Home / Romansa / Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan / 4. Aku Ingin Punya Mama!

Share

4. Aku Ingin Punya Mama!

Author: Vhiaraya
last update Huling Na-update: 2025-01-13 06:01:54

"Aku suka Tante Sofie dan aku ingin dia menjadi mamaku," jawab Arsene mantap.

Sejak pertama kali melihat Sofie, ada getaran aneh di dada. Arsene merasa aman dan nyaman. Perasaan semacam itu belum pernah dia rasakan sebelumnya pada wanita mana pun.

"Kita bicara lagi nanti." Oxel memilih menghentikan obrolan itu dan lekas berbalik bersiap pergi.

"Aku serius, Pa," ucap Arsene sendu.

Kenapa sang ayah tidak mempercayai ucapannya di saat-saat seperti ini? Padahal Arsene sudah terlihat sangat serius.

Tanpa menoleh, Oxel menjawab, "Kamu hanya sedang terbawa suasana saja. Kita bisa bicarakan hal ini nanti."

Oxel pikir, Arsene mengambil keputusan dengan tergesa. Hal itu terjadi karena sang putra tidak pernah mendapat kasih sayang dari ibunya. Jadi sekali mendapat perhatian, putranya akan langsung terharu.

"Tidak, Pa. Aku benar-benar ingin Tante Sofie jadi mamaku," ujar Arsene bersikeras. 

Sayangnya, sang ayah tidak menghiraukan ucapannya dan melangkah pergi. Meski sekeras apa pun dia berteriak, itu hanya akan membuatnya kelelahan saja.

"Papa jahat! Papa sudah tidak sayang aku lagi!"

Arsene melempar barang yang ada di dekatnya seperti, bantal dan guling. Manik mata anak itu meneliti sekitar dan bergegas melompat dari tempat tidur. Dia raih miniatur-miniatur favoritnya di meja dan melemparnya ke arah pintu.

"Aku benci Papa! Aku benci Papa yang selalu sibuk! Aku benci selalu diabaikan!" teriak Arsene murka.

Selama ini, Oxel memang selalu memenuhi kebutuhan Arsene. Akan tetapi, kebutuhan batinnya hampir nol besar. Dia selalu sibuk dengan pekerjaan dan jarang sekali ada waktu untuk sang putra.

"Papa, dengarkan aku! Aku ingin punya mama!"

Selama ini, Arsene tidak pernah sekalipun bertanya atau sekedar mengungkit tentang keberadaan ibunya. Dia tahu hal itu hanya akan menyakiti hati sang ayah. Namun, tidak bisakah ayahnya memahami perasaannya juga?

"Aku ingin Tante Sofie jadi mamaku!" teriak Arsene lagi.

Di luar, Oxel hanya mendengar suara teriakan dan barang pecah bertubi-tubi. Dia tahu putranya serius, tetapi tidak bisa menerimanya dengan mudah. Tentu saja jika ingin Sofie menjadi ibu dari anaknya, dia harus menikahi wanita itu. Akan tetapi, dirinya sudah tidak percaya dengan yang namanya cinta.

"Pak, Den Arsene," ucap Bi Yuli, asisten rumah tangga.

"Biarkan saja. Nanti kalau sudah lelah juga berhenti sendiri," sahut Oxel malas.

Pria tinggi semampai itu ingin tahu sampai sejauh mana perilaku anaknya. Setelah itu, dia akan membuat keputusan dan bertindak sebagaimana mestinya. 

"Baik, Pak." Bi Yuli kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya.

Sementara itu, Oxel meraih ponsel di saku jas, lalu menghubungi seseorang. "Cari tahu siapa Sofie. Aku ingin semua informasi tentangnya hari ini juga."

Setelah mengakhiri panggilan, Oxel berjalan menuju ruang kerja. Dia mengempaskan tubuhnya di kursi dan menyandarkan punggung sambil menatap langit-langit ruangan. Pria tampan itu terlihat kelelahan, terlebih dengan helaan napas beratnya yang terdengar cukup keras. Tidak ingin membuang waktu, Oxel memilih melanjutkan pekerjaan.

