Share

Bab 6

Author: Aura Tanjung
Untuk pertama kalinya, Camelia sulit membayangkan bahwa lelaki di hadapannya adalah orang dalam ingatannya yang telah menghiburnya berulang kali saat dia mengalami kebutaan sementara.

Ketika terjadi gempa bumi dulu, Levin yang menyelamatkan Camelia, lalu menghiburnya dan menemaninya sambil menunggu pertolongan. Itulah sebabnya dia menyimpan perasaan untuk Levin selama sekian lama.

Camelia tidak menyangka bahwa lelaki yang pernah menemaninya dalam kegelapan itu ternyata begitu biasa, narsis, dan kejam.

“Camelia, seorang gadis itu seharusnya mencintai dirinya. Nggak ada untungnya bagimu dengan lanjut mengganggu Levin seperti ini.”

Josie menunjukkan ekspresi tidak berdaya. Dia bersikap seolah-olah dirinya adalah seorang pacar yang sangat sabar dalam menghadapi amukan mantan pacar prianya.

Baru saja Camelia hendak menjelaskan semuanya, tiba-tiba ada seseorang yang membisikkan sesuatu pada manajer itu.

Ekspresi manajer itu pun berubah sedikit. Kemudian, dia menatap Levin dan berkata, “Maaf, Tuan Levin, bos kami sudah tarik kembali keanggotaanmu. Sekarang, kamu bukan lagi anggota restoran kami. Silakan pergi.”

Keanggotaan Levin ditarik kembali?

Restoran ini sangat terkenal, sedangkan pemiliknya juga sangat misterius dan low-profile.

Ekspresi Levin sontak berubah, tetapi dia tetap bertanya dengan sabar, “Apa maksud bos kalian?”

“Maaf.” Manajer itu mengulurkan tangannya dengan sopan dan berujar, “Ini kehendak bos kami. Silakan pergi.”

Camelia tertegun sejenak, lalu tertawa pelan. Dia mengamati perubahan ekspresi Levin dengan tatapan malas.

Levin melirik Camelia sambil menggertakkan gigi. Namun, dia tidak berani menimbulkan masalah dan akhirnya membawa Josie pergi.

Setelah keluar dari restoran, Josie teringat tampang Camelia tadi. Matanya mulai berkaca-kaca dan dia bertanya dengan agak ragu, “Levin, apa mungkin itu perbuatan Camelia?”

“Nggak mungkin.” Ekspresi Levin sangat suram. Dia menjawab dengan kesal, “Mana mungkin Camelia sehebat itu?”

“Bukannya bos restoran ini sangat kaya? Apa mungkin Camelia mendendam padamu, lalu sengaja mendekati bos restoran ini? Soalnya, perubahan Camelia sepertinya lumayan besar.”

Ketika teringat tampang Camelia malam ini, Levin pun mengernyit. Camelia memang terlihat seperti orang yang berbeda. Bahkan auranya juga menjadi jauh lebih kuat.

“Mimpinya lumayan indah. Tapi, orang dengan latar belakang sepertinya cuma bisa jadi mainan orang lain. Kamu nggak usah pedulikan dia,” ujar Levin dengan acuh tak acuh.

Setelah mendengar ucapan itu, Josie baru tersenyum tipis, lalu mengikuti Levin meninggalkan tempat ini dengan patuh.

Di sisi lain.

Kencan buta Camelia malam ini juga telah berakhir. Dia teringat kejadian tadi dan sedang bertanya-tanya siapa pemilik restoran ini. Tiba-tiba, dia melihat sosok Holden yang berjalan ke arahnya tidak jauh dari sana.

Camelia pun terkejut sejenak, lalu menyapa Holden seolah-olah dirinya sudah melupakan keabsurdan malam itu, “Kebetulan banget. Halo, Kak Holden.”

Pria itu menatap Camelia dengan matanya yang dingin dan mendalam. Kemudian, dia bertanya dengan suara yang rendah dan berat, “Kamu datang kemari untuk kencan buta?”

Camelia mengangguk. Hal mengenai dirinya yang kencan buta sudah tersebar di komunitas mereka. Jadi, dia tidak terkejut karena Holden mengetahuinya.

“Ini perintah Bibi Agnes?”

Mata Holden yang hitam dan mendalam sangat sulit dibaca. Camelia tidak mengerti maksudnya dan menatapnya dengan bingung.

