Share

Bab 8

Penulis: Hangga
Rafa awalnya mengira ini adalah pertanyaan serius, sehingga dia berkata dengan percaya diri, "Tentu saja bisa! Tapi aku harus lihat dulu, apakah itu wasir internal, eksternal, atau kombinasi."

Arumi langsung tertawa keras, "Kak Vina, ayo tunjukkan wasirmu sama Rafa!"

"Sembuhkan saja dulu mulut busukmu itu!" maki Vina yang sama kejamnya.

"Tapi kalau Rafa benar-benar bisa menyembuhkannya, aku juga nggak akan keberatan. Dua puluh tahun yang lalu, waktu Rafa baru lahir, ibunya kekurangan ASI dan membawanya ke rumahku untuk minta susu! Jadi, dalam pandanganku, Rafa ini seperti anakku sendiri!"

Rafa langsung cemberut dan memotong canda gurau beberapa orang itu, "Kalau mau berobat, lakukan saja. Jangan bahas masa lalu!"

"Aku cuma minum beberapa tetes susu waktu kecil. Nggak berarti aku harus jadi anakmu sekarang, 'kan? Nggak adil!"

"Wih, anak bodoh ini sudah tahu malu sekarang," ledek Vina sambil tertawa.

Rafa sebenarnya ingin terus membahas soal wasir, siapa tahu bisa menarik pelanggan dan mendapatkan pasien lebih banyak. Namun tiba-tiba, dia merasakan sesuatu yang panas di perutnya.

Sial, Alice mengompol di saat-saat seperti ini!

"Aku pulang dulu. Kalian bisa cari aku kalau mau berobat, aku bisa sembuhin semuanya!" Rafa melambaikan tangan, lalu cepat-cepat membawa Alice pulang.

Di kamar mandi kecil di belakang rumah, Miko sedang memandikan ibu mertuanya. Dia baru saja selesai membersihkan semuanya.

"Kak Miko, Alice ngompol. Aku bawa dia pulang untuk ganti popok. Aku juga jadi basah, jadi mau pulang untuk mandi dan ganti baju," ujar Rafa sambil menyerahkan Alice kepada Miko.

"Tadi sudah kubilang jangan lupa kasih dia kencing dulu, tapi kamu nggak dengar." Miko melihat noda kencing di dada dan perut Rafa, lalu tersenyum. "Nggak masalah. Dikencingi anak angkat sendiri, itu namanya keberuntungan! Orang lain belum tentu mendapat kehormatan seperti ini."

"Benar juga yang Kakak bilang. Ayo cepat mandikan Alice, aku mau ganti baju." Rafa tersenyum, lalu pergi menimba air untuk mandi di kamarnya sendiri.

Sebelum makan malam, Rafa menemani ibunya di kamar untuk mengobrol sejenak sambil membantunya melakukan terapi pemulihan. Sang ibu masih sulit percaya bahwa Rafa sudah sembuh total.

Dia terus mengajukan berbagai pertanyaan dan mencoba menguji apakah Rafa benar-benar sudah kembali normal.

Namun, Rafa menjawab semuanya dengan lancar, jelas, dan masuk akal. Setelah mendengarnya, barulah ibu Rafa menarik tangan putranya dan berlinang air mata.

"Rafa, sekarang keluarga kita cuma bergantung sama kakak iparmu dan kamu. Jangan macam-macam, dan jangan buat dia marah, mengerti?"

"Tenang saja, Ibu. Aku pasti akan jaga Kak Miko dan kamu," hibur Rafa.

Setelah makan malam, Rafa kembali ke kamarnya, lalu mulai mengatur semua obat-obatan yang dia miliki. Dia menyusun semuanya berdasarkan jenis dan kegunaannya, serta memastikan semuanya tertata rapi.

Miko duduk di samping sambil menggendong Alice dengan tersenyum. Sambil mengawasi, dia juga mulai bertanya tentang berbagai obat yang sedang ditata Rafa.

Duk duk duk!

"Rafa bodoh, buka pintunya!" Terdengar suara Arumi dari luar pintu memanggilnya, "Cepat buka pintu! Aku ada keperluan sama kamu ...."

"Ah, Kak Arumi?"

Rafa tiba-tiba teringat sesuatu. Tadi pagi, dia sudah membantu Arumi mengangkat beras ketan. Dia bilang akan memberi Rafa sesuatu yang enak untuk dimakan, tapi Rafa malah lupa! Apa Arumi benar-benar sebaik itu sampai mengantarkan makanannya?

