Dengan sigap, Oxel menyelamatkan lembar surat perjanjian sebelum Sofie berubah pikiran dan merobeknya.
"Apa? Se-se-sepuluh miliar?" Sofie menganga dengan mata terbuka lebar, bahkan langkah kakinya bergerak mundur karena terlalu terkejut. "Ya, sepuluh miliar," sanggah Oxel tersenyum. Dia terlihat sangat puas melihat reaksi Sofie. Oxel tahu betul kalau Sofie hanya karyawan biasa di sebuah toko bunga. Bahkan jika harus bekerja dua puluh tahun sekalipun, wanita itu tidak akan pernah sanggup membayarnya. "Jika kamu sanggup, kamu boleh pergi dari sini," sambung Oxel mencebikkan bibirnya malas. "Bagaimana bisa dendanya sebanyak itu?" tanya Sofie dengan tangan terkepal. "Tentu saja karena apa yang akan kamu dapatkan juga sama besarnya, bahkan lebih." Oxel menatap Sofie sambil melipat kedua tangan di dada. Mendengar ucapan Oxel membuat kepala Sofie semakin sakit. Suhu tubuhnya sudah sangat dingin, bahkan hampir membeku seperti es. Perlahan, wanita itu merasakan tubuhnya seakan melayang dan pandangan mulai mengabur. Sepersekian detik, semua menjadi gelap dan dia pun terjatuh. "Sofie!" teriak Oxel terkejut. Pria tampan itu lekas menghampiri dan berusaha menyadarkan dengan cara menepuk-nepuk pipi Sofie. "Bangun, Sofie, bangun!" Oxel masih berusaha menyadarkan Sofie. "Buka matamu!" Sekeras apa pun Oxel berusaha, Sofie tetap tak kunjung membuka mata. Terlebih, Oxel merasakan seluruh Sofie yang dingin. Hal itu membuatnya semakin Oxel panik. Dia lekas meraih ponsel di meja dan menghubungi seseorang yang diketahui adalah dokter keluarga. "Aku tunggu di rumah, secepatnya." Oxel memutus panggilan dan meletakkan ponselnya di saku jas. Setelah itu, dia mengangkat tubuh Sofie dan membawanya pergi. *** "Ini benar Tante Sofie, Pa?" Arsene bertanya tanpa mengalihkan pandangan. Dia menatap Sofie dengan raut serius. Saat ini, Arsene duduk sila di tempat tidur. Sementara Oxel, dia berdiri di dekat pintu dan bersandar pada dinding sambil melipat kedua tangan di dada. "Mmm," sahut Oxel malas. Sudah jelas-jelas yang sedang berbaring di depan mata adalah Sofie. Lalu, untuk apa Arsene bertanya padanya seolah tidak percaya. Apa anak semata wayang Oxel ini sangat bahagia ada Sofie di sana? "Tapi kenapa tubuh Tante Sofie panas sekali? Papa tidak berbuat macam-macam pada Tante Sofie, kan?" Arsene menatap tajam ayahnya dengan raut curiga. "Astaga!" Oxel mendengus kesal mendapat tuduhan negatif lagi dari sang putra, "Bukankah kamu sudah memeriksanya berkali-kali kalau Tante Sofie-mu itu baik-baik saja?!" sambungnya menggertakkan gigi. "Tapi--," ujar Arsene terhenti. Ucapan anak laki-laki itu langsung dipotong begitu saja oleh sang ayah. Tentu saja karena Oxel sudah tahu seperti apa kalimat selanjutnya. "Kamu pikir mudah menjadikan wanita itu ibumu? Apa perlu papa batalkan semuanya saja?" potong Oxel mengancam. Sejak Sofie muncul, sikap Arsene berubah drastis. Yang ada di kepala anak laki-lakinya itu hanya ada Sofie, Sofie, dan Sofie. Bahkan Oxel selalu disalahkan demi membela wanita itu. "Papa!" teriak Arsene dengan manik mata membola. Dia begitu terkejut mendengar penuturan sang ayah. "Apa?" Oxel menatap tajam putranya. Arsene lekas bangkit dan mendekat. "Jadi, papa sudah berhasil membujuk Tante Sofie?" tanyanya berbinar dengan kepala mendongak. "Mmm." Oxel membuang pandangan dengan malas. Baru saja bersikap tidak sopan dan sekarang bersikap sok manis. Demi apa pun, Oxel tidak pernah menyangka sang putra akan berubah seperti ini. Anak yang biasanya selalu bersikap dingin justru menjadi banyak ekspresi. "Terima kasih, Papa." Arsene tersenyum bahagia dan langsung memeluk sang ayah, "Aku janji akan jadi anak yang baik," imbuhnya bersemangat. "Papa pegang kata-kata kamu," ujar Oxel menunduk, menatap putranya serius. "Iya, Pa," sanggah