Share

Bab 4

Author: skybby
last update Huling Na-update: 2023-12-06 18:40:05

"Abang Kai! "

Kaisar menoleh ke sumber suara. Ia melihat Kara tengah tersenyum lebar dan berjalan ke arahnya. Kaisar terkejut, masih tak percaya dengan ucapan Kara.

"Ya, nona? "

"Nanti ikut aku ke suatu tempat, mau ya?"ajak Kara.

"Kemana?"tanya Kaisar.

"Ada deh. Nanti juga tahu, " ucap Kara.

Kaisar tidak langsung mengiyakan permintaan gadis itu.

"Tuan Anton tidak mengijinkan Nona pergi keluar rumah, "ucap Kaisar tegas. Kara menghela nafas kasar.

"Nanti aku bujuk papah, "ucap Kara.

"Tidak bisa. Tetap di rumah, ini demi keselamatan Nona, " ucap Kaisar tegas. Ia sebisa mungkin bekerja secara profesional. Anton pernah mengatakan padanya bahwa sebisa mungkin untuk memastikan Kara untuk tetap di dalam rumah. Walaupun sudah punya bodyguard yang bisa menjaga Kara, Anton tetap tidak mengijinkan gadis itu pergi dari rumah.

Hanya tadi pagi Kara keluar rumah untuk jogging. Itu pun tanpa persetujuan dari Anton. Karena Kara tahu jika ia meminta ijin, Anton tidak akan memperbolehkannya.

Kaisar menyetujui ajakan gadis itu untuk jogging karena ia berpikir tak akan masalah jika sesekali keluar dari rumah. Lagipula ini masih di area sekitar rumah, tidak ada yang akan berbuat macam-macam pada mereka.

"Cuma sekali ini aja kok, nanti aku yang bujuk papah, " Kara masih tidak menyerah. Kaisar menggeleng tegas.

"Tidak. Ini perintah dari tuan, "

Wajah Kara berubah menjadi murung. Bibirnya cemberut. Persis seperti anak kecil yang mengambek.

"Masuk ke dalam, Nona."ucap Kaisar.

"Ish!"

Kara berbalik badan. Ia masuk ke dalam rumah sambil menghentak-hentakkan kakinya. Kaisar menatap Kara dengan tatapan datar. Ia tidak peduli gadis itu akan kesal atau marah padanya, Ia hanya menjalankan tugasnya.

***

"Boleh ya Pah? Sekali aja, "

Anton menggeleng. Ia tidak setuju dengan gadis itu. Sedari tadi Kara terus - terusan membujuknya agar mengizinkan untuk pergi keluar. Seperti sekarang Kara memegang tangan Anton dan masih membujuknya.

"Papah bilang enggak, Kara. "ucap Anton.

Kara mengerucutkan bibirnya. Ia melepaskan pegangannya pada tangan Anton. Lelaki itu lalu berjalan menuju ruang makan untuk sarapan. Kara masih mengekorinya di belakang.

Tak kehabisan ide, Kara lalu mengambilkan nasi goreng untuk Anton. Lalu menuju dapur untuk membuat kopi. Di dapur sudah ada pembantu yang siap membuatkan tapi langsung diambil alih oleh Kara. Gadis itu ingin membuatkan kopi khusus untuk ayahnya.

Secangkir kopi disuguhkan di depan Anton.

Lelaki itu bingung dengan perubahan sifat Kara.

"Tumben, " ucap Anton lalu menyeruput kopi.

Kara hanya tersenyum. Lalu duduk di kursi depan Anton. "Boleh ya Pah? " bujuk Kara.

Anton meletakkan cangkir kopi.

"Jadi ini alasannya kamu buatin papah kopi? "

Mulut Kara terbuka memperlihatkan deretan gigi. "Ya itu salah satu alasannya, "ucap Kara.

Anton melihat arloji di pergelangan tangannya, sudah waktunya untuk pergi bekerja. Anton bangkit lalu menyambar jas hitamnya. Sebelum pergi ia memegang kedua bahu Kara.

"Tetap di rumah. Jadi anak yang patuh, sayang, " ucap Anton sambil menatap mata Kara.

Anton mengusap puncak kepala Kara lalu pergi. Kara menatap kepergian Anton sambil menghela nafas kasar. Usahanya gagal, susah untuk membujuk lelaki itu. Semua kemauan gadis itu pasti dikabulkan oleh Anton, kecuali pergi keluar rumah apalagi jika hari sudah pagi.

