Share

Bab 264

Penulis: Hazel
"Ini namanya nggak mau nolong? Tirta lagi nggak ada, kami semua nggak tahu caranya menawarkan racun. Mau bagaimana menolong mereka? Orang jahat memang suka berpikiran negatif!" maki Melati sambil meludah dan menutup pintu klinik dengan kesal.

Boris dan Dina sedang merasa sangat pusing sekarang, sehingga tidak sempat lagi berdebat dengan Melati. Mereka bersiap-siap untuk memanggil taksi untuk pergi ke rumah sakit di kota.

"Sialan, kenapa tubuhku panas sekali? Kemaluanku keras sekali sekarang. Dina, biarkan aku menidurimu!" ucap Boris dengan terengah-engah setelah berjalan cukup lama.

"Kamu ini yang benar saja? Sudah keracunan masih bisa kepikiran hal begini?" Kepala Dina sangat pusing dan tubuhnya juga kepanasan sekarang.

"Duh, mungkin racun ini nggak terlalu serius. Kalau nggak, mana mungkin aku bisa sekuat ini? Sini kutiduri kamu! Mungkin setelah selesai nanti kita berdua sudah sembuh!" Pikiran Boris saat ini hanya ingin meniduri Dina dan membual seberapa kuatnya dirinya.

Tidak peduli
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ujang Ardan
menuju puncak
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 265

    "Apa racunnya sehebat itu?" Wajah Nabila langsung berubah pucat."Memang begitu. Cepat ambil bubuk belerang dan taburkan di sekitar klinik. Suruh tim konstruksi di lokasi pembangunan vila untuk pulang dulu!""Nabila, kamu bawa bubuk belerang pulang, lalu taburkan di sekitar rumahmu. Hati-hati jangan sampai tergigit!" Meski agak panik, Ayu tetap bisa mengatur semuanya dengan baik."Baiklah, aku suruh orang-orang di rumah lama untuk pulang duluan. Dik Arum, kamu bantu tabur bubuk belerang di sekitar rumah!" Setelah berkata demikian, Melati langsung berlari keluar."Oke, aku cari belerangnya!" jawab Arum.""Aku juga ikutan. Aku tahu di mana letaknya!" sahut Nabila mengikutinya. Setelah melewati semalaman bersama, beberapa wanita ini sudah mulai akrab."Bibi, aku pulang dulu!" Setelah menemukan bubuk belerang itu, Nabila mengambil sebagian dan berlari pulang ke rumah.Kemudian, dia menelepon Tirta, "Tirta, di sana ada ular berbisa nggak? Jangan sampai tergigit ya, nyawa bisa melayang. Mau

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 266

    "Cih, aku masih perawan. Selain kamu, nggak ada pria lain yang pernah menyentuhku sama sekali. Mana mungkin ada airnya," ucap Susanti dengan nada manja dan wajah yang merona."Kalau kamu nggak mau makan ini, nggak ada makanan lain lagi yang kubawa!" Susanti sepertinya memahami bahwa Tirta tidak berani berbuat macam-macam padanya karena mengingat status Susanti. Hal ini membuatnya semakin ingin menggoda Tirta."Haeh, kalau kamu bukan polisi, aku memang ingin mencicipinya," keluh Tirta setelah menghela napas berat.Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah Susanti benar-benar tidak menganggapnya sebagai seorang pria? Apa dia pikir Tirta benar-benar tidak berani menidurinya? Ini keterlaluan sekali!"Cuma punya nafsu tapi nggak punya nyali. Kamu ini benar-benar pria paling pengecut yang pernah kutemui.""Huh! Kamu ini benar-benar keterlaluan! Aku nggak bisa bersabar lagi! Akan kuhabisi kamu hari ini. Kamu harus tahu kehebatanku!" seru Tirta.Ucapan Susanti yang penuh penghinaan ini membuat Tirt

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 267

    Penampilan Susanti saat ini tampak serius sehingga membuatnya terkesan sangat keren. Hati Tirta tersentuh melihatnya. Dibandingkan dengan penampilannya yang menggemaskan saat diganggu Tirta sebelumnya, Tirta merasa Susanti yang saat ini lebih memesona."Oke, lakukan sesuai perintahmu saja. Setelah pelakunya ditangkap nanti, nggak ada urusanku lagi di sini," ujar Tirta sambil mengalihkan pandangannya.Dari celah di antara pepohonan, terlihat bahwa waduk yang terletak tidak jauh dari sana semakin bergejolak. Gelombang air yang berlapis-lapis tampak menakutkan seperti ombak lautan. Di tengah waduk, samar-samar terlihat sebuah pusaran air besar yang perlahan-lahan terbentuk!"Anggota Black Gloves datang di waktu yang tepat. Makam kuno di dasar waduk ini telah hampir sepenuhnya terbuka!" Tirta juga mulai ikut panik. Rahasia seperti apa yang tersimpan di dasar waduk ini sehingga membuat organisasi luar negeri mengincarnya?....Pada saat bersamaan, di sisi lain.Di jalan menuju Desa Persik,