Arsene mengangguk. Tanpa melepas pelukan, Arsene menoleh ke arah Sofie dan melihat sebuah pergerakan di jemari wanita itu. Sontak, dia berlari dan melompat ke tempat tidur. "Tante, Tante Sofie sudah sadar?" tanya Arsene setelah melihat kelopak mata wanita itu perlahan terbuka. "Arsene. Kenapa kamu di sini?" Sofie menyentuh kepala dan mulai mengedar pandang. "Astaga! Kenapa aku bisa ada di sini?" sambung Sofie langsung langsung beranjak duduk. "Jangan banyak bergerak, Tante," ucap Arsene terlihat khawatir. Sayangnya, Sofie tidak menghiraukan ucapan Arsene. Dia terlihat linglung dan mencengkeram kepalanya kuat-kuat. Wanita itu berusaha mengingat apa yang telah terjadi. "Ya, Tuhan." Sofie meraup wajahnya kasar setelah mengingat apa yang telah terjadi. "Tante Sofie, kenapa? Ada yang sakit?" tanya Arsene khawatir. "Kenapa? Kamu sudah ingat?" celetuk Oxel dengan seringai tipisnya. Dalam hati, Oxel mensyukuri kejadian itu. Andai Sofie tidak jatuh pingsan, mungkin akan ada drama penyesalan dan membuatnya pusing. Beruntung wanita itu tidak sadarkan diri di waktu yang tepat. "Ka-kamu ...." Sofie menatap Oxel dengan manik mata membola. "Tante, Tante Sofie!" Arsene memanggil sambil menyentuh lengan Sofie. Mau tidak mau, Sofie melupakan Oxel sejenak dan beralih menatap Arsene. "Iya, Arsene. Kenapa?" Jantung sudah berdebar kencang dan pikiran pun kacau mengingat kejadian di ruang kerja Oxel. Akan tetapi, Sofie tetap harus tenang. Tidak mungkin bukan, jika dia terus mengabaikan Arsene dan membahas masalah kecerobohannya di depan anak kecil itu? "Tante Sofie sudah baik-baik saja, kan?" tanya Arsene masih saja khawatir. "I-iya, tante hanya sedikit demam," sahut Sofie terbata. "Sebentar!" Arsene meraih gelas air di meja dan menyerahkannya pada Sofie. "Tante minum dulu." Sofie meraih gelas air itu dan lekas meneguknya perlahan. Dia termenung sesaat, bahkan menatap Oxel sekilas. Arsene sangat lembut dan perhatian, tetapi kenapa Oxel justru berbanding terbalik? "Apa Arsene bukan anak kandung si penculik itu?" Sofie bertanya-tanya dalam hati. "Atau Arsene mirip ibunya?" "Ehem!" Oxel berdehem merasa tidak biasa dengan tatapan Sofie. "Uhuk-uhuk!" Sofie tersedak karena terkejut dengan suara deheman dan sorot tajam Oxel. Merasa sudah ketahuan telah curi-curi pandang, Sofie bergegas menatap ke arah lain. Namun sayang, kini lehernya terasa tercekat dan batuknya tak kunjung berhenti. "Tante Sofie," ujar Arsene khawatir. Anak laki-laki ini terlihat seperti bapak-bapak yang melihat bayinya tersedak. Khawatir lagi dan lagi padahal Sofie wanita dewasa dan sudah bisa jaga diri. "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," kata Sofie berusaha tersenyum, padahal wajahnya sudah memerah dengan sudut mata berair. "Papa ingin bicara dengan Tante Sofie. Bisakah Arsene keluar sebentar?" ujar Oxel meminta izin. Alih-alih menjawab, Arsene justru menatap ayahnya curiga. Tatapan matanya sama seperti sebelumnya ketika membela Sofie. "Kenapa menatap papa seperti itu lagi? Kamu pikir papa kamu ini penjahat?" tanya Oxel dengan nada mengejek. "Baiklah." Dengan lesu, Oxel menunduk lemah. "Aku keluar dulu ya, Tante Sofie," lanjutnya berpamitan. Sofie hanya mengangguk dan menatap kepergian Arsene. Sampai pada akhirnya, manik matanya menangkap punggung kokoh Oxel yang sedang menutup pintu. "Terima kasih karena sudah menolongku, tapi ... maaf mengenai kecerobohanku sebelumnya. Aku ingin membatalkan apa yang sudah aku tandatangani," ucap Sofie dengan raut serius.Mendengar ucapan Sofie membuat Oxel meradang. Dia menatap Sofie dingin dengan tangan terkepal kuat."Bukankah sudah ku bilang kalau kamu harus membayar denda jika membatalkan perjanjian?" tanya Oxel sambil menggertakkan gigi."Tapi sepuluh miliar bukan jumlah yang sedikit. Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?" sanggah Sofie bingung."Itu bukan urusanku. Mau kamu dapatkan uang itu dari hasil mencuri, aku sama sekali tidak peduli," ujar Oxel tak acuh.Pria berparas tampan itu melangkah mendekat. Dia duduk di sisi kiri tempat tidur dan menyentuh dagu Sofie. Memperhatikan setiap inchi wajah wanita itu, bahkan sampai ke sekujur tubuhnya."Wajahmu lumayan." Oxel tersenyum licik. "Kamu bisa jual tubuhmu dan membayar denda itu dengan mudah," imbuh pria itu sebelum akhirnya mendorong dagu Sofie pelan."Ka-kamu ...." Sofie menggertakkan gigi dengan manik mata terbelalak.Memang benar, akan sangat tidak mungkin mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Hanya dengan cara menjual
Setelah memutuskan, Oxel kembali ke kamar untuk menemui Sofie. "Persiapkan dirimu karena kita akan menikah besok pagi." Aneh bin ajaib. Oxel terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta dan takut mempelai wanitanya berubah pikiran, padahal kenyataannya tidak seperti itu. "Apa?" Lagi, lagi, dan lagi, Sofie dikejutkan oleh ucapan tidak masuk akal Oxel, "Bukankah kamu bilang tiga hari lagi? Lalu kenapa jadi besok pagi?" sambung Sofie berusaha mengingatkan. Dia beranjak turun dari tempat tidur dan bersiap menghampiri pria itu. Oxel menatap Sofie sekilas dan beralih menatap putranya. "Arsene main sama Sus Wanda dulu. Tante Sofie harus istirahat agar besok pagi sudah bisa menjadi mama kamu." "Baik, Pa," sahut Arsene bersemangat. Demi apa pun, anak laki-laki dengan rambut tebal itu merasa sedang bermimpi. Bagaimana bisa impiannya untuk menjadikan Sofie sebagai ibunya akan segera menjadi nyata? Bahkan dalam waktu yang cukup singkat. "Sampai jumpa besok pagi calon Mama," pamit Arsene p
"Anda mengenal istri saya, Pak Anggara?" tanya Oxel berpura-pura terkejut.Sesuai perkataan Oxel sebelumnya, Sofie hanya diam dan fokus pada Arsene. Urusan Anggara benar-benar dia yang menghadapi."I-iya. Sofie ini ... mantan istri saya, Pak," jawab Anggara terbata.Tatapan mata Anggara terus tertuju pada Sofie. Mungkin dia sedang berpikir bagaimana bisa Sofie menikah dengan Oxel. Padahal selama menikah, dia tidak pernah menyebut nama bosnya di depan Sofie."Astaga!" Lagi, Oxel berpura-pura seolah tidak tahu. Dia menatap Sofie dan bertanya, "Apa benar begitu, Sayang?"Sofie menoleh, menatap Anggara sekilas dan beralih pada Oxel dengan senyum lembut. "Iya, Sayang. Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku sudah pernah menikah? Dan, pria yang ada di hadapan kita ini adalah mantan suamiku.""Astaga! Bagaimana bisa wanita secantik dan sebaik Sofie ... maaf, saya tidak bermaksud untuk --."Ucapan Oxel terpaksa terhenti karena dipotong begitu saja oleh Anggara. Namun, hal itu sudah diperki
"Kamu mau ke mana?" tanya Oxel dengan dahi mengernyit. Alih-alih masuk ke kamarnya sendiri, Arsene justru mengikutinya."Aku mau tidur sama Papa dan Mama," jawab Arsene menyelonong masuk ke kamar sang ayah."Hah?" Oxel cukup terkejut.Sejak awal, Oxel tidak berniat tidur satu kamar dengan Sofie. Justru dia ingin membiarkan istri kontraknya tinggal di kamar Arsene. Tentu saja karena sang putra begitu menginginkan wanita itu menjadi ibunya."Kenapa?" tanya Oxel tidak mengerti.Pria dengan gaya rambut haircut itu ikut masuk ke kamar. Dia melihat putranya sudah duduk di atas tempat tidur sambil melihat kedua tangan di perut."Karena aku mau tidur sama Mama dan Papa," sahut Arsene lagi."Kamu sudah besar, Arsene. Kalau kamu mau, kamu bisa tidur dengan Mama Sofie di kamarmu," bujuk Oxel sambil mendaratkan bokongnya di tepi tempat tidur."Papa mengusir aku dan Mama?" Arsene menatap tajam ayahnya.Jika sang ayah berkata Arsene sudah besar dan tidak boleh tidur bersamanya masih bisa dimaklumi.
