Sebelum berangkat malam itu, Milla melirik tongkat yang diletakkan di samping kursi. Dia ragu selama beberapa detik dan akhirnya tidak membawanya.Kaki kirinya sebenarnya sudah bisa berjalan normal, tetapi dia terbiasa bergantung pada tongkat sehingga masih agak kaku saat berjalan. Namun, malam ini dia mewakili Grup Jauhari untuk menghadiri acara kelas atas. Sudah saatnya melepaskan tongkat itu dan memberi dirinya awal yang baru.Milla pergi bersama Joy. Di perjalanan, Milla sengaja bertanya kepada Joy, yang informasinya selalu terkini, "Ryan memukul Sunny sampai masuk rumah sakit. Lalu, gimana dengan anaknya?""Anaknya? Tentu saja mati!" Joy menjawab sambil mengemudi, "Kalaupun Ryan nggak memukulnya, Sunny juga nggak akan mempertahankan anak itu."Melihat wajah Milla yang tampak dingin, Joy tak kuasa bertanya, "Yang benar saja, jangan bilang kamu kasihan sama jalang itu. Kudengar, meskipun dirawat di rumah sakit, dia tetap sibuk. Kemarin, dia bahkan sudah keluar dan pergi ke pesta kap
Jay hampir menempel di tubuh Milla, kedua matanya terus menjelajah tubuh Milla. Meskipun tidak puas dengan sikap angkuhnya, Jay terpesona oleh kecantikannya yang luar biasa dan tidak sabar ingin memeluknya."Pak Jay, aku ke sini untuk membahas kerja sama pengembangan parfum. Apa kamu sudah melihat proposal dari Grup Jauhari?" tanya Milla sambil menghindari tangan gemuk Jay dengan lincah."Eh?" Jay melambaikan tangannya di depan wajah Milla. "Jangan bahas hal-hal yang bisa merusak suasana. Kita bertemu lagi, ini takdir. Kamu harus menepati janji! Ayo, ikut aku ke lantai atas!""Dalam undangan, kamu menyebutkan bahwa tujuan acara ini adalah untuk membahas kerja sama." Milla menegaskan.Jay yang kesal pun mengernyit. "Kerja sama apa? Aku sudah menyelidikinya. Sekarang Keluarga Jauhari sudah bangkrut sampai harus menjual putri mereka untuk menyanjung orang kaya. Selama kamu bisa memuaskanku malam ini, aku bisa memberimu lebih dari apa yang kamu inginkan!""Heh." Milla tersenyum sinis. Dia
Chris duduk di kursi roda, sementara Milla terjatuh di pahanya. Benturan keras saat Milla berlari membuat kursi roda sedikit miring. Berat badan keduanya pun membebani Wilson yang berdiri di belakang kursi roda, menopangnya agar tidak terbalik.Wilson tidak tahu apakah dirinya harus melihat atau berpaling. Bagaimanapun, posisi Milla dan Chris terlalu mencanggungkan. Dia takut nyawanya melayang jika melihat terlalu lama.Milla telah menyadari bahwa orang yang ditabraknya adalah Chris. Dia memegang kaki Chris dan kursi roda, berusaha untuk bangkit. Namun, tiba-tiba terdengar suara para pengawal Jay yang mengejar di belakang. "Berhenti! Kamu nggak akan bisa lolos!"Para pengawal itu segera diadang oleh para pengawal Chris. "Pak Chris ada di sini. Siapa yang berani mendekat?"Para pengawal Jay mencoba melihat ke depan. Terlihat Chris menarik jasnya untuk menutupi wajah Milla yang berada di antara kakinya. Posisi itu ... cukup jelas bagi siapa pun yang melihat.Chris ini memang luar biasa.
