Berita mengenai pernikahan Handaru Atmadjiwo dan Shana Arkadewi sudah tersebar. Berhasil menjadi perbincangan hangat di semua media. Bukan hanya kalangan elit saja, para butiran netizen pun ikut aktif bersuara. Seperti sudah menjadi acara akbar. Tentu saja, karena pada akhirnya Duda Incaran Satu Indonesia itu melepas status dudanya. Setelah kurang lebih dua tahun lamanya, ternyata Shana Arkadewi yang berhasil mengetuk hatinya. Setidaknya itu kata netizen yang maha tau segalanya. "Udah berusaha keras jadi mbak-mbak independent biar bisa gait Handaru Atmadjiwo, eh doi malah kawin duluan. Potek hati gue #PatahHatiNasional" "#PatahHatiNasional Shana Arkadewi keren sih! Lepas dari buaya langsung dapet si raja hutan. You go girl!" "Mbak Shana, please kasih tau cara dapetin duda kayak Handaru. Gue juga mau satu! #PatahHatiNasional" "Pupus harapan gue jadi anggota keluarga Atmadjiwo. Mbak Shana tolong jaga Handaru, kalau nggak pinjem dulu seratus #PatahHatiNasional" "Gue dari sema
Shana memang tidak banyak ikut andil dalam persiapan pernikahan. Dia hanya memilih kebaya dan kartu undangan. Selebihnya pihak Ndaru yang menjalankan. Namun ia tidak menyangka jika akan banyak hal yang telah dipersiapkan. Bagaimana tidak? Saksi pernikahan mereka adalah orang nomor satu di negeri ini. Seketika Shana bergidik ngeri. Apa perlu seheboh ini hanya untuk pernikahan kontrak? Entah berapa banyak dosa yang akan Shana tanggung. Rasanya begitu berat dan menyesakkan dada. Sebelumnya, Shana sudah menekankan dirinya sendiri jika hidupnya tak akan sama lagi setelah menikah. Namun begitu mengalaminya sendiri, dia tetap terkejut dengan perubahan yang ada. Bahkan perubahannya sampai 180 derajat. "SAH!" ucap para saksi. Mata Shana terpejam. Bukan karena haru, melainkan penyesalan. Mulai sekarang dia tak akan bisa lagi melarikan diri. Meski hanya satu tahun tetapi tetap berat untuk dijalani. Tangan kanan Ndaru tiba-tiba terulur. Dengan bergetar, Shana menerima tangan itu dan me
Pernikahan memang suci. Bisa ada karena rasa cinta yang memiliki. Mengikat dua manusia yang saling mencintai. Berharap akan masa depan yang saling melengkapi. Namun, kadang kala permasalahan hidup tak bisa dihindari. Datang tanpa diminta silih berganti. Membuat manusia hanya bisa menyerahkan diri. Mencari jalan keluar tanpa berpikir dengan jernih. Termasuk dengan mempermainkan pernikahan. Shana tahu jika apa yang ia lakukan adalah perbuatan yang tidak baik. Namun hanya ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan semuanya. Mengatasi semua masalah-masalah yang datang karena aksi nekatnya. Bahkan Shana harus menunda proses produksi sequel film-nya karena berita menghebohkan itu. Tentu kerugian harus dihindari. Apa lagi hubungannya dengan sutradara Dito Alamsyah sangat tidak baik. Ingatkan Shana untuk meminta pergantian sutradara nanti. "Selamat datang, Bu." Lamunan Shana buyar ketika Gilang berbicara. Pria itu membuka lebar pintu rumah yang baru pertama kali Shana kunjungi.