Begitu pintu terbuka sedikit, Arumi langsung masuk dengan terburu-buru. "Rafa, kamu benaran bisa ngobatin penyakit nggak? Tubuhku gatal sekali, coba bantu aku periksa!"

Rafa mengernyit, menatap Arumi dengan penuh perhatian. Dia hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek. Di sekujur tubuhnya terlihat banyak bekas garukan dan wajahnya juga memerah.

"Aku juga nggak tahu kenapa. Waktu pulang dari main kartu, tubuhku mulai gatal. Tadinya aku kira bakalan sembuh setelah mandi. Tapi setelah mandi, seluruh tubuhku jadi gatal-gatal dan sakit. Bahkan terkena angin atau baju pun terasa sakit."

"Ternyata mau berobat, ya. Kukira Kak Arumi ngantarin makanan enak kasih aku." Rafa mencibir, lalu menarik kursi panjang dan menyuruhnya duduk.

Arumi menyeringai. "Rafa, kalau kamu benar-benar bisa menyembuhkanku, besok aku akan sembelih ayam dan siapkan arak untukmu!"

"Ingat janjimu ya," ucap Rafa sambil tersenyum, lalu mulai memeriksa denyut nadi Arumi.

Sementara itu, Arumi terus menggeliat dan gemetaran.

Dua menit kemudian, Rafa melepaskan tangannya dan menghela napas. "Astaga .... Kamu keracunan."

"Apa? Keracunan?" Arumi terkejut sejenak. "Tapi aku nggak melakukan apa-apa! Aku nggak nyentuh pestisida atau racun apa pun! Kamu nggak lagi nakut-nakutin aku, 'kan?"

"Kamu yang bodoh." Rafa melempar tatapan sinis, lalu menjelaskan dengan santai, "Denyut nadimu nggak teratur, terkadang cepat, terkadang lambat. Ini jelas tanda-tanda keracunan."

"Tapi tenang saja, racunnya cuma di permukaan kulit, belum sampai ke hati. Kamu nggak akan mati. Aku bisa menyembuhkannya."

"Kalau begitu, cepat sembuhkan aku!" seru Arumi.

Rafa mengitari Arumi dan mengamatinya dari berbagai sudut. Tiba-tiba, dia mengulurkan tangan dan menyapu lengannya dengan lembut.

"Sshh ...." Arumi kesakitan hingga meringis.

Rafa memejamkan matanya untuk berpikir sejenak. Kemudian, dia tiba-tiba menemukan ide. "Aku tahu apa yang terjadi!"

"Ada apa?" tanya Arumi.

Rafa mengangguk. "Tadi sore, Kak Arumi main kartu di bawah pohon besar. Di pohon itu ada sejenis ulat berbulu hijau. Bulu dari ulat itu jatuh ke tubuhmu, menyebabkan gatal dan nyeri di seluruh kulit. Reaksi ini adalah bentuk alergi karena racun serangga di permukaan kulit."

"Kemudian waktu kamu mandi, kamu pakai handuk yang sudah terkena bulu ulat. Jadi bukan hanya sebagian tubuh yang kena, tapi seluruh badanmu ikut gatal!"

Arumi terdiam sejenak, lalu terkejut. "Benar! Rasanya memang seperti ada ulat bulu yang merayap di kulitku!"

Setelah berhenti sejenak, Arumi kembali bertanya, "Tapi, Mina dan yang lainnya juga ikut main kartu sama aku. Kenapa mereka baik-baik saja?"

Mina juga merupakan warga Desa Kenanga. Dia baru menikah dan tinggal di desa ini tahun lalu.

Rafa menjawab dengan asal, "Karena tubuhmu banyak bulu."

Wajah Arumi langsung memerah, "Kamu ngomong sembarangan ...."

Miko juga tertawa kecil mendengarnya.

"Nggak, kok." Rafa menjawab dengan ekspresi serius, "Racun dari ulat berbulu masuk ke dalam kulit melalui folikel rambut. Semakin banyak bulu halus di kulit, semakin kuat reaksi alerginya."

"Selain itu, setiap orang punya tingkat sensitivitas berbeda terhadap racun serangga. Ada yang kebal, ada juga yang langsung terkena alergi."

Arumi merasa penjelasannya masuk akal, kemudian mendesaknya, "Kalau begitu cepat sembuhkan aku!"

