“Nggak usah.” Camelia menjawab dengan nada acuh tak acuh, “Dia nggak suka acara seperti itu.”Camelia berkata jujur. Holden terlihat sangat sulit dijangkau dan dingin. Dia memang tidak cocok dengan acara seperti itu.Tiffany pun tersenyum makin lebar. Ketika mendengar Camelia sudah menikah, tetapi hanya langsung mendaftarkan pernikahannya tanpa mengadakan resepsi, dia makin yakin bahwa suami Camelia itu bukanlah seseorang yang layak dipamerkan.“Sayang sekali.” Tiffany berkata dengan nada menyesal, lalu menggoda, “Waktu kakak iparmu dengar kamu sudah menikah, dia sangat ingin berkenalan dengan suamimu.”“Ibu pernah bilang pernikahan itu cuma peraturan Keluarga Winston.” Camelia menatap Agnes dan berkata dengan nada datar, “Bagimu, nggak penting siapa itu suamiku. Jadi, aku juga nggak ingin mengganggunya karena urusan keluarga.”Agnes mengernyit dan menyahut dengan dingin, “Kakakmu juga cuma perhatian padamu. Ya sudah kalau kamu nggak bersedia. Kelak, akan ada kesempatan untuk bertemu.”
Camelia membacakan isi daftar itu dengan santai.“Tanggal 8 November 2022, aku merawatmu yang demam tinggi. Harga pasaran biaya perawatan seperti itu 1,2 juta. Tanggal 23 November, aku antarkan dokumenmu yang mendesak dan bolak-balik tiga kali. Jaraknya 12 kilometer, totalnya 600 ribu. Dari tahun 2022 sampai 2024, aku siapkan makan siang buatan sendiri dan sup bergizi untukmu selama tiga tahun, totalnya 166 juta ....”Ekspresi Camelia terlihat tenang saat dia membacakan kata demi kata. Tiga tahun yang penuh keabsurdan itu terlintas dalam benaknya. Camelia menghabiskan waktu dan usahanya untuk pria yang tidak layak. Dia bahkan belajar cara memasak dan membuat sup untuk Levin, lalu mengantarkannya kepada Levin tiga kali sehari selama tiga tahun. Pada akhirnya, mereka malah menyelesaikan masalah ini di depan publik.Awalnya, Levin masih mendengarkan dengan tenang. Akan tetapi, ketika Camelia selesai membacakan tagihan itu satu per satu, alisnya berkerut dan wajahnya menjadi makin muram.
Levin menggertakkan giginya dan menatap Camelia lekat-lekat. Josie yang ada di sebelahnya sudah pucat pasi.Melihat ada makin banyak orang yang berkumpul di sekeliling mereka, Levin menjawab dengan kesal, “Rekening!”Camelia mengeluarkan ponselnya dengan tenang, lalu membiarkan Levin memindai kode QR-nya. Setelah uang itu masuk ke rekeningnya, dia pun tersenyum tipis dan berujar, “Makasih, mantanku.”‘Lumayan juga. Dalam tiga tahun ini, setidaknya aku bisa hasilkan 220 juta,’ gumam Camelia dalam hati.Setelah itu, Levin baru berjalan pergi dengan tampang suram. Ketika merasakan tatapan aneh orang-orang, Josie juga buru-buru mengikuti Levin meninggalkan tempat ini.Di restoran yang tenang dan bersih, tatapan Holden tertuju pada Camelia yang berdiri tidak jauh dari sana. Rekan bisnis yang berada di samping menatap Holden dengan bingung, lalu mengalihkan perhatiannya pada Camelia dengan penuh semangat.“Holden, itu pacarmu?”“Bukan.” Holden tersenyum, lalu menjawab dengan bahasa asing yan
