Pria asing itu merangkul Laura dan berkata, “Kalian ingin menculik kekasihku?”
Ekspresinya dingin menatap orang-orang berseragam hitam, hingga membuat mereka gemetar. Meski demikian, salah seorang dari mereka mencoba mengendalikan diri dan berkata, “Kami tahu Anda dan Nona Laura tidak saling kenal. Jadi, segera lepaskan dia atau kami—” “Atau apa?” potongnya dengan nada mendominasi. Pria asing itu melepaskan rangkulannya pada tubuh Laura, lalu maju sedikit. “Sepertinya kalian tidak mengerti juga.” Diberikannya kartu nama kepada salah satu pria di sana dan beberapa detik kemudian, semua orang tampak ketakutan. “Maafkan kami, Tuan Harry. Kalau begitu, kami pergi dulu,” pamit mereka tiba-tiba. Laura jelas kebingungan. Ditatapnya pria asing yang ternyata bernama Harry itu dengan wajah keheranan. Kenapa tiba-tiba saja para pengawal ayahnya itu pergi begitu saja? Belum sempat memproses semua, pria itu sudah berbalik dan langsung menarik tangan Laura yang masih tampak kebingungan. “Ayo!” Detik berikutnya, Laura baru sadar ketika tangannya ditarik untuk masuk ke dalam mobil. “Eh, tunggu dulu. kau mau membawaku ke mana?” “Katanya kau mau membalas budi.” Melihat tatapan Harry yang penuh banyak arti, sontak saja Laura menutupi dadanya dengan menggeleng cepat. “Aku tidak akan membalas budi dengan sex.” “Sex?” Laura mengangguk cepat. Kakinya hendak kembali turun dari dalam mobil, tetapi tangan pria itu lebih dulu mencegahnya. “Masuk dan diam saja!” “Tuan, tolong. Aku adalah wanita penganut sex setelah menikah. Aku akan membayarmu berapapun, atau dengan apa pun, asal tidak dengan yang satu itu,” rengek Laura. Dia bahkan sampai ditinggal menikah oleh Sam. Tidak mungkin jika harus memberikan tubuhnya dengan sukarela kepada pria yang tidak dikenalnya itu, kan? Namun, Harry sama sekali tak peduli dengan rengekkan Laura. Dia hanya mengernyitkan keningnya dengan ekspresi yang tak bisa Laura baca. Buk! Harry sudah lebih dulu masuk dan mengunci pintu mobil dari dalam. “Diam dan pakai saja sabuk pengamanmu.” Laura menggeleng cepat. Wanita itu menutup bagian dadanya, kemudian menatap pria asing itu dengan air mata yang tertahan. “Kumohon. Aku—" Harry sontak melempar tisu ke arah Laura hingga membuat wanita itu menghentikan ucapannya. “Jangan berisik. Lagi pula siapa yang mau melakukan sex denganmu.” Pria itu dengan memandang tubuh Laura dari bawah sampai atas, lalu tatapannya berhenti tepat di tangan Laura yang berusaha menutupi dadanya. “Dadamu kecil. Aku tidak suka!” Hah? Wanita itu terkesiap–tak menyangka responnya. “Sialan!” umpat Laura dengan melemparkan tisu tadi kembali. “Dasar pria mesum!” Sayangnya, Harry sama sekali tak peduli. Pria itu memilih melajukan mobilnya dengan tenang dan tanpa bersuara. Laura yang awalnya ingin marah-marah, bahkan jadi ikut terdiam. Meski demikian, ia tak bisa sepenuhnya percaya dengan kata-kata pria yang tak dikenalnya itu, dan tetap waspada. Laura bahkan sama sekali tak mengalihkan perhatiannya dari setiap jalan yang dia lewati dan mencoba menghapalkannya. Berjaga-jaga jika Harry melakukan tindakan tak senonoh, maka dia bisa langsung kabur. Sayangnya, dia tak sadar jika Harry menangkap pergerakan Laura yang terlihat seperti siap menerjang kapan pun. “Aku bukan orang jahat. Jadi, bisa kau bersikap santai?” “Tidak bisa. Aku harus selalu berjaga-jaga.” Laura menoleh dengan tatapan tajam. “Tidak ada orang yang bisa dipercaya di muka bumi ini.” Pria itu menghela napas, lalu memilih bungkam. Dikemudikannya mobil sport berwarna hitam itu, hingga berhenti di salah satu hotel bintang lima yang ada di Kota New York. Deg! Perasaaan Laura kembali waswas. Hotel? “Katanya kau tidak selera denganku, tapi kenapa membawaku ke hotel