"Paman Jose, Paman Daroll, kalian dipanggil oleh Sang Raja untuk menghadapi di dalam istana," suara teriakan itu tentu saja membuat Daroll tidak bisa meneruskan kalimatnya, padahal Jose sudah menunggu dan merasa sangat penasaran sekali dengan kelanjutan kalimat sahabatnya itu.
"Ada apa Raja memanggil kami, Robin?" tanya Jose sambil menyipitkan sedikit kelopak matanya. Dan ia juga memandang wajah Daroll. Daroll mengangkat bahunya sedikit, seolah ingin menunjukkan bahwa ia juga tidak tahu kenapa Sang Raja meminta mereka untuk memanggil mereka untuk menghadapinya.
"Aku juga tidak tahu, Paman!" Robin dengan sopan mendekat pada kedua orang yang dari tadi ia cari.
"Terima kasih kalau begitu, Robin!" seru Daroll, sambil tangannya menarik lengan baju sahabatnya, Jose. Jose akhirnya ikut saja. Ia tak ingin berlama-lama jika Sang Raja memintanya untuk menghadap padanya.
Sa
"Tidak, tidak apa-apa Tuan …!" Daroll masih terlihat meringis. Namun nalurinya untuk menutupi apa yang sebenarnya sedang terjadi membuatnya seketika harus berdusta. "Hanya kakiku tiba-tiba kesemutan Tuanku yang mulia." Daroll akhirnya berhasil mendapatkan satu alasan untuk ia utarakan kepada pria paling terhormat di negeri ini. "Ya sudah, kalau begitu sebaiknya kalian mulai besok bersiap untuk melakukan persiapan untuk menyambut lamaran Raja Daltun dan Pangeran Alden. Aku ingin kalian lakukan yang terbaik untuk Putri kesayangaku, Juliette!" Pria itu langsung membalikkan badannya cepat, hingga jubah merahnya berkibar. Tongkat kebesarannya yang selalu ia genggam ia hentakkan sekali ke atas permadani berwarna merah dan kuning emas. Kalau sudah begitu sudah tidak ada lagi yang dapat membantah titah Sang Raja. "Baik, Tuan kami yang mulai, kami akan segera melaksanakannya dengan baik." Jose menjawab mewaki
"Setelah aku mendapatkannya aku tak akan mengembalikannya lagi. Karena apa yang sudah ada dalam genggamanku, selamanya akan menjadi milikku," bisik Zelena dalam hatinya, senyum liciknya pun mengembang. "Kutitipkan pada si tua Rebecca, pelayan istana yang sudah cukup lama bekerja di sini." "Ha … ha … ha … ternyata si Rebecca renta itu yang kau titipkan perhiasan-perhiasan indah itu. Besok akan aku temui dia," tawa menyebalkan wanita itu membuat hati Emilly kian panas. "Malam ini juga aku akan menemui Rebecca. Atau aku akan mengendap-ngendam masuk ke kamarnya. Dan aku akan mencuri perhiasan-perhiasan itu. Aku tak ingin si licik Zelena menguasainya. Emilly langsung berlari, ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan perhiasan-perhiasan milik Permaisuri Alice. Di dalam kamarnya, Raja Rehard dan Zelena saling pandang. Mereka
Dari tempat mereka bersembunyi, jelas sekali mereka melihat ada empat orang prajurit kerajaan yang memakai atribut lengkap dengan senjata dan tameng layaknya para prajurit yang hendak bertempur di medan perang. "Paman, mereka sedang mencari kita!" Emilly gemetar ketakutan berjongkok di samping Jose. "Sssstttt … sudah, jangan bersuara dulu kau Emilly. Jangan sampai mereka mendengar suaramu, dan akhirnya menemukan kita di sini," bisik Jose ke telinga Emilly, sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya. Emilly tak menjawab. Ia hanya mengangguk patuh, sedang keringat dingin sudah mulai keluar dari keningnya. Emilly baru kali ini merasakan situasi setegang ini. "Kau hanya bisa membual Jason! Mana dua orang yang kau lihat itu!" Dengan nada kesal dan wajah tegang, Robin menepuk pundak temannya itu. Karena rasa lelah dan rasa kantuk yang luar biasa membuat Robin dan dua orang praju
"Rajaku Yang Mulia, tak ada sahutan dari Rebecca." Gavin membungkukkan sedikit badannya. "Coba kau buka saja pintunya! Mungkin dia sedang keluar dari kamarnya," perintah Rehard pada Gavin, salah seorang pengawalnya. Tanpa berbasa-basi Gavin langsung mencoba membuka pintu kamar itu. Kreeeek … pintu pun terbuka, ternyata pintu itu tidak terkunci dari dalam. Gavin langsung masuk, sedang yang lainnya hanya menunggu di luar. "Rebecca! Kau kenapa?!" Mata Gavin terbelalak menatap Rebecca yang terkulai lemas di atas ranjangnya, tak sadarkan diri. Gavin lantas ke luar untuk memberi tahukan pada Rehard dan yang lainnya tentang apa yang dilihatnya. "Tuanku Yang Mulia, lihat ke dalam, sepertinya Rebecca sedang pingsan!" Gavin tak dapat mengontrol lagi suaranya, sebab ia sangat mengkhawatirkan wanita tua yang sangat baik hati itu.
