Lalu pemuda itu mulai merapikan rambut Nafisah yang mulai berantakan.
"Lo nggak usah nangisin dia lagi. Dan Lo tuh cantik cocok cari cowok yang lebih baik dari Dylan. Dia tuh lebih cewek lain dibandingkan sama Lo,"
Rico mengambil tisu lalu mengelap airmata dari Nafisah. Rico sudah tahu apa saja hal yang terjadi Nafisah menangis. Wajar saja kalau mereka dekat karena mereka saling bertemu satu sama lain.
Rico memang selalu tahu kenapa Nafisah tiba - tiba menangis itu hanya karena ulah dari Dylan.
Sedangkan sekarang hidung Nafisah lah yang mulai tersumbat. Melihat Nafisah yang kesulitan bernapas, Rico jadi tidak tega. Rico kembali mengambil tisu lalu melipatnya menjadi dua.
Lalu langsung menekan satu hidung dari Nafisah agar ingusnya bisa keluar. Rico pun melakukan hal yang sama di hidung lainnya.
Preeeet! Preepet!
Melihat kebiasaan Nafisah, sepertinya Rico sudah terbiasa melakukan hal ini. Sebab Nafisah pun
Saat sampai di rumah Shayra, Dylan langsung masuk ke rumah Shayra. Pikirannya saat ini sudah kalut kemana - mana. Tak bisa memikirkan apapun selain Nafisah, sekarang hanya Nafisah saja yang ingin ditemui. Dari tempat parkir, ia berlari menuju ruangan Shayra. Perasaannya mengatakan kalau Nafisah ada disini."Nafisah dimana?" kata Dylan tanpa menyapa gadis yang berambut sebahu itu."Nafisah nggak ada disini, salah alamat Lo Dylan," kata seorang cowok yang sedang bersama Shayra."Bro, disini gue baik - baik mau cari istri gue, Nafisah," tegas Dylan."Lo kalau nggak percaya, cek aja sendiri. Nafisah nggak ada disini!" kata Cowok itu yang masih menegaskan kepada Dylan."Nggak percaya gue, minggir gue mau masuk aja lah. Naf! Nafisah keluar sayang!" teriak Dylan yang seolah tidak percaya dengan ucapan pria itu.Deny menarik tangan Dylan untuk mengajaknya keluar. "Lo bisa nggak sih, sopan sedikit kek, udah tamu ng
Deny adalah sepupu dari Shayra, dia mengenal Dylan dibanding siapapun. Ia tidak akan suka jika ada orang manapun yang bisa menyakiti Shayra. Tetapi jika itu terjadi, jangan harap dia akan tinggal diam."Nggak, Sha, kamu tuh nggak boleh ngebiarin dia gitu aja. Bisa nggak sih, sedikit aja kamu ngelawan? Apa kamu nggak sakit tadi?!" Deny melihat - lihat bagian tubuh mana yang terluka.Lalu Deny pun berdiri, dan meminta Dylan agar cepat keluar dari ruangan Shayra."Pergi Lo, sekarang juga! Gue bilang pergi!" hardik Deny, tetapi sayangnya hal itu ditahan oleh Shayra.Dylan masih kesal sekali dengan sikap Deny yang seolah menyuruhnya pergi. Saat ingin pergi, Dylan minta maaf karena sudah menyakitinya. "Sha, maafin gue ya gue nggak sengaja tadi," katanya dengan suara yang berbeda."Gue udah bilang dari tadi, Nafisah memang nggak kesini. Gue sama Nafisah udah lama nggak chating sama sekali. Gue nggak tahu sekarang dia dimana"
"Jadi ambil buku yang mana?" Asia yang mulai melirik ke arah Nanda.Nanda tidak tahu ingin memilih yang mana semua buku baginya bagus. Sedangkan pilihan buku itu ada pada Asia. Asia yang sejak tadi mulai berjarak dari Nanda, kini diminta untuk lebih dekat. Sekarang dia pun tahu bagaimana rasanya digenggam oleh Nanda. Tetapi sejak genggaman itu terasa, berbeda rasanya dengan masa lalu.Ahh..tangan Nanda begitu khas hingga masih terasa asing bagi Asia. Asia tahu seharusnya dia mulai membuka hatinya untuk Nanda. Dan ingat Dylan itu suami orang, nggak baik direbut.Sial!Kenapa, sih, bayang - bayang Dylan selalu saja muncul! Bisa nggak sih, hiatus sebentar?"...bagusan ini apa ini?" tanya Nanda. Sekian pertanyaan dari Nanda akhirnya membuat Asia tersadar."Ehh..kenapa?"Nanda melirik ke arah Asia, langsung mencubit pipi Asia dengan halus. Gemas saja rasanya, gadis itu akhirnya merasakan kesakitan."Tuh
