Home / Romansa / Diblokir Tetangga / 75. Menjadi Pesakitan

Share

75. Menjadi Pesakitan

Author: Amaliyah Aly
last update Last Updated: 2023-03-21 10:23:03

[Kamu di mana, In?]

Satu pesan masuk datang dari Rudi. Ia sedang menunggu Inamah. Ada banyak hal yang harus disampaikan.

[Taman depan, dekat pintu utama.]

Balas Inamah cepat. Tak lama, usai membalas. Seseorang berjalan mendekat ke arahnya. Rudi.

"Mas?"

"In?"

Keduanya saling bertegur sapa. Rudi menatap dengan perasaan tak enak. Hatinya resah, mendadak nyalinya menciut.

"Maaf, tapi aku nggak bisa lama, Mas. Pekerjaanku menunggu," ucap Inamah.

"Kamu kerja di mana?" tanya Rudi berbasa-basi.

"Ada hehe."

Inamah tak ingin ada yang tahu. Di mana saat ini ia tinggal. Sekalipun itu Rudi. Menjaga privasi sebaik mungkin. Sebab ia harus fokus pada kebahagiaan Kia dan juga keamanannya. Tak ingin putri kecilnya terlibat dengan orang-orang di masa lalu.

"Aku cuman mau bilang, minggu depan aku menikah dengan Andin. Kamu bisa datang?"


Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

  • Diblokir Tetangga   76. Tak Mau Peduli

    "In, kamu beneran nggak mau tahu soal Lastri?"Mas Rudi masih saja membahas perempuan itu. Jangankan mencari tahu tentangnya, menyebut atau mendengar saja rasa hati ini sangat gerah."Enggak, Mas. Nggak penting. Ngapain juga," jawabku malas."Oh, ya udah kalau begitu. Sekarang kamu bagaimana? Ibu mertuamu?""Udah. Aku tadi udah ketemu. Sekadar besuk aja, sih Mas. Nggak ada lagi yang perlu dibahas. Oh, ya. Aku usahain datang ke pernikahan kamu sama Andin. Semoga Allah lancarkan semuanya, ya." Kuakhiri perbincangan dengan Mas Rudi. "Iya, kamu juga. Semoga segera dipertemukan dengan jodoh yang lebih baik," ucap Mas Rudi."Aamiin."Aku pamit tanpa berbasa-basa lagi. Karena sudah hampir sore dan aku harus segera kembali. Tak enak sama Mirna. Dia pasti kerepotan sekali. Hidup itu kadang aneh. Kupikir, Mas Rudi akan terus bertahan dengan rasa cintanya kepada Mbak

    Last Updated : 2023-03-22
  • Diblokir Tetangga   77. Dilema

    "In, kok malah melamun!" Mbak Mirna membuyarkan lamunanku. Aku sampai lupa bahwa sedang mencatat barang apa saja yang harus dibeli untuk belanja esok hari. "Iya, Mbak. Maaf," kataku."Lima hari lagi ada acara besar di sini. Jangan sampai ada yang kelewat. Ayo semangat." Aku tersenyum menanggapi Mbak Mirna lalu kembali mencatat daftar belanja. Ia mendikte apa saja yang harus dibeli. Ya, akan ada acara Tabligh Akbar di Pondok Pesantren As Salam ini. Kabarnya, akan diisi oleh seorang Ustaz kondang di Surabaya. Juga sebagai ajang silaturahmi karena menghadirkan tamu-tamu dari pendiri Ponpes di daerah sekitaran Surabaya. Gresik dan Sidoarjo termasuk di dalamnya. Begitupun para santri putra dan putri. Semua akan hadir bersama dengan pembagian tempat yang berbeda. Juga perwakilan dari daerah lain. Ada yang resah di dalam hatiku. Dua nama yang akhir-akhir ini membuatku sedikit terganggu. Mas Fadhil dan

    Last Updated : 2023-03-23
  • Diblokir Tetangga   78. Pertemuan Penting

    Ada tiga penghancur paling ampuh yang membuat manusia tak berdaya dan membuatnya tersungkur dalam kehinaan. Ketiga hal itu adalah harta, tahta dan wanita. Jika tak pandai menahan diri. Apa yang berhasil didapatkan, akan sia-sia saja rasanya. *** Semilir angin nan lembut menelisik dedaunan. Ranting dan daun yang bergesekan, menimbulkan irama gemerisik yang khas. Gelisah.Satu kata yang merambati hati Inamah. Baru saja ia memantapkan diri untuk menggugat cerai suaminya. Kini, ia kembali dilema. Apa yang paling mudah berubah bagi seorang manusia selain hati? Segumpal daging yang tersembunyi itu sungguh tak pernah bisa ditebak dalamnya. Bahkan, oleh pemiliknya sendiri. Hingga pukul dua dini hari. Inamah belum juga terpejam. Kedua matanya menatap fokus pada pesan-pesan yang Bram kirimkan. Termasuk lembaran foto sertifikat rumah milik suaminya itu. Yang mencantumkan namanya sebagai Sang Pemilik dengan jelas. Setitik air perlahan meluncur dari kedua mata Inamah. Ia tak ingin bermain-ma

