Share

Bab 120. Goyah

Author: Rich Mama
last update Huling Na-update: 2025-01-20 23:54:13
Hening menyelimuti ruangan. Detik-detik berlalu, namun pikiran Reval terus berputar-putar, mencoba menemukan jawaban yang sepertinya mustahil didapatkan.

Setelah beberapa menit berlalu, ia membuka matanya dan menghela napas panjang.

Tanpa berpikir lagi, Reval berdiri dan mulai membuka kancing kemejanya. Setiap gerakan terasa lambat, seperti tubuhnya menolak untuk bekerja sama dengan pikirannya yang lelah.

Ia melepaskan bajunya, menyisakan tubuh bagian atas yang telanjang, otot-ototnya yang kencang memamerkan jejak ketegangan.

Kamar mandi dipenuhi uap panas ketika Reval menyalakan shower. Air hangat mulai mengalir, menghantam lantai marmer dan menciptakan suara gemericik yang seolah menyanyikan lagu penghiburan.

Ia memejamkan mata, membiarkan air mengalir di atas kepalanya, membasahi rambut hitam pekatnya yang kini menempel ke kulit kepala.

Air hangat membelai wajahnya, turun ke leher dan dadanya, menghapus rasa lelah yang tertanam dalam otot-ototnya. Ia memutar bahu, membiarkan
Rich Mama

Goyah nggak tuh ....

| 4
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
virna putri
lanjooottt.. goyah goyah
Tignan lahat ng Komento

Kaugnay na kabanata

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 121. Jangan Tinggalkan Aku

    “Tentu saja.” Naura balas berbisik, matanya mencari-cari di dalam tatapan Reval. “Saya bebas melakukan apa yang saya mau, bukan?” “Tidak Naura!” jawab Reval tegas, tetapi tangan kanannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, seolah ia sedang bertarung dengan dorongan dalam dirinya sendiri. “Jangan bermain dengan api.” Naura melangkah lebih dekat, begitu dekat hingga napas mereka berdua saling beradu. “Mungkin saat ini, saya sedang suka bermain dengan api,” gumam Naura, hampir tak terdengar. Matanya menyala dengan keberanian yang bercampur dengan luka batin yang selama ini ia pendam. “Karena api itulah yang membuat saya merasa hidup.” Reval mengangkat tangannya, jemarinya berhenti tepat di dekat pipi Naura, tetapi ia tidak menyentuhnya. Jemarinya bergetar, seperti seorang pria yang berada di tepi jurang. “Kamu ... kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan,” suaranya serak, penuh perasaan yang terpendam. “Lalu ...,” bisik Naura, tantangan itu terucap dengan bibir yang gemetar. Dala

    Huling Na-update : 2025-01-21
  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 122. Kamu Membuatku Gila

    Naura menggeleng pelan, matanya berkilat dengan air mata yang tertahan. “Saya di sini sekarang. Saya tidak akan pergi.” Tangan mereka bertautan, saling menggenggam erat seolah dunia bergantung pada sentuhan itu. Mereka tidak membutuhkan kata-kata, hanya perasaan yang mengalir bebas di antara mereka. Cahaya lampu temaram menorehkan bayangan panjang di lantai yang dingin. Aroma maskulin dari Reval menguar, menyelimuti udara dalam kehangatan yang kontras dengan detak jantung Naura yang berdetak liar di rongga dadanya. Tubuhnya terasa kecil dalam genggaman Reval, yang berdiri tegak di belakangnya dengan tatapan mata tajam seperti bara yang membakar punggung telanjangnya. Tangan besar Reval menyelip di bawah rahangnya, telapak hangat itu menopang dagu Naura dengan tekanan yang lembut namun penuh kendali. Ibu jarinya menyusuri garis pipinya perlahan, menciptakan jejak kehangatan yang membuat kulitnya meremang. Naura tersentak kecil, tetapi tidak bergerak menjauh. Matanya menatap pant

    Huling Na-update : 2025-01-21
  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 123. Detak Jantungku

