“Jangan jauh-jauh dariku!”
Lisa mencekal lengan satu-satunya orang yang ada di sana bersamanya, tak peduli dia seorang pria. Dia takut gelap, dia takut pada malam, dia takut pada hujan. Dan pada saat ini dia justru mendapatkan ketiganya sekaligus: gelap, malam, dan hujan.
Mereka berdua adalah wisatawan yang sedang berlibur di sekitar perairan Lombok. Bertemu sebagai orang asing, mereka ternyata memiliki kesamaan: sama-sama sedang patah hati.
Lisa baru saja bercerai dengan suami berengsek yang dijodohkan dengannya sebelum sang ibu meninggal. Awalnya, ia berniat pergi berlibur untuk melepaskan stres pascaperceraian. Ia tidak menyangka bahwa ia akan melihat si mantan suami juga akan ada di tempat yang sama dengan pacar sekaligus selingkuhannya seperti keluarga bahagia.
Karenanya, Lisa tergesa mengambil keputusan untuk berlibur dengan sekelompok wisatawan yang mengunjungi pulau-pulau kecil untuk menikmati keindahan alam yang jarang dijamah.
Di situlah ia bertemu dengan pria ini dan terlibat beberapa kali cekcok kecil seiring petualangan mereka hingga keduanya tidak menyadari bahwa kapal wisata sudah lebih dulu pergi dan meninggalkan mereka di pulau tak berpenghuni tanpa komunikasi.
“Aku tidak akan ke mana-mana.” Suara bariton pria itu menanggapi cengkeraman erat Lisa di lengannya. Dengan lembut, ia merangkul bahu Lisa.
Lisa tak menolak pelukan itu, udara terasa dingin menggigit dan pelukan pria ini cukup menghangatkan. Juga terasa menenangkan dirinya.
“Tidurlah.”
“Aku nggak bisa tidur.”
“Mau kunyanyikan lagu?”
Lisa tertawa. “Boleh-boleh.”
Di tengah gelapnya malam, pria itu pun bersenandung lirih. Suara baritonnya mengalun merdu, yang meskipun rendah tapi jernih dan enak didengar. Membuai Lisa dengan ketenangan yang ia butuhkan.
“Suaramu bagus.”
Pria itu terkekeh pelan. “Tidurlah,” ucapnya sambil mengetatkan pelukannya.
Lisa memejamkan mata. Dada bidang pria itu seperti bantalan yang begitu nyaman untuknya di tengah ketidakpastian situasi ini. Jantungnya yang berdetak tenang, membuat Lisa merasa seperti janin yang terkurung di dalam rahim sang ibu. Pelukan pria ini telah menjelma menjadi tempat teramannya di dunia saat ini.
"Bagaimana kalau nggak ada yang akan menolong kita untuk keluar dari sini?” Suara Lisa kembali memecah keheningan. Sepasang mata perempuan itu kembali terbuka.
Pria di sebelahnya menghela napas. “Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang tidak akan terjadi.”
Lisa menggigit bibir bagian bawahnya. “Tapi–”
Kata-katanya terhenti. Perempuan itu membeku ketika merasakan kecupan lembut pria itu di puncak kepalanya. Seakan mencoba menenangkan gadis yang bahkan tidak ia ketahui namanya ini.
Keduanya kembali terdiam ketika gerimis turun makin deras hingga membuat api unggun di depan mereka mati total dan menyisakan gelap tak berujung.
“Sial,” pria itu mengumpat lirih.
“Dingin ….” Lisa bergumam pelan dengan bibirnya yang gemetaran. “Apakah tidak ada cara lain untuk menghangatkan tubuh kita?”
Di samping Lisa, pria itu mengetatkan pelukannya. Jika ada cahaya, mungkin Lisa bisa melihat keraguan di wajah sosok itu.
