Share

Bab 42

Author: Aura Tanjung
Suara rendah Holden terdengar dari ujung telepon. Terdengar sedikit rasa letih dan tawa di dalam suaranya.

Camelia menghentikan gerakan tangannya, lalu melihat jam di ujung kanan bawah layar komputer.

“Apa kamu nggak sibuk hari ini? Kenapa kamu ada waktu untuk menjemputku?”

Camelia mengeklik folder lain dengan mouse, lalu segera melihat isi dokumen.

“Aku sudah merencanakannya dari awal.” Suara Holden terdengar lembut. “Belakangan ini banyak orang jahat. Aku mengkhawatirkanmu. Nggak aman untuk pulang sendiri.”

Hati Camelia terasa hangat. Dia spontan mengusap daun telinganya. Ujung bibirnya spontan melengkung ke atas. “Aku masih harus lembur. Kamu tunggu sebentar, ya. Proposal ini untuk dipakai esok hari.”

“Kalau begitu, aku akan naik untuk temani kamu.” Usai berbicara, Holden langsung mengakhiri panggilan.

“Jangan ….” Camelia ingin segera menghalanginya. Namun belum sempat dia menyelesaikan omongannya, suara nada sibuk sudah terdengar di telinganya.

Camelia menggenggam ponselnya dan ter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 43

    Camelia mengambil roti, lalu menggigit dengan perlahan. Aroma wangi gandum berpadu dengan rasa manis yang ringan itu langsung menyingkirkan rasa capek saat lembur.Tatapan Holden terfokus pada diri Camelia. Tatapannya sangatlah lembut. Dia pun tersenyum tipis.Sisa cahaya matahari sore memancar ke dalam jendela kaca. Cahaya keemasan membalut wajahnya yang tegas, semakin menonjolkan ketampanannya.Dari tubuh Holden, terpancar aroma lembut parfum bercampur dengan harum kopi yang pekat, yang mana memberikan sensasi menenangkan. Bahu lebar dengan postur tubuh tegap. Setiap detailnya memancarkan pesona seorang pria dewasa.“Kamu beli di bawah?” Camelia menelan roti sembari mengangkat kepalanya untuk menatap Holden. Nada bicaranya terdengar sedikit kaget.Holden mengangguk. Terlintas sedikit rasa lembut di dalam tatapan tajamnya.“Tadinya aku ingin langsung ke atas, tapi aku lihat masih ada beberapa orang yang lagi lembur. Aku takut kamu akan merasa canggung. Jadi, aku pun turun untuk membe

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 44

    Camelia bersandar di bangkunya. “Sudah semalam ini, mau ke mana lagi?”“Ada teman yang membuka sebuah sirkuit balapan mobil di pegunungan. Gimana kalau kita pergi ke sana?” Holden memutar setir mobilnya. “Pemandangan malam di sana sangat indah. Kita juga bisa melihat pemandangan malam seluruh kota di sana.”Camelia terbengong sejenak. Terlintas kilauan gembira di dalam matanya. “Balapan? Serius?” Camelia langsung duduk dengan tegak. “Saat aku kuliah dulu, aku sering main balap mobil bersama temanku. Tapi setelah bekerja, aku pun sudah jarang main lagi.”“Kebetulan malam ini kamu bisa merasakan kembali perasaan waktu itu,” ucap Holden sembari menaikkan kecepatan mobilnya.Mobil melaju ke area balapan di pegunungan.Angin malam bertiup masuk melalui jendela mobil yang setengah terbuka, membawa aroma sejuk dari pegunungan, menghilangkan kelelahan yang menyelimuti mereka sepanjang hari.Tidak lama kemudian, mobil Maybach hitam berhenti di area parkir sirkuit balap di puncak gunung.Pintu m

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 45

    Camelia yang kliyengan itu bersandar di tubuh Holden. Napas hangat mengembus ke bagian leher Holden. Samar-samar tercium aroma alkohol juga. Dia mengangkat tangannya, lalu menoel-noel dada Camelia dengan lembut, lalu jari tangannya berputar-putar di atas kemeja Holden.“Holden, kamu … kenapa kamu tinggi sekali?”Tatapan Holden sangat dalam. Jakunnya bergerak. Suaranya terdengar rendah. “Kamu sudah mabuk.”“Aku nggak mabuk!” gumam Camelia dengan tidak puas. Tangannya melingkari leher Holden. Sekujur tubuhnya menggantung di atas tubuh Holden. “Aku sadar sekali! Aku cuma … merasa kamu ganteng banget.”Camelia mengangkat kepalanya untuk menatap Holden. Matanya agak memerah lantaran mabuk. Saat ini, dia kelihatan sangat manja.Holden merasa hatinya membara, seolah-olah ada aliran arus listrik yang mengalir di seluruh tubuhnya. Dia berusaha untuk menekan perasaannya, lalu berkata dengan nada tenang, “Jangan beronar lagi. Aku akan papah kamu ke dalam.”Holden merangkul pinggang Camelia, lalu