Bagi Anton, membiarkan Kara keluar rumah sama saja membiarkan gadis itu masuk ke kandang harimau. Banyak kejahatan di luar sana yang bisa mengancam keselamatan Kara. Anton sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga gadis itu sebaik mungkin. Ia tidak ingin kehilangan Kara, sudah cukup istri dan anak pertamanya yang pergi, Kara jangan.

***

Kaisar duduk di teras rumah. Tidak ada kegiatan yang ia lakukan karena Kara ada di dalam rumah. Kaisar sempat heran kenapa Anton mencari bodyguard untuk menjaga Kara, padahal keluar rumah saja gadis itu tidak di perbolehkan. Jadi Kaisar hanya mengawasi gadis itu di dalam rumah tapi gajinya besar. Ini pekerjaan yang Kaisar inginkan.

"Abang Kai, "

Tiba-tiba Kara muncul. Gadis itu terlihat cantik memakai dress lengan pendek selutut berwarna putih. Rambut panjangnya dibiarkan terurai.

"Ya? " ucap Kaisar lalu berdiri dan mendekati gadis itu.

"Kara gak dibolehin keluar sama papah, " lanjut Kara. "Jadi sebagai gantinya kita main bareng ya?"

Kaisar tahu, dipikiran Kara pasti hanya bermain saja. Sebenarnya Kaisar tidak suka bermain apalagi permainan anak kecil. Ia menyanggupi permintaan Kara walau terpaksa.

Melihat Kaisar mengangguk menuruti permintaannya, Kara tersenyum senang.

"Kara udah dari lama pengen main ini tapi gak ada temennya. Sekarang kan ada bang Kaisar jadi bisa main ini, "ucap Kara.

Kaisar tidak tahu apa permainan yang gadis itu maksud. Mungkin bermain monopoli, uno atau bahkan mungkin bermain boneka. Jika yang di maksud Kara adalah opsi terakhir, hilang sudah harga diri Kaisar.

"Nona ingin bermain apa? "tanya Kaisar.

"Truth or dare,"

Kaisar lega, setidaknya permainan yang ini tidak terlihat seperti permainan anak kecil. Untunglah bukan permainan khas perempuan yang ingin Kara mainkan sekarang.

"Di halaman belakang aja yang teduh, " ujar Kara. Kaisar mengangguk patuh.

Halaman belakang memang tempat yang bagus untuk bersantai. Halamannya cukup luas dengan tanah berumput, kursi untuk duduk serta keberadaan 2 pohon yang rindang.

Kara dan Kaisar duduk di kursi menghadap ke arah kolam renang. Mereka duduk berhadapan dengan sebuah meja membatasi mereka.

"Gak usah pakai botol ya. Nanti gantian aja, "ucap Kara. Kaisar menyetujuinya.

"Mulai dari aku, truth or dare?" tanya Kara.

Tanpa berpikir panjang Kaisar menjawab "Truth. "

Kara berpikir sejenak. Ia sedang memikirkan pertanyaan apa yang akan dia tanyakan pada lelaki itu.

"Siapa orang yang Kaisar suka? "tanya Kaisar.

Lelaki itu terdiam. Ia tak mau orang lain tahu bahwa dia punya pacar yaitu Grita. Kaisar tidak suka kehidupannya terekspos termasuk hubungan percintaannya.

"Tidak ada, "ucap Kaisar datar.

"Beneran gak ad-"

Ucapan Kara terputus karena tiba-tiba ponsel Kaisar berbunyi. Lelaki itu mengambil ponsel dari saku celana. Setelah melihat nama yang tertera di sana Kaisar lalu mematikan ponselnya.

"Kenapa kok gak diangkat? "tanya Kara.

"Dilarang menjawab telepon saat bekerja." Kara mengangguk paham.

Sebenarnya panggilan telepon itu dari Grita. Entah apa maksud gadis itu menelponnya disaat jam kerja nya seperti ini. Apa Grita juga tidak bekerja? Yang pasti Kaisar tidak akan menjawab teleponnya.

"Masih pertanyaan yang tadi. Kamu beneran gak lagi suka sama siapapun? Kenapa?" Kara masih mempertanyakan hal yang sama. Kaisar juga agak heran kenapa gadis itu sangat ingin tahu kisah percintaannya.

