Share

2. Status WA

Penulis: Tetiimulyati
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-06 11:15:19

Pagi hari ketika bangun tidur Alfan kembali rewel dan menanyakan Mas Haikal. Aku membuka ponsel bermaksud meminta Mas Haikal menghubungiku kalau nanti dia ada waktu.

Tapi aku melihat dia sudah online sepagi ini. Tidak biasanya, jam 04.37 Mas Haikal sudah bangun tidur. Oh iya aku lupa, semalam Mas Haikal bilang kalau pagi ini Arumi akan pergi ke Jakarta.

Lebih baik aku menghubungi Mas Haikal sekarang. Alfan sangat rindu dengan Ayahnya maka tanpa pikir panjang aku segera menekan gambar kamera pada profil Mas Haikal.

Ditolak. Padahal Mas Haikal barusan aku lihat sedang online tapi begitu aku melakukan panggilan video call dia langsung offline. Dua kali panggilan dariku tidak terjawab. Ada apa?

Berselang beberapa menit Mas Haikal menghubungiku. Langsung aku arahkan kamera pada Alfan yang  masih merajuk.

"Sayang, lihat! Ini Ayah, Alfan mau bilang apa sama Ayah? Ayo salam dulu." Aku menunjukkan layar ponselku pada Alfan dan seketika matanya berbinar.

"Assalamualaikum, Yah."

"Waalaikum salam sayang, Alfan kok udah bangun pagi-pagi? Kangen ya, sama Ayah?" sapa Mas Haikal di ujung sana.

Alfan tidak menjawab dia hanya mengangguk beberapa kali. Matanya terlihat berkaca-kaca.

"Ayah masih kerja belum bisa pulang sekarang. Alfan mau dibawain apa kalau Ayah pulang?"

"Mobil-mobilan yang besar," jawab Alfan antusias.

"Iya sayang, tunggu Ayah pulang ya. Jangan nakal, harus nurut sama Ibu."

Alfan kembali mengangguk.

"Ya udah, dadah dulu sayang." Mas Haikal melambaikan tangannya dan dibalas oleh Alfan.

"Ros."

"Iya Mas," jawabku sambil mengarahkan ponsel ke hadapanku.

"Mas siap-siap dulu, kamu jaga diri baik-baik ya!"

"Iya, Mas hati-hati ya. Eh, tunggu! Mas pake baju siapa?" Aku baru sadar kalau Mas Haikal memakai piyama baru karena itu bukan bajunya dan di rumah dia memang dia tidak punya piyama satu pun.

"Ini ... Mas pinjam punya Dimas. Mas nggak ada baju lagi."

"Emang muat?" tanyaku lagi sebab aku tahu badan Dimas lebih kecil dari Mas Haikal.

"Muat kok. Kamu kenapa sih Ros? Sempet- sempetnya merhatiin baju Mas. Suami mau pergi bukannya dikasih semangat, dido'akan. Malah komen yang lainnya."

"Ya udah, Mas hati-hati. Pulang dari Jakarta sempatkan menemui Alfan."

"Iya, Mas janji. Mas tahu Alfan sudah kangen sama Ayahnya. Apalagi Ibunya, pasti kangen berat," ucapnya membuat aku tersipu.

Itulah kelebihan Mas Haikal selalu bisa membuat aku tersipu dan berbunga-bunga. Dan mungkin kelemahanku adalah selalu terbuai oleh sikap manisnya hingga lupa kalau dia berulangkali berkhianat di belakangku.

Setelah Mas Haikal mengakhiri panggilannya aku menyimpan ponsel dan menggendong Alfan ke luar kamar. Lalu menemui Ibu di dapur yang sudah sibuk mengolah makanan untuk sarapan.

"Biar Rosa saja Bu,"

"Tidak apa-apa, biar Ibu saja. Kamu urus dulu Alfan sana." Ibu menolak bantuanku.

Memang tidak enak sebenarnya, sering melibatkan Ibu dalam pekerjaan rumah yang seharusnya kulakukan semua. Tapi Ibu selalu bersikeras mengerjakannya.

"Haikal tidak pulang semalam?" tanya Ibu dari arah dapur.

"Tidak Bu."

"Lembur lagi?"

"Iya."

"Makin ke sini makin sering lembur. Ibu bukannya tidak percaya pada suamimu, tapi mengingat sebelumnya .... "

"Bu .... " Aku memotong kalimat Ibu.

Ibu menoleh sebentar ke arahku lalu kembali fokus menyiangi sayuran.

"Kamu jadi istri jangan terlalu polos," lanjutnya kemudian.