“Apakah kamu pernah mendengar,” Pada akhirnya, pria itu mengucapkan ide yang sebenarnya ada di dalam kepalanya sejak tadi, “kalau cara menghangatkan tubuh secara alami adalah dengan … bercinta.”
Seketika, pria itu mengaduh pelan karena Lisa mencubitnya. Namun, detik berikutnya, ia terkekeh.
“Sungguh. Secara biologis, ketika kita merasa dingin, tubuh biasanya merespons dengan menyusutkan pembuluh darah di kulit untuk mengurangi kehilangan panas dan menjaga suhu inti tubuh. Dengan bercinta, tubuh dapat menghasilkan panas karena aktivitas fisik yang meningkat dan juga karena peningkatan metabolisme.”
Lisa tertawa mendengar penjelasan pria yang tengah memeluknya ini. Meskipun sok serius, tapi dia bisa merasakan nada jenaka dalam suara pria tersebut.
Sebenarnya, mereka sama-sama tahu, pernyataan ‘bercinta adalah cara menghangatkan tubuh secara alami’ itu sebenarnya lebih bersifat metaforis atau humoris daripada benar secara ilmiah.
“Serius? Kamu tidak membutuhkan keahlianku–kemampuan alamiku, untuk menghangatkan tubuhmu?” goda pria itu kemudian. Tampaknya ia suka mendengar suara tawa Lisa.
“Jangan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan,” omel Lisa sambil mencubitnya.
Pria itu terkekeh. “Apanya yang kumanfaatkan? Bukannya justru kamu yang sedang memanfaatkanku? Kamu bergelung padaku seperti kucing manja seperti ini.”
Lisa terdiam. Meskipun terdengar main-main, Lisa tahu bahwa pria ini memang tengah “menggoda”-nya.
“Lagi pula, apa kamu pikir aku lelaki ‘belok’ yang tidak bisa merespons baik tubuh perempuan yang berada sedekat ini denganku?”
Entah dari mana keusilan itu datang, tiba-tiba saja Lisa berkata, “Jadi kamu tergoda padaku?” bisiknya.
Di tengah kegelapan asing yang menyelimuti mereka, Lisa bisa merasakan tubuh pria itu menegang saat ia tiba-tiba saja meraup bibir sosok itu dan memagutnya dengan lembut.
Untuk sesaat yang menegangkan, pria itu tidak membalas ciuman Lisa. Mungkin ia tengah merasakan pertentangan dalam hatinya.
Akan tetapi, tubuh pria itu ternyata lebih reaktif daripada pikirannya yang membeku.
Seketika, tangan pria itu bergerak cepat dan menangkup wajah Lisa. Dengan suara seraknya, ia berkata, “Sial–ya. Aku menginginkanmu.”
Hanya itulah yang perlu Lisa dengar. Egonya sebagai perempuan merasa terpuaskan menerima sambutan pria yang baru dikenalnya dalam beberapa jam terakhir ini. Tapi pria ini sungguh tampan dan menarik. Mantan suami yang kerap ia tangisi, jadi tampak tak ada apa-apanya dibanding keelokan pria ini.
Mantan suami Lisa dulu tak pernah menyentuhnya selama dua tahun pernikahan mereka. Membuat Lisa merasa rendah diri dan tak berharga. Membuat Lisa seperti tak memiliki arti dalam pernikahan mereka.
Lisa melingkarkan tangannya di leher pria tampan itu seraya menekan bibirnya kebibir pria itu. Air matanya menetes, meskipun ia sedang mencium pria ini seolah-olah sedang menikmatinya, tapi dalam setiap lumatan bibirnya, rasa sakitlah yang sebenarnya ia rasakan. Rasa sakit terhadap mantan suami yang tak pernah sudi memberikan ciuman seperti ini sepanjang 2 tahun pernikahan mereka.
Pria itu memeluk punggung Lisa dan menariknya kian rapat. Tubuh Lisa gemetar, sementara sang pria mengendalikan ciuman mereka.