Tidur Shana kali ini benar-benar nyenyak. Hanya dua jam tetapi mampu membuat tubuhnya kembali segar. Setelah bangun, dia mulai membereskan semua barang-barangnya. Shana membongkar kopernya sendiri tanpa menunggu bantuan asisten rumah tangga seperti kata Gilang. Hanya beberapa koper. Shana bisa mengatasinya sendiri. Dia bukan tipe orang yang harus dibantu untuk melakukan hal yang bisa ia lakukan. Entah berapa jam Shana berkutat. Tanpa terasa langit sudah mulai gelap. Seharian dia mengunci diri di kamar. Memindah beberapa perabotan yang tidak cocok di pandangan. Meski hanya satu tahun, Shana akan membuat kamarnya menjadi tempat ternyaman. Hanya di kamar ini dia bebas melakukan apa pun yang ia inginkan. Dering ponsel berbunyi. Shana meraih ponselnya dan melihat nama kakaknya di sana. Mendadak dia mendengkus kesal. Ini sudah ke-7 kalinya Erina menghubunginya. Sepertinya gadis itu masih khawatir dengan dirinya yang tinggal bersama Handaru Atmadjiwo. "Ada apa lagi, Mbak?" "Kenapa
Seperti biasa, Shana kembali terbangun malam ini. Kebiasaan yang cukup membuatnya lelah. Kebiasaan yang mengingatkannya akan masa remajanya yang kelam. Kebiasaan yang mengingatkannya akan rasa kehilangan yang begitu menyesakkan. Yaitu ketika ibunya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. "Mama," gumam Shana memeluk gulingnya erat. Jika ada Erina, mungkin kakaknya yang akan ia peluk. Namun saat ini, di rumah ini, Shana tidak memiliki siapa pun. "Ma," gumam Shana lagi berusaha untuk menutup mata. Biasanya Shana bisa melewati malamnya dengan baik. Namun entah kenapa kali ini berbeda. Mungkin karena banyaknya masalah yang ia hadapi dan malam ini adalah puncaknya. Lalu yang ada air mata mulai jatuh dengan sukarela. Berusaha kembali tidur hanya akan menyiksa diri. Shana harus sibuk dengan sesuatu agar pikirannya teralihkan. Akhirnya dia memutuskan untuk bangkit. Ternyata jam masih menunjukkan pukul satu dini hari. "Oke, Shana. Lo nggak boleh cengeng," ucapnya memberi sem
Sejak kemarin, Ndaru sudah menempati ruangan kerja Guna di kantor utama. Meski belum resmi menggantikan posisinya, tetapi dia sudah mulai bekerja di sana. Selagi menunggu waktu Guna kosong untuk serah terima jabatan, Ndaru akan belajar beradaptasi. Menjadi pemimpin tidak serta-merta membuatnya bersikap arogan. Biar bagaimana pun Ndaru tetaplah orang baru yang harus menyesuaikan diri dengan budaya kerja yang ada. Seperti saat ini, Ndaru tidak hanya memiliki Gilang yang membantunya. Melainkan ada sekretaris Guna di kantor yang akan bekerja untuknya. Namanya Fajar, sudah bekerja cukup lama untuk kakaknya. Mendengar bagaimana kinerja Fajar dari mulut Guna, Ndaru memutuskan untuk tetap mempekerjakan pria itu. "Ini laporan keuangan yang Bapak minta untuk dua bulan terakhir," ujar Fajar. "Terima kasih." Ndaru mulai membacanya. Kemampuan analisisnya cukup bagus, membuatnya bisa mencari titik lemah yang harus diperhatikan. "Ada keluhan dari para pemilik saham? Saya lihat grafik saham
"Saya butuh privasi untuk keluarga saya." Ndaru mengungkapkan alasannya. "Jika ada kepentingan untuk masuk ke dalam rumah, pastikan hubungi Bibi Lasmi terlebih dulu." "Siap, Pak!" jawab mereka kompak. Toh selama ini untuk tempat tinggal satpam dan sopir memang berada di sisi lain rumah. Berbeda dengan bangunan rumah utama. "Kalian boleh kembali." Setelah para satpam dan sopir berlalu, Gilang berjalan mendekat. "Sebelum pulang, ada yang Pak Ndaru butuhkan?" Ndaru menggeleng. "Saya mau istirahat. Kamu boleh pulang." "Baik, Pak. Saya permisi." Tanpa menunggu Gilang, Ndaru langsung masuk ke dalam rumah. Kakinya tidak langsung melangkah. Dia justru menatap keadaan ruang tamu yang sudah gelap dengan pandangan hampa. Rasanya bukan seperti rumah. Ada sesuatu yang kurang. Namun Ndaru tidak tahu apa itu. Saat akan menaiki tangga menuju lantai dua, Ndaru mendengar suara berisik dari dapur. Tidak ada rasa khawatir atau pun takut. Dia sudah tahu siapa pelakunya. Benar dugaannya, d
