Sementara itu di dalam sebuah kamar sewaan kecil di Evertown, tak jauh dari M's Brew yang besok pagi akan dibuka untuk pertama kalinya, seorang pemuda sedang bersiap-siap untuk mandi. Diambilnya selembar handuk besar. Dimasukinya kamar mandi pribadinya yang kecil saja, namun cukup bersih.
Earth, atau kini lebih suka dipanggil dengan nama tengahnya di 'kehidupan baru'-nya ini, Avalanche, bertekad akan hidup sebersih mungkin.
Melupakan segalanya. Membuat dirinya sendiri 'terlahir kembali' seperti bayi yang suci tanpa dosa.
Dibukanya semua busana yang ia kenakan. Kemejanya, celana panjangnya, hingga celana dalamnya. Tubuh tingginya yang dahulu pernah sangat kurus kekurangan gizi ternyata sekarang atletis, nyaris sempurna. Dipandanginya sekilas tubuhnya yang dahulu penuh bekas luka. Dibasuhkannya sabun cair beraroma maskulin itu ke seluruh bagian tubuhnya.
Cambukan Hannah. Pukulan dan tendangan. Yang kadang masih hadir dan terasa, walau sudah lama berlalu
Keesokan paginya, M's Brew yang sudah mempersiapkan 'soft opening' mulai dipadati oleh calon-calon pelanggan: para pegawai kantor, mahasiswa, dan pengunjung umum yang kebetulan lalu-lalang di jalan utama Evertown. Kota itu hanya berpenduduk di bawah 2000 jiwa, jadi kehadiran sebuah kafe atau restoran baru sudah dianggap sangat luar biasa. Beberapa barista dengan tangkas melayani para pengunjung-pengunjung penasaran di ruangan bergaya interior minimalis 'rustic' modern yang 'cozy' serta nyaman. Mendampingi mereka, beberapa 'waitress' dengan cekatan mencatat pesanan pengunjung yang rata-rata pria berumur dua puluh hingga tiga puluhan. M's Brew juga menyajikan aneka kudapan lezat dan sarapan hangat. Para pengunjung tampak cukup puas dan betah berlama-lama duduk di meja panjang kayu ala bar yang masih mengkilat. Dekorasi kafe itu didominasi furnitur kayu berpelitur hitam dan cokelat mengkilat, namun juga berhias tanaman hijau menyegarkan di setiap sudutnya. Para karyawan
Sementara itu, Ocean Vagano dan para 'tamu agung'-nya di puri sedang menikmati jamuan makan malam yang mewah elegan dalam nuansa formal di ruang makan utama. Di sudut ruangan, sekelompok pemain musik kwartet gesek memainkan musik klasik Everopa yang riang dan indah. Semua keluarga Forrester yang hadir menikmati santapan lezat di meja panjang bertaplak kain halus dan mewah berhias lilin-lilin panjang di atas chandelier dan vas-vas bunga mawar segar. Beberapa sajian pembuka begitu menggugah selera; sup krim ayam 'creamy' dan salad segar, dilanjutkan hidangan utama beberapa piring besar ayam, kalkun panggang, puluhan potongan iga sapi bakar yang lezat tersaji hangat, lengkap dengan hidangan pencuci mulut berupa puding buah dan eskrim aneka rasa. Walau Hannah sudah lama tak ada, Ocean sudah lama mendatangkan koki-koki andal dari daratan utama Everopa yang selalu siap menyajikan apapun yang ia kehendaki. Walaupun sepeninggal Emily, selera makannya jadi jauh menuru
Sementara itu, Emily Rose Stewart dan Sang Pak Guru Muda Xander Chan-Meyer semakin lama semakin akrab saja. Mereka sudah bergaul akrab, melakukan pendekatan gencar seperti sepasang remaja kasmaran.Emily bahkan sepertinya sudah lupa pada niatnya semula untuk menelepon kontak Keluarga Vagano yang diberikan Ocean. Ia telah meletakkan nomornya kembali saat itu ke dalam koper bawaannya, dan hingga pagi dan beberapa hari setelahnya pun tak pernah atau lupa untuk meliriknya lagi.Justru dengan Xander, Emily bisa kembali tertawa, bercanda dan bercerita dengan bebas. Seperti kembali ke masa-masa saat hidupnya masih 'normal, tepatnya sebelum peristiwa kecelakaan kapal laut dan semua drama dan tragedi berdarah yang terjadi di Pulau Vagano.Bahkan tak dipedulikannya tatapan iri dan cemburu para siswi-siswi belasan tahun yang menyaksikan keakraban dua guru baru yang kerap mengobrol saat istirahat siang di kantin. Pada siang hari menjelang sore, keduanya juga sering janjian
