Pagi ini Shana bangun lebih pagi. Tidak lagi bermalas-malasan seperti hari sebelumnya. Hari ini ia akan melakukan kunjungan rutin ke lokasi syuting. Kebetulan lokasi syuting juga tidak dilakukan di luar kota sehingga Shana bisa datang untuk sekedar melihat mahakaryanya. Ada rasa enggan sebenarnya. Tentu saja karena Dito, mantan kekasih gilanya. Namun setelah Ndaru meminta Shana mengganti nomor ponsel, Dito tak lagi berulah. Namun justru itu membuat Shana takut. Entah apa lagi yang akan pria itu lakukan saat mereka bertemu nanti. "Pagi, Bi," sapa Shana memasuki ruang makan. "Selamat pagi, Bu," balas Bibi Lasmi yang tengah menyiapkan makanan. Shana menatap ke sekitar dengan bingung. Keheningan yang ada membuatnya bertanya-tanya. Ke mana perginya semua penghuni rumah? "Kok sepi, Bi? Mas Juna belum bangun?" "Kayaknya belum, Bu. Semalem agak rewel mau nunggu Bapak sama Ibu pulang tapi akhirnya ketiduran juga meskipun udah malem banget." Shana meringis. Meski pulang lebih
Ke mana perginya semua orang? "Shan, aku beneran cinta mati sama kamu. Aku janji, kalau kamu mau balik sama aku, aku akan berubah." "Omong kosong!" Shana mulai berdiri. Dito tidak mau mengalah. Pria itu ikut berdiri dan terus memohon pada Shana. Namun wajah memelas itu justru membuat Shana ketakutan. Dia tidak lagi bodoh seperti dulu. Dito adalah manusia manipulatif dan Shana tidak akan tertipu lagi. "Shan—" Dito kali ini berhasil meraih tangan Shana. Saat Shana akan berteriak, pria itu membungkam mulut Shana dengan tangannya. "Jangan teriak, Shan. Kamu tau apa yang akan terjadi kalau orang-orang tau kita cuma berdua di ruangan ini." "Sialan! Lepasin gue!" Shana berusaha memberontak. "Aku cuma mau kamu maafin aku. Kita mulai semuanya dari awal, ya?" "Orang gila!" Belum sempat Shana mendorong Dito, pria itu lebih dulu terdorong menjauh. Sepertinya doa Shana di dengar oleh Tuhan. Secara tiba-tiba Roro berada di hadapannya dan berusaha untuk melindunginya. "Janga
Hari Minggu yang tenang tak lagi bisa dibayang. Di pagi buta Ndaru sudah berada di atas awan. Menyusul kakaknya yang berada di Kalimantan. Rasa terpaksa tentu ia rasakan. Namun ada hal penting yang harus ia sampaikan. Dalam hati terdalam, Ndaru lebih suka jika Guna yang datang. Namun ia teringat pada Arya, di mana kakak keduanya itu meninggal karena ingin menemuinya. Ndaru tak mau hal yang sama terulang. Dia sudah kehilangan banyak orang dan itu semua karena dirinya. Dia tak ingin lagi. Di dalam pesawat pribadinya, Ndaru memilih untuk memejamkan mata. Rasa sesal karena tak mengajak Juna mulai terbayang-bayang. Namun ia sedang tergesa. Guna sudah menunggunya untuk hadir dalam acaranya. "Pak, pihak lelang amal semalam menghubungi. Untuk batu permata yang Bapak beli mau dikirim ke mana?" tanya Gilang. Ah, Ndaru lupa akan hal itu. Seketika dia meringis mengingat aksi tak terduganya. Hanya karena beberapa kalimat yang Shana ucapkan, mampu membuatnya terprovokasi dan membeli ba
