Sudut bibir Reinhard terangkat tipis. “Aku tahu kamu sudah bangun. Tidak usah berpura-pura lagi,” lanjut Reinhard dengan nada rendah, suaranya terdengar lebih lembut dari yang diduga Alicia.Namun, Alicia masih setia memejamkan matanya. Ia hanya berusaha mempertahankan harga dirinya, tidak ingin Reinhard menginterogasinya atas kepura-puraannya ini.“Dasar wanita keras kepala.” Reinhard berdecak malas.Karena Alicia masih bersikeras untuk melanjutkan sandiwaranya sebagai “putri tidur”, Reinhard pun terpaksa menggunakan cara licik yang terlintas di dalam benaknya. Ia memutuskan untuk sedikit bermain dengan situasi tersebut.“Baiklah, karena kamu tidak mau bangun sendiri, sepertinya aku harus membangunkanmu dengan caraku,” ucap Reinhard dengan nada menggoda.‘Apa maksudnya?’ pikir Alicia, mulai panik.Sebelum Alicia sempat bereaksi lebih jauh, ia merasakan tubuhnya sudah diletakkan di atas ranjang. Diam-diam, Alicia merasa sedikit lega, tetapi jantungnya kembali berpacu cepat saat menyad
Reinhard menatap istrinya dengan intens. Netra wanita itu bersinar tajam seolah menunjukkan tekadnya yang bulat untuk menerima tantangannya.Reinhard pun tersenyum tipis melihat kegigihan yang membara dari istrinya tersebut. Padahal tadi ia hanya berniat mengujinya saja, tetapi ternyata wanita itu malah menanggapinya dengan serius.“Anya, aku─”Belum sempat Reinhard menyelesaikan ucapannya, Alicia telah menarik tengkuk belakangnya dengan cepat. Ia pun tertegun sesaat ketika merasakan bibir Alicia menempel pada bibirnya.Reinhard tidak menduga bahwa istrinya akan bertindak seberani itu. Ciuman itu penuh dengan keberanian dan gairah, meskipun ada sedikit keraguan yang tersirat dalam gerakan bibir wanita itu.Perlahan Alicia melepaskan tautan bibirnya dan menatap pria itu dengan tajam. “Kira-kira malam spesial seperti apa yang akan kamu berikan untukku? Apa kamu yakin bisa memberikannya?” balasnya atas tantangan pria itu.Reinhard, yang awalnya hanya ingin mempermainkan wanita itu, tidak
“Bagaimana keadaanmu? Apa kamu tidak mau izin saja hari ini?”Pertanyaan penuh perhatian dari Reinhard membuat Alicia, yang sedang sibuk mengunyah sarapan cepat saji di dalam mobil, berhenti sejenak.Mereka dalam perjalanan menuju kantor, dan karena tidak sempat sarapan di apartemen, Reinhard telah memerintahkan asistennya untuk membelikan makanan siap saji sebelum menjemput mereka. Hari ini mereka benar-benar terlambat ke kantor karena bangun kesiangan, sehingga sarapan cepat saji adalah solusi yang praktis.Alicia mengalihkan pandangannya dari kotak makanannya ke Reinhard. Ia dapat memahami kekhawatiran pria itu dan tersenyum tipis. “Hari ini baru hari keduaku bekerja. Apa menurutmu pantas kalau aku meminta izin?”“Aku tidak mau ada terdengar pembicaraan buruk lagi tentangku,” imbuh Alicia lebih lanjut.Satu alis Reinhard terangkat. “Apa kemarin ada yang berbicara buruk tentangmu?”Alicia tersentak, baru menyadari kalau ia telah mengungkapkan hal yang tidak seharusnya dibicarakan. I