Rafa mengambil satu butir obat antihistamin dan menyerahkannya kepada Arumi. "Sebenarnya, kalau kamu diam saja dan nggak melakukan apa-apa, gatal ini akan hilang sendiri dalam semalam. Tapi kalau mau langsung sembuh, caranya agak merepotkan."

"Aku harus menggunakan selotip untuk mengangkat semua bulu ulat yang menempel di kulitmu."

Arumi sudah tidak tahan, tubuhnya terus terasa gatal dan nyeri. "Cepat lakukan! Jangan banyak bicara!"

Rafa menghela napas, lalu mencari gulungan selotip bening. "Baiklah, tidurlah di ranjangku, biar kubantu tempelin."

Tanpa ragu sedikit pun, Arumi langsung berbaring di ranjang Rafa.

Miko tertawa kecil sambil menggendong Alice. "Aku tidurin Alice dulu. Kak Arumi, jangan malu-malu. Biarkan Rafa bekerja dengan tenang."

Arumi tidak merasa malu sama sekali. Dia melambaikan tangan dan berkata, "Cepat pergi sana, jangan ganggu aku berobat."

Rafa mulai merobek selotip bening dan menempelkannya di berbagai bagian tubuh Arumi. Lalu, dia menariknya dengan kuat!

"Sshh ... ah!!" Arumi kesakitan hingga berteriak keras.

"Kak Arumi, jangan teriak! Kalau ada yang dengar, nanti dikira aku lagi berbuat macam-macam padamu." Rafa mengingatkan.

Arumi menggertakkan giginya menahan rasa sakit dan mengangguk.

Setelah bagian tubuh yang terbuka selesai ditangani, kini tersisa bagian yang tertutup pakaian. Rafa berhenti sejenak, lalu menyerahkan gulungan selotip kepada Arumi.

"Kak Arumi, untuk sisanya, aku nggak bisa bantu lagi. Kamu lakukan saja sendiri waktu pulang nanti."

"Kenapa nggak bisa? Kamu dokter, aku nggak takut." Arumi tersenyum dan melepas pakaiannya, "Ayo cepat, sudah tengah malam nih."

Bokongnya yang sintal dan montok, terpampang di hadapan Rafa. Biasanya Rafa tidak menyadarinya. Tubuh Arumi tidak terlalu gemuk, tak disangka ternyata dia cukup berisi.

'Benar juga, aku ini dokter. Apa yang perlu ditakutkan?' Rafa menenangkan diri, lalu melanjutkan pengobatannya.

Seperti membalik CD, Rafa mulai dari sisi depan, lalu meminta Arumi membalik badan untuk menyelesaikan sisi belakang.

Namun, seiring berjalannya waktu, Rafa merasa tubuhnya semakin panas. Keringat mulai mengalir di dahinya. Bagaimanapun juga, Arumi memiliki tubuh yang sangat menawan, sulit untuk tetap tidak terpengaruh!

Sepuluh menit berlalu. Akhirnya, semuanya selesai. Rafa menyeka keringat di dahinya, lalu segera membalikkan badan. "Sudah, Kak Arumi, kamu sudah boleh bangun."

Arumi duduk dan mulai mengenakan bajunya. Dia menggerakkan lengan dan mengusap kulitnya. "Hehe, sudah baikan nih. Rafa, kamu benar-benar sudah bisa jadi seorang dokter!"

"Aku memang dokter, kok. Kak Arumi, ingat promosikan aku nanti. Kalau sudah menghasilkan uang, aku akan traktir kamu."

"Oke, nggak masalah!"

Arumi mengangguk dan melihat langit di luar jendela. "Sudah tengah malam. Rafa, antarkan aku pulang. Aku takut gelap."

Rafa mengangguk. "Oke, aku antarkan."

Berhubung Rafa masih berharap Arumi akan merekomendasikannya ke orang lain, dia tidak boleh sampai menyinggung Arumi.

Arumi tinggal di barisan paling belakang desa. Untuk pulang, dia harus melewati jalan kecil di bagian timur desa, sekitar 200 meter jauhnya.

Keduanya berjalan berdampingan di bawah cahaya bulan. Saat melewati ladang jagung di depan desa, tiba-tiba terlihat sesosok bayangan di kejauhan.

Di bawah sinar bulan, pria itu berjalan santai dengan sebatang rokok terselip di bibirnya.

Arumi tersentak kaget. Dia langsung menarik Rafa ke dalam ladang jagung dan berbisik, "Jangan bersuara! Itu si tua bangka dari rumahku!"