    Naura mengangkat wajahnya perlahan. Jarak antara mereka terasa begitu tipis, hanya sehembusan napas yang memisahkan. Bibirnya sedikit bergetar, tetapi ia memutuskan untuk tidak menahan diri. Dalam satu gerakan lembut, ia mencondongkan tubuh dan mengecup pipi Reval, sentuhan yang begitu ringan tetapi cukup untuk membuat dunia di sekeliling mereka seolah berhenti berputar. Ia tak berkata apa-apa. Tidak membantah ataupun mengiyakan ucapan Reval. Reval tertegun sesaat. Matanya membelalak tipis sebelum akhirnya sebuah senyuman melengkung di bibirnya, senyuman yang menggoda, hangat, tetapi penuh makna tersembunyi. Tangannya yang kokoh terangkat, melingkari pinggang Naura dan menarik tubuhnya kembali ke dalam pelukannya. Naura terhimpit oleh dekapan yang kuat namun lembut itu. Hatinya bergetar hebat, tetapi tidak ada ketakutan, hanya rasa nyaman yang menyelinap hingga ke sudut jiwanya. Inilah pertama kali dalam hidupnya ia merasa benar-benar dihargai. Tidak ada tuntutan, tidak ada

    Huling Na-update : 2025-01-21
  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 124. Tidak Pernah Padam

    Hujan deras mengguyur dengan suara gemuruh di luar jendela. Rintikannya menari di atas kaca, menciptakan irama yang anehnya selaras dengan denyut jantung Naura yang berpacu liar. Udara terasa sejuk, tetapi tubuhnya memanas. Matanya tidak bisa lepas dari sosok Reval yang masih berada di hadapannya, dadanya yang telanjang naik-turun mengikuti irama napas yang berat. Setiap otot di tubuhnya menegang, terlihat begitu kuat dalam cahaya temaram. Perlahan, Naura mencoba mengalihkan pandangannya, tetapi Reval menangkap pergelangan tangannya dengan lembut. Jemarinya hangat, kontras dengan dinginnya udara di sekitar mereka. Ia tidak bicara. Tatapannya berbicara lebih banyak daripada yang bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ada sesuatu yang gelap dan dalam di matanya, sesuatu yang membuat Naura merasa terjebak dalam pusaran tanpa jalan keluar. “Tetap di sini,” gumam Reval, suaranya serak dan penuh desakan yang tak bisa diabaikan. Reval mendekat, satu tangannya menyentuh pinggang Naura,

    Huling Na-update : 2025-01-22
  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 125. Pelan-pelan

    Naura tertidur hingga menjelang siang. Reval sudah tidak ada di sampingnya. Wanita itu beranjak dari ranjang dan langsung pergi ke dapur. Dapur yang sunyi hanya diisi oleh suara gemericik air dari wastafel. Naura berdiri di depan meja dapur, tangannya menggenggam gelas berisi air dingin, tetapi pikirannya melayang. Matanya menatap kosong ke depan, penuh dengan keraguan dan rasa bersalah yang tak bisa ia ungkapkan. Tiba-tiba, Reval mendekat dari belakang, tanpa suara. Tangan hangatnya melingkari bahu Naura, menariknya ke dalam pelukan lembut. “Apa yang kamu pikirkan?” tanyanya pelan, suaranya penuh perhatian. Naura terdiam, merasakan beratnya kepala Reval yang bersandar di pundaknya. Keberadaan Reval selalu seperti ini. Mengejutkan tetapi juga menenangkan. Meski ia tak selalu tahu apa yang sebenarnya ia butuhkan. “Tidak apa-apa,” jawab Naura akhirnya, meski ia tahu jawabannya tidak meyakinkan. “Bapak kenapa masih di sini? Saya pikir sudah ke kantor.” Reval menghela napas, lalu

    Huling Na-update : 2025-01-22
  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 126. Menemui Mama

    Setelah selesai membersihkan rambut Naura, Reval menyalakan keran air panas, membiarkan alirannya memenuhi bak mandi perlahan. Air mulai mengepul, menghasilkan awan kecil yang mengapung di atas permukaan. Ia meraih botol sabun cair beraroma mawar dan menuangkannya ke dalam air, menciptakan buih-buih lembut yang segera menari-nari, memenuhi ruangan dengan aroma manis yang menenangkan. Naura berdiri di sisi bak mandi, memperhatikan setiap gerakan Reval dengan pandangan yang penuh kekaguman. Ada sesuatu yang begitu memikat dalam caranya menyiapkan semuanya. Reval melepaskan seluruh pakaian Naura. Hingga tak tertinggal sehelai benangpun di tubuhnya. “Masuklah,” suara Reval memecah keheningan, suaranya rendah namun penuh ketulusan. Naura mengangguk perlahan, menyingkirkan rasa gugup yang entah mengapa kini menyelimuti hatinya. Dengan hati-hati, ia melangkah ke dalam bak mandi yang sudah penuh dengan air hangat dan buih. Kulitnya segera merasakan sentuhan lembut air, menghapus sega