“Bibirmu, nikmat,” desahnya selembut lumatannya di bibir Lisa.
Lisa tercekat dan sedikit takut begitu merasakan balasan ciuman pria ini. Keadaannya kini justru berbalik, bukan dia yang menciumnya, tetapi pria itulah yang mendominasi ciuman ini, namun Lisa tak ingin mereka berhenti.
Pria ini secara ajaib telah membangunkan dirinya dalam sensualitas yang tak pernah ia pikir ada dalam dirinya. Iapun menjelajah dengan percaya diri, tangannya terus membelai tengkuk pria itu, menyisir rambutnya dengan lembut tapi juga sedikit kasar seiring intensitas ciuman mereka yang kian memanas.
Lenguhan pelan pun menggema di udara ketika tangan mereka saling menjamah dan menjelajah tubuh satu sama lain.
Esok paginya Lisa terbangun oleh suara deburan ombak di pagi hari. Ombak-ombak kecil yang menggulung menciptakan deburan melodi air yang menghipnotis. Pantulan sang fajar membuat air laut berkilau dan menciptakan jejak cahaya yang memainkan tarian keindahan di permukaan ombak.
“Bosan?” Lisa terkesiap mendengar suara bariton menyapa dan ia pun menoleh pada pria itu—tinggi dan tegap. Wajah rupawannya memenuhi pandangan Lisa meskipun lautan di sekitarnya terhampar luas.
“Sabarlah, sebentar lagi akan ada kapal yang datang. Bagaimana tidurmu?’
Sebenarnya tidur Lisa jauh dari kata nyenyak. Jantungnya tak bisa berdetak normal sejak ciuman mereka tadi malam. Pikirannya masih dipenuhi jejak-jejak sensualitas yang meranggas. “Nyenyak,” dustanya. “Kamu?” tanyanya balik.
Pria itu mengangguk. “Nyenyak.”
Bah! Yang benar saja. Ia terjaga semalaman karena dihantui perasaan bersalah dan melawan bayang-bayang wanita ini, blus terbuka dengan sepasang payudara padat dan kenyal yang memenuhi telapak tangannya semalam. Juga bibir lembutnya yang menggiurkan di bawah desakan bibirnya.
“Siapa namamu?” Manik matanya yang sewarna karamel memandang Lisa lurus-lurus dengan sorot penuh ketertarikan.
Lisa tertawa lirih dan menggeleng seraya menatap cakrawala, tanpa berani balas menatapnya. Dia takut pria itu bisa melihat pikiran-pikirannya yang masih dipenuhi fantasi semalam.
“Kita sudah sepakat, kan? Tak perlu saling mengenal. Setelah liburan ini selesai, kita akan kembali dalam kehidupan masing-masing.”