Rafa tercengang. Kemudian, dia baru menyadari di depannya adalah ayah mertua Arumi, yaitu Hendru.

Namun, kenapa mereka harus bersembunyi?

Bab terkait

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 9

    Arumi menarik Rafa lebih dalam ke ladang jagung. Dia menekan bahu Rafa, memaksanya berjongkok, lalu berbisik di telinganya, "Kalau si tua bangka itu lihat kita, pasti dia akan nuduh kita melakukan hal yang nggak-nggak.""Kamu tahu sendiri, 'kan? Si tua bangka ini berengsek sekali. Dia punya niat buruk padaku. Setiap hari dia selalu cari kesempatan untuk menjebakku!"Rafa tiba-tiba teringat sesuatu. Suami Arumi memang selalu bekerja di luar kota dan jarang pulang. Sementara itu, ayah mertuanya pernah punya niat jahat terhadapnya.Tahun lalu, Hendru bahkan pernah menyelinap di bawah ranjangnya saat dia mandi. Begitu Arumi keluar, pria tua itu langsung menerkamnya dan ingin melakukan hal tidak senonoh.Tapi siapa sangka, Arumi bukan tipe perempuan yang mudah ditindas. Dia berhasil melawan, melepaskan diri, lalu menghajarnya habis-habisan dengan sandal. Bahkan, dia sempat mengejar pria tua itu keliling desa sehingga membuat Hendru dipermalukan habis-habisan.Insiden ini menjadi bahan gosip

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 10

    Mega menjadi tidak sabar dan mulai memberi isyarat dengan tangan di dadanya."Itu lho, yang terbuat dari plastik, ada corong yang ditempelkan ke dada, lalu ada bola kecil di belakangnya. Kalau dipencet, udara di dalamnya keluar, menciptakan tekanan udara untuk menyedot ASI ...."Rafa akhirnya mengerti. "Oh, maksudmu pompa ASI? Kenapa nggak bilang dari tadi?""Iya, itu dia!"Mega terkekeh. "Ternyata otakmu nggak terlalu bodoh juga, Rafa.""Kamu juga nggak mau menikah sama aku, terus kenapa peduli aku bodoh atau nggak?"Rafa bergumam sambil menggendong Alice dan masuk ke kamar kakak iparnya. "Sepertinya kakak iparku pernah pakai benda itu. Aku coba cari dulu."Mega mengikutinya masuk, lalu meninju lengan Rafa pelan. "Kalau kamu nggak bodoh, aku pasti mau nikah sama kamu!"Serius, nih?Rafa langsung berbalik, menatap mata Mega dengan serius. "Mega, kamu serius?""Tentu saja! Aku selalu menepati janji."Mega membusungkan dadanya dengan percaya diri, lalu menyeringai. "Tapi masalahnya, kamu

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 11

    Rafa menarik tangannya kembali dan tersenyum santai. "Aku mengerti, Kak Hana. Kamu bisa kembali sekarang."Hana tertegun. Dia tidak menyangka Rafa bisa setenang ini! Namun, setelah berpikir sejenak, dia menyadari sesuatu.'Benar juga. Dia kan bodoh. Mana mungkin dia mengerti betapa seriusnya masalah ini?'Namun, Miko benar-benar panik. Dia buru-buru berkata pada Hana, "Aku mengerti, Hana. Terima kasih sudah datang ngasih tahu kami. Kamu pergi saja dulu, aku akan suruh Rafa bersembunyi atau cari cara lain.""Baiklah, aku pergi dulu. Kalian benar-benar harus berhati-hati. Ini bukan main-main ...."Hana melangkah pergi dengan sesekali menoleh ke belakang. Air matanya masih mengalir deras.Begitu Hana pergi, Miko segera mengambil keputusan. "Rafa, kamu segera pergi ke gunung dan sembunyi di sana. Aku pergi cari Pak Hansen dulu, kalau itu nggak berhasil, aku akan ke kota untuk melapor ke polisi. Aku nggak percaya kalau hukum sudah nggak berlaku di desa ini!"Meskipun Miko terlihat tenang da

