“Memangnya mereka itu siapa, Ma?” Tanya Rian, mulai penasaran. “Dia dulu teman kuliah Mama, sukses banget sekarang. Cafe ini aja milik anaknya yang sekarang jadi suami Aisyah itu.” Jawab Indri. Rian terperanjat. Ternyata suami Aisyah yang penampilannya seperti preman itu, pemilik cafe ini?? “Mama serius?” Tanya Rian, memastikan. “Iya... Maka dari itu, mereka kok mau ya punya menantu dari keluarga miskin seperti si Aisyah itu?!” Ujar Indri, tak terima Aisyah di nikahi orang berada. Rian menghela napas berat, seberat fakta yang baru saja ia ketahui. “Mama... Sudahlah! Jangan hina Aisyah terus!” Rian mulai tak terima. “Lho, emang faktanya seperti itu kan?” Rian geleng-geleng kepala, “Ya sudah... Gak usah di bahas lagi, kita cari tempat duduk aja dulu.” Ajak Rian. Indri dan Rian ke cafe itu karena ada janji pertemuan dengan salah satu vendor yang akan menyiapkan pesta pertunangan Rian dan Mila. Indri benar-benar merancang semuanya secara detail. °°° Kini, Renita beserta keluarg
“Ini sih yang buat Galih kangen Mama dan Papa, hahaha... Ternyata sampai sekarang kalian masih saja ribut soal kesetiaan...” Ucap Galih sembari terkekeh.“Ini juga pelajaran buat kamu, Galih! Jangan friendly dengan wanita selain istri kamu, meskipun sesama teman kerja! Istri itu sukanya overthinking, awalnya cuma mimpi, eh besoknya tiba-tiba nemu bukti. Iya kan Syah?” Ujar Renita sembari menatap ke arah Aisyah yang tertegun.“I-Iya, Ma.” Jawab Aisyah, tak berani memperpanjang cerita itu.“Mama tenang saja! Galih bukan laki-laki seperti itu!” Ucap Galih, menegaskan.Wijaya mencibir, “Gimana kamu mau friendly, Gal? Mama kamu dulu saja ngatain kamu laki-laki gak normal?!” Ketus Wijaya, seketika membuat Galih melotot.“Kok bisa Mama ngatain aku seperti itu?” Tanya Galih, penasaran.Renita nyengir, “Hehe, abisnya kamu menolak semua wanita yang di jodohkan denganmu!” Ungkap Renita.“Hem... Tapi sekarang, Mama udah percaya kan?”“Belum!” Jawab Renita cepat, membuat Galih mengeryit heran.“Ka
Tak tahan melihat istrinya menangis, Galih pun menarik tubuh Aisyah dan membawanya ke dalam pelukannya. “Baiklah... Ini tangisan terakhir. Setelah itu berbahagialah bersamaku.” Ungkap Galih, sembari membelai lembut kepala Aisyah. Aisyah semakin sesenggukan, terharu. Betapa beruntungnya ia mendapatkan suami seperti Galih. Drrt... Drrt... Aisyah melepas pelukannya, mengusap air matanya. Ponselnya berdering, ada panggilan dari seseorang di ponsel tersebut. Aisyah buru-buru mengambil ponsel tersebut, ingin tahu siapa yang menelepon saat ini. Aisyah mengernyit, “Paman.” Gumam Aisyah, menoleh ke arah Galih. Galih mengangguk sebagai tanda meminta Aisyah mengangkat teleponnya. “Halo, Paman?” Ucap Aisyah saat panggilan terhubung. [Halo, Syah. Kamu tinggal di mana sekarang?] Tanya Herman membuat Aisyah mengernyit heran. Tumben peduli, begitulah pikirnya. “Aisyah sekarang tinggal di rumahnya Mas Galih.” Jawab Aisyah. [Oh ya... Kalau boleh tau, rumah Galih di mana, Syah? Rencana Paman