sekarang?” protes Laura, cepat. “Sekarang giliranmu yang harus membayar hutangmu tadi.” Harry melemparkan jas hitamnya yang ada di belakang kepada Laura sebelum keluar. “Pakai itu! Aku tidak mau orang-orang menyangka jika aku pergi dengan seorang wanita jalang.” Laura hendak marah, tetapi saat dia melihat dirinya lagi, perkataan pria itu tidak salah. Dia memang memakai gaun dengan belahan rendah, dan tanpa lengan sama sekali. Jadi, Laura pun memakai jas hitam itu untuk menutupi bahunya yang terekspos. Dia juga terpaksa mengikuti Harry yang menatapnya tajam. Namun, Laura merasa lega saat tahu pria itu membawanya masuk ke dalam restoran. “Kau ingin mentraktirku makan, ya? Sebenarnya tidak perlu, tapi aku akan tetap berterima kasih,” ucap Laura yang langsung disambut dengan tatapan aneh dari pria itu. Hanya saja, Laura memilih untuk mengabaikannya. Perasaannya mengatakan bahwa dia akan makan enak malam ini, dan tanpa harus mengeluarkan uang lebih karena ada yang akan membayarnya. Akan tetapi, tiba-tiba saja senyum di bibir Laura hilang, saat langkah kaki pria di sampingnya itu terhenti di depan meja besar. Bukan karena isi meja itu, tetapi karena orang-orang yang ada di sana. Ada lima orang yang sekarang sedang menatap ke arah mereka dengan penuh tanda tanya! “Siapa yang kau bawa lagi kali ini, Harry? Wanita sewaan lagi?” tanya wanita yang rambutnya hampir memutih itu. Dia tampak tak suka. Harry menggeleng dengan senyum lebar. “Dia kekasihku,” ujar Harry dengan memeluk pinggang kecil Laura. Laura tersentak. Kekasih? Ah, tetapi tidak masalah. Bukankah tadi Laura juga melakukan hal yang sama. “Halo, semua.” Laura tersenyum dengan ramah kepada semua orang yang ada di sana meski diberikan tatapan tajam oleh beberapa orang.“Jangan berbohong, Harry,” protes ibunya cepat. “Aku tidak berbohong, Ma. Dia benar-benar kekasihku ... dan kami akan menikah bulan depan. Iya, kan, Sayang?” Harry menoleh, menatap Laura yang saat ini sedang melotot. Menikah? Mendadak kaki Laura lemas seperti tak bertulang, tetapi untung saja Harry dengan cepat memegang pinggangnya dengan kencang. Ibu Harry bahkan terkejut setengah mati, tetapi Harry tampak santai memindahkan tangannya ke bahu Laura. “Jadi, kalian batalkan saja perjodohan ini.” “Harry, tidak bisa. Perjodohan ini … semua teman-temanku sudah tahu.” Wanita berambut pirang, Eva yang memakai gaun merah tak terima. Dia berdiri dengan wajah menahan marah. “Itu bukan urusanku,” jawab Harry acuh tak acuh. “Dari awal aku memang tidak menyukai ini. Jadi, itu kesalahanmu sendiri.” “Harry, duduk! Kita bicarakan ini dengan baik.” Sekarang pria paruh baya yang tak lain adalah ayah Harry menatap putranya dengan wajah tak percaya. “Sorry, Pa. Kami hanya mampir
Laura turun dari taksi dengan napas terengah-engah. Dia bersyukur karena berhasil melarikan diri dari Harry. Meskipun ia merasa lucu juga karena bisa-bisanya pria sedingin Harry bisa dikelabui dengan cara seperti itu. Akan tetapi, bagaimana jika pria itu bisa menemukannya? “Ah, aku tidak peduli. Lagi pula mana mungkin kami bertemu lagi,” lirih Laura lalu berjalan memasuki gedung apartemen. Dia kemudian masuk ke dalam lift dan menekan angka yang ada di sana. Walau bukan penghuni gedung apartemen ini, tetapi Laura memiliki akses karena temannya yang tinggal di sini. “Sialan! Kalau dipikir-pikir aku jadi bertemu dengan pria gila itu karena mengira jika dia Jackson.” Ting! Di saat yang sama, pintu lift terbuka. Laura bergegas menuju salah satu pintu yang sudah dia hapal nomornya. Dalam satu kali pencetan bel, pintu itu langsung terbuka, dan muncul pria berambut hitam dengan wajah bingung saat melihat laura. “Kau? Apa yang kau lakukan di sini saat hampir te
