"A-aku ... aku tidak salah dengar, kan?" Bulir-bulir bening mengaliri pipi mulus Sofie.
Perlahan, tangan Sofie terulur menutup mulut agar suara tangisnya tidak terdengar. Namun, suara menjijikan terus terdengar membuat wanita itu tidak tahan. "Aku harus pastikan sendiri, yah, harus." Sofie menyentuh kenop dan membuka pintu perlahan. Hal pertama yang dia liat adalah pakaian berceceran di lantai. Tatapan matanya beralih ke arah tempat tidur. Sontak, Sofie terpaku dengan air mata yang mengalir deras. Benar saja, suara menjijikkan itu bukan sekedar suara biasa. Aktivitas yang Anggara dan Yura lakukan sesuai dengan imajinasinya. "Mas," lirih Yura. Dia terlihat sangat terkejut dan berusaha menutupi tubuh polosnya. Anggara langsung mengikuti arah pandang sang kekasih. "Apa yang kamu lakukan di sini, Sofie?!" bentaknya geram. Jika sudah mendengar suara-suara aneh, seharusnya Sofie tidak perlu masuk dan mengganggu. Anggara benar-benar tidak habis pikir dengan wanita itu. "Harusnya aku yang tanya, apa yang sedang kamu lakukan, Mas?! Beraninya kamu mengotori rumah kita dengan perbuatan menjijikan seperti ini!" sanggah Sofie dingin. "Apa kamu gila?" Anggara beranjak mendekat tanpa berniat menutupi tubuh polosnya. "Menjijikan!" Sofie membuang pandangan ke arah lain dan mendapati Yura tersenyum mengejek. Ingin rasanya Sofie mencabik-cabik wajah Yura. Akan tetapi, dia merasa tidak perlu membuang-buang tenaga. Hatinya sudah cukup lelah menghadapi semua ini. "Aku sudah mentalakmu dan itu artinya kamu bukan istriku lagi," sambung Anggara sambil menunjuk-nunjuk. "Tapi kita belum cerai, Mas. Harusnya kamu tahan dulu dan bukannya melakukan hal menjijikan seperti ini di depan mataku," balas Sofie kecewa. Tidak cukup dengan hanya menipu, Anggara sampai membawa Yura ke rumah dan sekarang tidur bersama. Apa ada laki-laki sebajingan itu di luaran sana? "Baiklah." Anggara berbalik dan membuka laci. Dia meraih lembar kertas dan bolpoin. "Tandatangani surat cerai ini dan pergilah. Jangan pernah muncul lagi di depanku!" "Kamu kenapa jadi seperti ini, sih, Mas?" Sofie melayangkan pukulan ke bahu Anggara. "Cepat, Sofie!" seru Anggara dingin. Saat ini Anggara sedang berada di puncak gairah. Harusnya dia sedang mencari-cari di atas tubuh Yura. Namun, Sofie justru dengan seenaknya mengganggu. "Kamu yakin, Mas?" tanya Sofie memastikan. Sorot mata wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu memancarkan sedikit harapan. Barangkali saja Anggara sedang hilaf sejenak dan menyesal setelahnya. "Sangat-sangat yakin," sahut Anggara mantap. "Baiklah, aku mengerti." Dengan napas memburu, Sofie meraih surat itu dan menandatanganinya. Wanita cantik itu merasa usaha untuk mempertahankan rumah tangganya akan sia-sia. Tentu saja karena yang dipertahankan tidak menginginkannya. "Aku harap kamu tidak akan pernah menyesali keputusanmu ini, Mas," lanjut Sofie sambil menyodorkan surat cerai. "Tidak akan. Aku tidak akan pernah menyesal karena aku sangat mencintai Yura," sanggah Anggara percaya diri. "Semoga kalian bahagia tanpa adanya penyesalan di kemudian hari," harap Sofie berbisik. Sofie membalikkan badan. Dia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya cepat. Setelah itu, menghapus air mata dan bergegas keluar. Namun, tubuh terasa lemas seolah tidak memiliki tulang. Langkahnya terseok-seok menuju kamar, hingga sampai di dalam dia terjatuh dan duduk terjerembab di