“Owen, berhenti di sini," titah Alicia kepada asisten suaminya. Saat mendekati gedung Hernandez Group, tiba-tiba saja Alicia memutuskan untuk turun. “Tapi, turun di sini terlalu jauh, Nyonya. Anda bisa makin terlambat nanti,” ucap Owen seraya melirik wanita itu melalui kaca spion mobilnya. Alicia menghela napas pelan, matanya menatap kosong ke luar jendela. "Tidak masalah kalau terlambat sedikit daripada harus menunggu kamu berputar lagi, malah jadi lebih lama," ucapnya dengan nada yang terdengar datar. Meskipun jarak dari tempat ia turun saat ini memang sedikit lebih jauh seperti yang diucapkan Owen, Alicia lebih memilih berjalan kaki daripada harus menghadapi tekanan yang tidak mengenakkan di dalam mobil tersebut. Owen pun melirik tuan mudanya dari kaca spion. Mendapatkan anggukan kecil dari pria itu, Owen pun menepikan mobilnya. “Terima kasih, Owen,” ucap Alicia kepada asisten suaminya tersebut. Sebelum turun dari mobil itu, Alicia hanya melirik Reinhard sekilas. Namun, ia tid
“Akhirnya sampai juga,” gumam Alicia sembari menghela napas panjang. Ia baru saja tiba di depan lobi gedung Hernandez Group setelah berlarian dari jarak yang cukup jauh.Meskipun napasnya masih terasa berat, tetapi Alicia tidak memiliki waktu untuk beristirahat lebih lama. Ia pun bergegas masuk ke dalam gedung dan berlari kecil menuju ke arah lift.Ketika ia melihat salah satu lift yang hendak tertutup, ia pun bergegas menahannya dan melangkah cepat masuk ke dalam. “Syukurlah,” gumamnya seraya mengelus dadanya.Namun, belum sempat merasa lega sepenuhnya, Alicia mendengar seseorang berdeham keras di belakangnya. Ia pun menoleh dan terkejut ketika melihat sosok ayah mertuanya di dalam lift tersebut. Ternyata, lift yang dinaikinya adalah lift khusus direksi!Di dalam lift tersebut bukan hanya ada Reagan dan asistennya, Hans Miller, tetapi juga Reinhard dan Owen. Keempat lelaki berbeda usia itu menatap Alicia dengan ekspresi yang berbeda.Seperti halnya kemarin, Alicia masih mendapatkan t
Alicia telah berdiri di depan pintu masuk ruangan divisi R&D. Ia menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum menggeser pintu di depannya. Gerakan tangannya tertahan ketika ia melihat cincin yang masih tersemat di jari manisnya. Alicia pun melepaskan cincin tersebut terlebih dahulu, memasukkannya ke dalam saku blazernya, lalu berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Seketika pandangan semua orang tertuju padanya ketika Alicia memasuki ruangan divisi R&D. Ruangan tersebut tampak sibuk dengan berbagai aktivitas—beberapa rekan kerjanya tengah berdiskusi di meja besar, sementara yang lain sibuk dengan komputer dan penelitian mereka. Alicia berjalan mendekati mejanya dengan acuh tak acuh, meletakkan tasnya terlebih dahulu di atas meja kerjanya sebelum memulai kembali pekerjaannya yang tertunda kemarin. “Anya, kamu baik-baik saja, kan?” tanya Margaret dengan penuh selidik. Alicia mengangkat sedikit pandangannya. Keningnya berkerut. Entah kenapa ia merasa rekan kerjanya satu ini memiliki r
“Bicara apa kamu? Saya tidak mungkin melakukan hal yang merugikan perusahaan ataupun diri saya sendiri!” Clara marah, jelas merasa tersinggung dengan tuduhan yang diucapkan Alicia.Namun, Alicia tetap tersenyum tenang. Ia tahu bahwa ucapannya mungkin terdengar keterlaluan, tetapi ia mengakui dalam hati bahwa dirinya masih sangat kesal dengan keputusan Clara yang tampaknya mencampuradukkan perasaan pribadi dengan pekerjaan.Alicia juga sadar bahwa kehadirannya di perusahaan ini—dengan koneksi ke Reinhard—telah menimbulkan ketegangan dan kecemburuan di kalangan rekan-rekannya, termasuk sang manajer.Dengan tetap mempertahankan ketenangannya, Alicia melanjutkan, “Maafkan kelancangan saya, Manajer Lewis. Tapi, saya hanya sekedar ingin mengingatkan saja. Saya tahu semua orang khawatir saya akan melakukan sesuatu di dalam divisi ini, tapi saya bisa memastikan kepada Anda kalau saya datang untuk bekerja. Tidak ada niat apa pun terhadap Anda maupun yang lainnya."Clara terdiam. Ia menatap luru
“Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di ruangan saya?!”Suara bentakan yang keras dari seseorang di belakangnya membuat Alicia terkejut. Meskipun begitu, dia tetap diam dan tidak menoleh.'Gawat! Bagaimana ini?' Rasa khawatir memenuhi pikiran Alicia.'Aku harus tenang,' pikirnya lebih jauh sambil mencoba mencari cara untuk menjelaskan dirinya tanpa menimbulkan kecurigaan lebih lanjut dari sosok pemilik ruangan tersebut.Perlahan, Alicia menarik napas dalam-dalam dan, masih tanpa menoleh, dia akhirnya berbicara dengan suara yang sengaja dibuat setenang mungkin. “Maaf, saya hanya datang untuk memberikan daftar bahan dari Manajer Lewis,” jawabnya sembari menundukkan wajahnya dalam-dalam.Sang wanita pemilik ruangan yang berpenampilan modis itu pun berjalan menghampiri Alicia dan berdiri di sampingnya sembari menyilangkan kedua tangannya. Netranya menatap Alicia dengan penuh kecurigaan. Kening wanita itu mengerut karena ia tidak bisa melihat wajah Alicia dengan jelas. Alicia memalingkan wa
Reinhard terlihat kesal. Sebenarnya ia ingin sekali turun tangan sendiri untuk menangani Ken. Akan tetapi, karena ia harus menjalani pemulihan di rumah sakit, Reinhard meminta para bawahan Dark Wolf untuk menggantikannya memberikan pelajaran kepada pria itu.Dalam kondisi terluka parah dan faktor usia yang tak lagi muda, Ken meregang nyawa lebih cepat setelah mengalami berbagai penyiksaan yang diperintahkan Reinhard.Meskipun menyesal tidak dapat menanganinya sendiri, tetapi Reinhard merasakan kelegaan yang luar biasa dengan kematian pria itu. Satu ancaman bagi Alicia telah lenyap, dan Reinhard bisa memenuhi janjinya kepada Regis.“Kamu sudah mengirimkan hasilnya kepada Regis?” tanya Reinhard.Ia memang meminta Austin menyelesaikan tugas itu sebagai bagian dari syarat yang diberikan Regis. Untuk memastikan mayat itu benar-benar Ken Stewart, Reinhard sengaja meminta otopsi. Ia tidak ingin tertipu seperti Alexei dulu, yang sempat terkecoh oleh kematian palsu Ken.“Tenanglah. Aku sudah m
Dua minggu sudah Reinhard dirawat di rumah sakit. Hari ini akhirnya ia sudah diperbolehkan pulang setelah selama seminggu ini ia mengajukan protes dan keluhannya terhadap dokter yang menanganinya. Bahkan ia tak segan-segan mengancam pimpinan rumah sakit.Apa yang terjadi? Kenapa Reinhard melakukannya?Jawabannya sangat sederhana. Reinhard sudah tidak betah berada di rumah sakit itu.Seperti yang diputuskannya dua minggu lalu, ia dan Alicia akhirnya berbagi kamar rawat bersama agar bisa menjalani masa pemulihan bersama.Akan tetapi, Alicia sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit minggu lalu karena kondisinya sudah lebih membaik. Meski demikian, ia tetap diwajibkan menjalani bedrest di rumah hingga benar-benar pulih sepenuhnya.Karena itulah, Reinhard merasa sangat kesepian berada di dalam kamar rawat itu sekarang. Ia berulang kali mengajukan permohonan untuk pulang, tetapi ditolak karena luka-lukanya masih memerlukan perawatan intensif.Hari ini, setelah berbagai protes dan ancama
