Share

Bab 24

last update Huling Na-update: 2025-03-04 17:03:05

Suara tembakan masih bergema ketika Ayla dan Leon berlindung di bawah meja café yang hancur. Kaca pecah berserakan di lantai, aroma bubuk mesiu bercampur dengan bau kopi yang tumpah. Teriakan para pengunjung menggema, beberapa berlari ke luar, yang lain berjongkok ketakutan.

Leon menyumpah pelan, matanya menyipit ke arah luar. “Ini kerjaan Gabriel. Dia ingin memastikan kita tahu siapa yang berkuasa.”

Ayla menarik napas dalam, menekan rasa paniknya. Ia tahu dunia Dimitri tidak akan pernah aman, tapi ia tidak menyangka akan terlibat langsung dalam aksi penyerangan seperti ini.

“Lari ke belakang,” bisik Leon. “Aku akan mengalihkan perhatian mereka.”

Ayla menatapnya tajam. “Kau pikir aku tidak bisa mengurus diriku sendiri?”

Leon menyeringai meski di bawah ancaman bahaya. “Aku tahu kau bisa. Tapi aku juga tahu kau lebih pintar daripada melawan tanpa rencana.”

Ayla tidak bisa membantah. Saat suara tembakan sedikit mereda, Leon melompat keluar dari persembunyian, menembakkan pistol yang enta
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Kaugnay na kabanata

  • Dendam Sang Primadona   Bab 25

    Asap hitam membubung tinggi di langit Ravenhurst, menciptakan siluet menyeramkan di tengah kobaran api yang melahap gudang. Angin malam membawa aroma mesiu dan kayu terbakar, mengaburkan penglihatan sesaat sebelum gelombang panas merayap mendekat.Dimitri tetap berdiri di tempatnya, tubuhnya tegap seperti patung batu, sorot matanya gelap dan penuh arti. Ia tak berkedip menatap kehancuran di depannya, seolah menikmati pemandangan itu. Ayla berdiri di sampingnya, napasnya masih tersengal setelah pelarian mereka dari dalam gudang.“Kita harus pergi,” ucapnya tegas.Dimitri menoleh perlahan, tatapannya tajam. “Gabriel akan tahu siapa yang menghancurkan ini.”Ayla menggigit bibir. “Itu memang yang kau inginkan, bukan?”Dimitri tidak menjawab, hanya berbalik dan melangkah menuju mobil. Ayla mengikutinya, menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah dalam pria itu. Ia tidak hanya sedang bertarung dengan Gabriel, tapi juga dengan dirinya sendiri.Di dalam mobil, Leon duduk di kursi belakang denga

    Huling Na-update : 2025-03-04
  • Dendam Sang Primadona   Bab 26

    Ayla mengamati Gabriel dengan saksama, mencoba menafsirkan setiap gerakan dan ekspresinya. Pria itu memang terlihat santai, tetapi Ayla tahu betul bahwa di balik senyuman penuh kesombongan itu tersembunyi bahaya yang tak terduga.Dimitri tetap diam, membiarkan ketegangan di antara mereka semakin menebal.“Jadi, apa ini pertemuan damai?” tanya Gabriel dengan nada main-main. “Atau kau datang hanya untuk memastikan aku masih hidup setelah ledakan kecil yang kau buat?”Dimitri akhirnya berbicara, suaranya rendah dan dingin. “Aku datang untuk memberimu kesempatan terakhir.”Gabriel menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan santai. “Kesempatan? Kau terdengar seperti seseorang yang menganggap dirinya berada di atas segalanya, Dimitri.”Ayla melirik ke arah Dimitri, melihat bagaimana rahangnya mengeras. Ia tahu Dimitri tidak suka berbasa-basi.“Ini bukan tentang siapa yang lebih tinggi,” lanjut Dimitri. “Ini tentang siapa yang akan tetap berdiri pada akhirnya.”Gabriel meneguk whiskey-nya sebelum