"Saya tidak punya waktu untuk hal-hal seperti itu, "ucap Kaisar datar, "Cinta bukan prioritas saya saat ini. "

Kaisar bohong. Yang diucapkan berbanding terbalik dengan hatinya. Jauh di lubuk hati nya, Kaisar mengucapkan beribu maaf untuk Grita.

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Kaugnay na kabanata

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 5

    Grita berdecak kesal. Kaisar tidak menjawab telepon darinya, tidak seperti biasanya. "Apa Kaisar udah kerja ya? "Grita memaklumi, mungkin saja Kaisar sudah bekerja dan tidak membawa ponsel.Gadis itu sudah siap untuk pergi bekerja. Setelah sarapan roti dan susu, Grita pergi menggunakan ojek online menuju kantornya. Perusahaan tempat Grita bekerja letaknya tidak terlalu jauh dari apartementnya. Hanya memakan waktu 10 menit. Seperti biasa Grita akan tersenyum dan menyapa orang-orang di kantor. Entah ia mengenalnya atau tidak, yang terpenting adalah menjadi pribadi yang ramah. "Pagi, Ta."Perempuan berambut pendek sebahu muncul dan menyapa Grita. Itu adalah Luna, rekan kerja Grita. Grita tersenyum. "Pagi. Nanti makan siang di luar lagi ya, Lun? " Luna setuju. Mereka lalu berpisah karena ruang kerja mereka berbeda. Ruang kerja Luna ada di lantai dasar sedangkan Grita ada di lantai 3, itu artinya Grita harus menaiki lift untuk sampai di ruang kerjanya. Grita menunggu lift turun. Tiba

    Huling Na-update : 2023-12-06
  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 6

    Kara kesepian, sungguh. Cuma dia satu satunya perempuan muda di rumah ini. Kara ingin merasakan punya banyak teman, bermain bersama, dan melakukan apapun bersama teman juga. Kara pasti punya banyak teman andaikan dia bersekolah. Ramah, murah senyum, pintar dan cantik siapa memangnya yang tidak mau berteman dengan Kara? Dia pasti menjadi primadona sekolah, andaikan saja. "Non, jangan ngelamun. Nanti kesambet setan lho!"Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja Bi Ina sudah ada di samping Kara. Mereka berada di ruang keluarga, Kara duduk di sofa sementara Bi Ina duduk di bawah. Gadis itu sudah berulang kali meminta wanita itu untuk duduk diatas, tapi Bi Ina mengatakan bahwa itu tidak pantas dilakukannya karena ia hanya seorang pembantu. "Mikirin apa, Non cantik? "tanya Bi Ina. Kara tersenyum. Ia mau menceritakan semua keluh kesahnya ke Bi Ina. Karena hanya dia lah satu-satunya orang yang bisa ia ajak mengobrol dan curhat di rumah ini."Kara bingung. Kenapa papah gak ngebolehin aku bu

    Huling Na-update : 2023-12-11
  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 7

    Sepertinya tak ada pekerjaan yang lebih menyenangkan selain pekerjaan Kaisar. Saat Heru menawarkan pekerjaan ini kepada Kaisar, terlintas di pikirannya bahwa bekerja sebagai bodyguard identik dengan berkelahi dengan musuh, kehidupan yang gelap, serta ancaman musuh. Tapi prediksi Kaisar salah, ia dipekerjakan untuk menjadi teman bermain. Ya, teman bermain. Di satu sisi Kaisar merasa senang karena pekerjaan nya mudah tapi gajinya besar. Tapi di lain sisi ia merasa aneh dan kurang nyaman jika bermain seperti anak kecil dengan Kara. Dia sudah dewasa, 25 tahun sudah tidak cocok untuk bermain masak-masakan dan monopoli, 'kan? Bodyguard juga identik dengan jas hitam serta kacamata hitam. Tapi Kaisar hanya memakai kaos biasa. Lelaki itu tidak terlihat seperti sedang bekerja, ia nampak seperti orang biasa yang kerjaannya cuma di rumah saja. Memang dari awal Anton mengatakan padanya untuk bersikap seperti orang biasa saja atau berpura-pura menjadi bagian dari keluarganya. Alasannya adalah unt

    Huling Na-update : 2023-12-17
  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 8

