Share

Bab 2

Author: Aura Tanjung
Camelia tidak tinggal berlama-lama di Kota Surin. Demi Levin, dia baru datang ke kota ini untuk berkuliah. Sekarang, dia sudah lulus kuliah, sedangkan Levin juga telah memiliki pacar baru. Jadi, tidak ada lagi hal yang berarti di kota ini baginya.

Camelia memesan tiket pesawat untuk kembali ke Kota Mindu. Setelah mendarat, Maggie Uswaldo yang datang menjemputnya.

“Kali ini, kamu nggak akan pergi lagi?”

“Iya.”

Demi mengejar langkah Levin dulu, Camelia tidak dapat tinggal terlalu lama di Kota Mindu. Waktunya untuk berkumpul bersama Maggie juga sangat sedikit. Sekarang, dia telah kalah taruhan dan tidak memiliki alasan untuk pergi lagi.

Setelah mendengar cerita tentang Camelia dan Levin, Maggie mau tak mau merasa agak sedih untuk Camelia. Akan tetapi, dia merangkul lengan Camelia sambil tersenyum.

“Jangan ungkit masalah nggak menyenangkan ini lagi. Aku akan adakan pesta penyambutan kepulanganmu!”

Camelia mengangguk sambil tersenyum. Dia tidak menolak usul itu.

Maggie membawa Camelia ke klub paling bergengsi di Kota Mindu, juga memesan miras paling baik untuk merayakan kelajangannya. Setelah menghabiskan segelas miras, sebagian besar rasa depresinya sudah sirna.

“Untung kamu sudah putus sama Levin.” Maggie menggoda, “Demi Levin, kamu sudah sandiwara jadi gadis yang patuh dan lembut, juga berhenti minum alkohol dan balap mobil. Setiap hari, kerjaanmu cuma belajar di perpustakaan. Aku benar-benar terkejut, tahu!”

Camelia adalah wanita yang sangat berbeda dengan tipe wanita yang disukai Levin. Keluarga Winston termasuk salah satu keluarga paling kaya dan terkemuka di Kota Mindu. Dulu, Camelia sangat menyukai keramaian, memiliki hobi balap mobil, berkuda, mendaki gunung, dan terjun lenting.

Camelia sangat penuh semangat dan memukau. Baginya, cinta tidaklah penting. Hanya saja, demi Levin, dia mengubah nyaris semua kebiasaannya, lalu berubah menjadi seorang gadis yang pendiam dan penurut.

“Dulu, aku mungkin sudah gila,” ucap Camelia dengan acuh tak acuh setelah teringat masa lalunya.

Camelia adalah wanita yang sangat menawan. Hanya saja, dia malah memilih untuk meniru orang lain dulunya. Oleh karena itu, kecantikannya pun tidak ditonjolkan dengan sempurna. Setelah kembali berpenampilan seperti dirinya sendiri sekarang, bahkan pelayan yang menuangkan alkohol untuknya juga terpesona.

Maggie tertawa. “Camelia, kamu dan Levin kan sudah putus. Sekarang, kamu benar-benar berencana untuk pulang dan mewarisi bisnis keluarga?”

“Aku harus terima kekalahanku,” jawab Camelia dengan santai sambil menyesap alkoholnya.

Agnes, ibunya Camelia itu adalah seorang wanita karier. Setelah ayahnya meninggal, terjadi pertikaian internal yang sangat sengit dalam keluarga mereka. Sampai sekarang, Agnes sudah bertahan sendiri sangat lama.

Selain ibunya, Camelia juga memiliki seorang kakak perempuan bernama Tiffany Winston yang bertubuh lemah.

Camelia mencintai kebebasannya. Ibunya pun tidak memaksa dan telah memberikannya kesempatan untuk memilih. Oleh karena itu, baru ada taruhan ini. Sekarang, Camelia telah kalah taruhan. Dia harus menepati janjinya.

Namun, Maggie malah bertanya, “Menurut aturan Keluarga Winston, kamu harus menikah dulu sebelum merintis karier. Bibi Agnes sudah pilihkan calon suami untukmu?”