“Apa yang kamu lamunkan, hum?” Reinhard mengetuk pelan kening Alicia, mengalihkan kembali perhatian wanita itu padanya.Alicia tersentak kecil. Ia menggeleng cepat, lalu memasang senyum lebar seolah tidak ada apa-apa.Reinhard menghela napas pelan. “Aku tahu … meskipun kamu tahu kamu hamil sekalipun, pasti kamu tetap akan mengikutiku, bukan?” terkanya, mengira Alicia masih memikirkan tentang hal yang terjadi sebelumnya.Alicia terkekeh kecil. “Kamu sangat mengenalku dengan baik, Suamiku,” ucapnya, tidak menyangkal sedikit pun tuduhan Reinhard.Saat itu, Alicia memang tidak berpikir panjang. Satu-satunya hal yang dipedulikannya hanyalah keselamatan pria itu.Reinhard mendesah berat, tetapi ada kehangatan dalam sorot matanya. “Sayang, kamu tahu kan kalau aku mencintaimu?”Alicia mengangguk.“Mulai sekarang ada nyawa lain yang harus kamu jaga. Tapi, di atas semua itu, kamu yang menjadi prioritasku. Karena itu, jangan pernah berbuat nekat seperti tadi lagi dan jangan pernah berpikir untuk
“Ah, ya ampun. Turunkan aku, Xavier. Aku pusing,” seru Alicia histeris.Reinhard segera menghentikan putarannya dan menurunkan Alicia dengan hati-hati di atas ranjang. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.“Maafkan aku, Sayang. Aku sampai lupa diri karena terlalu bahagia mendengar kabar ini,” ucap Reinhard seraya menangkup wajah Alicia dengan kedua tangannya, menatapnya seolah-olah wanita itu adalah seluruh dunianya.“Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing saja,” timpal Alicia berusaha menunjukkan senyuman meyakinkan, meskipun kepalanya masih sedikit berdenyut.“Kamu yakin?” Reinhard menatapnya lekat-lekat, seolah mencari tanda-tanda ketidaknyamanan yang mungkin disembunyikan Alicia. “Mau aku panggilkan dokter saja?”Alicia tertawa kecil, menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja, Xavier. Serius. Jangan berlebihan.”Reinhard mendesah lega, tetapi tidak sepenuhnya puas. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Alicia dengan lembut.Raut wajah Reinhard berubah sendu dan dipen
Selang beberapa waktu, ciuman mereka semakin dalam, membuat Alicia cukup kewalahan untuk mengikuti liarnya gairah yang diberikan Reinhard melalui ciuman tersebut.“Ummph─”Deru napas Alicia terasa semakin pendek. Ia pun bergegas melepaskan tautan bibir mereka lebih dulu agar bisa menghirup udara secepatnya. Tanpa sengaja ia mendorong dada Reinhard terlalu kuat hingga pria itu meringis perih karena luka di bahunya terasa kembali berdenyut.Mata Alicia pun membelalak panik. “Ah, astaga!”Alicia pun bergegas memeriksa luka pria itu, membuka beberapa kancing baju pasien yang dikenakan Reinhard. Melihat bercak darah yang merembes pada perban di bahu pria itu, rasa bersalah pun menggelayuti hati Alicia. Ia menggigit bibir bawahnya dan menatap Reinhard dengan sorot mata berkaca-kaca.“Maafkan aku … aku─”Sebelum Alicia sempat menyelesaikan ucapannya, Reinhard telah menarik lengannya dan membawanya jatuh ke dalam pelukannya lagi.“Xavier ….” Alicia mengerjap dengan bingung. Ia berniat mendoron
Alicia masih terdiam. Ia berusaha mencerna ucapan yang dilontarkan Reinhard. Kata-kata itu meskipun terdengar sederhana, tetapi entah kenapa Alicia merasa tidak asing seakan menyiratkan sesuatu seperti penolakan.Tiba-tiba hati Alicia terasa teremas. Ia diingatkan kembali dengan kenangan menyakitkan yang dialaminya dulu terkait dengan sikap dingin Reinhard di masa lalu.Cairan bening telah menggenang di pelupuk mata Alicia membuat Reinhard tersentak. “A-Alicia, kamu … kenapa?” tanyanya, panik.Namun, wanita itu tidak menjawab dan malah balik bertanya dengan suara bergetar yang terdengar seperti bisikan yang rapuh, “Tadi kamu bilang ... tidak ingin aku mengejarmu lagi? Maksudmu ... kamu ingin berpisah denganku?”Reinhard menatap wanita itu dengan penuh kebingungan. Namun, seulas senyuman merekah di bibirnya setelah mencerna prasangka buruk yang dilontarkan wanita itu atas ucapannya tadi.Dengan penuh kelembutan, Reinhard mengusap air mata yang hampir tumpah di sudut mata wanita itu. “D