“Tidak perlu saling mengenal.”Lisa seperti melihat sorot kekecewaan dari pria yang telah menemaninya semalam tersebut. Namun, hanya sepintas–yang kemudian membuat Lisa berpikir bahwa dia salah lihat.“Oke.” Pria itu mengangkat bahu, menyahut dengan santai.Setelah menunggu selama beberapa waktu, keduanya berhasil kembali ke daratan dengan menumpang perahu yang datang untuk mengantar-jemput para wisatawan ke tengah pulau di mana mereka terjebak semalaman di sana.Pria itu mengulurkan tangan, membantu Lisa menuruni perahu. Jantung Lisa berdegup cepat merasakan eratnya genggaman pria itu. Tangannya, hangat dan kokoh, memberikan kesan keamanan yang membuat Lisa enggan melepaskannya.Pandangan Lisa bertemu dengan mata sewarna karamel yang menyorot tulus kepadanya, senyumnya yang memikat, dan detail wajahnya semakin terlihat menarik meskipun rambut ikal cokelatnya masih berantakan.Ada rasa kehilangan ketika akhirnya kemudian pria itu melepaskan genggamannya ketika kaki mereka telah menyent
[Lisa? Ini betulan elu yang nulis?] Lisa dengan cepat mengetik pesan balasan dan langsung mendapatkan respons dari Ninik yang pada saat itu juga sedang online. Lisa: [Iya. Kenapa lagi?] Ninik: [Good job! Nah, gue bilang apa, elu pasti bisa. Cakep ini, cakep banget buat pemula, say. Adegannya serasa real.] Lisa mengulum senyum, tak mengatakan bahwa adegan ciuman yang ada dalam novelnya itu terinspirasi dari kisah nyatanya sendiri. Setelah selesai berbalas pesan dengan Ninik, Lisa kemudian menutup gorden jendela kamar penginapannya. Dia mendesah jengkel karena hari sudah mulai sore, di luar sudah mulai gelap. Sebentar lagi malam. “Sial. Sayang banget aku menghabiskan liburanku cuma buat rebahan di kamar aja!” Lisa telah mengeluarkan uang cukup banyak buat liburannya ini. Demi menghibur dirinya usai perceraian. Dia berhak bergembira meskipun hanya untuk sesaat, tak peduli sekembalinya ke Jakarta nanti hidupnya masih tetap berjalan dengan tidak baik-baik saja. Setelah mandi dan ber
Motor CBR yang membonceng Lisa baru saja tiba di halaman parkir penginapan Lisa ketika tiba-tiba saja langit bergemuruh dan hujan turun dengan deras. “Ayo masuk, tunggu saja di dalam,” ajak Lisa. Ruangan kamarnya mendadak terasa menyempit ketika Lisa sadar ia hanya berdua saja dengan pria yang memiliki tubuh tinggi tegap itu. Sementara hujan kian menderu di luar sana disertai angin kencang. “Padahal ini bukan musim hujan, kan?” kata Lisa sambil menyeduh teh. “Sepertinya teori angin muson barat dan angin muson timur yang mempengaruhi musim di Indonesia sudah tidak relevan lagi,” sahut pria itu seraya tertawa lirih. Mereka mengobrol sambil menikmati teh panas buatan Lisa, sambil menunggu hujan reda. Tetapi hujan justru turun semakin deras. Dan ketika petir menyambar dengan kerasnya, Lisa terpekik sambil menutup kuping. Secara refleks pria itupun memeluknya. “Hei, tenanglah ... kita aman di sini.” Suara bariton itu berbisik lembut di telinganya. Kehangatan terasa memancar dari tu