lantai. Tangan kanannya bergerak memukuli dada sambil menangis. "Kamu jahat, Mas, kamu jahat!" jerit Sofie. Tangan kanannya bergerak memukuli dada yang terasa sesak. Kenangan bahagia di masa lalu mulai tergambar bagai kilas balik. Semakin teringat, semakin Sofie merasa sakit. Sikap Anggara selama ini tidak terlihat seperti dibuat-buat. Suaminya justru terlihat sangat tulus mencintainya. "Tidak, aku pasti sedang bermimpi. Tidak mungkin Mas Anggara melakukan hal kejam seperti ini padaku." Sofie memukuli pipi, tetapi dia merasakan sakit. "Jahat kamu, Mas ... jahat!" Sofie menatap sekeliling kamar dengan tatapan nanar. Kelopak bunga mawar merah bertaburan ditemani cahaya lilin yang menambah suasana romantis. Semua itu dia siapkan untuk menyambut hari jadi pernikahan. Seketika, kedua tangan Sofie bergerak mengacak-acak kelopak mawar merah yang berserakan di lantai. Manik matanya menangkap lembar surat cerai. Dia lekas meraih dan merobeknya menjadi beberapa bagian. "Kamu akan menerima balasan atas apa yang sudah kamu perbuat, Mas!" Setelah kalimat itu terlontar, Sofie menghapus air mata dan beranjak pergi dengan penuh tekad. Tanpa membawa apa pun kecuali tas dan isinya, sama seperti ketika pertama kali masuk ke rumah itu. Hal yang dia bawa hanya luka mendalam yang entah kapan akan hilang. *** Beberapa bulan kemudian. Setelah menerima sertifikat surat cerai, Sofie pergi ke pusat perbelanjaan. Dia ingin menghibur diri dengan cara berbaur di tengah keramaian. Barangkali saja kesedihannya bisa hilang. Namun, belum lama berkeliling dia bertabrakan dengan seorang anak laki-laki. "Maaf, maaf, aku tidak sengaja," kata Sofie sedikit membungkuk. Anak laki-laki berusia lima tahun itu terlihat sedang meneliti penampilan Sofie. Dia menatap dari ujung kepala sampai kaki, lalu tiba-tiba menangis. "Es krimku ... es krimku jatuh," ucap anak laki-laki yang diketahui memiliki nama Arsene sambil menangis. Sofie berlutut dan menyentuh bahu Arsene. "Jangan menangis! Siapa namamu?" "Arsene, namaku Arsene," jawab Arsene masih menangis. Anak laki-laki dengan paras tampan itu sibuk mengucek mata, tetapi sesekali mengintip sekedar untuk menatap Sofie. "Baiklah, Arsene. Sebagai permintaan maafku, bagaimana kalau aku belikan es krim yang baru untukmu?" tawar Sofie lembut. "Iya, mau." Arsene mengangguk dan tersenyum. "Sebelum itu, kita hapus air matamu dulu." Sofie mengusap pipi Arsene guna menyingkirkan air mata. Setelah itu, dia berdiri dan berkata, "Ayo!" Sofie dan Arsene berjalan beriringan. Baru beberapa langkah, tangan mungil nan halus merengkuh telapak tangannya. Sontak, Sofie menatap Arsene dan tersenyum, lalu balas menggenggam. Sampai di toko es krim, Sofie langsung memesan. Dia memesan dua rasa, coklat dan stroberi. "Ini untukmu dan ini untukku." Sofie menyerahkan es krim rasa coklat pada Arsene. "Terima kasih," ucap Arsene tersenyum senang. Kini, mereka berdua duduk sambil menikmati es krim. Anehnya, Arsene terus menatap Sofie penuh arti. Padahal mereka baru pertama kali bertemu, tetapi seolah sudah mengenal sejak lama. "Ngomong-ngomong, di mana orang tuamu? Kenapa kamu sendirian?" tanya Sofie. Dia baru sadar kalau anak laki-laki itu tidak bersama orang tuanya. "Papa sedang pergi ke toilet dan memintaku untuk menunggu," sahut Arsene sambil menikmati es krim rasa kesukaannya. "Oh, begitu." Sofie mengangguk, tetapi terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Di