Perubahan hidup memang tak bisa dihindarkan. Apa lagi setelah pernikahan. Namun pada kenyataan, tidak ada banyak perubahan. Pada kasus Ndaru dan Shana, semuanya berjalan sesuai kesepakatan. Hari ini Shana bangun jam 11 siang. Dia baru saja memejamkan matanya setelah subuh. Waktu tidurnya benar-benar buruk. Apa lagi setelah tinggal di rumah Ndaru. Kemewahan yang ada belum memberikan ketenangan yang ia damba. Baiklah, Shana akan sedikit meralatnya. Ternyata ada perubahan signifikan yang ia rasakan setelah berada di rumah ini. Dia tidak lagi perlu melakukan pekerjaan rumah seperti saat ia tinggal sendiri. Itu adalah salah satunya, karena sebenarnya masih banyak kebiasaan yang tak lagi ia lakukan. Sambil bersenandung, Shana menuruni anak tangga. Sesekali tangannya bergerak untuk membetulkan kacamata yang bertengger di wajahnya. Sebenarnya pandangan Shana tidak terlalu buruk, hanya saja matanya akan terasa panas tanpa kaca mata. Mungkin karena sudah terbiasa menatap layar laptop sel
Ke mana perginya semua orang? "Shan, aku beneran cinta mati sama kamu. Aku janji, kalau kamu mau balik sama aku, aku akan berubah." "Omong kosong!" Shana mulai berdiri. Dito tidak mau mengalah. Pria itu ikut berdiri dan terus memohon pada Shana. Namun wajah memelas itu justru membuat Shana ketakutan. Dia tidak lagi bodoh seperti dulu. Dito adalah manusia manipulatif dan Shana tidak akan tertipu lagi. "Shan—" Dito kali ini berhasil meraih tangan Shana. Saat Shana akan berteriak, pria itu membungkam mulut Shana dengan tangannya. "Jangan teriak, Shan. Kamu tau apa yang akan terjadi kalau orang-orang tau kita cuma berdua di ruangan ini." "Sialan! Lepasin gue!" Shana berusaha memberontak. "Aku cuma mau kamu maafin aku. Kita mulai semuanya dari awal, ya?" "Orang gila!" Belum sempat Shana mendorong Dito, pria itu lebih dulu terdorong menjauh. Sepertinya doa Shana di dengar oleh Tuhan. Secara tiba-tiba Roro berada di hadapannya dan berusaha untuk melindunginya. "Janga
Pagi ini Shana bangun lebih pagi. Tidak lagi bermalas-malasan seperti hari sebelumnya. Hari ini ia akan melakukan kunjungan rutin ke lokasi syuting. Kebetulan lokasi syuting juga tidak dilakukan di luar kota sehingga Shana bisa datang untuk sekedar melihat mahakaryanya. Ada rasa enggan sebenarnya. Tentu saja karena Dito, mantan kekasih gilanya. Namun setelah Ndaru meminta Shana mengganti nomor ponsel, Dito tak lagi berulah. Namun justru itu membuat Shana takut. Entah apa lagi yang akan pria itu lakukan saat mereka bertemu nanti. "Pagi, Bi," sapa Shana memasuki ruang makan. "Selamat pagi, Bu," balas Bibi Lasmi yang tengah menyiapkan makanan. Shana menatap ke sekitar dengan bingung. Keheningan yang ada membuatnya bertanya-tanya. Ke mana perginya semua penghuni rumah? "Kok sepi, Bi? Mas Juna belum bangun?" "Kayaknya belum, Bu. Semalem agak rewel mau nunggu Bapak sama Ibu pulang tapi akhirnya ketiduran juga meskipun udah malem banget." Shana meringis. Meski pulang lebih