"Orang terdekat yang ada di dalam istana ini!" jawabnya. "Ya, tapi siapa?" Zelena merasa tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh sang putri. "Aku akan bantu menyelidikinya sampai tuntas. Siapa yang diutus ayah untuk menyelidiki kasus ini, Bu?" "Jose dan Daroll!" ucapnya cepat. "Huh, dua orang lelaki itu kenapa masih dipakai saja di istana ini? Seharusnya mereka sudah pensiun, dan menikmati segelas susu hangat dan roti tawar buatan istri-istri mereka. Lagi pula setelah Daroll keluar dari penjara bawah tanah, apa yang bisa dilakukannya? Bisa-bisa dia salah tangkap jika disuruh menjalankan penyelidikan seperti ini. Bukankah mereka harus mempersiapkan istana ini untuk menyambut Raja Daltun dan Pangeran Alden yang ingin melamarku?" Mulut besar Putri Juliette mulai lagi dengan sampah-sampah yang keluar begitu saja, membuat Emilly yang sedari tadi diam mematung, bergidik nge
"Aku, Ayah!" Tiba-tiba tanpa diduga Putri Juliette dengan gaun mewahnya muncul di ruangan itu. Ia didampingi oleh Zelena dan Emilly. "Putriku? Apa maksudmu mengatakan itu?" Rehard menatap Putri Juliette tajam. Ia tak paham dengan ucapan sang putri. "Aku akan membentuk tim untuk mencari perhiasan-perhiasan itu, sekaligus siapa yang mencurinya. Aku janji akan menyeret si pelaku ke hadapanmu, Ayah!" Putri Juliette berdiri persis di hadapan Rehard. "Betul, Suamiku, Putri kita berjanji akan melakukannya dengan baik. Dia gadis yang pintar!" Zelena menimpali, sedang Emilly terus menundukkan kepalanya. Rehard tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Namun akhirnya ia memberikan semua tanggung jawab tersebut pada putrinya itu, saat Putri Juliette dengan mulut manisnya merayu Rehard. Bukan main senangnya hati Zelena dan Putri Juliette mendengar itu. &
Ketiganya langsung serentak mengarahkan pandangannya mereka ke arah suara itu. Jantung Jose dan Daroll semakin berdetak kencang, saat suara itu kian dekat menembus pepohonan yang ada di sekitar mereka. "Ibu!" Seorang gadis cantik berambut pirang berseru di atas punggung kuda berwarna putih yang ditungganginya. "Kim!" Alice membalas panggilan gadis itu, yang ternyata adalah Putri Kimberley. Daroll mengucek-ngucek kedua matanya. Ia seperti ingin memastikan siapa sebenarnya gadis penunggang kuda itu. "Diakah Putri Kimberley? Berarti …?" Mulut Daroll ternganga seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ada apa kau daroll?" Jose menoleh pada sahabatnya, selagi Alice dan putrinya saling berangkulan. Sepertinya kerinduan yang mereka pendam dalam hati mereka sudah terlalu besar. "Itukan Wilona, si gadis perawat
Selagi keduanya kebingungan. Putri Kimberley tiba-tiba bersuara,"besok pagi-pagi sekali kita akan sama-sama keluar dari hutan ini. Aku pastikan akan aman-aman saja. Dan tentunya tak akan ada yang menaruh curiga pada kalian berdua, Paman!" "Baiklah, kami akan menginap di sini. Karena sebenarnya kami juga sangat takut dengan binatang-binatang buas yang bisa saja akan memangsa kami." Jose akhirnya mengalah demi keselamatan mereka. "Horeee! Itu artinya kita bisa bercerita sepanjang malam!" teriak gadis itu kegirangan layaknya anak kecil. "Tapi kenapa kamu kembali dari Kerajaan Strong, Putri?" Daroll yang dari tadi tak pernah melepas pandangannya pada Putri Kimberley akhirnya bersuara juga. "Seminggu sekali aku mendapat jatah libur dari Tuan Chaiden. Tapi besok pagi-pagi sekali aku harus kembali lagi, sebab kedua kuda Pangeran Alden yang manis-manis itu