"Pak Ndaru?" tanya Shana dengan mata membulat. Pria itu berada di sini? Gadis itu mengangguk. "Kata teman saya Pak Ndaru baru saja datang. Bapak juga akan mencoba pasangan dari kebaya ini." Shana menggeleng cepat. Dia tidak mau muncul di hadapan Ndaru dengan kebaya ini. Dia malu. Setidaknya tunggu sampai hari pernikahan tiba saja. "Pak Ndaru sudah menunggu di depan, Bu. Silakan." Shana menelan ludahnya susah payah. Dia pasrah begitu Sinta menuntunnya keluar, ikut membantu ekor kebaya yang menjuntai di lantai. Begitu pintu terbuka, Shana memilih untuk menunduk. Dia tidak mau melihat ke arah depan yang entah ada siapa saja di sana. "Bagaimana, Pak?" tanya Sinta. Shana masih memilih untuk menunduk. Mencoba sibuk dengan kebayanya sendiri. Padahal dalam hati dia juga menunggu kalimat yang akan masuk ke dalam telinganya. "Bagus," jawab suara berat itu singkat. Reflek, Shana mengangkat wajahnya. Di depannya, Ndaru tengah duduk santai di sofa yang tersedia. Menatapnya
Kesepian memang merana. Yang bisa membuat orang-orang menjadi iba. Karena berduka tentu saja. Namun kehilangan tidak bisa diterka. Takdir Tuhan telah menggariskannya. Awalnya, hidup Putri tampak sempurna dan bahagia. Di kelilingi oleh orang-orang yang begitu mencintai dan menyayanginya. Kebiasaan itu yang membuatnya seolah hilang arah. Kehilangan suami benar-benar membuatnya terpuruk rasanya. Mungkin tiada hari tanpa melamun. Tiada hari tanpa berduka. Tiada hari tanpa memikirkan Arya. Dan juga tiada hari tanpa memikirkan masa depannya. Juga masa depan anaknya. Jangan berbicara tentang uang. Putri tidak kekurangan sama sekali. Hidupnya sudah terjamin karena menjadi anak dari seorang Darma Baktiar dan menantu Harris Atmadjiwo. Yang membuatnya sedih adalah perginya pria yang memberikan cinta terbesar dalam hidupnya. "Satria sudah makan, Put?" tanya Darma, Ayahnya. Hingga saat ini pun, Putri masih memilih tinggal bersama ayahnya. Seolah tidak mau lagi menginjak rumah prib
Bohong rasanya jika Shana tidak gugup. Jika bisa, dia ingin melarikan diri sekarang juga. Sayangnya, pria di sampingnya tentu akan melarang. Membuat Shana hanya bisa merutuk dalam hati. Shana pikir pengendalian dirinya sudah yang terbaik, ternyata Ndaru jauh lebih baik. Pria itu terlihat begitu tenang. Seolah pria yang akan mereka temui saat ini bukanlah siapa-siapa. Baiklah, Dito Alamsyah memang bukan siapa-siapa bagi Handaru Atmadjiwo. Namun berbeda dengan Shana, Dito adalah mantan tersial yang pernah ia punya. "Pak, mending kita batalin aja." Akhirnya Shana menyuarakan suara hatinya. Ndaru yang tengah membaca artikel harian bisnis pun menoleh. Tidak bertanya, tetapi alisnya terangkat sebelah. "Dito bahaya, Pak. Ini nggak bener." Shana dengan cepat berdiri sambil meraih tasnya. Sayangnya dengan cepat Ndaru menahan lengannya. Shana tentu terkejut. Dia menoleh dan lagi-lagi tidak ada ekspresi di wajah Ndaru. Pria itu kembali memintanya duduk dengan tenang. "Kamu taku