Beberapa jam kemudian, Oxel kembali menemui Arsene. Seperti sebelumnya, dia berdiri di dekat pintu sambil bersandar pada dinding.

"Kata Bibi, kamu tidak mau makan. Kenapa?" tanya Oxel dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.

Arsene menarik selimut dan bergerak memunggungi sang ayah. Sepertinya dia masih marah atas kejadian tadi siang. Lagi pula, siapa juga yang mau diabaikan?

"Masih marah?" tanya Oxel lagi. Dia menatap putranya yang berusaha menghindar.

Lagi, Oxel diabaikan sang putra. Dia tahu tidak akan semudah itu. Apalagi Arsene bukan tipe anak yang suka merajuk. Paling hanya diam dan kembali seperti biasa.

"Mari kita bicara setelah makan malam," kata Oxel sambil menatap tubuh mungil putranya yang terbungkus selimut.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan!" sergah Arsene ketus.

"Kamu yakin? Papa bisa pertimbangkan keinginanmu untuk memiliki ibu. Jadi, cepat turun dan makan. Setelah itu, kita bisa bicara." Oxel terlihat penasaran menantikan reaksi sang putra.

Pria dengan hidung mancung itu tidak benar-benar ingin menjadikan Sofie ibu untuk anaknya. Baginya, hal yang paling penting sekarang adalah Arsene makan terlebih dahulu.

"Papa tidak bohong, kan?" tanya Arsene beranjak bangun.

"Bukankah papa sudah bilang akan mempertimbangkannya? Apa perlu papa batalkan saja?" ancam Oxel kesal.

Sore tadi, Oxel sudah mendapatkan informasi pribadi Sofie. Tidak ada hal baik dari wanita itu. Selain yatim piatu, Sofie juga seorang janda miskin. Tidak ada kelebihan yang dimiliki untuk bisa dia pertimbangkan.

"Aku mengerti." Arsene menyingkirkan selimut dan melompat turun. Kemudian, dia berjalan keluar kamar melewati ayahnya.

"Astaga!" Arsene tersenyum melihat sikap anaknya. "Sejak kapan anakku sebesar ini?"

Sibuk bekerja membuat Oxel melewatkan tumbuh kembang Arsene. Ada sedikit penyesalan di relung hati, tetapi dia tidak punya pilihan. Setiap kali menatap putranya, dia seperti sedang menatap Jennifer, sang mantan istri. Tentu saja karena bola mata mereka sangat mirip.

"Tunggu papa, Arsene!" teriak Oxel mempercepat langkahnya.

Mengetahui sang ayah mengejar, Arsene langsung lari. Pada akhirnya, mereka saling berkejaran menuju ruang makan sebelum akhirnya menikmati makan malam bersama.

***

"Apa hobimu memang menculik? Apa tidak bisa berbicara baik-baik jika ingin bertemu denganku?" tanya Sofie menatap Oxel heran.

Semula, Sofie sudah ketakutan karena tiba-tiba ada dua orang berpakaian serba hitam membawanya secara paksa. Terlebih, orang-orang itu berbeda dengan orang yang menculiknya sebelumnya.

"Jangan banyak bicara! Tujuanku membawamu ke sini hanya untuk ini." Oxel menyodorkan amplop coklat pada Sofie.

"A-apa itu?" tanya Sofie tergagap.

Melihat amplop coklat seolah membuat Sofie trauma. Kejadian di mana Anggara menceraikannya tiba-tiba terngiang di kepala.

"Buka saja. Aku yakin kamu akan senang," sahut Oxel santai. Dia menjatuhkan tubuhnya ke belakang dan bersandar pada kursi.

Sofie hanya orang biasa yang bekerja di toko bunga. Jadi, Oxel yakin tawaran yang akan dia berikan bisa diterima dengan mudah oleh wanita itu.

"Tidak, aku tidak mau," tolak Sofie sambil menyodorkan kembali amplop itu ke meja.

