Van mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja dengan gusar. Matanya terus tertuju pada pintu yang tertutup, menunggu sang kepala pelayan untuk menampakkan diri.Malam ini, ia berniat untuk menunjukkan dirinya pada Helena.Setelah berjam-jam memikirkan hal itu, ia pikir inilah waktu yang tepat. Van tidak bisa terus bersembunyi dari wanita itu dan menunggu sampai ia menemukan putrinya.Van sangat ingin tahu bagaimana reaksi Helena ketika melihatnya. Wanita itu jelas akan syok berat, tetapi lebih dari itu, ia penasaran apakah Helena masih melihatnya sebagai pria yang sama.Pria yang dia cintai selama bertahun-tahun, sampai ia terpaksa pergi karena membutuhkan uang. Van menyesali sikapnya waktu itu, namun tidak ada yang bisa ia lakukan untuk memperbaikinya.Masa lalu hanya masa lalu. Meskipun faktanya, masa lalu lah yang menentukan masa depan seseorang.Van menarik napas panjang, tetapi rasa gelisah di hatinya hanya semakin bertambah. Jantungnya berdentum keras, keringat dingin mulai membasahi t
Damian berjalan cepat menuju pintu markas. Penjaga menyapanya seperti biasa dan ia mengangguk singkat sebagai jawaban.“Selamat pagi, Tuan Damian!”“Selamat pagi,” balas Damian, melambai ringan pada beberapa anggota yang bergantian menyapanya.Ia langsung berjalan menuju ruang penyimpanan senjata, dan mengeluarkan beberapa pistol rakitan ayahnya. Damian ingin mengganti pistolnya yang sempat lecet saat menghadapi kekacauan di Rainelle.Ada banyak hal yang perlu diurus hari ini.Massimo memberitahu bahwa Ymar tidak bisa ditemukan di mana pun. Dia sengaja disembunyikan di suatu tempat. Massimo bahkan pergi ke tempat tinju liar di Rainelle setiap malam, tetapi mereka (Ymar dan Lester) tidak pernah menampakkan diri lagi. Mereka bermain dengan rapi.Andrius juga memberi kabar tentang Axel yang menolak untuk bicara sampai akhir. Dia akan dieksekusi hari ini, sebab tidak ada gunanya lagi untuk mempertahankannya.Terakhir adalah pembahasan tentang organisasi Paman Velvet yang telah tumbang. Si
“Butik sengaja dikosongkan hari ini, jadi kita bisa melihat koleksi terbaru dengan lebih leluasa, Sayang.”Bella tersenyum dan mengamit lengan ibu mertuanya. Ia diajak untuk berkunjung ke butik hari ini, mengingat Damian harus pergi ke markasnya di Alderson. Dia baru akan kembali menjelang makan malam.Bella sejujurnya tak lagi merasa takut, tetapi ia tetap mengawasi sekitar dengan waspada. Pistol mininya berada dalam tas selempangnya. Damian memberitahunya untuk tetap membawanya, sekalipun ia hanya pergi ke butik bersama ibunya.“Apa kau memakai gaun tidur yang Ibu berikan?”Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Bella lengah. Ia langsung tersipu mengingat kejadian semalam. ”Iya, Ibu,” jawabnya dengan suara pelan.Mirabesy tersenyum tipis. Tak perlu bertanya lebih jauh, hanya melihat rona merah di wajah gadis itu, ia sudah bisa menebak apa yang terjadi. “Ibu harap kau menyukainya,” ucapnya, lantas menarik Bella untuk memasuki butik. Beberapa karyawan menyambut mereka dengan hormat.“Aku m