Lisa terbangun dengan nyeri yang masih begitu terasa menyengat. Rasanya betul-betul tak nyaman. Dia menggigit bibir sambil mendesah pelan. “Sialan, nggak enak banget sih,” gumamnya sambil meringis. Seketika dia baru sadar dengan apa yang telah terjadi semalam. Lisa terkesiap dan menoleh cepat ke sisi ranjangnya yang sudah kosong. “Ke mana dia?” gumamnya sambil mengedarkan pandang, mencari-cari sosok pria yang bercinta dengannya semalam. “Apa mungkin sedang di kamar mandi?” pikirnya. Lisa mengulum senyum dengan wajahnya yang tersipu-sipu. Dia telah bercinta dengan pria paling tampan yang pernah dilihatnya. Meskipun sepertinya mungkin jarak usia mereka terpaut cukup jauh, 10 atau 12 tahun mungkin, tapi mereka terasa begitu cocok semalam. Namun senyum di wajahnya segera sirna ketika tatapannya membentur secarik kertas yang tergeletak di atas nakas. Jantungnya seketika berdegup kencang. Iapun memaksakan diri beranjak dari ranjang sambil menahan segala ketidaknyamanan usai percintaan y
Keadaan membuat Lisa teramat marah. Ingin rasanya dia pergi menemui Ardi dan melabrak mantan suaminya itu. Tapi dia pikir, kemungkinan Ardi masih berada di Lombok saat ini. Lisa memutuskan untuk meneleponnya. Dia menempelkan benda pipih itu ke telinganya dengan jantung berdebar-debar, menunggu respons Ardi. Setelah beberapa waktu, suara sang mantan akhirnya terdengar di ujung telepon. “Halo.” “Pihak bank menyita rumahku hari ini,” kata Lisa tanpa basa-basi. “Lalu?” Ardi menyahut dengan entengnya. “Kamu bilang akan melunasi utang itu. Tapi mana? Mereka menyita rumahku, berarti kau tak pernah membereskan utang itu, kan?” cecar Lisa sambil menangis. Ardi malah tertawa. “Lucu banget? Padahal kamu yang butuh uang sebanyak itu. Aku cuma membantumu mendapatkan pinjaman dengan mengagunkan rumahmu.” “Kamu tahu sendiri mamaku saat itu sakit keras, Ar! Aku butuh dana cash dalam jumlah besar, lalu kamu yang mengusulkan agar aku meminjam bank dengan jaminan rumah itu. Dan kamu bilang akan
Kekecewaan terasa melingkupi perasaan Lisa. Dia merasa seperti sedang bertepuk sebelah tangan. “Wah. Sepertinya, aku bukanlah satu-satunya partner ‘cinta semalam’-mu ya?” Lisa berkata sambil menjaga ketenangan suaranya dalam menanggapi ucapan pria itu tentang dia sering mengeluarkan cek.Terdengar tawa lirih pria itu. “Oh, ini kamu ya? Maaf, waktu itu aku pergi buru-buru karena ada hal mendesak. Tidurmu terlihat nyenyak sekali saat itu, aku—”“Bisa kita bertemu? Nanti siang. Ini juga mendesak. Penting.” Lisa sengaja memotong ucapan pria itu. Diam-diam rasa kesal bercampur senang menyelimuti hatinya, setidaknya pria itu masih mengingatnya. Tapi Lisa tak ingin bermain-main perasaan lagi dengannya. Pengalaman semalam bersamanya itu saja sudah cukup.“Siang nanti jadwalku padat, bagaimana kalau jam 9 pagi saja? Kita ketemu di coffee shop yang ada di lantai dasar Gedung Menara 2 Sutomo Group?”“Oke.”“Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?” “Tidak, itu saja. Kita bisa bicara lagi nanti saa
“Tepat jam 9 kan,” pria itu berkata seraya mengangkat dan melirik arloji di tangannya, “aku nggak terlambat, kan? Apa kamu juga baru datang?” ujarnya sambil tersenyum. Pria itu berdiri di hadapan Lisa, tinggi tegap. Balutan jas abu-abu gelapnya memberikan sentuhan elegan yang menonjolkan kegagahan. Meskipun dasinya belum terpasang, pria itu tampak begitu menawan dengan aura maskulin yang melingkupinya. Jasnya dipadukan dengan kemeja putih bersih yang dua kancing bagian atasnya dibiarkan terbuka. Rambut cokelatnya yang teratur menambah kesan tegas pada wajahnya yang tampan. Matanya, yang berwarna karamel, memancarkan kepercayaan diri dan kepribadian yang kuat. Senyum yang menghiasi bibirnya menambah pesona pada setiap gerakan tubuhnya yang elegan. “Yeah,” Lisa mengangguk, “aku baru saja memesan kopi,” lanjutnya. Pria itu kemudian menoleh pada si kasir. “Mbak. Kembalikan uangnya, dia tamu saya, digabung saja dengan tagihan saya. Dan, tolong buatkan kopi saya seperti biasa ya,” katany
