Selang beberapa waktu kemudian, Reinhard keluar dan melihat Owen yang sedang berbincang dengan istrinya. Ia pun menghampiri mereka. “Apa yang kamu bicarakan, Owen? Saat ini istriku harus banyak beristirahat.”“Tadi Nyonya menanyakan tentang perkembangan Miracle saja, Tuan Muda,” sahut Owen dengan panik, khawatir disalahkan.Reinhard melirik istrinya. Ia melihat wanita itu mengatupkan kedua tangannya dan memasang wajah memelas seolah memohon padanya untuk tidak menyalahkannya maupun asistennya tersebut.Reinhard hanya bisa menghela napas pelan dan tidak lagi memperpanjang hal tersebut. Ia berjalan ke sisi ranjang yang lain, melihat dua kotak makanan di mana salah satunya sudah terbuka, tetapi masih tersisa.“Kamu tidak menghabiskannya?” tanya Reinhard kepada Alicia. Ia menatapnya dengan khawatir.Alicia menggeleng.“Tadi nyonya bilang dia tidak terlalu berselera,” sahut Owen, mewakilinya bicara.Reinhard melirik asistennya sekilas, lalu kembali menoleh kepada Alicia dan mengusap kepala
Suara tawa kecil pun meluncur dari bibir Austin. “Saya jadi penasaran seperti apa agresifnya Nona Lorenzo yang dulu,” ledeknya. Namun, Reinhard telah melayangkan tatapan tajam dengan aura membunuh yang sangat kuat, seakan mengatakan bahwa, “Wanita itu adalah milikku. Tidak ada siapa pun yang boleh menggodanya selain aku.” Akan tetapi, Austin tidak peduli dan tetap menertawakannya. Alicia pun mendengus kesal. ia akui kalau dulu ia memang sangat “tidak tahu malu” dan “agresif” saat melakukan pendekatan terhadap Reinhard. Pernah suatu kali ia mecoba untuk mendapatkan ciuman dari Reinhard di tempat umum. Ia menggunakan sedikit trik yang cukup licik. Sayangnya, trik yang dilakukan ternyata tidak berhasil. Namun, ia berhasil mendapatkan kecupan singkat di pipinya waktu itu dan Alicia merasa sangat bahagia. Hanya saja, setelah saat itu Reinhard benar-benar menjaga jarak darinya seolah Alicia adalah rubah liar yang ingin memangsanya setiap waktu. Mengingat kenangan masa lalu yang konyol,
Beberapa waktu kemudian, Alicia dan Reinhard telah tiba di apartemen mereka. Ia disambut oleh sejumlah pengawal yang kehilangan jejaknya seminggu lalu. Para pengawal itu menundukkan wajahnya dan berkata serentak, “Maafkan kami, Nyonya Muda!”Alicia terperangah. Ia menjadi pusat perhatian dari seluruh staff dan penghuni apartemen yang ada di lobi gedung tersebut.“Ka-kalian … kenapa minta maaf?” tanya Alicia dengan bingung. Ia pun menoleh kepada Reinhard dan bertanya, “Kamu yang menyuruh mereka?”Tiba-tiba tangan besar Reinhard merangkul pinggang rampingnya dan bergumam di dekat telinganya, “Ini sudah sepantasnya mereka lakukan karena sudah membuatmu hampir kehilangan nyawa. Tidak membunuh mereka sudah merupakan satu kelonggaran untuk mereka.”Reinhard terlihat sangat tenang saat mengatakan hal tersebut. Namun, di telinga para bawahannya, kalimat itu terdengar seperti ancaman yang mengerikan.Kepala para pengawal itu semakin tertunduk, tak berani me