Berita mengenai pernikahan Handaru Atmadjiwo dan Shana Arkadewi sudah tersebar. Berhasil menjadi perbincangan hangat di semua media. Bukan hanya kalangan elit saja, para butiran netizen pun ikut aktif bersuara. Seperti sudah menjadi acara akbar. Tentu saja, karena pada akhirnya Duda Incaran Satu Indonesia itu melepas status dudanya. Setelah kurang lebih dua tahun lamanya, ternyata Shana Arkadewi yang berhasil mengetuk hatinya. Setidaknya itu kata netizen yang maha tau segalanya. "Udah berusaha keras jadi mbak-mbak independent biar bisa gait Handaru Atmadjiwo, eh doi malah kawin duluan. Potek hati gue #PatahHatiNasional" "#PatahHatiNasional Shana Arkadewi keren sih! Lepas dari buaya langsung dapet si raja hutan. You go girl!" "Mbak Shana, please kasih tau cara dapetin duda kayak Handaru. Gue juga mau satu! #PatahHatiNasional" "Pupus harapan gue jadi anggota keluarga Atmadjiwo. Mbak Shana tolong jaga Handaru, kalau nggak pinjem dulu seratus #PatahHatiNasional" "Gue dari sema
Shana memang tidak banyak ikut andil dalam persiapan pernikahan. Dia hanya memilih kebaya dan kartu undangan. Selebihnya pihak Ndaru yang menjalankan. Namun ia tidak menyangka jika akan banyak hal yang telah dipersiapkan. Bagaimana tidak? Saksi pernikahan mereka adalah orang nomor satu di negeri ini. Seketika Shana bergidik ngeri. Apa perlu seheboh ini hanya untuk pernikahan kontrak? Entah berapa banyak dosa yang akan Shana tanggung. Rasanya begitu berat dan menyesakkan dada. Sebelumnya, Shana sudah menekankan dirinya sendiri jika hidupnya tak akan sama lagi setelah menikah. Namun begitu mengalaminya sendiri, dia tetap terkejut dengan perubahan yang ada. Bahkan perubahannya sampai 180 derajat. "SAH!" ucap para saksi. Mata Shana terpejam. Bukan karena haru, melainkan penyesalan. Mulai sekarang dia tak akan bisa lagi melarikan diri. Meski hanya satu tahun tetapi tetap berat untuk dijalani. Tangan kanan Ndaru tiba-tiba terulur. Dengan bergetar, Shana menerima tangan itu dan me
Pernikahan memang suci. Bisa ada karena rasa cinta yang memiliki. Mengikat dua manusia yang saling mencintai. Berharap akan masa depan yang saling melengkapi. Namun, kadang kala permasalahan hidup tak bisa dihindari. Datang tanpa diminta silih berganti. Membuat manusia hanya bisa menyerahkan diri. Mencari jalan keluar tanpa berpikir dengan jernih. Termasuk dengan mempermainkan pernikahan. Shana tahu jika apa yang ia lakukan adalah perbuatan yang tidak baik. Namun hanya ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan semuanya. Mengatasi semua masalah-masalah yang datang karena aksi nekatnya. Bahkan Shana harus menunda proses produksi sequel film-nya karena berita menghebohkan itu. Tentu kerugian harus dihindari. Apa lagi hubungannya dengan sutradara Dito Alamsyah sangat tidak baik. Ingatkan Shana untuk meminta pergantian sutradara nanti. "Selamat datang, Bu." Lamunan Shana buyar ketika Gilang berbicara. Pria itu membuka lebar pintu rumah yang baru pertama kali Shana kunjungi.
