Home / Romansa / Dandelion / Bab 7 Liburan Akhir Semester

Share

Bab 7 Liburan Akhir Semester

last update Last Updated: 2021-04-22 14:11:01

Hari berganti hari, bulan berganti bulan tak terasa ujian akhir sekolah berakhir. Lagu libur telah tiba menjadi trending topik kala itu, semua siswa sangat menati-nanti hari ini, karena kepala sekolah akan mengumumkan tentang rencana camping untuk liburan tahun ini. Itu merupakan usulan dari beberapa anggota osis dan guru, karena dengan diadakannya camping ini para siswa bisa lebih leluasa mengenal alam. Semua siswa mendaftar ke ketua kelas masing-masing, Zian sebenarnya enggan sejali mengikuti kegiatan camping karena ia ingin menghabiskan masa liburnya bersama Natasya. Namun Zain dan Ziad sudah terlanjur mendaftarkannya sekalian. Jadi mau tidak mau ia harus ikut. 

Semua siswa mempersiapkan kelengkapan camping, mereka akan berangkat tiga hari lagi yaitu hari minggu jam tiga sore, mereka akan berkumpul di sekolah untuk menunggu bus yang akan digunakan. 

"Kita harus segera bersiap juga Zain, Zian. Karena banyak sekali yang harus kita persiapkan mulai dari baju, sepatu, makanan, terus tenda. Oh ya camilan juga, terus alat pancing, baju renang, bola, gitar,dan... "

"Berhenti... Kenapa banyak banget? " tanya Zian. 

"Iya kayak kamu mau liburan ke bali aja." kata Zain. 

"Cukup bawa baju seperlunya, dan makanan seperlunya aja." kata Zian menyarankan. 

"Ya sudah."

Setelah terasa sudah lengkap perlengkapan yang akan dibawa mereka bertiga tinggal menunggu hari H. 

"Karna sekarang perlengkapan kita sudah siap, aku keluar sebentar ya." kata Zian. 

"Kamu mau kemana?" tanya Zain. 

"Ada deh." jawab Zian dengan tersenyum kemudian pergi meninggalkan rumah. 

"Ehh... Zain, kamu merasa ada yang berubah tidak dari Zian?" kata Ziad. 

"Ya berdasarkan pengamatanku selama ini, dia memang sedikit berubah." 

"Iya, akhir-akhir ini dia sangat bahagia."

"Iya sepulang Zian dari toko buku minggu lalu."

"Mungkin ia menemukan novel terbaru kali, makanya ia bahagia banget." pikir Ziad. 

"Sebentar dulu, tidak mungkin sesederhana itu. Aku rasa Zian pergi ke suatu tempat dan bertemu seseorang." curiga Zain. 

"Iya kamu bener, mungkinkah orang yang ia temui itu seorang gadis atau pacar Zian? "

Keduanya saling melihat satu sama lain, mungkinkah kecurigaan mereka berdua benar. 

"Mungkinkah gadis itu adalah Marina, atau Naya?" pikir Ziad dalam hati. 

Zian menghabiskan waktunya bersama Natasya, hubungan mereka berdua semakin lama semakin dekat bahkan melebihi seorang sahabat. Keduanya tenggelam dalam kebahagian, tanpa sadar senja pun datang. 

"Kamu darimana saja Zian?" tanya kedua sahabatnya sambil berkacak pinggang. 

"Aku habis jalan-jalan." jawab Zian dengan wajah yang sumringah. 

"Dengan siapa?" tanya lagi Zain seperti detektif yang mengintrogasi tersangka. 

"Pasti dengan seorang gadis." spontan Ziad. 

"Yup.. Tepat sekali " kata Zian lalu pergi ke kamar sambil menyisakan kesenangan pada kedua sahabatnya itu. 

"Itu kan sudah aku duga, Zian sudah punya pacar." kata Zain. Ziad pun berfikir siapa gadis itu mungkinkah Naya atau Marina. Ia harus mencari jawabannya sendiri. 

Hari untuk pergi bercamping telah tiba, Zian, Zain dan Ziad membawa perlengkapan seperlunya saja, karena laki-laki tidak terlalu banyak yang harus dibawa beda halnya dengan para gadis mereka perlu membawa barang banyak, mulai dari make, baju, dan apalah itu keperluan wanita pokoknya sangat ribet. Terlihat ada salah satu siswi yang heboh membawa dua koper entah apa isinya. Belum lagi semua siswa meledeknya, karena membawa barang terlalu banyak, tapi dengan PD-nya gadis itu tetap membawa barang-barangnya tanpa memikirkan kata-kata temannya. 

"Ziad, lihat itu.. Itulah sebabnya Zian menyuruhmu membawa baju dan makanan seperlunya saja jangan sampai kamu seperti dia." ledek Zain. 

Zian hanya tersenyum melihat Zain yang mulai meledek Ziad, Zain langsung berhenti tertawa setelah mobil mewah menurunkan gadis yang sangat cantik yaitu Marina, semua mata yang memandang begitu terpesona melihat kecantikannya kecuali Zian yang tidak melihatnya dan malah sibuk dengan buku. 