Pagi ini di kediaman Rina, di awali dengan keributan Syahnaz yang menolak sarapan dengan nasi yang di beli di warung tetangganya. Karena kehidupannya di kota, gadis itu biasanya makan makanan dari sebuah restaurant. “Kalau kamu gak mau makan, ya sudah! Biar Ibu saja yang makan!” Ucap Rina, kesal pada putrinya. “Ih, Ibu jahat banget sama anak sendiri, giliran sama Aisyah aja di masakin yang enak-enak.” Protes Syahnaz. “Ibu masakin Aisyah? Yang ada Aisyah yang masakin Ibu, Naz! Coba deh sana kamu masak yang enak, yang sesuai selera kamu, nanti biar Ibu ikut makan.” Titah Rina membuat putrinya itu melotot kesal. “Enak saja Ibu samakan aku dengan Aisyah! Bisa rusak semua kuku-kuku cantikku ini. Bayar perawatan mahal masa iya cuma buat masak-masak di dapur.” Sahut Syahnaz membuat Rina merasa dongkol. “Ya sudah, kalau gitu makan saja seadanya! Repot banget kamu ini, Aisyah aja gak pernah ngrepotin.” Ungkap Rina, tanpa sadar memuji keponakannya itu. “ Ibu mulai lagi... Terus aja bandin
“Dasar preman songong! Najis banget kelakuannya.” Umpat Syahnaz, kesal. Karyawan Galih mengusap dada saat mendengar umpatan gadis itu. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa lelaki yang baru saja di maki itu bosnya di sini. Namun, sejak awal Galih sudah mengatakan bahwa dia tak ingin sembarang orang tahu siapa pemilik kedai ini. Sementara itu, Galih sudah tiba di parkiran. “Sudah, Mas?” Tanya Aisyah saat Galih kembali ke mobil. Galih memang sengaja menyuruh Aisyah untuk menunggu di mobil saja. Karena urusannya di kedai hanya sebentar saja. Namun, sepertinya hal itu juga memberi keberuntungan sendiri. Andai Aisyah ikut turun, sudah pasti ia bertemu dengan sepupunya itu. “Sudah. Di dalam ada sepupu kamu itu.” Jawab Galih membuat Aisyah mengernyit. “Syahnaz??” Tebak Aisyah, Galih hanya mengangguk. Aisyah menghela napas panjang. “Dia ketemu kamu, Mas?” Lagi-lagi, Galih hanya mengangguk singkat. . “Dia gak bicara sembarangan kan, Mas?” Tanya Aisyah, ingin tahu. “Nggak penting kok, a
“Kamu mau mempermainkan kami, hah?!” Sentak Rina, tak terima. “Lho, bukannya orang yang kasih sumbangan itu seikhlasnya aja ya? Gak harus di beri nominal!” Jawab Aisyah santai. Sedang Galih tersenyum melihat keberanian istrinya tersebut. “Enak saja! Gak bisa gitu, Aisyah!! Setidaknya beri kami setengah dari mahar kamu untuk biaya acaranya nanti!! Syahnaz itu kan wanita berpendidikan, jadi dia harus bikin pesta yang mewah!” Ucap Rina, menjunjung tinggi putrinya. “Memangnya kamu, yang cuma nikah pakai acara sederhana saja?!” Sambung Rina lagi. Dada Aisyah seketika bergemuruh. Namun, dengan sekuat tenaga gadis itu berusaha menahan emosinya. “Oh, ya sudah... Kalau begitu aku ambil saja uangnya kembali! Toh Syahnaz pasti kan udah punya banyak uang untuk acaranya sendiri, dia kan berpendidikan dan punya pekerjaan yang bagus. Kenapa harus aku yang repot-repot memberi uang untuk acaranya?” Ungkap Aisyah, gadis itu hendak mengambil kembali uang yang ia letakkan tadi di meja. Namun, dengan
“Ngomong-ngomong, Syah. Motor yang tadi, mau kamu apakan?” Tanya Galih memecah keheningan. Aisyah menoleh, memutus sejenak pikirannya tentang Herman dan Rina yang amat serakah dan tidak tahu diri itu. “Motornya di simpan di gudang aja, Mas!” Jawabnya pelan. Sejenak ia menoleh ke belakang, tepatnya pada mobil pick up yang mengangkut motornya. “Motornya keluaran lama. Kalau di jual, aku gak yakin, soalnya harganya mungkin gak akan seberapa. Tapi motor itu adalah saksi perjalanan hidupku selama ini. Aku berusaha mengumpulkan uang buat beli motor itu.” Ungkap Aisyah. Galih tersenyum samar mendengarnya. Pria itu cukup bangga, karena sang istri menghargai apa pun yang dimilikinya, termasuk soal motor yang bisa dikatakan sudah butut itu. “Kalau aku lagi jenuh atau stres, aku suka keliling kota pakai motor itu, Mas. Motor itu udah jadi teman perjalanan aku, dan motor itu sangat berharga. Jadi, aku nggak rela kalau motor itu sampai jatuh ke tangan Paman Herman!” Ucap Aisyah, mengungkapkan
