"Kalau begitu ayo lepas. Biar kuperiksa bajumu dan kamu periksa bajuku!"Pandangan Tirta yang tajam langsung menyadari keanehan pada sorot mata Ghafar. Dia mengira Ghafar pasti tidak akan berani membiarkannya memeriksa bajunya. Apa yang mau dilakukan Ghafar sebenarnya?Dengan menggunakan mata tembus pandang, Tirta melihat dengan jelas bahwa Ghafar sudah menyembunyikan kartu di tangannya! Jika dia memberikan bajunya kepada Ghafar, pasti Ghafar akan menuduhnya menyembunyikan kartu!Tirta segera memanfaatkan kesempatan itu, berpura-pura menyerahkan bajunya!"Haha, coba kuperiksa siapa yang sebenarnya menyembunyikan kartu!" Melihat Tirta jatuh ke dalam perangkapnya, Ghafar berpikir, 'Bocah, kamu berani melawanku dengan trik rendahan begini? Naif sekali!'Namun sebelum tangan Ghafar menyentuh baju Tirta, Tirta tiba-tiba mengambil dadu yang ada di meja dan memantulkannya seperti peluru. Dadu itu tepat mengenai titik di pergelangan tangan Ghafar yang menyembunyikan kartu!"Ah!" Tiba-tiba tang
"Aku benar-benar bukan sengaja mau bawa dia datang ke sini untuk permalukan Bos!""Dasar nggak berguna! Tahunya buat aku repot saja!" maki Ghafar. Ingin sekali rasanya dia menendang Ehsan sampai mati sekarang.Setelah itu, dia membentak bawahannya, "Bawa pecundang ini keluar dan patahkan kaki dan tangannya! Kalau aku lihat dia masuk ke sini lagi, kalian yang harus tanggung jawab!""Baik, Bos!" Melihat bos mereka naik pitam, para bawahannya juga tidak peduli lagi terhadap Ehsan yang meminta ampun. Setelah menghajarnya hingga babak belur, mereka menyeret Ehsan keluar dari kasino."Argh ... bocah sialan! Semua ini gara-gara kamu! Aku nggak akan lepaskan kamu!" teriak Ehsan saat diseret keluar dengan kondisi babak belur."Huh, mau balas dendam? Kamu nggak akan punya kesempatan lagi." Tirta sama sekali tidak takut terhadap ancamannya. Sebaliknya, dia menoleh pada Ghafar."Bos Ghafar, sesuai aturanmu, bukankah seharusnya kamu kasih aku semua uangmu itu? Lalu, bukannya jarimu juga harus dipot
"Wah, sombong sekali. Kamu kira hanya mereka saja sanggup melawanku?" kata Tirta sambil tertawa sinis. Dia sama sekali tidak peduli dengan Ghafar yang marah."Kamu kira kamu bisa melawan bawahanku sendirian dengan membawa dua wanita ini?" tanya Ghafar sambil menatap Tirta dengan tatapan remeh."Bos, biar kuhadapi bocah ini! Kalau nggak bisa mengalahkannya, Bos nggak perlu turun tangan. Aku yang akan lumpuhkan kaki dan tanganku sendiri!" Entah sejak kapan, Hafid telah mengajukan diri dengan mengambil sebuah pisau."Hehe, oke. Kamu maju saja," jawab Ghafar.Hafid bukan hanya mahir dalam melakukan kecurangan, tetapi juga merupakan seorang petarung yang handal. Ada banyak utang judi yang sulit ditagih, akhirnya berhasil dia selesaikan."Terima kasih, Bos!" Melihat Ghafar telah menyetujuinya, Hafid tersenyum meringis sambil menyerbu ke arah Tirta. "Bocah sialan, lihat saja kamu masih bisa sesombong itu nggak! Berlututlah!"Hanya beberapa langkah lagi, pisau tajam di tangan Hafid sudah hampi
