Share

Bab 127. Berpikir Macam-macam

Penulis: Rich Mama
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-23 22:31:30
Naura terdiam.

“Kenapa? Kalau kamu belum siap, aku tidak akan memaksamu.”

“Bukan begitu, Pak Reval. Tapi ... saya ini masih istri sah Mas Dion,” ucap Naura akhirnya, suara lirihnya terdengar seperti desau angin yang hampir hilang.

Matanya menunduk, menatap lantai seperti berharap jawaban atas kebimbangannya ada di sana.

Reval tidak langsung menjawab. Wajah pria itu tetap tenang, tetapi ada ketegasan yang tersembunyi di balik sorot matanya.

Ia menarik napas dalam, lalu duduk di samping Naura, meraih tangannya dengan lembut namun mantap.

“Naura,” panggilnya, membuat wanita itu mendongak pelan. “Aku tidak memintamu untuk melupakan segalanya dalam semalam. Aku tahu posisimu rumit, dan aku tahu kamu membutuhkan waktu untuk berdamai dengan semuanya. Tapi aku juga ingin kamu tahu, kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”

“Tapi, Pak Reval, saya merasa bersalah,” kata Naura dengan suara bergetar. “Ini semua salah. Saya ... saya masih belum berani melangkah sejauh itu.”

Reval t
Rich Mama

Bentar ya, huru-haranya masih dipersiapkan (⁠◔⁠‿⁠◔⁠)

| 3
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Krisnahati
reval sempurna sekali ya, bener" lelaki impian yaa
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 128. Terus Menggoda

    Reval mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri. “Duduklah dulu. Makanannya akan segera datang.” Naura mengangguk canggung dan duduk di meja makan. Reval masih terlihat sibuk, tapi sesekali mencuri pandang ke arahnya. Setiap kali tatapan mereka bertemu, Naura merasa seperti perutnya dipenuhi kupu-kupu. Tak lama kemudian, makanan yang dipesan akhirnya tiba. Reval mengatur piring dan mangkuk di meja, menciptakan suasana makan siang yang sederhana namun terasa hangat. Ia duduk di hadapan Naura, senyumnya masih tak hilang sejak tadi. “Makanlah,” kata Reval sambil menyodorkan semangkuk sup hangat ke arah Naura. Naura mengambil sendok dan mulai menyuap sup itu. Kehangatan sup terasa menenangkan, tetapi lebih dari itu, ia merasa nyaman dengan keberadaan Reval di hadapannya. “Terima kasih, Pak Reval,” ucapnya pelan. “Untuk apa?” tanya Reval sambil menatapnya, penasaran. “Untuk ... semuanya,” jawab Naura. “Bapak selalu ada untuk saya, bahkan di saat saya sendiri tidak tahu apa yang sa

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 129. Ambil Alih

    “Pekerjaanku sekarang adalah memastikan kamu tidak terlalu lelah,” jawab Reval dengan nada serius tetapi matanya menyimpan canda. Naura menghela napas panjang, meski dalam hati ia tidak bisa menahan senyum. Akhirnya, ia berkata, “Kalau begitu, tolong ambilkan handuk untuk saya.” Reval tertawa kecil. “Baik, Nyonya. Aku akan menurut.” Saat Reval akhirnya melangkah menjauh untuk mengambil handuk, Naura menarik napas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia bisa sepenuhnya tenang, Reval kembali dengan handuk di tangannya dan senyum khasnya yang jahil. “Ini untukmu,” ujar Reval sambil mengulurkan handuk. Saat Naura mengambil handuk itu, Reval menatapnya dengan lembut. “Terima kasih sudah mencuci piring. Kamu benar-benar perempuan luar biasa, Naura.” Naura hanya tersenyum canggung. Merasa bahwa sikap Reval terlalu berlebihan kepadanya. Meski begitu, hatinya terasa menghangat. Saat semuanya selesai, Reval menoleh ke arah Naura. “Mau nonton film?” tanyanya. Naura mengangguk. “Tentu, kalau Ba