    Huling Na-update : 2025-03-05
  • Dendam Sang Primadona   Bab 27

    Malam itu, langit di Velmont City tampak kelam. Lampu-lampu kota berpendar di kejauhan, tetapi bagi Ayla, kegelapan di dalam pikirannya jauh lebih pekat.Dimitri berdiri di depan jendela apartemen, menyesap whiskey-nya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ayla tahu pikirannya masih terjebak dalam percakapan terakhir mereka dengan Leon.“Kau benar-benar ingin memberinya kesempatan?” tanya Ayla akhirnya, memecah keheningan.Dimitri menoleh, menatapnya dalam. “Aku tidak memberi kesempatan, Ayla. Aku hanya memberinya tali untuk menggantung dirinya sendiri.”Ayla menelan ludah. Ia tahu Dimitri bukan tipe yang mudah percaya. Jika Leon memang berkhianat, maka kesempatan ini bukanlah penyelamatan—ini adalah jalan menuju kehancurannya.Victor masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi serius. “Tim kita sudah mulai menyelidiki catatan transaksi yang Gabriel tunjukkan. Beberapa di antaranya bisa saja dimanipulasi, tetapi ada satu hal yang menarik...”Dimitri mengangkat alis. “Apa?”Victor meletakkan

    Huling Na-update : 2025-03-06
  • Dendam Sang Primadona   Bab 28

    Velmont City tampak tenang di permukaan, tetapi di bawah gemerlapnya, perang dingin mulai memanas. Ivy Larchmont bukan sekadar ancaman baru—dia adalah teka-teki berbahaya yang bisa mengubah segalanya.Ayla berdiri di balkon apartemennya, menatap jalanan kota yang berkelip di bawah. Angin malam menerpa kulitnya, tetapi pikirannya lebih dingin dari udara yang menyentuh tubuhnya.“Masih memikirkan Ivy?” suara Dimitri terdengar dari belakang.Ayla tidak menoleh. “Aku tahu dia punya sejarah denganmu. Aku hanya ingin tahu sejauh apa dia akan melangkah.”Dimitri melangkah mendekat, tangannya melingkar di pinggang Ayla, menariknya ke dalam dekapan hangatnya. “Ivy selalu bermain dengan cara yang halus. Dia tidak akan menyerang langsung. Dia akan mencari celah, membuat kita saling meragukan satu sama lain.”Ayla mengerutkan kening. “Dan Leon?”Dimitri menghela napas. “Dia masih abu-abu. Aku bisa membaca orang, tapi dengan Leon, selalu ada sesuatu yang ia sembunyikan.”Ayla menatap pantulan diri

    Huling Na-update : 2025-03-06
  • Dendam Sang Primadona   Bab 29

    Velmont City masih diselimuti cahaya gemerlap saat Ayla duduk di ruang kerja Dimitri. Di meja, beberapa dokumen penting berserakan—laporan terbaru tentang pergerakan Ivy, transaksi mencurigakan yang menghubungkan Carlisle Industries, serta investigasi internal tentang siapa saja yang mungkin telah disusupi.Victor berdiri di dekat jendela, menyalakan sebatang rokok sebelum meniup asapnya perlahan. "Eleanor Carlisle tidak akan terlibat tanpa alasan. Jika dia bermain dalam perang ini, artinya dia punya sesuatu yang ingin ia menangkan."Ayla mengetukkan jarinya ke meja, pikirannya berpacu. "Aku tidak pernah berpikir dia akan membiarkan dirinya terseret ke dalam bisnis seperti ini. Dia selalu menganggap dirinya berada di atas permainan kotor seperti ini."Dimitri, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. "Mungkin dia tidak terseret. Mungkin dia yang mengatur sebagian dari ini."Ayla menatapnya. "Maksudmu?"Dimitri menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jika Eleanor mendukung Ivy, itu berarti d

    Huling Na-update : 2025-03-07
  • Dendam Sang Primadona   Bab 30

    Pemberitaan mengenai skandal Eleanor Carlisle telah mengguncang Velmont City. Media terus memberitakan keterlibatannya dalam pencucian uang, menyebabkan saham Carlisle Industries anjlok drastis dalam waktu singkat. Banyak investor mulai menarik diri, dan jajaran direksi perusahaan menuntut penjelasan.Di tengah kekacauan itu, Eleanor tetap tenang. Ia tahu serangan ini bukan kebetulan. Seseorang telah menjatuhkannya dengan cara yang begitu sistematis. Dan ia tahu persis siapa dalangnya.Ayla Reynard.Wanita itu telah berkembang jauh dari gadis sederhana yang dulu ia remehkan.Eleanor duduk di ruang kerjanya, menyesap segelas anggur merah sambil membaca laporan terbaru dari tim hukumnya. Tak butuh waktu lama sebelum Leon masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi penuh amarah."Ibu, kau harus hentikan semua ini," ucapnya tajam. "Kau harus membersihkan namamu sebelum semuanya hancur."Eleanor meletakkan gelasnya dengan tenang. "Kau masih berpikir ini bisa dihentikan dengan cara biasa?"Leon

