Malam ini seharusnya menjadi momen perayaan, namun yang terjadi justru sebaliknya suasana penuh ketegangan, seolah badai besar siap menghancurkan segalanya.Di tengah ballroom, Naira berdiri tegap. Sorot matanya tajam, tapi ekspresinya tetap tenang.Naira menghela napas, tak terkejut dengan tuduhan itu. "Bu Maya, yang menghancurkan pertunangan ini bukan aku. Semua bukti sudah jelas, dan itu adalah perbuatan Reyhan sendiri."Bu Maya membanting tasnya ke meja dengan wajah merah padam. "Omong kosong! Aku tahu betul anakku! Reyhan tidak mungkin melakukan hal sekeji itu!"Arga menatapnya tajam, suaranya dingin. "Ibu sebaiknya berhati-hati. Reyhan bukan korban, dia pelakunya. Dan aku tidak akan mempertahankan pegawai yang tak punya integritas."Mata Bu Maya membelalak. "Apa maksudmu?!"Arga menatap Reyhan dengan penuh kekecewaan. "Mulai besok, Reyhan tidak lagi bekerja di perusahaanku."Ruangan menjadi sunyi. Semua mata tertuju pada Reyhan, yang tampak pucat. Ia tertegun sebelum akhirnya mel
Reyhan melangkah gontai memasuki rumahnya yang gelap dan sunyi. Tidak ada suara, tidak ada sambutan.Dia menghela napas berat, melempar jasnya ke sofa, lalu duduk dengan wajah muram. Hari ini adalah salah satu hari terburuk dalam hidupnya.Dihina di depan seluruh kantor, dipermalukan oleh Naira, dan sekarang, pulang ke rumah yang terasa lebih dingin dari biasanya.Sementara itu, di sisi lain kota, Naira baru saja tiba di rumah setelah hari yang melelahkan di kantor.Namun, langkahnya terhenti saat mendapati dua tamu tak diundang berdiri di depan pintu rumahnya.Bu Maya dan Lila berdiri di depan pintu dengan ekspresi keras. Para pelayan sudah mencoba melarang mereka masuk, tetapi mereka bersikeras menunggu, bahkan mengancam akan membuat keributan jika tidak diizinkan bertemu dengan Naira.Naira mengerutkan kening. Dia tidak menyangka mereka akan muncul di sini dengan begitu nekat."Ada keperluan apa datang ke rumahku?" tanya Naira dengan nada dingin, enggan menunjukkan ketidaknyamananny
Malam itu, setelah kejadian penuh ketegangan dengan Bu Maya dan Lila, Naira duduk di sofa panjang dengan tatapan kosong.Tangannya memegang cangkir teh yang sudah mulai dingin, tapi pikirannya jauh melayang.Di luar, hujan mulai turun, rintik-rintiknya mengetuk jendela dengan irama menenangkan.Namun, ketenangan itu tidak mencerminkan apa yang dirasakan Naira saat ini. Ia memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya yang terasa berat.Ponselnya bergetar di meja. Nama Reyhan muncul di layar. Ia mengangkatnya perlahan, membiarkan keheningan menyergap sebelum akhirnya berbicara."Akhirnya kau menelepon," ucapnya dengan nada yang sedingin es.Di seberang sana, suara Reyhan terdengar lelah, penuh frustrasi. "Naira, kita harus bicara.""Tidak ada yang perlu dibicarakan," potong Naira. "Aku sudah memberimu cukup waktu untuk menjelaskan dirimu sendiri. Sekarang, aku hanya menikmati melihat keluargamu mendapatkan balasan yang pantas."Reyhan menghela napas berat. "Aku tahu kau marah. Aku mengerti