Guna tampak terkejut. "Dia tau?" Hela napas kasar lolos dari mulut Ndaru. "Dia punya informan. Kita harus hati-hati." "Informan? Sialan, siapa dia?" Ndaru menggeleng. "Nanti aku cari tau." "Apa lagi yang kamu dapat dari acara semalam?" "Batu berlian," jawab Ndaru bodoh. "Bukan itu!" dengkus Guna kesal. "Kalau yang itu semua orang juga tau. Kata Maya kamu jadi trendic topic lagi." Guna menggelengkan kepalanya. "Hobi banget kamu jadi omongan banyak orang, tapi nggak masalah, karena itu juga aku minta kamu ke sini. Lihat ibu-ibu di luar sana, pada gemes sama kamu yang akhirnya daftarin anak mereka ke akademi kita." Guna tertawa terbahak. Berbanding dengan Ndaru, pria itu hanya bisa pasrah. Toh, dia juga sudah terbiasa. Dengan tampangnya yang lebih tampan dari saudara-saudaranya, Ndaru sering diperalat untuk mengeluarkan karisma kuatnya. "Satu lagi." Ndaru terlihat ragu untuk mengatakannya. "Shana, dia akrab dengan keluarga Nurdin." Kening Guna berkerut. "Kok bisa?" N
Suara gemercik air mengalun indah di telinga. Menggetarkan hati yang merindukan ketenangan jiwa. Aroma air hujan juga ikut menyapa. Membuat mata indah itu akhirnya terbuka. Lengkap dengan senyuman manis di muka. Shana menyukai ketenangan. Dia juga menyukai aroma hujan. Di saat seperti ini dia bisa bekerja dengan nyaman. Namun sayang, seseorang tiba-tiba datang menghancurkan. "Sayang?" sapa seorang pria yang datang dengan napas terengah. Shana hanya meliriknya sekilas. Dia membenarkan letak kacamatanya dan kembali fokus pada laptop yang menyala. Pemandangan yang jauh lebih menarik. "Aku minta maaf." Lagi. Entah sudah berapa kali Shana mendengar kalimat itu keluar dari mulut kekasihnya. Sudah berkali-kali juga dia memaafkannya. Namun untuk kali ini, jangan harap ia akan diam saja. Gadis itu tidak akan memberikan maafnya secara cuma-cuma. "Jangan diemin aku, dong." Pria itu mulai memohon. "Alasan kamu telat kali ini apa lagi?" tanya Shana tanpa menatap pria di hadapan
Kediaman Haryadi tampak ramai hari ini. Penjagaan ketat harus terus diawasi. Banyaknya wartawan yang meliput membuat keadaan semakin tak terkendali. Apa lagi ketika mobil Ndaru mulai mendekati. Seketika riuh pun sulit diatasi. Haryadi bukan hanya seorang hakim yang luar biasa, tetapi juga berasal dari keluarga yang tak biasa. Kepergiannya tentu menimbulkan kehebohan nyata. Yang tentu akan dimanfaatkan banyak orang untuk mencari muka. Mobil yang membawa Ndaru mulai memasuki kediaman Haryadi. Dia menatap para wartawan yang berkumpul di depan pagar dengan seksama. Ndaru tahu jika kakaknya memang orang hebat, tetapi dia tidak tahu jika akan seramai ini. Sepanjang perjalanan menuju rumah, sudah berapa kali Ndaru melihat kiriman karangan bunga. Entah dari siapa saja. "Pemakaman Pak Arya akan dilakukan nanti sore, Pak. Bapak bisa masuk sekarang untuk melihat Pak Arya yang terakhir kalinya dan bertemu keluarga Bapak." Ndaru masih bergeming. Dia menunduk lalu menarik napas
Ketenangan kembali menyapa. Namun sayang Ndaru tidak bisa memejamkan mata. Dia menatap jalanan dengan mata terbuka. Mencoba menerka jalan hidupnya yang tak akan lagi sama. "Sepertinya Bapak butuh pengawal untuk beberapa hari ke depan." Gilang berucap. "Saya lihat ada beberapa wartawan yang nekat mengikuti kita." "Mereka merepotkan." Ndaru mengeluh. Padahal dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. "Bapak adalah bagian dari keluarga Atmadjiwo kalau lupa." "Nama saya tidak seharum kedua kakak saya." "Justru itu." Gilang menoleh. "Bapak misterius. Ya... meskipun keluarga Atmadjiwo memang tertutup, tapi Bapak berbeda. Itu yang membuat publik penasaran." Tanpa diduga Ndaru tersenyum kecut. Dia mengerti maksud ucapan Gilang. Kedua kakaknya memang memiliki nama yang harum. Berbeda dengan dirinya yang seolah menyembunyikan diri. Sebenarnya sama saja, hanya saja Ndaru memilih untuk tidak berhubungan langsung dengan publik. Bukan bermaksud menjauhi keluarga. Hanya