    Huling Na-update : 2025-03-07
  • Dendam Sang Primadona   Bab 31

    Angin malam berembus dingin saat Ayla berdiri di balkon penthouse-nya, menatap cahaya lampu kota Velmont yang berpendar seperti bintang-bintang jatuh. Suasana terasa begitu tenang, tetapi ia tahu betul bahwa ini hanyalah ketenangan sebelum badai yang lebih besar datang.Di dalam ruangan, Dimitri duduk di sofa dengan segelas bourbon di tangannya. Matanya tajam mengamati Ayla, seolah membaca setiap kekhawatiran yang berputar di benaknya."Apa yang ada di pikiranmu?" suaranya dalam, nyaris seperti bisikan.Ayla tidak langsung menjawab. Ia masih menatap ke luar, membiarkan pikirannya mengurai semua kemungkinan yang bisa terjadi setelah ini. "Eleanor tidak akan diam saja. Ivy juga tidak akan tinggal tenang. Aku bisa merasakannya," katanya akhirnya.Dimitri menyesap minumannya dengan tenang sebelum meletakkan gelas itu ke atas meja. "Itulah sebabnya aku meminta Victor untuk menggali lebih dalam tentang rencana mereka. Ivy bukan hanya sekadar masa lalu yang terlupakan, dan Eleanor tidak akan

    Huling Na-update : 2025-03-08
  • Dendam Sang Primadona   Bab 32

    Dimitri memandangi layar laptopnya dengan ekspresi dingin, matanya menelusuri laporan yang baru saja dikirim oleh Victor. Ivy telah mulai menggerakkan pengaruhnya di kalangan pejabat kota, mencoba menekan Velasquez Corporation dengan cara yang lebih berbahaya dari sebelumnya.“Dia benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti,” gumamnya sambil menyandarkan punggung ke kursinya.Victor yang berdiri di sudut ruangan menyesap kopinya dengan santai. “Ivy selalu seperti itu. Dia bukan hanya sekadar wanita ambisius, tapi juga seseorang yang tahu bagaimana memainkan kekuatan di belakang layar. Jika dia sudah mulai menggerakkan pionnya di pemerintahan, kita harus segera menutup celah sebelum dia mendapat pijakan yang lebih kuat.”Dimitri mengangguk pelan, pikirannya berputar mencari cara terbaik untuk mengatasi situasi ini. Namun, sebelum ia sempat merespons, suara pintu yang terbuka menarik perhatiannya.Ayla masuk dengan langkah cepat, ekspresinya menunjukkan bahwa ia tidak membawa kabar baik

    Huling Na-update : 2025-03-08

Pinakabagong kabanata

  • Dendam Sang Primadona   Bab 59

    Malam di Velmont City terasa lebih dingin dari biasanya. Langit yang gelap tanpa bintang seolah menjadi pertanda akan datangnya badai yang lebih besar. Di sebuah ruangan tersembunyi di The Elysian Tower, Ayla berdiri di depan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota."Apa rencanamu selanjutnya?" suara Dimitri terdengar dari belakangnya.Ayla tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam, menikmati ketenangan sesaat sebelum melangkah lebih jauh dalam permainan yang ia mulai."Eleanor sudah bergerak," katanya akhirnya. "Dia pasti tidak akan tinggal diam setelah skandal itu meledak di media."Dimitri mendekat, berdiri di sampingnya. "Dan Gabriel sudah menaruh perhatian penuh padaku."Ayla menoleh, matanya bertemu dengan tatapan tajam Dimitri. "Itu yang kita inginkan, bukan?"Dimitri tersenyum miring. "Ya. Tapi aku ingin memastikan kau tetap aman dalam prosesnya."Ayla mendengus pelan. "Aku bisa menjaga diriku sendiri, Dimitri."Dimitri mengangkat alis. "Tetap saja, aku t

  • Dendam Sang Primadona   Bab 58

    Langit malam di Velmont City tampak kelam, seperti menyerap ketegangan yang sedang memuncak di kota itu. Di sebuah gedung tua yang berfungsi sebagai markas sementara Reynard Holdings, Ayla duduk di depan layar komputer dengan ekspresi dingin.Di sampingnya, Victor Moretti berdiri dengan tangan bersedekap. “Data ini cukup untuk menyeret Carlisle Industries ke dalam lubang neraka.”Ayla menatap layar, di mana bukti-bukti tentang penggelapan dana dan korupsi di perusahaan keluarga Leon terpampang jelas. Ini bukan hanya skandal bisnis biasa, ini adalah sesuatu yang bisa menghancurkan reputasi dan stabilitas mereka secara permanen.“Kita rilis secara bertahap,” ujar Ayla mantap. “Jika kita langsung menjatuhkan semuanya, mereka akan punya kesempatan untuk menutupi jejak.”Victor menyeringai. “Kau memang punya otak yang tajam.”Ayla tidak menanggapi. Matanya tetap fokus pada rencana yang sudah ia susun dengan cermat. Eleanor sudah melampaui batas, dan kal