"Nggak ... kami nggak berani. Kak, bukan, Tuan, Anda cepat pergi saja! Sebentar lagi Bos kami akan datang bawa pistol!" ucap seorang bawahan yang cerdas.Orang itu tidak ingin tewas di tangan Tirta, juga tidak ingin Tirta membawa kabur uang mereka. Oleh karena itu, dia menggunakan pistol untuk menggertak Tirta."Tirta, gimana kalau kita pergi saja .... Punya uang memang bagus, tapi nyawa lebih berharga," bujuk Arum."Tirta, sudahlah. Kita pergi saja dari sini ...," timpal Nabila yang juga ketakutan ketika mendengar Ghafar akan mengambil pistol. Sehebat apa pun kemampuan bertarung Tirta, Nabila tetap tidak ingin mengambil risiko."Nggak apa-apa. Kalaupun dia punya pistol, bukannya sama saja nggak berguna kalau nggak bisa dipakai?" Tirta tentu tidak akan pergi begitu saja tanpa melakukan apa pun.Setelah berpikir sejenak, dia langsung menemukan ide bagus. Saat Ghafar keluar nanti, dia akan mengambil sebuah kartu dan melemparkannya untuk memotong tangan Ghafar. Dengan begitu, bukankah sem
"Siapa wanita ini? Berani sekali memandang rendah bos kami?" Melihat aura Naura yang begitu berwibawa, para bawahan Ghafar semakin gentar."Tirta, dia ...." Melihat kecantikan Naura, Nabila merasa agak cemburu."Temanku. Aku pernah menolong ayahnya. Kamu jangan banyak pikir, kami nggak ada hubungan apa pun," jelas Tirta. Hati Nabila jadi semakin lega setelah mendengar penjelasannya. Namun, melihat sikap Naura yang tampak keren, Nabila tetap merasa agak iri dan kagum.Pada saat itu, Ghafar kebetulan keluar dari ruang dalam sambil membawa pistol. Dia sudah mendengar suara Naura dari tadi. Emosinya semakin memuncak! Ghafar yang sudah bertahun-tahun menjadi bos di dunia mafia, hari ini harus menghadapi begitu banyak orang yang datang untuk menginjak-injaknya?Mana mungkin dia tidak emosi menghadapi semua ini? Ghafar langsung mengarahkan pistol ke Tirta dan Naura sambil tersenyum dingin."Nak, kamu kira kamu siapa berani ikut campur urusanku? Segera bawa orangmu untuk keluar. Kalau nggak, j
"Aku nggak mau kompensasi, aku cuma mau dia menepati janjinya. Berikan semua uang yang kumenangkan padaku, lalu potong satu jarinya. Mengenai masalah dia menyinggung Bu Naura, menurutku ini hal yang lumayan serius. Sebaiknya dipenjara 10 tahun," balas Tirta setelah berpikir sejenak.Ghafar tadi sangat angkuh sampai hendak mengancam Nabila dan Arum. Tirta tentu tidak akan melepaskannya begitu saja."Bu Naura, nggak perlu sampai separah itu, 'kan?" Mendengar penuturan Tirta, wajah Ghafar semakin pucat. Kali ini dia benar-benar rugi besar, bahkan mengorbankan keselamatannya."Ghafar, dari perbuatan yang kamu lakukan ini, menurutku hukuman itu nggak terlalu berat. Kalau kamu nggak puas, aku akan bawa kamu temui ayahku. Biar dia saja yang ambil keputusan. Gimana?" Naura juga tentunya berpihak pada Tirta."Nggak ... nggak usah. Anggap saja aku sial hari ini." Ghafar tahu betul apa yang telah dia lakukan, jadi dia hanya bisa menerima kekalahan dengan patuh. Tanpa perlu berkata apa pun, Tirta
"Kak Arum, kamu nggak mau di kota saja?" tanya Nabila. Tentu saja, dia tidak beranggapan bahwa Arum ingin mengikuti Tirta demi uang."Nggak, nggak ada lagi yang kurindukan dari tempat ini," jawab Arum sambil tersenyum getir. "Toko sudah digadai, beberapa hari lagi waktu tenggatnya sudah tiba. Adikku yang nggak berguna itu ... aku juga nggak bisa urus dia lagi.""Aku merasa kalian ini orang baik. Sudah bertahun-tahun nggak ada orang yang melindungiku seperti yang kalian lakukan," timpal Arum sambil meneteskan air mata. Jika bukan karena bertemu Tirta hari ini, dia sudah pasti akan ditangkap oleh Ehsan untuk melunasi utang."Tirta, Kak Arum kasihan juga. Kalau nggak, biarkan saja dia ikut kita ke desa." Sesama wanita memang lebih sensitif, Nabila merasa sangat simpati terhadap Arum."Bisa saja kalau kamu mau ikut kami ke desa. Tapi, sekarang ini nggak ada tempat tinggal untuk Kak Arum," balas Tirta."Ini ... gimana kalau nginap di rumahku dulu?" usul Nabila setelah berpikir sejenak."Nan