"Silakan," ujar Chris dengan nada tidak sabar."Kudengar sebelum pesta Jay, perusahaannya sudah diakuisisi. Pabriknya tetap beroperasi normal, tapi Jay telah didepak. Apa kamu tahu soal ini?" tanya Milla dengan tenang sambil mengamati ekspresi Chris.Chris bertanya balik dengan ekspresi datar, "Apa yang ingin kamu katakan?""Grup Jauhari sedang mencari produsen yang cocok untuk diajak bekerja sama. Jadi, aku ingin tahu siapa yang diam-diam membeli pabrik Jay." Milla mencoba mencari informasi.Chris sontak menatapnya dengan tatapan tajam. "Memangnya Grup Jauhari nggak bisa menyelidikinya sendiri? Aku nggak bisa membantu."Milla menggigit bibirnya, lalu segera mengganti topik pembicaraan. "Apa aku boleh tahu parfum apa yang kamu pakai?"Chris menatapnya dengan tatapan yang semakin tajam, menunjukkan ketidaksabarannya.Tanpa menunggu jawaban, Milla meneruskan, "Aku bisa mencium bahan utama seperti ambergris, bergamot, dan cedarwood. Tapi, parfum mahal nggak selalu baik. Yang paling pentin
"Oh, Om Chris," panggil Milla sambil refleks merapatkan kerah jubah tidurnya, menjaga agar tidak ada bagian tubuh yang terlihat.Chris meletakkan tablet di tangannya, lalu mendongak dan meliriknya. Sepertinya wanita ini senang memanggilnya dengan sebutan itu. Sudahlah, terserah dia saja ....Milla berdiri agak jauh dengan rambut yang masih basah, wajah polos tanpa riasan, rambut hitam panjang, dan kaki putih jenjang. Penampilannya terlihat lebih menarik daripada saat berdandan di siang hari. Namun, dia menjaga jarak seperti sedang menghadapi pencuri.Jakun Chris bergerak naik turun, tetapi dia akhirnya menekan perasaannya dan menggigit bibirnya. Kemudian, dia menggerakkan kursi rodanya dan jarinya menyentuh sesuatu di sandaran tangan. Tiba-tiba, terdengar suara mekanis di belakang.Milla menoleh dengan terkejut. Di dinding belakang, sebuah pintu rahasia terbuka. "Ini ... apa?" tanyanya tanpa sadar.Chris tidak menjawab, hanya mengendalikan kursi rodanya dan menghilang di balik pintu it
Milla menyalakan komputer dan menyesuaikan rencana pengembangan parfum. Tanpa disadari, dia kelelahan dan tertidur di sofa.Keesokan pagi saat dia bangun, pelayan memberitahunya bahwa Chris sudah selesai sarapan dan pergi ke perusahaan.Milla segera bersiap-siap dan membersihkan diri, lalu melirik grafik saham di komputernya. Di sana, saham Grup Samali tampak terjun bebas. Setelah melihatnya, dia mematikan komputer dengan puas.Meskipun sudah menyebarkan berita bahwa dia tidak akan melanjutkan pertunangan dengan Ryan, kondisi Ryan yang tengah kacau balau membuatnya tidak punya waktu untuk membujuk Milla. Milla pun senang bisa fokus mengembangkan parfum tanpa gangguan.Setelah tiba di Grup Jauhari, Milla memanggil Chad untuk mengumpulkan para petinggi dalam rapat manajemen. Mereka akan membahas rencana yang telah dia revisi semalam.Namun, Donny dan Sunny tiba-tiba datang saat rapat baru dimulai. Sunny sengaja berdandan tipis agar terlihat lemah. Begitu masuk, dia langsung membungkuk da
"Siapa kalian?" Donny berdiri di depan Sunny, berusaha melindungi putrinya. Namun, seorang pengawal berbaju hitam yang baru datang langsung menekan lengannya hingga dia meringis kesakitan."Kami pengawal Pak Jay. Putrimu pasti kenal," jawab pengawal itu dengan nada galak."Jay?" Donny dan para pemegang saham yang hadir pun tertegun. Jay adalah tokoh yang sering dibicarakan di Grup Jauhari belakangan ini. Tidak ada yang tahu Sunny mengenalnya. Jika Sunny mengenalnya, mereka tidak perlu repot-repot mencari undangan untuk pesta yang diadakan Jay.Di belakang, Sunny mulai mundur dengan pandangan takut. Setelah berhasil menundukkan Donny, para pengawal sontak maju dan menarik Sunny ke pintu. Di depan para pemegang saham di dalam ruang rapat dan karyawan yang menyaksikan di luar, pengawal berteriak dengan lantang."Sunny! Kamu menyamar sebagai pendamping di pesta kapal pesiar, menggoda Pak Jay, dan menyerangnya di pesta! Perilakumu hina dan kejam! Pak Jay memerintahkan kami untuk membawamu p
