Share

7. Jatuh Cinta

Penulis: Vhiaraya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-05 10:11:24

Mendengar ucapan Sofie membuat Oxel meradang. Dia menatap Sofie dingin dengan tangan terkepal kuat.

"Bukankah sudah ku bilang kalau kamu harus membayar denda jika membatalkan perjanjian?" tanya Oxel sambil menggertakkan gigi.

"Tapi sepuluh miliar bukan jumlah yang sedikit. Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?" sanggah Sofie bingung.

"Itu bukan urusanku. Mau kamu dapatkan uang itu dari hasil mencuri, aku sama sekali tidak peduli," ujar Oxel tak acuh.

Pria berparas tampan itu melangkah mendekat. Dia duduk di sisi kiri tempat tidur dan menyentuh dagu Sofie. Memperhatikan setiap inchi wajah wanita itu, bahkan sampai ke sekujur tubuhnya.

"Wajahmu lumayan." Oxel tersenyum licik. "Kamu bisa jual tubuhmu dan membayar denda itu dengan mudah," imbuh pria itu sebelum akhirnya mendorong dagu Sofie pelan.

"Ka-kamu ...." Sofie menggertakkan gigi dengan manik mata terbelalak.

Memang benar, akan sangat tidak mungkin mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Hanya dengan cara menjual tubuhnya dan Sofie bisa membayar denda.

"Ku beri waktu satu jam. Pikirkan baik-baik dan aku akan terima apa pun keputusanmu." Oxel berdiri dan melangkah ke arah pintu dengan langkah percaya diri.

Sementara itu, Sofie sedang dilanda kebingungan. Memang, dia butuh balas dendam pada Anggara dan Yura. Akan tetapi, apa harus dengan cara seperti ini? Sumpah demi apa pun, Sofie menyesali pertemuan tidak sengaja di kafe hingga menjadikannya berada dalam kesulitan seperti ini.

"Tunggu!" seru Sofie berusaha mencegah langkah Oxel.

"Aku bilang jam dan bukan satu menit," kata Oxel dingin, padahal dia sedang tersenyum mengejek.

"Tidak. Aku sudah memutuskan untuk menerima perjanjian menikah denganmu," sergah Sofie menggebu.

Jika sudah tidak bisa dibatalkan, maka Sofie akan menjalaninya sebaik mungkin. Dia akan melakukan rencana balas dendamnya pada Anggara dengan bantuan Oxel. Lagi pula, tidak ada salahnya mencoba.

Oxel menatap ke samping dan berkata, "Baiklah. Kalau begitu, tiga hari lagi kita akan menikah." Setelah itu, dia kembali melanjutkan langkahnya dan bersiap keluar.

"A-apa? Ti-tiga hari?" Sofie dilanda panik. "Kenapa harus terburu-buru sekali?"

"Karena Arsene membutuhkanmu," jawab Oxel tegas.

"Baik, aku mengerti. Tapi ... bisakah aku melihat kontraknya sekali lagi?" pinta Sofie.

Wanita keibuan itu sadar belum membaca satu poin pun. Jadi, dia harus memastikan isinya terlebih dahulu. Barangkali saja ada yang perlu diperbaiki atau ditambahkan.

"Sebentar!" Oxel keluar untuk mengambil surat perjanjian dan kembali dalam sekejap. "Kamu baca dan ingat poin satu dan dua," sambungnya sambil menyodorkan lembaran kertas.

Sofie bergegas meraihnya dan membaca satu per satu poin yang ada. Poin satu dan dua berisi agar dia tidak jatuh cinta dan tidak mencampuri urusan pribadi Oxel.

"Apa aku boleh menambahkan beberapa poin?" kata Sofie meminta izin.

"Memangnya kamu ingin menambahkan apa?" tanya Oxel dengan dahi mengernyit.

"Aku ingin tetap bekerja di toko bunga dan memiliki waktu sendiri setiap satu bulan sekali. Bagaimana?" jelas Sofie menatap Oxel penuh harap.

"Apa kamu bilang?"

Oxel menatap Sofie terkejut sebelum akhirnya tertawa tidak habis pikir. Mana mungkin istri seorang Oxel Raharjda Adinata bekerja di toko bunga? Apa kata orang nanti?

"Kalau kamu ingin waktu sendiri di setiap bulan, aku tidak masalah. Tapi kalau bekerja di toko bunga ... maaf, tidak bisa," sambung Oxel menggeleng cepat.