"Hey, Zian. Selamat pagi " sapa Naya dari belakang sambil menepuk bahunya. 

"Hey, Nay. Selamat pagi juga." jawab Zian sembari tersenyum kepada Naya. 

Ziad memerhatikan dan menduga kalau itu mungkin saja Naya yang Zian temui, karena setahu Ziad cuma Naya yang sedikit dekat dengan Zian di kelas. 

Marina yang melihat hal itu merasa sangat marah dan sakit hati sekali. Namun ia tutupi. Beberapa menit kemudian para guru dan bus sudah datang, semua siswa segera masuk ke dalam bus yang sudah ditentukan. Ketika Zian sedang mencari tempat duduk Naya mempersilahkannya agar duduk bersamanya dan Marina malah melakkukan hal yang sama, Kedua gadis itu terus saja beradu mulut sampai Zian di buat pusing olehnya, lalu Ziad tanpa disuruh langsung duduk disamping Naya dan begitu juga dengan Zain, ia langsung duduk di sebelah Marina. 

"Nah, sekarang udah adil kan. Kalian berdua bisa duduk dengan orang tampan." kata Ziad.

Zian hanya tersenyum simpul dan mengambil tempat duduk paling belakang. Wajah kedua gadis itu begitu kecewa, karena Zian tidak duduk bersamanya. Para siswi yang melihat Marina dan Naya duduk bersama anggota 3Z merasa cemburu, sedang di belakang hanya laki-laki yang duduk. 

Perjalanan yang ditempuh untuk sampai di tempat camping sekitar dua jam setengah, sesekali untuk menghilangkan rasa bosan di dalam bus mereka semua bernyanyi dan main teka teki. Akhirnya mereka sampai di tempat camping suasananya begitu asri, udara disana juga begitu nyaman. 

"Tidak terlalu menantang pak guru, kenapa kita tidak pergi camping ke danau biru itu saja yang lebih menantang adrenalin." keluh salah seorang siswa. 

Zian yang mendengar hal itu jadi teringat Natasya. 

"Nanti tengah malam kami para guru akan mengadakan jurit malam, kalian siap-siap saja ketakutan." kata salah satu guru bercanda. 

Mereka lalu bersiap mendirikan tenda masing-masing, para gadis mencuri-curi perhatian dari 3Z. Namun 3Z tidak menanggapinya, Naya dan Marina tidak mau kalah dengan gadis-gadis yang lain. Satu tenda itu berisi tiga orang, ketika Naya sedang mendirikan tenda tiba-tiba tangannya berdarah. Dia merintih kesakitan semuanya khawatir dan Zian pun melihatnya dan Dia berfikir kalau Zian akan menolongnya tetapi Ziad datang bak kilat menyambar untuk menolong Naya dan membawanya ke tenda guru untuk mengobati lukanya. 

Di tenda Ziad meniup tangan Naya dengan lembut untuk mengurangi rasa sakitnya, Naya yang melihat Ziad yang sigap menolongnya menjadi terpesona. Naya terlepas dari lamunannya setelah Ziad melihatnya. 

"Kamu kenapa?" tanya Ziad. 

"Gak apa-apa kok, udah lagian tanganku sudah membaik." ketus Naya sambil menarik tangannya. 

"Aku tahu kok kamu sengaja melakukan hal itu agar mendapat perhatian dari Zian kan." kata Ziad.

Naya terkejut saat Ziad mengetahui rencananya. 

"Tapi menurutku, Zian tidak akan menyukai gadis yang seperti itu. Lebih baik kamu bersikap sewajarnya saja atau kamu ungkapkan saja perasaanmu yang sebenarnya pada Zian." saran Ziad. Beberapa kejadian yang melibatkan keduanya membuat benih-benih cinta tumbuh dalam diri Ziad, tetapi ia sering melawan perasaannya itu, karena ia tahu cintanya itu akan bertepuk sebelah tangan. Ziad lalu meninggalkan Naya setelah mengobati luka ditangannya. Naya terus saja memandang tanganya yang diperbankan oleh Ziad dan mengingat saran dari Ziad tadi. 

"Apakah Aku harus mengikuti saran dari Ziad, tapi bagaimana jika Zian tidak menyukainya itu akan menjadi penolakan yang pertama yang akan diterimanya. Tidak Aku tidak mau hal itu terjadi, tapi jika Aku tidak mencobanya Aku tidak tahu diterima atau ditolak oleh Zian." 

Hati dan pikirannya mulai bertentangan, mengeluarkan argumen masing-masing tetapi saran Ziad tadi terus membayanginya. Dan pada akhirnya ia memilih mengikuti kata hatinya yaitu untuk mengutarakan isi hatinya pada Zian. 

Senja kini berganti malam, semua siswa sedang melaksanakan makan malam. Naya lalu menghampiri 3Z yang tengah makan dan ingin berbicara dengan Ziad secara pribadi. 

"Ziad, bisa kita bicara sebentar?"

"Tentu.. "

Zian dan Zain heran, hal apa yang harus mereka bicarakan secara pribadi. Pikiran itu terus membayangi Zain. Zian sudah selesai dengan makanannya, ia lalu pergi ke danau untuk membasuh muka. 