Hingga kopinya habis, Emily belum juga menyadari bila seseorang yang baru saja menghidangkan kopinya adalah pria dari masa lalunya yang ia pernah kenal sedemikian dekat. Gadis itu malah asyik membalas pesan chat dari teman dekatnya yang ternyata sudah menunggu di sekitar sana. Jari-jemari lentiknya asyik membalas chat lalu menelepon juga lawan dialognya. "Xander? Aku ada di M's Brew. Kau mau menyusulku kemari?" Suara itu. Avalanche sangat mengenalnya. Ia tak pernah bisa melupakannya. Genggamannya pada serbet yang ia pegang semakin erat dan bergetar hebat. Rasanya sesuatu di dalam nuraninya bergejolak. Hampir saja ia ingin lemparkan serbet itu dan meninju tembok sekuat-kuatnya, seperti hal yang sering ia lakukan di kamar mandi bila amarahnya menjadi-jadi. 'Itu pasti dia. Itu pasti Emily. Tak salah lagi. Aku tak boleh kehilangan dia! Ternyata dia begitu dekat! Dia ada di kota kecil yang sama denganku! Sepertinya begitu kebetulan. Tapi, m
Ocean Vagano, yang baru saja menyelesaikan 'pesta penyambutan' tamu-tamu agung'-nya tentu saja segera ingin beristirahat di kamarnya. Ia tak pernah terlalu suka dengan tradisi-tradisi lama yang menurutnya kolot dan sedikit kaku, walaupun klasik dan menarik. Ia lebih suka pertemuan yang privat dan informal. Hanya saja, dengan tamu kali ini, ia memutuskan untuk lebih berhati-hati dan juga menjaga jarak. 'Dijodohkan? Tapi aku hanya 'wajib' memilih satu gadis saja. Meskipun begitu, tak ada siapapun yang kuinginkan. Aku masih sangat percaya, cinta sejati itu ada. Walau Emily mungkin belum menginginkan cintaku. Aku tak tahu, mengapa perasaanku kepadanya sebegitu kuat. Bila saja aku sedikit lebih berani, akan kutinggalkan semua ini dan menjadi rakyat biasa saja. Hidup di Evermerika seperti yang pernah kulakukan.' Ocean sudah hendak mengunci pintu kamarnya, ingin membuka stelan jas semi formal yang ia kenakan, mandi sejenak lalu berbaring di ranjangnya yang nyaman, ketika te
Ocean tentu saja ingin sekali lepas dari kedua gadis yang masih betah bercokol di atas sofa panjang nan empuk dan nyaman di ruang tidurnya. Setelah memastikan kimono tidurnya rapi, ia keluar dari kamar mandi. 'Bagaimana caranya mengusir kedua gadis ini dan untuk seterusnya menjaga jarak dengan mereka?' ia masih berpikir keras. "Ocean, sementara Anda berada di dalam sana, kami telah menuangkan segelas kecil saja wine untuk Anda. Gelasnya ada di atas meja bar mini di ujung sana, jadi kami pinjam dua untuk kami dan satu untuk Anda. Dicoba, ya." Kate mendekat pada Ocean tanpa tedeng aling-aling. 'Hmmm, wangi sabun mandinya masih sangat nyata dan enak sekali,' gadis muda itu seketika terbius oleh aroma tubuh pemuda yang memang menyukai kebersihan dan sangat resik itu. "Ehh, aku..." Ocean masih begitu ragu. Namun diterimanya juga gelas berkaki itu, di dalamnya berkilau lembut cairan merah keunguan setengah transparan, aromanya manis menggoda.
Erato alias Lara masih terus mengawasi Avalanche, yang ia rasa begitu ia kenal, dan akan segera dicocokkannya dengan semua foto yang almarhumah ibunya Hannah kirimkan sebagai 'surat wasiat'. 'Orang itu mungkin sekali salah satu dari adik tiri kembarku. Dan bila ya, takkan ada reuni yang manis di antara kami. Karena ibu kalian telah merebut ayahku Zeus dari ibuku. Dan karena ibuku sudah tiada, maka sudah kewajibankulah untuk membalas dendam. Avalanche, kau tak sedang sendirian saja. Walaupun kau sangat menarik, bahkan kita berbagi mata biru yang sama seperti ayah kita...' demikian batin Erato yang masih terus bekerja dalam diam hingga hari itu berakhir. Avalanche alias Earth pun masih tampak gelisah. Ia ingin sekali segera keluar dari sini secepatnya dan menyelidiki apakah itu betul-betul Emily, bukan halusinasi belaka. Sebab selama ia menjalani rehab selama 3 tahun dalam ruangan berbentuk kotak putih empuk yang sunyi, ia selalu menemui 'Emily'. 'Apalah kali ini juga Emily? Atau hany
Sementara itu, Ocean yang sedari tadi betul-betul terlena dengan kehadiran dan kehangatan kedua gadis di ranjangnya, bagai tersadar dari mimpi, segera sadar dengan suara maha keras dari sesuatu yang pecah berkeping-keping itu. "Astaga, kalian, ayo berpakaian kembali dan tinggalkanlah aku!" pemuda itu bangkir dari ranjangnya yang nyaman dan segera menyambar kimono tidurnya. 'Duh, hampir saja, walau aku sangat menginginkan itu, tapi mana mungkin aku bisa terjatuh sedalam ini...' Hampir saja ia betul-betul melakukan hal terintim yang paling tak ingin ia lakukan bersama dua gadis cantik yang belum juga ia cintai. "Ocean, kami.. uhh, baiklah," kedua gadis Kate dan Katy Forrester juga bergegas menutupi tubuh mereka dengan gaun tidur kembali, setengah kecewa seperti dibangunkan mendadak dari mimpi basah terindah. Tak lama kemudian, petugas-petugas keamanan puri segera datang melapor pada Ocean di lounge. "Tuan Muda Ocean Vagano! Gawat!