Harry membenarkan dasinya sebelum keluar dari mobil. Di luar sudah ada Ethan—asisten pribadinya yang menunggu sejak tadi. Pria itu memang sangat disiplin. Dia selalu datang lebih dulu daripada Harry. “Hari ini ada wawancara terakhir untuk calon sekretaris. Anda yang akan melakukan wawancaranya langsung, kan?” tanya Ethan sembari berjalan. Dia sudah sibuk dengan tablet yang ada di tangannya. Harry hanya mengangguk. Dia sempat menoleh ke arah jam tangannya. Masih ada waktu untuk melakukan sesi wawancara terakhir. Sekretaris pria itu tiba-tiba saja berhenti tiga bulan lalu, itulah sebabnya Harry membutuhkan seseorang yang hampir mirip dengan pria yang pernah menjadi sekretarisnya itu. “Ada satu orang wanita yang berhasil sampai di tahap ini,” ucap Ethan dengan hati-hati. Langkah kaki Harry langsung terhenti. Dia menoleh, menatap Ethan dengan kening berkerut. “Bukankah aku sudah bilang, aku tidak mau sekretaris wanita. Merepotkan!” “Tapi dia punya potensi yang bagus,
“Kalau seperti itu, mari saya antarkan Anda untuk bertemu dengan Tuan Thompson.” Mendengar nama itu, Laura mengangguk dengan semangat. Ah, dia tidak peduli dengan kata Jackson tentang Tuan Thompson yang selalu menginginkan kesempurnaan itu. Dia pasti bisa menghadapinya! Apalagi setelah ini, Laura akan mendapatkan kebebasannya dari Keluarga Green… Hanya saja, Laura justru berdiri mematung begitu sampai di dalam ruangan atasannya. Jujur, dia membayangkan Tuan Thompson adalah pria tua dengan perut buncit. Namun, apa yang dilihatnya ini? Atasan barunya itu adalah pria dengan punggung yang lebar tampak tenang melihat ke arah luar, di dekat jendela kaca besar di sudut ruangan! “Apa ini artinya aku akan melihat dua pria tampan sekaligus?” bisik Laura sangat pelan. “Tuan, ini Nona Green. Mulai sekarang dia akan bekerja sebagai sekretaris Anda.” “Baiklah. Bisa tinggalkan kami berdua?” tanya Harry yang masih belum menoleh. Deg! Mendengar suara berat pria itu,
Laura menganga tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Pria itu memintanya untuk mengundurkan diri sekarang dan harus membayar pinalty? “Anda mau memeras saya, ya?” tanya Laura dengan wajah memerah. “Ini namanya tidak professional, Tuan Thompson. Saya tidak akan mengundurkan diri, kalau mau Anda saja yang memecat saya sekarang.” Mendengar tantangan yang Laura katakan, Harry menaikkan sudut alisnya. Setelah itu, dia tersenyum kecil. “Apa jaminannya kau tidak akan menjelekkan nama perusahaanku jika aku memecatmu sekarang? Kau ingin mendapat uang denda … jangan mimpi, Nona Green! Di kontrak tidak ada perjanjian aku harus membayar ganti rugi jika memecatmu sekarang. Siapa yang akan dirugikan?” Laura bergeming. Wanita itu meremas pakaiannya sendiri, menahan amarahnya yang ingin meledak saat ini juga. Di perjanjian kontrak mereka memang tidak ada peraturan bahwa Sky Hotel’s harus membayar ganti rugi jika memecatnya sebelum kontrak berakhir. Di sini jelas Laura yang akan dir
“I-ini semua yang harus aku kerjakan?” tanya Laura dengan suara terbata-bata ketika melihat tiga tumpukan berkas yang menjulang tinggi yang dibawa oleh Ethan. Ethan mengangguk, setelah meletakkan tumpukkan berkas terakhir. “Sebenarnya Tuan Harry meminta untuk yang satu tahun terakhir, tapi yang kubawa ini hanya yang tiga bulan terakhir saja.” Mulut Laura menganga tak percaya. "Tiga bulan terakhir? Sebanyak ini?" “Iya. Aku rasa kau bisa cepat belajar dari semua ini. Nanti setelah itu baru arsipkan semua.” Laura mengangguk pasrah. "Baiklah." “Kalau begitu aku pergi dulu. Maaf, karena tidak bisa membantu, ya. Aku juga masih punya banyak kerjaan, Laura.” “Tidak masalah.” Setelah Ethan pergi, Laura duduk dan menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Dia harus mengerjakan semua ini secepat mungkin, sebelum malam tiba. Namun, belum ada lima belas menit sejak Ethan pergi, pria itu kembali lagi. Raut wajahnya tampak sungkan saat mendengar pertanyaan dari Laura. “Ada yang ketinggala
