Velmont City tampak tenang di permukaan, tetapi di bawah gemerlapnya, perang dingin mulai memanas. Ivy Larchmont bukan sekadar ancaman baru—dia adalah teka-teki berbahaya yang bisa mengubah segalanya.Ayla berdiri di balkon apartemennya, menatap jalanan kota yang berkelip di bawah. Angin malam menerpa kulitnya, tetapi pikirannya lebih dingin dari udara yang menyentuh tubuhnya.“Masih memikirkan Ivy?” suara Dimitri terdengar dari belakang.Ayla tidak menoleh. “Aku tahu dia punya sejarah denganmu. Aku hanya ingin tahu sejauh apa dia akan melangkah.”Dimitri melangkah mendekat, tangannya melingkar di pinggang Ayla, menariknya ke dalam dekapan hangatnya. “Ivy selalu bermain dengan cara yang halus. Dia tidak akan menyerang langsung. Dia akan mencari celah, membuat kita saling meragukan satu sama lain.”Ayla mengerutkan kening. “Dan Leon?”Dimitri menghela napas. “Dia masih abu-abu. Aku bisa membaca orang, tapi dengan Leon, selalu ada sesuatu yang ia sembunyikan.”Ayla menatap pantulan diri
Velmont City masih diselimuti cahaya gemerlap saat Ayla duduk di ruang kerja Dimitri. Di meja, beberapa dokumen penting berserakan—laporan terbaru tentang pergerakan Ivy, transaksi mencurigakan yang menghubungkan Carlisle Industries, serta investigasi internal tentang siapa saja yang mungkin telah disusupi.Victor berdiri di dekat jendela, menyalakan sebatang rokok sebelum meniup asapnya perlahan. "Eleanor Carlisle tidak akan terlibat tanpa alasan. Jika dia bermain dalam perang ini, artinya dia punya sesuatu yang ingin ia menangkan."Ayla mengetukkan jarinya ke meja, pikirannya berpacu. "Aku tidak pernah berpikir dia akan membiarkan dirinya terseret ke dalam bisnis seperti ini. Dia selalu menganggap dirinya berada di atas permainan kotor seperti ini."Dimitri, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. "Mungkin dia tidak terseret. Mungkin dia yang mengatur sebagian dari ini."Ayla menatapnya. "Maksudmu?"Dimitri menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jika Eleanor mendukung Ivy, itu berarti d
Pemberitaan mengenai skandal Eleanor Carlisle telah mengguncang Velmont City. Media terus memberitakan keterlibatannya dalam pencucian uang, menyebabkan saham Carlisle Industries anjlok drastis dalam waktu singkat. Banyak investor mulai menarik diri, dan jajaran direksi perusahaan menuntut penjelasan.Di tengah kekacauan itu, Eleanor tetap tenang. Ia tahu serangan ini bukan kebetulan. Seseorang telah menjatuhkannya dengan cara yang begitu sistematis. Dan ia tahu persis siapa dalangnya.Ayla Reynard.Wanita itu telah berkembang jauh dari gadis sederhana yang dulu ia remehkan.Eleanor duduk di ruang kerjanya, menyesap segelas anggur merah sambil membaca laporan terbaru dari tim hukumnya. Tak butuh waktu lama sebelum Leon masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi penuh amarah."Ibu, kau harus hentikan semua ini," ucapnya tajam. "Kau harus membersihkan namamu sebelum semuanya hancur."Eleanor meletakkan gelasnya dengan tenang. "Kau masih berpikir ini bisa dihentikan dengan cara biasa?"Leon