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 268

    Di mobil paling depan, duduk seorang wanita berjaket kulit dan berkacamata hitam di kursi penumpang. Orang itu tentu saja adalah wanita berambut pirang, Alicia. Dia adalah anggota inti Organisasi Black Gloves. Namun saat ini, tidak ada polisi yang menyadari kehadirannya!...."Mereka sudah datang!"Setengah jam kemudian, Susanti dan Tirta yang bersembunyi di belakang pepohonan telah melihat tiga mobil Mercedes-Benz yang melaju ke tepi waduk. Seketika, kedua orang itu langsung menjadi gugup.Sementara itu, kedua tim bantuan Susanti juga sudah tiba. Jumlah anggota kepolisian yang berada di lokasi itu sekitar 30-an orang."Bu Susanti, bukannya mereka mau merampok makam? Kenapa nggak ada pergerakan?" tanya seorang polisi muda.Ketiga mobil itu tiba di tepi waduk dan berhenti. Namun, tidak ada seorang pun yang turun dari mobil. Jelas sekali, hal ini sangat tidak wajar."Kalau mereka nggak bergerak, kita juga jangan bertindak dulu. Anggota kita nggak banyak sekarang. Tunggu sampai Kapten Tro

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 269

    Jenny, Yohan, dan kedua sopir lainnya duduk di mobil mereka masing-masing dengan tenang. Tidak peduli bagaimana pun para polisi di luar mendesak mereka, mereka tetap tidak bergerak sama sekali. Semakin lama waktu yang diulur, situasi jadi semakin menguntungkan bagi mereka."Nggak mau buka? Langsung hancurkan saja kaca jendelanya, paksa mereka keluar!" Niko mulai panik dan menembak kaca jendela.Dor!Setelah terdengar tembakan, kaca jendela itu masih tampak utuh. Hanya terlihat sedikit titik berwarna putih di kaca jendela. Peluru yang ditembakkan malah terpental kembali dan mengenai paha Niko."Argh! Ini kaca anti-peluru. Nggak bisa ditembak!" teriak Niko sambil memegang pahanya dengan kesakitan."Biar kuperiksa lukamu." Tirta langsung maju untuk memeriksanya. Untungnya, peluru yang telah dipentalkan tidak begitu berbahaya lagi seperti saat baru ditembakkan. Tirta mengambil peluru tersebut dengan mudah, lalu merobek pakaiannya untuk membalut luka Niko dengan sederhana."Terima kasih, Do

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 270

    Niko dan Troy beranggapan bahwa Tirta tidak mungkin bisa berhasil. Bahkan peluru saja tidak sanggup menembus kaca jendela itu, apalagi tinju."Bisa atau nggak, biar kucoba dulu. Kalau nggak hajar orang asing sialan ini sampai babak belur, jangan panggil namaku Tirta!"Emosi Tirta telah memuncak saat ini, sehingga dia tidak menggubris nasihat siapa pun. Dia menggerakkan aliran udara perak ke tinjunya, lalu melayangkan pukulan ke jendela anti-peluru.Krak!Sebuah retakan kecil mulai merambat dari bagian yang ditinju oleh Tirta."Astaga! Persetan! Mana mungkin ini bisa terjadi!" seru Yohan dengan kaget."Tinjunya menghancurkan kaca yang bahkan tidak bisa ditembus oleh peluru ...." Jenny yang awalnya hanya menyaksikan semuanya dengan diam dari samping, juga ikut terperangah melihat kondisi saat ini. Mereka menatap Tirta dengan tatapan takjub."Sial, mataku salah lihat ya?" Susanti, Niko, Troy, dan para polisi lainnya juga ikut tercengang."Kenapa teriak-teriak? Tunggu saja sampai tinjuku i