"Apa kamu bilang?" Oxel terlihat sangat terkejut. Untuk pertama kalinya ada orang yang berani membantah ucapannya. "Ini bukan tempatmu bisa seenaknya menolak perintahku!"

"Memangnya kamu pikir kamu siapa?" tanya Sofie geram.

Sejak tadi Sofie berusaha tenang. Namun, melihat sikap Oxel yang semakin keterlaluan membuatnya harus bersikap tegas. Kini, dia memilih berdiri dan bersiap keluar dari ruangan itu.

"Tunggu! Kamu mau ke mana?" seru Oxel beranjak berdiri, "Kembali atau kamu akan menyesal!" imbuhnya mengancam.

"Kamu tahu kalau aku bisa melakukan apa pun, termasuk mencabut nyawamu!" Dengan tangan terkepal, Oxel kembali mengancam. Tentu karena Sofie tidak menghiraukan ucapannya dan terus berjalan.

"Sial!" umpat Sofie pelan.

Wanita cantik itu tahu betul kalau Oxel mampu melakukan hal itu. Apalagi setelah menculiknya dua kali. Jadi, apa yang harus dia lakukan sekarang?

"Aku bilang kembali!" kata Oxel memerintah.

Jika bukan karena Arsene, Oxel tidak akan melakukan hal rendahan seperti ini. Dia terbiasa dipuja dan sekarang harus memohon pada seorang wanita.

Sofie yang sudah menyentuh gagang pintu langsung membantingnya cukup keras. Setelah itu, dia berbalik dan berjalan sambil menghentakkan kaki. Tidak lupa dengan wajah yang sudah memerah menahan emosi.

"Katakan, apa maumu?!" tanya Sofie dingin.

"Menikahlah denganku!" ujar Oxel tanpa ragu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Kaugnay na kabanata

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   5. Balas Dendam

    "A-apa? Menikah?" Sofie menganga dengan manik mata terbuka lebar.Sebelumnya, Sofie menerima amplop coklat berisi surat perceraian. Tidak disangka, ternyata amplop coklat kali ini justru ajakan ke pelaminan. Apalagi rentang waktu hanya beberapa bulan saja."Hahaha ... apa kamu gila?" Sofie tertawa tidak habis pikir."Cukup!" seru Oxel dingin."Bagaimana bisa? Kita baru kenal dan kamu sudah mengajakku menikah," ucap Sofie mengabaikan seruan Oxel.Sofie masih tidak bisa menerima gagasan yang Oxel lontarkan. Selain baru mengenal, dia juga memiliki pengalaman buruk tentang pernikahan. Jadi, tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menikah lagi."Kamu hanya perlu baca dan tandatangani dokumen ini. Setelah itu, kita akan menikah."Oxel kembali menyodorkan amplop coklat pada Sofie."Aku rasa aku sudah mendengar apa yang ingin kamu katakan. Sekarang giliranku untuk menolak dan pergi," kata Sofie tegas, lalu langsung membalikkan badan.Sudah saatnya bagi Sofie pergi dari sana. Dia berhara

    Huling Na-update : 2025-01-13
  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   6. Aku Ingin Membatalkan

    Dengan sigap, Oxel menyelamatkan lembar surat perjanjian sebelum Sofie berubah pikiran dan merobeknya."Apa? Se-se-sepuluh miliar?" Sofie menganga dengan mata terbuka lebar, bahkan langkah kakinya bergerak mundur karena terlalu terkejut."Ya, sepuluh miliar," sanggah Oxel tersenyum. Dia terlihat sangat puas melihat reaksi Sofie.Oxel tahu betul kalau Sofie hanya karyawan biasa di sebuah toko bunga. Bahkan jika harus bekerja dua puluh tahun sekalipun, wanita itu tidak akan pernah sanggup membayarnya."Jika kamu sanggup, kamu boleh pergi dari sini," sambung Oxel mencebikkan bibirnya malas."Bagaimana bisa dendanya sebanyak itu?" tanya Sofie dengan tangan terkepal."Tentu saja karena apa yang akan kamu dapatkan juga sama besarnya, bahkan lebih." Oxel menatap Sofie sambil melipat kedua tangan di dada.Mendengar ucapan Oxel membuat kepala Sofie semakin sakit. Suhu tubuhnya sudah sangat dingin, bahkan hampir membeku seperti es. Perlahan, wanita itu merasakan tubuhnya seakan melayang dan pan