"Aku mohon!" Sofie menyatukan kedua telapak tangannya berusaha membujuk.

Sofie tahu betul alasan mengapa dia dipilih sebagai pasangan kontrak Oxel. Hanya saja, dia akan merasa bosan jika hanya di rumah mengurus Arsene saja.

"Aku janji tidak akan membuatmu menyesal," lanjut Sofie.

Oxel memasukkan tangan kanan ke saku celana dan tangan kiri menyentuh dagu. "Beri aku satu alasan saja. Kenapa aku harus mengizinkanmu bekerja di toko bunga meski sudah menikah denganku?"

"Alasan?" Sofie nampak berpikir. "Aku tidak punya alasan yang bisa membuat kamu mengizinkan aku bekerja di toko bunga, tapi aku bisa meyakinkan kamu kalau aku bisa mengurus Arsene dengan baik

"Kenapa kamu seyakin ini?" tanya Oxel tersenyum sinis.

Sejak tadi, Oxel melihat keadaan Sofie yang terlihat pucat dan lemah. Namun entah mengapa, pembahasan ini membuat tubuh Sofie dialiri darah. Wanita itu terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya.

"Karena aku suka anak-anak. Beri aku waktu satu minggu untuk meyakinkanmu. Kalau seandainya aku gagal, aku akan berhenti bekerja di toko bunga. Bagaimana?" tawar Sofie.

"Baiklah. Aku beri kamu waktu satu minggu. Kalau gagal, kamu hanya boleh mengurus Arsene dan rencana balas dendammu," balas Oxel mengangguk setuju.

Bukan karena alasan khusus Oxel menerima tawaran Sofie. Dia hanya ingin tahu reaksi wanita itu seandainya semua harapannya tidak berhasil. Pasti akan sangat menyenangkan melihat kegagalan wanita keras kepala itu.

"Tapi ... pernikahan kita digelar secara tertutup, kan?" tanya Sofie ragu.

Mengingat status sosial Oxel, Sofie menjadi rendah diri. Dia takut akan jadi bahan gunjingan banyak orang. Padahal dengan begitu, dia bisa membuktikan pada Anggara kalau dia bisa mendapatkan yang lebih segala-galanya setelah bercerai darinya.

"Mau tertutup atau tidak, itu bukan urusanmu," sahut Oxel dingin.

Setelah menjawab, Oxel membuka pintu dan keluar. Tidak bisa dipungkiri bahwa pertanyaan Sofie berhasil membuatnya merasa terganggu. Ada beberapa hal yang harus dipikirkan sebelum memutuskannya.

"Kenapa Papa bengong? Bicara sama Tante Sofie sudah selesai?" tanya Arsene sambil mengguncang tangan sang ayah.

"Ah, iya." Oxel cukup terkejut setelah menyadari dirinya melamun. "Iya, sudah. Ngomong-ngomong, ada kerjaan yang harus papa selesaikan. Arsene temani Tante Sofie dulu, ya?"

"Iya, Pa." Arsene mengangguk dan dalam sekejap berlari masuk ke kamar.

Oxel hanya bisa menggeleng melihat sikap putranya. Kini, kaki panjang pria tampan itu melangkah ke ruang kerja. Setelah sampai, dia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.

"Aku harus melakukannya secara tertutup atau terbuka?" gumam Oxel bingung. Dia menatap langit-langit ruangan dengan sorot mata kosong.

Pernikahan itu terjadi atas dasar kontrak. Oxel merasa tidak perlu menunjukkannya pada dunia. Namun, bagaimana dengan Arsene? Sang putra sangat menginginkan Sofie menjadi ibunya dan orang lain harus tahu agar tidak ada masalah di kemudian hari.

"Baiklah. Aku akan melakukannya secara tertutup, tetapi tetap mengundang beberapa orang," bisik Oxel memutuskan. Dia meraih ponsel di saku jas dan menghubungi seseorang.

Ayah satu anak itu berniat mengundang keluarga, teman dekat, dan beberapa rekan bisnis. Selain mereka, orang lain hanya akan tahu dari mulut ke mulut. Lagi pula, hal semacam itu tidak penting karena ke depannya Oxel tidak akan pernah menikah. Tentu saja karena dia tidak percaya cinta lagi. Cukup sekali jatuh cinta dan disakiti.

