Setelah mengatakan itu Leonel langsung pergi meninggalkan Adeeva yang masih saja berdiri tak jauh dari pintu.
Telinga Adeeva pun mendengar suara pintu apartemen seperti ditendang dari luar. Adeeva merasa sangat bingung sekali saat ini. Kenapa juga Leonel berubah baik di saat dirinya menjalin kasih dengan Alex, sih. Kenapa baiknya nggak dari awal aja pas kenal kan jadi nggak runyam begini.
Tak ingin membuat Leonel semakin marah pun Adeeva segera mengejar Leonel yang ternyata pergi ke dapur untuk mengambil air minum dalam kulkas. Adeeva terus mengikuti Leonel di belakangnya dan sedikit ragu saat akan menegur Leonel.
Dan saat Leonel kembali berjalan pun Adeeva terus mengikuti di belakang sampai akhirnya Leonel memilih terbaring dan menatap ke Adeeva dengan kedua alis yang saling menyatu. “Kau kenapa mengikutiku terus?” tanyanya.
Adeeva diam karena ekspresi Leonel kali ini sangat berbeda saat pulang kerja tadi. Kali ini ekspresi yang ditunjukkan s
Adeeva lidahnya merasa kelu untuk mengatakan kepada Alex tentang hubungan dengan Leonel yang sudah membaik ini. Apalagi melihat cinta tulus Alex menjadi tidak tega untuk mengakhrinya.Katakanlah jika ia sangat gila saat ini karena belum juga mau melepaskan Alex yang memang sangat mengerti kondisinya.Dan tak lama pelayan datang membawakan beberapa menu pesanan mereka berdua. Dan sikap Alex yang sangat manis juga lembut itu membuat Adeeva tersenyum senang. Alex mulai mengiris dan menyendokkan makanan untuk disuapkan ke mulut Adeeva.“Alex ….”“Ini rasanya sangat enak sekali baby girls, kau harus mencicipi ini dan aku jamin nanti kau akan ketagihan.”“Benarkah?”“Hmm.”Akhirnya Adeeva pun membuka mulutnya dan menerima suapan makanan dari tangan Alex. Adeeva tersenyum kala sendok itu terkena sudut bibirnya, dan membuat belepotan.“Alex … ih, kau sengaja kan?
Setelah menghabiskan waktu bersama, kini Alex dan Adeeva sudah sampai di gedung apartemen yang ditempati oleh Leonel.“Alex, kau sebaiknya sampai sini saja mengantar diriku.”“Kenapa Adeeva?”“Aku takut nanti Leonel akan marah denganmu.”“Aku tidak peduli Adeeva, lagian dia juga tahu kalau kita sepasang kekasih bukan? Jadi kau tenang saja. Lagian dia hanya cinta dengan Elizabeth.”Adeeva diam. Jujur saja ia bingung harus ngomong gimana sama Alex. Sanggup kah ia melukai pria di depannya ini? Rasanya tidak sanggup.“Iya, tapi tetap saja aku takut.”“Kau tidak usah takut baby girls, ada aku yang akan melindungimu kapanpun.” Alex pun tersenyum tipis dan kembali menggenggam tangan Adeeva begitu erat. “Justru jika aku membiarkanmu di sini—lobby rasanya seperti pria brengsek yang tidak bertanggung jawab dengan kekasihnya,” imbuhnya sambil terkekeh.