“Belum.”

Camelia memahami sifat ibunya. Ibunya memang memiliki sifat yang keras, tetapi tidak akan ikut campur terlalu banyak dalam keputusannya memilih pasangan. Dulu, ibunya bersikeras menentang hubungannya dengan Levin lebih karena persaingan bisnis di antara kedua keluarga.

“Camelia, meski kamu sudah kalah, Bibi Agnes juga nggak akan memaksamu. Lagian, ada begitu banyak pria di dunia kok. Kalau memang perlu, aku bisa perkenalkan kakak sepupuku padamu.”

Kakak sepupu Maggie bernama Holden Lukasa. Dia sudah terkenal pendiam, dingin, dan sulit didekati. Satu-satunya hal yang paling mencolok darinya adalah wajahnya yang tampan.

Ketika masih muda, Camelia sempat mengagumi ketampanan Holden. Dia yang masih belum dewasa juga pernah diam-diam menyukai Holden. Namun, perasaan itu sirna dengan sangat cepat.

Selama beberapa tahun terakhir, mereka hanya pernah melirik satu sama lain dari kejauhan ketika tidak sengaja bertemu sesekali. Selain itu, dia tidak pernah bertemu dengan Holden lagi. Camelia pun menganggap bahwa Maggie hanya bercanda.

Setelah menghabiskan alkohol yang dingin, Camelia baru merasakan sedikit rasa pahit yang datang terlambat. Saat hendak pulang, langkah kakinya dan Maggie sudah mulai goyah.

Maggie berkata dengan ekspresi aneh, “Kak Holden bilang dia akan datang jemput kita.”

Seusai berbicara, Maggie merasa agak bingung. Sebenarnya, dia tidak terlalu dekat dengan Holden. Namun, Holden malah tiba-tiba mengirim pesan padanya dan bertanya apakah dia sedang bersama Camelia. Selain itu, Holden juga menawarkan diri untuk menjemput mereka.

Hanya saja, Maggie juga tidak terlalu memikirkan perhatian yang datang secara mendadak ini. beberapa menit kemudian, sebuah mobil Maybach yang sederhana berhenti di depan pintu klub.

Ketika jendela mobil diturunkan, terlihat wajah seorang pria yang dingin, tetapi sangat memukau. Fitur wajahnya sangat indah, sedangkan kulitnya sebening kristal. Dia juga memancarkan aura elegan dan anggun. Di bawah cahaya bulan, wajahnya terlihat luar biasa tampan dan bersinar.

“Naik.” Suara pria itu rendah, berat, dan penuh pesona.

Holden melirik Maggie sebelum mengalihkan perhatiannya pada Camelia.

Camelia bertemu pandang dengannya, lalu jantungnya tiba-tiba berdebar.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 3

    Maggie merasa cukup terintimidasi oleh kakak sepupunya itu. Dia pun naik ke mobil dengan patuh tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun.Di dalam mobil, suasananya yang hening terasa sangat canggung.Tatapan Camelia jatuh pada gelang tasbih yang melingkari pergelangan tangan Holden. Dia merasa gelang itu agak familier. Namun, pikirannya sangat kacau karena sudah mabuk. Hanya saja, memori pertemuan pertamanya dengan Holden tiba-tiba melintasi benaknya. Beberapa tahun telah berlalu, tetapi pria ini masih tetap terlihat berwibawa. Rumah Maggie berjarak lebih dekat dengan klub. Holden pun mengantarnya pulang terlebih dahulu, baru mengantar Camelia kembali ke hotel.Ketika hanya tersisa Camelia dan Holden dalam mobil, pria itu tiba-tiba bertanya dengan santai, “Kamu berencana tinggal di Kota Mindu?”“Iya.” Camelia tertegun sejenak, lalu mengangguk.Camelia tidak termasuk dekat dengan Holden. Jadi, setelah pertanyaan itu, suasana dalam mobil pun kembali hening. AC dalam mobil sangat sejuk