Milla merasa curiga. Ketika kembali ke ruang ganti dan menemukan biliknya, dia mengambil gaun dan sepatu yang sudah diberi tanda nama. Hal pertama yang dilakukan adalah memeriksa gaun itu dengan teliti, baik luar ataupun dalam. Namun, dia tidak menemukan hal yang mencurigakan.Setelah memakainya dan merasakannya sebentar, dia juga tidak menemukan masalah. Maka, Milla pun keluar dari ruang ganti.Melihat Milla keluar dengan gaun itu, dua wanita yang bersembunyi di sudut akhirnya merasa lega dan mulai berbicara."Kamu bilang sudah mengutak-atik gaunnya. Jangan-jangan cuma mengendurkan tali pundaknya?""Mana mungkin aku serendahan itu?" Salah satu wanita tertawa dingin dan puas. "Aku sudah menaruh paku di sol sepatunya!""Paku? Bukannya dia akan langsung menyadarinya? Gimana kalau dia menggantinya sebelum sempat ke aula pesta?""Aku melakukannya dengan sangat hati-hati. Paku itu nggak akan langsung terasa. Ketika dia mulai menari, paku itu baru akan menembus sol sepatu dan ... kita lihat
'Baguslah kalau Om nggak datang,' batin Yoan sambil diam-diam menyimpan ponselnya ....Setelah selesai menangani dokumen di tangannya, Chris merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Yoan tadi. Dia pun segera memerintahkan Wilson, "Cari tahu, apa yang sedang dilakukan Yoan."Tak lama kemudian, Wilson kembali melapor, "Pak Chris, Pak Yoan hari ini sedang syuting iklan kedua untuk parfum Grup Jauhari, dan ... pasangan perempuannya tiba-tiba diganti menjadi Nyonya.""Apa?"Alis Chris langsung mengernyit. Dia berkata tegas, "Bawa ke sini proposal iklan yang terakhir kali diserahkan oleh Grup Jauhari!""Baik!"Wilson tidak berani menunda. Dia segera mengambil dokumen proposal dan meletakkannya di depan Chris. Melihat desain iklan yang penuh adegan berpelukan dan mengangkat tubuh wanita, pupil mata Chris memicing tajam. Dia langsung menginstruksikan dengan suara tegas, "Ke studio sekarang juga!"....Yoan sedang syuting adegan solonya. Sementara itu, Milla duduk santai di kursi istirahat sambil
Di internet, empat influenser kecantikan yang sebelumnya bersekongkol dengan Laura tiba-tiba berbalik arah. Mereka mengaku bahwa malam sebelum mereka menggunakan parfum itu, Laura mengundang mereka makan malam. Saat itu, Laura diam-diam merusak parfum mereka.Masalah ini semakin besar. Mereka merasa ada sesuatu yang janggal, jadi berkumpul untuk membahas lebih lanjut. Ketika mereka membawa sampel parfum itu untuk dianalisis, ditemukan satu bahan tambahan yang sangat mudah menyebabkan alergi. Namun, parfum milik para penguji lain tidak memiliki bahan itu. Dengan kata lain, Laura sengaja melakukan kecurangan.Bukan hanya itu, salah satu influenser kecantikan paling berpengaruh bahkan mengunggah tangkapan layar percakapannya dengan Laura, membuktikan bahwa setelah skandal ini pecah, Laura terus menghasutnya untuk membangkitkan emosi publik dengan tujuan menghancurkan reputasi Jauhari Parfum.Alasan Laura melakukan semua ini ternyata hanyalah dendam pribadi. Dia merasa tidak puas karena da