Tanpa menunggu persetujuan dari Arum, Nabila menariknya masuk ke sebuah toko pakaian bermerek. Karena pakaian Arum telah bolong, Nabila berinisiatif memilihkan pakaian untuknya. Ini adalah pertama kalinya Arum masuk ke toko mewah seperti ini. Dia tampak sangat canggung.Sikap Nabila juga tidak kalah canggungnya dari Arum. Harga pakaian di sini dimulai dari puluhan juta, ada juga yang bahkan mencapai miliaran. Agar mereka tidak dipandang rendah oleh orang, Tirta memanggil seorang pelayan toko dan berkata, "Beli salah satu yang harganya miliaran, kalian bawa mereka berdua untuk coba baju.""Ba ... baik, Pak! Nona-nona sekalian, silakan coba semua baju di sana!"Setelah selesai membayar, tatapan pelayan toko terhadap Nabila dan Arum pun berubah menjadi sangat kagum."Terima kasih, suamiku. Kalau begitu aku nggak sungkan lagi ya!" Melihat Tirta yang begitu murah hati, Nabila merasa kegirangan. Dia bahkan memanggil Tirta sebagai "suamiku" di depan umum."Terima kasih, suamiku ...." Lantaran
Melihat sikap Yusril dan Chiko yang hormat kepadanya, Tirta mengangguk puas dan berucap, "Oke, kalian latihan pelan-pelan saja. Kalau ada yang nggak paham, tanyakan padaku. Setelah menguasai teknik tinju itu, aku akan ajarkan teknik tinju yang lebih hebat kepada kalian."Yusril dan Chiko menyahut dengan antusias, "Terima kasih, Tirta!"Sementara itu, Kimmy menebak Tirta adalah dalang dari penculikannya setelah melihat sikap Yusril dan Chiko yang hormat. Kimmy marah-marah, "Sebenarnya kamu siapa? Kita nggak punya dendam, kenapa kamu menangkapku? Kakekku itu Kurnia, pemimpin Sekte Delapan Cakrawala!"Kimmy melanjutkan, "Jangan nggak tahu diri! Aku sarankan kamu untuk lepaskan aku! Kalau nggak, aku akan meminta kakekku untuk memberi kalian pelajaran!"Tirta menghampiri Kimmy, lalu mengamatinya dan membalas, "Wah, kamu galak juga, ya! Siapa bilang kita nggak punya dendam? Dua kakak seperguruanmu itu menyinggungku dan ingin meminta kakekmu untuk membalasku."Tirta meneruskan, "Sebagai cucu
Setelah setengah jam, Tirta baru keluar dari kamar Yasmin. Sebelum keluar, Tirta tidak lupa berpesan kepada Yasmin untuk fokus berlatih di dalam kamar.Tirta memijat Yasmin terlalu lama, jadi sekarang Tirta agak kesulitan berjalan. Saat kembali ke kamar Ayu, Tirta melihat Ayu sudah selesai mandi.Ayu yang hanya memakai jubah mandi membuka pintu untuk Tirta dan bertanya, "Tirta, cepat masuk. Apa kamu sudah membereskan Yasmin?"Ayu buru-buru menutup pintu kamar sesudah Tirta masuk. Tirta menjawab, "Sudah beres, dia nggak akan datang kemari begitu cepat. Bibi, kamu wangi sekali. Apa kamu pakai parfum?"Tirta mendekati Ayu, lalu mencium aroma di tubuhnya. Tirta langsung menelan ludah. Ayu membalas, "Kapan Bibi pernah pakai parfum? Aroma tubuhku memang begini."Ayu menambahkan, "Kamu sudah nggak sabar, ya? Cepat ikut aku biar aku bantu kamu mandi."Ayu memandang Tirta sambil menjepit kakinya. Wajah Ayu juga memerah. Dia menyentil kepala Tirta, lalu menarik Tirta ke kamar mandi.....Dua jam