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 4

    Bagaimana Holden mengetahui masalah Camelia dengan Levin? Ada sebuah pemikiran yang melintasi benak Camelia. Namun, dia hanya menjawab sambil tersenyum, “Nggak, kok. Kak Holden, kamu kan juga sudah bersenang-senang. Kita lupakan saja masalah ini, oke?”Camelia mengedipkan matanya, tetapi malah merasa agak cemas.  Holden terlalu istimewa. Meskipun masih muda, dia sangat berbakat dan sukses. Selain itu, dia juga sangat berkuasa dan sulit dijangkau.‘Apa yang sudah kuperbuat!’ umpat Camelia dalam hati.Holden menjentikkan abu rokok. Dia tidak setuju maupun membantah ucapan Camelia. Hanya saja, tatapannya bertambah kelam. Dia menjawab dengan nada dingin, “Terserah.”Camelia pun merasa lega. Setelah mengenakan pakaiannya, dia meninggalkan hotel dan naik taksi pulang ke kediaman Keluarga Winston.Baru saja Camelia naik ke taksi, Josie yang yang berjarak beberapa langkah di belakang melihat sosoknya dan tertegun sejenak. Kemudian, dia menggigit bibirnya dan menarik tangan Levin.“Levin, kay

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 5

    Camelia melanjutkan dengan tenang, “Tenang saja, aku sudah putus sama Levin. Hanya saja, karena aku harus ambil alih perusahaan keluarga, sebaiknya aku punya pernikahan yang lebih stabil. Akan lebih bagus kalau aku pilih orang yang nggak kubenci.”Agnes menentang hubungan Camelia dengan Levin karena merasa tidak puas pada Camelia yang kehilangan akal sehat demi cinta. Selain itu, Keluarga Suradi juga merupakan saingan bisnis Keluarga Winston. Meskipun Keluarga Suradi tidak sekuat Keluarga Winston, mereka tetap adalah musuh.Faktanya, Agnes sebenarnya tidak begitu ingin ikut campur dalam urusan pernikahan Camelia. Dia juga tidak begitu peduli pada urusan pribadi Camelia yang lain seperti dia mengkhawatirkan berbagai macam urusan pribadi Tiffany.Agnes menatap Camelia dengan tajam dan mengamatinya untuk sesaat.“Oke.” Agnes menjawab, “Kamu boleh pilih sendiri orangnya. Tapi, kamu harus penuhi janjimu. Camelia, jangan buat aku kecewa.”Camelia mengangguk.Agnes masih ada urusan lain dan l

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 6

    Untuk pertama kalinya, Camelia sulit membayangkan bahwa lelaki di hadapannya adalah orang dalam ingatannya yang telah menghiburnya berulang kali saat dia mengalami kebutaan sementara. Ketika terjadi gempa bumi dulu, Levin yang menyelamatkan Camelia, lalu menghiburnya dan menemaninya sambil menunggu pertolongan. Itulah sebabnya dia menyimpan perasaan untuk Levin selama sekian lama.Camelia tidak menyangka bahwa lelaki yang pernah menemaninya dalam kegelapan itu ternyata begitu biasa, narsis, dan kejam.“Camelia, seorang gadis itu seharusnya mencintai dirinya. Nggak ada untungnya bagimu dengan lanjut mengganggu Levin seperti ini.”Josie menunjukkan ekspresi tidak berdaya. Dia bersikap seolah-olah dirinya adalah seorang pacar yang sangat sabar dalam menghadapi amukan mantan pacar prianya.Baru saja Camelia hendak menjelaskan semuanya, tiba-tiba ada seseorang yang membisikkan sesuatu pada manajer itu. Ekspresi manajer itu pun berubah sedikit. Kemudian, dia menatap Levin dan berkata, “Maa