"Rosa hanya ingin menjaga rumah tangga ini, Bu. Selama ini kita bergantung pada Mas Haikal. Itu saja."

"Kamu pikirkan perasaan kamu juga, mulai sekarang belajar lah mandiri. Ibu bukannya ingin menghasutmu. Ibu juga perempuan, Ibu tahu apa yang kamu rasakan."

Selama ini memang hanya dengan Ibu aku membagi cerita tentang perilaku Mas Haikal di luar sana. Sebelumnya Ibu tidak percaya karena melihat sikap manis Mas Haikal terhadapku di rumah.

Siapa pun tidak akan percaya kalau Mas Haikal sering bermain hati di belakangku. Dia suami yang sangat menyayangi keluarganya. Selalu bersikap manis dan lembut. Meski dalam hal mencari nafkah bukan termasuk suami idaman.

Aku sudah berulangkali mengutarakan niatku untuk bekerja. Alfan sekarang sudah besar, sudah bisa disambi. Tapi Mas Haikal selalu melarangku.

"Kamu fokus saja mengurus Alfan, tidak usah memikirkan masalah uang. Itu tugas Mas sebagai suami. Syukuri berapapun yang Mas dapatkan. Bukankah soal rezeki sudah ada yang mengatur?"

Ucapan Mas Haikal ada benarnya. Aku takut dia tersinggung setiap kali aku meminta izin untuk bekerja. Aku tak mau dibilang istri yang tidak pandai bersyukur.

Selesai memasak Ibu pergi bekerja seperti biasa, sedangkan Delia pergi ke sekolah. Sambil mengawasi Alfan aku membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Baru setelah itu aku bisa beristirahat.

Membuka ponsel yang sejak tadi tergeletak kuabaikan. Ada beberapa chat dari grup sekolah. Grup alumni SMA paling banyak tapi aku malas membukanya.

[Ros, suamimu pergi bersama Arumi ya?]

Kubuka pesan dari Wika yang masuk beberapa menit yang lalu. Wika adalah teman satu kelasku juga Arumi.

[Iya.]

Kubalas singkat.

[Kok bisa?]

[Mas Haikal sekarang kerja jadi supirnya Arumi.]

[Kerja?]

[Iya.]

[Kamu udah buka status WA nya Arumi?]

[Belum.]

[Coba buka deh!]

Aku membuka status WA Arumi seperti saran Wika. Hanya ada satu kali update dua jam yang lalu. Sebuah poto dirinya sebatas dada, memakai kerudung merah muda dengan riasan wajah paripurna. Tak ketinggalan senyum merekah serta caption 'bismillah'. Arumi memang cantik dan terawat. Wajahnya yang sudah cantik alami ditambah dengan dandanan luar biasa semakin menambah kecantikannya menjadi berkali lipat.

Ada yang mengusik pandanganku ketika melirik sisi kanan poto itu. Hanya terlihat sedikit saja tapi aku yakin itu bahu milik Mas Haikal. Ya, berarti Arumi duduk di samping Mas Haikal.

Tiba-tiba ada rasa tidak enak melihatnya. Ada sesuatu yang mengoyak kepercayaanku. Bukankah majikan umumnya duduk di belakang? Bukan di samping sopir. Aku beristighfar berkali-kali, mencoba meredam prasangka yang semakin kuat.

[Sudah lihat belum?]

Pesan dari Wika kembali masuk.

[Sudah, yang ini kan?]

Aku menyertakan screenshot poto yang ada pada status Arumi.

[Iya. Coba lihat yang lainnya!]

[Yang lainnya? Yang mana? Hanya ada satu Poto yang Arumi unggah.]

[Masa?]

[Bener, Ka]

[Ada lagi kok.]

Wika meyakinkan. Aku buka sekali lagi tapi tetap sama. Tidak ada Poto lain. Apakah aku dikecualikan?

[Coba lihat poto apaan sih?]

Rasa penasaranku memuncak. Tak lama kemudian Wika mengirim beberapa poto yang semuanya adalah poto-poto Arumi sedang berada di sebuah restoran. Dari meja dan interiornya aku yakin itu bukan restoran biasa.

Namun di dalam poto-poto itu Arumi tidak sendirian, dia bersama lelaki yang lima tahun ini menjadi suamiku, Mas Haikal. Sebuah poto menampakkan Arumi tengah duduk dan di sampingnya Mas Haikal tengah sibuk bermain ponsel. Mereka duduk berdekatan? Ya Tuhan.