    Last Updated : 2023-03-27
  • Diblokir Tetangga   79. Kritis

    "Ada perlu apa, Ummi?""Ini terkait urusan Pondok, Nduk. Nggak papa. Sebentar saja, kok."Inamah mengangguk. Ia lalu berjalan ke arah simbok. Ditepuknya pelan lengan perempuan yang kulit tubuhnya sudah mengeriput itu."Iya, kenapa, Nduk?" "Inamah izin keluar sebentar. Ada Ustazah Shafa."Simbok menoleh. Lantas tersenyum ke arah Ustazah Shafa. Ingin menyalami, tapi karena tangannya yang cukup kotor membuat Simbok segan. Ditangkupkannya saja dua tangan di depan dada. Memberi salam. Ustazah Shafa mengangguk. Lantas mengajak Inamah berlalu pergi. *** Di dalam ruangan khusus untuk para guru. Inamah dan Ustazah Shafa tengah berbicara serius. Ibu satu anak itu mendengarkan semua penuturan Ustazah Shafa. Juga mengklarifikasi apa saja yang menjadi permasalahan yang tak ia ketahui. "Jika dirasa merepotkan dan terbebani. Boleh Inamah memikirkan ulang tawaran Ummi.

    Last Updated : 2023-03-28
  • Diblokir Tetangga   80. Cambuk Atas Kepergian Ibu

    Memilih pulang atau tetap bertahan di sini. Masing-masing pilihan tentu mendapat konsekuensi. Aku ... entahlah. Kembali ke tempat Mas Bram. Sama saja menelan ludah sendiri. Mati-matian aku ke luar dari cengkeramannya. Memutus hubungan sepihak atas beragam pengkhianatannya. Juga ... gugatan cerai yang tak mungkin aku tarik begitu saja. Dilema.Sementara, jika aku tetap di Pondok. Urusan pribadiku yang belum selesai dan terus berbuntut. Tak ayal membuat pekerjaanku berantakan. Belum lagi Mbak Mirna yang mulai 'risih' terhadapku. Harus bagaimana?*** Tok! Tok! Kuketuk pintu ruang guru. Seperti biasa, ada Ustazah Ana yang berjaga. "Assalamualaikum," ucapku memberi salam. "Wa alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Iya, kenapa, Nduk?" Ustazah Ana mengerutkan dahi begitu melihatku di depan pintu. "Ada yang mau Inamah bicarakan. Boleh minta waktunya sebentar Ustazah?" 

    Last Updated : 2023-03-29
  • Diblokir Tetangga   81. Terlambat

    Suasana duka masih kental terasa. Isak tangis yang terdengar dari kediaman Ani, belum sedikit pun mereda. Terlebih rasa kehilangan dan penyesalan yang menyelimuti hati Inamah. Semakin detik bertambah, semakin besar pula rasa bersalah yang bersarang dalam hatinya. Inamah merutuki diri karena tak menemani detik-detik perempuan yang statusnya masih resmi sebagai ibu mertuanya itu. Hingga akhirnya ajal datang menjemput. Kedatangan Inamah pun tak bersambut. Sesekali Inamah mengusap sudut mata, hatinya perih, teringat momen di mana Ani berulang kali menyebut namanya. Ia merasakan luka yang tak akan pernah bisa ia tebus dengan cara apa pun. Mengingat kala Ani sekuat tenaga menyebut namanya. Jelas sekali, ada pengharapan besar di sana. Ada rahasia yang ingin Ani tunjukkan pada Inamah. Tentang jati diri Lastri dan misi apa yang telah ia bawa. Andai saja waktu dapat berputar. Juga umur yang dapat ditarik kembali. Ingin sekali Inamah memacu langkahnya agar bisa hadir sebelum mau