"Menurut kamu ini bagus nggak?"Saat mendengar pertanyaan Nanda, ia mulai menoleh ke arah pemuda itu. Tetapi dia justru dikejutkan dengan beberapa buku yang sudah tersusun rapi di meja itu. Ada banyak jenis komiknya mulai dari romance, thriller hingga Action."Menurut kamu gimana?" Nanda mulai mengajak Asia untuk berbicara."Ria sukanya apa, ya? Kamu tahu, nggak?""Aku aja nggak tahu, justru minta pendapat kamu," Nanda hanya bisa menggelengkan kepala saja saat ditanyai oleh Asia.Sedangkan Asia mulai mengambil sebuah buku yang berada di rak itu. "Gimana kalau beli komik remaja aja atau teenlit gimana?"Walaupun Asia tidak begitu menyukai komik, tetapi untung adiknya yang selalu memberitahu Asia. Jadi, setidaknya Asia bisa sedikit bercerita tentang komik - komik apa saja yang bagus dibaca.Ia masih ingat dulu waktu sama Dylan, mereka berdua sering berbincang-bincang di rumah. Bahkan tak jarang, adik Asia pun ikut berk
Rico berusaha menenangkan Nafisah. Sedangkan Nafisah masih memakai pakaian yang sama dress biru selutut masih rapi. Hanya ada bekas tangisan saja di pipi Nafisah.Cantik kayak Barbie.Saat melihat wajah dari Nafisah, tidak sengaja senyuman mulai terukir di dalamnya. Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi mereka berdua. Seharusnya hari ini adalah hari membahagiakan bagi Nafisah. Tetapi itu mustahil, justru Dylan lah yang menjadi dalang dibalik semua ini."Jangan nangis, kasian matanya jadi jelek," kata Rico. Rico dan Nafisah sudah kenal sejak lama. Bahkan mereka pun selalu satu bangku di SMA Tinaka Gunawan yang berada di Sulawesi Utara. Tetapi karena orangtua mereka dipindahkan ke Jakarta, akhirnya mereka berdua mulai merantau disini.Walaupun mengambil jurusan yang berbeda bukan berarti mereka tidak saling mendukung. Melainkan Rico mengambil jurusan Desain, sedangkan Nafisah mengambil jurusan Hukum. Tetapi uniknya, satu kesamaan
Sampai saat ini, hanya mata Nafisah saja yang terpejam tetapi tidak untuk otaknya. Otaknya masih berpikir tentang ucapan yang diberikan oleh sahabatnya, Rico.Apa maksud Rico tadi?Nafisah mengetahui kalau Rico suka dengan dirinya. Janganlah pada Dylan, sampai saat ini dia sudah tahu seperti apa perubahan fisik yang ada di diri Rico. Apalagi perilaku Rico akhir - akhir ini menjadi berbeda selama hubungan mereka?Terkadang cowok memang bisa saja memiliki sikap seperti itu yang baik hingga manis. Wajar saja, bukan? Apalagi Rico memilih seorang adik perempuan yang masih balita. Hal itu bisa saja membuat Rico lebih protektif saat bertemu dengan seorang wanita. Apalagi Nafisah adalah salah satu teman yang masih dekat dirinya hingga saat ini.Tapi jika dipikirebih jauh, perbuatannya semakin aneh. Rico seperti memberikan perhatian kepada seseorang kekasih dan bukan sebaga