Di depan Hotel Willow, para awak media telah hadir, berbondong-bondong meliput acara pernikahan tuan muda keluarga Stein dengan putri keluarga Vale. Berita pernikahan mereka telah menjadi buah bibir sejak sebulan lalu.Bagaimana tidak?Reputasi Edwin Stein satu bulan terakhir ini semakin meningkat sejak produk “Shiny” menggebrak pasar kosmetik.Kepala keluarga Vale sendiri, yaitu kakek Thalia, merupakan walikota London dan Edwin menerima cukup banyak bantuan darinya dengan memanfaatkan hubungannya dengan Thalia.Para tamu undangan yang hadir sebagian besar berasal dari keluarga menegah ke atas, termasuk politikus dan selebriti. Tidak ada yang luput dari kilatan kamera para awak media.Tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah buatan Jerman keluaran terbaru, berhenti di depan pintu masuk hotel. Sontak, para awak media dan beberapa tamu yang sedang melangkah di red carpet terhenti sejenak, menoleh ke arah mobil yang terlihat misterius.Tidak berapa lama kemudian, sang pengemudi mobil─Owen Scot
“Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?” tanya Edwin dengan penuh selidik. Ia memandang Nicholas dan mantan istrinya secara bergantian. Sejak tadi Edwin sama sekali tidak memahami maksud dari sindiran-sindiran terselubung dari Nicholas dan mantan istrinya tersebut. Akan tetapi, ia sangat terkejut karena Nicholas mengenal wanita itu. Pandangan Nicholas beralih kepada Edwin. Ia pun tersenyum remeh. “Kamu tidak tahu?" "Tahu apa?" Edwin mengerutkan keningnya. Nicholas menggelengkan kepalanya dan berkata, "Dia adalah Venus yang kuceritakan waktu itu.” Edwin membelalak kaget, matanya berpindah ke Alicia dengan sorot tak percaya. Sementara itu, Thalia juga ikut terkejut, tapi dengan cepat tersenyum sinis. “Jadi, kalau dia Venus, apa masalahnya? Dia tidak punya pengaruh apa pun terhadap Mirage, Tuan Muda Hernandez," ujarnya, mencoba meredakan kekhawatiran Nicholas. Thalia menoleh ke Edwin, berharap mendapatkan dukungan. “Benar kan, Sayang?” Namun, Edwin tidak menjawab. Tatapannya yan
Cekalan pada tangannya membuat Alicia menoleh. Ia pun bertemu pandang dengan Miranda yang telah menatapnya dengan marah.“Anya, apa yang sudah kamu lakukan pada Thalia?” sergah Miranda dengan suara penuh tuduhan. Tatapannya tajam menusuk, seolah Alicia adalah penyebab semua kekacauan.Alicia memutar mata, mencoba tetap tenang meski suasana semakin memanas. “Lepaskan tanganmu, Nyonya,” desisnya dengan suara yang terdengar dingin.Netra biru Alicia yang menatap langsung ke arah Miranda, memancarkan ketenangan yang terasa berbahaya.Miranda tercekat sejenak. Wanita paruh baya itu merasakan perbedaan yang begitu besar dari perubahan mantan menantunya itu.Namun, Miranda menepis rasa kagetnya dan menyentakkan tangan Alicia, membuat wanita itu terhuyung sedikit, lalu beralih ke Thalia. “Sayang, kamu tidak apa-apa?” tanyanya dengan nada cemas, menggenggam tangan menantunya erat.Thalia mengangguk kecil, tetapi wa
“Oh, ya? Siapa yang akan menikahi wanita gelandangan tidak tahu malu dan mandul sepertimu, Anya,” cetus Miranda yang masih menatap Alicia dengan penuh cemooh. Wajah Alicia berubah nanar dalam sekejap. Kedua tangannya terkepal erat. Ia tidak menyangka Miranda masih saja mencari kesempatan untuk menguak luka lamanya tersebut. “Hah! Orang itu pasti sudah buta dan berselera rendah,” Miranda masih mencibir, berharap Alicia akan tersudutkan dengan penghinaannya. Alih-alih marah, Alicia malah kembali tertawa, membuat Miranda dan yang lainnya menerka-nerka atas hal apa yang akan dilakukan Alicia dalam menghadapi sindiran yang menusuk tersebut. “Buta dan selera rendah katamu?” ujar Alicia di sela-sela tawanya. Ia membayangkan bagaimana Reinhard akan merespon hinaan tersebut. Wajah Miranda pun memerah. “Apa yang kamu tertawakan, Anya? Kamu sudah gila, hah?” hardiknya. Tawa Alicia pun perlahan terhenti. “Aku menertawakan suaramu yang tidak pantas diperdengarkan. Apa kamu tidak tahu kalau su