"Kenapa guling ini hangat sekali? Mana aromanya juga harum lagi," bisik Oxel dalam hati. Dia nampak tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya pada sesuatu yang dianggap guling. Untuk pertama kali, Oxel bisa tidur nyenyak setelah perpisahannya dengan sang mantan istri. Tidak terbangun karena mimpi buruk atau tidak sengaja terbangun karena alasan apa pun. Bahkan sekarang di pukul sepuluh pun masih bergelung dalam selimut. Padahal biasanya, dia sudah sibuk di kantor dengan segudang pekerjaan. "Tunggu!" Tangan Oxel bergerak menyentuh hidung karena merasa ada sesuatu yang mengganggu indra pernapasannya. "Kenapa ada banyak rambut di hidungku?" Merasa banyak keanehan membuat Oxel mulai curiga. Perlahan, dia membuka mata dan mendapati Sofie ada di depan mata dengan raut terkejut. "Astaga!" Oxel langsung melompat turun tempat tidur karena terlalu terkejut. "A-aku ... se-sejak ta-tadi ... aku ingin bangun, tapi tidak bisa karena --." Sofie terlihat kebingungan harus berkata apa dan takut
"Iya, kamar. Memangnya kenapa?" sahut Oxel santai."Tapi kenapa?" tanya Sofie masih tidak bisa memahami ucapan Oxel. Dia mencubit-cubit ujung bajunya panik.Berbeda dengan Oxel yang terlihat biasa saja membahas masalah kamar, Sofie justru merasa sangat tidak nyaman. Di dalam surat perjanjian kontrak tidak ada yang mengatakan bahwa Oxel bisa mengajaknya ke dalam kamar dengan sesuka hati. Bahkan poin yang ditekankan justru larangan agar tidak jatuh cinta."Kenapa apanya?" Oxel menatap Sofie heran. Dia menyipitkan mata dengan dahi mengkerut, "Oh, astaga! Apa yang kamu pikirkan Sofie?" imbuhnya terkejut.Ajakan ke kamar bukan berarti untuk melakukan hal panas. Ada banyak hal lain dan Oxel ingin membicarakan tentang hubungan timbal balik mereka."Me-me-memangnya apa yang aku pikirkan?" Sofie mengedipkan mata cepat dengan suara terbata. Sepertinya dia telah salah sangka terhadap sang suami kontrak."Jangan bilang kalau kamu berpikir di mana aku ingin melakukan sesuatu denganmu di kamar?" te
"Sofie," ucap Oxel memanggil.Mendengar Oxel menyebut namanya tidak membuat Sofie langsung bangkit dan menyahut. Dia terus berpura-pura tidur karena tidak tahu harus berkata apa di posisi ini."Bangun, Sofie!" seru Oxel menatap Sofie dingin. Pria tampan ini berdiri cukup dekat di mana Sofie sedang berbaring.Entah terbuat dari apa wanita itu sampai-sampai sulit sekali dibangunkan. Kalau terjadi gempa, mungkin dia akan jadi wanita pertama yang menjadi korban karena tidak mendengar teriakkan orang lain."Ma, bangun. Mama dikangenin sama Papa, tuh." Arsene melirik ayahnya dengan tatapan menggoda, "Ma, cepat bangun sebelum Papa marah," sambung anak laki-laki itu mengingatkan."A-Arsene," bisik Sofie dalam hati.Semula, wanita dengan rambut panjang kecoklatan itu berpikir bahwa Oxel yang menimpa tubuhnya. Namun, suara Arsene semakin dekat ke telinganya dan tubuhnya bergerak di atas tubuhnya."Apa aku sudah salah menebak?" Perlahan, Sofie membuka sebelah mata dan mendapati Arsene berada di