Poto lainnya nampak mereka sedang berada di dalam mobil. Arumi tersenyum merekah dan Mas Haikal di sampingnya memegang setir sambil mengacungkan satu jempolnya. Baju dan kacamata Mas Haikal semuanya baru. Apakah Arumi yang membelikannya? Seperti halnya piyama yang tadi pagi aku lihat, aku yakin itu bukan milik Dimas.

Sepertinya itu poto yang sama yang tadi aku lihat pada status WA-nya, hanya saja yang kulihat itu sudah dipotong sehingga Mas Haikal tidak kelihatan.

Ada lima buah poto yang Wika kirim dan semuanya adalah swapoto Arumi dengan Mas Haikal. Lelaki itu nampak khas dengan gaya kalemnya.

[Makasih, Ka. Sepertinya aku dikecualikan pada status Arumi. Tapi kenapa?]

[Ya ampun, Ros. Kamu masih nanya juga. Ya karena kamu istrinya Haikal lah makanya status WA Arumi disembunyikan darimu. Udah bener-bener tuh manusia dua.]

[Stop Ka! Jangan suudzon. Makasih ya infonya.]

Aku tak mau larut dalam prasangka buruk. Meskipun di dalam dada ini bergemuruh rasa cemburu. Tapi aku tidak boleh suudzon. Mereka adalah teman dan suamiku, meski Mas Haikal sudah berulangkali kali melakukan itu. Tapi tidak mungkin dia bermain hati dengan Arumi sahabatku.

Sejak Mas Haikal bekerja pada Arumi, perekonomian kami mengalami perubahan. Untuk kebutuhan sehari-hari terpenuhi dan aku sedikit-sedikit bisa menyisihkan uang.

Entah berapa gajih Mas Haikal dari pekerjaannya itu, karena setiap bulannya dia memberiku uang yang cukup, sedang dia sendiri sepertinya sering berbelanja pakaian. Karena sekarang bajunya banyak yang baru dan bagus-bagus.

Mas Haikal memang selalu memperhatikan penampilannya. Dari sebelum menikah denganku dia selalu rapih dan modis. Tubuhnya yang tegap ditambah wajah yang lumayan tampan membuat siapapun yang tak mengenalnya akan mengira kalau Mas Haikal seorang pengusaha muda yang sukses.

Menjelang sore hari aku mencoba menghubungi Mas Haikal karena sejak tadi tidak ada memberi kabar. Aku hanya khawatir saja, meski tadi siang aku tahu dia baik-baik saja.

Satu kali panggilan tak terjawab, kuulangi tetap saja. Hingga tiga kali aku menghubunginya tetap tak ada jawaban. Aku lupa Mas Haikal mungkin sedang menyetir.

Iseng kubuka profil Arumi dan terakhir dilihat jam 15.13, itu artinya dua jam yang lalu. Begitupun profil  Mas Haikal terakhir dilihat pukul 15. 08. Kenapa mereka off bersamaan? Kalau Mas Haikal mungkin sedang menyetir, tapi Arumi? Ah iya, mungkin baterainya habis. Atau Arumi tertidur di mobil, bisa saja.

Mencoba terus berpikir positif dan menekan pikiran negatif yang terus saja meronta muncul didalam otakku. Arumi, tak mungkin dia lakukan itu. Kuletakkan kembali ponsel di atas meja rias di kamar.

Sebentar lagi magrib, aku bersiap untuk segera melaksanakan shalat setelah itu menemani Alfan belajar mengaji di Madrasah yang tak jauh dari rumah.

Sepulang dari Madrasah aku mendapati 7 panggilan tidak terjawab dari Mas Haikal.

"Kamu dari mana saja, Ros?" tanyanya begitu telepon terhubung.

"Dari Madrasah Mas, menemani Alfan belajar mengaji," jawabku datar,  teringat poto-poto yang kulihat tadi dan sekarang sudah aku pindahkan ke ponsel Delia.

"Yakin ke Madrasah?" tanyanya sinis. Lho? Seharusnya aku yang marah karena tadi sulit kuhubungi duluan.

"Terus ke mana lagi malam-malam begini Mas?"

"Kenapa ponselnya nggak dibawa? Jadi kalau Mas telepon kan bisa langsung terjawab."

"Tadi Mas Haikal susah dihubungi, mungkin kalian sedang sibuk. Jadi aku simpan saja ponselnya di rumah."

"Kalian? Kok kamu ngomongnya kalian. Mas kan tadi nyetir jadi nggak bisa jawab panggilan. Lain kali kamu ngomongnya dijaga ya. Nanti nggak enak kalau terdengar Arumi. Mas kan lagi kerja, kamu jangan banyak suudzon, nggak baik. Bisa menghalangi rezeki nantinya."