zaman sekarang, bagaimana bisa ada orang tua seperti itu. Jika pergi ke toilet, harusnya mengajak anak alih-alih ditinggal dan disuruh menunggu. Apa semua orang tua akan seceroboh itu? "Tante, nama Tante siapa?" Arsene memiringkan kepalanya menatap Sofie. Sofie tersenyum lembut. "Nama tante, Sofie." "Oh." Arsene mengangguk sambil ber-oh ria. "Tante Sofie sudah menikah belum?" Mendengar pertanyaan Arsene membuat kening Sofie mengkerut. Bagaimana bisa anak sekecil itu bertanya tentang hal itu? Apa mungkin dia hanya salah dengar? "Kenapa bengong? Tante Sofie sudah menikah atau belum?" ulang Arsene bertanya. Dia mengayun tangannya tepat di depan wajah Sofie. "Be-belum," sahut Sofie menggeleng. Dia tersenyum canggung karena ternyata pendengarannya tidak salah. Sebelumnya Sofie berpikir telah salah dengar, tetapi ternyata tidak. Arsene benar-benar menanyakan hal itu dan entah apa tujuannya. "Kalau pacar? Tante Sofie sudah punya belum?" Pertanyaan konyol kembali Arsene lontarkan. "Den Arsene!" Seseorang memanggil dengan nada tergesa. Sofie urung menjawab dan menoleh ke asal suara. Terlihat seorang pria dengan setelan hitam mendekat. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir. "Sejak tadi Papa Den Arsene sibuk mencari Den Arsene," kata pria dengan setelan hitam. "Aku tidak ke mana-mana. Sejak tadi aku menunggu Papa di sini," balas Arsene santai. Sebenarnya, Arsene memang sengaja memisahkan diri dari sang ayah. Dia merasa bosan karena ayahnya sibuk mengurus pekerjaan alih-alih menemani dirinya. "Ya sudah, mari kita ke tempat Papa." Sorot mata pria bersetelan hitam itu tampak tegas. "Baiklah." Dengan lesu, Arsene beranjak pergi diikuti pengawalnya. Jika ayahnya mudah dihadapi, mungkin Arsene akan memilih bersama Sofie selama beberapa waktu. Sayangnya, sang ayah tidak suka dibantah meski hanya hal kecil sekalipun. Tepat di depan pintu toko, Arsene menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. "Tante Sofie, kita bertemu di sini lagi besok pukul tiga sore." Sementara itu, Sofie hanya menatap Arsene bingung. Dia sama sekali tidak menganggap ucapan anak laki-laki itu. Sampai satu minggu kemudian, dia diculik dan dibawa ke hadapan seorang pria beraura menakutkan."Apa yang kamu lakukan pada anakku?" tanya Oxel dingin.Yah. Oxel adalah ayah Arsene. Setelah menghilangnya sang putra di pusat perbelanjaan, dia melihat banyak perubahan pada diri putranya. Selain berkali-kali meminta supir mengantar ke toko es krim, Arsene juga mendadak sakit dan tak kunjung sembuh meski sudah menemui dokter yang berbeda-beda."Apa maksudmu?" Sofie mengerutkan kening bingung."Arsene ... apa yang sudah kamu lakukan padanya?" Oxel terlihat menggertakkan gigi."Oh, Arsene."Sofie terlihat mengembuskan napas lega. Dia pikir telah diculik penjahat, ternyata hanya ayah dari anak yang kebetulan bertabrakan dengannya saja."Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya membelikan dia es krim karena aku menjatuhkan es krimnya. Itu saja dan tidak lebih," imbuhnya menjelaskan."Jangan bohong!" bentak Oxel menggebrak meja."Untuk apa aku berbohong?" Sofie kembali mengerutkan keningnya.Kalau diperhatikan, pria yang ada di hadapan Sofie ini sangat tampan. Rahangnya tegas dengan aura yang