"Ibu Nancy Isabel, 3 miliar rupiah," ucap pemandu lelang menunjuk seseorang yang Shana yakini merupakan wanita sosialita. "Bapak Vincent Wiranto, 3,3 miliar rupiah!" Jantung Shana seketika berdetak cepat saat mendengar nominal itu. "Ibu Nancy, 3,7 miliar rupiah!" "Kembali ke Bapak Vincent, 4 miliar rupiah. Wah-wah persaingan yang ketat antara Bu Nancy dan Pak Vincent," ucap pemandu dengan diiringi tawa puas. "Tidak terduga, ada Bapak Nendra Hasan di sana dengan angka 5 miliar rupiah!" "Nendra?" Shana menegakkan duduknya. Dia menoleh ke arah di mana pemandu lelang menunjuk dan melihat seorang pria yang sudah lama tak ia lihat. "Mas Nendra?" gumam Shana yang kali ini diiringi dengan senyuman. Mendengar nama yang tak asing di telinga, Ndaru pun ikut menoleh. Tatapannya jatuh pada pria yang duduk bersama anggota keluarganya, bersama Nurdin Hasan. "Jadi dia yang namanya Nendra?" gumam Ndaru pelan. "Pak Ndaru kenal?" Shana menatap Ndaru cepat. Dia mendengar gumamam p
Ndaru tersenyum miring. "Begitu juga saya, Pak. Saya juga tidak akan diam jika ada seseorang yang mengusik keluarga saya." "Oke, sekarang apa yang kamu cari? Tanyakan langsung sama saya? Akan saya jawab." "Siapa yang jamin kalau jawaban jujur yang akan keluar dari mulut Bapak?" "Apa ini tentang proyek besar saya? Atau tentang kakak kamu? Oh, atau keduanya?" Tepat sasaran. Ndaru masih bungkam, bukan karena merasa terintimidasi. Melainkan ia tengah membaca ekspresi wajah Nurdin saat ini. "Kalau itu yang kamu cari, maka jawabannya adalah tidak." Nurdin kembali berbicara. "Saya nggak ada hubungannya dengan kematian Haryadi, kakak kamu." Ndaru mengangguk dengan senyuman tipis. Dia sudah menemukan jawabannya. Nurdin memang terlihat santai dan tak gentar. Namun justru itu yang membuat Ndaru yakin jika Nurdin Hasan memang terlibat. "Kalau begitu saya duluan, istri saya sendirian." Ndaru berlalu melewati Nurdin. "Ah, omong-omong tentang istri." Nurdin menghentikan langka
Acara lelang amal yang dibuat Nurdin Hasan berhasil menjadi trending topic di berbagai sosial media. Semua hal yang ada di dalam acara tersebut mencuri perhatian masyarakat. Mulai dari barang-barang mewah yang akan dilelang, megahnya acara, hingga sampai daftar tamu undangan yang datang. Lalu Handaru, menjadi salah satu tamu yang ramai diperbincangkan. Bak pangeran dari negeri dongeng, banyak kata-kata pujian ditujukan untuk Ndaru. Penampilan pria itu malam ini sangat memukau. Juga ditemani istri yang seperti bidadari, seolah melengkapi kesempurnaan Ndaru malam ini. Bagi para netizen, Handaru Atmadjiwo dan Shana Arkadewi malam ini adalah bintang utama. Jarang muncul di layar kaca dan sekali muncul mampu menggoyahkan iman di dada. Pasangan kontroversi yang lambat laun mulai disenangi oleh para pemuja sosial media. "Saya tau lukisan ini," ucap Shana berhenti di depan lukisan abstrak, salah satu barang mewah yang akan dilelang. Saat ini baik Ndaru dan Shana tengah melihat bara
Acara lelang amal yang dibuat oleh Nurdin Hasan bertema pesta topeng. Meski mendadak, Shana tak perlu kebingungan. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, koleksi butik Gadis Amora akan datang ke rumah beserta dua pegawainya. Satu untuk dirinya dan satu untuk Ndaru. Kali ini Shana memilih dengan tak lagi melihat harga. Toh, Ndaru yang akan mengeluarkan uang untuk pakaiannya. Shana pun memilih model pakaian yang ia suka. Tentunya juga sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Gaun berwarna hitam menjadi pilihan Shana. Panjang hingga mata kaki, tetapi ada belahan yang berhenti di atas lututnya. Menampilkan kaki jenjangnya yang selama ini ia tutupi rapat. Selain itu, gaun itu juga menampilkan lengan bersihnya. Warna gaun yang hitam begitu kontras dengan warna kulitnya. Untuk topeng, Shana memilih topeng bulu berwarna putih. Tema yang ia pilih malam ini adalah black swan. "Sudah selesai. Bu Shana cantik sekali malam ini," ucap pegawai yang juga membantu merias wajahnya. Setuju.