Damian:[Apa kau masih di sana, Sayangku?][Aku menunggumu di sini.][Aku merindukanmu.]Wajah Bella berseri-seri ketika melihat tiga pesan berturut-turut yang dikirim oleh Damian. Meskipun masih sore, dia rupanya pulang lebih awal dan kini menunggunya di mansion.Bella melirik ibu mertuanya yang masih berbicara dengan karyawan, dan buru-buru mengetik pesan balasan.Bella:[Kami akan pulang sebentar lagi.][Dan aku juga sangat merindukanmu.]Bella menekan tombol ‘send’ dan menyimpan ponselnya ke dalam tas selempang. Ia sudah cukup mahir dalam mengoperasikan ponsel, terutama saat mengetik pesan.Ibu mertuanya akhirnya menutup pembicaraan dan melambai pelan. “Maaf agak lama, Nak. Ibu harus memberi pengarahan sebelum datang mengecek sebulan lagi,” jelasnya.Bella mengangguk mengerti. Ibu mertuanya tersenyum dan menarik tangannya menuju supir yang telah menunggu. Beberapa tas kertas berisi gaun memenuhi tangan kanannya, itu adalah gaun yang akan ia pakai sebagai pasangan Damian di pesta b
Damian terbangun mendengar suara berisik dari halaman belakang. Ia meraba sisi ranjang yang dingin dan membuka mata. Bella sudah lama bangun, pikirnya. Hari telah cerah di luar, sinar matahari menelusup ke dalam kamar. Cabang-cabang pinus yang bergoyang tertiup angin terdengar bersama kicauan burung. Damian melirik jam, hampir pukul sembilan pagi. “Astaga,” gumamnya, beranjak bangun dari kasur. Ia tidur terlalu lama dan kepalanya sakit karena minum alkohol sebotol penuh semalam. Ia bergegas ke kamar mandi, sekadar mencuci muka dan berganti baju. Damian mengambil obat dan langsung pergi ke aula utama. Dari balik jendela kaca, ia bisa melihat Bella yang tengah berbicara dengan Erina dan Verona. Rupanya, suara berisik itu berasal dari mereka. Damian tersenyum, senang gadis itu bisa menikmati waktunya bersama teman-temannya. Damian sendiri memiliki diskusi dengan ayahnya, jadi ia tidak akan mengganggu Bella. Pesta Evren katanya akan diselenggarakan dalam dua minggu. Ada beberap
“Apa kau pernah membayangkan hidup di luar sana tanpa terjerat dengan bisnis ilegal?”Damian yang sedang menyandarkan kepalanya di bathtub perlahan membuka mata. Bella tak lagi bersandar di dadanya, kepalanya menengadah, menatap ekspresinya dengan penasaran.“Ya, sering,” desah Damian, tersenyum tipis. Tetapi, tatapannya terlihat pahit dan menyakitkan untuk dilihat. “Kau tahu, itu hanya sebatas imajinasi. Aku membayangkannya ketika pekerjaan membuatku stres. Atau ada masalah yang terjadi organisasi kami. Tapi itu dulu.”“Dan sekarang?”“Sekarang aku sudah bisa menerima segalanya,” jawab Damian, mengembuskan napas.Bella mengangguk dan kembali menyandarkan kepalanya di dada Damian. Mereka hanya berendam di bathtub sejak 15 menit yang lalu tanpa melakukan apa pun. Bella rebah di tubuh Damian, sementara tangan pria itu memeluk perutnya.“Dan kau sendiri?” Damian balik bertanya.“Aku juga sering membayangkannya saat masih menjadi budak.” Bella meraih tangan Damian dan menjalin jemari mere
Pengajar yang akan mengajari Bella datang pagi ini, tepat pada pukul sembilan. Dia adalah wanita berusia 35 tahun, wajahnya keibuan dan suaranya sangat lembut. Kegugupan Bella sejak bangun pagi perlahan menghilang, menyadari pengajarnya adalah wanita yang sangat pengertian. Bella belajar di serambi sayap timur, dekat dengan jendela lebar yang memperlihatkan halaman samping mansion. Seorang pria bertubuh kekar—pria yang sama yang Bella lihat di rumah sakit saat Damian keracunan—terlihat berjaga, sesekali muncul dalam pandangan Bella. Bella tidak akan memprotes apa pun yang Damian lakukan. Setelah penyerangan itu, dia menjadi lebih berhati-hati. Mengantisipasi bahaya yang mungkin saja terjadi adalah hal yang bagus. Damian telah pergi ke markasnya saat sinar matahari baru menyinari puncak-puncak pepohonan. Cuaca jauh lebih cerah akhir-akhir ini, tak lagi muram seperti sebelumnya. Hal itu ternyata cukup mempengaruhi suasana mansion, menjadikan kegiatan yang mereka lakukan jauh lebih