"Aku suka Tante Sofie dan aku ingin dia menjadi mamaku," jawab Arsene mantap.Sejak pertama kali melihat Sofie, ada getaran aneh di dada. Arsene merasa aman dan nyaman. Perasaan semacam itu belum pernah dia rasakan sebelumnya pada wanita mana pun."Kita bicara lagi nanti." Oxel memilih menghentikan obrolan itu dan lekas berbalik bersiap pergi."Aku serius, Pa," ucap Arsene sendu.Kenapa sang ayah tidak mempercayai ucapannya di saat-saat seperti ini? Padahal Arsene sudah terlihat sangat serius.Tanpa menoleh, Oxel menjawab, "Kamu hanya sedang terbawa suasana saja. Kita bisa bicarakan hal ini nanti."Oxel pikir, Arsene mengambil keputusan dengan tergesa. Hal itu terjadi karena sang putra tidak pernah mendapat kasih sayang dari ibunya. Jadi sekali mendapat perhatian, putranya akan langsung terharu."Tidak, Pa. Aku benar-benar ingin Tante Sofie jadi mamaku," ujar Arsene bersikeras. Sayangnya, sang ayah tidak menghiraukan ucapannya dan melangkah pergi. Meski sekeras apa pun dia berteriak,
"A-apa? Menikah?" Sofie menganga dengan manik mata terbuka lebar.Sebelumnya, Sofie menerima amplop coklat berisi surat perceraian. Tidak disangka, ternyata amplop coklat kali ini justru ajakan ke pelaminan. Apalagi rentang waktu hanya beberapa bulan saja."Hahaha ... apa kamu gila?" Sofie tertawa tidak habis pikir."Cukup!" seru Oxel dingin."Bagaimana bisa? Kita baru kenal dan kamu sudah mengajakku menikah," ucap Sofie mengabaikan seruan Oxel.Sofie masih tidak bisa menerima gagasan yang Oxel lontarkan. Selain baru mengenal, dia juga memiliki pengalaman buruk tentang pernikahan. Jadi, tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menikah lagi."Kamu hanya perlu baca dan tandatangani dokumen ini. Setelah itu, kita akan menikah."Oxel kembali menyodorkan amplop coklat pada Sofie."Aku rasa aku sudah mendengar apa yang ingin kamu katakan. Sekarang giliranku untuk menolak dan pergi," kata Sofie tegas, lalu langsung membalikkan badan.Sudah saatnya bagi Sofie pergi dari sana. Dia berhara
Dengan sigap, Oxel menyelamatkan lembar surat perjanjian sebelum Sofie berubah pikiran dan merobeknya."Apa? Se-se-sepuluh miliar?" Sofie menganga dengan mata terbuka lebar, bahkan langkah kakinya bergerak mundur karena terlalu terkejut."Ya, sepuluh miliar," sanggah Oxel tersenyum. Dia terlihat sangat puas melihat reaksi Sofie.Oxel tahu betul kalau Sofie hanya karyawan biasa di sebuah toko bunga. Bahkan jika harus bekerja dua puluh tahun sekalipun, wanita itu tidak akan pernah sanggup membayarnya."Jika kamu sanggup, kamu boleh pergi dari sini," sambung Oxel mencebikkan bibirnya malas."Bagaimana bisa dendanya sebanyak itu?" tanya Sofie dengan tangan terkepal."Tentu saja karena apa yang akan kamu dapatkan juga sama besarnya, bahkan lebih." Oxel menatap Sofie sambil melipat kedua tangan di dada.Mendengar ucapan Oxel membuat kepala Sofie semakin sakit. Suhu tubuhnya sudah sangat dingin, bahkan hampir membeku seperti es. Perlahan, wanita itu merasakan tubuhnya seakan melayang dan pan
Mendengar ucapan Sofie membuat Oxel meradang. Dia menatap Sofie dingin dengan tangan terkepal kuat."Bukankah sudah ku bilang kalau kamu harus membayar denda jika membatalkan perjanjian?" tanya Oxel sambil menggertakkan gigi."Tapi sepuluh miliar bukan jumlah yang sedikit. Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?" sanggah Sofie bingung."Itu bukan urusanku. Mau kamu dapatkan uang itu dari hasil mencuri, aku sama sekali tidak peduli," ujar Oxel tak acuh.Pria berparas tampan itu melangkah mendekat. Dia duduk di sisi kiri tempat tidur dan menyentuh dagu Sofie. Memperhatikan setiap inchi wajah wanita itu, bahkan sampai ke sekujur tubuhnya."Wajahmu lumayan." Oxel tersenyum licik. "Kamu bisa jual tubuhmu dan membayar denda itu dengan mudah," imbuh pria itu sebelum akhirnya mendorong dagu Sofie pelan."Ka-kamu ...." Sofie menggertakkan gigi dengan manik mata terbelalak.Memang benar, akan sangat tidak mungkin mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Hanya dengan cara menjual