“Mas udah ketemu pemiliknya?” Galih menggeleng, “Belum, Syah. Aku ke sini tapi belum dapat informasi apa pun soal lahan ini.” Aisyah mengernyit, bingung. Ia tidak paham mengapa suaminya tertarik, padahal belum tahu apa pun? Bagaimana kalau harga lahan di sini lebih mahal? “Terus gimana, Mas?” Tanya Aisyah. “Saya akan cari tau dulu siapa pemiliknya. Kamu di mobil aja, di sini panas.” Galih meminta Aisyah untuk masuk kembali ke mobil, cuaca di tempat mereka sekarang sangat panas. Aisyah manut. la masuk dan memilih menunggu di dalam mobil ketika Galih menghubungi seseorang. Lelaki itu meminta pada orang suruhannya, untuk mencari siapa pemilik lahan yang tengah ia incar. Setelah beberapa saat, Galih kembali masuk ke dalam mobil, “Kita tunggu aja di sini, paling lama satu jam.” Ucapnya, Aisyah hanya mengangguk. Mereka menunggu di dalam mobil, tetapi kurang dari satu jam, Galih sudah mengetahui di mana alamat si pemilik lahan itu. Rupanya rumah orang tersebut, tak jauh dari tempat me
Keesokan harinya... Galih dan Aisyah tengah bersiap menuju bandara. Suasana rumah terasa sedikit ramai, tetapi hangat. Aisyah, dengan senyum penuh semangat, menggenggam tangan Galih erat dan berusaha menenangkan diri. ini pertama kalinya wanita itu akan naik pesawat. Perasaan campur aduk tak bisa ia sembunyikan. “Mas, kamu udah siap kan?” Tanya Aisyah sambil menatap Galih yang tengah memasukkan barang ke dalam koper terakhir mereka. Galih tersenyum kecil, matanya lembut menatap istrinya, “Sudah, Sayang... Kamu gimana? Masih deg-degan ya?” Aisyah mengangguk seraya tersenyum kecil, “Iya, Mas. Belum pernah naik pesawat soalnya, ada sedikit takut gitu rasanya.” Ungkap Aisyah, seumur hidup baru kali ini ia akan naik pesawat. Galih mengusap punggung tangan istrinya pelan, “Jangan khawatir, Sayang. Mas bakal selalu ada di samping kamu. InsyaAIIah semua akan aman...” Ucap Galih menenangkan sang istri. Aisyah mengangguk, meski hatinya masih di penuhi rasa kecemasan yang luar biasa. Tak
Di tengah kondisi Syahnaz yang sedang hamil, ia justru mengerjakan semua pekerjaan rumah seharian ini. “Mama kamu keterlaluan banget, Mas. Remuk badanku mengerjakan semua pekerjaan rumah seharian ini!” Syahnaz mendengkus kesal. la merasa di perlakukan layaknya babu di rumah sang suami. “Lho, bukannya kamu sendiri yang ingin mengerjakan pekerjaan rumah? Mama kan cuma bilang kalau pembantu sedang cuti karena di rumahnya ada hajatan,” Jawab Arman sama sekali tak merasa kasihan pada istrinya yang tengah mengandung buah hati pria itu. Entah mengapa, sejak mengetahui peringai buruk Syahnaz, cinta yang tadinya menggebu mendadak melebur begitu saja. “lya... Tapi kenapa Mama lama sekali perginya? Aku kira Mama cuma pergi sampai sore, tahunya sampai malam begini!” ujar Syahnaz bersungut-sungut. Arman menghela napas panjang, “Huft... Kan Mama perginya ke Batam, dia menghadiri resepsi pernikahan sepupu kamu itu,” ucap Arman membuat mata Syahnaz membelalak. “Maksud kamu pesta pernikaha