"Kok bangun, sih?""Gue capek, Ric!" racau Nafisah, padahal Rico berharap jawaban yang sebenarnya."Udah..udah, gue tahu kok kalau Lo capek," katanya perlahan."Gue mau pulang ajalah,""Kalau Lo pulang ke rumah Dylan, adanya Lo makin sakit hati nanti. Saran gue Lo tinggal disini atau di rumah Shayra sampai Lo merasa tenang,"Nafisah berusaha mencari cara lain agar dirinya dan Rico tidak perlu berdekatan. Ya ampun, bisa nggak sih, Ric, Lo nggak usah perhatian gini!"Gue mau sendiri, gue mau nenangin diri""Kalau Lo mau, Lo tinggal aja diatas. Gue bisa tinggal di bawah kok,"Tetapi jawaban Nafisah malah berbeda. "Gue mau pulang ajalah ke Lampung,""Lo gila atau gimana, sih? Setidaknya Lo sama gue merantau disini. Dan gue juga nggak akan biarin, lho, pergi gitu aja," kata Rico yang tidak akan bisa membiarkan sahabatnya pergi sendiri.Sedangkan gadis itu hanya mendengus saja. Rico berusaha menenangka
Rico hanya bisa diam saja.Gue cinta sama lo. Lo cewek pertama yang akan gue jagain setelah mana.Sedangkan Rico hanya bisa mengungkapkan dalam hatinya.Ia kembali menatap gadis itu yang seolah sedang membuat pertanyaaan baru."Lo kan lagi nggak ada, sedangkan Shayra kan sudah ada yang punya," katanya."Lo tahu, kan, gue masih ada Dylan. Tetapi Lo malah negedeketin gue?"Gila!Rico hanya bisa diam saja dan bingung ingin mengatakan apa.Sampai suatu ketika tiba - tiba ada pesan masuk. Dia meminta izin kepada Nafisah untuk membaca pesan itu.Tetapi itu hanya pesan yang tidak penting. Akhirnya dia hanya membaca pesan itu secara sekilas.Pesan dari Dylan......."Beautiful Lady?" Nanda yang mulai mengambil sebuah komik itu."Aku paling suka banget sama komik ini, cerita juga bagus. Aku kadang suka mellow gitu kalau baca cerita ini,""Menurut kamu bagus nggak?""Bagus banget kok,"
Asia hanya bisa terdiam!Ia hanya ingin tahu bukan hanya dia yang mencintai pemuda itu. Dia hanya menginginkan pemuda itu juga mencintainya tetapi sayangnya itu tidak terjadi. Lagian Dylan susah banget, sih, ngomong cinta aja gengsinya setinggi langit.“Bodoh!” batinnya. “Bodoh banget sih lo, Dyl!”Asia mulai berdiri dari tempat tidurnya, dia ingin menutup pintu yang sengaja dibuka lebar oleh Dylan. Tetapi saat ingin keluar, tak sengaja tubuh mereka saling bertabrakan hingga jatuh ke lantai.“Duhh..”Lalu Dylan datang menghampiri gadis itu untuk mencari tahu apakah ada yang terluka. “Kamu ada masalah?”“Ehemm..jangan bikin baper kenapa bang! Kasian tahu kalau cinta mah perjuangin kali,” katanya.Dylan ingin sekali memberikan pelajaran kepada adik tercintanya ini.“Bodoh banget sih bang. Kalau cinta itu ya diperjuangin bukan malah ditinggalin, parah banget lo udah
Hufft!Si Asia ada ada aja kalau lagi galau. Masa masalah jendela aja sampai teriak - teriak, untung nggak rusak kuping bang Rizky. Coba kalau bermasalah gimana, gue juga kan yang repot. Batin Rizky.“Ehh.. gelap banget sih kok ditutup segala. Kan gue minta tadi dibuka bang?” protes Asia yang berteriak kencang dari tadi.“Ehh abangg,” erang Asia dengan suara bangun tidur khasnya.”Ya ampun dimintain tolong kayak mau minta hutang aja,”Asia mulai kesal dengan tingkah laku abangnya, dia mulai membuka matanya perlahan - lahan. Lalu dia tidak menyangka kenapa ada Dylan, pria yang disukainya selama ini. Apakah ini nyata atau fiksi?Asia mulai menyadarkan diri, apa mungkin ini mimpi? Dia lalu mengerjapkan matanya kembali dan pandangannya tetap sama itu Dylan.“Kaa..kamu kenapa?”Kata Dylan yang seolah memberikan hipnotis kepada Asia, ia tahu pemuda itu memang masih ada di kamarnya. Mata Asia se