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 7

    Begitu mendengar Holden mengungkit tentang Maggie, Camelia pun menggigit bibirnya. Jika dia benar-benar menikah dengan Holden, apa yang akan dipikirkan Maggie?Hanya saja, wajah Holden benar-benar mudah membuat hati orang tergerak. Jika Camelia ingin mencari orang yang tidak dibencinya dan memiliki karakter yang memenuhi standarnya, Holden memang adalah kandidat terbaik. Camelia menunjukkan seulas senyum, lalu mengedipkan matanya dan berkata, “Kak Holden, sepertinya, aku nggak punya alasan untuk menolak.”“Kalau begitu, kita ketemu di Kantor Urusan Sipil jam 10 pagi besok,” ujar Holden sambil menatap Camelia.Camelia pun mengangguk.Holden sepertinya masih ada urusan lain. Dia pun berbalik dan hendak langsung pergi. Namun, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu mengernyit dan bertanya dengan penuh arti, “Levin itu ....”“Kami sudah putus.” Camelia menunduk, lalu teringat sikap Levin tadi dan menambahkan, “Tenang saja, aku bukan tipe orang yang akan kembali ke mantannya.”Setelah

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 8

    Ini adalah ciuman yang tak terkendali dan mendalam.Camelia bernapas terengah-engah dan mencengkeram ujung pakaian Holden secara refleks. Sampai kedua kakinya terasa lemas, Holden baru menghentikan ciumannya.Kemudian, Holden menatap Camelia dan berkata dengan suara berat, “Kalau mau memanfaatkan tubuhku, Nyonya Camelia masih kurang berpengalaman.”Camelia pada dasarnya sangat kompetitif. Dia pun tersenyum, lalu mengecup jakun Holden. Saat merasakan tubuh pria itu menjadi agak kaku, dia pun melangkah mundur sedikit dan tersenyum menantang.“Pak Holden juga sama saja.”Mata Holden pun bertambah gelap. Di sisi lain, Camelia menghentikan provokasinya dan tidak bertindak melewati batas. Setelah bertukar nomor telepon dengan Holden, Camelia pun pindah ke rumah yang disiapkan Holden. Lokasi rumah itu sangatlah bagus.Sebelum pindah, Camelia tidak lupa memberi tahu Agnes tentang dirinya yang telah mendaftarkan pernikahannya. Hanya saja, dia tidak mengatakan bahwa orang yang dinikahinya adala

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 9

    Levin meminta kembali hadiah yang pernah diberikannya?Camelia pun tertawa saking marahnya. Sebelumnya, dia hanya merasa Levin agak berengsek. Tak disangka, Levin juga begitu pelit. Dia hanya merasa sial karena pernah berpacaran dengan pria seperti ini.Setelah pulang ke rumah, Camelia berniat untuk mencari semua hadiah yang pernah diberikan Levin. Tepat pada saat ini, Holden juga pulang ke rumah.“Lagi cari apa?” tanya Holden sambil menatap Camelia.Camelia menghentikan gerakannya dan menjawab, “Aku lagi cari hadiah-hadiah yang pernah dikasih mantanku. Dia minta kembali hadiah yang pernah diberikannya. Ini pertama kalinya aku ketemu pria sepelit dia!”Camelia merasa agak kesal. Wajahnya yang cantik pun menunjukkan sedikit kejengkelan. Pada detik berikutnya, dia menerima notifikasi yang menunjukkan bahwa ada uang sebesar 400 juta yang masuk ke rekeningnya. Di bawahnya, terdapat sebaris memo.[ Hadiah sukarela. ]Holden melirik ke arah lantai yang dipenuhi barang murahan dengan ekspresi