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 12

    Karena tidak tinggal di desa yang sama, Karno dan Tono tidak mengenali Rafa.Melihat Rafa, Hana ingin memperingatkannya untuk segera kabur. Namun, karena mulutnya masih dibungkam, dia hanya bisa menggelengkan kepala dengan panik dan berusaha memberi isyarat."Lepaskan Kak Hana!" Rafa menunjuk ke arah Karno."Kak Hana?" Tono menatap Rafa dengan sinis, lalu terkekeh. "Bocah, aku tadi tanya siapa kamu, tapi kamu belum jawab.""Aku adalah si bodoh yang kalian cari." Rafa menatap Tono, lalu bertanya, "Katanya kamu mau habisi aku, ya?""Astaga! Bocah ini malah datang sendiri?"Tono dan Karno saling berpandangan dan terkejut sejenak, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Ini benar-benar kesempatan emas. Seperti mangsa yang mengantarkan diri pada predator!Sekarang, mereka bisa menghajar Rafa habis-habisan, lalu memutar balik cerita dan mengatakan bahwa Rafa yang duluan menerobos ke rumah Angga untuk membuat keributan.Rafa tertawa lugu. "Iya, kalian mau cari aku, tentu saja aku harus datang

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 13

    Tono dan yang lainnya mulai sadar, tetapi mereka hanya bisa merangkak lemas di lantai, seolah-olah semua kekuatan dalam tubuh mereka telah lenyap.Sementara itu, Rafa mengambil kembali pisau dapur dari tangan Hana dan meletakkannya di atas meja.Lalu, dia tersenyum dan berkata, "Kak Hana lapar, bukan? Kebetulan Angga si bajingan ini sudah beli bir dan lauk. Ayo kita makan sambil mengobrol."Aroma lauk yang diolah dengan bumbu khas menggoda perut Rafa.Sementara itu, Hana masih gemetar ketakutan, dia sama sekali tidak berniat untuk makan. "Rafa ... kenapa mereka seperti ini?""Oh, mereka sekarang sudah jadi anjing. Jadi kita makan dulu, nanti kita bisa kasih mereka sedikit tulang."Tanpa basa-basi, Rafa menarik Hana untuk duduk di bangku panjang, lalu mengambil sendok dan menyajikan lauk yang ada di meja, kemudian membuka tutup bir dingin."Kak Hana, mari bersulang!" Rafa mengangkat botol dan meneguk birnya dalam sekali minum.Bir ini masih dingin, nikmat sekali!Lauk yang tersedia juga

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 14

    Rafa dipeluk erat oleh Hana, membuat pikirannya sedikit buntu.Dalam hati, dia berpikir, 'Terima kasih karena nggak menganggapku bodoh! Meskipun begitu, aku nggak bisa bawa kamu kabur, dong! Kalau aku pergi, bagaimana dengan ibuku dan Kak Miko?'"Rafa, sebenarnya aku baru berusia 24 tahun. Cuma lebih tua tiga atau empat tahun darimu ...." Hana mencium wajah Rafa dengan penuh ketulusan."Kita bisa meninggalkan desa ini dan kerja di kota. Kita pasti bisa menghidupi diri sendiri. Kalau kamu nggak mau kerja, aku yang kerja untuk menafkahimu. Aku bersumpah akan mencintaimu selamanya dan nggak akan pernah berpaling!""Oh, tidak!" Rafa tiba-tiba sadar dan mendorong Hana menjauh.Kemudian, dia mengusap wajahnya, "Kak Hana, kamu harus tenang dulu .... Soal Bilham, kamu nggak usah khawatir. Aku bisa atasi urusanku sendiri. Tapi aku nggak bisa bawa kamu pergi. Aku masih punya keluarga yang harus aku jaga."Hana terdiam dan wajahnya menjadi muram.Benar juga .... Sekarang aku sudah jadi wanita yan

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 15

    Setelah menerima instruksi tersebut, Tono dan yang lainnya segera pulang untuk menyembuhkan luka mereka masing-masing. Selain itu, mereka juga menghubungi kenalan mereka untuk menyelidiki latar belakang Rafa.Di Desa Kenanga.Setelah tidur siang, Rafa merasa segar kembali.Di halaman belakang rumah, dia mulai merapikan tanaman herbal yang sudah dikumpulkannya. Setelah dijemur, sebagian besar tanaman itu masih perlu diproses lebih lanjut sebelum disimpan untuk penggunaan nanti.Tak lama kemudian, Miko datang dan berjongkok di seberangnya sambil membantu menyortir dan merapikan tanaman tersebut.Sambil bekerja, dia berkata, "Rafa, keterampilanmu memang luar biasa. Setelah minum obat racikanmu, aku merasa jauh lebih baik."Rafa tersenyum. "Itu bukan apa-apa, Kak Miko. Kalau nanti aku bisa buka klinik dan punya uang, aku akan meracik obat khusus untuk Ibu. Dengan begitu, penyakitnya bisa sembuh total dan dia bisa berjalan lagi."Miko tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Jangan membual.