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 271

    Yohan dipukul hingga berputar beberapa kali di tempat. Bahkan giginya juga copot beberapa buah."Be ... beraninya kamu memukulku! Aku ini anggota parlemen Negara Martim! Perbuatanmu ini akan dikecam!" teriak Yohan sambil menggertakkan gigi setelah menenangkan dirinya.Sementara itu, kedua sopir dari mobil lainnya langsung turun dari mobil setelah melihat Yohan dipukul. "Cari tahu nomor pemimpin mereka. Kita harus dapat penjelasan untuk masalah ini!" perintah Jenny kepada seorang pria asing di belakangnya.Susanti dan beberapa orang lainnya sangat jelas bahwa tindakan mereka ini hanya untuk mengulur waktu, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa."Aku bukan anggota kepolisian, nggak ada yang bisa mengatur aku! Kalian mau penjelasan, 'kan? Kuberi penjelasan sekarang juga!" Tirta langsung maju dan menampar wajah Jenny.Wajah Jenny yang tadinya tampak cantik, kini terlihat bekas tamparan yang jelas dan darah yang mengalir dari sudut bibirnya."Berani-beraninya kamu memukulku?" Jenny memel

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 272

    Troy dan Niko marah besar. Pada saat bersamaan, mereka juga merasa kagum terhadap cara yang digunakan Tirta."Jenny, ada apa denganmu? Kenapa kamu mengkhianati Nona? Kamu benar-benar menyia-nyiakan kepercayaan Nona!" teriak Yohan dan kedua pria lainnya dengan terkejut. Meski tidak tahu alasannya, mereka bisa menebak bahwa hal ini pasti berkaitan dengan Tirta."Diam! Kalau berani berisik lagi, aku akan tusukkan jarum pada kalian juga biar kalian tahu rasa!" bentak Tirta."Kamu ...." Yohan dan beberapa orang lainnya tidak berani lagi meremehkan Tirta. Mereka terpaksa diam."Troy, Niko, kalian jaga mereka di sini, sekalian tanyakan semua kasus tentang Black Gloves. Tirta, ikut aku ke Desa Persik dengan pasukan lainnya! Mungkin saja kita masih sempat mencegah mereka!"Susanti mengambil keputusan dengan cepat dan menyerahkan ponselnya kepada Niko. Setelah itu, dia menarik Tirta ke mobil polisi dan melaju cepat."Ayo kita ikut!" Sekitar 30-an orang anggota polisi lainnya juga naik ke mobil d

Bab terbaru

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1147

    "Memangnya apa yang bisa terjadi padaku, Bella? Jangan pikir yang aneh-aneh. Kamu sudah bekerja seharian. Pasti capek, 'kan? Mau aku pijat bahumu atau kakimu?"Merasa diperhatikan oleh Bella, Tirta tidak bisa menahan senyuman. Dia menarik Bella duduk di atas tempat tidur, menunjukkan sikap manisnya."Hah, seharian ke sana ke sini, bahkan makan pun nggak tenang. Menurutmu, aku capek nggak? Untung kamu masih punya hati, bisa peduli padaku. Pijatnya yang pelan ya. Aku takut kamu meremukkan bahuku." Bella bercanda sambil membalikkan badan membelakangi Tirta."Hehehe, tenang saja. Aku janji bakal pelan-pelan!" Tirta berlari ke kamar mandi untuk mencuci tangan, lalu segera kembali.Tangannya diletakkan di atas bahu Bella, lalu perlahan-lahan turun ke kerah bajunya. Merasakan kulitnya begitu lembut, Tirta langsung menyelinapkan tangannya masuk, memijat, meremas, dan menggoda dengan nakal.Bella sampai mengeluarkan erangan manja. "Mmmh ... dasar kamu ini! Aku sudah capek setengah mati, tapi ka

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1146

    "Bisa, semua ini cuma perkara kecil. Kami berdua pasti bisa menyelesaikannya," ucap Kurnia menangkupkan tangannya. Bahkan, Kimmy yang keras kepala tadi juga berubah sekarang. Dia mengangguk dengan rendah hati."Kalian berdua kembali dulu ke hotel. Tunggu sampai besok pagi. Aku akan langsung ke turnamen bela diri. Kalau butuh bantuan, aku akan mencari kalian lagi."Di dalam hati, Tirta merasa takjub dengan kehebatan Janji Darah. Dia melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Kurnia dan Kimmy pergi.Tepat pada saat itu, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Yusril dan Chiko ternyata mengejar mereka.Mereka melihat Tirta baik-baik saja, sementara Kurnia yang hendak pergi justru kehilangan satu lengannya dan tampak jauh lebih tua. Bahkan, Kimmy yang berjalan di belakangnya terlihat lesu seperti kehilangan jiwanya. Ayah dan anak itu terkejut bukan main!"Dik, apa benar ... kamu mengalahkan Kurnia sendiri?" Yusril terperanjat dan begitu terkejut hingga beberapa helai janggutnya ik