Tidur Shana kali ini benar-benar nyenyak. Hanya dua jam tetapi mampu membuat tubuhnya kembali segar. Setelah bangun, dia mulai membereskan semua barang-barangnya. Shana membongkar kopernya sendiri tanpa menunggu bantuan asisten rumah tangga seperti kata Gilang. Hanya beberapa koper. Shana bisa mengatasinya sendiri. Dia bukan tipe orang yang harus dibantu untuk melakukan hal yang bisa ia lakukan. Entah berapa jam Shana berkutat. Tanpa terasa langit sudah mulai gelap. Seharian dia mengunci diri di kamar. Memindah beberapa perabotan yang tidak cocok di pandangan. Meski hanya satu tahun, Shana akan membuat kamarnya menjadi tempat ternyaman. Hanya di kamar ini dia bebas melakukan apa pun yang ia inginkan. Dering ponsel berbunyi. Shana meraih ponselnya dan melihat nama kakaknya di sana. Mendadak dia mendengkus kesal. Ini sudah ke-7 kalinya Erina menghubunginya. Sepertinya gadis itu masih khawatir dengan dirinya yang tinggal bersama Handaru Atmadjiwo. "Ada apa lagi, Mbak?" "Kenapa
Seperti biasa, Shana kembali terbangun malam ini. Kebiasaan yang cukup membuatnya lelah. Kebiasaan yang mengingatkannya akan masa remajanya yang kelam. Kebiasaan yang mengingatkannya akan rasa kehilangan yang begitu menyesakkan. Yaitu ketika ibunya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. "Mama," gumam Shana memeluk gulingnya erat. Jika ada Erina, mungkin kakaknya yang akan ia peluk. Namun saat ini, di rumah ini, Shana tidak memiliki siapa pun. "Ma," gumam Shana lagi berusaha untuk menutup mata. Biasanya Shana bisa melewati malamnya dengan baik. Namun entah kenapa kali ini berbeda. Mungkin karena banyaknya masalah yang ia hadapi dan malam ini adalah puncaknya. Lalu yang ada air mata mulai jatuh dengan sukarela. Berusaha kembali tidur hanya akan menyiksa diri. Shana harus sibuk dengan sesuatu agar pikirannya teralihkan. Akhirnya dia memutuskan untuk bangkit. Ternyata jam masih menunjukkan pukul satu dini hari. "Oke, Shana. Lo nggak boleh cengeng," ucapnya memberi sem
"Ibu Nancy Isabel, 3 miliar rupiah," ucap pemandu lelang menunjuk seseorang yang Shana yakini merupakan wanita sosialita. "Bapak Vincent Wiranto, 3,3 miliar rupiah!" Jantung Shana seketika berdetak cepat saat mendengar nominal itu. "Ibu Nancy, 3,7 miliar rupiah!" "Kembali ke Bapak Vincent, 4 miliar rupiah. Wah-wah persaingan yang ketat antara Bu Nancy dan Pak Vincent," ucap pemandu dengan diiringi tawa puas. "Tidak terduga, ada Bapak Nendra Hasan di sana dengan angka 5 miliar rupiah!" "Nendra?" Shana menegakkan duduknya. Dia menoleh ke arah di mana pemandu lelang menunjuk dan melihat seorang pria yang sudah lama tak ia lihat. "Mas Nendra?" gumam Shana yang kali ini diiringi dengan senyuman. Mendengar nama yang tak asing di telinga, Ndaru pun ikut menoleh. Tatapannya jatuh pada pria yang duduk bersama anggota keluarganya, bersama Nurdin Hasan. "Jadi dia yang namanya Nendra?" gumam Ndaru pelan. "Pak Ndaru kenal?" Shana menatap Ndaru cepat. Dia mendengar gumamam p
Ndaru tersenyum miring. "Begitu juga saya, Pak. Saya juga tidak akan diam jika ada seseorang yang mengusik keluarga saya." "Oke, sekarang apa yang kamu cari? Tanyakan langsung sama saya? Akan saya jawab." "Siapa yang jamin kalau jawaban jujur yang akan keluar dari mulut Bapak?" "Apa ini tentang proyek besar saya? Atau tentang kakak kamu? Oh, atau keduanya?" Tepat sasaran. Ndaru masih bungkam, bukan karena merasa terintimidasi. Melainkan ia tengah membaca ekspresi wajah Nurdin saat ini. "Kalau itu yang kamu cari, maka jawabannya adalah tidak." Nurdin kembali berbicara. "Saya nggak ada hubungannya dengan kematian Haryadi, kakak kamu." Ndaru mengangguk dengan senyuman tipis. Dia sudah menemukan jawabannya. Nurdin memang terlihat santai dan tak gentar. Namun justru itu yang membuat Ndaru yakin jika Nurdin Hasan memang terlibat. "Kalau begitu saya duluan, istri saya sendirian." Ndaru berlalu melewati Nurdin. "Ah, omong-omong tentang istri." Nurdin menghentikan langka
