Bab24Spontan, Olivia langsung menutup wajahnya, merasa malu dengan pernyataannya sendiri.Ammar pun menjadi canggung dan salah tingkah, yang akhirnya membuat laki- laki itu keluar kamar begitu saja tanpa suara. Dia pun menelpon Melvin malam- malam.'Ngapain dia telepon aku jam segini? Aku baru saja pulang dan selesai mandi, makan saja belum.' Melvin menggerutu, sebelum menjawab panggilan bos nya.[Ya, Bos.][Lama sekali kamu jawaban telepon saya!][Tadi mandi, Bos. Ada apa?][Cepat kamu kemari, ke rumah Nenek saya,] titah Ammar, membuat Melvin tercengang.'Gila! Kerjaan apalagi ini?'[Dengar nggak?][Baik, Bos.][Ok. Kamu bawakan semua bahan, yang saya kirim via teks singkat.]Ya. Panggilan telepon itu berakhir, Melvin meringis, membaca pesanan yang Ammar kirim. 'Bos gila ini, kenapa malam- malam nyuruh aku bawa beginian?' Melvin pergi dengan perasaan kesal. Ammar bukan hanya sering membuatnya lembur kerja, tapi selalu mengandalkan Melvin dalam semua hal.Sebagai asisten yang baik
Bab25Olivia masih berpura- pura tidur, dia hanya bisa mendengarkan percakapan suami dan neneknya."Urus wanita itu! Suruh dia pergi. Nenek nggak suka dia," titah nenek Lisa. Tidak terdengar sahutan Ammar, tapi lelaki itu melangkah pergi, meninggalkan kamarnya."Ammar," lirih Zoya, ketika melihat lelaki itu keluar ke arahnya.Zoya tidak juga langsung berdiri, dia tetap membiarkan dirinya berlutut, demi bisa bertemu Ammar.Semenjak kedatangannya kembali ke kota Luky, dia tidak pernah bisa menemui Ammar. Perasaan rindu dalam hatinya begitu banyak, sampai- sampai membuatnya sering merasa emosi dan pusing.Kini, dia bisa melihat kembali, wajah lelaki yang dulu sangat dia sayangi itu. "Ammar," lanjutnya, menatap nanar pada wajah tampan itu. Wajah yang kini menatap dingin ke arahnya.Jika dulu melihat Zoya seperti ini, maka Ammar akan bergegas memeluknya dan mengajaknya untuk berdiri. Kemudian mengusap lututnya yang memerah.Tapi kini, lelaki itu menatap Zoya tanpa ekspresi apapun. Hal itu
Bab26Ammar tersenyum tipis, ketika mengetahui kedatangan nyonya Alisa ke rumah neneknya. "Kamu sudah yakin, akan meresmikan pernikahan denga gadis itu?" tanya Zaky, yang kini berada di kantor Ammar."Mau bagaimana lagi? Dia sudah hamil anakku.""Kupikir kamu sudah jatuh cinta padanya. Rupanya, semua demi anak.""Apalagi? Aku tidak semudah itu, untuk menyukai gadis kecil sepertinya.""Semua ini juga demi Nenek," lanjut Ammar dengan santainya."Hhhmmm, dia sepertinya sial karena menyukai Dion, tapi celaka malah menikah dengan Pamannya," ujar Zaky terkekeh."Kalau bukan karena bersangkutan dengan mereka, aku juga tidak mungkin memilih gadis itu," jelas Ammar lagi. Zaky hanya menggeleng.Undangan pesta pernikahan Ammar Rajasa pun mulai tersebar. Dan beritanya menjadi topik nomor satu di berbagai media."Ibu ...." Zoya memekik, ketika melihat undangan pernikahan Ammar.Mona yang terkejut mendengar teriakkan putrinya pun gegas menghampiri."Kenapa sih, Zoya?""Ini ...." Zoya memperlihatk