Namun, Holden tiba-tiba berkata, “Kebetulan, keluargaku juga mendesakku untuk menikah.”

Holden menatap mata Camelia dan bertanya dengan tenang, “Jadi, Camelia, kamu mau nikah denganku?”

Suara Holden yang berat dan serak terdengar sangat memikat. Jantung Camelia pun berdegup kencang. Dia tidak menyangka Holden akan mengusulkan hal ini.

“Aku boleh tanya alasannya?” Camelia teringat sesuatu dan berkata dengan ragu, “Kalau karena kejadian malam itu, kamu nggak perlu begitu. Setidaknya, kamu punya keterampilan yang baik dan aku juga menikmatinya.”

Hal ini terjadi karena keinginan kedua belah pihak. Terlebih lagi, yang berinisiatif dan terlebih dahulu tergoda adalah Camelia.

“Kalau harus ada alasan ....” Holden memainkan gelang tasbih di pergelangan tangannya dan menjawab dengan suara yang jernih, “Apa keuntungan bersama termasuk alasan? Kamu itu temannya Maggie. Aku percaya pada kemampuan Maggie menilai orang.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 7

    Begitu mendengar Holden mengungkit tentang Maggie, Camelia pun menggigit bibirnya. Jika dia benar-benar menikah dengan Holden, apa yang akan dipikirkan Maggie?Hanya saja, wajah Holden benar-benar mudah membuat hati orang tergerak. Jika Camelia ingin mencari orang yang tidak dibencinya dan memiliki karakter yang memenuhi standarnya, Holden memang adalah kandidat terbaik. Camelia menunjukkan seulas senyum, lalu mengedipkan matanya dan berkata, “Kak Holden, sepertinya, aku nggak punya alasan untuk menolak.”“Kalau begitu, kita ketemu di Kantor Urusan Sipil jam 10 pagi besok,” ujar Holden sambil menatap Camelia.Camelia pun mengangguk.Holden sepertinya masih ada urusan lain. Dia pun berbalik dan hendak langsung pergi. Namun, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu mengernyit dan bertanya dengan penuh arti, “Levin itu ....”“Kami sudah putus.” Camelia menunduk, lalu teringat sikap Levin tadi dan menambahkan, “Tenang saja, aku bukan tipe orang yang akan kembali ke mantannya.”Setelah

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 8

    Ini adalah ciuman yang tak terkendali dan mendalam.Camelia bernapas terengah-engah dan mencengkeram ujung pakaian Holden secara refleks. Sampai kedua kakinya terasa lemas, Holden baru menghentikan ciumannya.Kemudian, Holden menatap Camelia dan berkata dengan suara berat, “Kalau mau memanfaatkan tubuhku, Nyonya Camelia masih kurang berpengalaman.”Camelia pada dasarnya sangat kompetitif. Dia pun tersenyum, lalu mengecup jakun Holden. Saat merasakan tubuh pria itu menjadi agak kaku, dia pun melangkah mundur sedikit dan tersenyum menantang.“Pak Holden juga sama saja.”Mata Holden pun bertambah gelap. Di sisi lain, Camelia menghentikan provokasinya dan tidak bertindak melewati batas. Setelah bertukar nomor telepon dengan Holden, Camelia pun pindah ke rumah yang disiapkan Holden. Lokasi rumah itu sangatlah bagus.Sebelum pindah, Camelia tidak lupa memberi tahu Agnes tentang dirinya yang telah mendaftarkan pernikahannya. Hanya saja, dia tidak mengatakan bahwa orang yang dinikahinya adala

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 9

    Levin meminta kembali hadiah yang pernah diberikannya?Camelia pun tertawa saking marahnya. Sebelumnya, dia hanya merasa Levin agak berengsek. Tak disangka, Levin juga begitu pelit. Dia hanya merasa sial karena pernah berpacaran dengan pria seperti ini.Setelah pulang ke rumah, Camelia berniat untuk mencari semua hadiah yang pernah diberikan Levin. Tepat pada saat ini, Holden juga pulang ke rumah.“Lagi cari apa?” tanya Holden sambil menatap Camelia.Camelia menghentikan gerakannya dan menjawab, “Aku lagi cari hadiah-hadiah yang pernah dikasih mantanku. Dia minta kembali hadiah yang pernah diberikannya. Ini pertama kalinya aku ketemu pria sepelit dia!”Camelia merasa agak kesal. Wajahnya yang cantik pun menunjukkan sedikit kejengkelan. Pada detik berikutnya, dia menerima notifikasi yang menunjukkan bahwa ada uang sebesar 400 juta yang masuk ke rekeningnya. Di bawahnya, terdapat sebaris memo.[ Hadiah sukarela. ]Holden melirik ke arah lantai yang dipenuhi barang murahan dengan ekspresi