    Huling Na-update : 2025-03-04
  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   7. Jatuh Cinta

    Mendengar ucapan Sofie membuat Oxel meradang. Dia menatap Sofie dingin dengan tangan terkepal kuat."Bukankah sudah ku bilang kalau kamu harus membayar denda jika membatalkan perjanjian?" tanya Oxel sambil menggertakkan gigi."Tapi sepuluh miliar bukan jumlah yang sedikit. Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?" sanggah Sofie bingung."Itu bukan urusanku. Mau kamu dapatkan uang itu dari hasil mencuri, aku sama sekali tidak peduli," ujar Oxel tak acuh.Pria berparas tampan itu melangkah mendekat. Dia duduk di sisi kiri tempat tidur dan menyentuh dagu Sofie. Memperhatikan setiap inchi wajah wanita itu, bahkan sampai ke sekujur tubuhnya."Wajahmu lumayan." Oxel tersenyum licik. "Kamu bisa jual tubuhmu dan membayar denda itu dengan mudah," imbuh pria itu sebelum akhirnya mendorong dagu Sofie pelan."Ka-kamu ...." Sofie menggertakkan gigi dengan manik mata terbelalak.Memang benar, akan sangat tidak mungkin mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Hanya dengan cara menjual

    Huling Na-update : 2025-03-05
  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   8. Undangan Pernikahan

    Setelah memutuskan, Oxel kembali ke kamar untuk menemui Sofie. "Persiapkan dirimu karena kita akan menikah besok pagi." Aneh bin ajaib. Oxel terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta dan takut mempelai wanitanya berubah pikiran, padahal kenyataannya tidak seperti itu. "Apa?" Lagi, lagi, dan lagi, Sofie dikejutkan oleh ucapan tidak masuk akal Oxel, "Bukankah kamu bilang tiga hari lagi? Lalu kenapa jadi besok pagi?" sambung Sofie berusaha mengingatkan. Dia beranjak turun dari tempat tidur dan bersiap menghampiri pria itu. Oxel menatap Sofie sekilas dan beralih menatap putranya. "Arsene main sama Sus Wanda dulu. Tante Sofie harus istirahat agar besok pagi sudah bisa menjadi mama kamu." "Baik, Pa," sahut Arsene bersemangat. Demi apa pun, anak laki-laki dengan rambut tebal itu merasa sedang bermimpi. Bagaimana bisa impiannya untuk menjadikan Sofie sebagai ibunya akan segera menjadi nyata? Bahkan dalam waktu yang cukup singkat. "Sampai jumpa besok pagi calon Mama," pamit Arsene p

    Huling Na-update : 2025-03-06
  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   9. Cemburu

    "Anda mengenal istri saya, Pak Anggara?" tanya Oxel berpura-pura terkejut.Sesuai perkataan Oxel sebelumnya, Sofie hanya diam dan fokus pada Arsene. Urusan Anggara benar-benar dia yang menghadapi."I-iya. Sofie ini ... mantan istri saya, Pak," jawab Anggara terbata.Tatapan mata Anggara terus tertuju pada Sofie. Mungkin dia sedang berpikir bagaimana bisa Sofie menikah dengan Oxel. Padahal selama menikah, dia tidak pernah menyebut nama bosnya di depan Sofie."Astaga!" Lagi, Oxel berpura-pura seolah tidak tahu. Dia menatap Sofie dan bertanya, "Apa benar begitu, Sayang?"Sofie menoleh, menatap Anggara sekilas dan beralih pada Oxel dengan senyum lembut. "Iya, Sayang. Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku sudah pernah menikah? Dan, pria yang ada di hadapan kita ini adalah mantan suamiku.""Astaga! Bagaimana bisa wanita secantik dan sebaik Sofie ... maaf, saya tidak bermaksud untuk --."Ucapan Oxel terpaksa terhenti karena dipotong begitu saja oleh Anggara. Namun, hal itu sudah diperki

