Di sebuah ruang kerja berisi dengan berbagai berkas, Ayya tengah duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan meja kerja milik Wawan. Sebenarnya, ia cukup bingung akan melakukan apa, karena sejak tadi Wawan justru hanya diam sembari menatapnya. Sifat Ayya yang sudah semakin dingin, kini hanya berekspresi datar dan ketus, daripada memilih menanyakan maksud tatapan dari pria yang berada di hadapannya.
Sampai akhirnya, terdengar Wawan sedang berdeham. “Jadi, kamu ingin sekali mendapatkan pekerjaan?” tanyanya pada gadis cantik di hadapannya itu.
“Kalau tidak ingin, saya juga tidak mau ikut sama Om!” Dengan ekspresi yang masih datar, Ayya memberikan jawaban.
Wawan menggelengkan kepala. Ia tidak habis pikir dengan sikap Ayya yang sekenanya saja, sama sekali tidak mencerminkan rasa sopan santun, meski situasi dirinya saat ini adalah sedang melamar pekerjaan. Apa karena usia Ayya yang masih terlalu muda? Sehingga belum paham tentang tata krama?
Namun, bagaimana tentang peran kedua orang tua Ayya selama ini, jika dugaan Wawan adalah sebuah kebenaran? Jika ayah dan ibu Ayya tidak mengajarkan perihal tindak-tanduk yang bagus, tentu saja Wawan sangat menyayangkan hal tersebut. Kendati ia sendiri merasa tertarik dengan karakter suara Ayya, juga paras gadis itu yang cukup menawan.
Wawan teringat dengan perkataan Ayya beberapa saat yang lalu, perihal 'baru menjadi orang miskin'. Ingatan itu membuatnya semakin detail dan tajam dalam memberikan tatapan. Tampilan gadis itu memang sangat menawan, meski hanya memakai pakaian kasual. Mencerminkan sosok yang sudah pintar dalam berias dan merawat diri. Ditambah lagi, tas selempang yang dibawa oleh Ayya merupakan merk ternama. Ia cukup paham karena adik perempuannya sangat gemar mengoleksi tas-tas branded.
Siapa sebenarnya gadis ini? Pikir Wawan. Rasa penasarannya semakin mencuat dari dalam hatinya.
Sudah merasa jengah, karena dipandangi sejak tadi, akhirnya Ayya memberanikan diri untuk membalas tatapan mata Wawan. Dan pria yang berprofesi sebagai manager kafe itu spontan terkejut dan salah tingkah.
“Om, jadi tidak interview-nya? Kalau tidak jadi, mending saya pulang saja, buang-buang waktu, tahu!” ujar Ayya seenaknya.
Mata Wawan membelalak, tetapi ia sudahi di detik berikutnya. “Kamu ini unik sekali, ya?” Ia memajukan posisi duduknya dan menopang dagunya dengan satu tangannya.
“Maaf, saya bukan barang antik, ya!”
“Ayya? Apa saya boleh tahu, sebenarnya kamu ini siapa?”
“Saya adalah Ayya. Ada yang salah?”
“Ais!” Wawan menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian menggeleng. Rasa hatinya semakin tidak habis pikir dengan gadis di hadapannya itu. Lebih herannya lagi, ia justru masih menahan Ayya daripada mengusirnya. “Maksud saya, latar belakang kamu? Saya butuh informasi tentang itu, karena kami tidak mungkin merekrut sembarang orang.”
Ayya terdiam. Ternyata interview kerja itu seperti ini, sebenarnya tidak ada bedanya dengan cara HRD perusahaan ayahnya dalam merekrut karyawan. Mereka perlu tahu perihal latar belakang calon pegawai, termasuk orang-orang di dalam keluarga. Sejujurnya, Ayya merasa terganggu ketika kehidupannya ditanyakan oleh orang lain yang masih asing. Namun, ia sangat membutuhkan pekerjaan tersebut.
Dalam beberapa saat Ayya merasa bingung, perihal apa yang akan ia gunakan sebagai jawaban yang benar. Lalu, di sisi lain, diamnya gadis itu membuat Wawan bertanya-tanya, ia justru semakin ingin tahu.