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 10

    Sebelum Maggie selesai berbicara, Camelia sudah memutuskan sambungan telepon. Sementara itu, ada seulas senyum yang melintasi mata Holden.Ketika teringat seruan sahabatnya tadi, Camelia merasa agak canggung. Terutama ketika pandangannya menyusuri tulang selangka Holden. Pria ini benar-benar menggoda.Camelia bahkan merasa telinganya juga terasa panas. Dia berdeham, lalu bertanya, “Ada apa?”“Sudah begitu malam, kenapa kamu masih belum tidur?” Sudut bibir Holden sedikit terangkat dan ada kelembutan yang melintasi matanya yang dingin ketika bertanya, “Lagi ngobrol sama Maggie?”“Emm. Kami cuma ngobrol biasa,” jawab Camelia dengan asal.Tatapan Holden tertuju pada telinga Camelia yang terlihat merah. Kemudian, dia tiba-tiba berujar, “Bukannya Maggie seharusnya panggil kamu kakak ipar?” Ketika teringat dirinya telah menjadi kakak ipar Maggie, Camelia pun tersedak. Hubungan ini memang lumayan kacau.Holden tersenyum, lalu menunduk dan menahan dagu Camelia. Dia berkata dengan suara rendah,

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 11

    “Nggak usah.” Camelia menjawab dengan nada acuh tak acuh, “Dia nggak suka acara seperti itu.”Camelia berkata jujur. Holden terlihat sangat sulit dijangkau dan dingin. Dia memang tidak cocok dengan acara seperti itu.Tiffany pun tersenyum makin lebar. Ketika mendengar Camelia sudah menikah, tetapi hanya langsung mendaftarkan pernikahannya tanpa mengadakan resepsi, dia makin yakin bahwa suami Camelia itu bukanlah seseorang yang layak dipamerkan.“Sayang sekali.” Tiffany berkata dengan nada menyesal, lalu menggoda, “Waktu kakak iparmu dengar kamu sudah menikah, dia sangat ingin berkenalan dengan suamimu.”“Ibu pernah bilang pernikahan itu cuma peraturan Keluarga Winston.” Camelia menatap Agnes dan berkata dengan nada datar, “Bagimu, nggak penting siapa itu suamiku. Jadi, aku juga nggak ingin mengganggunya karena urusan keluarga.”Agnes mengernyit dan menyahut dengan dingin, “Kakakmu juga cuma perhatian padamu. Ya sudah kalau kamu nggak bersedia. Kelak, akan ada kesempatan untuk bertemu.”

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 12

    Camelia membacakan isi daftar itu dengan santai.“Tanggal 8 November 2022, aku merawatmu yang demam tinggi. Harga pasaran biaya perawatan seperti itu 1,2 juta. Tanggal 23 November, aku antarkan dokumenmu yang mendesak dan bolak-balik tiga kali. Jaraknya 12 kilometer, totalnya 600 ribu. Dari tahun 2022 sampai 2024, aku siapkan makan siang buatan sendiri dan sup bergizi untukmu selama tiga tahun, totalnya 166 juta ....”Ekspresi Camelia terlihat tenang saat dia membacakan kata demi kata. Tiga tahun yang penuh keabsurdan itu terlintas dalam benaknya. Camelia menghabiskan waktu dan usahanya untuk pria yang tidak layak. Dia bahkan belajar cara memasak dan membuat sup untuk Levin, lalu mengantarkannya kepada Levin tiga kali sehari selama tiga tahun. Pada akhirnya, mereka malah menyelesaikan masalah ini di depan publik.Awalnya, Levin masih mendengarkan dengan tenang. Akan tetapi, ketika Camelia selesai membacakan tagihan itu satu per satu, alisnya berkerut dan wajahnya menjadi makin muram.