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 46

    Keesokan paginya, Camelia dibangunkan oleh jam alarm. Dia mengucek matanya, lalu meraba ke ujung ranjang, tetapi dia menyadari tidak ada apa-apa di sana.Holden tidak pulang semalaman.Tatapan Camelia dipenuhi dengan emosi yang sulit ditebak. Dia mengesampingkan selimut, melangkah turun dari tempat tidur dengan kaki telanjang, lalu berjalan menuju lemari pakaian.Tanpa banyak berpikir, Camelia mengambil sebuah sweater rajut berwarna krim dan celana kulot hitam, lalu mengenakannya. Setelah selesai membasuh tubuh dan sarapan seadanya, dia buru-buru keluar rumah.Setibanya di kantor, Camelia duduk di depan mejanya, menyalakan komputer, dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Namun, tidak peduli seberapa keras Camelia berusaha, dia tetap tidak bisa memfokuskan perhatiannya.Di dalam benaknya terus terbayang ekspresi dingin saat Holden mengangkat telepon semalam dan juga bayangan punggung buru-buru itu. Camelia pergi menyeduh kopi untuk dirinya sendiri. Akhirnya dia baru mulai segar, lalu kemba

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 47

    Usai mendengar, raut wajah Camelia langsung berubah dingin. Dia menatap Levin dengan tatapan tajam. “Levin, jaga mulutmu! Masalahku nggak ada hubungannya sama kamu. Kamu juga nggak berhak untuk mengatur hidupku.”Levin tertegun dengan balas Camelia. Namun, dalam seketika, dia kembali bersikap arogan. “Kemampuan? Camelia, memangnya kamu punya kemampuan apa? Sekarang kamu itu bukan apa-apa! Setelah meninggalkanku, kamu hanyalah orang yang nggak berguna!”Ketika mendengar ucapan menusuk telinga itu, hati Camelia juga tidak terlalu bergejolak. Dia sudah menyadari betapa munafik dan arogan si Levin. Dia pernah mengira Levin adalah penyelamat dan cahayanya. Namun pada akhirnya, Levin hanya menganggapnya sebagai mainan yang bisa dikendalikan setiap saat.“Levin.” Camelia berbicara dengan tenang dan perlahan, “Tiga tahun lalu, aku memang buta, makanya aku bisa menyukaimu. Sekarang aku sudah sadar. Kamu sudah bukan apa-apa bagiku. Aku, Camelia, bukan orang yang bisa kamu hina sesuka hatimu.”Se

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 48

    “Lepaskan! Levin, kamu benar-benar menjijikkan!” Camelia berusaha untuk melepaskan diri dari Levin, tetapi tenaga Levin terlalu besar, dia hanya merasa sakit pada pergelangan tangannya. Pada saat ini, Steven yang bersembunyi di ujung berjalan keluar. Dia diam-diam mengeluarkan ponselnya untuk merekam gambaran ini.Betul! Hari ini Levin bukan datang sendiri. Dia sudah menghubungi Steven untuk merekam video. Dengan begitu, dia pun memiliki cukup bukti untuk menghancurkan Camelia.Levin sungguh penasaran apa lagi yang bisa dikatakan Camelia nantinya!“Aku ingin semua orang di Grup Winston tahu betapa murahannya kamu. Camelia, inilah akibat dari menyinggungku!” Levin seperti sudah menggila saja, terus menarik kerah pakaian Camelia. Namun belum sempat dia menarik pakaian Camelia, dia pun telah ditendang.Satu detik kemudian, jas berukuran besar dibungkuskan di atas tubuh Camelia. Camelia yang masih syok itu tiba-tiba masuk ke dalam pelukan Holden.“Kamu baik-baik saja, ‘kan?” Suara rendah