Rasanya seperti baru lima menit tertidur. Ndaru terbangun saat mendengar suara ketukan pintu. Keadaan kamar hotel yang ia tiduri masih gelap, tetapi dia bisa melihat cahaya mulai mengintip dari balik tirai jendela. Ndaru segera terduduk sambil mengusap wajahnya. Dia meraih ponsel dan melihat jam yang tertera. Jam tujuh pagi, artinya dia terlambat bangun. Suara ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini terkesan lebih keras dan cepat dari sebelumnya. "Pak Ndaru?" Itu suara Gilang. "Ya," balas Ndaru bergegas membuka pintu. "Ada apa?" tanyanya langsung. Gilang menghela napas kasar. Dia menatap atasannya itu dengan tatapan lelah. Ada apa? Seingat Ndaru dia tidak memiliki kegiatan pagi ini. "Apa yang terjadi semalam, Pak?" tanya Gilang. Seketika kantuk Ndaru hilang. Dia menatap asistennya lekat. "Apa maksud kamu?" Gilang memberikan sebuah iPad yang menampilkan beberapa gambar tangkapan layar. Ada beberapa potret yang sangat Ndaru kenal. "
Guna tampak terkejut. "Dia tau?" Hela napas kasar lolos dari mulut Ndaru. "Dia punya informan. Kita harus hati-hati." "Informan? Sialan, siapa dia?" Ndaru menggeleng. "Nanti aku cari tau." "Apa lagi yang kamu dapat dari acara semalam?" "Batu berlian," jawab Ndaru bodoh. "Bukan itu!" dengkus Guna kesal. "Kalau yang itu semua orang juga tau. Kata Maya kamu jadi trendic topic lagi." Guna menggelengkan kepalanya. "Hobi banget kamu jadi omongan banyak orang, tapi nggak masalah, karena itu juga aku minta kamu ke sini. Lihat ibu-ibu di luar sana, pada gemes sama kamu yang akhirnya daftarin anak mereka ke akademi kita." Guna tertawa terbahak. Berbanding dengan Ndaru, pria itu hanya bisa pasrah. Toh, dia juga sudah terbiasa. Dengan tampangnya yang lebih tampan dari saudara-saudaranya, Ndaru sering diperalat untuk mengeluarkan karisma kuatnya. "Satu lagi." Ndaru terlihat ragu untuk mengatakannya. "Shana, dia akrab dengan keluarga Nurdin." Kening Guna berkerut. "Kok bisa?" N
Hari Minggu yang tenang tak lagi bisa dibayang. Di pagi buta Ndaru sudah berada di atas awan. Menyusul kakaknya yang berada di Kalimantan. Rasa terpaksa tentu ia rasakan. Namun ada hal penting yang harus ia sampaikan. Dalam hati terdalam, Ndaru lebih suka jika Guna yang datang. Namun ia teringat pada Arya, di mana kakak keduanya itu meninggal karena ingin menemuinya. Ndaru tak mau hal yang sama terulang. Dia sudah kehilangan banyak orang dan itu semua karena dirinya. Dia tak ingin lagi. Di dalam pesawat pribadinya, Ndaru memilih untuk memejamkan mata. Rasa sesal karena tak mengajak Juna mulai terbayang-bayang. Namun ia sedang tergesa. Guna sudah menunggunya untuk hadir dalam acaranya. "Pak, pihak lelang amal semalam menghubungi. Untuk batu permata yang Bapak beli mau dikirim ke mana?" tanya Gilang. Ah, Ndaru lupa akan hal itu. Seketika dia meringis mengingat aksi tak terduganya. Hanya karena beberapa kalimat yang Shana ucapkan, mampu membuatnya terprovokasi dan membeli ba