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 16

    "Bukannya kamu sendiri yang bilang mau punya 18 istri untuk melayaniku?" Miko melirik Rafa dengan senyum nakal, lalu menggoda, "Arumi dan Kanaya baru dua orang, masih kurang 16 lagi. Kamu harus terus berusaha!""Baiklah, kalau begitu aku berusaha terus." Rafa mengangguk, lalu pergi meracik obat untuk Kanaya.Namun, di dalam hati, Miko hanya bisa menghela napas panjang.Bukan karena Miko terus-menerus berpindah hati antara Mega dan Kanaya. Hanya saja, keluarga mereka terlalu miskin. Miko sangat khawatir Rafa tidak bisa mendapatkan istri dan akan tetap melajang seumur hidup.Bagi Miko, siapa pun yang bersedia menikah dengan Rafa, baik itu Arumi maupun Kanaya, semuanya tidak masalah! Sejak dulu, orang miskin tidak bisa pilih-pilih dalam mencari istri. Bahkan jika yang datang adalah seorang janda, asalkan mau menikah dengan Rafa, Miko pasti akan setuju.Sebagai kakak ipar, dia harus bertanggung jawab untuk memastikan adik iparnya menikah dan berkeluarga.Setelah selesai meracik obat, Rafa

Bab terbaru

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 50

    Kanaya menghela napas. "Ayahku tadi sedang mengangkut kotoran ternak untuk menyuburkan jagung.""Benar-benar lebih memilih uang daripada nyawa." Rafa menggeleng. "Di cuaca sepanas ini, jalan tanpa beban saja sudah tersiksa, apalagi harus mengangkut kotoran!""Itu semua salahmu, Kak." Kanaya meliriknya dengan tatapan penuh keluhan. "Kamu memberikan lima kepala sapi kepada Kak Alzam, supaya dia menggembalakan sapi-sapimu. Karena itu, dia nggak sempat membantu Ayah di ladang, jadi Ayah harus bekerja lebih keras hingga akhirnya dehidrasi.""Uh ...." Wajah Rafa memanas. Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga. Untung saja Rahman tidak sampai kehilangan nyawa. Kalau tidak, Rafa akan merasa berutang budi seumur hidup!Namun, Kanaya tiba-tiba tersenyum jahil dan berbisik, "Aku cuma bercanda. Kamu sendiri tahu, Kak Alzam pemalas. Sekalipun dia nggak menggembalakan sapimu, dia tetap nggak akan membantu Ayah di ladang.""Ya juga sih." Rafa merasa lega. Memang benar, Alzam terkenal malas. Di rumah

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 49

    Ternyata penyakit wanita, pantas saja wajahnya memerah!"Tentu saja aku bisa mengobatinya. Aku ini dokter umum, semua penyakit bisa kutangani," ujar Rafa sambil mengangguk.Kemudian, dia mengerutkan kening. "Siti, tadi aku sudah periksa denyut nadimu. Sepertinya kamu nggak mengalami masalah kesehatan wanita."Bukan hanya tadi, sebelumnya pun dia sudah memeriksa nadi Siti, tetapi tidak menemukan tanda-tanda penyakit."Oh, bukan aku ... tapi temanku ...." Wajah Siti semakin merah."Bukan kamu? Lalu, kenapa wajahmu jadi merah begitu?" Rafa tertawa kecil. "Penyakit apa yang diderita temanmu? Coba ceritakan. Kalau bisa, bawa saja dia ke sini. Kalau nggak bisa, aku bisa memberi saran.""Lebih baik ... lupakan saja." Siti terlihat panik dan berusaha menghindar. "Lain kali kita bicarakan lagi."Rafa mengernyit, tidak bisa memahami jalan pikiran Siti. Benar kata orang, hati wanita itu sulit ditebak!Saat hendak pergi, Siti tiba-tiba menoleh dan berbisik, "Oh ya, Rafa ... soal penyakit wanita ta