Angin malam berembus dingin saat Ayla berdiri di balkon penthouse-nya, menatap cahaya lampu kota Velmont yang berpendar seperti bintang-bintang jatuh. Suasana terasa begitu tenang, tetapi ia tahu betul bahwa ini hanyalah ketenangan sebelum badai yang lebih besar datang.Di dalam ruangan, Dimitri duduk di sofa dengan segelas bourbon di tangannya. Matanya tajam mengamati Ayla, seolah membaca setiap kekhawatiran yang berputar di benaknya."Apa yang ada di pikiranmu?" suaranya dalam, nyaris seperti bisikan.Ayla tidak langsung menjawab. Ia masih menatap ke luar, membiarkan pikirannya mengurai semua kemungkinan yang bisa terjadi setelah ini. "Eleanor tidak akan diam saja. Ivy juga tidak akan tinggal tenang. Aku bisa merasakannya," katanya akhirnya.Dimitri menyesap minumannya dengan tenang sebelum meletakkan gelas itu ke atas meja. "Itulah sebabnya aku meminta Victor untuk menggali lebih dalam tentang rencana mereka. Ivy bukan hanya sekadar masa lalu yang terlupakan, dan Eleanor tidak akan
Dimitri memandangi layar laptopnya dengan ekspresi dingin, matanya menelusuri laporan yang baru saja dikirim oleh Victor. Ivy telah mulai menggerakkan pengaruhnya di kalangan pejabat kota, mencoba menekan Velasquez Corporation dengan cara yang lebih berbahaya dari sebelumnya.“Dia benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti,” gumamnya sambil menyandarkan punggung ke kursinya.Victor yang berdiri di sudut ruangan menyesap kopinya dengan santai. “Ivy selalu seperti itu. Dia bukan hanya sekadar wanita ambisius, tapi juga seseorang yang tahu bagaimana memainkan kekuatan di belakang layar. Jika dia sudah mulai menggerakkan pionnya di pemerintahan, kita harus segera menutup celah sebelum dia mendapat pijakan yang lebih kuat.”Dimitri mengangguk pelan, pikirannya berputar mencari cara terbaik untuk mengatasi situasi ini. Namun, sebelum ia sempat merespons, suara pintu yang terbuka menarik perhatiannya.Ayla masuk dengan langkah cepat, ekspresinya menunjukkan bahwa ia tidak membawa kabar baik
Malam itu, Velmont City terasa lebih dingin dari biasanya. Di salah satu sudut restoran mewah, Ayla duduk berhadapan dengan Ivy, tatapan mereka saling mengunci. Restoran itu dipenuhi orang-orang kelas atas, tetapi seakan-akan hanya ada mereka berdua di ruangan itu.Ivy menyesap anggurnya perlahan sebelum akhirnya berbicara, “Aku penasaran, apa yang membuatmu begitu percaya diri datang ke sini sendirian?”Ayla tersenyum tipis. “Karena aku tahu permainan ini belum berakhir.”Ivy mengangkat alisnya, lalu meletakkan gelas anggur di atas meja. “Permainan?”Ayla mencondongkan tubuh ke depan, suaranya rendah namun tegas. “Aku tahu kau mencoba menjatuhkanku. Kau memegang bukti yang bisa menghancurkan Velasquez Corporation dan Reynard Holdings. Tapi aku juga tahu sesuatu tentangmu, Ivy.”Ivy tidak menunjukkan reaksi, tetapi matanya sedikit menyipit. Ayla tahu ia berhasil menarik perhatian lawannya.“Kau juga punya jejak yang tidak bersih,” lanjut Ayla. “Dan aku yakin kau tidak ingin hal itu sa
Angin malam menerpa wajah Ivy saat ia berdiri di balkon apartemennya. Matanya menatap kosong ke arah Velmont City yang berkilauan, tetapi pikirannya berputar cepat.Dalam satu malam, segalanya berubah. Bukannya Velasquez Corporation yang hancur, justru dirinya yang sekarang menjadi sasaran.Ponselnya masih tergeletak di meja, panggilan tak terjawab dari berbagai kontak yang dulu berpihak padanya. Mereka menghindarinya sekarang, seakan ia wabah yang harus dijauhi.Lalu, ponsel itu kembali bergetar. Kali ini, sebuah nama yang tak ia sangka muncul di layar.Leon Carlisle.Ivy mengangkat alis, lalu menjawab panggilan itu. “Kukira kau tidak akan pernah menghubungiku lagi.”Suara Leon terdengar rendah di seberang, seperti seseorang yang menyimpan banyak beban. “Aku ingin bicara.”Ivy tersenyum sinis. “Menarik. Kau ingin bicara sekarang, setelah kau melihatku jatuh?”“Ini tentang Ayla.”Ivy langsung terdiam. Ia bisa mendengar suara Leon menarik napas dalam.“Aku tahu kau ingin menghancurkann