Tepat jam dua belas malam, Laura berhasil menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Harry. Wanita itu akhirnya menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah dan pinggangnya yang terasa sakit. Mata birunya menatap langit-langit kantor yang masih terang. Seharusnya dia bisa segera pulang dan berbaring di atas kasur sekarang, tetapi gara-gara Harry, Laura masih belum mendapatkan flat yang bisa dia sewa. “Apa aku harus menginap lagi di apartemen Jackson?” Laura menggeleng dengan ucapannya sendiri. “Kalau aku bilang aku lembur di hari pertama kerja, dia pasti akan mengomel dan memintaku berhenti.” Merasa putus asa, Laura kembali menghentakkan kakinya hingga berkali-kali. Dia benar-benar lelah hingga tidak bisa berpikir jernih sekarang. Cukup lama, sampai pada akhirnya, dia berdiri, lalu mengemasi barang-barang dan memasukkannya ke dalam tas. Entah bagaimana pun caranya, Laura harus mendapatkan tempat menginap sekarang. Mungkin dia akan menginap di motel, mengingat masih ada sedikit uang d
Di salah satu hotel bintang lima, keluarga Green sedang mengadakan pesta pernikahan dengan mewah. Hanya saja, Laura justru berdiri di depan pintu besar dengan tubuh gemetar dikarenakan amarah. Bagaimana bisa kakaknya justru melangsungkan pernikahan dengan tunangan Laura? Dikumpulkannya keberanian untuk menemui keduanya yang kini tersenyum lebar di sana. “Selamat malam semuanya,” ucap Laura dengan lantang yang langsung meredam kebisingan pesta. Meski demikian, Laura tak peduli. Bahkan, pada tatapan penuh tanda tanya dari para tamu undangan yang hadir di sana. “Laura, sedang apa kau di sini?” tanya Nyonya Green, begitu sadar apa yang sedang terjadi. Tatapannya begitu tajam, terlebih pada gaun merah dengan belahan dada rendah milik Laura, yang seolah memberi tahu bahwa dia adalah wanita lain dari pengantin pria saat ini! Alih-alih takut, Laura justru tersenyum dan terus berjalan menghampiri Caroline dan Sam yang tampak panik. “Cukup menarik sekali, ya hari ini.
Tepat jam dua belas malam, Laura berhasil menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Harry. Wanita itu akhirnya menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah dan pinggangnya yang terasa sakit. Mata birunya menatap langit-langit kantor yang masih terang. Seharusnya dia bisa segera pulang dan berbaring di atas kasur sekarang, tetapi gara-gara Harry, Laura masih belum mendapatkan flat yang bisa dia sewa. “Apa aku harus menginap lagi di apartemen Jackson?” Laura menggeleng dengan ucapannya sendiri. “Kalau aku bilang aku lembur di hari pertama kerja, dia pasti akan mengomel dan memintaku berhenti.” Merasa putus asa, Laura kembali menghentakkan kakinya hingga berkali-kali. Dia benar-benar lelah hingga tidak bisa berpikir jernih sekarang. Cukup lama, sampai pada akhirnya, dia berdiri, lalu mengemasi barang-barang dan memasukkannya ke dalam tas. Entah bagaimana pun caranya, Laura harus mendapatkan tempat menginap sekarang. Mungkin dia akan menginap di motel, mengingat masih ada sedikit uang d