Bab27"Tapi Zoya kami wanita hebat, berpendidikan, dan tuan Ammar tentu bangga memiliki istri sepertinya.""Sayangnya, kami sudah memilih Olivia! Gadis malang yang kalian usir. Dan akan kami jadikan nyonya Rajasa, dan akan kami berikan apapun yang dia mau.""Kalian, tidak berhak apa- apalagi, dia milik kami, keluarga Rajasa!" lanjut nenek Lisa dengan tegas.Baskoro melirik ke arah Olivia, yang tidak mau menghampiri mereka. Ada perasaan sesal dihatinya, melihat putrinya sendiri, mengabaikan mereka.Selama ini, dia maupun Mona, hanya fokus pada kebahagiaan Zoya, kesenangan Zoya, serta impian- impian anak pertama mereka itu.Hingga membuat dia mau pun Mona lupa. Bahwa ada Olivia, yang juga bagian dari tanggung jawab mereka.Sayangnya, dia malah membiarkan, Zoya menindas Olivia selama ini. Bahkan, dia juga membiarkan, Zoya mengusir Olivia begitu saja, dengan berbagai macam hinaan yang cukup kejam."Jangan datangi cucu menantu saya! Kalian tidak saya izinkan. Demi menghargai Olivia, saya s
Bab28Olivia memejamkan matanya. Pikirannya rumit, memikirkan masa depannya. Sedangkan Ammar, meninggalkan dia seorang diri di kamar Hotel.Dua pengawal dia minta, untuk berjaga di depan kamar Olivia, agar wanita perlu kemana- mana, jika membutuhkan sesuatu.Meskipun Olivia muntah berkali- kali, dia tetap tidak keluar kamar sama sekali. Melihat sikap dingin Ammar tadi, dia cukup tahu diri. Dia juga merasa, Ammar sengaja memanfaatkannya, untuk menyakiti Zoya. Meskipun tujuan mereka sama, tapi dia sekilas menyadari, kalau Ammar, masih memiliki rasa pada Zoya.Malam pun berganti pagi, Ammar juga tidak kunjung datang ke kamar mereka. Pelayan mengetuk kamar, dan Olivia pun bangkit, untuk membukakan pintu.Meskipun sudah mandi, Olivia masih terlihat tampak pucat."Selamat pagi. Bagaimana tidur anda, Nyonya. Saya kemari untuk membawakan Anda sarapan," seru pelayan itu, sambil tersenyum ramah."Ya, semua baik- baik saja. Silahkan bawa kedalam," kata Olivia mempersilahkan.Selesai sarapan seo
Bab29Ammar membawa Olivia ke rumah sakit, karena sangat khawatir dengan kondisi kesehatan Olivia, dan juga bayi dalam kandungan wanita itu.Dia juga tidak memberitahukan nenek Lisa, tentang keberadaan Olivia, yang kini di rumah sakit. Jika neneknya tahu, Ammar pasti akan dapat omelannya.Setelah Olivia siuman, dia cukup terkejut, melihat tatapan dingin Ammar padanya."Apa yang kamu rencanakan, Olivia?" tanya Ammar dengan tatapan tajam menusuk.Olivia merasa ngeri, melihat tatapan itu."Ammar, aku kenapa?" tanya Olivia balik, dia berusaha menutupi perbuatannya, yang lalai menjaga kesehatan serta kandungannya."Jangan menguji kesabaranku, Olivia." Ammar memperingati."Aku tidak ingin melahirkan, Ammar ...." Olivia bicara dengan berani, mengungkapnya isi hatinya."Jadi kamu berniat membunuh anak ini? Anak yang tidak tahu apa- apa, manusia macam apa kamu ini?" bentak Ammar.Olivia tersentak, mendengar kerasnya ucapan Ammar."Untuk apa dia lahir?""Karena dia sudah ada di rahimmu, berarti
Bab30Olivia panik, melihat tatapan tajam Dion, dan cengkraman yang semakin kuat. Olivia menangis, dan berniat untuk berteriak.Namun, Dion langsung memindah tangannya, menahan kepala Olivia, dan mendaratkan ciuman pada bibir wanita itu.Olivia terkejut, ketika bibir mereka bertemu, Ammar masuk ke kamar rawatnya."Olivia!!" Ammar berteriak, Dion langsung melepaskan pegangan tangannya dari kepala Olivia."Dion, Olivia! Apa yang sedang kalian lakukan?" teriak Ammar dengan marah.Olivia menangis."Dia melecehkan saya, Ammar ...."Dion berusaha tenang, dan menatap Ammar."Untuk apa saya melecehkan dia, Paman? Bukannya semua orang juga tahu, kalau dia begitu menyukai saya. Bahkan tadi dia mengakui, terpaksa menikahi Paman, hanya untuk membalas saya," jelas Dion.Ammar mengepalkan tinju."Itu tidak benar, Ammar. Dia menyakitiku, dan memaksaku berciuman," kata Olivia."Terserah saja kalau sudah begini. Paman mau percaya saya, atau wanita itu. Yang jelas, bukan saya orang ketiga dia antara ka