Sepersekian detik, Oxel langsung bangkit berdiri, kemudian disusul Sofie. Mereka berdua terlihat sangat canggung hingga pada akhirnya handuk yang melilit di tubuh Sofie terlepas. "Aaa!" Sofie berteriak berusaha menutupi kedua aset berharganya. Dia lekas membungkuk meraih handuk itu, lalu melilitkannya kembali. Sementara Oxel, dia berpura-pura tidak melihat dan menatap ke arah lain. Padahal, dia sempat menyaksikan tubuh molek Sofie dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia hanya tidak ingin membuat situasi tidak nyaman untuk ke depannya. "Kamu tidak melihat, kan?" tanya Sofie panik dengan tangan yang memeluk tubuhnya erat. "Melihat apa? Aku tidak melihat apa-apa," sahut Oxel datar, bahkan raut wajahnya menunjukkan sisi berpikir. "Tidak, tidak ada." Sofie menghela napas lega. "Ya sudah, aku ke ruang ganti dulu." Sofie bersiap keluar kamar mandi, tetapi tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap Oxel curiga. "Tunggu! Kenapa kamu ada di sini? Bukankah seharusn
Anggara memang bajingan yang memanfaatkan Sofie selagi Yura tidak ada. Meskipun demikian, Yura tetap tidak terima orang yang paling dicinta direndahkan seperti itu."Akan ku bunuh kamu, jalang!" Yura bersiap menghabisi Sofie, tetapi seruan Lily menghentikannya."Yura, cukup!" bentak Lily murka. Dia berdiri secara tiba-tiba dan menatap tajam temannya.Sejak awal, Lily tahu kalau Yura yang sengaja mencari masalah dengan Sofie. Meski dikalahkan berkali-kali, temannya itu tidak menyerah dan terus-menerus membuat masalah. Sikapnya ini menunjukkan betapa rendah Yura."Lily ...." Yura menatap kecewa temannya. Sudah berteman sejak SMA, tetapi Lily lebih memilih membela Sofie alih-alih membela Yura. Apa harta lebih penting dari pertemanan? Akan tetapi, harta pula yang membawa Yura ke club itu. Jadi, bukankah mereka berdua sama saja?"Tolong berhenti membuat keributan!" ujar Lily dengan raut memohon."Astaga! Kalung berlian sebagus ini kamu dan suamimu jadikan sebagai hadiah?" celetuk Jessica
Yura tidak menyangka Sofie akan seberani itu. Sudah disudutkan bukannya melemah, tetapi wanita itu justru semakin kuat."Benarkah?" Sofie berdiri. Dia melangkah mendekat ke arah Yura sambil melipat kedua tangan di perut. "Lalu apa yang kamu lakukan di hari satu tahun pernikahanku dan Mas Anggara?""Apa yang akan kamu lakukan, Sofie?!" bentak Yura dengan raut ketakutan.Sebisa mungkin, Yura harus memutarbalikkan keadaan. Jangan sampai semua orang tahu kebenarannya. Apalagi tujuannya datang ke sana demi mendapat teman baru dari kalangan atas."Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya akan mengungkap kebenaran di sini," sahut Sofie santai."Diam!" bentak Yura murka."Kalian tahu?" Sofie mengedar pandang menatap satu per satu penghuni ruangan itu. "Gara-gara Yura yang datang di pernikahan kami dan di hari satu tahun pernikahan kami, aku diceraikan suamiku."Sofie tidak terburu-buru. Dia hanya ingin melihat Yura hancur dengan cara mengungkap kebenaran secara perlahan. Andai wanita itu s