“Done. Seratus juta. Bukti transfernya sudah kukirim ke nomormu,” kata Vincent sambil tersenyum santai, seakan seratus juta hanya angka yang biasa baginya. Lisa, di sisi lain, merasakan kelegaan saat melihat saldo rekeningnya bertambah, meskipun masih jauh dari total tunggakan utang yang membebani pikirannya. Tapi setidaknya, dengan kondisinya yang bokek berat dan tak punya pekerjaan tetap, dia bisa bertahan hidup dengan uang ini. ‘Dia pasti tajir mampus,’ pikir Lisa dalam hatinya, sambil menutup aplikasi m-banking. “Oke. Makasih,” ucapnya lirih. “Nah. Urusan kita sudah selesai, kan?” Suara bariton Vincent memecah lamunan Lisa. “Eh, i-iya. Sudah. Terima kasih,” angguk Lisa. Bersamaan dengan itu, seorang pramusaji datang membawa nampan yang berisi kopi pesanan mereka. “Tak perlu berterima kasih, aku yang harusnya berterima kasih. Juga, maaf karena aku betul-betul tak sengaja tidak menandatanganinya,” kata Vincent sambil mengangguk sopan. Lisa tersenyum sejenak pada si pramusaji y
Dennis mengucapkan “selamat” pada Vincent dan Lisa melalui telepon. Vincent merasa bahagia mendengar ucapan putranya yang terasa betul-betul tulus kali ini. Bahkan Dennis secara khusus bicara pada Lisa untuk minta maaf padanya. "Tante, maaf atas semua sikap burukku selama ini," ucapnya dengan rendah hati. "Aku tahu ayah dan Tante saling mencintai, ayah pasti akan bahagia dengan Tante.” Dennis terdiam sejenak. “Tante Lisa memang layak bersanding dengan ayah, sebab aku tahu... ayah tidak mungkin sembarangan memilih orang yang akan mendampinginya seumur hidupnya. Aku percaya pada pilihan ayah," tambah Dennis dengan suara yang penuh dukungan. Lisa tersenyum, meskipun Dennis tidak bisa melihat senyumnya di telepon. "Terima kasih, Dennis. Kamu anak yang luar biasa, dan Tante bahagia bisa menjadi bagian dari keluargamu." “Aku juga bahagia memiliki ayah Vincent dan Tante Lisa.” Lisa dan Vincent saling berpandangan mendengar ungkapan Dennis yang terasa tulus. Setelah selesai menelepon, Vin
Jaka menghela napas, mencoba menenangkan diri di tengah tekanan yang dirasakannya. Tatapannya terpaku pada dinding putih ruangan yang pucat. Wajah pria tampan itu mencerminkan perasaan yang selama ini sulit untuk diungkapkan."Saya masih merasa bersalah, Pak," ucapnya dengan suara lirih. Tatapannya kemudian turun pada genggaman tangannya pada tangan Dennis yang masih tak bergerak. Setiap sentuhan, setiap simpul jemari, terasa penuh makna baginya.Pak Priyo memandang Jaka, siap mendengarkan apapun yang ingin diungkapkan oleh anak menantu yang sangat disayanginya itu."Saya menyesal telah menikahi Erna, padahal Nuning sedang mengandung Dennis, anak kami," lanjut Jaka perlahan, suaranya semakin rendah, hampir tersendat oleh rasa sesak di dadanya. "Andai waktu bisa diulang, saya tidak akan menikahi Erna saat itu." Matanya kembali naik menatap dinding pucat di depan sana. "Saya ingin tetap bersama Nuning, harusnya saya mengambil keputusan tegas dan tak perlu larut dalam situasi yang membua