"Siapkan semuanya sekarang juga. Aku ingin besok pagi pernikahanku dan wanita itu digelar," ujat Oxel memerintah dengan tegas.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   8. Undangan Pernikahan

    Setelah memutuskan, Oxel kembali ke kamar untuk menemui Sofie. "Persiapkan dirimu karena kita akan menikah besok pagi." Aneh bin ajaib. Oxel terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta dan takut mempelai wanitanya berubah pikiran, padahal kenyataannya tidak seperti itu. "Apa?" Lagi, lagi, dan lagi, Sofie dikejutkan oleh ucapan tidak masuk akal Oxel, "Bukankah kamu bilang tiga hari lagi? Lalu kenapa jadi besok pagi?" sambung Sofie berusaha mengingatkan. Dia beranjak turun dari tempat tidur dan bersiap menghampiri pria itu. Oxel menatap Sofie sekilas dan beralih menatap putranya. "Arsene main sama Sus Wanda dulu. Tante Sofie harus istirahat agar besok pagi sudah bisa menjadi mama kamu." "Baik, Pa," sahut Arsene bersemangat. Demi apa pun, anak laki-laki dengan rambut tebal itu merasa sedang bermimpi. Bagaimana bisa impiannya untuk menjadikan Sofie sebagai ibunya akan segera menjadi nyata? Bahkan dalam waktu yang cukup singkat. "Sampai jumpa besok pagi calon Mama," pamit Arsene p

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-06
  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   9. Cemburu

    "Anda mengenal istri saya, Pak Anggara?" tanya Oxel berpura-pura terkejut.Sesuai perkataan Oxel sebelumnya, Sofie hanya diam dan fokus pada Arsene. Urusan Anggara benar-benar dia yang menghadapi."I-iya. Sofie ini ... mantan istri saya, Pak," jawab Anggara terbata.Tatapan mata Anggara terus tertuju pada Sofie. Mungkin dia sedang berpikir bagaimana bisa Sofie menikah dengan Oxel. Padahal selama menikah, dia tidak pernah menyebut nama bosnya di depan Sofie."Astaga!" Lagi, Oxel berpura-pura seolah tidak tahu. Dia menatap Sofie dan bertanya, "Apa benar begitu, Sayang?"Sofie menoleh, menatap Anggara sekilas dan beralih pada Oxel dengan senyum lembut. "Iya, Sayang. Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku sudah pernah menikah? Dan, pria yang ada di hadapan kita ini adalah mantan suamiku.""Astaga! Bagaimana bisa wanita secantik dan sebaik Sofie ... maaf, saya tidak bermaksud untuk --."Ucapan Oxel terpaksa terhenti karena dipotong begitu saja oleh Anggara. Namun, hal itu sudah diperki

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-07
  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   10. Berpelukan

    "Kamu mau ke mana?" tanya Oxel dengan dahi mengernyit. Alih-alih masuk ke kamarnya sendiri, Arsene justru mengikutinya."Aku mau tidur sama Papa dan Mama," jawab Arsene menyelonong masuk ke kamar sang ayah."Hah?" Oxel cukup terkejut.Sejak awal, Oxel tidak berniat tidur satu kamar dengan Sofie. Justru dia ingin membiarkan istri kontraknya tinggal di kamar Arsene. Tentu saja karena sang putra begitu menginginkan wanita itu menjadi ibunya."Kenapa?" tanya Oxel tidak mengerti.Pria dengan gaya rambut haircut itu ikut masuk ke kamar. Dia melihat putranya sudah duduk di atas tempat tidur sambil melihat kedua tangan di perut."Karena aku mau tidur sama Mama dan Papa," sahut Arsene lagi."Kamu sudah besar, Arsene. Kalau kamu mau, kamu bisa tidur dengan Mama Sofie di kamarmu," bujuk Oxel sambil mendaratkan bokongnya di tepi tempat tidur."Papa mengusir aku dan Mama?" Arsene menatap tajam ayahnya.Jika sang ayah berkata Arsene sudah besar dan tidak boleh tidur bersamanya masih bisa dimaklumi.