Mas Haikal mengakhiri panggilannya, tanpa kata kangen tanpa bertanya kabar Alfan. Tidak seperti biasanya.

[Mas kok nggak nanya kabar Alfan? Nggak bilang kangen juga sama aku dan Alfan?]

Segera kukirim pesan karena memang tidak biasanya dia bersikap seperti ini.

[Males. Kamu bukannya ngasih semangat sama suami yang sedang kerja, malah berpikir yang macem-macem.]

Apa?

Bukankah dia duluan yang sulit dihubungi dan bertanya seolah tak percaya aku pergi ke Madrasah. Lalu kenapa dia yang marah hanya karena aku berkata seperti itu?

Ini sudah diluar kebiasaan dia, Mas Haikal berubah. Tak lagi kubalas pesannya dan tidak ada usaha dia untuk membujukku seperti biasa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    3. Pintar Berkelit

    Sebentar pun aku belum bisa memejamkan mata. Suara detak jam dinding tua di dinding kamarku seirama dengan detak jantungku saat ini. Kulirik Alfan yang sudah terlelap sejak sepulang dari Madrasah tadi.Mas Haikal tak lagi memberi kabar bahkan WA-nya terakhir dilihat sepuluh menit setelah meneleponku. Iseng ku intip juga WA milik Arumi, aktif hanya beda beberapa menit dari Mas Haikal. Ada apa ini, kok aku jadi berpikiran negatif. Mereka on dan off bersamaan.Dimana mereka? Apakah sudah pulang atau masih dalam perjalanan? Kuketik pesan untuk menanyakan keberadaannya Mas Haikal, tapi kemudian kuhapus lagi. Untuk kesekian kalinya akhirnya aku memberanikan diri untuk mengirim pesan dan ternyata centang satu. Perasaanku makin tak terkendali, kucoba berkali-kali untuk berpikir positif tapi selalu kalah dengan pikiran kekhawatiranku.Setengah jam kemudian aku mengecek kembali pesan yang kukirim tadi. Ternyata sudah terbaca namun Mas Haikal tidak membalasnya. Ya ampun Mas, apa yang terjadi?*

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-06
  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    4. Pov Haikal

    Pekerjaan yang Rosa sarankan kali ini ternyata mengantarkanku pada tambang emas. Bagaimana tidak? Arumi adalah wanita kaya raya, cantik, modis dan kesepian. Poin terakhir inilah yang bisa melancarkan aksiku. Rosa tidak tahu kalau selama ini pekerjaan suaminya adalah menjerat wanita-wanita kaya dan kesepian. Uang yang selama ini aku berikan pada Rosa adalah hasil aku mengumbar janji manis dan rayuan maut. Ya, kebanyakan para wanita akan berbunga-bunga dengan sedikit perhatian saja. Cukup ditanya sudah makan belum, atau kamu cantik pakai baju itu saja mereka sudah tersipu. Apalagi mereka yang kurang perhatian dari suaminya karena terlalu sibuk mencari rupiah hingga lupa kalau istri mereka juga butuh sedikit diperhatikan. Kebanyakan para suami berpikir bahwa menyenangkan istri itu cukup dengan diberi lembaran merah saja. Mengambil hati kaum bergincu itu pekerjaan mudah dan sangat menyenangkan. Diberi perhatian sedikit saja mereka akan meleleh apalagi kalau setiap hari ditanya

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-21
  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    5. Gampang Dirayu

    Seperti yang dia bilang, jam istirahat aku sudah bertandang ke ruangan Bu Bos, wanita cantik pemilik pabrik roti terbesar di kota ini. "Ada apa Mas Haikal?" tanyanya setelah mempersilahkan aku duduk. "Sebenarnya aku sungkan, tapi mau bagaimana lagi, aku bingung harus minta tolong sama siapa." Kumulai aktingku dengan sedikit memasang wajah bingung. "Mas Haikal nggak usah ragu, katakan saja!" Arumi mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Rosa sedang perlu uang untuk biaya berobat Ibunya. Kebetulan aku masih lama gajian dan ini sangat mendesak, jadi .... " "Oh itu, kenapa tidak bilang dari tadi? Butuh berapa?" "Lima ratus ribu. Terimakasih banyak, nanti kalau aku gajian, potong saja gaji aku untuk menggantinya. Tapi jangan bilang sama Rosa kalau aku minta tolong sama Bu Arumi, sebab kata Rosa dia tidak enak sama Bu Arumi." "Iya, tenang saja aku nggak akan ngomong, lain kali kalau ada apa-apa bilang saja jangan sungkan!" Arumi tersenyum manis, kami memang sudah saling men