Setelah memutuskan, Oxel kembali ke kamar untuk menemui Sofie. "Persiapkan dirimu karena kita akan menikah besok pagi." Aneh bin ajaib. Oxel terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta dan takut mempelai wanitanya berubah pikiran, padahal kenyataannya tidak seperti itu. "Apa?" Lagi, lagi, dan lagi, Sofie dikejutkan oleh ucapan tidak masuk akal Oxel, "Bukankah kamu bilang tiga hari lagi? Lalu kenapa jadi besok pagi?" sambung Sofie berusaha mengingatkan. Dia beranjak turun dari tempat tidur dan bersiap menghampiri pria itu. Oxel menatap Sofie sekilas dan beralih menatap putranya. "Arsene main sama Sus Wanda dulu. Tante Sofie harus istirahat agar besok pagi sudah bisa menjadi mama kamu." "Baik, Pa," sahut Arsene bersemangat. Demi apa pun, anak laki-laki dengan rambut tebal itu merasa sedang bermimpi. Bagaimana bisa impiannya untuk menjadikan Sofie sebagai ibunya akan segera menjadi nyata? Bahkan dalam waktu yang cukup singkat. "Sampai jumpa besok pagi calon Mama," pamit Arsene p
"Anda mengenal istri saya, Pak Anggara?" tanya Oxel berpura-pura terkejut.Sesuai perkataan Oxel sebelumnya, Sofie hanya diam dan fokus pada Arsene. Urusan Anggara benar-benar dia yang menghadapi."I-iya. Sofie ini ... mantan istri saya, Pak," jawab Anggara terbata.Tatapan mata Anggara terus tertuju pada Sofie. Mungkin dia sedang berpikir bagaimana bisa Sofie menikah dengan Oxel. Padahal selama menikah, dia tidak pernah menyebut nama bosnya di depan Sofie."Astaga!" Lagi, Oxel berpura-pura seolah tidak tahu. Dia menatap Sofie dan bertanya, "Apa benar begitu, Sayang?"Sofie menoleh, menatap Anggara sekilas dan beralih pada Oxel dengan senyum lembut. "Iya, Sayang. Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku sudah pernah menikah? Dan, pria yang ada di hadapan kita ini adalah mantan suamiku.""Astaga! Bagaimana bisa wanita secantik dan sebaik Sofie ... maaf, saya tidak bermaksud untuk --."Ucapan Oxel terpaksa terhenti karena dipotong begitu saja oleh Anggara. Namun, hal itu sudah diperki
"Kamu mau ke mana?" tanya Oxel dengan dahi mengernyit. Alih-alih masuk ke kamarnya sendiri, Arsene justru mengikutinya."Aku mau tidur sama Papa dan Mama," jawab Arsene menyelonong masuk ke kamar sang ayah."Hah?" Oxel cukup terkejut.Sejak awal, Oxel tidak berniat tidur satu kamar dengan Sofie. Justru dia ingin membiarkan istri kontraknya tinggal di kamar Arsene. Tentu saja karena sang putra begitu menginginkan wanita itu menjadi ibunya."Kenapa?" tanya Oxel tidak mengerti.Pria dengan gaya rambut haircut itu ikut masuk ke kamar. Dia melihat putranya sudah duduk di atas tempat tidur sambil melihat kedua tangan di perut."Karena aku mau tidur sama Mama dan Papa," sahut Arsene lagi."Kamu sudah besar, Arsene. Kalau kamu mau, kamu bisa tidur dengan Mama Sofie di kamarmu," bujuk Oxel sambil mendaratkan bokongnya di tepi tempat tidur."Papa mengusir aku dan Mama?" Arsene menatap tajam ayahnya.Jika sang ayah berkata Arsene sudah besar dan tidak boleh tidur bersamanya masih bisa dimaklumi.