Waktu dua minggu tak terasa berlalu dengan sangat cepat.Jika Bella menghitung dengan jari hari-hari yang berlalu, ia tidak akan bisa mengimbangi cepatnya waktu berlari.Dan sekarang, menatap refleksinya di cermin, Bella sangat gugup. Damian berulang kali mengatakan betapa cantiknya ia, tetapi tetap saja kegugupannya terus meningkat di setiap detiknya.Ia memakai gaun biru tua yang dipesankan ibu mertuanya. Potongannya sederhana dan dilapisi kain tulle berlapis dengan hiasan bunga mawar kecil berwarna putih. Kain lengannya memanjang sampai sikunya dan roknya menggantung tepat di bawah lututnya. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan jepitan mutiara di sisi kepalanya.Damian sendiri memakai tuxedo dan menyisir rambutnya ke belakang. Rambutnya licin dan berkilau, dia terlihat seperti model tahun 90-an di majalah. Berkelas dan seksi.Dia sedang bicara dengan seseorang di telepon, mondar-mandir sambil membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan senjata. Bella menyisiri rambutnya dengan tangan
Ya Tuhan.Apa yang selama ini telah terjadi pada Bella sampai dia tidak yakin eksistensi Damian sebagai sesuatu yang nyata?Air mata Damian tumpah, tangisnya mengencang dan wajah Bella berubah menjadi sendu.“Damian... jangan... menangis,” ucap Bella susah payah. Ia mencoba mengangkat tangannya, tetapi nihil. Ia tidak memiliki secuil pun tenaga untuk mengelap air mata di wajah Damian. Hatinya hancur melihat Damian yang selalu terlihat kuat, kini rapuh layaknya kaca.“Aku nyata, Sayang. Aku di sini, aku di sini untuk menyelamatkanmu. Aku minta maaf karena tidak bisa datang lebih cepat.” Damian terisak lebih keras dan menciumi wajah Bella. Bibirnya bergetar. “Bertahanlah Sayangku, kita akan ke rumah sakit. Semuanya sudah berakhir. Tidak ada lagi yang akan menyakitimu.”Rasanya seperti mimpi.Bella menatap wajah Damian, tetapi sulit. Pandangannya terkadang jelas, terkadang buram. Setiap kali ia mencoba membuka matanya lebih lebar, rasanya ada paku yang menusuk-nusuk matanya. Ia ingin men
“Wajahmu tertembak?”Martinez buru-buru mendekat melihat Damian yang muncul di lorong. Dia terus memegangi rahang kanannya yang telah dibalut kain secara asal-asalan. Tangannya berlumuran darah.“Ya, peluru Van. Kukira... kukira lidahku terpotong.” Damian meringis. Rasa sakitnya membuat wajahnya seolah akan terbelah. Ia tidak bisa berbicara tanpa denyutan nyeri yang mengikuti di belakang. “Tapi ternyata masih utuh. Tidak apa-apa, bukan organ vital. Bagaimana dengan yang lain? Apa masih ada yang tersisa?”Martinez menghela napas. “Semuanya sudah dibereskan. Tinggal Ymar dan Lester. Ymar pasti masih berada di rumah ini, dan Andrius sedang mencarinya. Soal Lester, kita akan menemukannya nanti,” jelasnya dengan suara serak. Ia kelelahan, pakaiannya compang-camping terkena tembakan, dan lorong itu tidak memiliki penghangat yang memadai. “Aku akan meminta para anggota untuk membersihkan rumah ini. Yang lain sudah berpencar untuk memeriksa semua ruangan. Bagaimana dengan Van?”“Sudah tewas.