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-09
  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   11. Memeluk Sofie

    "Kenapa guling ini hangat sekali? Mana aromanya juga harum lagi," bisik Oxel dalam hati. Dia nampak tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya pada sesuatu yang dianggap guling. Untuk pertama kali, Oxel bisa tidur nyenyak setelah perpisahannya dengan sang mantan istri. Tidak terbangun karena mimpi buruk atau tidak sengaja terbangun karena alasan apa pun. Bahkan sekarang di pukul sepuluh pun masih bergelung dalam selimut. Padahal biasanya, dia sudah sibuk di kantor dengan segudang pekerjaan. "Tunggu!" Tangan Oxel bergerak menyentuh hidung karena merasa ada sesuatu yang mengganggu indra pernapasannya. "Kenapa ada banyak rambut di hidungku?" Merasa banyak keanehan membuat Oxel mulai curiga. Perlahan, dia membuka mata dan mendapati Sofie ada di depan mata dengan raut terkejut. "Astaga!" Oxel langsung melompat turun tempat tidur karena terlalu terkejut. "A-aku ... se-sejak ta-tadi ... aku ingin bangun, tapi tidak bisa karena --." Sofie terlihat kebingungan harus berkata apa dan takut

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-10
  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   12. Melakukan Hal Panas

    "Iya, kamar. Memangnya kenapa?" sahut Oxel santai."Tapi kenapa?" tanya Sofie masih tidak bisa memahami ucapan Oxel. Dia mencubit-cubit ujung bajunya panik.Berbeda dengan Oxel yang terlihat biasa saja membahas masalah kamar, Sofie justru merasa sangat tidak nyaman. Di dalam surat perjanjian kontrak tidak ada yang mengatakan bahwa Oxel bisa mengajaknya ke dalam kamar dengan sesuka hati. Bahkan poin yang ditekankan justru larangan agar tidak jatuh cinta."Kenapa apanya?" Oxel menatap Sofie heran. Dia menyipitkan mata dengan dahi mengkerut, "Oh, astaga! Apa yang kamu pikirkan Sofie?" imbuhnya terkejut.Ajakan ke kamar bukan berarti untuk melakukan hal panas. Ada banyak hal lain dan Oxel ingin membicarakan tentang hubungan timbal balik mereka."Me-me-memangnya apa yang aku pikirkan?" Sofie mengedipkan mata cepat dengan suara terbata. Sepertinya dia telah salah sangka terhadap sang suami kontrak."Jangan bilang kalau kamu berpikir di mana aku ingin melakukan sesuatu denganmu di kamar?" te

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-11
  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   13. Saling Menyatu

    "Sofie," ucap Oxel memanggil.Mendengar Oxel menyebut namanya tidak membuat Sofie langsung bangkit dan menyahut. Dia terus berpura-pura tidur karena tidak tahu harus berkata apa di posisi ini."Bangun, Sofie!" seru Oxel menatap Sofie dingin. Pria tampan ini berdiri cukup dekat di mana Sofie sedang berbaring.Entah terbuat dari apa wanita itu sampai-sampai sulit sekali dibangunkan. Kalau terjadi gempa, mungkin dia akan jadi wanita pertama yang menjadi korban karena tidak mendengar teriakkan orang lain."Ma, bangun. Mama dikangenin sama Papa, tuh." Arsene melirik ayahnya dengan tatapan menggoda, "Ma, cepat bangun sebelum Papa marah," sambung anak laki-laki itu mengingatkan."A-Arsene," bisik Sofie dalam hati.Semula, wanita dengan rambut panjang kecoklatan itu berpikir bahwa Oxel yang menimpa tubuhnya. Namun, suara Arsene semakin dekat ke telinganya dan tubuhnya bergerak di atas tubuhnya."Apa aku sudah salah menebak?" Perlahan, Sofie membuka sebelah mata dan mendapati Arsene berada di

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-12
  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   14. Mengintip

    Sepersekian detik, Oxel langsung bangkit berdiri, kemudian disusul Sofie. Mereka berdua terlihat sangat canggung hingga pada akhirnya handuk yang melilit di tubuh Sofie terlepas. "Aaa!" Sofie berteriak berusaha menutupi kedua aset berharganya. Dia lekas membungkuk meraih handuk itu, lalu melilitkannya kembali. Sementara Oxel, dia berpura-pura tidak melihat dan menatap ke arah lain. Padahal, dia sempat menyaksikan tubuh molek Sofie dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia hanya tidak ingin membuat situasi tidak nyaman untuk ke depannya. "Kamu tidak melihat, kan?" tanya Sofie panik dengan tangan yang memeluk tubuhnya erat. "Melihat apa? Aku tidak melihat apa-apa," sahut Oxel datar, bahkan raut wajahnya menunjukkan sisi berpikir. "Tidak, tidak ada." Sofie menghela napas lega. "Ya sudah, aku ke ruang ganti dulu." Sofie bersiap keluar kamar mandi, tetapi tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap Oxel curiga. "Tunggu! Kenapa kamu ada di sini? Bukankah seharusn