    Last Updated : 2023-03-30
  • Diblokir Tetangga   82. Rusuh

    Silih bergantian para pelayat yang datang. Berbela sungkawa atas meninggalnya Ani, mertua Inamah. Hingga hampir tengah hari, Bram belum juga tampak batang hidungnya. Selama itu pula, Inamah harus menerima tamu seorang diri. "Ibu mertuamu sakit apa, sih, Nduk?" tanya salah seorang pelayat. "Kata Mas Bram, stroke sama darah tinggi." Inamah menjawab setahunya saja."Waktu dibawa ke rumah sakit. Ibu lihat kamu ndak ada, ke mana?" sahut ibu-ibu yang lain. Inamah tersenyum tipis. Duh. Harus jawab apa?"Kamu ini gimana, sih. Yuk. Kata Bram, 'kan istrinya sedang ada di Pondok. Iya, Nduk?" Degh!Inamah menatap ke arah perempuan muda seumuran bibinya yang menjawab barusan. Jadi, Mas Bram tahu selama ini aku di pondok? Batin Inamah.Bude Fitri yang tanpa sengaja mencuri dengar pembicaraan itu mendadak penasaran."Eng, i-iya, Bu." Inamah menjawab terba

    Last Updated : 2023-03-31
  • Diblokir Tetangga   83. Dibalik Kematian Ibu

    "Aku cuman mau ngasih tahu kalau dia kamu manfaatkan, Mas! Biar sadar! Biar melek! Dia yang jadi benalu hubungan kita!"Suara Lastri terdengar hingga ke ujung gang. Tak peduli dengan pandangan orang-orang. Kuikuti saja langkah kaki menyusul ke mana Mas Bram dan Lastri pergi. Kurang ajar sekali mereka. Tak tahu malu. Sudah tahu suasana sedang berduka. Bahkan makam ibu pun masih basah. Aku akan membuat perhitungan."Mbak In, ada apa?" Kuangkat kepala, Bu Yana tetanggaku bertanya. "Nggak papa, Bu. Ada urusan.""Tapi, itu. Si Lastri teriak-teriak dijalan sambil diseret Bram? Ada apa, Mbak?" tanyanya lagi.Aku menggeleng sambil tersenyum tipis. Bukan saatnya untuk menyiakan kesempatan."Iya, ada urusan. Saya pamit sebentar, Bu."Kembali kulangkahkan kaki semakin cepat karena jarakku dengan Mas Bram tertinggal jauh. Beberapa yang bertanya tak kuhiraukan. Memilih bungkam saja l

    Last Updated : 2023-04-01

Latest chapter

  • Diblokir Tetangga   129. ENDING

    Waktu bergulir kian cepat. Jejak-jejak masa lalu tinggallah serpihan yang tak perlu diingat. Aku bahagia dengan kehidupanku. Menikmati peran menjadi seorang istri, ibu dan juga menantu.Lima belas tahun lebih berselang. Usiaku sudah melewati kepala empat bahkan hampir lima. Hidupku begitu bahagia. Tinggal di bawah atap yang dinaungi dengan iman dan taqwa. Masih di kediaman Abah Yai. Hati dan jiwaku seakan tertahan. Enggan untuk pergi dari sini. Bude Ningsih tutup usia dua tahun yang lalu.  Beliau tak mengalami sakit. Tepat saat sedang salat Magrib berjamaah. Tiba-tiba saja sudah tak sadarkan diri. Ketika dibawa ke rumah sakit. Ternyata beliau sudah tak ada.Mas Fatih menepati janjinya. Hatiku sakit, saat tahu bahwa kedai warung milikku bukan mengalami kebakaran secara sendirinya. Melainkan ada dalang di balik itu. Suami Mbak Daya, namanya Mas Hilal, entah dendam apa yang ia miliki. Entah motif apa yang membuat ia tega membakar kedaiku. Pada

  • Diblokir Tetangga   128. Hasil USG

    Mas Fatih menuntunku berjalan dengan hati-hati. Perhatian dan perlakuannya selalu membuatku nyaman. Kami sudah tiba di tempat praktik dokter kandungan. Seperti rencana awal, hendak melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin anak kami. "Duduk di sini dulu ya, Dek," ucapnya.Aku mengangguk. Mas Fatih berjalan menuju tempat pendaftaran. Sambil menunggu, kuedarkan pandangan ke sekeliling. Ada pula pasangan suami istri yang mengantri sama sepertiku. Seorang perempuan berkerudung lebar tersenyum ramah. Kulihat perutnya sedikit membuncit, mungkin tengah hamil.  "Mau periksa ya, Mbak?" tanya perempuan yang sedari tadi kuperhatikan. Ia duduk tepat di sebelahku. "Iya, Mbak. Mbak periksa juga, ya?" tanyaku balik.Perempuan itu mengangguk. "Sudah berapa bulan?" Aku bertanya lagi. Sebuah senyum kecut kulihat. Perempuan itu menggeleng. Seperti ada kepedihan yang tersirat di wajahnya. Ya Allah,

