepas pantiesnya dari balik gaun merahnya yang berbahan ringan longgar. Dia menduduki paha Calvin untuk menyatukan pusat gairah mereka berdua yang saling menginginkan satu sama lain.Jessica menghentakkan bokongnya dengan lincah nai
"Hai, Calvin. Terima kasih sudah bersedia menghadiri pesta ulang tahunku. Apa Jordan masih belum kembali ke LA?" sambut Fernando Alex Guilermo memeluk hangat Calvin Fremantle usai mendapat ucapan selamat.Pria yang nampak lebih muda dibanding usianya yang sebenarnya itu tersenyum lebar sambil menjawab, "Ini hari istimewamu, Nando. Masa aku tak datang ikut merayakannya? Jordan akan lama keliling dunia, mungkin dia sedang berada di Antartika bermain dengan pinguin. HA-HA-HA!"Jawaban Calvin membuat Fernando menggeleng-gelengkan kepalanya dengan emosi bercampur aduk, antara bingung dan juga kesal. Mungkin ada baiknya dia melupakan dendam mendiang puteranya sepenuhnya, pikir Fernando Guilermo diam-diam."Oke, nikmati pestanya, Calvin. Banyak wanita muda yang menarik bila kau butuh teman!" ujar Fernando Guilermo mendorong punggung kawannya ke lautan manusia yang memadati lantai ballroom salah satu hotel bintang 5 di Los Angeles.Di antara kerumunan tamu undangan yang hadir, sosok cantik it