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-13
  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   15. Terpana

    "Apa benar begitu?" tanya Sofie memastikan. Pasalnya Oxel hanya diam dengan raut panik."Hah? Apa?" Oxel yang sedari tadi melamun terlihat terkejut.Sofie berdiri dan menatap Oxel serius. "Kamu marah karena kejadian di kamar mandi?" tanyanya ulang."Ti-tidak. Siapa bilang?" Oxel ikut berdiri dengan nada gelagapan."Lalu apa yang membuatmu marah padaku?' tanya Sofie menatap Oxel lekat."Pekerjaan, yah, masalah pekerjaan." Oxel tersenyum lega karena akhirnya dia menemukan jawaban yang tepat, "Aku sedang bekerja dan kamu juga Arsene datang mengganggu," imbuhnya menyalahkan.Jawaban seperti ini sudah pasti bisa diterima oleh Sofie. Itulah alasan mengapa Oxel terlihat lebih santai daripada sebelumnya. Tidak mungkin bukan kalau wanita itu akan bersikeras dengan masalah di kamar mandi sebelumnya?"Oh." Sofie menganggguk-angguk dan melanjutkan ucapannya. "Kalau begitu, aku keluar dulu. Kamu bisa lanjutkan pekerjaan dan akan ku pastikan kami tidak akan mengganggu.""Mmm," balas Oxel melirik So

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-14

Bab terbaru

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   22. Semua Kacau

    Anggara memang bajingan yang memanfaatkan Sofie selagi Yura tidak ada. Meskipun demikian, Yura tetap tidak terima orang yang paling dicinta direndahkan seperti itu."Akan ku bunuh kamu, jalang!" Yura bersiap menghabisi Sofie, tetapi seruan Lily menghentikannya."Yura, cukup!" bentak Lily murka. Dia berdiri secara tiba-tiba dan menatap tajam temannya.Sejak awal, Lily tahu kalau Yura yang sengaja mencari masalah dengan Sofie. Meski dikalahkan berkali-kali, temannya itu tidak menyerah dan terus-menerus membuat masalah. Sikapnya ini menunjukkan betapa rendah Yura."Lily ...." Yura menatap kecewa temannya. Sudah berteman sejak SMA, tetapi Lily lebih memilih membela Sofie alih-alih membela Yura. Apa harta lebih penting dari pertemanan? Akan tetapi, harta pula yang membawa Yura ke club itu. Jadi, bukankah mereka berdua sama saja?"Tolong berhenti membuat keributan!" ujar Lily dengan raut memohon."Astaga! Kalung berlian sebagus ini kamu dan suamimu jadikan sebagai hadiah?" celetuk Jessica

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   21. Diam, Jalang, Diam!

    Yura tidak menyangka Sofie akan seberani itu. Sudah disudutkan bukannya melemah, tetapi wanita itu justru semakin kuat."Benarkah?" Sofie berdiri. Dia melangkah mendekat ke arah Yura sambil melipat kedua tangan di perut. "Lalu apa yang kamu lakukan di hari satu tahun pernikahanku dan Mas Anggara?""Apa yang akan kamu lakukan, Sofie?!" bentak Yura dengan raut ketakutan.Sebisa mungkin, Yura harus memutarbalikkan keadaan. Jangan sampai semua orang tahu kebenarannya. Apalagi tujuannya datang ke sana demi mendapat teman baru dari kalangan atas."Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya akan mengungkap kebenaran di sini," sahut Sofie santai."Diam!" bentak Yura murka."Kalian tahu?" Sofie mengedar pandang menatap satu per satu penghuni ruangan itu. "Gara-gara Yura yang datang di pernikahan kami dan di hari satu tahun pernikahan kami, aku diceraikan suamiku."Sofie tidak terburu-buru. Dia hanya ingin melihat Yura hancur dengan cara mengungkap kebenaran secara perlahan. Andai wanita itu s

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   20. Dasar Wanita Licik!