“Saya adalah anak semata wayang dari papa dan mamaku, Om,” ujar Ayya setelah beberapa saat berpikir.
Wawan terkesiap. Jawaban yang menurutnya konyol untuk didengarkan, siapa pun juga akan tahu jika seorang anak adalah buah hati dari ayah dan ibunya. “O-oke.” Ia menghela napas dalam dan ia embuskan perlahan. “Begini saja, siapa nama ayah dan ibu kamu? Kamu datang tidak membawa berkas lamaran, jadi saya kasih kesempatan untuk berbicara saja.”
“Pak Raden dan Ibu Medina.”
“Baiklah. Kedua, kenapa kamu tidak sekolah lagi?”
Ayya menelan saliva, menjelaskan perihal sekolah sepertinya cukup sulit baginya. Namun, ia tidak bisa berkilah karena pertanyaan Wawan adalah salah satu bentuk interview kerja. Meski, tindak-tanduknya masih sangat kurang sopan, ekspresi yang ia pasang sejak tadi pun benar-benar datar, Bagi seseorang yang sedang kesulitan seperti dirinya, rasanya sayang untuk melewatkan kesempatan.
Ayya mengembuskan napasnya secara kasar. “Karena orang tua saya bangkrut, Om.”
“Oh ....” Kali ini, Wawan merasa bersalah. Seharusnya ia tidak menanyakan perihal sekolah, seharusnya ia cukup menebak saja. “Maaf, Ayy. Saya tidak bermaksud mengulang ke masa lalu.”
“Om, apa Om tahu pengusaha nomor satu dari Surabaya?”
“Mm?” Wawan berpikir sejenak. “Oh, yang sedang santer diperbincangkan itu? Ada demo besar-besaran karena gaji karyawan tidak dibayar selama beberapa bulan? Memangnya ada apa dengan mereka.”
Bak ditusuk sebuah belati, hati Ayya merasakan sakit yang luar biasa. Ternyata kabar tentang kebangkrutan keluarganya sudah meluas, bahkan sampai di Jakarta. Memang tidak aneh, karena dulu keluarganya cukup disegani dan terhormat. Dan ketika jatuh pun, pasti akan menjadi kabar paling panas untuk diperbincangkan.
Melihat ekspresi Ayya yang mendadak berubah masam, membuat Wawan mengernyitkan dahi. Ada apa dengan gadis itu? Lalu, ada hubungan apa ia dan keluarga pengusaha besar dari Surabaya? Dua pertanyaan itu memenuhi benaknya. Hingga beberapa menit kemudian, ia membelalakkan matanya. Ya, Wawan mulai mengerti, ia menyadarinya sekarang.
“Jangan-jangan kamu adalah ...?” Pertanyaan Wawan menggantung sebentar, karena suaranya tertahan di tenggorokan. Ada rasa bersalah yang menyeruak masuk ke dasar hatinya. “Maaf, lagi-lagi saya ....”
Ayya mencoba mengulas senyum di bibirnya. Itu bukan salah Wawan, tidak ada yang bersalah. Dan memang kenyataan tidak bisa disembunyikan lagi. Meski ia merasa benar-benar malu sekali. “Tidak apa-apa, Om! Om tidak bersalah kok, buat apa minta maaf?” ujarnya dengan suara yang masih saja ketus.
“Kamu nona muda—anak dari Tuan Besar Raden Candranata Pratama?”
Ayya mengangguk pelan. “Ya, itu benar.”
“Tapi, kenapa kamu bisa sampai di kota ini? Rasanya jauh sekali?”
“Sekretaris ayahku yang mengirim saya dan keluarga saya ke kota ini. Katanya akan mudah mencari pekerjaan, tapi ternyata tidak seperti itu tuh! Hampir satu bulan di sini, papa saya masih menganggur dan saya belum mendapat pekerjaan. Saya belum lulus dari bangku SMA, orang-orang menolak saya, mereka juga bilang kalau saya tidak punya attitude baik.”