Dylan langsung jalan perlahan – lahan ke kamar Asia. Ya, seingetnya kamar Asia memang ada di atas. Dulu, dia sama Asia sering mengobrol di kamar Asia entah itu membicarakan pekerjaan atau membicarakan hal yang lainnya. Sudah lama sekali, ia tidak berkunjung ke kamar gadis itu.Dia mulai memutar kenop pintu kemudian membuka kamar Asia perlahan – lahan. Kamarnya terlihat seperti biasa, dengan jendela yang masih terbuka lepat.Dylan hanya bisa tersenyum saja lalu memandang gadis itu di tempat tidur. Sudah tahu lagi sakit, bandel banget sih!Ia lalu mulai berjalan dan ingin menutup jendela kamar Asia. Lalu dia tidak sengaja melihat gadis itu sedang tertidur lelap layaknya seorang puteri.Cantik sekali!Memang cantik sekali gadis itu, jadi wajar saja kenapa Dylan bisa terpesona dengan wajah cantiknya. Tetapi dia tidak sengaja melihat Asia sedang memeluk sebuah benda, benda yang sepertinya dikenalinya.Boneka doraemon.Iya, bone
Dylan yang masih khawatir dengan kondisi Asia, dia langsung masuk saja melewati Rania dan pacarnya yang masih memakan potongan mangga yang sempat diberikan oleh abangnya Asia. Disana ia masih melihat Asia sedang terbaring lemas di kasurnya, sedangkan Rania asik berpacaran dengan kekasihnya.Kok bisa sih dia asik bermesraan di depan orang yang lagi sakit!“Bang Rizky kemana sih?” katanya. Sejak mendengar ucapan Dylan, keduanya langsung terkejut dan mulai berjauhan antara satu sama lain.“Aa..an.u..di ruang tamu bang,” kata Denny yang mulai terbata – bata.“Heh.. jangan deket – deketan belum halal kalian tuh. Jangan sampai kalian nikah duluan sebelum gue sama Asia nikah dulu, inget ya gue nggak kasih lampu hijau nanti,” kata Dylan yang mulai meninggalkan mereka berdua.Setelah kepergian Dylan, mereka berdua mulai terlihat rona merah di pipinya. Tak hanya itu, mereka pun mulai memberikan ucapan kesalnya.
“Ma, suapin dong,” Dylan mulai membuka mulutnya dan sang mama mulai memberikan suapan salad buah yang baru saja dibuat.“Ihh curang banget, papa juga mau,” kata sang Papa yang cemburu melihat kedekatan antara Dylan dan sang mama.Subhanallah sudah pada besar, manjanya nggak hilang – hilang. Untung aja Mama Shita ada kalau enggak bisa berantem kali.“Tuh ada di meja jangan manja,” kata Mama Shita yang kembali memberikan sepotong salad kepada anaknya. Sedangkan Dylan merasa menjadi tuan rumahnya saat ini dan hanya memberikan senyuman kecil kepada papanya.“Nyebelin banget kamu dyl, lihat aja nanti awas aja,” kata Papa yang mulai kesal dengan tingkah laku anaknya itu.Saat ingin mengunyah salad itu, tiba – tiba telepon dari adiknya pun berdering. Setelah mendengar panggilan itu, Dylan jadu khawatir apa yang terjadi dengan adiknya, Rania.“Ehh, kamu kenapa?”“Se