    Huling Na-update : 2025-01-23
  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 127. Berpikir Macam-macam

    Naura terdiam. “Kenapa? Kalau kamu belum siap, aku tidak akan memaksamu.” “Bukan begitu, Pak Reval. Tapi ... saya ini masih istri sah Mas Dion,” ucap Naura akhirnya, suara lirihnya terdengar seperti desau angin yang hampir hilang. Matanya menunduk, menatap lantai seperti berharap jawaban atas kebimbangannya ada di sana. Reval tidak langsung menjawab. Wajah pria itu tetap tenang, tetapi ada ketegasan yang tersembunyi di balik sorot matanya. Ia menarik napas dalam, lalu duduk di samping Naura, meraih tangannya dengan lembut namun mantap. “Naura,” panggilnya, membuat wanita itu mendongak pelan. “Aku tidak memintamu untuk melupakan segalanya dalam semalam. Aku tahu posisimu rumit, dan aku tahu kamu membutuhkan waktu untuk berdamai dengan semuanya. Tapi aku juga ingin kamu tahu, kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.” “Tapi, Pak Reval, saya merasa bersalah,” kata Naura dengan suara bergetar. “Ini semua salah. Saya ... saya masih belum berani melangkah sejauh itu.” Reval t

    Huling Na-update : 2025-01-23
  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 128. Terus Menggoda

    Reval mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri. “Duduklah dulu. Makanannya akan segera datang.” Naura mengangguk canggung dan duduk di meja makan. Reval masih terlihat sibuk, tapi sesekali mencuri pandang ke arahnya. Setiap kali tatapan mereka bertemu, Naura merasa seperti perutnya dipenuhi kupu-kupu. Tak lama kemudian, makanan yang dipesan akhirnya tiba. Reval mengatur piring dan mangkuk di meja, menciptakan suasana makan siang yang sederhana namun terasa hangat. Ia duduk di hadapan Naura, senyumnya masih tak hilang sejak tadi. “Makanlah,” kata Reval sambil menyodorkan semangkuk sup hangat ke arah Naura. Naura mengambil sendok dan mulai menyuap sup itu. Kehangatan sup terasa menenangkan, tetapi lebih dari itu, ia merasa nyaman dengan keberadaan Reval di hadapannya. “Terima kasih, Pak Reval,” ucapnya pelan. “Untuk apa?” tanya Reval sambil menatapnya, penasaran. “Untuk ... semuanya,” jawab Naura. “Bapak selalu ada untuk saya, bahkan di saat saya sendiri tidak tahu apa yang sa

    Huling Na-update : 2025-01-24

Pinakabagong kabanata

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 199. Gelap

    Naura duduk di sudut ruangan, kepalanya bersandar pada dinding kayu yang mulai lapuk. Tangannya masih terikat, tapi ia tak mau menyerah begitu saja.Pikirannya terus berputar mencari celah. Ia harus keluar dari sini sebelum Dion benar-benar menghancurkan segalanya.Dari luar, terdengar suara langkah kaki mendekat. Pintu terbuka, dan pria bertopeng yang tadi datang kembali, kali ini tanpa nampan makanan.“Hari ini kau akan dipindahkan,” katanya singkat.Naura menelan ludah. Dipindahkan? Ke mana?Pria itu berjalan mendekat, menarik tali yang mengikat tangannya, lalu menyeretnya berdiri.“Ayo.”Naura tahu ia tak bisa melawan dalam kondisi seperti ini. Tapi, jika dia dipindahkan ke tempat yang lebih jauh, peluangnya untuk selamat akan semakin kecil.‘Tuhan, bantu aku…’Saat mereka melewati lorong sempit yang gelap, Naura memperhatikan sekelilingnya. Matanya menangkap sebilah pisau kecil tergeletak di atas meja kayu di sudut ruangan.Tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkan tubuhnya dengan s

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 198. Istri dan Hartaku

    “Paman Riko?” Reval merasakan amarah membakar seluruh tubuhnya. Ia mengepalkan tangan, nyaris melayangkan pukulan ke wajah Dion, tetapi pria itu dengan santai menjauh, mengangkat ponselnya lebih tinggi. “Tenang, Reval. Kalau kau menyentuhku, aku bisa saja menyuruh Riko melakukan sesuatu yang lebih buruk pada Naura,” katanya dengan seringai puas. Reval mengertakkan giginya. “Apa yang kau inginkan?” Dion menoleh ke Callista dan tertawa kecil. “Gampang. Akui bahwa anak dalam kandungan Callista adalah milikmu, nikahi dia, dan aku akan melepaskan Naura,” katanya santai. Reval mencibir. “Mimpi.” Callista mendekat dengan tatapan penuh kemenangan. “Reval, kau tahu kau tidak punya pilihan, kan?” ujarnya manja, tangannya berusaha menyentuh dada Reval. Reval menepisnya kasar. “Kalian pikir aku bisa percaya pada kalian? Bahkan jika aku menuruti permintaan kalian, tidak ada jaminan Naura akan selamat.” Dion terkekeh. “Tentu saja ada jaminannya. Tapi kalau kau membangkang…” Ia memutar vide