Rasa miris justru menghinggapi hati Wawan, ketika mendengar penjelasan dari Ayya yang entah disengaja atau tidak. Wawan membenarkan ucapan orang-orang perihal Ayya yang tidak memiliki attitude baik, karena ia pun merasakannya. Mungkin gadis itu terbiasa dengan hidup yang glamor, penuh harta berlimpah dan terbiasa dengan kehormatan. Tentunya Ayya cukup kesulitan untuk menjalani hidup sebagai orang susah.
Sementara itu, dengan sekuat tenaga Ayya menahan kesedihannya. Dalam prosesi wawancara ini, ia tidak mau jika jatuh menangis. Ia tidak ingin ditertawakan oleh orang lain. Sudah cukup malu mengingat kebangkrutan yang dialami oleh keluarganya.
“Kamu tidak apa-apa, Ayy?” Wawan berdiri dari duduknya. Ia berjalan mendekati Ayya, karena kondisi gadis itu tampak tidak baik-baik saja.
Setelah sampai di hadapan Ayya, ia menarik sebuah kursi. Setelah itu, ia duduk di hadapan Ayya. “Jangan ditahan kalau ingin menangis,” ujarnya sembari mengusap rambut Ayyan perlahan.
Namun, gadis itu justru terkejut dan sontak memundurkan badannya.
“Ah, maaf. Saya selalu seperti ini jika adik perempuan saya sedang bersedih.” Melihat respon Ayya, Wawan menarik tangannya lagi bersamaan dengan ucapan yang ia lontarkan.
“Apa sudah cukup interviewnya? Apa saya diterima bekerja di sini?” Mata Ayya berpendar penuh dengan harapan besar, membuat sang lawan bicara benar-benar merasa tidak nyaman sekaligus iba.
“Iya, cukup kok. Tapi, bolehkah saya mendengar satu lagu?”
“Sebelum itu, apakah saya boleh minta satu hal, Om?”
“Iya, katakan saja, Ayy.”
“Om, bisa jaga identitsas saya, 'kan?”
Wawan tersenyum. “Tentu saja bisa, Ayya.”
Ayya menghela napas lega setelah mendapat persetujuan dari Wawan perihal identitasnya. Setelah itu, ia berdeham demi memperbaiki pita suaranya. Satu lagu dari penyanyi Rossa, ia lantunkan dengan penuh perasaan. Nadanya yang lembut, serta makna dari lagu itu yang sedih membuat air mata jatuh membasahi pipi Ayya.
Sementara itu, Wawan benar-benar terpana dengan penampilan sederhana dari Ayya. Wajah yang cantik dipadu dengan suara yang lembut, membuat Ayya terlihat seperti seorang peri bersayap. Rona merah jambu menghiasi wajah Wawan karena perasaan aneh justru menjalar masuk ke dalam hatinya.
Ini tidak benar, jangan sampai aku jatuh cinta pada bocah kecil, batinnya.
****
Setelah subuh berlalu, Ayya sudah berkutat dengan sebuah cermin kecil yang dulu kerap ia bawa ke sekolah, juga sisa alat make-up telah ia siapkan di samping letak tubuhnya. Gadis cantik itu tampak sibuk bersolek, mempercantik wajahnya dengan beberapa pulas riasan bermerek mahal yang masih tersisa.Kesibukan Ayya di pagi-pagi buta seperti saat ini tentu saja bukan tanpa sebab, melainkan karena kabar dari Wawan yang ia dapatkan tadi malam. Yang mana pria itu memintanya hadir ke kafe untuk uji suara dan akan dinilai secara langsung oleh owner sekaligus CEO kafe tersebut.“Untungnya aku tidak sok jual mahal, pas Om itu minta nomorku,” ucap Ayya kemudian tersenyum dan menatap wajahnya di pantulan cermin kecil di tangannya tersebut.Detik berikutnya, gadis itu menghela napas lalu menurunkan cermin yang kemudian ia geletakkan di atas ranjang. “Setelah ini, aku akan bekerja dengan keras demi membantu Papa dalam membangkitkan ekonomi keluarga. Tak masal