“Ka-kamu … suaminya?” Pertanyaan Miranda dengan suara yang masih belum sepenuhnya reda dari syok, terdengar memecahkan keheningan yang sempat terjadi beberapa detik di dalam aula resepsi tersebut. Pandangan Reinhard pun beralih kepada wanita paruh baya yang masih berdiri di samping Edwin. Dengan mempertahankan seringai dingin yang terlukis pada wajah angkuhnya, Reinhard menjawab, “Benar. Wanita ini adalah istri saya dan kami datang sebagai tamu terhormat dari Tuan Besar Vale.” Miranda tercengang. Ia pun melirik Thalia, tetapi menantunya itu hanya menggelengkan kepala, memberi isyarat bahwa dia tidak tahu-menahu soal ini. Semua tamu keluarga Vale berada dalam pengaturan kakeknya dan Thalia dapat memastikan bahwa semua tamu kakeknya adalah orang-orang berpengaruh dan berkuasa di kota ini. Thalia semakin penasaran dengan identitas pria yang mengaku sebagai suami Alicia tersebut. Padahal sebelumnya ia mengira Alicia hanyalah wanita jalang yang suka bergonta-ganti pria setelah
“Dari mana kamu mendengar tentang hal itu, Alicia?” Reinhard terdengar kaget dan nada suaranya berubah serius.“Aku … aku punya sumberku sendiri,” jawab Alicia, sengaja tidak menyebutkan nama Rayden karena tidak ingin Reinhard menyalahkan keponakannya tersebut.Reinhard tidak langsung menanggapi, menciptakan jeda yang membuat Alicia semakin gelisah.Akhirnya, pria itu menghela napas pelan dan berkata "Kamu tidak perlu mencemaskan masalah ini, Sayang. Aku sudah memiliki perhitungan sendiri dalam mengatasinya."Alicia memunduk, memanyunkan bibirnya. "Aku tahu kalau aku memang tidak berguna, tidak bisa membantu apa pun," cicitnya."Jangan berpikiran seperti itu," Reinhard langsung menimpali. "Kamu tahu ... bagiku, kamu jauh lebih berharga daripada yang kamu pikirkan, Alicia."Alicia menggigit bibirnya. "Benarkah? Kamu pasti hanya ingin menghiburku saja."Suara kekehan kecil Reinhard terdengar, membuat Alicia berdecak kesal."Jadi sampai sejauh apa masalah ini berkembang di sana, Xavier?"
“Apa kerugiannya sangat parah?” tanya Alicia, lalu menyadari jika tidak seharusnya ia bertanya kepada keponakannya yang tidak mungkin akan mengetahui hal tersebut secara mendetail. Akan tetapi, di luar perkiraannya, Rayden menjelaskan semua yang diketahuinya dengan profesional. Alicia benar-benar terpana dengan kecerdasan keponakannya tersebut. “Bagaimana kamu bisa tahu, Ray? Memangnya Papamu tidak tahu kalau kamu menguping?” tanya Alicia dengan kagum. “Tante terlalu meremehkanku.” Rayden mengangkat satu alisnya dan tersenyum angkuh. “Memangnya apa yang tidak diketahui oleh Zeus, hm?” Alicia mengerutkan dahinya. Perlahan netranya terbelalak besar. “Maksudnya … kamu adalah Zeus?!” Alicia menatap Rayden dengan ekspresi sulit percaya. Keponakannya yang baru berusia belasan tahun ini ternyata adalah peretas handal yang dibayarnya waktu itu?“Kamu bercanda, kan?” desis Alicia, masih berusaha mencerna informasi yang baru saja didapatnya.Rayden menghela napas dan bersandar di kursinya d