Setelah bicara panjang lebar Ziad akhirnya mengerti kenapa Naya harus berbicara dengan dirinya. Ia ingin meminta bantuan darinya untuk dapat berbicara dengan Zian secara empat mata. Ziad lalu mengiakan untuk membantu Naya. Naya lalu pergi setelah Ziad setuju membantunya. 

"Posisiku sekarang seperti Gaul di film Boys Before Flower. Menyatukan orang yang kamu cintai dengan cinta pertamanya." kata Ziad sedikit kecewa. 

"Tapi ya sudahlah, kalau memang dia adalah soulmateku pasti dia tidak akan kemana-kemana." hibur Ziad dalam hatinya. 

Ketika sampai di tenda hanya Zain saja yang terbaring di dalam, Zian tidak ada disana. 

"Zain, Zian pergi kemana?" tanya Ziad. 

"Ohh tadi dia pergi ke danau katanya."

"Udah lama perginya?"

"Ya lumayan, saat kamu pergi tadi bersama Naya"

Ziad lalu menyusul Zian ke danau, ia menemukan Zian yang tengah duduk sendiri di dekat danau sambil memandang bintang. Ziad lalu mengechat Naya dan mengatakan kalau Zian ada di danau. Naya lalu bersiap menuju kesana. Ziad tidak langsung pergi dari sana Ia bersembunyi di balik semak-semak dan menguping pembicaraan mereka berdua. 

"Zian... " lirih Naya. 

"Nay, "

"Aku boleh duduk kan."

"Ohh... Silahkan."

Zian terus saja memandang ke langit melihat konstalisi bintang, Naya hanya terdiam saja ia tidak tahu harus memulai dari mana. Di balik semak-semak Ziad terus memantau dengan teropong yang dibawanya. 

"Zian... "

"Iya.. "

"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan kepadamu."

"Iya katakanlah."

Zian masih saja memandang ke arah langit. 

"Se... Se... Sebenarnya aku suka sama kamu." 

Zian terkejut mendengar kata itu, dan beralih memandang wajah Naya sebentar. Lalu beralih melihat danau. 

"Iya Zian sejak lama aku menyukai dirimu"

Zian hanya terdiam dan masih tetap melihat danau itu. 

"Kenapa kamu hanya diam saja, setidaknya katakan sesuatu."

Zian masih saja tetap membisu tak mengatakan sepatah katapun. Naya pun kembali diam karena Zian yang hanya terdiam saja. 

"Maaf Nay, aku hanya menganggapmu sebagai teman saja dan ada orang lain yang aku cintai." kata Zian mulai menjawab pertanyaan Naya. Air mata Naya tak bisa dibendung ia menangis didepan Zian. 

"Sekali lagi maaf Nay."

Setelah lama menangis di hadapan Zian, Naya bisa langsung berubah seketika menjadi ceria. 

"Uhuuhhhh," katanya sambil mengusap air matanya. 

"Terima kasih, ya Zian. Aku merasa lega setelah mengutarakan perasaan yang begitu lama terpendam bahkan sampai menyesakkan." dengan wajah ceria seperti biasanya. Ziad sebenarnya sudah tahu hal itu akan terjadi. 

Naya dan Ziad lalu bercanda ria disana, kata-kata yang dilontarkan sebelumnya seperti mimpi saja seketika mimpi buruk itu berubah jadi kecerian. Mereka berdua akhirnya menjadi teman akrab. 

"Nay, sebenarnya ada orang yang lebih baik dariku. Yang mencintaimu dengan tulus." kata Zian

"Siapa? "

"Dia adalah sahabatku, Ziad"

Naya kaget dengan apa yang barusan ia dengar, Naya tidak pernah berfikir kalau Ziad menyukai dirinya. 

"Kamu gak sedang bercanda kan, Zian?" tanya Naya. 

"Iya."

"Sejak kapan?"

"Ziad menyukaimu sejak lama hanya saja ia menyembunyikan perasaannya padamu, saat di pesta ulang tahun Marina, Ziad begitu terpesona dengan dirimu. Ziad itu tidak bisa mengatakan perasaannya padamu." kata Zian menjelaskan. 

Naya jadi teringat saat-saat bersama Ziad, kenapa ia tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Naya lalu meminta bantuan Zian. Zian lalu pergi ke tenda meninggalkan Naya seorang diri. Di tenda Zain dan Ziad tengah asik bermain gitar sambil menyanyi bersuka ria. 

"Ziad, kamu ditunggu Naya di danau." kata Zian

"Lah...kamu dan Naya kenapa sih, ini kedua kalinya loh."

"Cepetan gih, nanti Naya malah pergi." kata Zian lagi. 

Ziad lalu segera pergi untuk menemui Naya, setelah sampai di sana Naya tidak ada. Ziad terus mencari Naya, tetapi tetap tidak ada. Kemudian seseorang dari belakang menutup kedua matanya. 

"Nay? "

"Yup."

"Kenapa kamu memanggilku kesini?"

"Aku ingin menunjukkan sesuatu ke pada kamu, tapi sebelum itu mata kamu harus ditutup." kata Naya sambil menutup mata Ziad dengan sapu tangan. 