Anggara memang bajingan yang memanfaatkan Sofie selagi Yura tidak ada. Meskipun demikian, Yura tetap tidak terima orang yang paling dicinta direndahkan seperti itu."Akan ku bunuh kamu, jalang!" Yura bersiap menghabisi Sofie, tetapi seruan Lily menghentikannya."Yura, cukup!" bentak Lily murka. Dia berdiri secara tiba-tiba dan menatap tajam temannya.Sejak awal, Lily tahu kalau Yura yang sengaja mencari masalah dengan Sofie. Meski dikalahkan berkali-kali, temannya itu tidak menyerah dan terus-menerus membuat masalah. Sikapnya ini menunjukkan betapa rendah Yura."Lily ...." Yura menatap kecewa temannya. Sudah berteman sejak SMA, tetapi Lily lebih memilih membela Sofie alih-alih membela Yura. Apa harta lebih penting dari pertemanan? Akan tetapi, harta pula yang membawa Yura ke club itu. Jadi, bukankah mereka berdua sama saja?"Tolong berhenti membuat keributan!" ujar Lily dengan raut memohon."Astaga! Kalung berlian sebagus ini kamu dan suamimu jadikan sebagai hadiah?" celetuk Jessica
Yura tidak menyangka Sofie akan seberani itu. Sudah disudutkan bukannya melemah, tetapi wanita itu justru semakin kuat."Benarkah?" Sofie berdiri. Dia melangkah mendekat ke arah Yura sambil melipat kedua tangan di perut. "Lalu apa yang kamu lakukan di hari satu tahun pernikahanku dan Mas Anggara?""Apa yang akan kamu lakukan, Sofie?!" bentak Yura dengan raut ketakutan.Sebisa mungkin, Yura harus memutarbalikkan keadaan. Jangan sampai semua orang tahu kebenarannya. Apalagi tujuannya datang ke sana demi mendapat teman baru dari kalangan atas."Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya akan mengungkap kebenaran di sini," sahut Sofie santai."Diam!" bentak Yura murka."Kalian tahu?" Sofie mengedar pandang menatap satu per satu penghuni ruangan itu. "Gara-gara Yura yang datang di pernikahan kami dan di hari satu tahun pernikahan kami, aku diceraikan suamiku."Sofie tidak terburu-buru. Dia hanya ingin melihat Yura hancur dengan cara mengungkap kebenaran secara perlahan. Andai wanita itu s
"Bukan itu maksudku, Oxel. Bahkan kartu itu belum aku pakai sama sekali," ucap Sofie berusaha menjelaskan.Kartu yang Oxel berikan pada Sofie belum pernah sekali pun digunakan. Tentu saja karena semua kebutuhan sudah pria itu penuhi. Baik sandang maupun pangan, tanpa kurang suatu apa pun."Lalu?" Oxel ingin Sofie menjelaskan lebih detail."Aku ingin menemani Arsene pergi ke ulang tahun temannya. Dengar-dengar ini bukan perayaan ulang tahun biasa. Jadi, aku ingin kamu menyiapkan gaun edisi terbatas dan hadiah mahal. Kamu tahu maksudku, bukan?" jelas Sofie panjang kali lebar.Jika Oxel belum pernah menemani Arsene ke acara seperti itu, Sofie ingin Memon ini menjadi momen terbaik bagi anak tiri kontraknya. Apalagi mimik sedih yang ditunjukkan ketika mengajaknya. Apa pun yang terjadi, Sofie akan melakukan yang terbaik."Aku mengerti. Aku akan menyiapkan segalanya untukmu juga Arsene," sahut Oxel mantap."Baik, terima kasih." Sofie mengakhiri panggilan dan menatap ke arah samping.Hidup me