    Sudah waktunya makan malam, Kara dan Anton sudah berada di meja makan. Para pembantu menyiapkan berbagai makanan di atas meja. Berbagai lauk tersedia untuk memanjakan lidah mereka berdua. "Homeschooling kamu gimana? Lancar, kan? "tanya Anton. Kara mengangguk. "Lancar kok, ""Gimana dengan Sean?""Sean baik, dia pinter ngajarinnya,"ucap Kara. Selain pintar Sean juga baik. Ia ramah dan murah senyum, membuat siapapun merasa nyaman berada di sampingnya termasuk Kara.Anton lega, ia tak salah mencari guru private untuk anaknya. Setidaknya ia tak akan pusing-pusing mencari guru baru untuk anaknya. Anton memakan hidangan didepannya dengan lahap. Kara nampak tak selera makan, ia hanya mengaduk-aduk makanannya. Anton sadar dengan hal itu. "Kenapa, Kara? Makanannya tidak enak?"tanya Anton. Kara menggelengkan kepalanya. "Ada yang mau Kara tanyain sama Papah, ""Tanya apa?"Kara nampak ragu untuk bertanya, tapi ia sangat penasaran dengan hal yang ingin ia tanyakan ini. Kara memberanikan di

    Huling Na-update : 2023-12-18
  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 9

    Grita tengah duduk di halte bis. Ia memilih berjalan dari kantor menuju halte untuk menaiki bis ketimbang menaiki ojek online seperti biasanya. Karena biaya naik bis lebih murah daripada naik ojek online. Grita sedang menghemat uangnya, dengan sisa uang di dompet ia berharap masih bisa bertahan hidup untuk sebulan ke depan. Walaupun sudah malam, masih ada beberapa orang yang menunggu di halte. Ya setidaknya Grita tidak menunggu bis sendiri. Ponsel Grita berbunyi, ada panggilan telefon masuk. "Halo, ibu."Terdengar sautan dari telefon. "Kak, ini Aya. "Bukan suara ibunya. Yang terdengar adalah suara remaja perempuan bernama Aya yang merupakan adik kandung Grita. "Kenapa, Ya? Tumben nelfon."Aya tak langsung menjawab, ada jeda beberapa detik sampai ia menjawabnya. "Ibu masuk rumah sakit, "Grita terkejut."Hah? Ibu sakit apa? "Terdengar suara Aya menghela nafas, suaranya gemetar menahan tangis. "Kanker kelenjar getah bening stadium tiga. "Lagi, Grita di buat terkejut dengan u

    Huling Na-update : 2023-12-22
  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 10

    Pagi ini di kediaman Anton dihebohkan dengan adanya kotak hitam misterius yang tergeletak di depan gerbang. Pak Adi, selaku satpam rumah yang pertama kali menemukannya. Awalnya pak Adi pikir kotak tersebut adalah paket yang dipesan oleh orang rumah. Tapi ketika dilihat tidak ada nama pengirim dan untuk siapa paket misterius itu. Jadi pak Adi membawanya ke pos tanpa memberi tahu orang rumah terlebih dahulu. Lalu orang kedua yang mengetahuinya adalah Kaisar. Ia bersama pak Adi memeriksa kotak misterius itu. "Buka aja, Pak, "ucap Kaisar.Pak Adi menolak. "Jangan! Kita belum tau untuk siapa paket ini. ""Ya kalau gak dibuka gimana kita bisa tau buat siapa paket ini. Siapa tau ada petunjuk di dalamnya,"Pak Adi terus menolak dengan alasan takut kalau di dalam kotak itu ada bom. Alasan yang tidak masuk akal karena kotak itu sangat ringan seperti tidak ada isi di dalamnya. Bi Ina yang sedang mengantarkan sarapan kepada satpam akhirnya mengetahui keberadaan kotak misterius tersebut. Wanit

    Huling Na-update : 2023-12-23
  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 11

    Kara dan Kaisar sudah menunggu cukup lama tapi Anton tak kunjung keluar dari ruang kerjanya. Kara sampai mengantuk, matanya berkali-kali terpejam namun ia paksakan untuk tetap terjaga. Kaisar menyadari itu, ia meminta Kara untuk tidur saja tetapi jawaban gadis itu tetap sama, yaitu tidak. "Nona bisa bertanya pada tuan besok. Sekarang Nona tidur saja ini sudah malam,"ucap Kaisar. Kara hendak protes tapi terpotong oleh ucapan Kaisar. "Tidak ada penolakan. Pergi sendiri atau saya antar? "ucap Kaisar tegas. Ia menatap mata Kara dalam, membuat yang ditatap langsung salah tingkah. "A-aku bi-bisa sendiri!" Kara berjalan cepat menuju kamarnya untuk mengindari lelaki ini, lebih tepatnya menghindari tatapan matanya yang sangat dalam itu. Kaisar menatap punggung kecil itu yang perlahan menghilang dibalik tembok. Setelah memastikan bahwa Kara benar-benar masuk ke kamar, Kaisar keluar dari rumah. Tidak mungkin ia menunggu Anton keluar dari ruang kerjanya dan menanyakan apa isi dari kotak miste