"Bukan itu maksudku, Oxel. Bahkan kartu itu belum aku pakai sama sekali," ucap Sofie berusaha menjelaskan.Kartu yang Oxel berikan pada Sofie belum pernah sekali pun digunakan. Tentu saja karena semua kebutuhan sudah pria itu penuhi. Baik sandang maupun pangan, tanpa kurang suatu apa pun."Lalu?" Oxel ingin Sofie menjelaskan lebih detail."Aku ingin menemani Arsene pergi ke ulang tahun temannya. Dengar-dengar ini bukan perayaan ulang tahun biasa. Jadi, aku ingin kamu menyiapkan gaun edisi terbatas dan hadiah mahal. Kamu tahu maksudku, bukan?" jelas Sofie panjang kali lebar.Jika Oxel belum pernah menemani Arsene ke acara seperti itu, Sofie ingin Memon ini menjadi momen terbaik bagi anak tiri kontraknya. Apalagi mimik sedih yang ditunjukkan ketika mengajaknya. Apa pun yang terjadi, Sofie akan melakukan yang terbaik."Aku mengerti. Aku akan menyiapkan segalanya untukmu juga Arsene," sahut Oxel mantap."Baik, terima kasih." Sofie mengakhiri panggilan dan menatap ke arah samping.Hidup me
"Aaaa!" Yura berteriak cukup keras dengan manik mata terbuka.Dalam hati, Yura menyesali kebodohannya yang mengabaikan peringatan Anggara untuk tidak mengejar Sofie. Andai dia menurut, mungkin dia akan aman dan sedang memilih perlengkapan bayi."A-aku ... aku tidak jatuh?" batin Yura bertanya-tanya. Dia mencium aroma parfum yang terasa sangat lembut di indera penciumannya."Apa kamu baik-baik saja?""Kok aku seperti kenal suara ini?" bisik Yura dalam hati.Sepersekian detik kemudian, Yura membuka mata dan mendapati dirinya berada dalam dekapan seseorang. Sayangnya, seseorang itu adalah Sofie."Lepas, lepaskan aku!" seru Yura ketus.Bertepatan dengan ucapan Yura, Sofie sudah merasa tidak kuat lagi. Tangannya kebas karena menahan tubuh wanita itu yang tengah berbadan dua."Oke." Sofie mengangkat kedua tangan dengan raut santai."Awww! Brengsek kamu, ya!" Yura memekik kesakitan dan mengumpat.Posisi jatuh Yura tidak terlalu tinggi dan cukup aman. Namun karena orang itu Sofie, jadi dia ti
Hanya menatap Sofie sebentar saja sudah membuat Yura mengamuk. Apalagi kalau sampai saling sapa seperti ini. Anggara tidak yakin kejadian di perusahaan tadi tidak akan terulang lagi."Kalau begitu aku permisi, Mas. Kasihan Arsene sudah kelelahan dari pulang sekolah belum istirahat," pamit Sofie mengulas senyum lembut.Untuk apa terus berada di sana sedangkan target sudah melihat. Sofie hanya perlu memberi umpan dan melihat hasilnya nanti. Lagi pula, dia masih ingin bermain-main dan berjanji akan membuat mereka menyesal."Kamu mau ke mana, Sofie?!" teriak Yura dengan langkah besar."Aku mau temani anakku belanja, Yura," sahut Sofie santai.Wanita cantik itu menghentikan langkahnya membuat Arsene pun mengikuti. Dia mengedar pandang menatap orang-orang yang memusatkan atensinya pada Yura. Setelah itu, menoleh ke belakang dan mengedipkan sebelah mata. "Kenapa berhenti, Ma?" tanya Arsene menengadahkan kepala."Tidak apa-apa, Sayang." Sofie membalas, lalu mengusap puncak kepala anak tiri k
Yura berjalan santai sambil bersiul. Suaranya terdengar mengerikan karena diikuti siulan yang memantul. Tatapan matanya terus tertuju pada Sofie yang masih setia berdiri di depan lift. "Ayolah! Kali ini aku tidak akan hanya mencabik-cabik wajahmu, tapi menghabisimu sekaligus," bisik Yura tersenyum jahat. "Mama!" teriak Arsene memanggil. Sontak, Yura langsung menghentikan langkahnya tepat di samping mobil yang baru saja berhenti. "Ah, sial!" Yura mengumpat dalam hati. Selain ada Arsene, Oxel pun baru saja keluar dari lift. Ternyata mereka berdua sengaja ingin menjemput Arsene di sana. Lalu, bagaimana dengan penglihatan Yura yang melihat Sofie tertawa? "Sialan!" Yura mundur perlahan dan sembunyi di balik mobil yang terparkir. Dia menjulurkan kepalanya sedikit dan mulai memperhatikan. "Halo, Sayang." Sofie berjongkok sambil merentangkan tangan membiarkan Arsene masuk ke dalam pelukan. "Bagaimana kegiatan di sekolah hari ini? Apa menyenangkan?" Harusnya Sofie pergi menjempu