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 130. Peduli

    Di dapur yang hangat dengan aroma manis tepung dan mentega, Naura berdiri memegang sebuah mangkuk adonan, mengamati Reval yang sibuk menyiapkan loyang. Lengan kemeja Reval digulung sampai siku, memperlihatkan ototnya yang bergerak saat ia bekerja. Suasana begitu santai, tetapi di hati Naura, ada rasa gugup yang tak bisa ia abaikan. Apalagi mengingat nanti malam jika ia akan pergi makan malam untuk bertemu mama Reval. “Kita mulai dari mana?” tanya Naura, mencoba terdengar tenang meski ia merasa canggung berdiri begitu dekat dengan pria itu. Reval menoleh sambil tersenyum. “Kita? Aku pikir kamu hanya mau menonton.” Naura mendengkus kecil. “Kalau cuma menonton, saya tidak akan ada di sini.” “Baiklah,” jawab Reval dengan nada menggoda. “Kalau begitu, ayo bantu aku mengaduk adonan ini. Jangan terlalu pelan, tapi juga jangan terlalu cepat.” Naura mengambil spatula dan mulai mengaduk, mengikuti petunjuk Reval. Ia merasa tangannya sedikit gemetar saat Reval berdiri di belakangnya, mem

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-25
  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 131. Tersengat

    Naura tetap terdiam, menggenggam spatula di tangannya dengan canggung. Pertanyaan itu terus bergema dalam pikirannya, sementara ia mencoba mencari jawaban. Reval, di sisi lain, memperhatikan Naura dengan pandangan penuh perhatian. Ia tahu bahwa ia telah menyentuh sesuatu yang sensitif, tetapi ia tidak ingin memaksanya untuk berbicara lebih jauh. “Naura,” Reval memecah keheningan, suaranya lembut. “Kue ini belum selesai kalau kita tidak menghiasnya. Kamu mau membantu?” Naura mendongak perlahan, mencoba memulihkan dirinya dari emosi yang mulai menyeruak. “Hias?” tanyanya, mencoba terdengar biasa saja. Reval tersenyum kecil dan mengambil spatula lain. “Ya, kita bisa tambahkan topping di atasnya. Ayo, mari kita coba.” Dengan canggung, Naura mengambil wadah kecil berisi krim kocok. Ia memulai dengan hati-hati, mencoba membuat pola di atas kue, tetapi tangannya sedikit gemetar. Melihat itu, Reval kembali mendekat dan berdiri di sisinya. “Biarkan aku bantu,” katanya, meraih tangannya

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-25
  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 132. Masih Panas

    Reval hanya tersenyum kecil, tetapi matanya menunjukkan sesuatu yang sulit ditebak. Ia menerima loyang itu, memasukkannya ke dalam oven, lalu menutup pintunya dengan hati-hati. “Sekarang kita tinggal menunggu,” ujar Reval, mencoba memecah keheningan. Naura mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia melangkah mundur, bersandar pada meja dapur, mencoba mengatur napasnya yang masih belum normal. Reval berdiri tak jauh darinya, menyilangkan lengannya di dada sambil menatap oven. Tetapi dari sudut matanya, ia terus mengawasi Naura. Ada senyum tipis di wajahnya, senyum yang hanya dia tahu maknanya. “Kamu baik-baik saja?” tanya Reval akhirnya, memecah keheningan. Naura mengangguk cepat. “I-iya, saya baik,” jawabnya dengan nada yang terlalu tinggi, membuatnya terlihat semakin canggung. Reval menahan tawa, lalu mengangguk. “Bagus kalau begitu.” Mereka kembali diam, tetapi suasana di antara mereka terasa begitu kaku. Naura berusaha keras menghindari kontak mata dengan Reval, sementara pria itu

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-25
  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 133. Momen Spesial

    Reval mengangkat bahu. “Panas tidak masalah, asal kamu yang menyajikannya.” Kata-kata itu membuat tangan Naura sedikit gemetar, tetapi ia cepat-cepat menyembunyikannya dengan senyum tipis. Ia melanjutkan memotong kue hingga akhirnya mereka memiliki beberapa potong yang siap dinikmati. Reval membawa piring-piring itu ke meja makan, sementara Naura mengambil dua gelas dan teko berisi teh hangat dari meja dapur. Ketika semuanya sudah tersaji, mereka duduk berhadapan di meja kecil itu, memandangi kue yang tampak sempurna di bawah cahaya lampu dapur. Namun, sebelum mereka sempat mencicipinya, Naura mulai merasa tidak nyaman. Ia melirik ke tangannya yang masih penuh noda tepung, lalu ke pakaiannya yang juga tampak berantakan. Pandangannya beralih ke Reval, yang ternyata sama saja. Kemejanya penuh bercak tepung dan krim, rambutnya sedikit berantakan, dan ada noda kecil di pipinya yang entah kapan menempel di sana. “Kita ini seperti baru keluar dari perang di dapur,” komentar Naura akh