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 13

    Levin menggertakkan giginya dan menatap Camelia lekat-lekat. Josie yang ada di sebelahnya sudah pucat pasi.Melihat ada makin banyak orang yang berkumpul di sekeliling mereka, Levin menjawab dengan kesal, “Rekening!”Camelia mengeluarkan ponselnya dengan tenang, lalu membiarkan Levin memindai kode QR-nya. Setelah uang itu masuk ke rekeningnya, dia pun tersenyum tipis dan berujar, “Makasih, mantanku.”‘Lumayan juga. Dalam tiga tahun ini, setidaknya aku bisa hasilkan 220 juta,’ gumam Camelia dalam hati.Setelah itu, Levin baru berjalan pergi dengan tampang suram. Ketika merasakan tatapan aneh orang-orang, Josie juga buru-buru mengikuti Levin meninggalkan tempat ini.Di restoran yang tenang dan bersih, tatapan Holden tertuju pada Camelia yang berdiri tidak jauh dari sana. Rekan bisnis yang berada di samping menatap Holden dengan bingung, lalu mengalihkan perhatiannya pada Camelia dengan penuh semangat.“Holden, itu pacarmu?”“Bukan.” Holden tersenyum, lalu menjawab dengan bahasa asing yan

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 14

    Holden tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis. Dia tiba-tiba melingkarkan tangannya ke pinggang Camelia, lalu mencondongkan tubuhnya dan berbicara dengan suara yang dingin nan malas.“Bella, aku nggak pernah mengejar siapa pun. Baik itu tertarik karena penampilan fisik atau jatuh cinta seiring berjalannya waktu, berikanlah aku sebuah kesempatan. Kita buat sandiwara ini jadi kenyataan, ya?”Bella merupakan nama panggilan Camelia. Saat kecil, keluarganya paling suka memanggilnya dengan panggilan itu. Dia tidak menyangka Holden akan memanggilnya dengan nama itu. Dari mana Holden mengetahui nama panggilannya itu?Hati Camelia agak bergetar. Dia menatap sepasang mata pria itu dan bibirnya yang merah mulai bergerak. Dia benar-benar tidak dapat mengucapkan kata-kata penolakan.Camelia menunduk, lalu akhirnya menjawab, “Oke.”...Di sisi lain.Setelah berjalan keluar dari restoran, Levin membawa Josie meninggalkan tempat ini dengan ekspresi suram.Ada banyak orang yang menonton keramaian di re

Latest chapter

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 50

    Beberapa hari sudah berlalu. Masih belum ada kabar dari Levin.Dengar-dengar Levin akan ditahan, kemudian baru akan dilepaskan setelah beberapa hari. Kehidupan Camelia juga mulai kembali tenang. Hanya saja Holden masih sangat sibuk. Saking sibuknya, mereka pun jarang ketemuan.Ada sesuatu yang disembunyikan di dalam hati Camelia. Itulah sebabnya dia merasa tidak fokus. Hari demi hari berlalu. Tidak lama kemudian, sampailah ke acara ulang tahun.“Istriku, hari ini aku ada sedikit urusan. Mungkin aku akan telat untuk menghadiri acara ulang tahun.” Sebelum Holden keluar rumah, dia pun berpesan.Saat mendengar ucapan itu, Camelia yang tadinya hendak berbicara pun mengurungkan niatnya. Ketika kepikiran dengan pesan yang dikirim Tiffany sebelumnya, raut wajah Camelia spontan menjadi muram. Dia pun terdiam hingga mengepal erat tangannya. Namun pada akhirnya, Camelia tidak mengatakan apa-apa. Dia menebak mungkin Holden sibuk untuk menemani cinta pertamanya. Pada saat ini, jika Camelia malah

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 49

    Camelia spontan hendak menghalanginya, tetapi pergelangan tangannya malah ditahan oleh Holden. Hawa panas membuat hati Camelia menjadi tenang dalam seketika.Setelah Levin menelepon, dia menambah bumbu di dalam ucapannya, lalu menjelaskan sekali lagi. Hanya saja, dia malah tidak mengungkit perilaku buruk yang dia lakukan.Panggilan diakhiri. Levin duduk di atas lantai dengan menatap mereka berdua dengan tatapan benci.“Polisi akan segera datang. Camelia, bukannya kamu suka untuk membiayai mokondo? Hari ini aku ingin lihat bagaimana kamu melindungi bawahannya. Aku nggak percaya kamu bahkan bisa menyogok polisi!” Levin tertawa lantang. Ekspresi wajahnya kelihatan sangat galak.Namun, ekspresi Holden malah tidak berubah sama sekali. Dia mengeluarkan ponselnya untuk mengirim sebuah pesan. Kemudian, dia pun menunggu kedatangan polisi dengan sabar.Polisi datang dengan sangat cepat. Setelah melihat polisi yang datang dengan berseragam, Levin segera berdiri dan mulai mengadu. Dia menunjuk lu