"Mau Kakek suapin?" tawar Harris. Juna menatap sang kakek dengan mata bulatnya. Tampak berkedip pelan seolah mencerna ucapan kakeknya itu. "Mas Juna makan sendiri, ya? Kan udah besar," ucap Shana. Harris mengerutkan dahinya. Dia menatap Shana tidak suka. "Kenapa saya nggak boleh suapin cucu saya sendiri?" tanya Harris galak. Shana menoleh jengah. "Siapa yang ngelarang, sih, Pak? Kan saya cuma mau Mas Juna belajar mandiri dan tanggung jawab habisin makanan yang dia ambil sendiri." "Dia baru dua tahun!" geram Harris ingin melempar Shana dengan anggur hijau. "Lagian tau apa kamu sama tanggung jawab? Jam segini aja baru bangun, wanita macam apa itu?" Shana ikut menatap Harris kesal. "Ya, salahin anak Bapak, dong. Siapa suruh peluk saya kenceng banget? Kan, jadi keterusan tidurnya." Ndaru yang mendengar perdebatan itu hanya bisa memejamkan mata. Tak mau ikut terprovokasi yang akan semakin membuat anaknya bingung. "Jangan salahin anak saya, ya! Seharusnya kamu sadar diri
Handaru sangat menghormati ayahnya. Di matanya, Harris Atmadjiwo adalah seorang panutan yang luar biasa. Bukan hanya sebagai kepala keluarga, tetapi juga untuk ribuan manusia yang tersebar di seluruh Indonesia. Tanpa otak jeniusnya, Atmadjiwo Grup tidak akan pernah ada. Sebagai penerusnya, Ndaru tentu banyak belajar dari ayahnya. Mulai dari cara berbisnis hingga cara mengatasi masalah. Seperti saat ini, Ndaru terjebak pada pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Bukannya panik, Ndaru justru bersikap santai. Menyikapi pertanyaan ayahnya yang terlihat marah itu dengan tenang. Ndaru memilih ruang kerjanya untuk berbicara empat mata. Hanya di tempat ini ayahnya bisa meluapkan kekesalannya dengan leluasa. Lalu Ndaru akan siap mendengarnya. "Bukan hal serius, Pa." "Bukan hal serius gimana? Kamu tidur berdua sama dia, Mas!" "Ada Juna di tengah." Ndaru mengelak. "Tapi yang Papa liat tadi nggak seperti itu." Harris memijat keningnya. "Sebenarnya Papa malu untuk ikut campur masal
Shana memang bukan orang yang rajin, dia mengakui itu. Di akhir pekan, biasanya dia memanfaatkan waktunya untuk bermalas-malasan. Namun kali ini berbeda. Tepat menjelang subuh, mata Shana terbuka dengan sendirinya. Dia terbangun tanpa alarm. Hal yang jarang terjadi pada dirinya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah kepala Juna. Posisi mereka masih sama, saling berpelukan. Bedanya, tak ada lagi Ndaru di sisi ranjang. Tangan Shana mulai meraba, tidak merasakan dingin. Masih ada rasa hangat di sana, artinya Ndaru belum lama pergi. Shana melepas pelukannya dan berbaring terlentang. Menatap langit kamar dengan tatapan menerawang. Memikirkan kejutan yang Shana dapatkan semalam. Bukan karena Ndaru yang meminta maaf terlebih dahulu, melainkan setelahnya, yaitu mengenai Nurdin Hasan. Siapa sangka jika Nurdin Hasan akan mengundang Ndaru? "Sudah bangun?" Lamunan Shana buyar. Dia menoleh dan melihat Ndaru keluar dari kamar mandi kamar Juna dengan wajah basah. "Saya pikir Pa