Acara lelang amal yang dibuat Nurdin Hasan berhasil menjadi trending topic di berbagai sosial media. Semua hal yang ada di dalam acara tersebut mencuri perhatian masyarakat. Mulai dari barang-barang mewah yang akan dilelang, megahnya acara, hingga sampai daftar tamu undangan yang datang. Lalu Handaru, menjadi salah satu tamu yang ramai diperbincangkan. Bak pangeran dari negeri dongeng, banyak kata-kata pujian ditujukan untuk Ndaru. Penampilan pria itu malam ini sangat memukau. Juga ditemani istri yang seperti bidadari, seolah melengkapi kesempurnaan Ndaru malam ini. Bagi para netizen, Handaru Atmadjiwo dan Shana Arkadewi malam ini adalah bintang utama. Jarang muncul di layar kaca dan sekali muncul mampu menggoyahkan iman di dada. Pasangan kontroversi yang lambat laun mulai disenangi oleh para pemuja sosial media. "Saya tau lukisan ini," ucap Shana berhenti di depan lukisan abstrak, salah satu barang mewah yang akan dilelang. Saat ini baik Ndaru dan Shana tengah melihat bara
Acara lelang amal yang dibuat oleh Nurdin Hasan bertema pesta topeng. Meski mendadak, Shana tak perlu kebingungan. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, koleksi butik Gadis Amora akan datang ke rumah beserta dua pegawainya. Satu untuk dirinya dan satu untuk Ndaru. Kali ini Shana memilih dengan tak lagi melihat harga. Toh, Ndaru yang akan mengeluarkan uang untuk pakaiannya. Shana pun memilih model pakaian yang ia suka. Tentunya juga sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Gaun berwarna hitam menjadi pilihan Shana. Panjang hingga mata kaki, tetapi ada belahan yang berhenti di atas lututnya. Menampilkan kaki jenjangnya yang selama ini ia tutupi rapat. Selain itu, gaun itu juga menampilkan lengan bersihnya. Warna gaun yang hitam begitu kontras dengan warna kulitnya. Untuk topeng, Shana memilih topeng bulu berwarna putih. Tema yang ia pilih malam ini adalah black swan. "Sudah selesai. Bu Shana cantik sekali malam ini," ucap pegawai yang juga membantu merias wajahnya. Setuju.
"Mau Kakek suapin?" tawar Harris. Juna menatap sang kakek dengan mata bulatnya. Tampak berkedip pelan seolah mencerna ucapan kakeknya itu. "Mas Juna makan sendiri, ya? Kan udah besar," ucap Shana. Harris mengerutkan dahinya. Dia menatap Shana tidak suka. "Kenapa saya nggak boleh suapin cucu saya sendiri?" tanya Harris galak. Shana menoleh jengah. "Siapa yang ngelarang, sih, Pak? Kan saya cuma mau Mas Juna belajar mandiri dan tanggung jawab habisin makanan yang dia ambil sendiri." "Dia baru dua tahun!" geram Harris ingin melempar Shana dengan anggur hijau. "Lagian tau apa kamu sama tanggung jawab? Jam segini aja baru bangun, wanita macam apa itu?" Shana ikut menatap Harris kesal. "Ya, salahin anak Bapak, dong. Siapa suruh peluk saya kenceng banget? Kan, jadi keterusan tidurnya." Ndaru yang mendengar perdebatan itu hanya bisa memejamkan mata. Tak mau ikut terprovokasi yang akan semakin membuat anaknya bingung. "Jangan salahin anak saya, ya! Seharusnya kamu sadar diri