    Huling Na-update : 2023-12-26
  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 12

    Pagi ini suasana hati Anton tampak buruk. Tatapan matanya dingin serta tak ada senyuman seperti biasanya. Setelah minum secangkir kopi, ia bergegas pergi tanpa makan apapun. Niat Kara untuk bertanya tentang kotak misterius itu pun terurungkan. Kara memikirkan apa penyebab ayahnya menjadi sedikit berubah sifatnya akhir-akhir ini. Apakah karena kotak misterius itu atau mungkin Anton masih marah karena Kara menanyakan penyebab kematian ibu dan abangnya?Kara keluar rumah, ia melihat Kaisar yang tengah duduk sambil menyeruput kopi di teras rumah depan. Ia langsung menghampiri Kaisar. "Gimana tadi malam? Orangnya ke tangkap?" Kaisar menoleh ke arahnya lalu menggelengkan kepalanya. Kara duduk di kursi samping Kaisar. "Dia tidak datang, "ucap Kaisar. Matanya lurus ke depan, menatap halaman rumah yang luas. Perjuangannya tadi malam sia-sia, orang yang dia tunggu tidak datang. Satu teko kopi membantunya untuk tetap terjaga hingga saat ini, tapi tidak dengan Pak Adi, pria paruh baya itu te

    Huling Na-update : 2023-12-28

Pinakabagong kabanata

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 99

    Pak Adi berdiri di depan pos mengamati Kaisar dan Vano yang sedang menahan Grita diluar gerbang. Pak Adi berulang kali menoleh ke gerbang lalu ke rumah mengawasi apabila Anton maupun Kara tiba-tiba datang. Apabila salah satu diantara mereka keluar dan melihat Grita, maka keributan pasti akan terjadi lagi."Beliau ga bisa diganggu, silakan pulang saja," ujar Kaisar.Grita tidak percaya, dengan kekeh ia terus meminta untuk masuk kedalam dan bertemu dengan Anton."Eh, santai mbak!" ujar Vano saat Grita hendak maju dan menerobos masuk."Biarin saya masuk, saya mau ngomong sama dia!" desak Grita.Mudah saja bagi Kaisar dan Vano menghalangi jalan dengan tubuh mereka dari Grita yang memaksa ingin masuk. Perempuan ini pantang menyerah, dia bahkan berani mendorong tubuh yang dua kali lebih besar dari tubuhnya. Tapi tetap saja tidak membuat dua pria itu menyingkir."Wah, gila kali ini cewek," ujar Vano sedikit kewalahan karena ulah Grita.Kaisar juga tampaknya kebingungan bagaimana mengatasi pe

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 98

    "Pecat Grita."Suara Kara terdengar halus namun tegas. Hanya dua kata namun mampu membuat Anton terdiam dibuatnya. Seketika hening diantara mereka, sekeliling mereka juga seakan ikut terdiam. Semilir angin membuat rambut panjang Kara bergerak bebas. Kara tersenyum miring, tahu bahwa ayahnya itu pasti akan bimbang dan kebingungan dengan ucapannya ini.Anton kebingungan dan terlihat sangat sulit mengambil. keputusan. Lalu setelah menunduk untuk beberapa saat, Anton menghela nafas dan telah mengambil keputusan."Sudah kuduga Papah tidak akan melakukannya." Kara berdiri lalu berjalan pergi. Sampai di beberapa langkah, suara Anton menghentikan langkah kaki Kara."Oke, akan Papah pecat," ucap Anton.Kara berhenti, tersenyum miring. Kali ini ia berhasil, Anton akan mulai mengikuti apa yang ia ucapkan. Ini adalah permulaan yang bagus, Kara harap rencananya akan berjalan lancar. Kara membalikkan badannya menatap Anton dengan senyuman tipis, senang dengan keputusannya."Sekarang juga," ucap Ka