    Huling Na-update : 2025-03-07
  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   10. Berpelukan

    "Kamu mau ke mana?" tanya Oxel dengan dahi mengernyit. Alih-alih masuk ke kamarnya sendiri, Arsene justru mengikutinya."Aku mau tidur sama Papa dan Mama," jawab Arsene menyelonong masuk ke kamar sang ayah."Hah?" Oxel cukup terkejut.Sejak awal, Oxel tidak berniat tidur satu kamar dengan Sofie. Justru dia ingin membiarkan istri kontraknya tinggal di kamar Arsene. Tentu saja karena sang putra begitu menginginkan wanita itu menjadi ibunya."Kenapa?" tanya Oxel tidak mengerti.Pria dengan gaya rambut haircut itu ikut masuk ke kamar. Dia melihat putranya sudah duduk di atas tempat tidur sambil melihat kedua tangan di perut."Karena aku mau tidur sama Mama dan Papa," sahut Arsene lagi."Kamu sudah besar, Arsene. Kalau kamu mau, kamu bisa tidur dengan Mama Sofie di kamarmu," bujuk Oxel sambil mendaratkan bokongnya di tepi tempat tidur."Papa mengusir aku dan Mama?" Arsene menatap tajam ayahnya.Jika sang ayah berkata Arsene sudah besar dan tidak boleh tidur bersamanya masih bisa dimaklumi.

    Huling Na-update : 2025-03-09
  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   11. Memeluk Sofie

    "Kenapa guling ini hangat sekali? Mana aromanya juga harum lagi," bisik Oxel dalam hati. Dia nampak tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya pada sesuatu yang dianggap guling. Untuk pertama kali, Oxel bisa tidur nyenyak setelah perpisahannya dengan sang mantan istri. Tidak terbangun karena mimpi buruk atau tidak sengaja terbangun karena alasan apa pun. Bahkan sekarang di pukul sepuluh pun masih bergelung dalam selimut. Padahal biasanya, dia sudah sibuk di kantor dengan segudang pekerjaan. "Tunggu!" Tangan Oxel bergerak menyentuh hidung karena merasa ada sesuatu yang mengganggu indra pernapasannya. "Kenapa ada banyak rambut di hidungku?" Merasa banyak keanehan membuat Oxel mulai curiga. Perlahan, dia membuka mata dan mendapati Sofie ada di depan mata dengan raut terkejut. "Astaga!" Oxel langsung melompat turun tempat tidur karena terlalu terkejut. "A-aku ... se-sejak ta-tadi ... aku ingin bangun, tapi tidak bisa karena --." Sofie terlihat kebingungan harus berkata apa dan takut

    Huling Na-update : 2025-03-10
  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   12. Melakukan Hal Panas

    "Iya, kamar. Memangnya kenapa?" sahut Oxel santai."Tapi kenapa?" tanya Sofie masih tidak bisa memahami ucapan Oxel. Dia mencubit-cubit ujung bajunya panik.Berbeda dengan Oxel yang terlihat biasa saja membahas masalah kamar, Sofie justru merasa sangat tidak nyaman. Di dalam surat perjanjian kontrak tidak ada yang mengatakan bahwa Oxel bisa mengajaknya ke dalam kamar dengan sesuka hati. Bahkan poin yang ditekankan justru larangan agar tidak jatuh cinta."Kenapa apanya?" Oxel menatap Sofie heran. Dia menyipitkan mata dengan dahi mengkerut, "Oh, astaga! Apa yang kamu pikirkan Sofie?" imbuhnya terkejut.Ajakan ke kamar bukan berarti untuk melakukan hal panas. Ada banyak hal lain dan Oxel ingin membicarakan tentang hubungan timbal balik mereka."Me-me-memangnya apa yang aku pikirkan?" Sofie mengedipkan mata cepat dengan suara terbata. Sepertinya dia telah salah sangka terhadap sang suami kontrak."Jangan bilang kalau kamu berpikir di mana aku ingin melakukan sesuatu denganmu di kamar?" te