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-26
  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 134. Tidak Akan Pernah Melepaskanmu

    Langit jingga menyelimuti kota dengan gelap yang menenangkan, hanya sesekali dipotong oleh suara rintik hujan yang mengetuk lembut jendela kamar. Ruangan itu temaram, diterangi kilau hangat dari puluhan lilin yang memantulkan cahaya gemulai ke dinding dan lantai. Harum bunga mawar dan kayu manis menguar memenuhi udara, menyatu dengan lembut aroma lavender yang mengapung di air hangat. Naura meresapi kehangatan air yang melingkupi tubuhnya. Kulitnya yang lembut berkilauan terkena percikan air. Petal-petal mawar merah terapung di sekeliling, seperti jejak rasa yang bergumul di hatinya. Begitu indah, tetapi tajam dengan tepi yang mengingatkan akan perasaan yang pernah tertusuk. Dia mengangkat wajahnya, menatap Reval di hadapannya. Dia tak berkata apa-apa, hanya diam, membiarkan pandangan mereka berbicara dalam diam yang dipenuhi detak waktu. Matanya seperti danau hitam yang tenang, dalam, dan tak terduga. Sekilas, jemarinya bergerak, menyentuh permukaan air, menciptakan riak keci

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-26
  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 135. Puncak Kenikmatan

    Detik berlalu, keheningan menjadi teman mereka, dan Naura membiarkan dirinya tenggelam dalam hangat dan rasa yang memeluk jiwanya. Pelukan itu bukan hanya pelukan. Itu adalah pengakuan. Sebuah janji yang terpatri dalam keabadian. “Dan saya akan tetap di sini,” jawab Naura akhirnya, suaranya rendah namun kuat. “Sampai Bapak siap percaya bahwa kita pantas untuk bahagia bersama.” Naura menatap Reval dengan intensitas yang tak terlukiskan, dadanya berdegup keras hingga ia merasa jantungnya akan melompat keluar. Air yang meresapi kulitnya seperti kehilangan makna, karena satu-satunya panas yang ia rasakan kini datang dari pria di hadapannya. Tanpa berpikir panjang, ia memindahkan kedua tangannya ke dada Reval, merasakan denyut hidup yang kuat di bawah telapak tangannya. Air memercik ketika tubuhnya bergerak, suara gemericik halus memenuhi ruangan. Ia perlahan naik, lututnya menyentuh dasar bak di antara kaki Reval. Napasnya memburu, dada naik-turun dengan irama yang sama dengan d

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-26

Bab terbaru

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 199. Gelap

    Naura duduk di sudut ruangan, kepalanya bersandar pada dinding kayu yang mulai lapuk. Tangannya masih terikat, tapi ia tak mau menyerah begitu saja.Pikirannya terus berputar mencari celah. Ia harus keluar dari sini sebelum Dion benar-benar menghancurkan segalanya.Dari luar, terdengar suara langkah kaki mendekat. Pintu terbuka, dan pria bertopeng yang tadi datang kembali, kali ini tanpa nampan makanan.“Hari ini kau akan dipindahkan,” katanya singkat.Naura menelan ludah. Dipindahkan? Ke mana?Pria itu berjalan mendekat, menarik tali yang mengikat tangannya, lalu menyeretnya berdiri.“Ayo.”Naura tahu ia tak bisa melawan dalam kondisi seperti ini. Tapi, jika dia dipindahkan ke tempat yang lebih jauh, peluangnya untuk selamat akan semakin kecil.‘Tuhan, bantu aku…’Saat mereka melewati lorong sempit yang gelap, Naura memperhatikan sekelilingnya. Matanya menangkap sebilah pisau kecil tergeletak di atas meja kayu di sudut ruangan.Tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkan tubuhnya dengan s

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 198. Istri dan Hartaku

    “Paman Riko?” Reval merasakan amarah membakar seluruh tubuhnya. Ia mengepalkan tangan, nyaris melayangkan pukulan ke wajah Dion, tetapi pria itu dengan santai menjauh, mengangkat ponselnya lebih tinggi. “Tenang, Reval. Kalau kau menyentuhku, aku bisa saja menyuruh Riko melakukan sesuatu yang lebih buruk pada Naura,” katanya dengan seringai puas. Reval mengertakkan giginya. “Apa yang kau inginkan?” Dion menoleh ke Callista dan tertawa kecil. “Gampang. Akui bahwa anak dalam kandungan Callista adalah milikmu, nikahi dia, dan aku akan melepaskan Naura,” katanya santai. Reval mencibir. “Mimpi.” Callista mendekat dengan tatapan penuh kemenangan. “Reval, kau tahu kau tidak punya pilihan, kan?” ujarnya manja, tangannya berusaha menyentuh dada Reval. Reval menepisnya kasar. “Kalian pikir aku bisa percaya pada kalian? Bahkan jika aku menuruti permintaan kalian, tidak ada jaminan Naura akan selamat.” Dion terkekeh. “Tentu saja ada jaminannya. Tapi kalau kau membangkang…” Ia memutar vide