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 48

    Galih kemari dengan berkemudi. Dia sudah minum banyak arak dan dua botol bir sebelum akhirnya pamit dan pergi dengan mobilnya. Di desa tidak ada pemeriksaan, jadi Galih pun tidak khawatir.Setelah Galih pergi, Hansen masih bersemangat. Dia merangkul bahu Rafa dengan gembira. "Rafa, kamu pintar menjilat juga sampai bisa menjalin hubungan dengan Galih. Orang ini benar-benar licik. Dulu aku minta pinjaman darinya, dia sama sekali nggak mau setuju. Hari ini berkat namamu, aku langsung dapat 40 juta!"Tadi Hansen bilang Galih adalah orang terkaya, tetapi sekarang mengatainya licik."Aku nggak menjilatnya!" Rafa menepis tangan Hansen dan bertanya, "Paman, kamu nggak kekurangan uang. Kenapa perlu pinjaman?"Miko juga ikut bingung, menatap Hansen dengan dahi berkerut. Secara logika, keluarga Hansen adalah keluarga berkecukupan, jadi seharusnya tidak perlu pinjaman.Hansen terkekeh-kekeh. "Anak muda seperti kalian nggak paham. Uang itu bisa bertambah kalau diputar!"Rafa langsung menyadari sesu

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 47

    Galih tersenyum tipis. "Pak Hansen, aku ini cuma rakyat biasa, tapi malah mengundang orang penting sepertimu untuk minum. Sepertinya sangat nggak pantas."Wajah Hansen langsung memerah. Sikapnya mendadak seperti pelayan yang melayani kaisar. "Pak Galih, jangan bercanda begini! Kamu ini orang terkaya di Kota Muara, mana bisa dibandingkan denganku!"Rafa dan Miko sangat terkejut. Ternyata Galih bukan orang sembarangan! Bahkan kepala desa pun harus merendahkan diri di hadapannya.Hansen menatap Rafa dan membentak, "Rafa, dasar berengsek! Sejak kapan kamu kenal Pak Galih? Kenapa nggak bilang padaku?""Paman, aku dan Kak Galih sebenarnya ....""Kami juga baru kenal." Galih memotong dengan santai, lalu tersenyum. "Karena Pak Hansen sudah datang, ayo kita minum."Rafa segera mempersilakan Hansen duduk dan mulai menuangkan minuman.Galih yang perhatian tiba-tiba berkata, "Oh ya, Rafa, kamu ambil beberapa lauk dulu untuk ibumu."Rafa mengangguk, memilih beberapa lauk terbaik untuk ibunya, lalu

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 46

    Rafa tersenyum, lalu merobek kertas itu. "Nggak apa-apa, Kak Hana. Aku sangat beruntung, aku nggak bakal mati."Miko sangat khawatir dan berkata, "Kudengar Bilham itu penguasa di Kota Muara. Rafa, seharusnya kamu simpan kertas itu dan melapor ke polisi."Rafa hendak menenangkan kakak iparnya, tetapi tiba-tiba terdengar suara seseorang di depan pintu. "Permisi, apa Rafa ada di rumah?"Suaranya terdengar agak familier. Rafa mendongak dan melihat yang datang adalah Galih, pria paruh baya yang dirampok tasnya di kota dua hari lalu.Galih tampaknya datang dengan mobil. Sebuah mobil van baru terparkir di depan pintu."Kamu?" Rafa agak terkejut."Haha, Sobat, aku datang untuk minum bersamamu!" Galih tertawa, berbalik membuka pintu mobil. Dia mengeluarkan sebungkus rokok, dua botol arak, dan banyak lauk yang sudah dimasak. Dia juga menurunkan sekotak bir."Saat dalam perjalanan, aku khawatir kamu nggak ada di rumah. Ternyata kita berjodoh, aku nggak datang sia-sia."Rafa merasa orang ini terla

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 45

    "Kak, hati-hati ...!" Rafa buru-buru mengulurkan tangan untuk menahan. Karena panik, dia justru menyentuh bagian yang tak seharusnya."Rafa, apa yang kamu lakukan?" Miko terkejut dan langsung mendorongnya."Maaf, Kak. Aku cuma ingin memeriksa denyut nadimu tadi." Rafa buru-buru melepaskan tangannya dan menjelaskan, "Aku khawatir penyakitmu belum sembuh total. Dengan memeriksa nadi, aku bisa lebih memahami kondisi tubuhmu.""Oh, oh .... Kalau begitu ... besok saja ya!" Miko masih gugup, lalu buru-buru masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Entah kenapa, pikirannya mendadak kacau. Dia bahkan tidak berani menatap Rafa.Memang benar ipar perempuan itu seperti ibu, tetapi Miko hanya tiga tahun lebih tua dari Rafa. Kini, Rafa sudah dewasa sehingga Miko merasa mereka harus menjaga jarak.Namun, bagaimana bisa menjaga jarak jika mereka hidup di bawah atap yang sama? Apa dia harus pindah rumah? Tidak! Miko tidak akan tega meninggalkan Rafa sendirian!Pikirannya berkecamuk hingga larut malam. Sete