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 197. Terdengar Jelas

    “Sebenarnya ... ini bukan hal yang penting.”Naura tidak tahu harus menjawab apa.“Naura, ada apa? Apapun itu, aku akan mendengarkannya.”Naura menatap Reval, lalu mengambil secarik kertas. “Surat cerai saya sudah resmi. Saya dan Mas Dion … bukan suami-istri lagi.”Reval menatap surat itu. Rasanya seperti beban besar terangkat dari dadanya. Ia merasa lega dan informasi itu adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu olehnya. Bagaimana mungkin Naura mengatakan bahwa itu tidak penting?Namun, ekspresi Naura masih terlihat berat dan seolah sedang dilanda gelisah yang mendalam.“Ada apa lagi?” tanya Reval lembut.Naura menggigit bibirnya. “Saya mendengar sesuatu dari Bu Lastri belakangan ini.”Reval mengernyit. “Apa?”Naura menghela napas, lalu menatap Reval dalam-dalam. “Callista. Sebenarnya dia tidak benar-benar tinggal di rumah Mas Dion. Waktu itu dia hanya kebetulan ada di sana saat saya mengajukan cerai dan dia sengaja memanas-manasi saya.”Reval menegang.“Dan satu lagi.” Naura mene

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 196. Aku di sini untukmu

    Reval berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang membuatnya merasa tidak tenang. Firasat buruk terus menghantui pikirannya. Ponselnya di saku bergetar. Dengan malas, ia meraihnya dan melihat nama yang tertera di layar. Dahi Reval mengernyit. Setelah beberapa detik ragu, ia akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan. Di sana ia melihat Callista duduk di atas ranjang dengan wajah pucat. Mata wanita itu tampak merah seolah habis menangis. Reval menutup pintu dan berjalan mendekat. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu yang ada di sini?” Callista menundukkan kepalanya, menggenggam ujung selimut dengan erat. “Aku … aku hamil, Reval.” Jantung Reval seperti berhenti berdetak sejenak. Ia menatap Callista dengan tatapan tajam. “Apa hubungannya denganku? Lalu di mana Naura? Aku ingin bertemu dengannya.” “Tentu saja ada hubungannya denganmu, Reval.” Callista mengangkat kepalanya, menatapnya dengan mata penuh harap. “Ini adalah anakmu.” Reval m

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 195. Rumah Sakit?

    Ruang tamu dipenuhi keheningan yang menegangkan. Adelia duduk di sofa dengan tatapan dingin, sementara Reval berdiri di depannya, menatapnya dengan penuh ketegasan. “Apa kamu bilang?” suara Adelia meninggi, ekspresi wajahnya menunjukkan ketidaksenangan. Reval menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya. “Aku ingin mama meminta maaf kepada Naura.” Adelia tertawa kecil, namun tidak ada kehangatan dalam tawanya. “Kenapa tiba-tiba kamu meminta hal itu, Reval? Mama tidak merasa punya urusan dengan perempuan itu.” Reval mengepalkan tangan, berusaha tetap tenang. “Karena mama telah menyakitinya.” Adelia menyipitkan mata. “Jangan membesar-besarkan masalah, Reval. Lagipula, perempuan itu bukan siapa-siapa bagi mama.” Reval mendekat, menatap ibunya dengan tajam. “Bukan siapa-siapa? Dia adalah wanita yang sedang mengandung anakku, Ma!” Adelia terdiam sesaat. Matanya membulat, tapi ia segera menyembunyikan keterkejutannya dengan tawa sinis. “Jadi, itu alasan kamu membelanya mati-matian