Langit malam di Velmont City tampak lebih kelam dari biasanya. Di balik jendela kaca The Elysian Tower, Ayla menatap kerlip lampu kota yang berpendar seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Ia menarik napas panjang, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.Berita yang beredar telah mengguncang reputasinya. Nama Ayla Reynard, yang selama ini dibangun dengan susah payah, kini menjadi subjek spekulasi dan kontroversi. Skandal itu bukan hanya menargetkan dirinya, tetapi juga menyeret Velasquez Corporation ke dalam pusaran ancaman.Dimitri berdiri di sampingnya, matanya yang gelap menelisik ekspresinya. “Ini hanya awal. Mereka mencoba menggoyahkanmu, membuatmu ragu.”Ayla berpaling, menatap pria itu dengan mata yang penuh determinasi. “Aku tidak akan jatuh hanya karena ini.”Dimitri tersenyum tipis, puas dengan jawaban itu. “Bagus. Karena setelah ini, kita akan bergerak lebih dulu.”Ayla tahu maksudnya. Ia telah menyerahkan beberapa dokumen penting
Malam di Velmont City terasa lebih dingin dari biasanya. Langit yang gelap tanpa bintang seolah menjadi pertanda akan datangnya badai yang lebih besar. Di sebuah ruangan tersembunyi di The Elysian Tower, Ayla berdiri di depan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota."Apa rencanamu selanjutnya?" suara Dimitri terdengar dari belakangnya.Ayla tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam, menikmati ketenangan sesaat sebelum melangkah lebih jauh dalam permainan yang ia mulai."Eleanor sudah bergerak," katanya akhirnya. "Dia pasti tidak akan tinggal diam setelah skandal itu meledak di media."Dimitri mendekat, berdiri di sampingnya. "Dan Gabriel sudah menaruh perhatian penuh padaku."Ayla menoleh, matanya bertemu dengan tatapan tajam Dimitri. "Itu yang kita inginkan, bukan?"Dimitri tersenyum miring. "Ya. Tapi aku ingin memastikan kau tetap aman dalam prosesnya."Ayla mendengus pelan. "Aku bisa menjaga diriku sendiri, Dimitri."Dimitri mengangkat alis. "Tetap saja, aku t
Langit malam di Velmont City tampak kelam, seperti menyerap ketegangan yang sedang memuncak di kota itu. Di sebuah gedung tua yang berfungsi sebagai markas sementara Reynard Holdings, Ayla duduk di depan layar komputer dengan ekspresi dingin.Di sampingnya, Victor Moretti berdiri dengan tangan bersedekap. “Data ini cukup untuk menyeret Carlisle Industries ke dalam lubang neraka.”Ayla menatap layar, di mana bukti-bukti tentang penggelapan dana dan korupsi di perusahaan keluarga Leon terpampang jelas. Ini bukan hanya skandal bisnis biasa, ini adalah sesuatu yang bisa menghancurkan reputasi dan stabilitas mereka secara permanen.“Kita rilis secara bertahap,” ujar Ayla mantap. “Jika kita langsung menjatuhkan semuanya, mereka akan punya kesempatan untuk menutupi jejak.”Victor menyeringai. “Kau memang punya otak yang tajam.”Ayla tidak menanggapi. Matanya tetap fokus pada rencana yang sudah ia susun dengan cermat. Eleanor sudah melampaui batas, dan kal