“Eh kak Asia kenapa kok jadi kurus kering gini sih?” kata Rania yang terkejut melihat Asia sedang terbaring lemah.Asia masih terbaring lemah dengan mata panda hingga tubuh yang mirip seperti lidi. Ia hanya bisa mendengar pembicaraan gadis itu, tanpa mimik wajah yang jelas ia hanya tersenyum. Coba deh kalau Dylan menerima gue, nggak bakal kayak gini nih jadinya! Batin Asia dalam hati.“Tahu nggak kak? Aku sudah lama banget nggak ketemu kakak, kangen aja gitu,” Rania yang mulai mengelus – elus badan Asia. Sedangkan pacarnya hanya bertugas untuk mengantarinya saja hari ini.“Oh iya, kemarin aku habis jalan – jalan lho dan kebetulan habis ketemu makanan kesukaan kakak. Nanti harus dimakan ya nggak boleh kayak gini kurus banget”“Permisi gadis yang cantik, hari ini udah waktunya Asia untuk minum obat. Diminum ya adik aku tercinta, Asia Armelina,” kata Abangnya dari kejauhan yang mulai menghampiri mer
“Tumben banget sudah rapi pagi – pagi, mau kemana?” kata Mamanya yang lalu melirik ke anak bungsunya itu. Sedangkan sang Papa yang masih sibuk dengan laptopnya sendiri untuk mengerjakan pekerjaan kantornya.“Ini lho kebetulan kemarin aku nggak sengaja lihat makanan kesukaan kak Asia. Dan kebetulan aku mau beliin,” katanya sambil membawa – bawa oleh – oleh makanan itu. “Boleh kan, Ma? Kebetulan kan sudah lama nggak ketemu kak Asia jadi kangen,” Iya, sudah lama sekali mereka bertemu mungkin terakhir mereka bertemu saat Asia masih bersama dengan Dylan. Ya, dan di saat itu juga dia mulai kehilangan teman. Bukan sebagai teman kakaknya, melainkan teman sehari – hari yang selalu bersama Asia. Sekarang ia sadar, semuanya pasti akan berubah dan hanya menunggu waktunya saja.Dylan yang sejak tadi mendengar kata Asia hanya bisa diam saja dan melirik. Sudah lama memangnya dia tidak berjumpa dengan gadis itu. Ya, itu justr
Kini Mama Asia mulai kebingungan, ia tahu ada beberapa pria yang bersama dengan Asia dulu sebut saja Dylan dan Nanda.Tak hanya Mama Asia yang kebingungan bagaimana menanggapi anaknya, Asia Armelina. Mama Dylan pun sama seperti itu, ia hampir kehilangan cara bagaimana menasihati sang anak, Dylan Jalaludin Akbar.Padahal dulu Dylan sering sekali bercerita tentang apapun yang terjadi di hari itu. Mulai dari cerita bahagia, sedih, galau tetapi kini yang didapatkan oleh Mama Dylan hanya kehampaan belaka. Anaknya sudah berubah drastis 100 persen, entah apa yang harus dilakukanya saat ini.Sedangkan sang anak, Dylan masih saja mengaduk – ngaduk mienya di mangkuk. Sedangkan tatapannya hanya kosong seperti sedang ada masalah. Ya, kalau gini jadinya mienya bisa jadi surut kan?Perempuan setengah abad itu hanya bisa membuang napasnya. Sekarang mie rebus itu sudah layaknya seperti mie yang dicincang – cincang. Dan rasanya pasti sekarang sud
Liburan hari ini sepertinya menjadi hari – hari yang menakutkan bagi seorang Asia. Asia yang dulu ceria, bersemangat dan selalu mewarnai hari – harinya itu sudah tidak terlihat lagi. Melainkan beberapa hari ini dia selalu memberikan wajah yang murung dan seperti tidak memiliki semangat untuk hidup. Tak hanya itu, ibunya juga pernah melihat saat Asia membersihkan lantai. Malah kain pelnya yang tidak dikeringkan, alhasil semua lantai tidak ada satu pun yang kering malah basah semua seperti air yang sengaja ditumpahkan.Air – air kain pel itu menyebabkan sang ibunda hampir jatuh. Abang dan ayahnya sampai kebingungan ada apa dengan Asia yang sebenarnya.Tak hanya itu, dia juga mulai membantu sang ibu untuk belanja ke pasar. Tetapi dia selalu pulang terlambat, entah kemana. Mama Asia langsung kebingungan tak biasanya anaknya pulang terlambat. Padahal dulu kalau pulang dari tempat manapun selalu cepat.Tetapi yang didapatkannya sekarang, hanya rasa p