"Aaaa!" Yura berteriak cukup keras dengan manik mata terbuka.Dalam hati, Yura menyesali kebodohannya yang mengabaikan peringatan Anggara untuk tidak mengejar Sofie. Andai dia menurut, mungkin dia akan aman dan sedang memilih perlengkapan bayi."A-aku ... aku tidak jatuh?" batin Yura bertanya-tanya. Dia mencium aroma parfum yang terasa sangat lembut di indera penciumannya."Apa kamu baik-baik saja?""Kok aku seperti kenal suara ini?" bisik Yura dalam hati.Sepersekian detik kemudian, Yura membuka mata dan mendapati dirinya berada dalam dekapan seseorang. Sayangnya, seseorang itu adalah Sofie."Lepas, lepaskan aku!" seru Yura ketus.Bertepatan dengan ucapan Yura, Sofie sudah merasa tidak kuat lagi. Tangannya kebas karena menahan tubuh wanita itu yang tengah berbadan dua."Oke." Sofie mengangkat kedua tangan dengan raut santai."Awww! Brengsek kamu, ya!" Yura memekik kesakitan dan mengumpat.Posisi jatuh Yura tidak terlalu tinggi dan cukup aman. Namun karena orang itu Sofie, jadi dia ti
Hanya menatap Sofie sebentar saja sudah membuat Yura mengamuk. Apalagi kalau sampai saling sapa seperti ini. Anggara tidak yakin kejadian di perusahaan tadi tidak akan terulang lagi."Kalau begitu aku permisi, Mas. Kasihan Arsene sudah kelelahan dari pulang sekolah belum istirahat," pamit Sofie mengulas senyum lembut.Untuk apa terus berada di sana sedangkan target sudah melihat. Sofie hanya perlu memberi umpan dan melihat hasilnya nanti. Lagi pula, dia masih ingin bermain-main dan berjanji akan membuat mereka menyesal."Kamu mau ke mana, Sofie?!" teriak Yura dengan langkah besar."Aku mau temani anakku belanja, Yura," sahut Sofie santai.Wanita cantik itu menghentikan langkahnya membuat Arsene pun mengikuti. Dia mengedar pandang menatap orang-orang yang memusatkan atensinya pada Yura. Setelah itu, menoleh ke belakang dan mengedipkan sebelah mata. "Kenapa berhenti, Ma?" tanya Arsene menengadahkan kepala."Tidak apa-apa, Sayang." Sofie membalas, lalu mengusap puncak kepala anak tiri k
Yura berjalan santai sambil bersiul. Suaranya terdengar mengerikan karena diikuti siulan yang memantul. Tatapan matanya terus tertuju pada Sofie yang masih setia berdiri di depan lift. "Ayolah! Kali ini aku tidak akan hanya mencabik-cabik wajahmu, tapi menghabisimu sekaligus," bisik Yura tersenyum jahat. "Mama!" teriak Arsene memanggil. Sontak, Yura langsung menghentikan langkahnya tepat di samping mobil yang baru saja berhenti. "Ah, sial!" Yura mengumpat dalam hati. Selain ada Arsene, Oxel pun baru saja keluar dari lift. Ternyata mereka berdua sengaja ingin menjemput Arsene di sana. Lalu, bagaimana dengan penglihatan Yura yang melihat Sofie tertawa? "Sialan!" Yura mundur perlahan dan sembunyi di balik mobil yang terparkir. Dia menjulurkan kepalanya sedikit dan mulai memperhatikan. "Halo, Sayang." Sofie berjongkok sambil merentangkan tangan membiarkan Arsene masuk ke dalam pelukan. "Bagaimana kegiatan di sekolah hari ini? Apa menyenangkan?" Harusnya Sofie pergi menjempu