Holden tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis. Dia tiba-tiba melingkarkan tangannya ke pinggang Camelia, lalu mencondongkan tubuhnya dan berbicara dengan suara yang dingin nan malas.“Bella, aku nggak pernah mengejar siapa pun. Baik itu tertarik karena penampilan fisik atau jatuh cinta seiring berjalannya waktu, berikanlah aku sebuah kesempatan. Kita buat sandiwara ini jadi kenyataan, ya?”Bella merupakan nama panggilan Camelia. Saat kecil, keluarganya paling suka memanggilnya dengan panggilan itu. Dia tidak menyangka Holden akan memanggilnya dengan nama itu. Dari mana Holden mengetahui nama panggilannya itu?Hati Camelia agak bergetar. Dia menatap sepasang mata pria itu dan bibirnya yang merah mulai bergerak. Dia benar-benar tidak dapat mengucapkan kata-kata penolakan.Camelia menunduk, lalu akhirnya menjawab, “Oke.”...Di sisi lain.Setelah berjalan keluar dari restoran, Levin membawa Josie meninggalkan tempat ini dengan ekspresi suram.Ada banyak orang yang menonton keramaian di re
Camelia menunjukkan ekspresi tenang, tetapi auranya malah terasa mengintimidasi. Dia sama sekali tidak terlihat seperti mahasiswi yang baru lulus kuliah. Ketika teringat dia bermarga Winston, Steven mengernyit dan ada beberapa tebakan yang melintasi benaknya.Apa mungkin Camelia memiliki hubungan dengan Keluarga Winston? Namun, Tiffany tidak pernah mengungkit tentangnya.Oleh karena itu, semua keraguan Steven segera sirna. Dia tersenyum sinis dan berujar, “Grup Winston nggak memerlukan pecundang sepertimu.”Camelia tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia memungut dokumen itu dan langsung berbalik untuk pergi. Tidak lama kemudian, pemberitahuan pemecatan itu pun diumumkan.Setelah mengetahui hal ini, Naldo langsung tercengang. Orang lain mungkin tidak tahu jelas mengenai status Camelia, tetapi dia mengetahuinya dengan jelas. Camelia adalah putri Keluarga Winston. Apa Steven sudah gila?Naldo segera pergi mencari Steven dan berseru marah, “Kamu tahu Camelia itu siapa? Kamu berani memecatnya?
Malam ini, Maggie mengajak Camelia keluar untuk berbelanja. Dia membantu Camelia memilih gaun yang akan dikenakannya untuk menghadiri pesta Grup Wardana. Namun, mereka malah kebetulan bertemu dengan Levin dan Josie.Josie menatap Camelia dan tersenyum tipis, “Sepertinya, mentalmu lumayan bagus. Setelah dipecat perusahaan, kamu masih bisa keluar untuk berbelanja.”Begitu mendengar ucapan itu, Maggie langsung menunjukkan ekspresi seperti sudah melihat hantu. Apa? Putri kedua Keluarga Winston dipecat dari Grup Winston?Camelia memicingkan mata. Dia menatap Levin dan bertanya dengan nada tenang, “Ini ulahmu?”“Orang dengan status serendah kamu memang seharusnya tahu diri.” Levin melanjutkan dengan kesal, “Camelia, aku awalnya nggak ingin mempersulitmu. Kamu yang bersikeras mau menggangguku.”Sebagai sahabat Camelia, Maggie tentu saja mengetahui dengan jelas masalah di antara mereka. Dia pun menjulingkan mata dan berujar, “Otakmu bermasalah, ya? Dasar bebal! Kamu sendiri yang nggak berhenti
Suara Holden terdengar berat dan merdu. Jantung Camelia langsung berdebar.“Holden ....” Camelia mengedipkan matanya, lalu merangkul leher Holden dan berkata, “Seingatku, kamu sudah janji padaku. Kalau aku nggak bersedia, kamu akan melakukan semuanya secara perlahan.”Ketika berada di bangunan kecil waktu itu, suasana di antara mereka sangat bagus dan dia tidak rela untuk menolak. Apalagi, Holden juga menghiburnya dengan suaranya yang rendah dan mengatakan tidak akan memaksanya melakukan apa yang tidak ingin dilakukannya.Holden tertawa sejenak, lalu mengangkat dagu Camelia. Matanya terlihat dingin dan jernih, tetapi malah penuh godaan.“Kalau begitu, kamu nggak bersedia?”Napas Holden yang hangat menyapu telinga Camelia. Suaranya terdengar menggoda dan membuat tubuh Camelia gemetar. Hati Camelia terasa seperti sudah digelitik.Saat menyadari keanehan yang mulai menyelimuti dirinya, Camelia pun menggertakkan gigi dan diam-diam mengumpat dalam hati, ‘Apanya yang sulit didekati! Orang in