“Sial, sensornya bagus juga. Di mana dia mendapatkannya?”“Bukan saatnya untuk menanyakan itu, brengsek,” dengus Tyson pada Bogdan yang masih sempat-sempatnya bertanya tentang sensor yang Van gunakan di rumahnya.Setelah melumpuhkan dua penjaga yang berjaga di gerbang depan, Damian, Tyson, dan Bogdan menunggu aba-aba dari Martinez dan Andrius. Beberapa menit telah berlalu, tetapi tidak ada tanda apa pun yang terlihat. Damian berdiri dengan cemas, sudah tidak sanggup menahan diri lebih lama untuk menemukan gadisnya.Ia bersumpah akan membunuh mereka semua, jika ia sampai menemukan Bella dalam keadaan yang tidak ia inginkan.“Ck, kenapa lama sekali?” Bogdan menatap bingung. “Apa sebaiknya aku menyusul?”Damian hendak membantah ketika suara tembakan menggelegar mendadak terdengar. Mereka tersentak dan menatap ke dalam rumah Van.“Sepertinya mereka telah ketahuan. Ayo.” Damian membuka pengaman pistolnya dan bergegas berlari menuju pintu depan. Tyson segera mengikuti di belakang, sementar
Bella termangu menatap tembok pucat di hadapannya. Beberapa hari telah berlalu sejak Lester datang menemuinya waktu itu. Tetapi, ia tidak bisa berhenti memikirkan ucapannya. Ibunya ada di sini. Di rumah ini. Di tempat yang sama dengannya. Apakah itu mungkin? Entah Lester bicara jujur atau hanya mengatakan kebohongan semata, pikiran itu terus menghantuinya. Ia merindukan ibunya. Setiap malam, ia memimpikan sebuah tangan ringkih yang membelai kepalanya dengan lembut. Senandung yang terlontar dari bibir wanita itu terasa sangat nyata, sampai-sampai Bella kira ia tidak sedang bermimpi. Apakah ini semua hanya pengaruh obat-obatan? Mereka menyuntiknya setiap hari, nyaris tidak membiarkannnya untuk bergerak seinci pun dari tempat tidurnya. Bella terus bertanya-tanya apakah ia akan mati di sini? Tubuhnya lemas, nyeri, dan pucat seperti mayat. Matanya bahkan terasa sulit untuk dibuka lebar-lebar. Ia tidak bisa mengangkat tangannya, apalagi menggerakan kakinya. Mungkin, berat bada
“Hei Putri Tidur, sampai kapan kau akan terus menutup matamu?”Sebuah guncangan terasa di pundak Bella, disusul suara yang tidak asing. Aroma alkohol menerpa penciumannya dan membuat hidung Bella berkerut.“Putri Tidur? Apa aku perlu menciummu agar kau mau bangun? Atau kau ingin berhibernasi seperti seekor beruang bodoh?”Suara kasar itu kembali menyerbu pendengarannya. Bella berusaha membuka kelopak matanya yang terasa berat, rasanya seolah ada lem yang menempel di sana.“Akhirnya Putri Tidur kita bangun juga,” kata Lester dengan seringai tipis. Ia duduk di tepi ranjang dan menatap Bella dengan saksama.Bella terperanjat dari tempatnya dan hendak bangun, tetapi seluruh tubuhnya terasa lemas. Ia membuka mulut untuk bicara, tetapi hanya suara serak yang keluar.Ke mana suaranya pergi?Bella kira kondisinya telah membaik, tetapi mendadak saja ia merasa begitu lemas. Setelah pertemuan mengejutkannya dengan Van, ia sepertinya mengalami serangan panik dan pingsan.Ketika ia bangun, Lester
“Kau yakin ini hasilnya?”Van menatap hasil tes DNA dengan mata melebar tidak percaya. Ditatapnya Joseph yang mengangguk dengan ekspresi meyakinkan, sama sekali tidak ada keraguan di sana.Van tidak akan pernah meragukan Joseph, tetapi hasil di kertas ini...Bagaimana mungkin ini nyata?Van terduduk lemas di kursi dan menyentuh kepalanya yang terasa sakit. Dari semua hal yang telah ia usahakan setengah mati selama bertahun-tahum, bagaimana mungkin ia bisa melewatkan informasi sepenting ini?Bella adalah anaknya.Arabella Charlotte.Kekasih Damian, musuhnya. Bella yang telah ia siksa. Bella yang ia kira hanyalah bagian dari musuhnya. Bella yang ia jadikan sandera...Bagaimana mungkin dia adalah Bella yang selama ini ia cari? Malaikat kecilnya. Anaknya dengan Helena. Putrinya yang ia tinggalkan bertahun-tahun yang lalu...Bagaimana mungkin mereka adalah satu orang yang sama?Van memijat kepalanya dan terdiam untuk waktu yang lama. Fakta itu hanya membuatnya terguncang dengan perasaan ka