“I-ini semua yang harus aku kerjakan?” tanya Laura dengan suara terbata-bata ketika melihat tiga tumpukan berkas yang menjulang tinggi yang dibawa oleh Ethan. Ethan mengangguk, setelah meletakkan tumpukkan berkas terakhir. “Sebenarnya Tuan Harry meminta untuk yang satu tahun terakhir, tapi yang kubawa ini hanya yang tiga bulan terakhir saja.” Mulut Laura menganga tak percaya. "Tiga bulan terakhir? Sebanyak ini?" “Iya. Aku rasa kau bisa cepat belajar dari semua ini. Nanti setelah itu baru arsipkan semua.” Laura mengangguk pasrah. "Baiklah." “Kalau begitu aku pergi dulu. Maaf, karena tidak bisa membantu, ya. Aku juga masih punya banyak kerjaan, Laura.” “Tidak masalah.” Setelah Ethan pergi, Laura duduk dan menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Dia harus mengerjakan semua ini secepat mungkin, sebelum malam tiba. Namun, belum ada lima belas menit sejak Ethan pergi, pria itu kembali lagi. Raut wajahnya tampak sungkan saat mendengar pertanyaan dari Laura. “Ada yang ketinggala
Laura menganga tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Pria itu memintanya untuk mengundurkan diri sekarang dan harus membayar pinalty? “Anda mau memeras saya, ya?” tanya Laura dengan wajah memerah. “Ini namanya tidak professional, Tuan Thompson. Saya tidak akan mengundurkan diri, kalau mau Anda saja yang memecat saya sekarang.” Mendengar tantangan yang Laura katakan, Harry menaikkan sudut alisnya. Setelah itu, dia tersenyum kecil. “Apa jaminannya kau tidak akan menjelekkan nama perusahaanku jika aku memecatmu sekarang? Kau ingin mendapat uang denda … jangan mimpi, Nona Green! Di kontrak tidak ada perjanjian aku harus membayar ganti rugi jika memecatmu sekarang. Siapa yang akan dirugikan?” Laura bergeming. Wanita itu meremas pakaiannya sendiri, menahan amarahnya yang ingin meledak saat ini juga. Di perjanjian kontrak mereka memang tidak ada peraturan bahwa Sky Hotel’s harus membayar ganti rugi jika memecatnya sebelum kontrak berakhir. Di sini jelas Laura yang akan dir
“Kalau seperti itu, mari saya antarkan Anda untuk bertemu dengan Tuan Thompson.” Mendengar nama itu, Laura mengangguk dengan semangat. Ah, dia tidak peduli dengan kata Jackson tentang Tuan Thompson yang selalu menginginkan kesempurnaan itu. Dia pasti bisa menghadapinya! Apalagi setelah ini, Laura akan mendapatkan kebebasannya dari Keluarga Green… Hanya saja, Laura justru berdiri mematung begitu sampai di dalam ruangan atasannya. Jujur, dia membayangkan Tuan Thompson adalah pria tua dengan perut buncit. Namun, apa yang dilihatnya ini? Atasan barunya itu adalah pria dengan punggung yang lebar tampak tenang melihat ke arah luar, di dekat jendela kaca besar di sudut ruangan! “Apa ini artinya aku akan melihat dua pria tampan sekaligus?” bisik Laura sangat pelan. “Tuan, ini Nona Green. Mulai sekarang dia akan bekerja sebagai sekretaris Anda.” “Baiklah. Bisa tinggalkan kami berdua?” tanya Harry yang masih belum menoleh. Deg! Mendengar suara berat pria itu,
Harry membenarkan dasinya sebelum keluar dari mobil. Di luar sudah ada Ethan—asisten pribadinya yang menunggu sejak tadi. Pria itu memang sangat disiplin. Dia selalu datang lebih dulu daripada Harry. “Hari ini ada wawancara terakhir untuk calon sekretaris. Anda yang akan melakukan wawancaranya langsung, kan?” tanya Ethan sembari berjalan. Dia sudah sibuk dengan tablet yang ada di tangannya. Harry hanya mengangguk. Dia sempat menoleh ke arah jam tangannya. Masih ada waktu untuk melakukan sesi wawancara terakhir. Sekretaris pria itu tiba-tiba saja berhenti tiga bulan lalu, itulah sebabnya Harry membutuhkan seseorang yang hampir mirip dengan pria yang pernah menjadi sekretarisnya itu. “Ada satu orang wanita yang berhasil sampai di tahap ini,” ucap Ethan dengan hati-hati. Langkah kaki Harry langsung terhenti. Dia menoleh, menatap Ethan dengan kening berkerut. “Bukankah aku sudah bilang, aku tidak mau sekretaris wanita. Merepotkan!” “Tapi dia punya potensi yang bagus,