Tirta mengambil kursi kayu di dalam kamar, lalu duduk di depan tempat tidur Yasmin dan mengarahkan, "Yasmin, aku nggak menyangka ternyata daya ingatmu sangat bagus. Kamu duduk di tempat tidur dulu, lalu fokuskan pikiranmu dan kerahkan Teknik Kondensasi Energi Yin."Tirta meneruskan, "Kalau kamu bisa merasakan kondensasi energi di bagian perutmu, berhenti sebentar dan beri tahu aku.""Oke, Kakak Guru. Aku coba dulu," sahut Yasmin. Dia duduk bersila di tempat tidur, lalu memejamkan matanya dan mulai melafalkan mantra Teknik Kondensasi Energi Yin dalam hati.Yasmin tidak bergerak dan napasnya stabil. Bulu matanya panjang, kulitnya mulus, dan wajahnya sangat cantik. Dia terlihat seperti boneka.Namun, Tirta bisa merasakan energi spiritual dalam radius ratusan meter mengalir ke tubuh Yasmin. Tak lama kemudian, Yasmin membuka mata dan menyingkap bajunya.Yasmin menunjuk perutnya sambil berucap dengan antusias, "Kakak Guru, aku merasakan ada aliran energi seukuran ibu jari berwarna biru di da
Sekarang baru pukul 3 sore. Setelah tahu Bella pulang saat jam makan malam, Tirta mulai mengincar Ayu. Beberapa waktu ini, Tirta berlatih Teknik Pasangan dengan beberapa wanita. Kekuatannya meningkat pesat.Peningkatan kekuatan dan kenikmatan saat menggunakan Teknik Pasangan membuat Tirta terlena. Tak lama kemudian, Tirta sampai di kamar Ayu.Hanya saja, sekarang Yasmin masih bermain dengan Ayu di kamar. Tirta ingin berlatih Teknik Pasangan dengan Ayu. Jadi, dia harus mengusir Yasmin terlebih dahulu.Melihat Tirta yang berhasrat, Ayu menggigit bibirnya dan menghampiri Tirta. Dia melirik Yasmin sekilas, lalu berbisik, "Tirta, kalau nggak, kamu baru datang nanti malam."Tirta berpikir sejenak. Setelah menemukan ide, dia berucap, "Nggak apa-apa, Bibi. Aku punya cara untuk mengusir Yasmin. Kamu tunggu aku di kamar saja."Kemudian, Tirta menghampiri Yasmin dan berujar seraya tersenyum, "Yasmin, kamu ikut aku keluar sebentar. Aku mau ajar kamu sesuatu."Yasmin merasa Tirta sedikit aneh. Dia
Yusril berpikir sejenak sebelum menyahut, "Aku nggak tahu. Tapi, aku rasa mereka akan mengizinkan kamu mengikuti turnamen bela diri kalau kamu menunjukkan identitasmu di Sekte Mujarab."Yusril melanjutkan, "Hanya saja, kamu sudah melukai 2 murid Kurnia. Sepertinya kurang cocok kalau kamu mengikuti turnamen bela diri."Tirta menyipitkan matanya dan menegaskan, "Kenapa nggak cocok? Kedua muridnya menggoda bibiku. Aku harus mengikuti turnamen bela diri untuk membuat perhitungan dengan Kurnia."Mendengar ucapan Tirta, Yusril masih merasa ragu. Akhirnya, dia memberi hormat dan berujar, "Tirta, kamu nggak tahu. Waktu mencari tahu informasi di dekat Gunung Tisatun, aku mendengar kabar Kurnia sudah menerobos ke tingkat semi abadi. Senior Sekte Mujarab nggak mendampingimu, kamu pasti nggak mampu melawan Kurnia."Tirta melambaikan tangannya, lalu menanggapi, "Yusril, aku tahu kamu berniat baik. Tapi, aku tetap harus pergi. Biarpun Kurnia sudah mencapai tingkat semi abadi atau tingkat abadi, aku
Sebelum Tirta menyelesaikan perkataannya, Ayu menyela, "Yasmin, pria dan wanita nggak boleh tidur bersama. Kamu nggak boleh tidur dengan Tirta!"Yasmin menanggapi dengan ekspresi bingung, "Tapi ... Bibi, kenapa Kak Bella boleh tidur dengan Kakak Guru? Bukannya Kak Bella itu wanita? Aku juga wanita, kenapa aku nggak boleh tidur dengan Kakak Guru?"Ayu menjelaskan, "Karena Bu Bella sudah tunangan dengan Tirta. Nanti mereka akan menikah, jadi mereka boleh tidur bersama. Tapi, Tirta itu gurumu. Kalian nggak boleh tidur bersama."Yasmin membalas, "Oh, aku paham. Hanya wanita yang menikah dengan Kakak Guru boleh tidur dengannya. Kalau begitu, malam ini aku tidur sendiri. Besok aku baru temani Bibi tidur lagi.""Oke. Kamu memang anak yang baik. Bibi mau bicara dengan Tirta. Kamu tunggu di kamar dulu, kami akan segera kembali," timpal Ayu.Ayu mengusap kepala Yasmin, lalu memberi isyarat kepada Tirta. Mereka berdua keluar bersama.Setelah sampai di ujung koridor, Tirta bertanya, "Bibi, apa yan