Leonel terus mengusapi kening istrinya lembut. Bahkan ia tak segan-segan selalu mengecupi kening dan pipi milik Adeeva.Suara makian dan gedoran pintu kamar di luar tak membuat Leonel enggan membukanya. Ia masih keukeh terus di dalam bersama istri tercinta. Leonel akan membiarkan kedua manusia menyebalkan itu di luar seperti orang gila yang terus menerus berteriak.Pandangan mata Leonel menangkap kelopak mata Adeeva yang sudah berkedip-kedip pelan seperti akan sadar dari pingsannya.“Adeeva ….”“Leonel.” Adeeva menatap Leonel dengan kepalanya yang pusing juga rasa syok yang tadi langsung muncul kembali hingga membuatnya langsung berjengit menjauh dari Leonel.“Adeeva ….”“Jangan mendekat! Aku takut denganmu Leonel. Kau ….”“Aku tadi emosi Adeeva, aku cemburu melihat kau bersama Alex. Makanya aku khilaf ingin membunuh Alex.”Adeeva menggeleng-geleng
Melihat ekspresi emosi Elizabeth membuat Adeeva langsung menciut. Apalagi perempuan itu bisa berbuat nekad dan melukai siapapun tanpa merasa bersalah. Dengan cepat pula Adeeva bersembunyi di belakang tubuh Leonel dan pergelangan tangannya pun dipegang erat oleh Leonel.“Leonel ….”“Kau tenang saja, ya,” sahut Leonel ikut berbisik.Suara deru napas Elizabeth pun sangat terdengar begitu ketara. Tatapan tajam nan nyalang langsung ditunjukkan ke arah Leonel dan Adeeva secara bergantian.“Kau … benar-benar pengkhianat!” tunjuknya dengan jari telujuk ke arah Adeeva dengan wajah emosi yang sangat ketara sekali. “Kau benar-benar pengkhianat Adeeva!” teriaknya kencang.“El … aku bisa jelaskan padamu.”“Diam kau Leon!” bentak Elizabeth.“Gimanapun aku harus jujur karena lama kelamaan kau akan mengetahui jika aku dan Adeeva saling mencintai,”
Rumah Sakit.Leonel dan Alex sedang menunggu dokter yang sedang memeriksa kondisi Adeeva di dalam ruang IGD. Merasa sangat khawatir dan cemas berlebihan pun membuat Leonel berjalan mondar-mandir yang membuat Alex jengah melihatnya.“Kau bisa tenang tidak sih?”Leonel tak menghiraukan protesan Alex yang masih tenang saja. Memangnya dia tidak khawatir dengan kondisi Adeeva atau bagaimana sih.“Semua akan baik-baik saja.”Leonel hanya mendecakkan lidahnya sebal. Pasalnya ia belum bisa tenang kalau belum mengetahui kondisi Adeeva.Dan tak lama dokter keluar kemudian meminta Leonel serta Alex mengikuti ke ruangan kerjanya. Dokter itu menjelaskan kondisi Adeeva yang baik-baik saja. Kedua pria itu pun langsung bernapas lega.Mengingat kondisi yang baik-baik saja pun, dokter hanya menyuruh Adeeva dirawat di rumah sakit sampai cairan infus itu habis dan boleh pulang. Karena tidak ada luka yang serius yang berbahaya.&nbs
Merasa penasaran pun membuat Leonel mengintip ponsel Adeeva dari ekor matanya. Ia melihat sosok pria yang dikenalinya. Dia merupakan kakak angkat dari Adeeva. Emang sedalam apa perasaan Adeeva kepada kakak angkatnya itu.“Kau sangat mencintainya?” tanya Leonel yang membuat Adeeva terkejut.Kepalanya mendongak menatap wajah Leonel yang sudah mengubah ekspresi datar dan merasa tidak suka itu. Leonel bahkan sudah duduk di samping Adeeva dan menatap lekat manik mata perempuan yang telah resmi menjadi istrinya.“Apa kehadiran diriku belum bisa menghilangkan perasaanmu untuknya?”Adeeva diam. Ia saja tidak tahu, hanya saja kalau melihat Danis mesra merasa ada yang tercubit sedikit hatinya. Entah susah sekali mengiklaskan sesuatu dalam hidup jika itu sangat berharga.“Leonel.”“Why Adeeva? Aku harus apa agar bisa menghapus perasaan sukamu itu untuk kakak angkatmu. Meski kau tak menceritakan secara gamblang