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 49

    Camelia spontan hendak menghalanginya, tetapi pergelangan tangannya malah ditahan oleh Holden. Hawa panas membuat hati Camelia menjadi tenang dalam seketika.Setelah Levin menelepon, dia menambah bumbu di dalam ucapannya, lalu menjelaskan sekali lagi. Hanya saja, dia malah tidak mengungkit perilaku buruk yang dia lakukan.Panggilan diakhiri. Levin duduk di atas lantai dengan menatap mereka berdua dengan tatapan benci.“Polisi akan segera datang. Camelia, bukannya kamu suka untuk membiayai mokondo? Hari ini aku ingin lihat bagaimana kamu melindungi bawahannya. Aku nggak percaya kamu bahkan bisa menyogok polisi!” Levin tertawa lantang. Ekspresi wajahnya kelihatan sangat galak.Namun, ekspresi Holden malah tidak berubah sama sekali. Dia mengeluarkan ponselnya untuk mengirim sebuah pesan. Kemudian, dia pun menunggu kedatangan polisi dengan sabar.Polisi datang dengan sangat cepat. Setelah melihat polisi yang datang dengan berseragam, Levin segera berdiri dan mulai mengadu. Dia menunjuk lu

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 50

    Beberapa hari sudah berlalu. Masih belum ada kabar dari Levin.Dengar-dengar Levin akan ditahan, kemudian baru akan dilepaskan setelah beberapa hari. Kehidupan Camelia juga mulai kembali tenang. Hanya saja Holden masih sangat sibuk. Saking sibuknya, mereka pun jarang ketemuan.Ada sesuatu yang disembunyikan di dalam hati Camelia. Itulah sebabnya dia merasa tidak fokus. Hari demi hari berlalu. Tidak lama kemudian, sampailah ke acara ulang tahun.“Istriku, hari ini aku ada sedikit urusan. Mungkin aku akan telat untuk menghadiri acara ulang tahun.” Sebelum Holden keluar rumah, dia pun berpesan.Saat mendengar ucapan itu, Camelia yang tadinya hendak berbicara pun mengurungkan niatnya. Ketika kepikiran dengan pesan yang dikirim Tiffany sebelumnya, raut wajah Camelia spontan menjadi muram. Dia pun terdiam hingga mengepal erat tangannya. Namun pada akhirnya, Camelia tidak mengatakan apa-apa. Dia menebak mungkin Holden sibuk untuk menemani cinta pertamanya. Pada saat ini, jika Camelia malah

Latest chapter

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 50

    Beberapa hari sudah berlalu. Masih belum ada kabar dari Levin.Dengar-dengar Levin akan ditahan, kemudian baru akan dilepaskan setelah beberapa hari. Kehidupan Camelia juga mulai kembali tenang. Hanya saja Holden masih sangat sibuk. Saking sibuknya, mereka pun jarang ketemuan.Ada sesuatu yang disembunyikan di dalam hati Camelia. Itulah sebabnya dia merasa tidak fokus. Hari demi hari berlalu. Tidak lama kemudian, sampailah ke acara ulang tahun.“Istriku, hari ini aku ada sedikit urusan. Mungkin aku akan telat untuk menghadiri acara ulang tahun.” Sebelum Holden keluar rumah, dia pun berpesan.Saat mendengar ucapan itu, Camelia yang tadinya hendak berbicara pun mengurungkan niatnya. Ketika kepikiran dengan pesan yang dikirim Tiffany sebelumnya, raut wajah Camelia spontan menjadi muram. Dia pun terdiam hingga mengepal erat tangannya. Namun pada akhirnya, Camelia tidak mengatakan apa-apa. Dia menebak mungkin Holden sibuk untuk menemani cinta pertamanya. Pada saat ini, jika Camelia malah

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 49

    Camelia spontan hendak menghalanginya, tetapi pergelangan tangannya malah ditahan oleh Holden. Hawa panas membuat hati Camelia menjadi tenang dalam seketika.Setelah Levin menelepon, dia menambah bumbu di dalam ucapannya, lalu menjelaskan sekali lagi. Hanya saja, dia malah tidak mengungkit perilaku buruk yang dia lakukan.Panggilan diakhiri. Levin duduk di atas lantai dengan menatap mereka berdua dengan tatapan benci.“Polisi akan segera datang. Camelia, bukannya kamu suka untuk membiayai mokondo? Hari ini aku ingin lihat bagaimana kamu melindungi bawahannya. Aku nggak percaya kamu bahkan bisa menyogok polisi!” Levin tertawa lantang. Ekspresi wajahnya kelihatan sangat galak.Namun, ekspresi Holden malah tidak berubah sama sekali. Dia mengeluarkan ponselnya untuk mengirim sebuah pesan. Kemudian, dia pun menunggu kedatangan polisi dengan sabar.Polisi datang dengan sangat cepat. Setelah melihat polisi yang datang dengan berseragam, Levin segera berdiri dan mulai mengadu. Dia menunjuk lu