  • Diblokir Tetangga   127. Pamit

    "Rumah ini milik bersama, Nduk. Jangan merasa sungkan. Ummi sama Abah hanya ingin yang terbaik buat kamu dan calon cucu kami." Aku terharu mendengar ucapan Ummi. Tak ada yang kurang. Semua begitu menghargai dan menyayangiku. Namun, hati ini masih berat jika harus tinggal seterusnya di sini. "Terima kasih banyak Ummi.""Sama-sama, Nduk. Sudah sekarang istirahat saja, ya. Ummi mau nemenin Abah dulu.""Nggih, Ummi."Mertuaku itu berlalu meninggalkan kamar. Tinggal aku di sini bersama Kia dan Bude Ningsih. *** Mencoba bicara dari hati ke hati. Aku paham sekali bagaimana watak Bude Ningsih. Beliau orangnya nggak enakan. Lebih sering merendahkan diri. "Bude," panggilku."Iya, Nduk?""Semisal kita benar jadi tinggal di sini bagaimana?" "Horeee! Asiiiik! Tinggal di sini seterusnya, Mi?" Pertanyaan kulempar pada Bude Ni

  • Diblokir Tetangga   126. Melebur Bersama Duka

    Dalam hidup, kita tidak pernah bisa membuat semua orang menjadi suka. Sedikit banyak, akan  ada saja orang-orang yang membenci. Entah itu sebuah penyakit hati berupa iri dengki, atau Allah memang tengah menguji kesabaran hambanya. *** Pagi telah kembali tiba. Di sebuah klinik dokter spesialis kandungan. Inamah dan Fatih menunggu dengan harap-harap cemas hasil pemeriksaan. Beruntung karena klinik yang Fatih kunjungi buka selama 24 jam. Inamah langsung cepat ditangani. Tanpa menunggu-nunggu lagi. Satu hal yang lagi-lagi patut disyukuri. Karena kecekatan Inamah selama ini. Fatih tak perlu dipusingkan dengan noda pakaian yang membekas darah di belakang gamis Inamah. Karena Inamah selalu menyimpan stok ganti di bangku belakang. "Jadi, bagaimana, Dok?" tanya Fatih dengan raut cemas. Begitupun dengan Inamah, ia tengah berbaring di atas brankar pasien. Pasca menjalani pemeriksaan usg. "Sudah saya cek. Usia kehamilan memasuki tujuh

  • Diblokir Tetangga   125. Hancur dan Berserakan

    Malam beranjak semakin matang. Udara yang dingin, perlahan menerobos masuk lewat celah lubang angin. Sesekali dengung bunyi binatang malam masih terdengar. Meski bersahutan dengan riuh dedaunan yang tergesek angin. Kamar yang sedang ditempati Kia berada di sisi sebelah kiri. Di mana, halaman sampingnya ditumbuhi dua pohon mangga yang berdaun lebat. Jika Kia dan Bude Ningsih sudah terlelap dalam tidurnya, serta terbuai dalam mimpi mereka masing-masing. Hal tersebut tidak berlaku untuk Inamah. Pertanyaan Kia yang terus terngiang di telinga, membuat Inamah sedikit banyak kepikiran. Bram, masa lalunya yang bahkan kini keberadaannya sudah tak ada lagi di dunia, justru menghantui isi kepala. Inamah bangun dari posisi berbaring. Ia duduk lalu sedikit memundurkan posisinya, berganti menyender ke dinding. Ia sedang berpikir, bagaimana mencari cara agar bisa menjelaskan pada putrinya kelak. Sebuah penghianatan, haruskah ia ulas pada gadis yang bahkan usianya saja