Merasa terkejut dengan sosok itu pun membuat Adeeva hanya berdeham pelan dan tersenyum lebar untuk menyapa Darrel yang tinggal di Moskow sana.“Hai Darrel,” sapa Adeeva ramah.“Hai Adeeva.”Saat Darrel mengucapkan nama itu kemudian sosok perempuan di sampingnya menoleh dan menatap ke arah ponsel kamera dan sama-sama terkejut namun tak ada reaksi dari keduanya. Kedua perempuan itu hanya saling menatap dan bungkam.“Adeeva, maaf kalau aku tidak bisa bermain game online denganmu. Tadi alasannya sudah aku jelaskan kepada Leon.”“Oh tidak apa-apa Darrel.”“Sekali lagi sorry.”Adeeva hanya tersenyum lebar karena merasa tidak enak juga sudah memaksa Alex dan Darrel untuk mengikuti keinginannya yang konyol itu. Apalagi melihat Darrel yang seperti tidak baik-baik saja membuat Adeeva semakin tidak enak.“Tidak apa-apa Darrel, kau tenang saja. Lagian aku dengan Leonel juga
Malam ini niatnya Adeeva dan Leonel hanya ingin makan malam saja kemudian langsung pulang ke apartemen. Nyatanya mereka berdua menginap malam ini karena permintaan dari Marinka.Mereka berdua pun tidak langsung tidur melainkan membahas soal rencana honeymoon yang diminta oleh Marinka.“Kau ingin ke mana?” tanya Leonel.Adeeva diam. Ia bingung jika ditanya seperti ini. Apalagi otaknya masih memikirkan hal yang bukan-bukan.“Leonel, honeymoon itu kita liburan kan?” tanya Adeeva memastikan.“Iya liburan. Itu hanya istilah saja.”“Enggak ngapa-ngapain kan?”“Maksudnya?”“Iya kan pasti kau tahu dong kalau honeymoon itu pasti identik sama yang hal gituan.” Suara Adeeva semakin lirih karena malu membahas hal dewasa seperti ini dengan Leonel. Meski sudah suami istri tetap saja ia merasa canggung juga risih.Mendengar itu kening Leonel mengerut dan tak lama t
Setelah seharian ini bekerja dengan hati yang sangat deg-degan juga takut. Tapi semua itu tak membuat jiwa semangat Adeeva luntur.Adeeva pun memilih pulang ke mansion dibanding ke apartemen karena yang pertama ia takut diteror Elizabeth. Apalagi mantan pacar Leonel itu sangatlah nekad berbuat sesuatu yang terkadang bisa melayangkan nyawa seseorang. Membayangkan saja terkadang merasa merinding sendiri.Saat tiba di mansion, Marinka terkejut namun langsung tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangan untuk memeluknya.“Mom, malam ini aku menginap di sini lagi boleh kan?” tanya Adeeva sedikit tak enak.“Tentu saja dear. Aku justru senang jika kau dan Leonel pindah saja ke sini. Jadi aku tak merasa kesepian jika malam nanti. Kita bisa ngobrol-ngobrol sambil ngeteh.”Adeeva tersenyum lebar dan bersukur sekali mendapatkan ibu mertua sebaik Marinka. Kan kebanyakan kadang menantu dengan ibu mertua itu jarang sekali akur.Ad