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 48

    “Lepaskan! Levin, kamu benar-benar menjijikkan!” Camelia berusaha untuk melepaskan diri dari Levin, tetapi tenaga Levin terlalu besar, dia hanya merasa sakit pada pergelangan tangannya. Pada saat ini, Steven yang bersembunyi di ujung berjalan keluar. Dia diam-diam mengeluarkan ponselnya untuk merekam gambaran ini.Betul! Hari ini Levin bukan datang sendiri. Dia sudah menghubungi Steven untuk merekam video. Dengan begitu, dia pun memiliki cukup bukti untuk menghancurkan Camelia.Levin sungguh penasaran apa lagi yang bisa dikatakan Camelia nantinya!“Aku ingin semua orang di Grup Winston tahu betapa murahannya kamu. Camelia, inilah akibat dari menyinggungku!” Levin seperti sudah menggila saja, terus menarik kerah pakaian Camelia. Namun belum sempat dia menarik pakaian Camelia, dia pun telah ditendang.Satu detik kemudian, jas berukuran besar dibungkuskan di atas tubuh Camelia. Camelia yang masih syok itu tiba-tiba masuk ke dalam pelukan Holden.“Kamu baik-baik saja, ‘kan?” Suara rendah

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 47

    Usai mendengar, raut wajah Camelia langsung berubah dingin. Dia menatap Levin dengan tatapan tajam. “Levin, jaga mulutmu! Masalahku nggak ada hubungannya sama kamu. Kamu juga nggak berhak untuk mengatur hidupku.”Levin tertegun dengan balas Camelia. Namun, dalam seketika, dia kembali bersikap arogan. “Kemampuan? Camelia, memangnya kamu punya kemampuan apa? Sekarang kamu itu bukan apa-apa! Setelah meninggalkanku, kamu hanyalah orang yang nggak berguna!”Ketika mendengar ucapan menusuk telinga itu, hati Camelia juga tidak terlalu bergejolak. Dia sudah menyadari betapa munafik dan arogan si Levin. Dia pernah mengira Levin adalah penyelamat dan cahayanya. Namun pada akhirnya, Levin hanya menganggapnya sebagai mainan yang bisa dikendalikan setiap saat.“Levin.” Camelia berbicara dengan tenang dan perlahan, “Tiga tahun lalu, aku memang buta, makanya aku bisa menyukaimu. Sekarang aku sudah sadar. Kamu sudah bukan apa-apa bagiku. Aku, Camelia, bukan orang yang bisa kamu hina sesuka hatimu.”Se

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 46

    Keesokan paginya, Camelia dibangunkan oleh jam alarm. Dia mengucek matanya, lalu meraba ke ujung ranjang, tetapi dia menyadari tidak ada apa-apa di sana.Holden tidak pulang semalaman.Tatapan Camelia dipenuhi dengan emosi yang sulit ditebak. Dia mengesampingkan selimut, melangkah turun dari tempat tidur dengan kaki telanjang, lalu berjalan menuju lemari pakaian.Tanpa banyak berpikir, Camelia mengambil sebuah sweater rajut berwarna krim dan celana kulot hitam, lalu mengenakannya. Setelah selesai membasuh tubuh dan sarapan seadanya, dia buru-buru keluar rumah.Setibanya di kantor, Camelia duduk di depan mejanya, menyalakan komputer, dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Namun, tidak peduli seberapa keras Camelia berusaha, dia tetap tidak bisa memfokuskan perhatiannya.Di dalam benaknya terus terbayang ekspresi dingin saat Holden mengangkat telepon semalam dan juga bayangan punggung buru-buru itu. Camelia pergi menyeduh kopi untuk dirinya sendiri. Akhirnya dia baru mulai segar, lalu kemba