Handaru sangat menghormati ayahnya. Di matanya, Harris Atmadjiwo adalah seorang panutan yang luar biasa. Bukan hanya sebagai kepala keluarga, tetapi juga untuk ribuan manusia yang tersebar di seluruh Indonesia. Tanpa otak jeniusnya, Atmadjiwo Grup tidak akan pernah ada. Sebagai penerusnya, Ndaru tentu banyak belajar dari ayahnya. Mulai dari cara berbisnis hingga cara mengatasi masalah. Seperti saat ini, Ndaru terjebak pada pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Bukannya panik, Ndaru justru bersikap santai. Menyikapi pertanyaan ayahnya yang terlihat marah itu dengan tenang. Ndaru memilih ruang kerjanya untuk berbicara empat mata. Hanya di tempat ini ayahnya bisa meluapkan kekesalannya dengan leluasa. Lalu Ndaru akan siap mendengarnya. "Bukan hal serius, Pa." "Bukan hal serius gimana? Kamu tidur berdua sama dia, Mas!" "Ada Juna di tengah." Ndaru mengelak. "Tapi yang Papa liat tadi nggak seperti itu." Harris memijat keningnya. "Sebenarnya Papa malu untuk ikut campur masal
Shana memang bukan orang yang rajin, dia mengakui itu. Di akhir pekan, biasanya dia memanfaatkan waktunya untuk bermalas-malasan. Namun kali ini berbeda. Tepat menjelang subuh, mata Shana terbuka dengan sendirinya. Dia terbangun tanpa alarm. Hal yang jarang terjadi pada dirinya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah kepala Juna. Posisi mereka masih sama, saling berpelukan. Bedanya, tak ada lagi Ndaru di sisi ranjang. Tangan Shana mulai meraba, tidak merasakan dingin. Masih ada rasa hangat di sana, artinya Ndaru belum lama pergi. Shana melepas pelukannya dan berbaring terlentang. Menatap langit kamar dengan tatapan menerawang. Memikirkan kejutan yang Shana dapatkan semalam. Bukan karena Ndaru yang meminta maaf terlebih dahulu, melainkan setelahnya, yaitu mengenai Nurdin Hasan. Siapa sangka jika Nurdin Hasan akan mengundang Ndaru? "Sudah bangun?" Lamunan Shana buyar. Dia menoleh dan melihat Ndaru keluar dari kamar mandi kamar Juna dengan wajah basah. "Saya pikir Pa
Shana kembali berbaring sepenuhnya dan memeluk Juna erat. Ndaru mendengkus dan tetep berjalan menuju pintu kamar. Bukan untuk keluar, melainkan untuk menutup pintu rapat. Berhasil, ucapan Shana berhasil membuatnya memilih tinggal malam ini. "Malam ini saja." Ndaru berjalan ke sisi ranjang kosong dan mulai merebahkan diri. Baiklah, tak masalah. Toh, ini bukan yang pertama mereka tidur bersama. Shana tersenyum penuh arti. Matanya begitu sayu karena kantuk yang masih menyerang. "Sebenernya saya masih kesel sama Bapak," bisik gadis itu. Ndaru memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Shana. "Saya juga." "Pak Ndaru nyebelin." "Seharusnya kamu sadar kalau kamu juga menyebalkan." Tersindir memang. Bukannya marah, Shana malah terkekeh. Dia membenarkan ucapan Ndaru. Karena menurut juga bukan hal yang Shana suka. Apalagi pada Handaru Atmadjiwo. "Maaf." Shana yang sudah memejamkan matanya, kembali membuka mata. "Maaf?" Seorang Handaru Atmadjiwo meminta maaf? "Sa
Rasa lelah tak lagi bisa ditahan. Pulang malam selalu jadi kebiasaan. Namun hal itu merupakan kewajiban. Tanggung jawab berat menjadi seorang pemimpin perusahaan. Malam ini Ndaru pulang jam 12 malam. Begitu larut karena dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Sesuai prinsip hidupnya, dia tidak akan membawa pekerjaan ke rumah jika tidak dalam keadaan terdesak. Toh, kesehatan anaknya sudah mulai membaik. Shana juga sudah kembali ke rumah. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi. Setelah membersihkan diri, Ndaru tak langsung merebahkan diri. Dia keluar dari kamar dan menatap pintu kamar Juna dengan ragu. Berpikir apa dia harus masuk untuk melihat keadaan anaknya sebentar? Memang sebagai orang tua, Ndaru tak bisa bersikap tak acuh. Dia tetap melangkah untuk masuk ke dalam kamar Juna. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah dua manusia yang tertidur dengan saling berpelukan. Shana dan Juna, mereka tidur berdua. Ada rasa lega di hati Ndaru melihat ada seseorang yang bisa