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 97

    Bi Ina yang sedang menyapu lantai rumah terkejut melihat Anton yang tiba-tiba muncul. Dia langsung mendekati Anton untuk memastikan dan mengecek keadaannya dengan panik layaknya ibu kepada anak sendiri. "Tuan, darimana saja!" panik Bi Ina sambil terus melihat kondisi Anton yang tampak lusuh.Anton tersenyum tipis, lalu menoleh ke sekeliling seperti mencari seseorang."Kara ada dimana, Bi?" tanyanya.Bi Ina langsung paham, ia lalu tersenyum tipis, "Ada dikamar, Bibi panggilin ya," ucap Bi Ina.Bi Ina hendak pergi menuju kamar Kara untuk memanggil gadis itu, tapi langsung dicegah oleh Anton. "Biar saya saja yang kesana," ucap Anton. Bi Ina mengangguk.Pria itu lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar yang ada di lantai atas, Bi Ina hendak mengikutinya tapi langsung dicegah oleh Pak Adi. Bi Ina kebingungan dan protes kenapa dia mencegahnya. Pak Adi dengan nada tegas menjawab."Jangan ikut campur, itu bukan urusan kita."Anton berjalan menuju kamar anak gadisnya yang sudah beberapa ha

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 96

    Setelah Raven pergi meninggalkannya sendirian di apartemennya, Anton menghela nafasnya panjang dan mengacak rambutnya. Keadaan apartemennya sangat berantakan, beberapa botol alkohol yang kosong isinya ada diatas meja, puntung rokok juga berserakan diatas lantai, bahkan gorden jendela juga tidak dibuka. Anton benar-benar meluapkan emosinya disini malam tadi. Ia sudah lupa waktu, sudah berapa lama ia tak pulang kerumah, hari apa saat ini bahkan sekarang jam berapa pun Anton tak ingat. Pikirannya kacau, ia butuh kebebasan. Tapi ia kembali mengingat ucapan Raven sebelum ia pergi tadi. Anton hanya punya Kara seorang, seharusnya ia harus menjadi figur ayah yang baik padanya, bukannya menjauhinya seperti ini. Anton menyadari bahwa penyebab keluarganya diteror terus terusan seperti ini adalah ulahnya, ia harus menghentikan ini semua. Menyelesaikan semuanya sampai ke akar-akarnya.Setelah berdebat dengan pikirannya sendiri, Anton bangkit dari duduknya, mengambil ponselnya lalu berjalan sambil

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 95

    "Bodoh!"Dodi menggebrak meja dengan keras hingga semua orang yang ada diruangan itu terkejut. Grita menoleh kearah Sean yang terlihat biasa saja dengan reaksi Dodi, seperti ini bukan kali pertama Sean melihat Dodi seperti ini. Pria paruh baya itu berdiri dari kursinya lalu mendekati Sean."Apa yang kau pikirkan sebenarnya?" ucap Dodi dengan tatapan kesalnya. Sean tak bereaksi."Saya hanya mengikuti rencana yang sudah dibuat sebelumnya," jawab Sean dengan tenang."Lalu apa yang kau dapatkan? tak ada kan?"Seam terdiam. Memangnya apa yang Dodi harapkan pada misi ini? ia dipasangkan dengan seseorang yang bahkan belum pernah berkecimpung di dunia seperti ini sebelumnya, apalagi Grita sepertinya gadis baik-baik. Tentu sulit bagi Sean untuk melakukan tugasnya, menurutnya bahkan lebih mudah melakukan ini sendirian."Memang belum menemukan apa-apa, ini baru pertama kalinya kami bekerja sama."Dodi mendengus, lalu beralih ke Grita. Gadis itu tampak ragu dan gelisah. Dodi menatapnya dingin,"A