“Kamu kenapa, Alicia?” tanya Amora dengan cemas.Alicia menggeleng pelan, menelan salivanya untuk menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang. “Aku tidak tahu … tiba-tiba saja aku merasa pusing dan mual setelah mencium bunga ini.”Regis mengernyit, mengambil buket tersebut dan mengendus aromanya. "Bunganya tidak ada yang aneh. Hanya terlalu menyengat saja. Mungkin kamu tidak cocok dengan baunya. Sebaiknya suruh Xavier berhenti mengirim bunga ini.”Amora langsung melotot ke arah suaminya, memberi isyarat agar tidak sembarangan berbicara. Namun, Regis hanya mengangkat bahu dengan santai dan kembali menikmati sarapannya.Sementara itu, Alicia masih berusaha menenangkan dirinya. Amora yang khawatir segera mengeluarkan minyak esensial dari saku dress hamilnya dan menyodorkannya kepada Alicia.“Coba oleskan di bawah hidungmu. Ini mungkin bisa membantu,” ucap Amora dengan lembut.Alicia menuruti saran kakak iparnya. Anehnya, setelah menghirup aroma minyak itu, rasa mualnya berangsur berkurang
Noel tidak menjawab. Ia hanya membereskan peralatan medisnya ke dalam tas.Alicia pun tidak ingin menggodanya lebih lanjut karena ia tahu bahwa cinta pertama tidak semudah itu dapat dilupakan.“Ryu ternyata anak yang sangat aktif juga,” ucap Alicia, mengalihkan pembicaraan.“Sifatnya mirip denganmu, Alicia,” celetuk Noel.Alicia memutar bola matanya dengan malas. “Aku tidak seperti itu,” tampiknya.Noel terkekeh pelan. “Kamu tidak ingat? Dulu kamu juga sering membuat para pelayan panik dengan ulahmu dan ayahmu sampai menebang semua pohon di taman belakang itu.”Pipi Alicia langsung memerah. "Kenapa sih yang diingat malah hal-hal memalukan?" gerutunya.Noel tersenyum tipis, lalu perlahan ekspresinya berubah serius. “Sekarang … bisakah kamu menceritakan padaku apa yang terjadi?”Alicia terdiam sejenak, menatap lurus pria itu. Setelah merasa ragu selama beberapa saat, akhirnya ia pun menjelaskan kondisi yang dirasakannya kepada pria itu.Noel mendengarkan dengan seksama tanpa menyelanya.
“Alicia.”Suara lembut yang memanggil namanya terdengar samar di telinganya, tetapi semakin lama semakin terdengar jelas dan menarik kesadarannya kembali. Kelopak mata Alicia berkedut sebelum akhirnya terbuka perlahan.Cahaya lampu ruangan menyambut pandangannya, memberikan efek menyilaukan yang membuat Alicia kembali menutup matanya dengan cepat. Namun, ia membuka matanya kembali dengan perlahan-lahan.Alicia melihat sosok wanita yang tidak lain adalah kakak iparnya, Amora Lysander. Wanita itu tidak sendiri, tetapi bersama Noel yang sedang memeriksa kondisinya dengan peralatan yang dibawanya.“Syukurlah kamu sudah sadar, Alicia,” Amora bergumam dengan penuh kelegaan.Alicia berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Kepalanya masih terasa berat, dan ada sensasi berdenyut yang samar di pelipisnya.“Alicia, bagaimana perasaanmu?” tanya Amora dengan suara lembut.Namun, Alicia tidak menjawab sehingga Amora pun menoleh pada Noel dan bertanya, “Apa ada
Alicia menatap langit-langit kamar, pikirannya tak henti-henti mengembara. Semakin Reinhard memintanya untuk melupakan pertanyaan itu, semakin besar rasa ingin tahunya."Kenapa Xavier tiba-tiba menanyakan kecelakaan itu?" gumamnya pelan.Alicia menghela napas panjang dan berbalik, memeluk bantalnya.Ia tahu Reinhard tidak akan menanyakan hal itu tanpa alasan. Pria itu mungkin menyembunyikan sesuatu darinya dan seperti biasanya, Alicia lagi-lagi merasa berkecil hati.“Ah, tidak! Apa yang aku pikirkan?” Alicia menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba mengusir rasa khawatirnya yang berlebihan.“Aku harus percaya padanya. Xavier bertanya seperti itu, pasti karena ada sesuatu yang penting yang ingin dipastikannya saja.”Embusan napas kasar bergulir dari bibir Alicia. Ia pun memejamkan matanya kembali, mencoba untuk mencari potongan ingatan yang hilang di dalam memorinya tersebut.Namun, semakin ia mencoba, semakin kuat rasa sakit yang menghantamnya. Seolah ada dinding tebal yang mengha