Camelia benar-benar tidak sanggup mendengar ocehan Maggie lagi dan buru-buru menyela, “Sudah, sudah. Aku mengerti. Dah!”Seusai berbicara, Camelia langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu respons dari Maggie. Ketika teringat Holden telah mendengar semua yang dikatakan Maggie tadi, Camelia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi Holden. Holden juga tidak melanjutkan tindakannya lagi. Dia hanya menatap Camelia sambil tersenyum.Camelia merasa dirinya harus minum air untuk menenangkan diri. Dia pun mendorong Holden dan bangkit dari sofa, lalu merapikan pakaiannya yang berantakan. Dia mengambil gelas dari meja dan meminumnya untuk menyembunyikan kepanikannya.Melihat tampang Camelia yang seperti ini, Holden pun tersenyum makin lebar. Dia juga bangkit, lalu berjalan ke hadapan Camelia dan menunduk untuk menatap lurus matanya.“Kenapa wajahmu begitu merah?”Camelia merasa detak jantungnya sangat memekakkan telinga. Dia memalingkan wajah dengan panik, lalu melirik ke se
Beberapa hari sudah berlalu. Masih belum ada kabar dari Levin.Dengar-dengar Levin akan ditahan, kemudian baru akan dilepaskan setelah beberapa hari. Kehidupan Camelia juga mulai kembali tenang. Hanya saja Holden masih sangat sibuk. Saking sibuknya, mereka pun jarang ketemuan.Ada sesuatu yang disembunyikan di dalam hati Camelia. Itulah sebabnya dia merasa tidak fokus. Hari demi hari berlalu. Tidak lama kemudian, sampailah ke acara ulang tahun.“Istriku, hari ini aku ada sedikit urusan. Mungkin aku akan telat untuk menghadiri acara ulang tahun.” Sebelum Holden keluar rumah, dia pun berpesan.Saat mendengar ucapan itu, Camelia yang tadinya hendak berbicara pun mengurungkan niatnya. Ketika kepikiran dengan pesan yang dikirim Tiffany sebelumnya, raut wajah Camelia spontan menjadi muram. Dia pun terdiam hingga mengepal erat tangannya. Namun pada akhirnya, Camelia tidak mengatakan apa-apa. Dia menebak mungkin Holden sibuk untuk menemani cinta pertamanya. Pada saat ini, jika Camelia malah
Camelia spontan hendak menghalanginya, tetapi pergelangan tangannya malah ditahan oleh Holden. Hawa panas membuat hati Camelia menjadi tenang dalam seketika.Setelah Levin menelepon, dia menambah bumbu di dalam ucapannya, lalu menjelaskan sekali lagi. Hanya saja, dia malah tidak mengungkit perilaku buruk yang dia lakukan.Panggilan diakhiri. Levin duduk di atas lantai dengan menatap mereka berdua dengan tatapan benci.“Polisi akan segera datang. Camelia, bukannya kamu suka untuk membiayai mokondo? Hari ini aku ingin lihat bagaimana kamu melindungi bawahannya. Aku nggak percaya kamu bahkan bisa menyogok polisi!” Levin tertawa lantang. Ekspresi wajahnya kelihatan sangat galak.Namun, ekspresi Holden malah tidak berubah sama sekali. Dia mengeluarkan ponselnya untuk mengirim sebuah pesan. Kemudian, dia pun menunggu kedatangan polisi dengan sabar.Polisi datang dengan sangat cepat. Setelah melihat polisi yang datang dengan berseragam, Levin segera berdiri dan mulai mengadu. Dia menunjuk lu