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 10

    Sebelum Maggie selesai berbicara, Camelia sudah memutuskan sambungan telepon. Sementara itu, ada seulas senyum yang melintasi mata Holden.Ketika teringat seruan sahabatnya tadi, Camelia merasa agak canggung. Terutama ketika pandangannya menyusuri tulang selangka Holden. Pria ini benar-benar menggoda.Camelia bahkan merasa telinganya juga terasa panas. Dia berdeham, lalu bertanya, “Ada apa?”“Sudah begitu malam, kenapa kamu masih belum tidur?” Sudut bibir Holden sedikit terangkat dan ada kelembutan yang melintasi matanya yang dingin ketika bertanya, “Lagi ngobrol sama Maggie?”“Emm. Kami cuma ngobrol biasa,” jawab Camelia dengan asal.Tatapan Holden tertuju pada telinga Camelia yang terlihat merah. Kemudian, dia tiba-tiba berujar, “Bukannya Maggie seharusnya panggil kamu kakak ipar?” Ketika teringat dirinya telah menjadi kakak ipar Maggie, Camelia pun tersedak. Hubungan ini memang lumayan kacau.Holden tersenyum, lalu menunduk dan menahan dagu Camelia. Dia berkata dengan suara rendah,

Latest chapter

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 50

    Beberapa hari sudah berlalu. Masih belum ada kabar dari Levin.Dengar-dengar Levin akan ditahan, kemudian baru akan dilepaskan setelah beberapa hari. Kehidupan Camelia juga mulai kembali tenang. Hanya saja Holden masih sangat sibuk. Saking sibuknya, mereka pun jarang ketemuan.Ada sesuatu yang disembunyikan di dalam hati Camelia. Itulah sebabnya dia merasa tidak fokus. Hari demi hari berlalu. Tidak lama kemudian, sampailah ke acara ulang tahun.“Istriku, hari ini aku ada sedikit urusan. Mungkin aku akan telat untuk menghadiri acara ulang tahun.” Sebelum Holden keluar rumah, dia pun berpesan.Saat mendengar ucapan itu, Camelia yang tadinya hendak berbicara pun mengurungkan niatnya. Ketika kepikiran dengan pesan yang dikirim Tiffany sebelumnya, raut wajah Camelia spontan menjadi muram. Dia pun terdiam hingga mengepal erat tangannya. Namun pada akhirnya, Camelia tidak mengatakan apa-apa. Dia menebak mungkin Holden sibuk untuk menemani cinta pertamanya. Pada saat ini, jika Camelia malah

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 49

    Camelia spontan hendak menghalanginya, tetapi pergelangan tangannya malah ditahan oleh Holden. Hawa panas membuat hati Camelia menjadi tenang dalam seketika.Setelah Levin menelepon, dia menambah bumbu di dalam ucapannya, lalu menjelaskan sekali lagi. Hanya saja, dia malah tidak mengungkit perilaku buruk yang dia lakukan.Panggilan diakhiri. Levin duduk di atas lantai dengan menatap mereka berdua dengan tatapan benci.“Polisi akan segera datang. Camelia, bukannya kamu suka untuk membiayai mokondo? Hari ini aku ingin lihat bagaimana kamu melindungi bawahannya. Aku nggak percaya kamu bahkan bisa menyogok polisi!” Levin tertawa lantang. Ekspresi wajahnya kelihatan sangat galak.Namun, ekspresi Holden malah tidak berubah sama sekali. Dia mengeluarkan ponselnya untuk mengirim sebuah pesan. Kemudian, dia pun menunggu kedatangan polisi dengan sabar.Polisi datang dengan sangat cepat. Setelah melihat polisi yang datang dengan berseragam, Levin segera berdiri dan mulai mengadu. Dia menunjuk lu

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 48

    “Lepaskan! Levin, kamu benar-benar menjijikkan!” Camelia berusaha untuk melepaskan diri dari Levin, tetapi tenaga Levin terlalu besar, dia hanya merasa sakit pada pergelangan tangannya. Pada saat ini, Steven yang bersembunyi di ujung berjalan keluar. Dia diam-diam mengeluarkan ponselnya untuk merekam gambaran ini.Betul! Hari ini Levin bukan datang sendiri. Dia sudah menghubungi Steven untuk merekam video. Dengan begitu, dia pun memiliki cukup bukti untuk menghancurkan Camelia.Levin sungguh penasaran apa lagi yang bisa dikatakan Camelia nantinya!“Aku ingin semua orang di Grup Winston tahu betapa murahannya kamu. Camelia, inilah akibat dari menyinggungku!” Levin seperti sudah menggila saja, terus menarik kerah pakaian Camelia. Namun belum sempat dia menarik pakaian Camelia, dia pun telah ditendang.Satu detik kemudian, jas berukuran besar dibungkuskan di atas tubuh Camelia. Camelia yang masih syok itu tiba-tiba masuk ke dalam pelukan Holden.“Kamu baik-baik saja, ‘kan?” Suara rendah