  • Dendam Sang Primadona   Bab 57

    Ayla berdiri di balkon, tubuhnya kaku saat menyaksikan kobaran api melalap salah satu gedung afiliasi Reynard Holdings. Asap hitam membubung ke langit, suara sirene pemadam kebakaran menggema di udara.Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut—tapi karena amarah yang mendidih. Eleanor telah melangkah terlalu jauh.Ponselnya masih berada di genggamannya, suara Eleanor terdengar lagi di ujung sana, penuh kemenangan.“Apa kau masih di sana, Ayla?”Ayla mengepalkan tangan. “Kau baru saja menandatangani surat kematianmu, Eleanor.”Wanita itu tertawa pelan. “Oh, Ayla, sayang sekali aku tidak mudah dijatuhkan. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa aku masih punya kendali atas permainan ini.”Ayla menarik napas dalam, menenangkan dirinya. “Jika kau berpikir ini akan membuatku menyerah, kau salah besar.”“Kita lihat saja.” Eleanor mengakhiri panggilan, meninggalkan Ayla dengan kemarahan yang semakin membara.Dia meraih mantel dan b

  • Dendam Sang Primadona   Bab 56

    Ayla duduk di dalam mobil dengan tangan mengepal. Matanya menatap kosong ke luar jendela, meskipun pikirannya bekerja dengan cepat. Serangan tadi bukan hanya peringatan—itu adalah deklarasi perang. Eleanor Carlisle telah membuat langkahnya, dan Ayla tidak akan tinggal diam.Di kursi kemudi, Victor Moretti mengamati ekspresinya melalui kaca spion. “Kau terlihat siap membakar dunia, Ayla,” katanya dengan nada ringan, tapi ada ketertarikan di matanya.Ayla menghembuskan napas pelan. “Dunia sudah terbakar. Aku hanya akan memastikan bahwa mereka yang menyalakan api akan terbakar lebih dulu.”Victor menyeringai. “Itu semangat yang kusuka. Lalu, apa rencanamu sekarang?”Ayla menoleh ke arahnya. “Aku ingin tahu semua yang kau ketahui tentang Eleanor dan asetnya. Aku tidak hanya ingin menghancurkan Carlisle Industries—aku ingin memastikan dia tidak memiliki kesempatan untuk bangkit kembali.”Victor mengangguk. “Aku bisa mengatur itu. Tapi kau tahu, Eleanor

  • Dendam Sang Primadona   Bab 55

    Ayla berdiri di depan jendela besar penthouse-nya, menatap lampu-lampu kota Velmont yang berkilauan di malam hari. Sejak pertemuan dengan Ivy di pesta Gabriel, pikirannya terus berputar. Wanita itu tidak berbicara sembarangan—ada sesuatu di balik kata-katanya, sebuah ancaman tersirat yang tidak bisa diabaikan begitu saja.Suara langkah kaki terdengar di belakangnya, dan tanpa perlu menoleh, ia tahu siapa itu.“Pikiranmu terlalu berisik,” ujar Dimitri dengan nada rendah, berjalan mendekatinya.Ayla menghela napas, tangannya tetap bertumpu di pinggiran kaca. “Ivy tidak hanya menggertak. Aku bisa merasakannya.”Dimitri menyentuh bahunya lembut, tapi nada suaranya tetap dingin. “Dia hanya mencari celah untuk menyerangmu. Jangan beri dia kesempatan.”Ayla menoleh, menatap pria itu dengan mata penuh keyakinan. “Aku tidak akan. Tapi ini bukan hanya tentang Ivy. Eleanor Carlisle telah bergabung dengan Gabriel. Itu berarti pertempuran ini tidak lagi hanya t