Mereka lalu pergi ke sebuah hutan, karena Zian sudah menyiapkan sesuatu untuk mereka berdua. 

"Nay, sebenarnya kamu mau ajak aku kemana?"

"Udah kamu jalan aja nanti kita juga akan sampai kok."

Setelah sampai Naya membuka penutup mata Ziad. 

"Surprise..!! "

"Nay, apa ini semua?"

"Ziad, maaf kalau aku sama sekali tidak peka. Aku memang gadis yang paling bodoh yang tidak menyadari kalau ada laki-laki yang sangat tulus mencintaiku dan aku tidak ingin kehilangan orang itu." sambil menggenggam tangan Ziad. 

"Jadi sekarang.. "

"Iya." keduanya tersenyum tersipu malu. 

"Kalau gitu ayo kita makan, mumpung udah disiapkan." ajak Naya. 

"Kamu yang buat semua ini?"

"Tidak semua sih, aku dapat bantuan dari Zian sedikit."

"Jadi ini rencana kamu sama Zian."

Naya mengangguk senang. Makan malam romantis seadanya, dengan beralaskan tikar seperti piknik ditambah ribuan kunang-kunang berterbangan didekat merekan. 

"Zian itu memang tahu banget cara menyenangkan hati seorang gadis. Dia juga tahu tempat-tempat dengan pemandangan yang sangat indah seperti ini" puji Ziad

"Iya kamu benar."

Setelah keduanya selesai mereka kembali ke tenda masing-masing untuk mengikuti kegiatan esok harinya.

Pagi harinya semua siswa melakukan jelajah alam sambil mengumpulkan nama-nama tumbuhan yang bisa di pakai sebagai obat. Guru panjang lebar menjelaskan tentang keindahan alam dan berbagai jenis tanaman obat beserta khasiatnya. Ziad dan Naya terus saja bersama sepeeti tidak ingin pisah satu sama lain. 

"Ehemmm.... Gak usah gitu juga kali. Buat yang jomblo iri aja." kata Zain

"Kasihan yang jomblo gak ada yang gandeng tangannya." ledek Ziad. 

"Iya honey, kamu benar. Kasihan banget si Zain." tambah Naya. 

Zain sudah naik darah gara-gara Ziad meledeknya, ditambah lagi ada si Naya yang membantunya. Zain lalu mengejar Zian didepannya yang berjalan duluan. 

"Awas kalian berdua." ancam Zain. 

Ziad dan Naya tertawa lepas, karena berhasil membuat Zain darah tinggi. Zian hanya sibuk mengamati beberapa bunga dan tanaman yang bisa dipakai menjadi obat. Kemudian Zian menemukan benih dandelion disana ia langsung meniup benih itu seperti yang ia lakukan saat bersama Natasya. Zain yang melihat hal itu lalu bertanya. 

"Zian, sejak kapan kamu menyukai hal yang ke kanak-kanak kan seperti ini?"

"Aku hanya seneng saja melihatnya berterbangan seperti salju." kata Zian sambil tersenyum manis. 

Setelah semua kegiatan selesai mereka beristirahat, dan dilanjutkan makan siang kemudian guru mengadakan game untuk menguji kekompakan semua siswa. Zian tidak mengikuti game, ia hanya melihat saja. Permainan pun dimulai, semua siswa benar bersenanh-senang hingga senja sampai malam pun datang. 

Di malam terakhir camping, semua siswa menyiapkan acara api unggun, sejak tadi siang sebagian siswa sudah mengumpulkan ranting dan beberapa balok kayu untuk di bakar. Api unggun mulai dinyalakan siswa membuat lingkaran besar dan dikesempatan itu Marina curi-curi perhatian dan duduk diantara Zian dan Zain karena Naya sudah bukan penghalang bagi dirinya. Marina merasa kedinginan dan Zian melepaskan jaketnya dan memakaikannya ke Marina, Marina sangat dengan perhatian Zian itu. Usai api unggun selesai semua siswa masuk ke tenda masing-masing untuk beristirahat, karena mulai besok mereka akan pulang. 

Pagi-pagi buta saat semua siswa masih terlelap tidur Zian pergi ke atas bukit untuk melihat matahari terbit, karena momen seperti itu jarang ditemukan di rumahnya. Zian tidak tahu kalau Zain mengikutinya dari belakang. 

"Ehh Zain, kamu ikut juga."

"Iya."

Matahari perlahan-lahan mulai muncul menyinari semua pepohonan yang ada di hutan itu, sinarnya memberikan kehangatan bagi mereka berdua. Setelah itu mereka berdua kembali ke tenda dan mengemas barang bawaannya. 