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 45

    Camelia yang kliyengan itu bersandar di tubuh Holden. Napas hangat mengembus ke bagian leher Holden. Samar-samar tercium aroma alkohol juga. Dia mengangkat tangannya, lalu menoel-noel dada Camelia dengan lembut, lalu jari tangannya berputar-putar di atas kemeja Holden.“Holden, kamu … kenapa kamu tinggi sekali?”Tatapan Holden sangat dalam. Jakunnya bergerak. Suaranya terdengar rendah. “Kamu sudah mabuk.”“Aku nggak mabuk!” gumam Camelia dengan tidak puas. Tangannya melingkari leher Holden. Sekujur tubuhnya menggantung di atas tubuh Holden. “Aku sadar sekali! Aku cuma … merasa kamu ganteng banget.”Camelia mengangkat kepalanya untuk menatap Holden. Matanya agak memerah lantaran mabuk. Saat ini, dia kelihatan sangat manja.Holden merasa hatinya membara, seolah-olah ada aliran arus listrik yang mengalir di seluruh tubuhnya. Dia berusaha untuk menekan perasaannya, lalu berkata dengan nada tenang, “Jangan beronar lagi. Aku akan papah kamu ke dalam.”Holden merangkul pinggang Camelia, lalu

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 44

    Camelia bersandar di bangkunya. “Sudah semalam ini, mau ke mana lagi?”“Ada teman yang membuka sebuah sirkuit balapan mobil di pegunungan. Gimana kalau kita pergi ke sana?” Holden memutar setir mobilnya. “Pemandangan malam di sana sangat indah. Kita juga bisa melihat pemandangan malam seluruh kota di sana.”Camelia terbengong sejenak. Terlintas kilauan gembira di dalam matanya. “Balapan? Serius?” Camelia langsung duduk dengan tegak. “Saat aku kuliah dulu, aku sering main balap mobil bersama temanku. Tapi setelah bekerja, aku pun sudah jarang main lagi.”“Kebetulan malam ini kamu bisa merasakan kembali perasaan waktu itu,” ucap Holden sembari menaikkan kecepatan mobilnya.Mobil melaju ke area balapan di pegunungan.Angin malam bertiup masuk melalui jendela mobil yang setengah terbuka, membawa aroma sejuk dari pegunungan, menghilangkan kelelahan yang menyelimuti mereka sepanjang hari.Tidak lama kemudian, mobil Maybach hitam berhenti di area parkir sirkuit balap di puncak gunung.Pintu m

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 43

    Camelia mengambil roti, lalu menggigit dengan perlahan. Aroma wangi gandum berpadu dengan rasa manis yang ringan itu langsung menyingkirkan rasa capek saat lembur.Tatapan Holden terfokus pada diri Camelia. Tatapannya sangatlah lembut. Dia pun tersenyum tipis.Sisa cahaya matahari sore memancar ke dalam jendela kaca. Cahaya keemasan membalut wajahnya yang tegas, semakin menonjolkan ketampanannya.Dari tubuh Holden, terpancar aroma lembut parfum bercampur dengan harum kopi yang pekat, yang mana memberikan sensasi menenangkan. Bahu lebar dengan postur tubuh tegap. Setiap detailnya memancarkan pesona seorang pria dewasa.“Kamu beli di bawah?” Camelia menelan roti sembari mengangkat kepalanya untuk menatap Holden. Nada bicaranya terdengar sedikit kaget.Holden mengangguk. Terlintas sedikit rasa lembut di dalam tatapan tajamnya.“Tadinya aku ingin langsung ke atas, tapi aku lihat masih ada beberapa orang yang lagi lembur. Aku takut kamu akan merasa canggung. Jadi, aku pun turun untuk membe

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 42

    Suara rendah Holden terdengar dari ujung telepon. Terdengar sedikit rasa letih dan tawa di dalam suaranya.Camelia menghentikan gerakan tangannya, lalu melihat jam di ujung kanan bawah layar komputer.“Apa kamu nggak sibuk hari ini? Kenapa kamu ada waktu untuk menjemputku?”Camelia mengeklik folder lain dengan mouse, lalu segera melihat isi dokumen.“Aku sudah merencanakannya dari awal.” Suara Holden terdengar lembut. “Belakangan ini banyak orang jahat. Aku mengkhawatirkanmu. Nggak aman untuk pulang sendiri.”Hati Camelia terasa hangat. Dia spontan mengusap daun telinganya. Ujung bibirnya spontan melengkung ke atas. “Aku masih harus lembur. Kamu tunggu sebentar, ya. Proposal ini untuk dipakai esok hari.”“Kalau begitu, aku akan naik untuk temani kamu.” Usai berbicara, Holden langsung mengakhiri panggilan.“Jangan ….” Camelia ingin segera menghalanginya. Namun belum sempat dia menyelesaikan omongannya, suara nada sibuk sudah terdengar di telinganya.Camelia menggenggam ponselnya dan ter

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status