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1145

    Kimmy mulai panik. Dia tidak bisa membuat keputusan. Kimmy berkata kepada Kurnia seraya menangis, "Kakek, apa yang harus kita lakukan? Aku masih muda, aku nggak ingin mati. Kak Azhar masih menungguku."Kimmy menambahkan, "Tapi Kakek, kalau suruh aku jadi budaknya, lebih baik aku mati."Sementara itu, Kurnia juga baru menerobos ke tingkat semi abadi. Umurnya sudah bertambah 50 tahun lebih. Ke depannya, mungkin Kurnia bisa menerobos ke tingkat abadi. Tentu saja dia tidak ingin mati.Setelah ragu-ragu sesaat, akhirnya Kurnia mendesah dan membujuk Kimmy, "Kimmy, aku nggak pernah dengar teknik yang dilancarkan orang ini. Jadi, sangat sulit dihadapi. Aku juga nggak ingin berkompromi, tapi kita harus bertahan hidup."Kurnia meneruskan, "Sebaiknya kita terima saja. Paling-paling ke depannya kita cari kesempatan untuk kembali ke dunia misterius dan jangan kembali ke dunia fana selamanya."Tirta tidak keberatan setelah mendengar percakapan Kurnia dan Kimmy dengan jelas. Dia berujar, "Karena kali

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1144

    Kurnia memutuskan untuk meminta ampun kepada Tirta, tetapi Tirta tidak berniat melepaskan mereka. Tirta tahu dia pasti celaka jika orang lain tahu teknik rahasianya.Hanya saja, Tirta tidak suka membunuh. Dia memang tidak sanggup membunuh Kurnia dan Kimmy. Akhirnya, Tirta mendesah dan berkata kepada Genta, 'Kak, kamu serap energi di dalam tubuh Kurnia saja. Nanti aku suruh Pak Mauri penjarakan mereka seumur hidup.'Genta menanggapi, "Nggak usah, kamu yang mengalahkan orang ini. Suruh dia jadi budakmu saja. Kalau ke depannya masih ada pesilat kuno yang kuat, aku baru serap energinya."Genta menambahkan, "Lagi pula, kamu bisa memerintahkan Kurnia untuk mencari batu dan obat spiritual di dunia misterius setelah mengendalikannya. Dengan begitu, kamu bisa memenuhi perjanjian di antara kita lebih cepat."Tirta tidak menyangka Genta akan berbicara seperti ini. Bahkan, Genta juga terdengar sedikit bangga.Tirta membalas, 'Suruh Kurnia jadi budakku? Mereka berdua nggak seperti Yusril dan Chiko

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1143

    Kurnia merasa gusar dan juga takut. Hal ini karena dia tidak pernah melihat teknik yang dilancarkan Tirta.Kimmy juga kaget melihat kejadian yang mendadak ini. Dia segera mengingatkan, "Kakek, cepat lepaskan bajumu untuk memadamkan apinya!""Nggak usah, aku punya cara," timpal Kurnia. Dia memasukkan energi ke lengannya yang terbakar, lalu meninju tanah.Namun, api itu tidak padam sedikit pun setelah Kurnia menarik lengannya. Kurnia segera melepaskan bajunya. Api terus membakar lengan Kurnia. Sepertinya sebentar lagi lengan Kurnia akan gosong.Kurnia terpaksa menahan rasa sakit. Dia mengayunkan tangan kirinya dan memotong lengan kanannya. Kalau api merambat ke seluruh tubuhnya, Kurnia pasti akan mati terbakar.Kurnia memegang luka di lengannya yang patah sambil berteriak, "Sialan! Dasar berengsek! Kalau berani, cepat keluar! Aku pasti akan mencincangmu!"Tirta membalas, "Dasar pria tua sialan! Terus teriak saja! Bagaimanapun, aku juga nggak akan keluar!"Tirta yang bersembunyi di dekat