Related chapters

  • Dandelion   Bab 8 Kepulangan Zainia

    "Zain....!!" teriak seorang gadis dari ruang tamu memanggil- manggil namanya, Zain masih saja tidur dengan pulas, gadis itu terus saja memanggil namanya sambik menaiki tangga yang menuju ke kamar Zain. Zian keluar dari kamarnya untuk melihat darimana asal suara itu datang."Selamat pagi Zian."Alangkah terkejutnya Zian ketika melihat gadis itu, ya itu adalah Kak Zainia, kakak kandung Zain dan kakak sepupunya Zian."Kak Nia?""Zian, Zain dimana?""Sepertinya masih tidur mungkin kak.""Seharusnya libir panjang kayak gini kalian pergi bersenang-senang ke pantai, camping, mall, dll""Tiga hari yang lalu kami pulang camping kak."Nia lalu pergi ke kamar Zain untuk menemui adek tercintanya, ketika Nia di depan pintu Nia hanya diam saja sambil melihat situasinya."Hmmm.... " desah Zian yang sudah tahu apa yang akan terjadi pada kamar Zain.Brakkk.... Brakkk...!!!! pintu kamar Zain di hancurkan dengan sekali pukulan dari Nia, kakak

    Last Updated : 2021-04-24
  • Dandelion   Bab 9 Makan Malam

    Senja kini berganti malam, Nia mulai bersiap-siap untuk pergi ke restoran bersama 3Z. Sesuai dengan perjanjian yang kalah harus mentraktir yang menang makan malam termewah. Dengan menggunakan dress berwarna silver dengan rambut yang terurai, Nia terlihat begitu mempesona. 3Z sedang menunggu di depan, ketika Nia datang ketiganya begitu takjub melihatnya."OMG Hellow... Kak Nia, you are so beautiful. Aku sampai pangling kak, kalau di banding dengan pacarku kakak number one, seandainya saja kakak seumuran denganku kakak akan aku jadikan pacar." puji Ziad."Ehemmm... ""Ya sudah kalau gitu sebaiknya kita berempat segera berangkat."ajak Zian.Semuanya memasuki mobil dan berangkat ke restoran. Ponsel Ziad terus saja berbunyi entah siapa yang menghubunginya, tetapi Ziad tidak menghiraukannya. Satu jam perjalanan mereka berempat akhirnya sampai di restoran, restoran itu terlihat begitu mewah. Nia mulai melangkah dengan anggunnya memasuki restoran itu dite

    Last Updated : 2021-04-28
  • Dandelion   Bab 10 Kelompok Belajar

    Libur panjang akhir ujian telah berakhir, kini waktunya kembali untuk menjalani aktivitas sekolah seperti biasanya namun dengan nuansa kelas yang berbeda, 3Z sudah kelas tiga yang artinya masa untuk bermain-main sudah berakhir. Kini mereka harus fokus terhadap masa depan yang menanti mereka di luar sana. 3Z mulai serius untuk belajar meski nilai mereka memuaskan di setiap mata pelajaran namun tidak membuat mereka untuk berhenti belajar atau merasa puas. Waktu jalan, shoping atau kumpul bareng dikurangi, karena kelas tiga ini mereka harus benar-benar fokus agar bisa masuk ke universitas yang cukup bergengsi secara bersama, karena itu merupakan kesepakatan 3Z akan selalu bersama dan sekolah ditempat yang sama.Di perpustakaan Zain mencari beberapa buku sebagai referensi untuk bacaannya, saat hendak mengambil buku yang diinginkan tak sengaja tangannya menyenggol buku lain dan terjatuh sampai mengenai seseorang dari balik lemari.Aww...!!Zain langsung bergega

    Last Updated : 2021-04-30
  • Dandelion   Bab 11 Gelang

    Di hari minggu, Zian selalu nampak berlari pagi mulai jarang terlihat. Zain berlari seorang diri di taman, Ziad yang sekarang sudah punya pacar jadi lari di hari minggu sudah tidak lagi baginya. Zain seorang diri di taman, mendengarkan lagu sama sekali tidak bisa menghibur rasa kesepiannya. Beberapa menit istirahat ia mulai melanjutkan larinya, berdiam seorang diri taman membuatnya sedikit minder, karena di taman penuh sepasang kekasih yang tengah menikmati pagi minggu yang indah. Zain terus berlari kemana arah angin menuntunnya, tanpa disadari ia sampai di Danau Biru."Hah...ternyata aku bisa berlari sampai sejauh ini." pikirnya.Seorang gadis berambut panjang terurai, bersandar di bawah pohon sambil memainkan gitar. Perlahan Zain menghapiri gadis itu, gadis itu mulai mendengar suara langkah kaki mendekatinya gadis itu merasa takut dan tidak menengok ke belakang sedikit pun. Tiba-tiba bunyi hp Zain berdering, mengalihkan pandangannya sejenak. Dengan sigap gadis it

    Last Updated : 2021-05-12
  • Dandelion   Bab 12 Berubah

    Sebulan pun berlalu, hubungan Zain dengan Marina masih romantis-romantisnya, mereka berdua pergi ke danau biru untuk merayakan hari jadiannya yang ke sebulan."Kita mau kemana sih sayang?" kata Marina dengan mesranya."Kita akan pergi ke suatu tempat yang sangat spesial." kata Zain.Di villa Ziad, Naya dan Zian menunggu Zain dan Marina untuk belajar bersama. Namun mereka berdua tak kunjung datang hingga Naya menjadi kesal dibuatnya."Mereka berdua kemana sih?!" ketus Naya."Zian, kamu tahu kemana perginya Zain?" tanya Ziad."Tidak, sejak pulang sekolah aku tidak pernah melihatnya bahkan akhir-akhir ini aku jarang melihat Zain." kata Zian."Aku perhatikan kalian bertiga jarang sekali kumpul bareng sekarang ini." kata Naya."Iya, aku sering menghabiskan waktu di perpustakaan dan sepulang sekolah pun aku mengurung diri. Kita bertiga paling kumpul cuma hari minggu aja." kata Zian."Iya, tapi minggu-minggu i