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-21
  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    6. Dia Cemburu

    Hari ini aku mengajak Arumi jalan ke luar kota, sayang juga uang Arumi kalau tidak dipake berfoya-foya dari sekarang. Semalam aku tak pulang ke rumah karena memang Rizal suaminya Arumi tak ada di rumah. Kami bebas menghabiskan malam bersama, hingga pagi ini Rosa meminta panggilan video. Gawat. Aku masih berada di kamar Arumi, bahaya kalau aku menerima panggilan video dari Rosa di sini. Semalam juga Rosa curiga ketika kami dengan berbicara lewat telepon tiba-tiba Arumi batuk-batuk. Untung saja aku cepat beralasan kalau itu suara Mumun pembantu Arumi yang baru saja mengantarkan kopi. Wanita sepolos Rosa pasti akan percaya. Bergegas aku berjalan ke luar menuju pekarangan di dekat pos satpam lalu menghubungi Rosa menggunakan panggilan video. Rupanya Alfan sepagi ini sudah bangun dan rewel katanya. Dia kangen sama aku dan meminta aku untuk membelikan mainan seperti punya temannya. Itu urusan gampang, nanti aku akan meminta Arumi membelikannya. Dia pasti akan dengan senang hati menuruti

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-21
  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    7. Lelaki Bernama Rizal

    Dengan sedikit dalih aku menyerang Rosa terlebih dahulu, bahwa tidak baik berburuk sangka kepada suami yang sedang mencari nafkah. Sehingga seolah-olah aku tak bersalah apa-apa dan Rosa telah salah menilai kami. Sehingga Rosa merasa tersudut dan tak lagi bicara. Arumi terus menerus menghubungiku, aku terpaksa menerima panggilannya di dalam kamar sementara Rosa sedang memasak di dapur. "Kamu lama banget, Mas? Kapan kembali ke sini?" "Aku baru saja sampai, Rumi. Tadi mampir ke toko mainan dulu." "Jangan lama-lama, Mas! Nanti kamu lupa pulang ke sini." Ya ampun ternyata seposesif ini Arumi? Sangat berbeda dengan Rosa yang penurut dan tak banyak protes. "Iya, sayang. Sabar ya!" Obrolan kami terhenti ketika pintu kamar diketuk oleh Rosa, dia memintaku segera sarapan. Sebenarnya aku sudah sarapan di rumahnya Arumi tadi pagi. Tapi tak enak juga menolak makan di sini, aku harus tetap menghargai Rosa sebagai istri. Supaya dia tidak tambah curiga. Karena aku belum bisa menguasai Arumi se

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-21
  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    8. Kejutan

    Pov Rosa Sejak hari itu kecurigaanku semakin bertambah melihat Mas Haikal tergesa-gesa karena Arumi memintanya datang. Iya memang, dia sedang bekerja. Tapi apa dia tidak kangen denganku? Tak inginkah tidur barang semalam saja di sini? Alfan juga nampaknya masih belum puas melepas rindu dengan Ayahnya. Dua bulan sejak hari itu Mas Haikal hanya pulang beberapa kali saja ke rumah untuk mengantarkan uang. Jumlahnya memang lebih dari cukup untuk hidup kami berempat. Tapi bukan hanya itu yang aku inginkan, aku ingin suamiku seperti yang dulu. Mas Haikal pernah bermain hati beberapa kali di belakangku. Tapi tidak sampai lupa pulang. Dia tetap memberikan perhatiannya padaku juga pada Alfan. Tapi sekarang, aku telah kehilangan Mas Haikal yang dulu. [Rumi, aku dan Alfan membutuhkan Mas Haikal. Berilah cuti sehari saja supaya punya waktu untuk keluarganya.] Aku memberanikan diri mengirim pesan kepada Arumi. [Mas Haikal banyak pekerjaan di sini. Seharusnya sebagai istri yang baik kamu

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03
  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    9. Pengkhianatan