    Huling Na-update : 2025-03-11

Pinakabagong kabanata

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   22. Semua Kacau

    Anggara memang bajingan yang memanfaatkan Sofie selagi Yura tidak ada. Meskipun demikian, Yura tetap tidak terima orang yang paling dicinta direndahkan seperti itu."Akan ku bunuh kamu, jalang!" Yura bersiap menghabisi Sofie, tetapi seruan Lily menghentikannya."Yura, cukup!" bentak Lily murka. Dia berdiri secara tiba-tiba dan menatap tajam temannya.Sejak awal, Lily tahu kalau Yura yang sengaja mencari masalah dengan Sofie. Meski dikalahkan berkali-kali, temannya itu tidak menyerah dan terus-menerus membuat masalah. Sikapnya ini menunjukkan betapa rendah Yura."Lily ...." Yura menatap kecewa temannya. Sudah berteman sejak SMA, tetapi Lily lebih memilih membela Sofie alih-alih membela Yura. Apa harta lebih penting dari pertemanan? Akan tetapi, harta pula yang membawa Yura ke club itu. Jadi, bukankah mereka berdua sama saja?"Tolong berhenti membuat keributan!" ujar Lily dengan raut memohon."Astaga! Kalung berlian sebagus ini kamu dan suamimu jadikan sebagai hadiah?" celetuk Jessica

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   21. Diam, Jalang, Diam!

    Yura tidak menyangka Sofie akan seberani itu. Sudah disudutkan bukannya melemah, tetapi wanita itu justru semakin kuat."Benarkah?" Sofie berdiri. Dia melangkah mendekat ke arah Yura sambil melipat kedua tangan di perut. "Lalu apa yang kamu lakukan di hari satu tahun pernikahanku dan Mas Anggara?""Apa yang akan kamu lakukan, Sofie?!" bentak Yura dengan raut ketakutan.Sebisa mungkin, Yura harus memutarbalikkan keadaan. Jangan sampai semua orang tahu kebenarannya. Apalagi tujuannya datang ke sana demi mendapat teman baru dari kalangan atas."Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya akan mengungkap kebenaran di sini," sahut Sofie santai."Diam!" bentak Yura murka."Kalian tahu?" Sofie mengedar pandang menatap satu per satu penghuni ruangan itu. "Gara-gara Yura yang datang di pernikahan kami dan di hari satu tahun pernikahan kami, aku diceraikan suamiku."Sofie tidak terburu-buru. Dia hanya ingin melihat Yura hancur dengan cara mengungkap kebenaran secara perlahan. Andai wanita itu s

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   20. Dasar Wanita Licik!

    "Bukan itu maksudku, Oxel. Bahkan kartu itu belum aku pakai sama sekali," ucap Sofie berusaha menjelaskan.Kartu yang Oxel berikan pada Sofie belum pernah sekali pun digunakan. Tentu saja karena semua kebutuhan sudah pria itu penuhi. Baik sandang maupun pangan, tanpa kurang suatu apa pun."Lalu?" Oxel ingin Sofie menjelaskan lebih detail."Aku ingin menemani Arsene pergi ke ulang tahun temannya. Dengar-dengar ini bukan perayaan ulang tahun biasa. Jadi, aku ingin kamu menyiapkan gaun edisi terbatas dan hadiah mahal. Kamu tahu maksudku, bukan?" jelas Sofie panjang kali lebar.Jika Oxel belum pernah menemani Arsene ke acara seperti itu, Sofie ingin Memon ini menjadi momen terbaik bagi anak tiri kontraknya. Apalagi mimik sedih yang ditunjukkan ketika mengajaknya. Apa pun yang terjadi, Sofie akan melakukan yang terbaik."Aku mengerti. Aku akan menyiapkan segalanya untukmu juga Arsene," sahut Oxel mantap."Baik, terima kasih." Sofie mengakhiri panggilan dan menatap ke arah samping.Hidup me

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   19. Lepaskan Aku!