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 44

    Rafa masih enggan berpisah, tetapi tetap harus mengantar Mega keluar. Setelah melihat Mega pergi semakin jauh, barulah Rafa kembali ke dalam rumah.Miko tiba-tiba muncul dari balik pintu, menjewer telinga Rafa dengan dua jari rampingnya. "Dasar bocah nakal, kali ini ketahuan juga, 'kan?""Kak, lepaskan ...!" Rafa meringis kesakitan, mencoba mengelak. "Apa maksudmu? Mega datang ... cuma untuk pinjam buku!""Pinjam buku? Sampai ke atas ranjang?" Miko menutup mulutnya sambil tertawa. "Kalian berdua berbuat hal nggak baik di dalam kamar, aku mendengar semuanya dari luar."Rafa mengusap telinganya. "Jangan asal bicara. Kami nggak melakukan apa-apa!""Dasar tukang bohong!" Wajah Miko merah. Dia meneruskan, "Tempat tidur kayumu itu berderit lama sekali, kamu pikir aku nggak dengar?""Ya sudah, jangan dibahas lagi. Aku mengaku." Wajah Rafa panas. Dia pun tergagap. "Aku dan Mega memang pacaran, tapi dia bilang ... untuk sementara jangan sampai orang lain tahu.""Nggak perlu malu, aku ngerti." M

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 43

    Hansen terkekeh-kekeh, lalu melambaikan tangan dan berpamitan, "Fokus saja bertani, jangan pikir yang aneh-aneh!"Rafa merasa kesal dan langsung membanting pintu.Miko yang mendengar suara itu, keluar dari halaman belakang dan bertanya, "Rafa, tadi aku sedang mandiin Ibu. Kudengar kamu mau ajuin pinjaman? Kenapa mau pinjam uang? Pak Hansen ada benarnya, kalau kita pinjam, gimana cara membayarnya?"Rafa menghela napas. "Itu saran dari Mega. Dia bilang aku bisa pinjam 10 juta untuk memperbaiki rumah kecil di timur, lalu menjadikannya ruang praktik medis.""Mega yang bilang begitu?" Miko berpikir sejenak, lalu tiba-tiba wajahnya berseri-seri. "Rafa, jangan-jangan Mega bersedia menikah denganmu dan ingin kamu menyiapkan kamar pengantin?"Rafa tidak tahu harus tertawa atau menangis. "Kak, kamu ini berpikir terlalu jauh.""Nggak kok!" Miko malah semakin bersemangat. "Rafa, kasih tahu Mega, kalau dia bersedia menikah denganmu, aku rela memberikan rumah besar ini untuk kalian. Aku dan Alice bi

  • Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa   Bab 42

    Semua orang yang mendengar itu langsung tertawa terbahak-bahak. Terutama Mina, dia sampai tertawa terpingkal-pingkal dan tubuhnya ikut berguncang.Sebenarnya, Mina baru menikah tahun lalu, masih tergolong pengantin baru. Awalnya, dia cukup pemalu dan pendiam. Namun, setelah sering berteman dengan Arumi dan para ibu-ibu, dia mulai lebih terbuka.Arumi menegur, "Rafa dan Mina, kalian ini pasangan aneh! Kompak sekali mengerjaiku ya?"Mina langsung tersipu dan menahan diri untuk tidak bercanda lagi. Dia sadar dirinya bukan tandingan Arumi.Rafa baru sadar bahwa dirinya dijebak. Dia hanya bisa tersenyum kaku. "Kak, aku cuma bicara jujur. Aku ini orangnya polos ... nggak ada maksud apa-apa."Vina yang juga sedang bermain kartu ikut menimpali, "Rafa, kamu tahu nggak? Arumi memang suka pria polos sepertimu!"Rafa tetap berpura-pura lugu dan mengangguk cepat. "Tahu, tahu!"Semua orang kembali tertawa keras.Arumi melirik Vina dengan wajah sebal. "Vina, hati-hati kamu ya! Kalau kamu menyinggung

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status