    "Iya. Kaget? Karena pekerjaan Mas Haikal yang sesungguhnya ketahuan?" Aku tak kalah tajam menatapnya. "Kenapa kamu ada di sini? Keluar rumah tanpa seizin suami, itu salah Rosa!" Mas Haikal mulai menyerangku terlebih dahulu seperti biasa untuk menutupi kesalahannya. "Mulai sekarang tidak usah seperti predator Mas, menyerang duluan karena merasa terancam. Jika aku salah keluar rumah tanpa seizin suami. Maka apakah yang kalian lakukan itu benar? Lelaki beristri dan perempuan bersuami bergandengan tangan seperti tadi di tempat umum." Kali ini aku memberanikan diri mengungkapkan isi hatiku. Mas Haikal nampak kaget mendengar ucapanku, mungkin dia tidak menyangka sekarang aku berani berkata seperti itu. "Jangan sembarangan ngomong Ros, aku bukan perempuan bersuami jadi bebas mau jalan dengan siapapun." Tak kusangka Arumi berkata seperti itu sambil mendekatiku. Oh, jadi Arumi bercerai dengan suaminya? Pantas saja Mas Haikal lupa pulang dan lupa anak istri. "Oh, jadi secara tidak langsung

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03
  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    10. Kehilangan

    Seorang tetanggaku yang kebetulan tadi sedang bekerja di kebun bersama Ibu, menyambutku di puskesmas. "Sabar ya Ros, mungkin ini cobaan untuk kamu dan adikmu. Kalian anak-anak yang soleha dan kuat," ucapnya seraya mengusap bahuku. "Bagaimana keadaan Ibu?" Aku tak sabar mendengar kabarnya. "Ibu kalian ... sudah pergi .... " "Innalilahi wainna ilaihi roji'un." Badanku mendadak lemas seakan tulang-tulangku menjadi rapuh seketika. Ibu adalah satu-satunya orang tua yang aku miliki. Selama ini hanya Ibu yang menguatkan aku. Begitu cepat Dia memanggilnya. Para tetangga sudah pulang sejak tadi, hanya tinggal beberapa kerabat Ibu yang masih menemaniku. Delia masih sangat berduka, aku bisa memaklumi itu. Dia masih sangat muda untuk menjadi yatim piatu. Usianya masih sangat muda, masih butuh kasih sayang dari seorang Ibu. "Kakak faham, kalau kamu masih sangat terpukul dengan kepergian Ibu. Kakak juga sama, tak ada anak yang mau hidup tanpa orang tua apalagi Ibu. Tapi tidak baik juga

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03

Bab terbaru

  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    69. Menuai Hasil

    Beberapa hari setelah itu aku pindah ke rumah yang tempo hari Mas Dika tunjukkan. Tempatnya tidak jauh dari sekolah Delia. Rumah lamaku, sekarang dijadikan sebagai tempat para penjahitku bekerja. Jadi aku masih harus sering ke sana untuk memantau pekerjaan mereka. Sementara Mas Dika juga masih bolak balik ke luar kota mengurusi tokonya. Meski hanya dua kali dalam seminggu. "Sayang, Mas ada ide nih. Tapi sepertinya kamu juga bakalan suka." Sore ini ketika kami berkumpul sambil menunggu adzan magrib, Mas Dika sepertinya berbicara agak serius. Aku pun menatapnya serius sebentar. "Ide apa, Mas?" tanyaku seraya menambahkan gula pada teh hangat yang baru saja kuseduh. "Bagiamana kalau uang yang tempo hari itu kita gunakan untuk membeli ruko di dekat pasar." "Ruko yang masih dalam proses pembangunan itu, Mas." "Iya, kebetulan tempatnya strategis, jadi bisa untuk mengembangkan usahamu. Siapa tahu kedepannya bisa menjadi butik yang besar." Aku berpikir sejenak, meski usahaku sekarang

  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    68. Berita Mengejutkan

    Aku segera menggeser kursi yang sedang kududuki bermaksud hendak menyapanya. Lalu dengan isyarat aku mengajak Mas Dika untuk ikut berdiri. Meski terlihat bingung tapi Mas Dika akhirnya ikut berdiri dan mengikutiku melangkah mendekati lelaki itu. "Mas Rizal," sapaku. Merasa dipanggil namanya lelaki itu menoleh lalu terlihat sedikit bingung. Baru beberapa detik kemudian dia tersenyum. "Rosa!" serunya. "Iya, Mas. Maaf, mengganggu. Apa kabar Mas?" "Seperti yang kamu lihat Ros, alhamdulillah baik. Kamu sendiri?" "Alhamdulillah baik juga, Mas. Oh ya, kenalkan ini Mas Dika, suamiku." Aku menunjuk Mas Dika, lalu keduanya bersalaman. "Saya Rizal, mantan suaminya Arumi. Saya dan Rosa mungkin senasib." Mas Rizal tertawa kecil sambil mempersilahkan kami duduk. Awalnya aku menolak karena tak enak, tapi Mas Dika mengiyakan. Akhirnya kami bergabung ke meja Mas Rizal bersama wanita yang semula kusangka istrinya, tapi ternyata adiknya Mas Rizal. Sejak terjadi pengkhianatan itu, ba