Tirta meninggalkan Desa Persik pada pukul 1 siang. Dia pergi ke labirin obat untuk melihat pertumbuhan bahan obat-obatan. Untung saja, Nia mengikuti gambar yang diberikan Tirta dengan menggabungkan cara penanaman bibit bahan obat di buku kuno pengobatan.Jika bukan karena Tirta memahami keistimewaan labirin obat, takutnya dia juga tidak bisa keluar. Tirta juga melihat banyak mobil polisi yang berpatroli di luar Desa Persik.Dengan adanya perlindungan dari polisi, labirin obat, dan jimat, Tirta baru bisa meninggalkan Desa Persik dengan tenang. Dia pun pergi ke ibu kota provinsi.Dua jam kemudian, mobil Tirta berhenti di depan pintu vila Keluarga Purnomo. Saat kembali ke ruang istirahat, Tirta tidak menemukan Bella. Bahkan, Bella tidak menjawab panggilan telepon Tirta.Saat ini, pesilat kuno berkeliaran di ibu kota provinsi. Tentu saja Tirta mengkhawatirkan keselamatan Bella. Dia pergi ke kamar Ayu untuk menanyakan keberadaan Bella.Pintu kamar Ayu terbuka. Kala ini, Ayu sedang menemani
Sejam akhirnya berlalu. Tirta mengikuti ingatan yang diberikan oleh Genta, berhasil membuat 18 lembar jimat yang mengandung kekuatan sihir."Baiklah. Kak Farida, pegang jimat ini dan teriak 'aktif'. Setelah itu, kamu akan melihat sesuatu yang ajaib."Tirta memilih Jimat Menghilang dari tumpukan jimat yang sudah jadi, lalu menyerahkannya kepada Farida, yang kebetulan berada paling dekat dengannya."Aktif? Kenapa begitu, Tirta? Bukankah jimat pelindung biasanya cukup dibawa saja?" Farida tampak kebingungan, sementara Arum dan Melati yang berdiri di belakang juga menunjukkan ekspresi yang sama."Karena jimat buatanku nggak biasa. Jangan banyak tanya dulu. Coba saja, nanti kamu sendiri akan tahu perbedaannya!"Tirta sendiri merasa agak gugup. Bagaimanapun, ini adalah pertama kalinya dia mencoba membuat jimat. Tidak menutup kemungkinan jika hasilnya gagal."Oh, ya sudah, aku akan coba ...." Dengan jantung yang sedikit berdebar, Farida menggenggam jimat itu erat-erat, lalu berteriak, "Aktif!
"Aku masih harus mengunjungi temanku yang ada di ibu kota. Mungkin nggak akan secepat itu kembali ke desa. Aku khawatir kalian kangen berat, makanya pulang malam-malam hanya untuk menemani kalian," jelas Tirta."Huh! Rupanya kamu punya hati nurani juga. Tapi, kamu nggak boleh pergi begitu saja. Temani kami sebentar lagi dong ...," pinta Arum yang tidak rela berpisah sambil menatap Tirta."Tirta, temani kami sebentar lagi. Selama kamu pergi, aku nggak bisa tidur nyenyak lho," ujar Melati sambil melemparkan diri ke pelukan Tirta. Dia mencoba memulai pertempuran lagi.Ketika melihatnya seperti itu, Tirta pun tidak ingin pergi secepat itu. Setelah melihat jam, dia lantas membuat keputusan."Di mana Kak Farida? Aku cari dia dulu. Kita lanjutkan pertempuran kita. Nanti sore aku baru balik!"....Lagi-lagi, pertempuran yang panjang dan melelahkan terjadi. Melati dan Arum pun tidak meminta Tirta untuk tinggal lagi. Bahkan, mereka berharap Tirta pergi secepat mungkin."Hehe, kalian istirahatlah