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1142

    Sekarang sudah pukul 8 malam. Hari ini tidak terlihat bulan di langit, hanya terlihat bintang-bintang. Daerah pegunungan sangat gelap.Namun, Tirta tidak mengurangi kecepatannya. Dia bisa menghindari bebatuan. Mata tembus pandang Tirta bisa membuatnya bergerak dengan mudah dalam kegelapan.Tirta berbalik dan melihat kecepatan Kurnia mulai berkurang. Dia tahu ini bukan karena Kurnia kehabisan tenaga, melainkan karena penglihatan Kurnia terpengaruh saat malam hari. Sementara itu, Yusril dan Chiko sudah ketinggalan.Tirta sengaja mengurangi kecepatannya, lalu menyindir Kurnia, "Kurnia, kamu itu sudah mencapai tingkat semi abadi. Kenapa kamu masih seperti kura-kura? Kalau kamu lebih lambat lagi, aku akan ketiduran saking bosannya. Kamu mau membunuhku dengan kecepatan seperti ini? Jangan harap!"Kurnia juga merasa malu karena tidak bisa mengejar Tirta yang baru mencapai energi internal tahap puncak. Dia membalas, "Hei, kamu nggak akan bisa bangga terlalu lama. Biarpun aku lebih lambat darim

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1141

    Tirta sering memandangi pemandangan gunung dari kamar Bella. Dia memutuskan untuk memancing Kurnia ke daerah pegunungan yang belum dikembangkan. Tirta akan melawannya di tempat itu.Tirta berseru, "Kurnia, aku ini orang yang kamu cari! Kalau kamu ingin tahu rahasiaku, ikut aku!"Tirta segera berpesan kepada Yusril dan Chiko, "Kalian berdua pulang ke kediaman Keluarga Purnomo dulu. Aku akan segera cari kalian."Selesai bicara, Tirta tidak peduli Yusril dan Chiko mengikuti arahannya atau tidak. Dia sudah mengerahkan Teknik Pengendali Angin dan pergi ke daerah pegunungan di dekat sana.Teknik Pengendali Angin bisa menambah kecepatan gerakan Tirta. Saat berlari, Tirta seperti didorong oleh angin. Bukan hanya kecepatannya meningkat, Tirta juga tidak merasa lelah sedikit pun. Dalam sekejap, Tirta sudah berlari sejauh belasan meter.Kurnia berujar, "Apa? Ternyata dia itu orang yang membunuh Naushad! Pantas saja! Aku nggak boleh biarkan dia kabur."Kurnia terbelalak. Melihat Tirta pergi, dia l

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1140

    Kedua serangan yang dahsyat beradu dan menimbulkan suara dentuman. Aliran energi yang kuat menyebar di sekeliling gazebo sehingga suasananya terasa mencekam.Dengan Tirta dan Kurnia yang berada di tengah sebagai pusat, angin berembus hingga membuat pepohonan di sekitar gazebo bergemeresik. Kedua telapak tangan mereka beradu hanya sekejap, lalu kembali terpisah.Tirta mundur beberapa langkah. Lengannya sedikit kebas. Dia menceletuk, "Sialan!"Kurnia yang diam-diam menyerang Tirta juga mundur. Dia mengamati Tirta dan berkomentar sembari mengernyit, "Orang ini ... nggak sederhana!"Sudah jelas Kurnia tidak menyangka Tirta bisa melawan serangannya. Bahkan, Tirta terlihat baik-baik saja.Kimmy tidak melihat kejadian yang diperkirakannya. Dia berteriak, "Apa? Serangan Kakek nggak membuatnya mati? Dia juga nggak terluka ... ini nggak mungkin!""Tirta, kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya Yusril. Dia dan Chiko segera menghampiri Tirta. Mereka juga tidak memperkirakan hasil seperti ini.Tirta makin

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1139

    Yusril menceletuk, "Suaranya begitu keras. Setidaknya dia sudah mencapai tingkat semi abadi!"Chiko menimpali, "Gawat! Apa Kurnia benar-benar datang?"Ekspresi Yusril dan Chiko berubah drastis. Mereka melihat sekeliling dengan waswas, lalu melindungi Tirta. Namun, mereka tidak menemukan keberadaan Kurnia.Yusril dan Chiko makin cemas karena tidak melihat Kurnia. Jika Kurnia tiba-tiba melancarkan serangan saat mereka lengah, mereka bukan hanya tidak bisa melindungi Tirta. Bahkan, mereka berdua akan mati."Ternyata Kurnia datang," ucap Tirta yang terkejut. Dia segera memanggil Genta. Tirta memang sudah mencapai tingkat pembentukan energi tahap ketiga, tetapi dia tidak berani melawan Kurnia hanya dengan mengandalkan kekuatannya sendiri.Sebelum menjadi benar-benar hebat, sebaiknya Tirta memikirkan keselamatannya. Tidak disangka, Genta malah mengancam Tirta pada saat-saat seperti ini, "Aku bisa bantu kamu lawan dia, tapi kamu harus mengakui kesalahanmu padaku dulu."Tirta mengeluh, 'Kak, a

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status