“Lepaskan! Levin, kamu benar-benar menjijikkan!” Camelia berusaha untuk melepaskan diri dari Levin, tetapi tenaga Levin terlalu besar, dia hanya merasa sakit pada pergelangan tangannya. Pada saat ini, Steven yang bersembunyi di ujung berjalan keluar. Dia diam-diam mengeluarkan ponselnya untuk merekam gambaran ini.Betul! Hari ini Levin bukan datang sendiri. Dia sudah menghubungi Steven untuk merekam video. Dengan begitu, dia pun memiliki cukup bukti untuk menghancurkan Camelia.Levin sungguh penasaran apa lagi yang bisa dikatakan Camelia nantinya!“Aku ingin semua orang di Grup Winston tahu betapa murahannya kamu. Camelia, inilah akibat dari menyinggungku!” Levin seperti sudah menggila saja, terus menarik kerah pakaian Camelia. Namun belum sempat dia menarik pakaian Camelia, dia pun telah ditendang.Satu detik kemudian, jas berukuran besar dibungkuskan di atas tubuh Camelia. Camelia yang masih syok itu tiba-tiba masuk ke dalam pelukan Holden.“Kamu baik-baik saja, ‘kan?” Suara rendah
Usai mendengar, raut wajah Camelia langsung berubah dingin. Dia menatap Levin dengan tatapan tajam. “Levin, jaga mulutmu! Masalahku nggak ada hubungannya sama kamu. Kamu juga nggak berhak untuk mengatur hidupku.”Levin tertegun dengan balas Camelia. Namun, dalam seketika, dia kembali bersikap arogan. “Kemampuan? Camelia, memangnya kamu punya kemampuan apa? Sekarang kamu itu bukan apa-apa! Setelah meninggalkanku, kamu hanyalah orang yang nggak berguna!”Ketika mendengar ucapan menusuk telinga itu, hati Camelia juga tidak terlalu bergejolak. Dia sudah menyadari betapa munafik dan arogan si Levin. Dia pernah mengira Levin adalah penyelamat dan cahayanya. Namun pada akhirnya, Levin hanya menganggapnya sebagai mainan yang bisa dikendalikan setiap saat.“Levin.” Camelia berbicara dengan tenang dan perlahan, “Tiga tahun lalu, aku memang buta, makanya aku bisa menyukaimu. Sekarang aku sudah sadar. Kamu sudah bukan apa-apa bagiku. Aku, Camelia, bukan orang yang bisa kamu hina sesuka hatimu.”Se
Keesokan paginya, Camelia dibangunkan oleh jam alarm. Dia mengucek matanya, lalu meraba ke ujung ranjang, tetapi dia menyadari tidak ada apa-apa di sana.Holden tidak pulang semalaman.Tatapan Camelia dipenuhi dengan emosi yang sulit ditebak. Dia mengesampingkan selimut, melangkah turun dari tempat tidur dengan kaki telanjang, lalu berjalan menuju lemari pakaian.Tanpa banyak berpikir, Camelia mengambil sebuah sweater rajut berwarna krim dan celana kulot hitam, lalu mengenakannya. Setelah selesai membasuh tubuh dan sarapan seadanya, dia buru-buru keluar rumah.Setibanya di kantor, Camelia duduk di depan mejanya, menyalakan komputer, dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Namun, tidak peduli seberapa keras Camelia berusaha, dia tetap tidak bisa memfokuskan perhatiannya.Di dalam benaknya terus terbayang ekspresi dingin saat Holden mengangkat telepon semalam dan juga bayangan punggung buru-buru itu. Camelia pergi menyeduh kopi untuk dirinya sendiri. Akhirnya dia baru mulai segar, lalu kemba
Camelia yang kliyengan itu bersandar di tubuh Holden. Napas hangat mengembus ke bagian leher Holden. Samar-samar tercium aroma alkohol juga. Dia mengangkat tangannya, lalu menoel-noel dada Camelia dengan lembut, lalu jari tangannya berputar-putar di atas kemeja Holden.“Holden, kamu … kenapa kamu tinggi sekali?”Tatapan Holden sangat dalam. Jakunnya bergerak. Suaranya terdengar rendah. “Kamu sudah mabuk.”“Aku nggak mabuk!” gumam Camelia dengan tidak puas. Tangannya melingkari leher Holden. Sekujur tubuhnya menggantung di atas tubuh Holden. “Aku sadar sekali! Aku cuma … merasa kamu ganteng banget.”Camelia mengangkat kepalanya untuk menatap Holden. Matanya agak memerah lantaran mabuk. Saat ini, dia kelihatan sangat manja.Holden merasa hatinya membara, seolah-olah ada aliran arus listrik yang mengalir di seluruh tubuhnya. Dia berusaha untuk menekan perasaannya, lalu berkata dengan nada tenang, “Jangan beronar lagi. Aku akan papah kamu ke dalam.”Holden merangkul pinggang Camelia, lalu