    Last Updated : 2021-05-14
  • Dandelion   Bab 13 Adu Domba

    Satu minggu berlalu, setelah pertengkaran hebat Zian dan Zain yang mengakibatkan Zian harus masuk ke rumah sakit lagi. Tidak seperti sebelumnya Zain dan Ziad yang biasanya selalu menemani Zian di rumah sakit tak terlihat lagi bersama. Ziad dan Naya yang menemani Zian, saat ia tengah mengalami masa kritisnya. Zain tak pernah menjenguk Zian sekali pun ke rumah sakit, entah dia takut menatap wajah Zian setelah apa yang ia perbuat padanya."Bagaimana kondisimu sekarang Zian?" tanya Ziad."Alhamdulillah sudah baikan." jawab Zian yang masih merasakan sakit di kepalanya.Suara pintu terbuka, mereka bertiga berfikir kalau yang datang adalah Zain, tetapi tidak. Marina membawa parsel buah untuk Zian.Hai Zian, bagaimana kabarmu?"sapa Marina."Aku tidak bisa bebohong kalau aku baik-baik saja, kamu bisa melihat sendiri keadaanku yang sekarang." kata Zian."Semoga kamu lekas sembuh ya, karena sebentar lagi kita mau UN" kata Marina."Iya.""Aku tidak menyangka

    Last Updated : 2021-05-17
  • Dandelion   Bab 14 Kenangan

    "Ayah, aku ingin main kuda-kudaan.""Maaf ya nak, ayah tidak bisa. Ayah masih banyak kerjaan.""Ya ayah sibuk terus, tidak ada waktu buat Zian." kata Zian kecil sambil cemberut."Baiklah, ayo naik!""Yippy.... yippy.. "Kebahagian Zian kecil terpancar di kedua bola matanya, tak sedikit pun kesedihan melanda keluarga Zian. Saat itu usia Zian lima tahun, keluarganya masih lengkap dan utuh. Kebahagian keluarga Zian tidak berlangsung lama, kehadiran adik ayah merubah semuanya. Perselisihan terus saja terjadi terhadap kedua saudara itu, perselisihan masalah harta warisan dari mendiang kakek. Padahal harta warisan itu sudah dibagi rata bahkan paman Ayan mendapatkan warisan paling banyak, tetapi begitulah ia terus saja menagih haknya pada ayah.Saat itu hujan sangat deras, ayah belum pulang ke rumah, karena ada beberapa kerjaan yang belum selesai di kantor."Ayah, kapan pulang?" telpon Zian."Iya nak, kerjaan ayah sudah selesai. S

    Last Updated : 2021-05-21
  • Dandelion   Bab 15 Pindah

    Ibu Zian sudah menceritakan pada kakaknya tentang kepindahannya dengan Zian, awalnya ayah Zain tidak setuju dengan keputusan adeknya itu, tetapi dengan berbagai pertimbangan ia pun setuju dengan keputusan adeknya."Lalu kapan kalian akan pindah?" tanya ayah Zain."Pagi ini jam sepuluh." jawab ibu Zian."Secepat itu, Zian apakah kamu tidak ingin tinggal bersama pakde lagi, karena Zain?""Bukan begitu, Pakde. Pakde sudah seperti Ayah bagiku, pakde juga sudah banyak menolong aku dan Ibu. Aku tidak ingin merepotkan pakde lagi.""Baiklah jika itu keputusan kalian berdua, tapi ingat jika kalian perlu sesuatu segera hubungi kami." pesan ayah Zain."Iya Pakde. Aku akan sering main kesini."Zian dan ibuny berpamitan, ayah Zain sebenarnya tidak mengizinkan keponakan dan adeknya harus meninggalkan villa tersebut. Nia tidak tahu kalau Zian akan pindah, ia masih saja memantau Zain dengan Marina."Ternyata mereka pacaran, jadi selama ini apa y

    Last Updated : 2021-05-29

Latest chapter

  • Dandelion   Bab 29 Pulih

    Ziad kembali istirahat, memejamkan kedua matanya. Suara klakson mobil dari depan mengejutkannya ia lalu melihat dari balik jendela. Ternyata itu adalah kedua orang tuanya yang baru saja pulang. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan turun ke bawah untuk menyambut kedua orang tuanya."Akhirnya kita sampai rumah juga.""Iya," jawab ayah Ziad."Silahkan tuan, nyonya." kata pembantu membawakan dua gelas air minum."Terima kasih ya bik." ucap ibu Ziad."Ayah sama ibu baru pupang dari rumah sakit?""Ohh Ziad, kamu sudah pulang nak?" tanya ibunya."Hmmm.. " kata Ziad sambil mengangguk."Iya, ayah sama ibu dari rumah sakit." kata ayah."Alhamdulillah ayah Zain sudah baikan. Ayah sama ibu sempat khawatir saat kamu mengabari kalau ayah Zain masuk rumah sakit dan kritis." kata ibu."Lalu kerjaan ibu sama ayah bagaimana?""Alhamdulillah, kami berdua mendapatkan kontrak itu." kata ayah.&nb