Malam ini niatnya Adeeva dan Leonel hanya ingin makan malam saja kemudian langsung pulang ke apartemen. Nyatanya mereka berdua menginap malam ini karena permintaan dari Marinka.Mereka berdua pun tidak langsung tidur melainkan membahas soal rencana honeymoon yang diminta oleh Marinka.“Kau ingin ke mana?” tanya Leonel.Adeeva diam. Ia bingung jika ditanya seperti ini. Apalagi otaknya masih memikirkan hal yang bukan-bukan.“Leonel, honeymoon itu kita liburan kan?” tanya Adeeva memastikan.“Iya liburan. Itu hanya istilah saja.”“Enggak ngapa-ngapain kan?”“Maksudnya?”“Iya kan pasti kau tahu dong kalau honeymoon itu pasti identik sama yang hal gituan.” Suara Adeeva semakin lirih karena malu membahas hal dewasa seperti ini dengan Leonel. Meski sudah suami istri tetap saja ia merasa canggung juga risih.Mendengar itu kening Leonel mengerut dan tak lama t
Merasa terkejut dengan sosok itu pun membuat Adeeva hanya berdeham pelan dan tersenyum lebar untuk menyapa Darrel yang tinggal di Moskow sana.“Hai Darrel,” sapa Adeeva ramah.“Hai Adeeva.”Saat Darrel mengucapkan nama itu kemudian sosok perempuan di sampingnya menoleh dan menatap ke arah ponsel kamera dan sama-sama terkejut namun tak ada reaksi dari keduanya. Kedua perempuan itu hanya saling menatap dan bungkam.“Adeeva, maaf kalau aku tidak bisa bermain game online denganmu. Tadi alasannya sudah aku jelaskan kepada Leon.”“Oh tidak apa-apa Darrel.”“Sekali lagi sorry.”Adeeva hanya tersenyum lebar karena merasa tidak enak juga sudah memaksa Alex dan Darrel untuk mengikuti keinginannya yang konyol itu. Apalagi melihat Darrel yang seperti tidak baik-baik saja membuat Adeeva semakin tidak enak.“Tidak apa-apa Darrel, kau tenang saja. Lagian aku dengan Leonel juga
Merasa penasaran pun membuat Leonel mengintip ponsel Adeeva dari ekor matanya. Ia melihat sosok pria yang dikenalinya. Dia merupakan kakak angkat dari Adeeva. Emang sedalam apa perasaan Adeeva kepada kakak angkatnya itu.“Kau sangat mencintainya?” tanya Leonel yang membuat Adeeva terkejut.Kepalanya mendongak menatap wajah Leonel yang sudah mengubah ekspresi datar dan merasa tidak suka itu. Leonel bahkan sudah duduk di samping Adeeva dan menatap lekat manik mata perempuan yang telah resmi menjadi istrinya.“Apa kehadiran diriku belum bisa menghilangkan perasaanmu untuknya?”Adeeva diam. Ia saja tidak tahu, hanya saja kalau melihat Danis mesra merasa ada yang tercubit sedikit hatinya. Entah susah sekali mengiklaskan sesuatu dalam hidup jika itu sangat berharga.“Leonel.”“Why Adeeva? Aku harus apa agar bisa menghapus perasaan sukamu itu untuk kakak angkatmu. Meski kau tak menceritakan secara gamblang
Rumah Sakit.Leonel dan Alex sedang menunggu dokter yang sedang memeriksa kondisi Adeeva di dalam ruang IGD. Merasa sangat khawatir dan cemas berlebihan pun membuat Leonel berjalan mondar-mandir yang membuat Alex jengah melihatnya.“Kau bisa tenang tidak sih?”Leonel tak menghiraukan protesan Alex yang masih tenang saja. Memangnya dia tidak khawatir dengan kondisi Adeeva atau bagaimana sih.“Semua akan baik-baik saja.”Leonel hanya mendecakkan lidahnya sebal. Pasalnya ia belum bisa tenang kalau belum mengetahui kondisi Adeeva.Dan tak lama dokter keluar kemudian meminta Leonel serta Alex mengikuti ke ruangan kerjanya. Dokter itu menjelaskan kondisi Adeeva yang baik-baik saja. Kedua pria itu pun langsung bernapas lega.Mengingat kondisi yang baik-baik saja pun, dokter hanya menyuruh Adeeva dirawat di rumah sakit sampai cairan infus itu habis dan boleh pulang. Karena tidak ada luka yang serius yang berbahaya.&nbs