Ke mana perginya semua orang? "Shan, aku beneran cinta mati sama kamu. Aku janji, kalau kamu mau balik sama aku, aku akan berubah." "Omong kosong!" Shana mulai berdiri. Dito tidak mau mengalah. Pria itu ikut berdiri dan terus memohon pada Shana. Namun wajah memelas itu justru membuat Shana ketakutan. Dia tidak lagi bodoh seperti dulu. Dito adalah manusia manipulatif dan Shana tidak akan tertipu lagi. "Shan—" Dito kali ini berhasil meraih tangan Shana. Saat Shana akan berteriak, pria itu membungkam mulut Shana dengan tangannya. "Jangan teriak, Shan. Kamu tau apa yang akan terjadi kalau orang-orang tau kita cuma berdua di ruangan ini." "Sialan! Lepasin gue!" Shana berusaha memberontak. "Aku cuma mau kamu maafin aku. Kita mulai semuanya dari awal, ya?" "Orang gila!" Belum sempat Shana mendorong Dito, pria itu lebih dulu terdorong menjauh. Sepertinya doa Shana di dengar oleh Tuhan. Secara tiba-tiba Roro berada di hadapannya dan berusaha untuk melindunginya. "Janga
Pagi ini Shana bangun lebih pagi. Tidak lagi bermalas-malasan seperti hari sebelumnya. Hari ini ia akan melakukan kunjungan rutin ke lokasi syuting. Kebetulan lokasi syuting juga tidak dilakukan di luar kota sehingga Shana bisa datang untuk sekedar melihat mahakaryanya. Ada rasa enggan sebenarnya. Tentu saja karena Dito, mantan kekasih gilanya. Namun setelah Ndaru meminta Shana mengganti nomor ponsel, Dito tak lagi berulah. Namun justru itu membuat Shana takut. Entah apa lagi yang akan pria itu lakukan saat mereka bertemu nanti. "Pagi, Bi," sapa Shana memasuki ruang makan. "Selamat pagi, Bu," balas Bibi Lasmi yang tengah menyiapkan makanan. Shana menatap ke sekitar dengan bingung. Keheningan yang ada membuatnya bertanya-tanya. Ke mana perginya semua penghuni rumah? "Kok sepi, Bi? Mas Juna belum bangun?" "Kayaknya belum, Bu. Semalem agak rewel mau nunggu Bapak sama Ibu pulang tapi akhirnya ketiduran juga meskipun udah malem banget." Shana meringis. Meski pulang lebih
"Ibu Nancy Isabel, 3 miliar rupiah," ucap pemandu lelang menunjuk seseorang yang Shana yakini merupakan wanita sosialita. "Bapak Vincent Wiranto, 3,3 miliar rupiah!" Jantung Shana seketika berdetak cepat saat mendengar nominal itu. "Ibu Nancy, 3,7 miliar rupiah!" "Kembali ke Bapak Vincent, 4 miliar rupiah. Wah-wah persaingan yang ketat antara Bu Nancy dan Pak Vincent," ucap pemandu dengan diiringi tawa puas. "Tidak terduga, ada Bapak Nendra Hasan di sana dengan angka 5 miliar rupiah!" "Nendra?" Shana menegakkan duduknya. Dia menoleh ke arah di mana pemandu lelang menunjuk dan melihat seorang pria yang sudah lama tak ia lihat. "Mas Nendra?" gumam Shana yang kali ini diiringi dengan senyuman. Mendengar nama yang tak asing di telinga, Ndaru pun ikut menoleh. Tatapannya jatuh pada pria yang duduk bersama anggota keluarganya, bersama Nurdin Hasan. "Jadi dia yang namanya Nendra?" gumam Ndaru pelan. "Pak Ndaru kenal?" Shana menatap Ndaru cepat. Dia mendengar gumamam p
Ndaru tersenyum miring. "Begitu juga saya, Pak. Saya juga tidak akan diam jika ada seseorang yang mengusik keluarga saya." "Oke, sekarang apa yang kamu cari? Tanyakan langsung sama saya? Akan saya jawab." "Siapa yang jamin kalau jawaban jujur yang akan keluar dari mulut Bapak?" "Apa ini tentang proyek besar saya? Atau tentang kakak kamu? Oh, atau keduanya?" Tepat sasaran. Ndaru masih bungkam, bukan karena merasa terintimidasi. Melainkan ia tengah membaca ekspresi wajah Nurdin saat ini. "Kalau itu yang kamu cari, maka jawabannya adalah tidak." Nurdin kembali berbicara. "Saya nggak ada hubungannya dengan kematian Haryadi, kakak kamu." Ndaru mengangguk dengan senyuman tipis. Dia sudah menemukan jawabannya. Nurdin memang terlihat santai dan tak gentar. Namun justru itu yang membuat Ndaru yakin jika Nurdin Hasan memang terlibat. "Kalau begitu saya duluan, istri saya sendirian." Ndaru berlalu melewati Nurdin. "Ah, omong-omong tentang istri." Nurdin menghentikan langka