    "Aaaa!" Yura berteriak cukup keras dengan manik mata terbuka.Dalam hati, Yura menyesali kebodohannya yang mengabaikan peringatan Anggara untuk tidak mengejar Sofie. Andai dia menurut, mungkin dia akan aman dan sedang memilih perlengkapan bayi."A-aku ... aku tidak jatuh?" batin Yura bertanya-tanya. Dia mencium aroma parfum yang terasa sangat lembut di indera penciumannya."Apa kamu baik-baik saja?""Kok aku seperti kenal suara ini?" bisik Yura dalam hati.Sepersekian detik kemudian, Yura membuka mata dan mendapati dirinya berada dalam dekapan seseorang. Sayangnya, seseorang itu adalah Sofie."Lepas, lepaskan aku!" seru Yura ketus.Bertepatan dengan ucapan Yura, Sofie sudah merasa tidak kuat lagi. Tangannya kebas karena menahan tubuh wanita itu yang tengah berbadan dua."Oke." Sofie mengangkat kedua tangan dengan raut santai."Awww! Brengsek kamu, ya!" Yura memekik kesakitan dan mengumpat.Posisi jatuh Yura tidak terlalu tinggi dan cukup aman. Namun karena orang itu Sofie, jadi dia ti

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   18. Cukup, Yura, Cukup!

    Hanya menatap Sofie sebentar saja sudah membuat Yura mengamuk. Apalagi kalau sampai saling sapa seperti ini. Anggara tidak yakin kejadian di perusahaan tadi tidak akan terulang lagi."Kalau begitu aku permisi, Mas. Kasihan Arsene sudah kelelahan dari pulang sekolah belum istirahat," pamit Sofie mengulas senyum lembut.Untuk apa terus berada di sana sedangkan target sudah melihat. Sofie hanya perlu memberi umpan dan melihat hasilnya nanti. Lagi pula, dia masih ingin bermain-main dan berjanji akan membuat mereka menyesal."Kamu mau ke mana, Sofie?!" teriak Yura dengan langkah besar."Aku mau temani anakku belanja, Yura," sahut Sofie santai.Wanita cantik itu menghentikan langkahnya membuat Arsene pun mengikuti. Dia mengedar pandang menatap orang-orang yang memusatkan atensinya pada Yura. Setelah itu, menoleh ke belakang dan mengedipkan sebelah mata. "Kenapa berhenti, Ma?" tanya Arsene menengadahkan kepala."Tidak apa-apa, Sayang." Sofie membalas, lalu mengusap puncak kepala anak tiri k

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   17. Menghabisimu

    Yura berjalan santai sambil bersiul. Suaranya terdengar mengerikan karena diikuti siulan yang memantul. Tatapan matanya terus tertuju pada Sofie yang masih setia berdiri di depan lift. "Ayolah! Kali ini aku tidak akan hanya mencabik-cabik wajahmu, tapi menghabisimu sekaligus," bisik Yura tersenyum jahat. "Mama!" teriak Arsene memanggil. Sontak, Yura langsung menghentikan langkahnya tepat di samping mobil yang baru saja berhenti. "Ah, sial!" Yura mengumpat dalam hati. Selain ada Arsene, Oxel pun baru saja keluar dari lift. Ternyata mereka berdua sengaja ingin menjemput Arsene di sana. Lalu, bagaimana dengan penglihatan Yura yang melihat Sofie tertawa? "Sialan!" Yura mundur perlahan dan sembunyi di balik mobil yang terparkir. Dia menjulurkan kepalanya sedikit dan mulai memperhatikan. "Halo, Sayang." Sofie berjongkok sambil merentangkan tangan membiarkan Arsene masuk ke dalam pelukan. "Bagaimana kegiatan di sekolah hari ini? Apa menyenangkan?" Harusnya Sofie pergi menjempu

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   16. Dasar Jalang Sialan!