Melihat ekspresi emosi Elizabeth membuat Adeeva langsung menciut. Apalagi perempuan itu bisa berbuat nekad dan melukai siapapun tanpa merasa bersalah. Dengan cepat pula Adeeva bersembunyi di belakang tubuh Leonel dan pergelangan tangannya pun dipegang erat oleh Leonel.“Leonel ….”“Kau tenang saja, ya,” sahut Leonel ikut berbisik.Suara deru napas Elizabeth pun sangat terdengar begitu ketara. Tatapan tajam nan nyalang langsung ditunjukkan ke arah Leonel dan Adeeva secara bergantian.“Kau … benar-benar pengkhianat!” tunjuknya dengan jari telujuk ke arah Adeeva dengan wajah emosi yang sangat ketara sekali. “Kau benar-benar pengkhianat Adeeva!” teriaknya kencang.“El … aku bisa jelaskan padamu.”“Diam kau Leon!” bentak Elizabeth.“Gimanapun aku harus jujur karena lama kelamaan kau akan mengetahui jika aku dan Adeeva saling mencintai,”
Leonel terus mengusapi kening istrinya lembut. Bahkan ia tak segan-segan selalu mengecupi kening dan pipi milik Adeeva.Suara makian dan gedoran pintu kamar di luar tak membuat Leonel enggan membukanya. Ia masih keukeh terus di dalam bersama istri tercinta. Leonel akan membiarkan kedua manusia menyebalkan itu di luar seperti orang gila yang terus menerus berteriak.Pandangan mata Leonel menangkap kelopak mata Adeeva yang sudah berkedip-kedip pelan seperti akan sadar dari pingsannya.“Adeeva ….”“Leonel.” Adeeva menatap Leonel dengan kepalanya yang pusing juga rasa syok yang tadi langsung muncul kembali hingga membuatnya langsung berjengit menjauh dari Leonel.“Adeeva ….”“Jangan mendekat! Aku takut denganmu Leonel. Kau ….”“Aku tadi emosi Adeeva, aku cemburu melihat kau bersama Alex. Makanya aku khilaf ingin membunuh Alex.”Adeeva menggeleng-geleng
Setelah menghabiskan waktu bersama, kini Alex dan Adeeva sudah sampai di gedung apartemen yang ditempati oleh Leonel.“Alex, kau sebaiknya sampai sini saja mengantar diriku.”“Kenapa Adeeva?”“Aku takut nanti Leonel akan marah denganmu.”“Aku tidak peduli Adeeva, lagian dia juga tahu kalau kita sepasang kekasih bukan? Jadi kau tenang saja. Lagian dia hanya cinta dengan Elizabeth.”Adeeva diam. Jujur saja ia bingung harus ngomong gimana sama Alex. Sanggup kah ia melukai pria di depannya ini? Rasanya tidak sanggup.“Iya, tapi tetap saja aku takut.”“Kau tidak usah takut baby girls, ada aku yang akan melindungimu kapanpun.” Alex pun tersenyum tipis dan kembali menggenggam tangan Adeeva begitu erat. “Justru jika aku membiarkanmu di sini—lobby rasanya seperti pria brengsek yang tidak bertanggung jawab dengan kekasihnya,” imbuhnya sambil terkekeh.
Adeeva lidahnya merasa kelu untuk mengatakan kepada Alex tentang hubungan dengan Leonel yang sudah membaik ini. Apalagi melihat cinta tulus Alex menjadi tidak tega untuk mengakhrinya.Katakanlah jika ia sangat gila saat ini karena belum juga mau melepaskan Alex yang memang sangat mengerti kondisinya.Dan tak lama pelayan datang membawakan beberapa menu pesanan mereka berdua. Dan sikap Alex yang sangat manis juga lembut itu membuat Adeeva tersenyum senang. Alex mulai mengiris dan menyendokkan makanan untuk disuapkan ke mulut Adeeva.“Alex ….”“Ini rasanya sangat enak sekali baby girls, kau harus mencicipi ini dan aku jamin nanti kau akan ketagihan.”“Benarkah?”“Hmm.”Akhirnya Adeeva pun membuka mulutnya dan menerima suapan makanan dari tangan Alex. Adeeva tersenyum kala sendok itu terkena sudut bibirnya, dan membuat belepotan.“Alex … ih, kau sengaja kan?