Beberapa hari kemudian, rumah keluarga Reyhan dipenuhi ketegangan. Raisa, yang biasanya percaya diri, kini tampak gelisah, terus mengawasi Reyhan yang duduk di sofa dengan tatapan kosong.Sejak pertemuannya dengan Naira di restoran, ia semakin diam, seolah baru menyadari bahwa dunia yang ia kenal telah runtuh."Reyhan, kita harus bicara," suara Raisa terdengar tajam, namun bergetar. Ia mencoba meraih tangan Reyhan, tapi pria itu menarik diri, enggan disentuh."Bicarakan apa?" tanya Reyhan, suaranya datar, nyaris tanpa emosi.Raisa mengepalkan tangannya. "Kita harus menemui ayah dan ibuku. Jika mereka kembali merestui hubungan kita, semuanya bisa seperti dulu lagi."Reyhan menoleh dengan sinis."Kembali seperti semula? Maksudmu kembali saat aku membiarkan Naira menderita dan menutup mata atas kejahatan keluargaku? Saat aku terlalu bodoh mengikuti semua kemauan mereka?"Raisa terdiam, tapi ia tak mau menyerah. "Reyhan, kau tidak bisa terus seperti ini. Kau harus bangkit! Kita masih puny
Setelah seharian bekerja, Reyhan pulang ke rumah dengan langkah berat. Kepalanya dipenuhi berbagai pikiran yang membebaninya.Namun, saat ia baru saja melepas jasnya di ruang tamu, suara lantang ibunya, Bu Maya, langsung menyambutnya dengan keluhan."Reyhan! Kamu harus melakukan sesuatu! Ini sudah keterlaluan!" seru Bu Maya dengan wajah memerah, jelas dipenuhi amarah.Lila, yang duduk di samping ibunya, ikut mengangguk cepat. Wajahnya tampak frustrasi."Benar, Kak! Naira benar-benar melewati batas! Dia telah menghancurkan hidup kita dan sekarang bertingkah seolah tidak peduli!"Reyhan menghela napas panjang, menatap ibunya dan adiknya dengan lelah. "Apa lagi sekarang?"Bu Maya mengibaskan tangannya dengan emosi. "Aku dihina di arisan, Reyhan! Mereka mempermalukanku, menganggap kita penjahat! Dulu mereka menghormatiku, sekarang aku bahkan dikeluarkan dari grup sosialita!""Dan aku..." Lila menimpali dengan suara tinggi. "Di kampus, semua orang menjauhiku! Teman-temanku meninggalkanku,
Suasana ruang rapat di Grup Wijaya terasa tegang. Di ujung meja, Arga duduk dengan ekspresi serius, matanya menatap tajam layar proyektor yang menampilkan desain terbaru yang diajukan Raisa.Para eksekutif saling bertukar pandang dengan wajah tegang, sementara beberapa karyawan mulai mengangkat tangan, menyuarakan keberatan mereka dengan nada khawatir."Ini tidak bisa diterima," suara berat milik Pak Herman, kepala divisi hukum, memecah keheningan."Desain ini sangat mirip dengan salah satu koleksi dari Maison Laverne, desainer terkenal yang memakai nama samaran. Jika ini sampai dipublikasikan, kita bisa dituduh melakukan plagiarisme."Raisa yang duduk di sisi meja, menggigit bibirnya. Wajahnya memerah, baik karena gugup maupun marah. "Saya tidak menjiplak! Saya merancang ini sendiri berdasarkan riset tren pasar dan inspirasi dari berbagai referensi."Arga menggerakkan jarinya di atas meja dengan ritme pelan sebelum akhirnya menatap Raisa dengan tatapan tajam."Referensi atau menyalin
Keesokan paginya, Raisa berdiri di depan ruang rapat dengan napas tak beraturan. Berkas laporan dan hasil desainnya tergenggam erat, tapi rasa percaya dirinya telah lenyap.File aslinya hilang, dan kenyataan pahit menghantamnya. Desain itu bukan miliknya ia membelinya dari situs anonim tanpa tahu asal-usulnya. Kini, tanpa bukti, ia tak bisa membela diri.Begitu ia masuk, ruangan sudah dipenuhi oleh eksekutif Grup Wijaya. Arga duduk di ujung meja dengan ekspresi dingin, matanya langsung mengunci pada Raisa begitu ia masuk.Reyhan duduk bersandar dengan tangan terlipat di dadanya, sementara Naira terlihat tersenyum tipis di sudut ruangan."Baiklah, Raisa," suara Arga terdengar tegas. "Tunjukkan kepada kami bahwa desain ini memang milikmu. Kita tidak bisa menunda proyek lebih lama. Tender akan dibuka dalam waktu dekat, dan kita harus memastikan bahwa desain yang diajukan benar-benar orisinal dan kompetitif."Dengan tangan sedikit gemetar, Raisa mulai menjelaskan. Ia memaparkan referensi