Yura menganga dengan manik mata terbelalak. Dia menoleh ke arah Sofie dan melihat betapa santainya wanita itu. Bersandar pada dinding sambil meniup-niup kuku jari tangan. "Sial! Dasar jalang!" umpat Yura nyalang. "A-a-awww! pekiknya kesakitan. Pasalnya, Oxel semakin menekan lengannya kuat-kuat. "Jawab!" bentak Oxel murka. Beraninya Yura mengabaikan pertanyaan Oxel seolah amarahnya sama sekali tidak berarti apa-apa. Apa perlu dia beri pelajaran agar wanita rendahan itu mengerti? "Maafkan istri saya, Pak," kata Anggara dengan jantung yang berdegup kencang. "Maaf?" Oxel tersenyum kecut dan menghempaskan tangan Yura cukup kuat. "Awww!" Yura memekik kesakitan. Istri Anggara ini menatap Oxel sekilas sebelum akhirnya menatap Sofie nyalang. Andai Oxel tidak datang, mungkin dia sudah mencabik-cabik wajah Sofie sampai hancur berantakan. "Apa saya terlihat seperti orang yang mudah diusik, Pak Anggara?" Oxel mengendurkan dasi dengan gigi yang dieratkan. "Bukan begitu maksud saya, Pak. Is
"Apa benar begitu?" tanya Sofie memastikan. Pasalnya Oxel hanya diam dengan raut panik."Hah? Apa?" Oxel yang sedari tadi melamun terlihat terkejut.Sofie berdiri dan menatap Oxel serius. "Kamu marah karena kejadian di kamar mandi?" tanyanya ulang."Ti-tidak. Siapa bilang?" Oxel ikut berdiri dengan nada gelagapan."Lalu apa yang membuatmu marah padaku?' tanya Sofie menatap Oxel lekat."Pekerjaan, yah, masalah pekerjaan." Oxel tersenyum lega karena akhirnya dia menemukan jawaban yang tepat, "Aku sedang bekerja dan kamu juga Arsene datang mengganggu," imbuhnya menyalahkan.Jawaban seperti ini sudah pasti bisa diterima oleh Sofie. Itulah alasan mengapa Oxel terlihat lebih santai daripada sebelumnya. Tidak mungkin bukan kalau wanita itu akan bersikeras dengan masalah di kamar mandi sebelumnya?"Oh." Sofie menganggguk-angguk dan melanjutkan ucapannya. "Kalau begitu, aku keluar dulu. Kamu bisa lanjutkan pekerjaan dan akan ku pastikan kami tidak akan mengganggu.""Mmm," balas Oxel melirik So
Sepersekian detik, Oxel langsung bangkit berdiri, kemudian disusul Sofie. Mereka berdua terlihat sangat canggung hingga pada akhirnya handuk yang melilit di tubuh Sofie terlepas. "Aaa!" Sofie berteriak berusaha menutupi kedua aset berharganya. Dia lekas membungkuk meraih handuk itu, lalu melilitkannya kembali. Sementara Oxel, dia berpura-pura tidak melihat dan menatap ke arah lain. Padahal, dia sempat menyaksikan tubuh molek Sofie dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia hanya tidak ingin membuat situasi tidak nyaman untuk ke depannya. "Kamu tidak melihat, kan?" tanya Sofie panik dengan tangan yang memeluk tubuhnya erat. "Melihat apa? Aku tidak melihat apa-apa," sahut Oxel datar, bahkan raut wajahnya menunjukkan sisi berpikir. "Tidak, tidak ada." Sofie menghela napas lega. "Ya sudah, aku ke ruang ganti dulu." Sofie bersiap keluar kamar mandi, tetapi tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap Oxel curiga. "Tunggu! Kenapa kamu ada di sini? Bukankah seharusn