  • Dandelion   Bab 28 Dilema

    Di perjalanan Ziad melihat Zian berdiri sendirian di pinggir jembatan, Ziad lalu menepikan mobilnya dan menghampiri Zian. Awan hitam mulai menyelimuti langit, nampaknya hujan akan segera turun."Hey, kenapa bengong disini. Lihat langit sudah mulai mendung, sepertinya akan turun hujan.""Ziad?"Ucapan Ziad benar, hujan pun turun dengan derasnya mereka berdua segera masuk ke dalam mobil."Kamu kenapa sih Zian, akhir-akhir aku lihat kamu sering menyendiri. Yah memang biasanya seperti itu, tetapi kali ini agak sedikit berbeda. Kamu kepikiran soal Zain?"Zian hanya diam saja, tak merespon perkataan Ziad. Niat Ziad untuk pulang ke rumah diurungkan, ia lalu mencari tempat untuk ngopi dan ngemil santai serta berbicara dengan Zian."Ayok! Kita mampir ngopi dan ngemil dulu disini," ajak Ziad.Zian masih saja melamun, entah apa yang sedang ia pikirkan."Zian..!""Ehh... Iya ada apa?""Kamu ini kenapa sih, dari tadi

  • Dandelion   Bab 27 Harus Memutuskan

    "Aku keluar sebentar dulu ya Ziad, Nay." kata Zian.Zian sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Zain disana, ia tidak marah atau pun dendam terhadapnya. Tapi ia hanya tidak ingin kalau Zain malah akan membecinya ketika ia mencoba menyapanya.Zian duduk di kantin sambil menikmati secangkir coklat panas sendirian, tiba-tiba handphonenya berdering. Telpon dari ibunya yang mengingatkan Zian untuk makan siang. Meskipun ibunya sibuk, ia tidak lupa mengingatkan putranya untuk makan.Hari sudah hampir siang, Naya dan Marina berpamitan untuk pulang ke rumah. Ziad menawarkan diri untuk mengantar Naya pulang, tetapi Naya merupakan gadis yang pemberani dan pengertian terhadap pacarnya. Naya mengatakan kalau ia bisa pulang sendiri, lagi pula ia juga tahu bagaimana hubungan mereka bertiga jadi tidak mungkin hanya karena dirinya Ziad akan meninggalkan sahabatnya yang sedang mengalami musibah."Serius kamu tidak apa-apa?" tanya Ziad meyakinkan.

  • Dandelion   Bab 26 Belum Ada Kemajuan

    Zain berangkat sekolah seorang diri, ia hampir saja terlambat masuk sekolah. Saat tengah menjawab soal ujian, pikirannya tidak fokus untuk menjawab soal. Ia hanya memikirkan kondisi ayahnya yang masih belum sadarkan diri. Satu persatu teman-temannya sudah selesai mengerjakan soal, tinggal beberapa orang masih menjawab termasuk Zain. Ziad melihat Zain yang terus saja melamun, ia lalu melemparkan kertas ke arah Zain."Apa?" kata Zain sambil melihat ke arah Ziad.Ziad menunjukkan kertasnya ke Zain dan jam dinding yang ada di depan. Zain mengerti maksud Ziad, kalau ia harus segera menyelesaikan soal-soal itu sebelum waktu yang sudah ditentukan.Marina pergi ke luar menunggu Zain di tempat parkiran setelah ia mengumpulkan lembar jawabannya. Marina sama sekali belum mengetahui kalau ayah Zain masuk rumah sakit, seharian kemarin ia kesal dan jengkel pada Zain serta mereka juga tidak saling menghubungi sama sekali.Ziad mengantarkan lembar jawaban kemud

  • Dandelion   Bab 25 Ayah Sakit

    Zain dan Mira berpisah di danau itu dan pulang ke rumah masing-masing. Zain berniat tidak ingin pulang ke rumah, tetapi kata-kata Mira terus terngiang di kepalanya. Ia lalu mengikuti kata Mira, beberapa menit perjalanan Zain akhirnya sampai di rumah. Ia terdiam mematung di depan pintu rumah, memikirkan apakah ada keluarganya benar-benar peduli terhadap dirinya.Zain mulai membuka pintu, tidak seperti yang ada diharapkan. Satu pun tidak ada yang menunggu kepulangannya, bahkan rumah terlihat sepi. Mungkin orang rumah sedang pergi keluar. Tak ada satu pun yang dapat ditanyai di sana, bik Imah sudah dipindahkan ke tempat tante Nirmala dan Zian atas perintah ayah Zain."Bodohnya aku mengira kalau keluargaku saat ini sedang memikirkan diriku. Mira, kamu salah jika keluargaku sangat mengkhawatirkan diriku." ucap Zain dalam hatinya.Zain mulai bertingkah seenaknya di rumah yang sepi itu, ia melakukan apa yang ia inginkan. Mulai dari main game sepuasnya hingg