Bab31"Ammar, jangan ...." Olivia memelas, berharap Ammar tidak menyentuhnya."Kenapa kamu menolak saya? Apa karena Dion?" Olivia menjawab dengan menggeleng lemah."Lalu apa. Saya suami sah kamu, Olivia. Saya berhak atas semua, yang ada pada dirimu.""Ammar, beri saya waktu.""No. Kamu milik saya, dan saya berhak atas kamu ...."Meskipun Olivia berusaha menghindar, Ammar tidak melepaskannya. Lelaki itu menyentuhnya dengan kasar, dan tidak ada kelembutan disana.Olivia menangis, merasakan sakit ditubuhnya. Meskipun Olivia memohon, Ammar tidak menghiraukannya.Bahkan, Ammar dengan kasar melahap bibir Olivia, hingga membengkak. Air mata mengalir, membasahi wajah cantiknya.Dan Ammar, melakukan itu nyaris tak kenal waktu. Kapanpun dia ingin, dia akan melakukannya.Olivia merasa tidak tahan lagi. Namun, dia juga tidak tahu, harus bagaimana lagi. Ponselnya pun Ammar sita, bahkan hanya ada babysitter yang ada di apartemen mereka. Sedangkan urusan memasak dan membersihkan apartemen, Ammar b
Bab39Plakk ....Tamparan keras, mendarat dipipi Zoya.Nenek Lisa menatap murka, kepada wanita itu."Dasar murahan tidak tahu malu. Kamu yang mengganggu rumah tangga cucu saya, kamu pula yang merasa tidak adil. Dasar perusak, lebih baik kamu pergi dari tempat ini, kamu tidak kami undang, tapi kamu datang kemari tanpa rasa malu sedikitpun," bentak nenek Lisa. Zoya memegangi pipinya yang terasa panas dan sakit.Matanya berair, menatap nanar kepada nenek Lisa yang begitu memancarkan kebencian kepadanya."Kalian jahat," lirih Zoya yang akhirnya langsung pergi meninggalkan tempat acara.Dion hanya terdiam, tanpa berani bersuara apapun. Nenek Lisa kembali meminta para tamu, untuk menikmati acaranya, dan dia juga minta maaf atas insiden kecil tadi.Selama berlangsungnya acara, Dion terus menerus mencuri pandang pada Olivia, yang semakin cantik dan mempesona.Semenjak perpisahannya dengan Karina yang memilih pergi mengejar karirnya, Dion merasa cukup berat menjalani hari- harinya.Apalagi ket
Bab38"Lama tidak berjumpa, Olivia." Dion berkata sembari mendekat. Ia menyodorkan tangannya, berharap bisa berjabat tangan dengan wanita itu.Olivia menyambut tangan itu, tanpa melihat ke arah Àmmar, yang memasang wajah masam."Baik." Wanita cantik itu mengulas senyum tipis, membuat dada Dion berdebar."Kupikir kamu tidak akan kembali lagi, Olivia. Rupanya, setelah beberapa tahun menghilang, kini kamu datang lagi, ada tujuan apa?" tanya Zoya, menatap tajam, tapi masih disertai dengan senyuman tipisnya."Olivia adalah istri saya, ibu dari anak saya. Jadi wajar, dia kembali, bahkan dia memang harus kembali. Karena kami berdua, masih punya tanggung jawab, untuk membesarkan Dewa, dengan kasih sayang orang tua yang lengkap," jelas Ammar."Hhmm, Ammar ...." Zoya menatap dalam ke arah mata hitam lelaki itu."Kamu begitu romantis, sayangnya tidak ada cinta yang tulus," desah Zoya.Ammar mengernyit."Bukan ranah kamu, untuk membahas masalah perasaan dan cinta saya. Sebaiknya tertiblah layakny