Mau sekuat apa pun Rian bersikeras untuk masuk, tetapi pada akhirnya ia tetap kalah. Galih sudah memberi arahan pada tim penjaga untuk tidak memberi akses masuk pada siapa pun yang tidak membawa kartu undangan. “Syah... Aku masih berharap ini hanya mimpi buruk, Syah...” Tubuh Rian mulai lelah karena sedari tadi menunggu di depan gerbang. Penampilannya saat ini acak-acakan. la bahkan rela bolos kerja demi menemui Aisyah. Penyesalan saat ini bergulung-gulung dalam relung dadanya. Andai saat itu ia tidak menuruti keinginan Indri, mungkin saat ini dirinyalah yang berbahagia di dalam sana bersama wanita pujaannya. Penyesalan tiada guna itu terus menghinggapi hati pria itu. Rian berdiri sembari menatap ke arah gedung yang masih penuh dengan tamu undangan. Di lihat dari luar saja terlihat jelas bahwa pestanya sangat meriah, apalagi jika masuk ke dalam. Lagi, Rian menghela napas berat. Rian tahu ini adalah wedding dream Aisyah yang dulu pernah ia bantah. 'Nggak usah aneh-aneh lah,
Hari terasa berlalu dengan cepat. Pesta pernikahan Aisyah dan Galih rupanya akan di langsungkan hari ini. Semua orang sedang bersibuk ria menyiapkan diri untuk datang ke hotel, tempat acara akan di laksanakan. Renira sedari tadi bolak balik ke kamarnya dan kamar Aisyah untuk melihat kesiapan sang menantu. Saat ini, Aisyah sedang di rias oleh MUA kondang dari Jawa Timur. Renita benar-benar di bikin pangkling dengan kecantikan menantunya itu. Jika biasanya Aisyah cantik natural hanya dengan polesan lipstik nude di bibirnya, kini Aisyah tampak sangat cantik dan elegan dengan riasan ala barbie look. Hidungnya yang mancung membuat wanita itu benar-benar mirip sekali dengan barbie. “Masya Allah... Kak Rosa emang the best! Hasil riasannya selalu keren! Gak sia-sia dari Malang sampai ke Batang kalau sebagus ini...” puji Renita dengan mata berbinar-binar sembari berdecak kagum. “Duh, Bu Renita bisa aja. Ini kan karena menantu lbu juga memang cantik, makanya jadinya sangat cantik.” Jelas s
“Wanita itu lagi? Jadi karena dia kamu seperti ini, Rian? Sudah berapa kali Mama bilang, jangan pernah kamu berhubungan sama wanita itu! Dasar ya perempuan gatel, sudah punya suami masih saja menganggu kamu!” Indri emosi bukan main, apalagi ada Mila di sana yang pasti sakit hati mendengar ucapan Rian barusan. “Kamu gak usah khawatir, Mila! Mama akan lakukan sesuatu agar perempuan itu berhenti mengganggu hubungan kamu dan Rian!!” Tegas Indri seraya tersenyum menyeringai, entah apa yang ada di pikiran wanita itu. “Mama jangan salahin Aisyah terus, Ma! Semua ini itu salah Mama. Kalau saja Mama gak maksa aku nerima perjodohan ini, mungkin sekarang aku udah nikah sama Aisyah,” Jelas Rian, masih mengharapkan Aisyah. “Dan sampai kapan pun, Mama gak sudi punya menantu seperti dia, Rian!!” bentak Indri dengan kesal. “Mas, memangnya apa istimewanya dia di banding aku? Kenapa kamu susah banget lupain dia?” Kini, Mila ikut berbicara karena hatinya sudah tak tahan mendengar lelaki yang ia suka
Rian menggeleng tak percaya dengan ucapan Aisyah. Wanita lembut yang selama ini menyayanginya itu kini berubah menjadi wanita tegas dan ganas. “Syah... Aku tau kamu sakit hati sama aku. Aku minta maaf, ayo kita kembali, Syah. Aku sudah putus dengan Mila, kita bisa kembali lagi seperti dulu...” Pinta Rian bermohon, tanpa rasa malu. Plak! Napas Aisyah seketika memburu, tangannya spontan menampar wajah Rian yang baru saja membual. Lelucon macam apa ini? Apa dia pikir dengan memutuskan Mila akan membuat Aisyah tertarik? Yang ada malahan Aisyah semakin jijik. la menganggap bahwa Rian benar-benar bejat karena mempermainkan perasaan perempuan. “Seperti ini kah didikan lelaki bajingan itu, Syah? Kamu jadi sekasar ini?” Rian kembali ternganga tak percaya dengan apa yang di lakukan Aisyah. “Kamu pantas mendapatkan itu, biar sadar diri! Aku pikir kamu sedikit berubah, tapi ternyata semakin parah! Aku menyesal pernah memberi rasa untukmu!” Ungkap Aisyah, “Kamu dengar baik-baik, aku menyesa