    "Bukan itu maksudku, Oxel. Bahkan kartu itu belum aku pakai sama sekali," ucap Sofie berusaha menjelaskan.Kartu yang Oxel berikan pada Sofie belum pernah sekali pun digunakan. Tentu saja karena semua kebutuhan sudah pria itu penuhi. Baik sandang maupun pangan, tanpa kurang suatu apa pun."Lalu?" Oxel ingin Sofie menjelaskan lebih detail."Aku ingin menemani Arsene pergi ke ulang tahun temannya. Dengar-dengar ini bukan perayaan ulang tahun biasa. Jadi, aku ingin kamu menyiapkan gaun edisi terbatas dan hadiah mahal. Kamu tahu maksudku, bukan?" jelas Sofie panjang kali lebar.Jika Oxel belum pernah menemani Arsene ke acara seperti itu, Sofie ingin Memon ini menjadi momen terbaik bagi anak tiri kontraknya. Apalagi mimik sedih yang ditunjukkan ketika mengajaknya. Apa pun yang terjadi, Sofie akan melakukan yang terbaik."Aku mengerti. Aku akan menyiapkan segalanya untukmu juga Arsene," sahut Oxel mantap."Baik, terima kasih." Sofie mengakhiri panggilan dan menatap ke arah samping.Hidup me

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   19. Lepaskan Aku!

    "Aaaa!" Yura berteriak cukup keras dengan manik mata terbuka.Dalam hati, Yura menyesali kebodohannya yang mengabaikan peringatan Anggara untuk tidak mengejar Sofie. Andai dia menurut, mungkin dia akan aman dan sedang memilih perlengkapan bayi."A-aku ... aku tidak jatuh?" batin Yura bertanya-tanya. Dia mencium aroma parfum yang terasa sangat lembut di indera penciumannya."Apa kamu baik-baik saja?""Kok aku seperti kenal suara ini?" bisik Yura dalam hati.Sepersekian detik kemudian, Yura membuka mata dan mendapati dirinya berada dalam dekapan seseorang. Sayangnya, seseorang itu adalah Sofie."Lepas, lepaskan aku!" seru Yura ketus.Bertepatan dengan ucapan Yura, Sofie sudah merasa tidak kuat lagi. Tangannya kebas karena menahan tubuh wanita itu yang tengah berbadan dua."Oke." Sofie mengangkat kedua tangan dengan raut santai."Awww! Brengsek kamu, ya!" Yura memekik kesakitan dan mengumpat.Posisi jatuh Yura tidak terlalu tinggi dan cukup aman. Namun karena orang itu Sofie, jadi dia ti

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   18. Cukup, Yura, Cukup!

    Hanya menatap Sofie sebentar saja sudah membuat Yura mengamuk. Apalagi kalau sampai saling sapa seperti ini. Anggara tidak yakin kejadian di perusahaan tadi tidak akan terulang lagi."Kalau begitu aku permisi, Mas. Kasihan Arsene sudah kelelahan dari pulang sekolah belum istirahat," pamit Sofie mengulas senyum lembut.Untuk apa terus berada di sana sedangkan target sudah melihat. Sofie hanya perlu memberi umpan dan melihat hasilnya nanti. Lagi pula, dia masih ingin bermain-main dan berjanji akan membuat mereka menyesal."Kamu mau ke mana, Sofie?!" teriak Yura dengan langkah besar."Aku mau temani anakku belanja, Yura," sahut Sofie santai.Wanita cantik itu menghentikan langkahnya membuat Arsene pun mengikuti. Dia mengedar pandang menatap orang-orang yang memusatkan atensinya pada Yura. Setelah itu, menoleh ke belakang dan mengedipkan sebelah mata. "Kenapa berhenti, Ma?" tanya Arsene menengadahkan kepala."Tidak apa-apa, Sayang." Sofie membalas, lalu mengusap puncak kepala anak tiri k

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   17. Menghabisimu

    Yura berjalan santai sambil bersiul. Suaranya terdengar mengerikan karena diikuti siulan yang memantul. Tatapan matanya terus tertuju pada Sofie yang masih setia berdiri di depan lift. "Ayolah! Kali ini aku tidak akan hanya mencabik-cabik wajahmu, tapi menghabisimu sekaligus," bisik Yura tersenyum jahat. "Mama!" teriak Arsene memanggil. Sontak, Yura langsung menghentikan langkahnya tepat di samping mobil yang baru saja berhenti. "Ah, sial!" Yura mengumpat dalam hati. Selain ada Arsene, Oxel pun baru saja keluar dari lift. Ternyata mereka berdua sengaja ingin menjemput Arsene di sana. Lalu, bagaimana dengan penglihatan Yura yang melihat Sofie tertawa? "Sialan!" Yura mundur perlahan dan sembunyi di balik mobil yang terparkir. Dia menjulurkan kepalanya sedikit dan mulai memperhatikan. "Halo, Sayang." Sofie berjongkok sambil merentangkan tangan membiarkan Arsene masuk ke dalam pelukan. "Bagaimana kegiatan di sekolah hari ini? Apa menyenangkan?" Harusnya Sofie pergi menjempu

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   16. Dasar Jalang Sialan!