Bab37"Bu, ada apa?" Dewa merasa heran, dengan reaksi yang ibunya tunjukkan, ketika melihat ayahnya."Dewa, tunggu ayah di bawah. Ayah harus bicara berdua sama ibu," pinta Ammar dengan tenang. Meskipun ada perasaan berat dihati.Dewa yang penurut, langsung memangguk patuh, dengan ucapan ayahnya.Tatapan Ammar, menyiratkan kemarahan yang mendalam, dan hal itu bisa dirasakan Olivia."Pulanglah bersama kami, Olivia ....""Seharusnya kita tidak perlu lagi saling mencari lagi, Pak. Anda bisa berbahagia, bersama dengan kak Zoya.""Jangan kekanak- kanakkan, Olivia. Kita ini sudah menjadi orang tua. Memangnya kamu tidak kasihan sama Dewa?"Olivia terdiam."Ini bukan hanya tentang saya, tentang kita, tapi tentang anak kita, Olivia. Tentang Dewa, yang masih butuh kasih sayang, dia tidak tahu apa- apa, jangan hukum dia, saya mohon," lirih Ammar.Suara lelaki itu bergetar.Olivia terhenyak, bingung harus mengambil keputusan apa? Kini Dewa sudah tumbuh besar, apakah Olivia sanggup menyakiti hati
Bab36Olivia tersentak, ketika tangan kecil Dewa, menyentuhnya. Refleks dia menjauh, dan melihat kesekitar. 'Bagaimana mungkin, Dewa tahu keberadaannya? Apa Ammar ada di dekat sini?'Olivia langsung memundurkan langkah, memasang sikap waspada."Bu ...." Dewa kebingung, melihat sikap yang Olivia tunjukkan."Bagaimana kamu tahu saya disini?" Olivia bertanya dengan suara gemetar. Dia takut, takut kembali bertemu dengan Ammar. "Dewa kemari bersama Ayah, Bu. Ayah bilang ibu telah kembali, kenapa ibu nggak pulang ke rumah?""Dimana ayahmu?" Olivia semakin merasa cemas dan sangat khawatir."Ibu kenapa seperti ketakutan? Ayah sepertinya ada di bawah, Bu. Ayah cuma mengantar Dewa ke depan pintu kamar ibu. Ayah bilang, ayah ada keperluan masih.""Bbeenar dia gak ada disini?" "Iya."Seketika itu juga, Olivia langsung memeluk Dewa dengan erat. Air matanya tumpah, membasahi baju mungil lelaki tampan itu.Dewa juga menangis, mencurahkan kerinduannya pada Olivia. Selama ini, Ammar selalu memperli
Bab35Karena Zanuar orang yang juga disegani, tentu saja Ammar meragu, untuk menutup area Bandara, demi menangkap Olivia.Akhirnya, Ammar memutuskan untuk memilih jalan lain, dan lebih hati- hati lagi. Agar dia tidak gagal, menangkap Olivia.Ammar juga mencari tahu, setiap pergerakkan Olivia.Dua hari kemudian, Zanuar datang langsung ke kantor Ammar, untuk bertemu dengan lelaki itu. Ammar sempat mengernyit, kenapa Zanuar menemuinya.Dilanda rasa penasaran, Ammar pun mempersilahkan Zanuar untuk masuk ke kantornya.Lelaki berusia 55 tahun itu, dengan tubuh yang masih tegap berisi, menatap Ammar dengan dingin.Dia duduk, kemudian membenarkan tata letak kacamatanya, baru melihat ke arah Ammar dengan tajam."Kamu mengirim orang, untuk memata- matai kami? Ada masalah apa, pak Ammar?" tanya Zanur.Ammar tidak heran, jika Zanur bertanya hal ini. Sebab, orang- orangnya sudah memberitahu, kalau salah satu team mereka, tertangkap anak buahnya Zanuar."Tolong sampaikan pesan saya, pada wanita yan
Bab34"Olivia ...." Ammar panik dan berlari cepat. Dia menghubungi semua anak buahnya, untuk ikut mencari jejak Olivia. Sementara Zoya, mulai membersihkan jejak- jejak keterlibatannya. "Tutup semua akses Bandara!!" Ammar berteriak di telepon kepada para orang suruhannya.Lelaki itu mengemudi dengan kecepatan penuh. Tubuhnya gemetar,pikirannya kacau. Ada sesal mendalam di hatinya kini, karena lalai menjaga Olivia.Namun disaat dia sedang kacau dan panik. Zoya mengirimkannya sebuah foto, yang membuat Ammar semakin murka."Sialan! Wanita itu rupanya berani main' main sama aku," teriak Ammar.Kemudian, dia kembali menghubungi para anak buahnya."Tangkap wanita itu! Jangan biarkan dia lolos." Amarah Ammar semakin memuncak, dia benar- benar ingin sekali mengamuk.Sayangnya, jejak Olivia benar- benar lenyap. Ammar kalah, tidak bisa menemukan keberadaan Olivia begitu saja.Padahal, semua kekuatan sudah dia kerahkan.Bahkan seminggu telah berlalu, Olivia menghilang bagaikan di telan bumi. P