Laura turun dari taksi dengan napas terengah-engah. Dia bersyukur karena berhasil melarikan diri dari Harry. Meskipun ia merasa lucu juga karena bisa-bisanya pria sedingin Harry bisa dikelabui dengan cara seperti itu. Akan tetapi, bagaimana jika pria itu bisa menemukannya? “Ah, aku tidak peduli. Lagi pula mana mungkin kami bertemu lagi,” lirih Laura lalu berjalan memasuki gedung apartemen. Dia kemudian masuk ke dalam lift dan menekan angka yang ada di sana. Walau bukan penghuni gedung apartemen ini, tetapi Laura memiliki akses karena temannya yang tinggal di sini. “Sialan! Kalau dipikir-pikir aku jadi bertemu dengan pria gila itu karena mengira jika dia Jackson.” Ting! Di saat yang sama, pintu lift terbuka. Laura bergegas menuju salah satu pintu yang sudah dia hapal nomornya. Dalam satu kali pencetan bel, pintu itu langsung terbuka, dan muncul pria berambut hitam dengan wajah bingung saat melihat laura. “Kau? Apa yang kau lakukan di sini saat hampir te
“Jangan berbohong, Harry,” protes ibunya cepat. “Aku tidak berbohong, Ma. Dia benar-benar kekasihku ... dan kami akan menikah bulan depan. Iya, kan, Sayang?” Harry menoleh, menatap Laura yang saat ini sedang melotot. Menikah? Mendadak kaki Laura lemas seperti tak bertulang, tetapi untung saja Harry dengan cepat memegang pinggangnya dengan kencang. Ibu Harry bahkan terkejut setengah mati, tetapi Harry tampak santai memindahkan tangannya ke bahu Laura. “Jadi, kalian batalkan saja perjodohan ini.” “Harry, tidak bisa. Perjodohan ini … semua teman-temanku sudah tahu.” Wanita berambut pirang, Eva yang memakai gaun merah tak terima. Dia berdiri dengan wajah menahan marah. “Itu bukan urusanku,” jawab Harry acuh tak acuh. “Dari awal aku memang tidak menyukai ini. Jadi, itu kesalahanmu sendiri.” “Harry, duduk! Kita bicarakan ini dengan baik.” Sekarang pria paruh baya yang tak lain adalah ayah Harry menatap putranya dengan wajah tak percaya. “Sorry, Pa. Kami hanya mampir
Pria asing itu merangkul Laura dan berkata, “Kalian ingin menculik kekasihku?” Ekspresinya dingin menatap orang-orang berseragam hitam, hingga membuat mereka gemetar. Meski demikian, salah seorang dari mereka mencoba mengendalikan diri dan berkata, “Kami tahu Anda dan Nona Laura tidak saling kenal. Jadi, segera lepaskan dia atau kami—” “Atau apa?” potongnya dengan nada mendominasi. Pria asing itu melepaskan rangkulannya pada tubuh Laura, lalu maju sedikit. “Sepertinya kalian tidak mengerti juga.” Diberikannya kartu nama kepada salah satu pria di sana dan beberapa detik kemudian, semua orang tampak ketakutan. “Maafkan kami, Tuan Harry. Kalau begitu, kami pergi dulu,” pamit mereka tiba-tiba. Laura jelas kebingungan. Ditatapnya pria asing yang ternyata bernama Harry itu dengan wajah keheranan. Kenapa tiba-tiba saja para pengawal ayahnya itu pergi begitu saja? Belum sempat memproses semua, pria itu sudah berbalik dan langsung menarik tangan Laura yang masih t
Di salah satu hotel bintang lima, keluarga Green sedang mengadakan pesta pernikahan dengan mewah. Hanya saja, Laura justru berdiri di depan pintu besar dengan tubuh gemetar dikarenakan amarah. Bagaimana bisa kakaknya justru melangsungkan pernikahan dengan tunangan Laura? Dikumpulkannya keberanian untuk menemui keduanya yang kini tersenyum lebar di sana. “Selamat malam semuanya,” ucap Laura dengan lantang yang langsung meredam kebisingan pesta. Meski demikian, Laura tak peduli. Bahkan, pada tatapan penuh tanda tanya dari para tamu undangan yang hadir di sana. “Laura, sedang apa kau di sini?” tanya Nyonya Green, begitu sadar apa yang sedang terjadi. Tatapannya begitu tajam, terlebih pada gaun merah dengan belahan dada rendah milik Laura, yang seolah memberi tahu bahwa dia adalah wanita lain dari pengantin pria saat ini! Alih-alih takut, Laura justru tersenyum dan terus berjalan menghampiri Caroline dan Sam yang tampak panik. “Cukup menarik sekali, ya hari ini.