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 94

    "Iya, dia kekasihku."Baik Kara maupun Pak Adi sama-sama terdiam, sedang mencerna ucapan Kaisar. Kara mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya, menatap pria dihadapannya lalu tersenyum sinis. Pak Adi melirik Kaisar dengan tatapan tajam, seolah menuntut penjelasan lebih lanjut. "Pantas saja. Kalian bekerja sama untuk menghancurkan keluarga ku?" sinis Kara.Kaisar menggelengkan kepalanya, "Tidak, sama sekali tidak."Pak Adi melirik Kaisar dengan tatapan tajam, seolah menuntut penjelasan lebih lanjut. Tapi lelaki itu masih terdiam seolah enggan untuk berucap atau menjelaskan barang sepatah kata pun."Kau ingin aku percaya? Setelah semua ini?" Kara tertawa kecil, penuh sindiran. "Kekasihmu itu wanita yang mendekati ayahku dan tiba-tiba saja muncul di sekelilingku? Jangan bilang ini semua kebetulan."Kaisar tetap berdiri tegak, meski sorot matanya menunjukkan kegelisahan, mereka sedang mencurigainya saat ini. "Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi aku tidak pernah berkhianat padamu atau keluar

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 93

    Grita telah benar-benar menghilang dari pandangan Kara. Gadis itu menghela napas kasar, emosinya masih menggebu-gebu. Dua pria yang berdiri di belakangnya tetap terdiam, seakan menimbang kata-kata mereka dengan hati-hati setelah menyaksikan perubahan sikap Kara yang begitu drastis barusan."Siapa yang membiarkan wanita itu masuk?" tanya Kara dengan nada dingin, tatapannya tetap lurus ke depan, tidak sekalipun melirik ke belakang.Pak Adi dan Kaisar saling berpandangan, seolah melempar tanggung jawab satu sama lain. Pak Adi menatap Kaisar dengan isyarat halus, mendorongnya untuk berbicara sebelum amarah Kara semakin memuncak.Namun, Kaisar tetap diam.Pak Adi menghela napas berat. Ia bisa merasakan ketegangan yang semakin menggantung di udara."Maaf, Non. Ini salah Pak Ad—""Saya."Sebuah suara tiba-tiba memotong, membuat Pak Adi terhenti di tengah kalimatnya."Saya yang mengizinkan dia masuk."Kara berbalik cepat, langkahnya mantap saat ia mendekat ke Kaisar. Sorot matanya tajam, penu

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 92

    Sean kembali mengetukkan jemarinya ke kemudi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Ia mencoba sekali lagi, menekan tombol di alat komunikasinya, berharap ada suara yang menyambutnya di sisi lain. Tapi tetap saja, hanya ada kesunyian yang mengganggu.Ia menghela napas, menatap rumah besar itu dengan mata tajam. Tidak ada tanda-tanda Grita keluar, dan itu membuatnya semakin tidak tenang. Seharusnya, ia bisa mendengar setidaknya suara langkah kaki atau suara samar dari dalam rumah. Tapi sekarang? Tidak ada apa-apa."Brengsek," gumamnya.Sean mengamati alat komunikasinya dengan saksama. Tidak ada indikasi bahwa alat itu mati total, tapi juga tidak menangkap sinyal apa pun. Seakan ada sesuatu yang menghalangi transmisi antara dirinya dan Grita.Matanya beralih ke atas rumah. Mungkinkah ada sistem penghalang sinyal di tempat ini? Anton bukan orang sembarangan, dan jika rumah ini memang memiliki perlindungan khusus, tidak aneh jika alat komunikasi biasa seperti miliknya menjadi tidak bergun

  • Dalam Jeratan Bodyguard Tampan   Bab 91

    Sean mengetuk-ngetukkan jarinya ke kemudi, matanya tak lepas dari sosok Grita yang masih berdiri di depan pintu rumah besar itu. Sudah hampir sepuluh menit sejak ia masuk, dan bukannya segera melanjutkan rencana mereka, perempuan itu justru larut dalam percakapan dengan seorang pria bernama Kaisar, kalau dia tidak salah ingat.“Harusnya dia sudah bergerak ke dalam,” gumam Sean pelan.Dari balik kaca mobil yang sedikit tertutup embun, ia tida bisa melihat ekspresi Grita karena ia membelakangi nya dan jarak terlalu jauh. Sementara Kaisar, pria itu berdiri dengan sikap yang lebih kaku, tapi tatapannya seakan berusaha membaca sesuatu dari mata Grita.Sean mengerutkan kening. Apa mereka memiliki hubungan? Dia tahu Grita tidak punya riwayat di tempat ini, tapi ia juga tidak menduga ada orang yang bisa membuatnya bertahan selama itu hanya untuk berbicara. Apa dia sedang merayu Kaisar agar lebih mudah mendapatkan informasi? Atau ini sesuatu yang lebih pribadi?Sean mengernyit heran kenapa ala

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status