Camelia bersandar di bangkunya. “Sudah semalam ini, mau ke mana lagi?”“Ada teman yang membuka sebuah sirkuit balapan mobil di pegunungan. Gimana kalau kita pergi ke sana?” Holden memutar setir mobilnya. “Pemandangan malam di sana sangat indah. Kita juga bisa melihat pemandangan malam seluruh kota di sana.”Camelia terbengong sejenak. Terlintas kilauan gembira di dalam matanya. “Balapan? Serius?” Camelia langsung duduk dengan tegak. “Saat aku kuliah dulu, aku sering main balap mobil bersama temanku. Tapi setelah bekerja, aku pun sudah jarang main lagi.”“Kebetulan malam ini kamu bisa merasakan kembali perasaan waktu itu,” ucap Holden sembari menaikkan kecepatan mobilnya.Mobil melaju ke area balapan di pegunungan.Angin malam bertiup masuk melalui jendela mobil yang setengah terbuka, membawa aroma sejuk dari pegunungan, menghilangkan kelelahan yang menyelimuti mereka sepanjang hari.Tidak lama kemudian, mobil Maybach hitam berhenti di area parkir sirkuit balap di puncak gunung.Pintu m
Camelia mengambil roti, lalu menggigit dengan perlahan. Aroma wangi gandum berpadu dengan rasa manis yang ringan itu langsung menyingkirkan rasa capek saat lembur.Tatapan Holden terfokus pada diri Camelia. Tatapannya sangatlah lembut. Dia pun tersenyum tipis.Sisa cahaya matahari sore memancar ke dalam jendela kaca. Cahaya keemasan membalut wajahnya yang tegas, semakin menonjolkan ketampanannya.Dari tubuh Holden, terpancar aroma lembut parfum bercampur dengan harum kopi yang pekat, yang mana memberikan sensasi menenangkan. Bahu lebar dengan postur tubuh tegap. Setiap detailnya memancarkan pesona seorang pria dewasa.“Kamu beli di bawah?” Camelia menelan roti sembari mengangkat kepalanya untuk menatap Holden. Nada bicaranya terdengar sedikit kaget.Holden mengangguk. Terlintas sedikit rasa lembut di dalam tatapan tajamnya.“Tadinya aku ingin langsung ke atas, tapi aku lihat masih ada beberapa orang yang lagi lembur. Aku takut kamu akan merasa canggung. Jadi, aku pun turun untuk membe
Suara rendah Holden terdengar dari ujung telepon. Terdengar sedikit rasa letih dan tawa di dalam suaranya.Camelia menghentikan gerakan tangannya, lalu melihat jam di ujung kanan bawah layar komputer.“Apa kamu nggak sibuk hari ini? Kenapa kamu ada waktu untuk menjemputku?”Camelia mengeklik folder lain dengan mouse, lalu segera melihat isi dokumen.“Aku sudah merencanakannya dari awal.” Suara Holden terdengar lembut. “Belakangan ini banyak orang jahat. Aku mengkhawatirkanmu. Nggak aman untuk pulang sendiri.”Hati Camelia terasa hangat. Dia spontan mengusap daun telinganya. Ujung bibirnya spontan melengkung ke atas. “Aku masih harus lembur. Kamu tunggu sebentar, ya. Proposal ini untuk dipakai esok hari.”“Kalau begitu, aku akan naik untuk temani kamu.” Usai berbicara, Holden langsung mengakhiri panggilan.“Jangan ….” Camelia ingin segera menghalanginya. Namun belum sempat dia menyelesaikan omongannya, suara nada sibuk sudah terdengar di telinganya.Camelia menggenggam ponselnya dan ter