Damian menegakkan tubuhnya dan menoleh ke luar jendela. Matanya dengan awas meneliti sekitar.Ada sesuatu yang tidak beres.Intuisinya mengatakan bahwa ada seseorang yang tengah mengawasinya. Ia hanya berhenti untuk menerima telepon dari Andrius, tetapi rasanya seolah ada yang sedang mengintainya sekarang.Angin dingin berembus dari arah timur, menerbangkan rambutnya hingga jatuh ke dahi. Damian hanya terus menatap kaca spion mobil selama beberapa detik, kemudian kembali mengawasi sekitar dengan saksama.Pohon dan bangunan tua terbengkalai. Rainelle terlihat sepi tanpa penghuni, tetapi Damian yakin ada sesuatu yang tengah menunggunya jika ia melajukan mobilnya sekarang.Ia baru saja mengambil senjata di markas, dan berniat kembali ke mansion. Ia harus memberitahu ayahnya terlebih dahulu sebelum menyerang ke tempat Van. Waktunya semakin menipis, tetapi pergi tanpa persiapan apa pun sama saja dengan membunuh dirinya sendiri dan Bella.Damian tidak ingin membiarkan semuanya berakhir sia-
“Anda tahu saya tidak akan memberikan informasi apa pun, bukan?” Valeriy bersandar di mobil rongsokannya dan menatap Damian. “Informasi yang kuberikan waktu itu sudah cukup. Sekalipun Anda memberikan senjata rakitan lagi, saya tetap tidak bisa.”Damian tahu bahwa Valeriy memegang teguh peraturan dalam organisasinya, tetapi ini tentang hidup dan matinya. Damian akan melakukan apa pun, meskipun itu berarti ia harus melanggar kode etik yang sepatutnya ia taati. Ia tidak peduli apa pun lagi selain menyelamatkan gadisnya.“Baiklah, saya harus pergi.” Valeriy sudah hendak berbalik ketika Damian melontarkan seutas kalimat yang membuatnya membeku di tempat.“Adikmu berada di penjara Alcatraz, bukan?”Valeriy berbalik dengan mata menyipit. Mulutnya terbuka, uap berembus keluar, tetapi dia seolah kehilangan kata-kata.“Aku bisa mengeluarkannya dari sana,” lanjut Damian.Valeriy terlihat goyah dan matanya menatap Damian dengan saksama. Ekspresi Damian keras dan tatapannya yang tajam menunjukkan
Damian terus mondar-mandir dengan gusar. Ia merasa akan meledak saat ini juga. Khawatir, tegang, takut, cemas, ngeri, marah, kesal, sedih, semuanya bercampur menjadi satu. Ia tidak bisa duduk diam, sementara gadisnya entah berada di mana dan dalam keadaan apa.Damian menggeram. “Apa komputer sialan itu sudah terhubung dengan pelacaknya?!”“Diam brengsek! Aku sedang berusaha!” Bogdan balas berteriak. Wajah memerah murka dan Martinez akhirnya bangkit berdiri.“Duduk, Damian.”Damian berdecak dan melemparkan tubuhnya ke kursi. Ia memijat sisi kepalanya yang berdenyut sakit dan menghela napas keras.Stres berat. Itulah yang ia rasakan. Ia tegang dan cemas sepanjang waktu. Ia tidak bisa berhenti memikirkan hilangnya Bella dan bagaimana ia bisa menemukan gadisnya. Sudah tiga hari berlalu, tetapi mereka belum mendapatkan lokasi pasti tempat di mana Bella berada.Tiap detik yang berlalu terasa membunuhnya. Tiap detik yang terbuang dan Damian merasa akan menggila. Bella masih berada di sana, d