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 197. Terdengar Jelas

    “Sebenarnya ... ini bukan hal yang penting.”Naura tidak tahu harus menjawab apa.“Naura, ada apa? Apapun itu, aku akan mendengarkannya.”Naura menatap Reval, lalu mengambil secarik kertas. “Surat cerai saya sudah resmi. Saya dan Mas Dion … bukan suami-istri lagi.”Reval menatap surat itu. Rasanya seperti beban besar terangkat dari dadanya. Ia merasa lega dan informasi itu adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu olehnya. Bagaimana mungkin Naura mengatakan bahwa itu tidak penting?Namun, ekspresi Naura masih terlihat berat dan seolah sedang dilanda gelisah yang mendalam.“Ada apa lagi?” tanya Reval lembut.Naura menggigit bibirnya. “Saya mendengar sesuatu dari Bu Lastri belakangan ini.”Reval mengernyit. “Apa?”Naura menghela napas, lalu menatap Reval dalam-dalam. “Callista. Sebenarnya dia tidak benar-benar tinggal di rumah Mas Dion. Waktu itu dia hanya kebetulan ada di sana saat saya mengajukan cerai dan dia sengaja memanas-manasi saya.”Reval menegang.“Dan satu lagi.” Naura mene

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 196. Aku di sini untukmu

    Reval berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang membuatnya merasa tidak tenang. Firasat buruk terus menghantui pikirannya. Ponselnya di saku bergetar. Dengan malas, ia meraihnya dan melihat nama yang tertera di layar. Dahi Reval mengernyit. Setelah beberapa detik ragu, ia akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan. Di sana ia melihat Callista duduk di atas ranjang dengan wajah pucat. Mata wanita itu tampak merah seolah habis menangis. Reval menutup pintu dan berjalan mendekat. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu yang ada di sini?” Callista menundukkan kepalanya, menggenggam ujung selimut dengan erat. “Aku … aku hamil, Reval.” Jantung Reval seperti berhenti berdetak sejenak. Ia menatap Callista dengan tatapan tajam. “Apa hubungannya denganku? Lalu di mana Naura? Aku ingin bertemu dengannya.” “Tentu saja ada hubungannya denganmu, Reval.” Callista mengangkat kepalanya, menatapnya dengan mata penuh harap. “Ini adalah anakmu.” Reval m

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 195. Rumah Sakit?

    Ruang tamu dipenuhi keheningan yang menegangkan. Adelia duduk di sofa dengan tatapan dingin, sementara Reval berdiri di depannya, menatapnya dengan penuh ketegasan. “Apa kamu bilang?” suara Adelia meninggi, ekspresi wajahnya menunjukkan ketidaksenangan. Reval menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya. “Aku ingin mama meminta maaf kepada Naura.” Adelia tertawa kecil, namun tidak ada kehangatan dalam tawanya. “Kenapa tiba-tiba kamu meminta hal itu, Reval? Mama tidak merasa punya urusan dengan perempuan itu.” Reval mengepalkan tangan, berusaha tetap tenang. “Karena mama telah menyakitinya.” Adelia menyipitkan mata. “Jangan membesar-besarkan masalah, Reval. Lagipula, perempuan itu bukan siapa-siapa bagi mama.” Reval mendekat, menatap ibunya dengan tajam. “Bukan siapa-siapa? Dia adalah wanita yang sedang mengandung anakku, Ma!” Adelia terdiam sesaat. Matanya membulat, tapi ia segera menyembunyikan keterkejutannya dengan tawa sinis. “Jadi, itu alasan kamu membelanya mati-matian