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 194. Sentuhan Dion

    PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dion, meninggalkan jejak kemerahan yang jelas. Kepala pria itu sedikit tergeleng, namun bukan karena sakitnya tamparan itu, melainkan karena keterkejutannya. Callista berdiri di hadapannya dengan mata membelalak, napasnya memburu penuh amarah. “Ini semua gara-gara kamu, Dion!” suara Callista menggema di seluruh ruangan. Dion mengusap pipinya yang perih, ekspresinya berubah dingin. “Kenapa kamu menamparku, Callista? Kita melakukannya atas dasar suka sama suka.” Callista mendengkus kasar. Ia memeluk tubuhnya sendiri, seakan merasa jijik dengan situasi yang sedang terjadi. “Sial! Aku hanya ingin bersenang-senang, bukan mendapatkan ini!” Suaranya bergetar, dan matanya menatap Dion dengan kebencian. Dion menyipitkan mata. “Maksudmu?” “Aku hamil, Dion! Aku mengandung anak sialan ini gara-gara kamu!” Callista berteriak frustrasi, tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dion terdiam sejenak. Pikirannya berputar cepat, menc

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 193. Menutup Lembaran Lama

    Beberapa minggu telah berlalu. Naura berdiri di depan pintu rumah yang dulu ia tinggali sebagai istri Dion. Pintu rumah itu masih sama seperti terakhir kali Naura melihatnya. Cat cokelat tua yang mulai memudar, gagang pintu berwarna perak yang kini tampak lebih kusam. Namun, bagi Naura, rumah ini sudah kehilangan maknanya sejak lama. Tangannya menggenggam erat amplop cokelat berisi surat cerai. Dalam hati, ia menguatkan dirinya. Ia harus menyelesaikan semuanya. Tidak ada lagi alasan untuk bertahan di dalam pernikahan yang telah hancur sejak lama. Dengan napas panjang, Naura mengetuk pintu. Dadanya berdebar, bukan karena ragu, tetapi karena ia ingin semua ini segera berakhir. Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki terdengar dari dalam, lalu pintu terbuka. “Naura!” Suara itu begitu akrab. Hangat. Seakan tidak ada luka yang pernah mengisi kehidupan mereka. Bu Lastri berdiri di ambang pintu dengan mata berbinar, seolah-olah kehadiran Naura adalah sesuatu yang ia rindukan sejak la

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 192. Jadi Milikmu

    Reval menghela napas, lalu menangkup wajah Naura dengan kedua tangannya. “Aku mencintaimu, Naura,” ucapnya serius. “Aku tidak akan menikahimu hanya karena tanggung jawab. Aku ingin bersamamu karena aku memang menginginkannya. Lebih dari apapun.” Naura menatap mata Reval, mencari kepastian di sana. Dan ia menemukannya. Kejujuran. Ketulusan. Tapi tetap saja... “Tidak semudah itu, Pak Reval,” bisiknya. “Ada banyak hal yang harus saya pikirkan.” Reval melepaskan tangannya dari wajah Naura, kemudian menghela napas panjang. “Lalu berapa lama lagi kamu mau berpikir?” tanya Reval dengan nada frustrasi. Naura menunduk, mengusap perutnya yang masih datar. “Apa kamu takut?” tanya Reval lagi. Naura mengangkat wajahnya, menatap Reval dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Ya,” jawabnya jujur. Reval terdiam. Naura menghela napas berat, suaranya lirih ketika berkata, “Saya takut mengambil keputusan yang salah. Takut jika perasaan ini hanya sesaat. Takut jika nanti saya justru menyakiti B

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 191. Bertanggung Jawab

    Naura mengangguk cepat. Reval mendesah, lalu melambai pada pelayan. “Pesan satu es krim cokelat.” “Tunggu, Pak Reval! Saya maunya yang stroberi.” Reval terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Oke, stroberi.” Tak butuh waktu lama, es krim datang. Naura langsung menyendoknya dengan bahagia, tapi tiba-tiba ia mengernyit. Reval memperhatikan ekspresinya dengan waspada. “Kenapa lagi?” Naura menggigit bibirnya. “Sepertinya saya ingin yang cokelat.” Reval menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya tertawa lepas. Naura menatapnya kesal. “Bapak kenapa tertawa?” “Kamu mulai bertingkah seperti ibu hamil pada umumnya.” Naura mendelik. “Saya memang hamil, kan?” Reval mengangkat bahu dengan senyum lebar. “Ya, tapi sekarang kamu benar-benar kelihatan seperti bumil yang sering ngidam aneh-aneh.” Naura mendengkus, tapi diam-diam pipinya merona. Reval memperhatikannya, lalu tanpa sadar mengulurkan tangan dan menyentuh jemari Naura di atas meja. “Apa?” tanya Naura bingung. Reval te

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status