  • Dandelion   Bab 24 Bertemu Lagi

    Zain kembali ke danau untuk menenangkan dirinya. Ia melempar krikil ke danau, tidak pias dengan hal itu ia juga berteriak melepaskan semua beban pikiran yang ada di kepalanya."Haaaaaaa...!"Seseorang dari belakang melempari dengan sebuah apel merah."Woyy... Berisik!""Kamu? Kenapa kamu kesini, mau bunuh diri lagi?""Woyy jangan ngarang ya, rumahku ada di sekitaran sini dan aku selalu kesini.""Ohhh.. Hah! Jangan-jangan kamu gadis yang waktu itu aku lihat?"Gadis itu mengingat kembali kejadian waktu pertama kali bertemu dengan Zain."Ohh jadi itu kamu, aku pikir..""Waktu itu kenapa kamu lari?""Ohh waktu itu aku kira penculik makanya aku lari." kata gadis itu bercanda."Dia berbeda sekali dengan waktu itu, gadis lugu, dan pemalu. Sekarang yang ada di hadapanku gadis yang sangat ceria dan penuh semangat." pikir Zain dalam hatinya."Nama aku Zain." kata Zain memperkenalkan diri dengan menyodork

  • Dandelion   Bab 23 Zain Mulai Acuh pada Marina

    Hari kedua ujian pun berlangsung, kali ini mata pelajaran yang di uji adalah pelajaran bahasa inggris. Tak cukup waktu lama bagi Naya dan Zian untuk keluar lebih dulu dari teman sekelasnya, karena mereka berdua paling mahir dalam bahasa inggrisnya.Ziad, Marina dan Zain juga keluar lebih dulu dari pada teman sekelasnya yang lain. Zian yang melihat Zain yang keluar kelas, ia lalu segera pulang duluan."Nay, aku pulang duluan ya. Dah.""Ehh Zian, kita kan akan pergi ke... "Zian sesegera mungkin memuter balik mobilnya dan melesat seperti orang yang ketakutan."Hemmm. Sudahlah.""Beb, kamu lagi lihat apa?""Kamu sudah selesai kan beb, kalau begitu kita langsung pulang saja ya." kata Naya yang langsung masuk ke dalam mobil Ziad tanpa memadang ke arah Marina dan Zain sedikitpun."Siap tuan putri." kata Ziad yang ikut-ikutan mengacuhkan Zain dan Marina.Mereka berdua segera pergi dari tempat parkiran meninggalkan Z

  • Dandelion   Bab 22 Masalah Zain

    Zain berlari mencari-cari asal suara itu, suara isak tangis seorang gadis terdengar. Sepertinya gadis itu dalam bahaya. Zain melihat sebuah danau dan suara itu terdengar dari arah sana."Aku sudah tidak kuat lagi." ucap gadis itu, kemudian ia tenggelam ke dalam danau itu.Tanpa pikir panjang Zain langsung menyelam, menyelamatkan gadis itu yang tenggelam ke dalam danau. Danau itu cukup dalam, tetapi Zain adalah penyelam yang handal. Ia bahkan bisa menyelam tanpa mengenakan pakai selam. Zain berhasil meraih tangan gadis itu, ia pun membawanya ke darat. Gadis itu pingsan, Zain berusaha menyelamatkan gadis itu."Hei sadarlah!""Uhukk.. Uhukk.!""Syukurlah.""Terima kasih ya, kamu sudah menolongku." ucap gadis itu."Sebenarnya apa yang terjadi, sehingga kamu bisa tenggelam di danau itu.""Aku sedang mencari gelangku yang hilang, hampir semua danau yang ada di sekutar hutan ini telah aku telusuri, tapi aku tidak bisa menemuka

  • Dandelion   Bab 21 Ujian Hari pertama

    Seminggu berlalu sejak double date bersama Ziad dan Naya. Kini ujian sudah ada di depan mata, Zian mempersiapkan segala keperluan ujiannya."Pagi Zian, gimana semalam sudah belajar kan?" sapa Naya di sekolah."Pasti!" jawabnya dengan semangat."Pertempuran kita cuma empat hari, semangat hari pertama!" kata Naya menyemati."Okay." jawab Zian yang bersemangat.Semua siswa SMA GARUDA mengikuti ujian dengan tertib, mereka semua menjawab soal ujian dengan sangat teliti. Tak berapa lama, akhirnya Zian menyelesaikan ujiannya, semua soal sudah ia jawab."Hemmm... Aku tidak heran kalau Zian jadi secepat itu." kata Naya.Semua siswa hanya melongo saja saat Zian menaruh lembar jawaban di atas meja guru. Mereka semua takjub dengan kecepatan Zian menjawab semua soal matematika. Zian lalu langsung pulang, karena mata pelajaran yang di uji hanya satu perharinya.Di tempat parkiran, Zian bertemu dengan Zain yang

DMCA.com Protection Status