“Memangnya ada hal yang tidak kuketahui?” Regis menyeringai kecil, nada angkuhnya begitu kentara.Reinhard hanya mendesah, menatap pria itu dengan tatapan lelah. "Tentu saja. Tuan Muda Lorenzo selalu tahu segalanya."Regis tertawa pelan, lalu mulai berbicara tanpa niat memancing pertengkaran. Ia pun menceritakan mengenai hal yang didengarnya dua hari lalu—tentang insiden yang menimpa Alicia sebelum mengalami kecelakaan tiga tahun lalu. Cerita yang secara tak sengaja Regis dengar ketika Alicia menceritakannya kepada ayah mereka.Reinhard terdiam mendengarkan cerita tersebut. Amarah di dalam dadanya mulai membara seiring dengan setiap kata yang keluar dari mulut Regis. Rahangnya mengeras, sementara tangan terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.“Jadi … tiga tahun lalu, kecelakaan itu memang bukan hanya sekadar kecelakaan?” gumam Reinhard berbisik pelan seiring dengan getaran emosi yang dirasakannya.Sebelumnya Reinhard memang telah mendengar pengakuan dari Edwin Stein mengenai p
Reinhard telah sampai di depan pintu kamar Alicia. Koridor di depan ruangan itu sangat sepi. Sebelum masuk, ia menoleh sejenak ke arah Hans yang menemaninya hingga ke tempat itu.“Cukup antar sampai di sini saja. Saya bisa sendiri, Tuan Miller,” ucap Reinhard dengan tegas.Meskipun Hans merasa ragu dan khawatir, tetapi ia tidak dapat menolak permintaan Reinhard. Akhirnya, dengan sedikit bimbang, Hans menundukkan kepalanya dan beranjak pergi, meninggalkan Reinhard sendirian di depan pintu.Setelah Hans pergi, Reinhard pun menggeser pintu di depannya, lalu memutar kursi rodanya masuk ke dalam ruangan itu. Di tengah keheningan itu, hanya terdengar suara roda yang berputar dengan deru napas yang teratur saja.Ia berhenti sejenak. Dari balik tirai tipis yang mengelilingi ranjang, ia bisa melihat sosok Alicia yang terlelap. Dengan pelan, Reinhard berdiri dari kursinya, berjalan mendekat agar bisa melihat wajah istrinya lebih jelas di tengah penerangan temaram dalam ruangan itu.Namun, langk
“Mau ke mana?”Nada suara Reagan yang datar dan tajam, memecahkan keheningan yang terjadi di antara dirinya dan Reinhard. Mata ambernya menilik sikap putranya yang dipenuhi kewaspadaan padanya.Perlahan sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis, mencairkan ketegangan di antara mereka. “Mencari Alicia?” tanyanya lebih lanjut.Reinhard mengangguk cepat. “Aku ingin memastikan keadaannya,” jawabnya.Melihat raut wajah putranya yang pucat, Reagan pun tersenyum mencibir, “Aku rasa dibandingkan dia, kondisimu jauh lebih mengkhawatirkan, Rein.”Sejenak, ruangan kembali menjadi sunyi. Nada suara Reagan yang terdengar tajam tersebut membuat Reinhard berpikir ayahnya itu akan menghalangi keinginannya seperti yang biasa dia lakukan.Akan tetapi, Reinhard tidak menyangka sang ayah malah berkata, “Pergilah. Tapi, perhatikan juga kondisimu. Jangan terlalu memaksakan diri.”Mata Reinhard terbelalak, tak percaya dengan pendengarannya tersebut. “Papa ….”“Kenapa? Tidak jadi?” Reagan menaikkan satu ali