Di antara para tamu undangan, Mei yang merupakan mantan kekasih Vincent juga tampak hadir di sana, dia datang bersama suaminya, Juna, dan putranya, Vi. Rambut panjang Mei disanggul cantik berhiaskan aksesori yang serasi dengan gaun rancangan desainer ternama berwarna pastel yang melekat indah di tubuh langsingnya. Wajahnya yang jelita terpancar dalam senyuman lembut, memberikan kesan hangat kepada siapa pun yang bertemu dengannya. Sementara itu, Juna terlihat tampan dan karismatik dengan setelan tuksedo hitamnya. Ekspresi wajahnya yang percaya diri menunjukkan bahwa dia adalah sosok yang menguasai situasi. Dia berbicara dengan sesama tamu yang dikenalnya sambil memperkenalkan sosok Vi, putranya yang berusia 7 tahun. Senyum bangga terukir di wajahnya setiap kali mendengar orang-orang memuji ketampanan Vi yang sangat mirip dengan dirinya. Dalam setelan tuksedo kecilnya, Vi memang terlihat begitu memesona dengan senyuman polosnya. Postur tubuhnya yang tinggi menjadikannya tampak gagah
Lisa sebenarnya ingin resepsi pernikahannya dengan Vincent bisa diadakan di tepi pantai yang cantik di Bali. Namun, pada trimester pertama kehamilannya ini, Lisa masih mengalami mual, muntah, dan mudah lelah, sehingga bakal menyulitkan dirinya sendiri saat harus melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Bali dan sebaliknya. Selain itu, risiko keguguran juga lebih tinggi pada trimester pertama. Vincent pun menolak keinginan Lisa dan menetapkan agar resepsi digelar di Jakarta saja. “Bersabarlah, Sayang. Setelah anak kita lahir nanti dan kalian berdua dalam kondisi sehat untuk melakukan perjalanan, bukan hanya ke Bali…, aku akan membawa kalian pergi ke tempat-tempat indah manapun yang kamu sukai,” janji Vincent sambil mencium kening Lisa. Dia tak ingin melihat wanita yang dicintainya itu merasa kecewa menjalani resepsi pernikahan mereka nanti. Dan Vincent merasa lega setelah melihat Lisa mengangguk.“Nggak apa-apa, kok. Sebenarnya nggak terlalu jadi soal bagiku resepsinya nanti mau diada
Jaka menggenggam erat gagang kursi pesawat, tatapan kosongnya menatap ke luar jendela yang menampilkan pemandangan langit biru dan awan putihnya yang berderak. Pemandangan yang indah, tetapi dia tak bisa menikmati pemandangan itu karena pikirannya terus melayang ke rumah sakit tempat Dennis dirawat. "Dennis kecelakaan," dua kata yang terlontar lewat telepon dari Bambang seperti palu yang membelah dadanya. Beban yang menghantamnya terasa begitu berat, seakan-akan dunianya runtuh dalam sekejap. Meskipun hanya dua kata, namun rasanya dua kata itu menjelma seperti dua ton beban yang meremukkan hati Jaka sebagai seorang ayah. Dia sengaja tidak memberitahu Nuning tentang kecelakaan Dennis. Kondisi Nuning yang belum begitu baik membuatnya khawatir akan dampak stres yang bisa mempengaruhi kandungan Nuning yang lemah. Jaka tidak ingin menambah masalah baru di tengah situasi yang sudah sulit.Pesawat terbang melaju dengan kecepatan tinggi, namun perjalanan yang dilaluinya terasa begitu lamba
Suasana gereja dipenuhi dengan aroma harum dari bunga-bunga segar yang menghiasi setiap sudut. Sinar matahari pagi membelai lembut melalui jendela-jendela gereja, menciptakan permainan cahaya yang mempercantik momen sakral ini. Seperti berkah dari langit, cahaya itu memberikan sentuhan hangat pada momen ini, menambahkan keindahan pada detik-detik yang tak terlupakan.Gaun putih Lisa mengalir indah di belakangnya, mengikuti setiap langkahnya dengan lembut. Rambutnya dihiasi dengan sebuah tiara yang manis. Setiap langkah yang diambilnya terlihat begitu anggun dan memikat.Di sekeliling gereja, keluarga besar Alessio dan keluarga Lisa berkumpul, penuh dengan senyuman dan kegembiraan. Sorot mata yang penuh cinta dari kedua belah pihak keluarga mencerahkan suasana, menunjukkan dukungan dan kasih sayang yang mereka miliki untuk pasangan yang akan menikah.Daniel Sutomo juga tampak hadir di sana. Keberadaan sosok konglomerat itu memberikan aura kebijaksanaan dan kemuliaan yang tak terbantahk