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 194. Sentuhan Dion

    PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dion, meninggalkan jejak kemerahan yang jelas. Kepala pria itu sedikit tergeleng, namun bukan karena sakitnya tamparan itu, melainkan karena keterkejutannya. Callista berdiri di hadapannya dengan mata membelalak, napasnya memburu penuh amarah. “Ini semua gara-gara kamu, Dion!” suara Callista menggema di seluruh ruangan. Dion mengusap pipinya yang perih, ekspresinya berubah dingin. “Kenapa kamu menamparku, Callista? Kita melakukannya atas dasar suka sama suka.” Callista mendengkus kasar. Ia memeluk tubuhnya sendiri, seakan merasa jijik dengan situasi yang sedang terjadi. “Sial! Aku hanya ingin bersenang-senang, bukan mendapatkan ini!” Suaranya bergetar, dan matanya menatap Dion dengan kebencian. Dion menyipitkan mata. “Maksudmu?” “Aku hamil, Dion! Aku mengandung anak sialan ini gara-gara kamu!” Callista berteriak frustrasi, tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dion terdiam sejenak. Pikirannya berputar cepat, menc

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 193. Menutup Lembaran Lama

    Beberapa minggu telah berlalu. Naura berdiri di depan pintu rumah yang dulu ia tinggali sebagai istri Dion. Pintu rumah itu masih sama seperti terakhir kali Naura melihatnya. Cat cokelat tua yang mulai memudar, gagang pintu berwarna perak yang kini tampak lebih kusam. Namun, bagi Naura, rumah ini sudah kehilangan maknanya sejak lama. Tangannya menggenggam erat amplop cokelat berisi surat cerai. Dalam hati, ia menguatkan dirinya. Ia harus menyelesaikan semuanya. Tidak ada lagi alasan untuk bertahan di dalam pernikahan yang telah hancur sejak lama. Dengan napas panjang, Naura mengetuk pintu. Dadanya berdebar, bukan karena ragu, tetapi karena ia ingin semua ini segera berakhir. Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki terdengar dari dalam, lalu pintu terbuka. “Naura!” Suara itu begitu akrab. Hangat. Seakan tidak ada luka yang pernah mengisi kehidupan mereka. Bu Lastri berdiri di ambang pintu dengan mata berbinar, seolah-olah kehadiran Naura adalah sesuatu yang ia rindukan sejak la

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 192. Jadi Milikmu

    Reval menghela napas, lalu menangkup wajah Naura dengan kedua tangannya. “Aku mencintaimu, Naura,” ucapnya serius. “Aku tidak akan menikahimu hanya karena tanggung jawab. Aku ingin bersamamu karena aku memang menginginkannya. Lebih dari apapun.” Naura menatap mata Reval, mencari kepastian di sana. Dan ia menemukannya. Kejujuran. Ketulusan. Tapi tetap saja... “Tidak semudah itu, Pak Reval,” bisiknya. “Ada banyak hal yang harus saya pikirkan.” Reval melepaskan tangannya dari wajah Naura, kemudian menghela napas panjang. “Lalu berapa lama lagi kamu mau berpikir?” tanya Reval dengan nada frustrasi. Naura menunduk, mengusap perutnya yang masih datar. “Apa kamu takut?” tanya Reval lagi. Naura mengangkat wajahnya, menatap Reval dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Ya,” jawabnya jujur. Reval terdiam. Naura menghela napas berat, suaranya lirih ketika berkata, “Saya takut mengambil keputusan yang salah. Takut jika perasaan ini hanya sesaat. Takut jika nanti saya justru menyakiti B

  • Gairah Terlarang: Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir   Bab 191. Bertanggung Jawab

    Naura mengangguk cepat. Reval mendesah, lalu melambai pada pelayan. “Pesan satu es krim cokelat.” “Tunggu, Pak Reval! Saya maunya yang stroberi.” Reval terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Oke, stroberi.” Tak butuh waktu lama, es krim datang. Naura langsung menyendoknya dengan bahagia, tapi tiba-tiba ia mengernyit. Reval memperhatikan ekspresinya dengan waspada. “Kenapa lagi?” Naura menggigit bibirnya. “Sepertinya saya ingin yang cokelat.” Reval menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya tertawa lepas. Naura menatapnya kesal. “Bapak kenapa tertawa?” “Kamu mulai bertingkah seperti ibu hamil pada umumnya.” Naura mendelik. “Saya memang hamil, kan?” Reval mengangkat bahu dengan senyum lebar. “Ya, tapi sekarang kamu benar-benar kelihatan seperti bumil yang sering ngidam aneh-aneh.” Naura mendengkus, tapi diam-diam pipinya merona. Reval memperhatikannya, lalu tanpa sadar mengulurkan tangan dan menyentuh jemari Naura di atas meja. “Apa?” tanya Naura bingung. Reval te

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status