"Aku?" tanya Milla dengan terkejut.Sutradara mengangguk. "Aku sudah lama memperhatikanmu. Begitu kamu muncul di depan kamera, kamu langsung menjadi pusat perhatian. Struktur wajahmu elegan dan tegas. Mau dari sudut mana pun, hasilnya pasti bagus.""Aku nggak bisa." Milla tersenyum sambil melambaikan tangan. "Aku bukan artis, juga bukan model.""Kenapa kita awalnya ingin mencari artis dan model untuk berpasangan dengan Yoan?" Sutradara mulai membujuknya, "Karena mereka sudah memiliki popularitas. Tapi, Bu Milla, popularitasmu saat ini nggak kalah dengan model biasa, terutama setelah Laura baru saja menambah bahan bakar ke dalam api."Staf di sekeliling juga ikut membujuk, "Bu Milla, coba saja. Ini bisa menghemat waktu dan juga mengurangi biaya produksi.""Benar. Nggak perlu banyak adegan, hanya beberapa pengambilan gambar saja. Nggak sulit kok," timpal sutradara.Milla menggigit bibirnya, mempertimbangkan situasi. Akhirnya, dia memaksakan diri untuk setuju.Saat Milla baru mulai dirias
Dalam 2 tahun terakhir, Grup Jauhari terus berusaha memperluas skala produksinya, terutama sekarang divisi parfum baru saja meluncurkan lini produk baru dan sangat membutuhkan pembangunan pabrik baru.Nayla telah mengincar sebidang tanah yang terletak tepat di sebelah pabrik lama Grup Jauhari, tetapi hak penggunaan tanah tersebut belum dilepas.Sebulan yang lalu, BPN mengumumkan bahwa tanah itu akhirnya akan dilelang. Grup Jauhari mengajukan dokumen untuk ikut serta dalam pelelangan. Namun, BPN menolak dengan alasan memprioritaskan perusahaan yang belum memiliki pabrik di sekitar area tersebut.Nayla pun merasa frustrasi selama beberapa hari akibat hal ini. Lantas, bagaimana bisa ...?"Bu Nayla baru saja mendapat pemberitahuan kalau BPN akhirnya menyetujui partisipasi Grup Jauhari dalam pelelangan," jelas asisten.Milla mengangguk, itu kabar baik. Meskipun ibunya terjebak di luar negeri karena urusan bisnis, dia akan mengurus masalah ini dengan baik sebagai bentuk baktinya. Dua pabrik
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Laura mengangkat telepon. "Ada apa, Kak Kenrick?""Laura, kamu pernah bilang nggak akan salah jalan. Tapi, sekarang kamu hampir menghancurkan Jauhari Parfum. Mereka cuma menghapus cuplikanmu, tapi apa perlu sampai memojokkan Grup Jauhari sedemikian rupa?" tanya Kenrick."Kalau Jauhari Parfum bisa hancur hanya karena hal kecil seperti ini, bukankah itu membuktikan kalau mereka memang lemah?" Laura menimpali dengan santai. Dia baru saja menyelesaikan siaran langsung. Beberapa produk kecantikan yang dia promosikan laris manis, membuatnya semakin puas."Mereka sudah tahu kalau ini ulahku." Kenrick menghela napas, tak menyembunyikan apa pun dari Laura."Apa?" Nada suara Laura langsung berubah penuh emosi. "Kamu bilang kalau ini ulahku?"Kenrick mengerutkan kening, suaranya rendah. "Nggak.""Oh, bukan begitu maksudku .... Maksudku, kamu baik-baik saja?" Laura segera mencari alasan untuk memperbaiki suasana.Kenrick awalnya ingin mengatakan bahwa keluarga
Kenrick kembali ke kantornya. Yang mengejutkannya, perusahaan tidak lagi mengirim orang untuk mengawasinya ....Dia masih teringat suasana di rapat dewan direksi tadi. Semua pemegang saham menargetkan keluarganya karena perbuatannya. Dia juga teringat wajah ayahnya yang marah besar. Hatinya terasa berat.Dia membuka internet dan mencari perkembangan terbaru tentang skandal parfum Grup Jauhari. Situasinya ternyata jauh lebih buruk dari yang dia bayangkan. Meskipun demikian, Milla masih menjaga harga dirinya.Di tengah kebingungannya, Kenrick melihat ponselnya dan ragu-ragu apakah harus menelepon Laura atau tidak. Namun, sebelum sempat mengambil keputusan, Milla sudah mengetuk pintu ruangannya.Dia panik dan buru-buru meletakkan ponselnya. Milla masuk dengan ekspresi tenang dan berucap, "Aku ingin kamu mendengar sebuah rekaman. Kamu masih ingat beberapa hari yang lalu, saat aku difitnah memiliki kehidupan pribadi yang kacau di Cube Mansion?"Kenrick mengangguk. Kasus itu sempat menjadi s