Hari presentasi akhirnya tiba. Suasana ruang rapat Grup Wijaya terasa tegang. Para eksekutif telah berkumpul, menunggu dengan penuh antisipasi untuk melihat hasil desain dari Naira dan Raisa.Arga duduk di kursi utama dengan ekspresi tenang, sementara Reyhan bersandar dengan tatapan tajam dan sedikit senyum meremehkan.Raisa tampak percaya diri, tetapi di balik senyumnya, ada rencana licik yang telah ia jalankan.Naira melangkah ke depan dengan mantap, menyalakan laptopnya untuk memulai presentasi. Namun, begitu layar menyala, ia terkejut. Layarnya kosong. File desainnya hilang.Seisi ruangan mulai berbisik, beberapa di antaranya terdengar meremehkan. "Sepertinya Bu Naira tidak siap," bisik salah satu eksekutif.Reyhan melirik ke arah Arga sebelum berkata pelan, "Aku sudah menduganya." Beberapa eksekutif mengangguk setuju.Sementara yang lain mulai berbisik lebih tajam. "Bu Naira terlihat percaya diri, tapi sepertinya tidak punya desain sama sekali," komentar seseorang. "Mungkin Bu Na
Reyhan jatuh tersungkur di lantai dengan napas terengah-engah. Naira menatapnya dengan campuran keterkejutan dan kebingungan.Bagaimana bisa Reyhan ada di sini? Apa yang sebenarnya terjadi?Pria bertopeng yang tadi menampar Naira menggeram kesal. "Bodoh! Kenapa kau membawa orang lain ke sini? Ini hanya akan menyulitkan kita!""Dia mencoba mengikuti jejak wanita ini," jawab salah satu anak buahnya. "Kami menemukannya mengintai di sekitar lokasi."Naira menatap wajah Reyhan yang penuh luka, alisnya berdarah, dan sudut bibirnya pecah. Matanya perlahan terbuka, menatapnya dengan lemah. "Naira... kau tidak apa-apa?"Naira menelan ludah, berusaha meredam emosi yang berkecamuk di dadanya. "Kenapa kau ada di sini? Apa kau datang untuk menyelamatkanku?"Reyhan tersenyum miris. "Tentu saja. Aku tidak bisa diam saja melihatmu dalam bahaya."Namun, sebelum Naira sempat membalas, salah satu pria bertopeng mengangkat tangannya, hendak memberikan pukulan lagi.Namun, sebelum tangannya bisa mendarat,
Suasana kantor masih terasa sibuk saat Naira melangkah keluar dari ruangannya. Sudah sore, tetapi karena kejar target, banyak karyawan masih lembur, termasuk Arga yang masih fokus di ruangannya.Sebelumnya, Arga sempat menawarkan diri untuk mengantarnya pulang."Aku bisa mengantarmu, sayang. Hari ini kau terlihat lebih lelah dari biasanya," katanya dengan nada penuh perhatian.Namun, Naira tersenyum kecil dan menggeleng. "Tidak perlu, aku bisa sendiri. Lagipula, aku sudah berjanji dengan ibu untuk pergi ke salon bersama."Arga menghela napas sebelum mengangguk. "Baiklah, kalau begitu hati-hati. Jangan lupa beri kabar kalau sudah sampai."Naira tersenyum, lalu melangkah mendekat dan memeluk suaminya erat. "Aku akan baik-baik saja, jangan khawatir."Arga mengecup puncak kepalanya dengan lembut. "Tetap hati-hati, sayang."Di rumah, Naira mengambil tasnya dan bersiap pergi. Sebelum keluar dari pintu, ia menoleh ke arah Arga yang masih berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan cemas.Ia k