Bambang duduk di samping Dennis, merangkulnya dengan lembut sambil memandang jauh ke laut yang tenang di depan mereka. "Dennis, janganlah sedih karena pernikahan ayah Vincent dengan tante Lisa," ucapnya dengan suara lembut.Dennis menoleh ke arah Bambang, tatapan matanya masih penuh dengan kesedihan. "Tapi, Om, aku merasa sedih. Aku merasa seperti kehilangan sesuatu yang penting," gumamnya sambil memandang ke lautan di hadapannya.Bambang tersenyum lembut, memahami perasaan keponakannya. "Dennis, kamu harus tahu bahwa pernikahan adalah bagian dari takdir yang telah diatur oleh Gusti Allah. Ayah Vincent selama ini belum aja ketemu sama jodohnya, makanya nggak nikah-nikah sejak cerai sama bundamu. Jangan kamu sesali juga perceraian bundamu sama ayah Vincent. Itu namanya nggak jodoh.”Dennis mendengarkan, sesekali ia menghela napasnya yang terdengar berat. sepertinya bocah remaja itu berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Bambang. "Nggak usahlah kamu repot-repot mikir kenapa
Suasana makan malam antara keluarga Vincent dan keluarga Lisa dari Italia berlangsung dalam atmosfer kekeluargaan yang hangat dan penuh keakraban. Dante masih terkesima setelah mengetahui tentang kesuksesan Tuan Rain di Indonesia, begitu pula dengan putranya yang akan segera menikahi cucunya, Lisa."Putramu sangat tampan, Rain," puji Dante yang masih merasa terpukau melihat ketampanan Vincent sejak awal mula mereka bertemu. Vincent pun hanya tersenyum mendengar pujian dari calon mertuanya."Cucumu juga sangat cantik, Dante. Mereka sepadan," balas Tuan Rain dengan rendah hati, tersenyum bangga pada Lisa, calon menantunya."Selain cantik, Lisa juga cerdas. Dia bahkan menguasai 6 bahasa asing. Bukankah itu luar biasa?" timpal Nyonya Rose, mengumumkan bakat dan kecerdasan Lisa di hadapan semua orang.Tuan Rain menoleh kepada istrinya, "Sayangku, perlu kamu tahu,” ucapnya seraya mengerling pada Dante yang duduk berhadapan dengan mereka. “Kemampuan Dante menguasai bahasa asing sangat menonj
Hari-H pernikahan Vincent dan Lisa semakin dekat, dengan hitungan hari yang semakin berkurang. Kedatangan keluarga Lisa dari Italia telah menjadi momen yang sangat dinantikan. Di tengah suasana persiapan yang kian sibuk, Nyonya Rose telah menyusun rencana untuk menyambut mereka dengan sebuah jamuan makan malam di sebuah hotel mewah terbaik di Jakarta. Di sana pula tempat menginap bagi para tamu dari keluarga Lisa yang telah tiba dari Italia. Ketika Nyonya Rose dan Tuan Rain memasuki restoran di hotel itu, sorot mata mereka segera tertuju pada seorang pria tua yang duduk di sebelah Lisa. Tuan Rain, yang pertama kali melihatnya, mendesis pelan. “Dante?” gumamnya dengan suara rendah, matanya menyipit saat mencoba mengidentifikasi sosok tersebut. Semua orang memandang kehadiran Nyonya Rose dan Tuan Rain dengan tatapan hormat disertai senyuman hangat di mata mereka, termasuk pria berambut putih di sana. Pada saat itulah, Tuan Rain mengamati lagi pria tua yang ada di sebelah Lisa itu denga