  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    67. Kejutan lagi

    Aku tersenyum lebar mendengarnya. Jadi selama ini dia tidak pernah membahas Mas Haikal bukan karena menjaga perasaannya? Tapi karena untuk lebih menjaga perasaanku. "Loh, kita mau kemana Mas?" Aku merasa heran ketika Mas Dika mengambil jalur lurus sementara untuk menuju rumahku seharusnya belok kiri. "Mas mau nunjukin sesuatu," "Apa?" "Kejutan dong," "Baiklah, kalau begitu aku tutup mata." "Ide bagus," ucapnya kemudian. Aku menutup mataku dengan kedua telapak tangan. Terlihat lucu memang, karena dia yang akan memberi kejutan tapi aku yang punya inisiatif untuk menutup mata. Aku masih menutup mataku ketika aku merasa mobil berhenti. "Bentar." Mas Dika terdengar membuka pintu di sebelahnya lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu disebelahku. "Ayah, ini rumah siapa?" tanya Alfan ketika aku baru saja turun. "Rumah?" Aku bergumam. "Iya," jawab Mas Dika. Lalu aku merasa dia meraih tanganku yang menutupi mata. "Sudah, buka saja. Toh Alfan sudah ngomong kita sedang berada

  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    66. Diam-diam suka

    "Ehem, kayaknya drama pelukannya diskip dulu, deh." Aku terkejut mendengar deheman Serly, lupa kalau kami sedang berada di rumah orang. "Makasih, ya, Ser. Karena kamu sudah bisa menjaga rahasia ini," kata Mas Dika." "Perjuangan banget, Mas. Aku sering hampir keceplosan ngomongin Mas Dika," kekeh Serly. Aku juga tak sadar ikut tertawa, begitupun Mas Dika dan Mas Helmi. "Oh ya, Mas. Berarti uang ini aku kembalikan sama Mas Dika ya?" Aku mengambil amplop yang sudah aku simpan di meja tadi lalu menyerahkannya pada Mas Dika. Tapi Mas Dika malah tertawa kecil membuat aku menautkan alis. Sementara tanganku masih terulur. "Baiklah, karena ini ijab qobulnya pinjaman, maka Mas akan terima uangnya." Akhirnya Mas Dika menerima amplop tersebut. "Terima kasih, Mas. Meski secara sembunyi-sembunyi tapi Mas Dika sudah sangat peduli sama aku. Sekarang utangku sudah lunas, ya." "Iya, sayang. Itulah enaknya punya penggemar rahasia," kekehnya lagi. "Apa pun namanya, aku sangat bersyukur diperte

  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    65. Sebuah Rahasia

    "Yang ini 'kan?" tanya Mas Dika sambil memelankan laju mobil. "Iya." Kami bermaksud menemui Serly di rumah orang tuanya. Aku mendapat kabar kalau Serly baru tiba tadi pagi. Aku mengajak Mas Dika untuk menemuinya sekarang karena aku berniat mengembalikan uang Serly yang dulu aku gunakan untuk menebus surat tanah pada Arumi. Kebetulan jumlahnya baru terkumpul sekarang. Sebenarnya di awal pernikahan aku sudah membahas ini dengan Mas Dika dan beliau sudah berniat menambah uangnya agar cepat lunas katanya. Tapi aku menolak karena tidak ingin merepotkan dia. "Ya bukan merepotkan, dong. Mas kan suamimu. Kita selesaikan bersama masalah ini." "Aku mohon, tolong ridhoi aku, ya." Aku merajuk agar diizinkan untuk tidak menerima bantuannya. "Baiklah, terserah kamu saja." Seperti biasa, Mas Dika hanya mengiyakan tanpa protes lagi. "Paling juga satu bulan lagi jumlahnya akan genap," jawabku setelah menghitung dalam hati. "Oke, Mas ikut yang menurut kamu baik saja. Ternyata benar juga apa