Acara lelang amal yang dibuat Nurdin Hasan berhasil menjadi trending topic di berbagai sosial media. Semua hal yang ada di dalam acara tersebut mencuri perhatian masyarakat. Mulai dari barang-barang mewah yang akan dilelang, megahnya acara, hingga sampai daftar tamu undangan yang datang. Lalu Handaru, menjadi salah satu tamu yang ramai diperbincangkan. Bak pangeran dari negeri dongeng, banyak kata-kata pujian ditujukan untuk Ndaru. Penampilan pria itu malam ini sangat memukau. Juga ditemani istri yang seperti bidadari, seolah melengkapi kesempurnaan Ndaru malam ini. Bagi para netizen, Handaru Atmadjiwo dan Shana Arkadewi malam ini adalah bintang utama. Jarang muncul di layar kaca dan sekali muncul mampu menggoyahkan iman di dada. Pasangan kontroversi yang lambat laun mulai disenangi oleh para pemuja sosial media. "Saya tau lukisan ini," ucap Shana berhenti di depan lukisan abstrak, salah satu barang mewah yang akan dilelang. Saat ini baik Ndaru dan Shana tengah melihat bara
Acara lelang amal yang dibuat oleh Nurdin Hasan bertema pesta topeng. Meski mendadak, Shana tak perlu kebingungan. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, koleksi butik Gadis Amora akan datang ke rumah beserta dua pegawainya. Satu untuk dirinya dan satu untuk Ndaru. Kali ini Shana memilih dengan tak lagi melihat harga. Toh, Ndaru yang akan mengeluarkan uang untuk pakaiannya. Shana pun memilih model pakaian yang ia suka. Tentunya juga sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Gaun berwarna hitam menjadi pilihan Shana. Panjang hingga mata kaki, tetapi ada belahan yang berhenti di atas lututnya. Menampilkan kaki jenjangnya yang selama ini ia tutupi rapat. Selain itu, gaun itu juga menampilkan lengan bersihnya. Warna gaun yang hitam begitu kontras dengan warna kulitnya. Untuk topeng, Shana memilih topeng bulu berwarna putih. Tema yang ia pilih malam ini adalah black swan. "Sudah selesai. Bu Shana cantik sekali malam ini," ucap pegawai yang juga membantu merias wajahnya. Setuju.
"Mau Kakek suapin?" tawar Harris. Juna menatap sang kakek dengan mata bulatnya. Tampak berkedip pelan seolah mencerna ucapan kakeknya itu. "Mas Juna makan sendiri, ya? Kan udah besar," ucap Shana. Harris mengerutkan dahinya. Dia menatap Shana tidak suka. "Kenapa saya nggak boleh suapin cucu saya sendiri?" tanya Harris galak. Shana menoleh jengah. "Siapa yang ngelarang, sih, Pak? Kan saya cuma mau Mas Juna belajar mandiri dan tanggung jawab habisin makanan yang dia ambil sendiri." "Dia baru dua tahun!" geram Harris ingin melempar Shana dengan anggur hijau. "Lagian tau apa kamu sama tanggung jawab? Jam segini aja baru bangun, wanita macam apa itu?" Shana ikut menatap Harris kesal. "Ya, salahin anak Bapak, dong. Siapa suruh peluk saya kenceng banget? Kan, jadi keterusan tidurnya." Ndaru yang mendengar perdebatan itu hanya bisa memejamkan mata. Tak mau ikut terprovokasi yang akan semakin membuat anaknya bingung. "Jangan salahin anak saya, ya! Seharusnya kamu sadar diri