    Yura menganga dengan manik mata terbelalak. Dia menoleh ke arah Sofie dan melihat betapa santainya wanita itu. Bersandar pada dinding sambil meniup-niup kuku jari tangan. "Sial! Dasar jalang!" umpat Yura nyalang. "A-a-awww! pekiknya kesakitan. Pasalnya, Oxel semakin menekan lengannya kuat-kuat. "Jawab!" bentak Oxel murka. Beraninya Yura mengabaikan pertanyaan Oxel seolah amarahnya sama sekali tidak berarti apa-apa. Apa perlu dia beri pelajaran agar wanita rendahan itu mengerti? "Maafkan istri saya, Pak," kata Anggara dengan jantung yang berdegup kencang. "Maaf?" Oxel tersenyum kecut dan menghempaskan tangan Yura cukup kuat. "Awww!" Yura memekik kesakitan. Istri Anggara ini menatap Oxel sekilas sebelum akhirnya menatap Sofie nyalang. Andai Oxel tidak datang, mungkin dia sudah mencabik-cabik wajah Sofie sampai hancur berantakan. "Apa saya terlihat seperti orang yang mudah diusik, Pak Anggara?" Oxel mengendurkan dasi dengan gigi yang dieratkan. "Bukan begitu maksud saya, Pak. Is

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   15. Terpana

    "Apa benar begitu?" tanya Sofie memastikan. Pasalnya Oxel hanya diam dengan raut panik."Hah? Apa?" Oxel yang sedari tadi melamun terlihat terkejut.Sofie berdiri dan menatap Oxel serius. "Kamu marah karena kejadian di kamar mandi?" tanyanya ulang."Ti-tidak. Siapa bilang?" Oxel ikut berdiri dengan nada gelagapan."Lalu apa yang membuatmu marah padaku?' tanya Sofie menatap Oxel lekat."Pekerjaan, yah, masalah pekerjaan." Oxel tersenyum lega karena akhirnya dia menemukan jawaban yang tepat, "Aku sedang bekerja dan kamu juga Arsene datang mengganggu," imbuhnya menyalahkan.Jawaban seperti ini sudah pasti bisa diterima oleh Sofie. Itulah alasan mengapa Oxel terlihat lebih santai daripada sebelumnya. Tidak mungkin bukan kalau wanita itu akan bersikeras dengan masalah di kamar mandi sebelumnya?"Oh." Sofie menganggguk-angguk dan melanjutkan ucapannya. "Kalau begitu, aku keluar dulu. Kamu bisa lanjutkan pekerjaan dan akan ku pastikan kami tidak akan mengganggu.""Mmm," balas Oxel melirik So

  • Dicerai Bajingan Dinikahi Sultan   14. Mengintip

    Sepersekian detik, Oxel langsung bangkit berdiri, kemudian disusul Sofie. Mereka berdua terlihat sangat canggung hingga pada akhirnya handuk yang melilit di tubuh Sofie terlepas. "Aaa!" Sofie berteriak berusaha menutupi kedua aset berharganya. Dia lekas membungkuk meraih handuk itu, lalu melilitkannya kembali. Sementara Oxel, dia berpura-pura tidak melihat dan menatap ke arah lain. Padahal, dia sempat menyaksikan tubuh molek Sofie dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia hanya tidak ingin membuat situasi tidak nyaman untuk ke depannya. "Kamu tidak melihat, kan?" tanya Sofie panik dengan tangan yang memeluk tubuhnya erat. "Melihat apa? Aku tidak melihat apa-apa," sahut Oxel datar, bahkan raut wajahnya menunjukkan sisi berpikir. "Tidak, tidak ada." Sofie menghela napas lega. "Ya sudah, aku ke ruang ganti dulu." Sofie bersiap keluar kamar mandi, tetapi tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap Oxel curiga. "Tunggu! Kenapa kamu ada di sini? Bukankah seharusn

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status