Pagi itu, suasana kantor dipenuhi kesibukan seperti biasa. Namun, bagi Reyhan, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya.Kepalanya masih dipenuhi oleh masalah dengan Raisa dan tuntutan pernikahan yang terus menghantuinya.Saat ia melangkah masuk ke ruangannya, matanya langsung menangkap sosok Naira yang baru saja hendak keluar dari ruangan.Namun, begitu melihat Reyhan, Naira dengan cepat menghindar, berpura-pura sibuk dengan berkas di tangannya.Reyhan mengerutkan kening. "Naira."Naira berhenti sejenak, namun tidak menoleh. "Aku sedang sibuk, Reyhan. Kita tidak perlu bicara."Reyhan menghela napas panjang. Ia melangkah mendekat, namun Naira justru semakin menjauh, seolah enggan berada di dekatnya lebih lama."Kau menghindariku?" tanya Reyhan dengan nada datar, namun matanya menelisik tajam.Naira tertawa kecil, tetapi tanpa humor. "Aku hanya tidak punya waktu untuk membicarakan hal yang tidak penting.""Aku baru saja kemarin mendatangi rumahmu," kata Reyhan, suaranya lebih rendah
Reyhan menatap Bu Ratna dan Pak Alfian dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ada amarah, frustasi, dan kepasrahan dalam satu waktu.Pernikahan? Dengan Raisa? Semua ini terasa seperti jebakan yang sudah dirancang matang, seolah mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk menjebaknya sepenuhnya.“Aku butuh waktu,” akhirnya Reyhan berkata, suaranya serak dan berat.“Tapi Reyhan—” Raisa mencoba berbicara, namun ia terdiam ketika melihat tatapan dingin yang diberikan Reyhan padanya.“Jangan paksa aku mengambil keputusan sekarang.” Ia mengalihkan pandangannya ke arah Bu Ratna dan Pak Alfian. “Aku akan bertanggung jawab atas anak ini, tapi pernikahan bukan sesuatu yang bisa diputuskan dalam satu malam.”Bu Ratna hendak membantah, tetapi Pak Alfian menepuk tangannya pelan, memberi isyarat agar diam. “Baiklah, Reyhan. Kami akan memberimu waktu. Tapi jangan terlalu lama. Anak ini membutuhkan kepastian.”Reyhan tidak menjawab. Ia hanya menatap Raisa sejenak sebelum berbalik dan melangkah keluar da
Reyhan berdiri di depan pintu apartemen Naira yang kini tertutup rapat, seperti tembok yang tak mungkin ia tembus lagi.Jemarinya masih menggenggam erat gelang kecil itu, seakan bisa menghidupkan kembali waktu yang telah hilang. Tapi tidak. Waktu tak akan pernah bisa diputar kembali.Dadanya terasa sesak. Bukan hanya karena kata-kata tajam Naira, tetapi juga karena kenyataan yang harus ia hadapi.Wanita yang dulu begitu mencintainya, kini bahkan tak lagi ingin melihatnya. Wanita yang pernah ia abaikan, kini membalasnya dengan tatapan dingin yang menusuk.Dan ironisnya, di saat ia baru menyadari betapa berharganya Naira, semuanya telah terlambat.Dari balik jendela, Naira berdiri diam, menyaksikan sosok Reyhan yang mulai melangkah pergi.Ia seharusnya merasa puas, seharusnya merasa menang karena bisa melihat pria itu merasakan kepedihan yang dulu pernah ia rasakan.Tapi mengapa ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa begitu sakit? Jemarinya menggenggam kerah gaunnya, berusaha menahan s
Reyhan berdiri di depan pintu apartemen Naira, dadanya naik turun dengan napas yang tertahan.Tangannya terangkat, ragu-ragu sebelum akhirnya mengetuk. Tiga ketukan pelan namun penuh harap. Hening. Tidak ada jawaban.Ia menelan ludah, lalu mengetuk lagi. Kali ini lebih keras. Jantungnya berdetak lebih cepat saat langkah kaki terdengar dari dalam.Tak lama kemudian, pintu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok yang selama ini menghantuinya dalam setiap mimpi buruk dan penyesalan.Naira.Wanita itu berdiri di hadapannya dengan tatapan yang dingin dan datar, seolah kehadirannya bukanlah sesuatu yang berarti.Rambut panjangnya tergerai rapi, wajahnya cantik seperti yang selalu Reyhan ingat, tetapi ada sesuatu yang berbeda.Mata itu, mata yang dulu penuh cinta saat menatapnya, kini hanya dipenuhi dengan sesuatu yang jauh lebih tajam. Jauh lebih berbahaya.Reyhan merasa dadanya sesak."Ada apa?" suara Naira terdengar tenang, hampir terlalu tenang, seolah ia tidak terganggu sedikit pun denga