Dua puluh menit kemudian, rapat dewan direksi darurat pun dimulai.Kenrick bisa dibilang adalah orang yang berani bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia langsung mengakui semua yang telah dia lakukan, bahkan menjelaskan secara detail bagaimana informasi itu bocor.Seperti yang diduga, para pemegang saham lain langsung mengarahkan kemarahan mereka kepada ayah Kenrick."Ini keterlaluan! Kenapa kamu melakukan ini? Kamu sudah mencelakai kita semua!""Kami tahu dulu kamu adalah bawahan Donny, tapi lihat bagaimana keadaan Donny sekarang! Kamu masih memilih berdiri di pihaknya?"Para pemegang saham mengkritiknya dengan suara lantang. Wajah Kenny memerah karena marah, tubuhnya sedikit gemetar. Dia berdiri dan menunjuk Kenrick sambil menghardik."Anak durhaka! Apa kamu diancam seseorang? Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti ini? Apa kamu dijadikan kambing hitam oleh seseorang? Katakan sesuatu!"Milla yang merasa tersindir oleh ucapan itu, hanya tersenyum dingin dan tenang. "Pak Kenny, aku
Salah satu karyawan wanita mengambil ponselnya dengan gugup, membuka media sosial, dan menyerahkannya kepada Milla. Gerak-geriknya hati-hati, seolah-olah sedang mengakui kesalahan."Bu Milla, aku menambahkan WhatsApp-nya waktu menangani iklan dengan Laura hari itu ...."Semua orang tahu bahwa saat terakhir kali syuting iklan, Milla dan Laura sempat berselisih. Mereka khawatir akan menyinggung Milla karena hal ini.Namun, Milla tidak peduli. Matanya hanya terpaku pada layar ponsel. Di sana, Laura mengunggah postingan terbaru.[ Malam panjang lagi, hanya bisa diselamatkan oleh masker wajah .... ]Di kolom komentar, Kenrick menunjukkan kepeduliannya.[ Kalau bisa tidur, tidurlah sebentar. Jaga kesehatanmu. ]Kalimat itu ... sepertinya hubungan mereka cukup dekat.Milla mengedipkan matanya. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. Sebelumnya ketika naik mobil Kenrick, ponsel Kenrick berbunyi. Nama yang muncul di layar adalah Laura. Ternyata Laura yang sama?"Terima kasih." Milla mematikan ponsel i
Milla mendongak dengan terkejut. Yang dilihatnya adalah leher panjang dan dagu Chris. Pria itu merangkulnya ke dalam mantel, seolah-olah dia adalah zirah pelindungnya.Di belakang, bawahan dan pengawal Chris segera menahan beberapa orang yang membuat onar itu. Salah satu dari mereka maju untuk bertanya, "Pak, apa yang harus kami lakukan terhadap orang-orang ini?""Bawa mereka kembali, cari tahu dalang di balik ini!" Chris memberi perintah tanpa menoleh."Baik!"Suasana di belakang langsung menjadi tenang. Milla keluar dari pelukannya, melihat punggungnya yang basah kuyup. Ujung mantel Chris masih terus meneteskan air."Kamu baik-baik saja?" Ada banyak hal yang ingin Milla tanyakan, tetapi akhirnya hanya itu yang keluar."Apa yang perlu dikhawatirkan? Aku cuma perlu mengganti pakaian," jawab Chris dengan tenang. "Kamu naik saja, aku akan mengantarmu ke lift.""Baik." Milla mengangguk tanpa banyak bicara.Chris mengantarnya ke lift. Begitu sampai di kantor, asisten sudah menunggu di depa