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 47

    Usai mendengar, raut wajah Camelia langsung berubah dingin. Dia menatap Levin dengan tatapan tajam. “Levin, jaga mulutmu! Masalahku nggak ada hubungannya sama kamu. Kamu juga nggak berhak untuk mengatur hidupku.”Levin tertegun dengan balas Camelia. Namun, dalam seketika, dia kembali bersikap arogan. “Kemampuan? Camelia, memangnya kamu punya kemampuan apa? Sekarang kamu itu bukan apa-apa! Setelah meninggalkanku, kamu hanyalah orang yang nggak berguna!”Ketika mendengar ucapan menusuk telinga itu, hati Camelia juga tidak terlalu bergejolak. Dia sudah menyadari betapa munafik dan arogan si Levin. Dia pernah mengira Levin adalah penyelamat dan cahayanya. Namun pada akhirnya, Levin hanya menganggapnya sebagai mainan yang bisa dikendalikan setiap saat.“Levin.” Camelia berbicara dengan tenang dan perlahan, “Tiga tahun lalu, aku memang buta, makanya aku bisa menyukaimu. Sekarang aku sudah sadar. Kamu sudah bukan apa-apa bagiku. Aku, Camelia, bukan orang yang bisa kamu hina sesuka hatimu.”Se

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 46

    Keesokan paginya, Camelia dibangunkan oleh jam alarm. Dia mengucek matanya, lalu meraba ke ujung ranjang, tetapi dia menyadari tidak ada apa-apa di sana.Holden tidak pulang semalaman.Tatapan Camelia dipenuhi dengan emosi yang sulit ditebak. Dia mengesampingkan selimut, melangkah turun dari tempat tidur dengan kaki telanjang, lalu berjalan menuju lemari pakaian.Tanpa banyak berpikir, Camelia mengambil sebuah sweater rajut berwarna krim dan celana kulot hitam, lalu mengenakannya. Setelah selesai membasuh tubuh dan sarapan seadanya, dia buru-buru keluar rumah.Setibanya di kantor, Camelia duduk di depan mejanya, menyalakan komputer, dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Namun, tidak peduli seberapa keras Camelia berusaha, dia tetap tidak bisa memfokuskan perhatiannya.Di dalam benaknya terus terbayang ekspresi dingin saat Holden mengangkat telepon semalam dan juga bayangan punggung buru-buru itu. Camelia pergi menyeduh kopi untuk dirinya sendiri. Akhirnya dia baru mulai segar, lalu kemba

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 45

    Camelia yang kliyengan itu bersandar di tubuh Holden. Napas hangat mengembus ke bagian leher Holden. Samar-samar tercium aroma alkohol juga. Dia mengangkat tangannya, lalu menoel-noel dada Camelia dengan lembut, lalu jari tangannya berputar-putar di atas kemeja Holden.“Holden, kamu … kenapa kamu tinggi sekali?”Tatapan Holden sangat dalam. Jakunnya bergerak. Suaranya terdengar rendah. “Kamu sudah mabuk.”“Aku nggak mabuk!” gumam Camelia dengan tidak puas. Tangannya melingkari leher Holden. Sekujur tubuhnya menggantung di atas tubuh Holden. “Aku sadar sekali! Aku cuma … merasa kamu ganteng banget.”Camelia mengangkat kepalanya untuk menatap Holden. Matanya agak memerah lantaran mabuk. Saat ini, dia kelihatan sangat manja.Holden merasa hatinya membara, seolah-olah ada aliran arus listrik yang mengalir di seluruh tubuhnya. Dia berusaha untuk menekan perasaannya, lalu berkata dengan nada tenang, “Jangan beronar lagi. Aku akan papah kamu ke dalam.”Holden merangkul pinggang Camelia, lalu