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 48

    “Lepaskan! Levin, kamu benar-benar menjijikkan!” Camelia berusaha untuk melepaskan diri dari Levin, tetapi tenaga Levin terlalu besar, dia hanya merasa sakit pada pergelangan tangannya. Pada saat ini, Steven yang bersembunyi di ujung berjalan keluar. Dia diam-diam mengeluarkan ponselnya untuk merekam gambaran ini.Betul! Hari ini Levin bukan datang sendiri. Dia sudah menghubungi Steven untuk merekam video. Dengan begitu, dia pun memiliki cukup bukti untuk menghancurkan Camelia.Levin sungguh penasaran apa lagi yang bisa dikatakan Camelia nantinya!“Aku ingin semua orang di Grup Winston tahu betapa murahannya kamu. Camelia, inilah akibat dari menyinggungku!” Levin seperti sudah menggila saja, terus menarik kerah pakaian Camelia. Namun belum sempat dia menarik pakaian Camelia, dia pun telah ditendang.Satu detik kemudian, jas berukuran besar dibungkuskan di atas tubuh Camelia. Camelia yang masih syok itu tiba-tiba masuk ke dalam pelukan Holden.“Kamu baik-baik saja, ‘kan?” Suara rendah

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 47

    Usai mendengar, raut wajah Camelia langsung berubah dingin. Dia menatap Levin dengan tatapan tajam. “Levin, jaga mulutmu! Masalahku nggak ada hubungannya sama kamu. Kamu juga nggak berhak untuk mengatur hidupku.”Levin tertegun dengan balas Camelia. Namun, dalam seketika, dia kembali bersikap arogan. “Kemampuan? Camelia, memangnya kamu punya kemampuan apa? Sekarang kamu itu bukan apa-apa! Setelah meninggalkanku, kamu hanyalah orang yang nggak berguna!”Ketika mendengar ucapan menusuk telinga itu, hati Camelia juga tidak terlalu bergejolak. Dia sudah menyadari betapa munafik dan arogan si Levin. Dia pernah mengira Levin adalah penyelamat dan cahayanya. Namun pada akhirnya, Levin hanya menganggapnya sebagai mainan yang bisa dikendalikan setiap saat.“Levin.” Camelia berbicara dengan tenang dan perlahan, “Tiga tahun lalu, aku memang buta, makanya aku bisa menyukaimu. Sekarang aku sudah sadar. Kamu sudah bukan apa-apa bagiku. Aku, Camelia, bukan orang yang bisa kamu hina sesuka hatimu.”Se

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 46

    Keesokan paginya, Camelia dibangunkan oleh jam alarm. Dia mengucek matanya, lalu meraba ke ujung ranjang, tetapi dia menyadari tidak ada apa-apa di sana.Holden tidak pulang semalaman.Tatapan Camelia dipenuhi dengan emosi yang sulit ditebak. Dia mengesampingkan selimut, melangkah turun dari tempat tidur dengan kaki telanjang, lalu berjalan menuju lemari pakaian.Tanpa banyak berpikir, Camelia mengambil sebuah sweater rajut berwarna krim dan celana kulot hitam, lalu mengenakannya. Setelah selesai membasuh tubuh dan sarapan seadanya, dia buru-buru keluar rumah.Setibanya di kantor, Camelia duduk di depan mejanya, menyalakan komputer, dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Namun, tidak peduli seberapa keras Camelia berusaha, dia tetap tidak bisa memfokuskan perhatiannya.Di dalam benaknya terus terbayang ekspresi dingin saat Holden mengangkat telepon semalam dan juga bayangan punggung buru-buru itu. Camelia pergi menyeduh kopi untuk dirinya sendiri. Akhirnya dia baru mulai segar, lalu kemba