  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    64. Melindungi

    Mas Dika menatapku seakan bertanya siapa wanita yang berdiri tak jauh dari kami itu. "Arumi," bisikku pada Mas Dika, membuat lelaki itu mengangguk samar. Penampilan Arumi sangat jauh berbeda dengan dahulu sewaktu mengambil Mas Haikal dariku. Badannya terlihat agak kurus dan wajahnya penuh bintik hitam, sepertinya kurang terawat. Pakaiannya pun terlihat biasa saja, padahal dulu dia paling fashionable. Kami hanya diam menunggu reaksi wanita di hadapanku itu. Arumi berjalan perlahan mendekati kami dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Yang jelas dia tidak terlihat bersahabat atau pun baik-baik saja. "Hebat kamu Ros, setelah berhasil mengambil semua hartaku lewat Mas Haikal, sekarang kamu menikah dengan lelaki lain. Apakah aku harus bilang selamat atau justru menyebutmu payah?" Tanpa basa-basi dia langsung melontarkan kata-kata yang menurutku isinya fitnah semua. Mas Haikal hanya sekali mengajak Alfan jalan-jalan dan membelikan mainan serta makanan yang ternyata dijadikan alasan s

  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    63. halal

    Berselang dua minggu setelahnya, hari pernikahanku dengan Mas Dika dilaksanakan secara sederhana di kediamanku. Hanya kerabat dekat dan teman-teman dekatku saja yang menghadiri. Satu minggu kemudian kami mengadakan resepsi di gedung. Ini karena keinginan Mamanya Mas Dika karena Mas Dika adalah anak pertama di keluarga mereka. Kata ibu mertuaku itu ini adalah pernikahan yang sudah lama ditunggu-tunggu maka mereka ingin mengadakan pesta yang cukup meriah. Orang tua Mas Dika sendiri merasa kaget ketika aku diperkenalkan kepada mereka. "Ini Rosa yang langganan kain, kan?" "I-iya, Bu." "Masya Allah, kalian kenal dimana?" pekiknya setelah dipastikan bahwa aku adalah langganan kain di toko mereka. Senyumnya terpancar. Saking seringnya berbelanja, aku memang sudah akrab dengan beliau. "Kami dipertemukan Allah dengan cara yang tidak disangka-sangka," jawab Mas Dika saat itu. Alhamdulillah keluarga Mas Dika mau menerimaku juga Alfan. Sedikitnya memang mereka kenal denganku karena Andra

  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    62. Diterima

    Sejak dalam mobil hingga kami duduk berhadapan yang hanya terhalang meja kecil ini, aku maupun Mas Dika masih banyak diam. Entah apa yang lelaki itu pikirkan. Apakah mungkin sama dengan yang ada di dalam otakku? Kejadian tadi sebelum berangkat membuat aku benar-benar tak enak hati. Bagiamana tidak, kencan pertama kami harus diawali dengan perselisihan dengan mantan suamiku. Padahal ini bisa dibilang sebagai momen yang penting bagi kelangsungan hubungan aku dan Mas Dika. Selain merasa tidak enak hati, aku juga merasa malu ketika terpaksa aku harus mengatakan bahwa Mas Dika calon suamiku. Padahal diantara kami belum ada pembicaraan ke sana. "Mmm ... Mas, aku minta maaf atas kejadian tadi." "Ah iya, tidak apa-apa. Anggap saja itu tidak terjadi, kecuali satu hal." Mas Dika tersenyum penuh arti. "Apa itu?" "Kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu tadi?" tanyanya masih dalam senyuman. Aku menautkan alis, meski aku mengerti tapi aku takut salah faham. "Yang mana?" Akhirnya aku bertanya

  • Dilamar Bos Muda Usai Dikhianati Suami    61. Ingin Kembali

    Namun penampilannya sekarang tidak se-rapi beberapa bulan yang lalu ketika awal-awal dia bertemu Arumi. Sekarang bajunya lusuh dan rambutnya pun berantakan. "Mas Haikal?" gumamku. Lalu aku menoleh ke arah lelaki di sampingku yang nampak heran. "Ros! Aku mau ngomong sama kamu," ucap Mas Haikal sambil berjalan ke arahku. "Ngomong saja, Mas!" jawabku datar sebab punya firasat kalau kedatangan pria ini tidak punya maksud baik. Terlihat dari cara dia menatap Mas Dika. "Hanya berdua," lanjutnya sambil melirik sinis ke arah Mas Dika. "Aku tunggu di mobil, ya." Paham dengan apa yang dimaksud oleh Mas Haikal, akhirnya Mas Dika berjalan memutar ke belakang mobil lalu masuk dan duduk di belakang kemudi. "Ada apa?" tanyaku tanpa basa-basi pada Mas Haikal. "Aku mau minta maaf sama kamu Ros, bukankah dari dulu aku tidak pernah ada niat untuk menceraikan kamu? Jadi sampai kapan pun aku selalu sayang sama kamu." Aku membuang pandangan mendengar ucapan Mas Haikal. "Aku sudah memaafkanmu dari

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status