“Gimana? Kalian suka sama tempatnya.” Aisyah mengangguk cepat. “Aku suka, Ma. Makasih banyak ya, Mama sudah meluangkan banyak waktu demi mempersiapkan hari bahagia untuk kami.” Renita melempar senyum hangat dan mengangguk singkat. “Ini hal mudah buat Mama, Syah. Lagi pula, Mama memang senang melakukan ini. Kapan lagi Mama bisa turun tangan menyiapkan pesta pernikahan putra Mama satu-satunya??” Rasa haru kembali menyeruak, tak ada lagi kalimat yang bisa Aisyah utarakan untuk menggambarkan bagaimana dirinya merasa bahagia bisa mendapatkan suami seperti Galih, lengkap dengan mertua yang sangat baik dan mau di repotkan seperti Wijaya dan Renita. “Makasih banyak, Ma. Mama mengatur semuanya dengan sangat baik. Aku gak akan bisa membalas semua kebaikan Mama,” ucap Galih tak ragu mengatakan bahwa ia memiliki banyak sekali hutang budi pada ibunya. “Ini memang sudah tugas Mama, Nak. Sejak dulu pun, impian Mama adalah mempersiapkan pernikahan untuk kamu,” balas Renita. “Satu hal lagi, Mama
Malam harinya, kembali terjadi keributan di dalam kamar Syahnaz. Malam pertama yang seharusnya mereka nikmati dengan kebersamaan yang indah, kini sirna lantaran Syahnaz yang menuntut mahar yang di berikan oleh sang suami itu kurang. “Semua penghasilan aku di pegang sama Mama, Naz. Mama yang menyiapkan semua mahar itu, aku gak bisa berbuat apa-apa, dari pada malah gak jadi nikah ya sudah apa adanya saja,“ Arman membeberkan alasannya terkait jumlah mahar yang ia berikan. “Apa?! Jadi Mama kamu yang pegang semua uangmu?” Syahnaz syok, ini benar-benar melenceng jauh dari perkiraannya. Hati Syahnaz begitu panas mendengar penjelasan sang suami perihal uang yang semuanya di atur oleh ibu mertua. Tangan Syahnaz terkepal. Ingin rasanya ia keluar dari kamar dan melabrak Tiara. Namun, tentulah hal tersebut tidak boleh terjadi. Keluarganya sudah menjadi sorotan warga sejak pesta pernikahan tadi siang, karena nominal mahar yang jauh sekali dari mahar Aisyah. Jangan sampai ada sorotan untuk yang
Akad nikah sudah berlangsung. Namun, bukan bahagia yang di dapatkan oleh Syahnaz. Wanita itu sedari tadi menahan geram, lantaran ternyata Arman hanya memberinya mahar berupa seperangkat alat sholat dan uang tunai dua juta rupiah saja. Runtuh sudah harga diri yang sejak tadi ia junjung tinggi. Dalam pandangan Syahnaz, saat ini semua orang sedang mengejeknya. Niat hati mengharapkan kehadiran Aisyah karena ingin menunjukkan keberuntungannya, justru malah semua orang kini memuji sepupunya itu. Bukannya untung, ia malah buntung. Pesta megah yang di gelar seolah tak ada artinya bagi warga sekitar. Bisikan mulai terdengar tak enak setelah acara ijab qobul tadi. Sama halnya dengan Syahnaz dan Rina kini menahan malu luar biasa. Kekayaan keluarga Arman yang ia agungkan ternyata hanya bualan semata. “Duh, menantu kamu cantik sekali Renita, orang sini juga ya?” Puji Tiara, Ibu Arman. Memandang takjub pada Aisyah. “Iya Tiara, gimana? Cocok kan jadi menantu idaman?” Jawab Renita sengaja meni