“Daripada membicarakan dia, ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu,” ucap Reinhard, suaranya tiba-tiba menjadi lebih serius.“Hal apa?” tanya Alicia. Suaranya masih diselimuti kekhawatiran.Namun, Reinhard tidak langsung menjawab sehingga keheningan yang tercipta di antara mereka membuat rasa ingin tahu Alicia yang berada di ujung telepon tersebut semakin besar.“Xavier─”Sebelum Alicia sempat mendesaknya, Reinhard akhirnya bersuara. “Alicia, mengenai kecelakaanmu waktu itu, apa kamu bisa menceritakannya padaku?”“Kecelakaanku?” gumam Alicia yang diliputi kebingungan.“Maaf, aku bukan ingin memaksamu untuk mengingat kenangan buruk itu. Tapi …,” Reinhard menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, “aku ingin tahu bagaimana kamu bisa tidak ada di dalam pesawat waktu itu?”“Kenapa kamu bertanya tentang hal ini?” tanya Alicia dengan bingung.“Aku hanya ingin tahu semuanya tentangmu, Sayang,” dalih Reinhard.Ia terpaksa berbohong. Ia tidak ingin Alicia mengetahui permasalahan rumi
Siapa lagi yang bisa mengubah suasana hati Reinhard secepat ini jika bukan istri tercintanya, Alicia Lorenzo?Ternyata, wanita itu sudah mengirimkan beberapa pesan untuknya tanpa ia sadari.Reinhard bergegas membuka pesan-pesan tersebut dan membacanya dengan penuh antusias.[Kamu lagi apa, Suamiku?][Kamu lagi sibuk?][Sesibuk-sibuknya kamu, jangan sampai lupa makan. Aku tidak ingin kamu sakit.][Kamu tidak rindu aku?][Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Selamat bekerja.]Ketegangan yang dirasakan Reinhard seketika menguap saat membaca pesan singkat beruntun dari istrinya tersebut. Tanpa membuang waktu, ia langsung menekan nomor kontak wanita pujaannya itu dan melakukan panggilan video.Baru dering pertama, panggilan tersebut langsung terhubung. Akan tetapi, Alicia tidak menyalakan kameranya sehingga Reinhard tidak dapat melihat wajahnya.“Halo,” sahut Alicia di seberang teleponnya.“Sayang, kameramu belum on,” ucap Reinhard mengingatkan.“Aku memang sengaja,” timpal Alicia, t
Di ruang kerjanya yang berada di kantor pusat Divine, Reinhard duduk bersandar di kursinya, mendengarkan laporan dari Owen dan Ethan Millano, salah satu anggota tim khusus yang ia tempatkan di Nexus."Seperti yang Anda duga, proyek kerja sama ini memang mencurigakan," ujar Ethan dengan nada serius.Pria bertubuh kurus dan berpenampilan necis itu kembali melanjutkan, “Saya sudah menelusurinya dan sejak awal Tuan Muda Nicklah yang menerima kerja sama ini. Tapi, beliau tidak tahu kalau perusahaan rekanan ini sangat bermasalah.”Reinhard, yang sejak tadi bersandar di kursinya, menyipitkan mata. “Teruskan.”Ethan mengeluarkan beberapa dokumen dan menyerahkannya kepada Owen, yang kemudian meneruskannya kepada Reinhard. “Perusahaan rekanan ini, Vega Tech, sebenarnya hanya sebuah perusahaan cangkang. Tidak ada proyek besar yang pernah mereka tangani sebelumnya, dan sumber pendanaan mereka juga tidak jelas.”Reinhard membuka dokumen itu dan meneliti setiap lembarannya. Dahinya berkerut saat me