Bab33Zoya tersenyum, ketika Ammar pergi dari ruangan. Zoya menatap Olivia dengan ejekkan."Segitunya ya, minta perhatian dari Ammar," ejek wanita itu."Kamu tidak sadar ya, kalau kamu itu, hanya dia jadikan pelampiasan kekecewaannya padaku. Kamu pikir, dia menikahimu karena cinta? Tidak Olivia ...."Olivia masih cukup begitu lemah, jadi tidak begitu ingin menanggapi ucapan Zoya."Aku benar- benar kasihan, sepertinya kamu memang terlahir sial ya. Cinta sama Dion, malah di abaikan, eh nikah sama Ammar, hanya jadi bahan pelampiasan. Huuu, kasihan ....""Pergilah! Saya butuh istirahat," pinta Olivia pada Zoya. Namun Zoya malah terkekeh, kemudian mendekati wanita itu dan berbisik."Aku bahagia sekali, melihat kamu seperti ini. Kamu pantas menderita, Olivia."Olivia tidak perduli, dia juga tidak menanggapi ucapan, serta gelak tawa Zoya.Belum sempat Zoya bersuara lagi, suara langkah kaki terdengar. Zoya menjauhkan diri dari Olivia, kemudian bertingkah layaknya kakak yang baik dan perhatian
Bab32Ammar mengepalkan tinju, mendengar permintaan Olivia. Dia sengaja membawa Zoya ke apartemen mereka, berharap mendapatkan reaksi cemburu dari Olivia.Namun, dia sendiri malah kebingungan, menilai reaksi Olivia.Ammar mencengkram lengan Olivia, menatap tajam pada istri sahnya itu."Kamu mau menciptakan keluarga yang berantakan pada anak saya yang masih bayi itu?""Jangan pernah bermimpi, untuk bercerai. Karena sampai kapanpun, saya tidak akan pernah menceraikan kamu, paham!!""Untuk apa pernikahan toxic ini? Saya lelah menjalaninya, saya nggak bahagia, Ammar.""Jadi kalau cerai dari saya, kamu bahagia. Kemudian, kamu akan menikahi Dion, begitu tujuan kamu, Olivia ....""Lagi- lagi kamu bawa Dion? Memangnya saya ada bilang, kalau saya akan kembali mengejar Dion?""Saya tidak percaya kamu, Olivia.""Saya tidak perduli, Tuan Ammar yang terhormat. Mari kita bercerai, kita tidak cocok. Anda bisa memulai lagi hubungan yang baru, bersama wanita anda," tegas Olivia, kembali menyulut emosi
Bab31"Ammar, jangan ...." Olivia memelas, berharap Ammar tidak menyentuhnya."Kenapa kamu menolak saya? Apa karena Dion?" Olivia menjawab dengan menggeleng lemah."Lalu apa. Saya suami sah kamu, Olivia. Saya berhak atas semua, yang ada pada dirimu.""Ammar, beri saya waktu.""No. Kamu milik saya, dan saya berhak atas kamu ...."Meskipun Olivia berusaha menghindar, Ammar tidak melepaskannya. Lelaki itu menyentuhnya dengan kasar, dan tidak ada kelembutan disana.Olivia menangis, merasakan sakit ditubuhnya. Meskipun Olivia memohon, Ammar tidak menghiraukannya.Bahkan, Ammar dengan kasar melahap bibir Olivia, hingga membengkak. Air mata mengalir, membasahi wajah cantiknya.Dan Ammar, melakukan itu nyaris tak kenal waktu. Kapanpun dia ingin, dia akan melakukannya.Olivia merasa tidak tahan lagi. Namun, dia juga tidak tahu, harus bagaimana lagi. Ponselnya pun Ammar sita, bahkan hanya ada babysitter yang ada di apartemen mereka. Sedangkan urusan memasak dan membersihkan apartemen, Ammar b