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 45

    Camelia yang kliyengan itu bersandar di tubuh Holden. Napas hangat mengembus ke bagian leher Holden. Samar-samar tercium aroma alkohol juga. Dia mengangkat tangannya, lalu menoel-noel dada Camelia dengan lembut, lalu jari tangannya berputar-putar di atas kemeja Holden.“Holden, kamu … kenapa kamu tinggi sekali?”Tatapan Holden sangat dalam. Jakunnya bergerak. Suaranya terdengar rendah. “Kamu sudah mabuk.”“Aku nggak mabuk!” gumam Camelia dengan tidak puas. Tangannya melingkari leher Holden. Sekujur tubuhnya menggantung di atas tubuh Holden. “Aku sadar sekali! Aku cuma … merasa kamu ganteng banget.”Camelia mengangkat kepalanya untuk menatap Holden. Matanya agak memerah lantaran mabuk. Saat ini, dia kelihatan sangat manja.Holden merasa hatinya membara, seolah-olah ada aliran arus listrik yang mengalir di seluruh tubuhnya. Dia berusaha untuk menekan perasaannya, lalu berkata dengan nada tenang, “Jangan beronar lagi. Aku akan papah kamu ke dalam.”Holden merangkul pinggang Camelia, lalu

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 44

    Camelia bersandar di bangkunya. “Sudah semalam ini, mau ke mana lagi?”“Ada teman yang membuka sebuah sirkuit balapan mobil di pegunungan. Gimana kalau kita pergi ke sana?” Holden memutar setir mobilnya. “Pemandangan malam di sana sangat indah. Kita juga bisa melihat pemandangan malam seluruh kota di sana.”Camelia terbengong sejenak. Terlintas kilauan gembira di dalam matanya. “Balapan? Serius?” Camelia langsung duduk dengan tegak. “Saat aku kuliah dulu, aku sering main balap mobil bersama temanku. Tapi setelah bekerja, aku pun sudah jarang main lagi.”“Kebetulan malam ini kamu bisa merasakan kembali perasaan waktu itu,” ucap Holden sembari menaikkan kecepatan mobilnya.Mobil melaju ke area balapan di pegunungan.Angin malam bertiup masuk melalui jendela mobil yang setengah terbuka, membawa aroma sejuk dari pegunungan, menghilangkan kelelahan yang menyelimuti mereka sepanjang hari.Tidak lama kemudian, mobil Maybach hitam berhenti di area parkir sirkuit balap di puncak gunung.Pintu m

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 43

    Camelia mengambil roti, lalu menggigit dengan perlahan. Aroma wangi gandum berpadu dengan rasa manis yang ringan itu langsung menyingkirkan rasa capek saat lembur.Tatapan Holden terfokus pada diri Camelia. Tatapannya sangatlah lembut. Dia pun tersenyum tipis.Sisa cahaya matahari sore memancar ke dalam jendela kaca. Cahaya keemasan membalut wajahnya yang tegas, semakin menonjolkan ketampanannya.Dari tubuh Holden, terpancar aroma lembut parfum bercampur dengan harum kopi yang pekat, yang mana memberikan sensasi menenangkan. Bahu lebar dengan postur tubuh tegap. Setiap detailnya memancarkan pesona seorang pria dewasa.“Kamu beli di bawah?” Camelia menelan roti sembari mengangkat kepalanya untuk menatap Holden. Nada bicaranya terdengar sedikit kaget.Holden mengangguk. Terlintas sedikit rasa lembut di dalam tatapan tajamnya.“Tadinya aku ingin langsung ke atas, tapi aku lihat masih ada beberapa orang yang lagi lembur. Aku takut kamu akan merasa canggung. Jadi, aku pun turun untuk membe

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 42

    Suara rendah Holden terdengar dari ujung telepon. Terdengar sedikit rasa letih dan tawa di dalam suaranya.Camelia menghentikan gerakan tangannya, lalu melihat jam di ujung kanan bawah layar komputer.“Apa kamu nggak sibuk hari ini? Kenapa kamu ada waktu untuk menjemputku?”Camelia mengeklik folder lain dengan mouse, lalu segera melihat isi dokumen.“Aku sudah merencanakannya dari awal.” Suara Holden terdengar lembut. “Belakangan ini banyak orang jahat. Aku mengkhawatirkanmu. Nggak aman untuk pulang sendiri.”Hati Camelia terasa hangat. Dia spontan mengusap daun telinganya. Ujung bibirnya spontan melengkung ke atas. “Aku masih harus lembur. Kamu tunggu sebentar, ya. Proposal ini untuk dipakai esok hari.”“Kalau begitu, aku akan naik untuk temani kamu.” Usai berbicara, Holden langsung mengakhiri panggilan.“Jangan ….” Camelia ingin segera menghalanginya. Namun belum sempat dia menyelesaikan omongannya, suara nada sibuk sudah terdengar di telinganya.Camelia menggenggam ponselnya dan ter

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status