Ayla berdiri di balkon, tubuhnya kaku saat menyaksikan kobaran api melalap salah satu gedung afiliasi Reynard Holdings. Asap hitam membubung ke langit, suara sirene pemadam kebakaran menggema di udara.Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut—tapi karena amarah yang mendidih. Eleanor telah melangkah terlalu jauh.Ponselnya masih berada di genggamannya, suara Eleanor terdengar lagi di ujung sana, penuh kemenangan.“Apa kau masih di sana, Ayla?”Ayla mengepalkan tangan. “Kau baru saja menandatangani surat kematianmu, Eleanor.”Wanita itu tertawa pelan. “Oh, Ayla, sayang sekali aku tidak mudah dijatuhkan. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa aku masih punya kendali atas permainan ini.”Ayla menarik napas dalam, menenangkan dirinya. “Jika kau berpikir ini akan membuatku menyerah, kau salah besar.”“Kita lihat saja.” Eleanor mengakhiri panggilan, meninggalkan Ayla dengan kemarahan yang semakin membara.Dia meraih mantel dan b
Ayla duduk di dalam mobil dengan tangan mengepal. Matanya menatap kosong ke luar jendela, meskipun pikirannya bekerja dengan cepat. Serangan tadi bukan hanya peringatan—itu adalah deklarasi perang. Eleanor Carlisle telah membuat langkahnya, dan Ayla tidak akan tinggal diam.Di kursi kemudi, Victor Moretti mengamati ekspresinya melalui kaca spion. “Kau terlihat siap membakar dunia, Ayla,” katanya dengan nada ringan, tapi ada ketertarikan di matanya.Ayla menghembuskan napas pelan. “Dunia sudah terbakar. Aku hanya akan memastikan bahwa mereka yang menyalakan api akan terbakar lebih dulu.”Victor menyeringai. “Itu semangat yang kusuka. Lalu, apa rencanamu sekarang?”Ayla menoleh ke arahnya. “Aku ingin tahu semua yang kau ketahui tentang Eleanor dan asetnya. Aku tidak hanya ingin menghancurkan Carlisle Industries—aku ingin memastikan dia tidak memiliki kesempatan untuk bangkit kembali.”Victor mengangguk. “Aku bisa mengatur itu. Tapi kau tahu, Eleanor
Ayla berdiri di depan jendela besar penthouse-nya, menatap lampu-lampu kota Velmont yang berkilauan di malam hari. Sejak pertemuan dengan Ivy di pesta Gabriel, pikirannya terus berputar. Wanita itu tidak berbicara sembarangan—ada sesuatu di balik kata-katanya, sebuah ancaman tersirat yang tidak bisa diabaikan begitu saja.Suara langkah kaki terdengar di belakangnya, dan tanpa perlu menoleh, ia tahu siapa itu.“Pikiranmu terlalu berisik,” ujar Dimitri dengan nada rendah, berjalan mendekatinya.Ayla menghela napas, tangannya tetap bertumpu di pinggiran kaca. “Ivy tidak hanya menggertak. Aku bisa merasakannya.”Dimitri menyentuh bahunya lembut, tapi nada suaranya tetap dingin. “Dia hanya mencari celah untuk menyerangmu. Jangan beri dia kesempatan.”Ayla menoleh, menatap pria itu dengan mata penuh keyakinan. “Aku tidak akan. Tapi ini bukan hanya tentang Ivy. Eleanor Carlisle telah bergabung dengan Gabriel. Itu berarti pertempuran ini tidak lagi hanya t
Ayla menatap Dimitri yang berdiri di hadapannya, kedua tangan pria itu masih mencengkeram pinggangnya dengan kuat. Ciuman mereka barusan bukan sekadar ekspresi perasaan—itu adalah pernyataan kepemilikan. Namun, Ayla bukan lagi gadis yang bisa dimiliki begitu saja."Aku tidak akan kembali pada Leon," katanya, suaranya tegas.Dimitri menelusuri wajahnya dengan tatapan tajam, seolah mencoba membaca pikirannya. "Bagus," katanya akhirnya. "Karena aku tidak akan membiarkanmu pergi."Ayla tahu bahwa itu bukan sekadar pernyataan posesif. Dimitri Velasquez bukan pria yang membiarkan sesuatu yang berharga lepas begitu saja. Tapi ia juga bukan wanita yang bisa dikendalikan dengan begitu mudah."Aku akan menghancurkan Carlisle Industries sepenuhnya," lanjut Ayla. "Tapi sekarang, Gabriel dan Ivy mulai masuk ke dalam permainan. Kita tidak bisa mengabaikan mereka."Dimitri menyandarkan tubuhnya ke meja, ekspresinya dingin. "Gabriel selalu mencari celah. Aku sudah memperingatkannya sebelumnya, tetapi