Yura menganga dengan manik mata terbelalak. Dia menoleh ke arah Sofie dan melihat betapa santainya wanita itu. Bersandar pada dinding sambil meniup-niup kuku jari tangan. "Sial! Dasar jalang!" umpat Yura nyalang. "A-a-awww! pekiknya kesakitan. Pasalnya, Oxel semakin menekan lengannya kuat-kuat. "Jawab!" bentak Oxel murka. Beraninya Yura mengabaikan pertanyaan Oxel seolah amarahnya sama sekali tidak berarti apa-apa. Apa perlu dia beri pelajaran agar wanita rendahan itu mengerti? "Maafkan istri saya, Pak," kata Anggara dengan jantung yang berdegup kencang. "Maaf?" Oxel tersenyum kecut dan menghempaskan tangan Yura cukup kuat. "Awww!" Yura memekik kesakitan. Istri Anggara ini menatap Oxel sekilas sebelum akhirnya menatap Sofie nyalang. Andai Oxel tidak datang, mungkin dia sudah mencabik-cabik wajah Sofie sampai hancur berantakan. "Apa saya terlihat seperti orang yang mudah diusik, Pak Anggara?" Oxel mengendurkan dasi dengan gigi yang dieratkan. "Bukan begitu maksud saya, Pak. Is
"Apa benar begitu?" tanya Sofie memastikan. Pasalnya Oxel hanya diam dengan raut panik."Hah? Apa?" Oxel yang sedari tadi melamun terlihat terkejut.Sofie berdiri dan menatap Oxel serius. "Kamu marah karena kejadian di kamar mandi?" tanyanya ulang."Ti-tidak. Siapa bilang?" Oxel ikut berdiri dengan nada gelagapan."Lalu apa yang membuatmu marah padaku?' tanya Sofie menatap Oxel lekat."Pekerjaan, yah, masalah pekerjaan." Oxel tersenyum lega karena akhirnya dia menemukan jawaban yang tepat, "Aku sedang bekerja dan kamu juga Arsene datang mengganggu," imbuhnya menyalahkan.Jawaban seperti ini sudah pasti bisa diterima oleh Sofie. Itulah alasan mengapa Oxel terlihat lebih santai daripada sebelumnya. Tidak mungkin bukan kalau wanita itu akan bersikeras dengan masalah di kamar mandi sebelumnya?"Oh." Sofie menganggguk-angguk dan melanjutkan ucapannya. "Kalau begitu, aku keluar dulu. Kamu bisa lanjutkan pekerjaan dan akan ku pastikan kami tidak akan mengganggu.""Mmm," balas Oxel melirik So
Sepersekian detik, Oxel langsung bangkit berdiri, kemudian disusul Sofie. Mereka berdua terlihat sangat canggung hingga pada akhirnya handuk yang melilit di tubuh Sofie terlepas. "Aaa!" Sofie berteriak berusaha menutupi kedua aset berharganya. Dia lekas membungkuk meraih handuk itu, lalu melilitkannya kembali. Sementara Oxel, dia berpura-pura tidak melihat dan menatap ke arah lain. Padahal, dia sempat menyaksikan tubuh molek Sofie dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia hanya tidak ingin membuat situasi tidak nyaman untuk ke depannya. "Kamu tidak melihat, kan?" tanya Sofie panik dengan tangan yang memeluk tubuhnya erat. "Melihat apa? Aku tidak melihat apa-apa," sahut Oxel datar, bahkan raut wajahnya menunjukkan sisi berpikir. "Tidak, tidak ada." Sofie menghela napas lega. "Ya sudah, aku ke ruang ganti dulu." Sofie bersiap keluar kamar mandi, tetapi tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap Oxel curiga. "Tunggu! Kenapa kamu ada di sini? Bukankah seharusn