  • Diblokir Tetangga   124. Wejangan Ibu Mertua

    Semilir angin malam yang sejuk membelai lembut wajah Inamah. Ia duduk di teras rumah. Seorang diri dengan kepala yang bersandar di dinding. Sesekali dilihatnya gawai, memastikan bahwa jam sembilan malam belumlah datang. Ia menunggu, kabar dari suami bahwa Kia masih hidup membuatnya teramat bahagia. Hingga ia lupa diri. Menyiapkan aneka makanan kesukaan sang putri sejak sore tadi. "Nunggunya di dalam saja, Nduk." Inamah menoleh. Di dekat pintu, dilihatnya Bu Nyai mendekat. Setibanya di samping Inamah. Bu Nyai menyentuh pelan pundak kanannya. "Di sini dingin," ujar Bu Nyai lagi. Kedua matanya menatap hangat. Tahu bahwa menantunya itu sedang tak sabar, tapi mengingat kondisinya yang sedang hamil muda juga pingsan berulang kali sejak pagi. Membuat Bu Nyai lebih khawatir akan kesehatan Inamah. "Nggih, Ummi."Merasa tak enak. Inamah lantas menurut. Ia bangkit dari duduk. Mengikuti ajakan Bu Nyai, yang kini menggirin

  • Diblokir Tetangga   123. Menjemput Jenazah Putriku

    Lebih cepat. Ingin segera sampai. Berpacu bersama sang waktu. Diselingi sudut-sudut hati yang menjerit. Doa tak lupa sentiasa terselip. Sebentar saja, tak ingin sampai kedatangannya terlambat dan berakhir dengan sia-sia. Fatih menghela napas berat berkali-kali. Pikirannya bercabang menjadi dua. Di satu sisi, ada Inamah yang terpaksa ia tinggalkan dalam keadaan pingsan. Di sisi lain, ada Kia dan juga Bude Ningsih. Yang saat ini, entah bagaimana keadaan dua orang itu. Pasca kecelakaan bus yang ditumpangi saat rekreasi."Hallo, saya minta tolong segera kirimkan alamat rumah sakitnya."Fatih menghubungi salah seorang guru Kia. Percuma jika menunggu respon, ia ingin segera tahu kabar putrinya itu secara langsung. Meski bukan anak kandungnya, Fatih begitu tulus menyayangi seperti anak sendiri. "Di rumah sakit umum Bakti Husada Batu Malang, Pak. Saya kirimkan alamat lokasinya di pesan, ya.""Iya. Saya tunggu dengan seg

  • Diblokir Tetangga   122. Bahagia Sekejap Saja

    Hatiku resah. Ada yang tak nyaman di dalam sini. Bagaimana bisa aku tergerak untuk mengizinkan seseorang menempati 'rumah kami'. Karena meski jarang ditempati, tapi jika sudah menyangkut tentang hak milik. Rasanya aku tak bisa. Sudah masuk ranah privasi.  "Dek." Panggilan Mas Fatih kembali membuyarkan lamunanku. Seulas senyum tersungging di bibir. Ia mendekat lalu mengusap puncak kepala. Matanya melebar, lalu jemari tangannya mencolek hidungku gemas. "Mas bercanda, Sayang. Khalid sudah punya rumah sendiri kok. Tak mungkin juga Mas membagi tempat tinggal kita dengan yang lain," ujarnya. "Hem? Apa?" Aku membelalak. "Beneran, Dek. Khalid sudah punya tempat tinggal sendiri. Mas hanya menggoda Adek saja." "Ihh! Mas Fafih!"Aku menepuk lengannya dengan tangan kanan. Bukannya mengelak, ia malah mendekat. "Sebelah sini aja," ujarnya sambil menunjuk pipi kanan. "Masa iya di pipi?""Kalau di pipi

  • Diblokir Tetangga   121. Memangkas Jarak

    "Yang ini bagus nggak, Mas?" Kutunjukkan gawaiku pada Mas Fatih. Ia menoleh sekilas lalu menggeleng pelan. Kami sedang tiduran di atas ranjang dengan selimut tebal yang membungkus hingga sebatas perut. Kebetulan ini hari minggu. Mas Fatih sedang libur. Sementara Kia, sejak jumat pagi ia bersama Bude Ningsih. Ada acara rekreasi dari sekolahnya. Berhubung aku sedang hamil muda, jadi Bude yang menemani.Kusandarkan kepala di lengan kiri suamiku itu. Kedua mataku terbelalak setelah menggeser layar gawai. Di dalam layar tampak pakaian bayi berwarna putih polos dengan bulat-bulat kecil berwarna biru sebagai motifnya. Pasti kali ini Mas Fatih setuju. Mengingat, motifnya yang sedikit, tak sebanyak yang pertama tadi.Kuakui, saat ini aku berada dalam fase demam belanja online. Entah apa sebabnya. Mungkin, efek kehamilan yang kedua ini.Berbeda dengan kehamilanku yang dulu waktu mengandung Kia. Kali ini, entah kenapa aku lebih senang be

DMCA.com Protection Status