Ayla berdiri di depan jendela kantornya, menatap pemandangan Velmont City yang bermandikan cahaya malam. Di bawah sana, kota ini terus berdenyut dengan kehidupan, tetapi pikirannya terfokus pada satu hal—kehancuran Carlisle Industries.Ketukan di pintu membuatnya menoleh. Clara masuk, membawa setumpuk dokumen dengan ekspresi serius."Kau harus melihat ini," katanya sambil meletakkan berkas-berkas di meja.Ayla mengambil salah satunya dan membukanya. Matanya menyipit saat membaca."Gabriel Delgado?" gumamnya.Clara mengangguk. "Dia mulai bergerak. Beberapa investor yang sebelumnya menarik diri dari Carlisle Industries kini tampaknya beralih ke Delgado Enterprises. Dia memanfaatkan situasi ini."Ayla menggertakkan giginya. Ia tidak menyangka ada pemain lain yang ikut dalam permainan ini."Dan bukan hanya itu," lanjut Clara. "Ivy Larchmont ada di sisinya."Mata Ayla berkedip sesaat. Ivy. Wanita yang pernah menjadi bagian dari masa lalu Dimitri, dan sekarang muncul kembali di tengah kekac
Ayla menatap layar laptopnya dengan ekspresi serius. Data keuangan Carlisle Industries terbuka di depannya, menunjukkan berbagai celah yang bisa dieksploitasi. Perusahaan itu mungkin masih berdiri kokoh di permukaan, tetapi di baliknya, ada kebocoran finansial yang cukup besar."Aku bisa menghancurkan mereka dari dalam," gumamnya.Dimitri, yang berdiri di belakangnya, menyilangkan tangan. "Kau berencana menyerang langsung ke inti bisnis mereka?"Ayla mengangguk, matanya tetap fokus. "Leon dan keluarganya terlalu lama menikmati kekuasaan mereka. Jika aku bisa membuat investor mereka menarik diri, Carlisle Industries akan runtuh tanpa perlu satu pun peluru ditembakkan."Dimitri menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada kebanggaan di sana, tetapi juga sedikit kekhawatiran. "Kau semakin mirip denganku, Ayla."Ayla tersenyum tipis dan menutup laptopnya. "Mungkin aku memang harus menjadi seperti ini untuk bertahan."Malam itu, Ayla menghadiri sebuah gala bisnis di Ravenhurst, tem
Ayla menatap Dimitri dengan mata penuh tekad."Jika Gabriel ingin bermain kotor, kita harus lebih cepat darinya."Dimitri menyandarkan punggung ke kursinya, matanya meneliti setiap ekspresi Ayla. Dia selalu mengagumi kecerdasan dan keberaniannya, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda."Apa yang kau rencanakan?" tanyanya, suaranya rendah namun penuh rasa ingin tahu.Ayla menggeser foto-foto yang dikirim Gabriel ke arah Dimitri. "Dia pikir ini bisa mengintimidasi kita. Tapi yang dia lakukan hanya membuka kelemahannya sendiri."Dimitri menyipitkan mata. "Maksudmu?"Ayla tersenyum kecil, tetapi senyuman itu penuh arti. "Kalau dia bisa mengawasi kita, itu berarti kita juga bisa mengawasinya. Kita hanya perlu tahu di mana titik lemahnya."Victor, yang sejak tadi diam di sudut ruangan, akhirnya angkat bicara. "Kami sudah melacak pergerakan Gabriel. Dia lebih sering muncul di Club Inferno belakangan ini. Klub itu bukan hanya tempat hiburan