    Yura menganga dengan manik mata terbelalak. Dia menoleh ke arah Sofie dan melihat betapa santainya wanita itu. Bersandar pada dinding sambil meniup-niup kuku jari tangan. "Sial! Dasar jalang!" umpat Yura nyalang. "A-a-awww! pekiknya kesakitan. Pasalnya, Oxel semakin menekan lengannya kuat-kuat. "Jawab!" bentak Oxel murka. Beraninya Yura mengabaikan pertanyaan Oxel seolah amarahnya sama sekali tidak berarti apa-apa. Apa perlu dia beri pelajaran agar wanita rendahan itu mengerti? "Maafkan istri saya, Pak," kata Anggara dengan jantung yang berdegup kencang. "Maaf?" Oxel tersenyum kecut dan menghempaskan tangan Yura cukup kuat. "Awww!" Yura memekik kesakitan. Istri Anggara ini menatap Oxel sekilas sebelum akhirnya menatap Sofie nyalang. Andai Oxel tidak datang, mungkin dia sudah mencabik-cabik wajah Sofie sampai hancur berantakan. "Apa saya terlihat seperti orang yang mudah diusik, Pak Anggara?" Oxel mengendurkan dasi dengan gigi yang dieratkan. "Bukan begitu maksud saya, Pak. Is

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   15. Terpana

    "Apa benar begitu?" tanya Sofie memastikan. Pasalnya Oxel hanya diam dengan raut panik."Hah? Apa?" Oxel yang sedari tadi melamun terlihat terkejut.Sofie berdiri dan menatap Oxel serius. "Kamu marah karena kejadian di kamar mandi?" tanyanya ulang."Ti-tidak. Siapa bilang?" Oxel ikut berdiri dengan nada gelagapan."Lalu apa yang membuatmu marah padaku?' tanya Sofie menatap Oxel lekat."Pekerjaan, yah, masalah pekerjaan." Oxel tersenyum lega karena akhirnya dia menemukan jawaban yang tepat, "Aku sedang bekerja dan kamu juga Arsene datang mengganggu," imbuhnya menyalahkan.Jawaban seperti ini sudah pasti bisa diterima oleh Sofie. Itulah alasan mengapa Oxel terlihat lebih santai daripada sebelumnya. Tidak mungkin bukan kalau wanita itu akan bersikeras dengan masalah di kamar mandi sebelumnya?"Oh." Sofie menganggguk-angguk dan melanjutkan ucapannya. "Kalau begitu, aku keluar dulu. Kamu bisa lanjutkan pekerjaan dan akan ku pastikan kami tidak akan mengganggu.""Mmm," balas Oxel melirik So

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   14. Mengintip

    Sepersekian detik, Oxel langsung bangkit berdiri, kemudian disusul Sofie. Mereka berdua terlihat sangat canggung hingga pada akhirnya handuk yang melilit di tubuh Sofie terlepas. "Aaa!" Sofie berteriak berusaha menutupi kedua aset berharganya. Dia lekas membungkuk meraih handuk itu, lalu melilitkannya kembali. Sementara Oxel, dia berpura-pura tidak melihat dan menatap ke arah lain. Padahal, dia sempat menyaksikan tubuh molek Sofie dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia hanya tidak ingin membuat situasi tidak nyaman untuk ke depannya. "Kamu tidak melihat, kan?" tanya Sofie panik dengan tangan yang memeluk tubuhnya erat. "Melihat apa? Aku tidak melihat apa-apa," sahut Oxel datar, bahkan raut wajahnya menunjukkan sisi berpikir. "Tidak, tidak ada." Sofie menghela napas lega. "Ya sudah, aku ke ruang ganti dulu." Sofie bersiap keluar kamar mandi, tetapi tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap Oxel curiga. "Tunggu! Kenapa kamu ada di sini? Bukankah seharusn

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status