  • Dendam Sang Primadona   Bab 54

    Ayla menatap Dimitri yang berdiri di hadapannya, kedua tangan pria itu masih mencengkeram pinggangnya dengan kuat. Ciuman mereka barusan bukan sekadar ekspresi perasaan—itu adalah pernyataan kepemilikan. Namun, Ayla bukan lagi gadis yang bisa dimiliki begitu saja."Aku tidak akan kembali pada Leon," katanya, suaranya tegas.Dimitri menelusuri wajahnya dengan tatapan tajam, seolah mencoba membaca pikirannya. "Bagus," katanya akhirnya. "Karena aku tidak akan membiarkanmu pergi."Ayla tahu bahwa itu bukan sekadar pernyataan posesif. Dimitri Velasquez bukan pria yang membiarkan sesuatu yang berharga lepas begitu saja. Tapi ia juga bukan wanita yang bisa dikendalikan dengan begitu mudah."Aku akan menghancurkan Carlisle Industries sepenuhnya," lanjut Ayla. "Tapi sekarang, Gabriel dan Ivy mulai masuk ke dalam permainan. Kita tidak bisa mengabaikan mereka."Dimitri menyandarkan tubuhnya ke meja, ekspresinya dingin. "Gabriel selalu mencari celah. Aku sudah memperingatkannya sebelumnya, tetapi

  • Dendam Sang Primadona   Bab 53

    Ayla berdiri di depan jendela kantornya, menatap pemandangan Velmont City yang bermandikan cahaya malam. Di bawah sana, kota ini terus berdenyut dengan kehidupan, tetapi pikirannya terfokus pada satu hal—kehancuran Carlisle Industries.Ketukan di pintu membuatnya menoleh. Clara masuk, membawa setumpuk dokumen dengan ekspresi serius."Kau harus melihat ini," katanya sambil meletakkan berkas-berkas di meja.Ayla mengambil salah satunya dan membukanya. Matanya menyipit saat membaca."Gabriel Delgado?" gumamnya.Clara mengangguk. "Dia mulai bergerak. Beberapa investor yang sebelumnya menarik diri dari Carlisle Industries kini tampaknya beralih ke Delgado Enterprises. Dia memanfaatkan situasi ini."Ayla menggertakkan giginya. Ia tidak menyangka ada pemain lain yang ikut dalam permainan ini."Dan bukan hanya itu," lanjut Clara. "Ivy Larchmont ada di sisinya."Mata Ayla berkedip sesaat. Ivy. Wanita yang pernah menjadi bagian dari masa lalu Dimitri, dan sekarang muncul kembali di tengah kekac

  • Dendam Sang Primadona   Bab 52

    Ayla menatap layar laptopnya dengan ekspresi serius. Data keuangan Carlisle Industries terbuka di depannya, menunjukkan berbagai celah yang bisa dieksploitasi. Perusahaan itu mungkin masih berdiri kokoh di permukaan, tetapi di baliknya, ada kebocoran finansial yang cukup besar."Aku bisa menghancurkan mereka dari dalam," gumamnya.Dimitri, yang berdiri di belakangnya, menyilangkan tangan. "Kau berencana menyerang langsung ke inti bisnis mereka?"Ayla mengangguk, matanya tetap fokus. "Leon dan keluarganya terlalu lama menikmati kekuasaan mereka. Jika aku bisa membuat investor mereka menarik diri, Carlisle Industries akan runtuh tanpa perlu satu pun peluru ditembakkan."Dimitri menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada kebanggaan di sana, tetapi juga sedikit kekhawatiran. "Kau semakin mirip denganku, Ayla."Ayla tersenyum tipis dan menutup laptopnya. "Mungkin aku memang harus menjadi seperti ini untuk bertahan."Malam itu, Ayla menghadiri sebuah gala bisnis di Ravenhurst, tem

  • Dendam Sang Primadona   Bab 51

    Ayla menatap Dimitri dengan mata penuh tekad."Jika Gabriel ingin bermain kotor, kita harus lebih cepat darinya."Dimitri menyandarkan punggung ke kursinya, matanya meneliti setiap ekspresi Ayla. Dia selalu mengagumi kecerdasan dan keberaniannya, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda."Apa yang kau rencanakan?" tanyanya, suaranya rendah namun penuh rasa ingin tahu.Ayla menggeser foto-foto yang dikirim Gabriel ke arah Dimitri. "Dia pikir ini bisa mengintimidasi kita. Tapi yang dia lakukan hanya membuka kelemahannya sendiri."Dimitri menyipitkan mata. "Maksudmu?"Ayla tersenyum kecil, tetapi senyuman itu penuh arti. "Kalau dia bisa mengawasi kita, itu berarti kita juga bisa mengawasinya. Kita hanya perlu tahu di mana titik lemahnya."Victor, yang sejak tadi diam di sudut ruangan, akhirnya angkat bicara. "Kami sudah melacak pergerakan Gabriel. Dia lebih sering muncul di Club Inferno belakangan ini. Klub itu bukan hanya tempat hiburan

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status