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 44

    Camelia bersandar di bangkunya. “Sudah semalam ini, mau ke mana lagi?”“Ada teman yang membuka sebuah sirkuit balapan mobil di pegunungan. Gimana kalau kita pergi ke sana?” Holden memutar setir mobilnya. “Pemandangan malam di sana sangat indah. Kita juga bisa melihat pemandangan malam seluruh kota di sana.”Camelia terbengong sejenak. Terlintas kilauan gembira di dalam matanya. “Balapan? Serius?” Camelia langsung duduk dengan tegak. “Saat aku kuliah dulu, aku sering main balap mobil bersama temanku. Tapi setelah bekerja, aku pun sudah jarang main lagi.”“Kebetulan malam ini kamu bisa merasakan kembali perasaan waktu itu,” ucap Holden sembari menaikkan kecepatan mobilnya.Mobil melaju ke area balapan di pegunungan.Angin malam bertiup masuk melalui jendela mobil yang setengah terbuka, membawa aroma sejuk dari pegunungan, menghilangkan kelelahan yang menyelimuti mereka sepanjang hari.Tidak lama kemudian, mobil Maybach hitam berhenti di area parkir sirkuit balap di puncak gunung.Pintu m

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 43

    Camelia mengambil roti, lalu menggigit dengan perlahan. Aroma wangi gandum berpadu dengan rasa manis yang ringan itu langsung menyingkirkan rasa capek saat lembur.Tatapan Holden terfokus pada diri Camelia. Tatapannya sangatlah lembut. Dia pun tersenyum tipis.Sisa cahaya matahari sore memancar ke dalam jendela kaca. Cahaya keemasan membalut wajahnya yang tegas, semakin menonjolkan ketampanannya.Dari tubuh Holden, terpancar aroma lembut parfum bercampur dengan harum kopi yang pekat, yang mana memberikan sensasi menenangkan. Bahu lebar dengan postur tubuh tegap. Setiap detailnya memancarkan pesona seorang pria dewasa.“Kamu beli di bawah?” Camelia menelan roti sembari mengangkat kepalanya untuk menatap Holden. Nada bicaranya terdengar sedikit kaget.Holden mengangguk. Terlintas sedikit rasa lembut di dalam tatapan tajamnya.“Tadinya aku ingin langsung ke atas, tapi aku lihat masih ada beberapa orang yang lagi lembur. Aku takut kamu akan merasa canggung. Jadi, aku pun turun untuk membe

  • Cinta pada Pandangan Pertama   Bab 42

    Suara rendah Holden terdengar dari ujung telepon. Terdengar sedikit rasa letih dan tawa di dalam suaranya.Camelia menghentikan gerakan tangannya, lalu melihat jam di ujung kanan bawah layar komputer.“Apa kamu nggak sibuk hari ini? Kenapa kamu ada waktu untuk menjemputku?”Camelia mengeklik folder lain dengan mouse, lalu segera melihat isi dokumen.“Aku sudah merencanakannya dari awal.” Suara Holden terdengar lembut. “Belakangan ini banyak orang jahat. Aku mengkhawatirkanmu. Nggak aman untuk pulang sendiri.”Hati Camelia terasa hangat. Dia spontan mengusap daun telinganya. Ujung bibirnya spontan melengkung ke atas. “Aku masih harus lembur. Kamu tunggu sebentar, ya. Proposal ini untuk dipakai esok hari.”“Kalau begitu, aku akan naik untuk temani kamu.” Usai berbicara, Holden langsung mengakhiri panggilan.“Jangan ….” Camelia ingin segera menghalanginya. Namun belum sempat dia menyelesaikan omongannya, suara nada sibuk sudah terdengar di telinganya.Camelia menggenggam ponselnya dan ter

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status