Raisa duduk di depan layar laptopnya, matanya memandang kosong pada layar yang menampilkan satu lagi email penolakan.Tangannya mengepal erat, wajahnya memerah karena frustrasi. Sudah lebih dari dua puluh perusahaan yang ia lamar, namun semuanya menolak tanpa memberikan alasan yang jelas."Ini pasti ulah Arga!" desisnya marah, suaranya penuh kebencian.Ayahnya, Pak Alfian, berdiri di belakangnya dengan wajah keruh. Sebagai seorang pengusaha senior, ia masih memiliki pengaruh.Namun setiap kali ia mencoba menghubungi kenalan bisnisnya untuk membantu Raisa mendapatkan pekerjaan, mereka selalu menolak secara halus atau bahkan langsung memutuskan komunikasi, seolah takut hanya dengan menyebut nama keluarganya."Aku tidak mengerti, Raisa," kata Pak Alfian, suaranya berat dan penuh ketakutan. "Bahkan perusahaan-perusahaan yang berutang budi padaku pun menolak membantumu. Ini... ini bukan kebetulan." Raisa menggertakkan giginya, tangannya mencengkeram ujung meja hingga buku-buku jarinya memu
Malam itu, di kamar mereka yang remang-remang dengan pencahayaan hangat, Arga menatap Naira yang tengah bersandar di dadanya.Jemarinya dengan lembut memainkan rambut istrinya, sementara pikirannya masih dipenuhi dengan kejadian hari itu."Jadi, apa rencanamu selanjutnya setelah Raisa dipecat?" Arga bertanya dengan suara rendah, matanya penuh perhatian menatap wajah Naira.Naira tersenyum tipis, sorot matanya penuh tekad. "Aku ingin dia kehilangan segalanya, pekerjaan, reputasi, dan setiap peluang di dunia bisnis. Biarkan dia merasakan kehancuran yang sama seperti yang dia rencanakan untukku."Arga mengangguk, ekspresinya tetap tenang meski ada kilatan tajam di matanya. "Aku bisa mengurus itu. Aku akan menghubungi beberapa koneksi dan memastikan tidak ada satu pun perusahaan besar yang mau menerimanya."Naira mengangkat wajahnya, menatap Arga penuh cinta. "Terima kasih, sayang. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu."Arga mengusap pipi istrinya dengan lembut, menatapnya dengan sorot mata t
Naira masih berbaring di sofa, merasakan kehangatan genggaman tangan Arga. Meski tubuhnya lelah, hatinya terasa lebih ringan setelah semua yang terjadi.Arga duduk di sampingnya, jemarinya mengusap lembut punggung tangannya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir.Naira mengangguk pelan. "Aku hanya butuh sedikit waktu untuk beristirahat. Terima kasih karena selalu ada untukku."Arga tersenyum, lalu menghela napas panjang. "Aku sudah memecat Raisa. Dia tidak akan mengganggumu lagi. Kau tidak perlu khawatir tentangnya."Naira terdiam sesaat, lalu mengangguk kecil. "Terima kasih, Arga. Aku tidak ingin hal ini berlarut-larut."Arga menatapnya dengan penuh kelembutan. "Kau sudah bekerja terlalu keras. Aku ingin kau pulang lebih awal hari ini dan beristirahat dengan baik. Aku akan mengurus semua urusan di kantor."Naira tersenyum kecil, merasa lega karena Arga begitu memperhatikannya. "Baiklah, aku akan pulang lebih awal."Arga mengusap pipinya perlahan. "Aku akan mengantarmu s