Tadi malam, hujan turun begitu deras. Bahkan bersama halilintar yang bersahut-sahutan. Tubuh lunglai Pak Raden seperti sudah tidak kuasa untuk bangkit lagi. Sedangkan, Ibu Medina masih sibuk menangis. Ayya Diandra Pratama—anak tunggal alias semata wayang mereka berdua—tengah menatap langit biru yang sudah cerah kembali, seolah tidak bersedia turut larut ke dalam penderitaan yang mereka semua alami."Pa, kita mau tinggal di mana lagi?" Suara serak bersama isakan tangis terdengar dari bibir tipis dari Ibu Medina."Papa belum tahu, Ma," jawab Pak Raden di detik berikutnya. Sedih dalam hatinya, apalagi saat melihat anak dan istri ikut menderita. Pak Raden merasa sangat terpukul sekaligus tidak berguna.Ya, mereka bertiga saat ini tengah berada di bawah kolong jembatan yang kumuh. Jika berjalan lebih ke lima ratus meter ke depan, sisa-sisa dari kericuhan kemarin masih banyak. Pembakaran akibat amukan dari massa. Lalu, mengapa mereka bertiga terkena dampaknya? Para pende
Selang satu minggu kemudian, setelah semua yang terjadi pada keluarga Pak Raden, mereka sudah berada di kota besar bernama Jakarta. Entah apa yang menyebabkan Anwar—orang kepercayaan Pak Raden—memutuskan untuk mengirim keluarga atasannya itu ke kota itu. Bukan perkara mudah untuk hidup di kota besar. Tidak ada sanak saudara, bahkan sebatas kenalan pun tidak ada.Di dalam rumah kontrakan sempit, Pak Raden beserta anak dan istrinya kini tinggal. Sesuatu yang sangat ia takuti, bahkan sedari muda, kini terjadi. Bangkrut! Impiannya hanya satu; ingin membuat keluarganya selalu diliputi bahagia, tanpa adanya kekurangan apa pun. Namun kini, momok menakutkan malah terjadi. Meskipun ia begitu keras dalam membangun usaha, terus berbuat kebaikan, tetap ada saja orang yang berlalu curang.Pak Raden hanya bisa berpasrah pada keadaan. Bahkan, ia belum memiliki rencana apa pun. Tidak banyak harta yang ia miliki, hanya uang sisa pemberian Anwar. Yang tentunya akan habis, jika ia tidak be
Dering ponsel yang tiba-tiba berbunyi, membuat Ayya terpaksa terbangun dari tidurnya. Dengan gerak malas dan mata yang masih sembab, ia berusaha meraih ponselnya di samping kepalanya. Dikerjap-kerjapkannya matanya lagi, supaya pandangannya menjadi jelas. Setelah itu, ia terbangun, tepatnya saat mendapati nama sang kekasih muncul di layar ponsel tersebut."Halo, Randy," sapa Ayya pada pria itu."Hai, Ayy. Selamat pagi," balas Randy dari kota nun jauh sana.Sejenak, Ayya terdiam. Lalu, setelah beberapa saat ia kembali berkata, "Kamu apa kabar, Randy?""Baik, Ayy. Kamu sehat, 'kan?""Ya, aku sehat."Ayya menghela napas. "Aku pikir kamu kenapa-napa.""Tidak, Ayy.""Ya, syukur Alhamdulillah. Ada apa? Kenapa kamu baru menghubungi aku?""Ayy?""Ya?""Kita ... kita berpisah saja."Berpisah? Sebuah permintaan yang sebenarnya sangat berat untuk dikabulkan. Tentu saja, membuat hati Ayya yang sudah lara akan semakin pilu. P
Ayya berdiam diri di suatu tempat bernama halte bus. Meski bus sudah datang, bahkan beberapa kali, ia sama sekali tidak mau naik. Pikirannya sedang kacau, dan tidak ingin pulang terlebih dahulu. Penyebab kerisauan hati Ayya bukan karena kenangan buruk tentang kebangkrutan saja, tetapi dalam hal mendapatkan sumber penghasilan.Ternyata, mencari pekerjaan bukanlah sesuatu yang mudah bagi Ayya. Sebagai anak yang bahkan belum lulus dari bangku SMA, tentu saja akan membuat para bos enggan menerima tenaganya. Dengan kenyataan se-demikian buruk itu, lantas, harus ke mana lagi ia mencari sumber penghasilan?Sudah terhitung tiga hari, Ayya kebingungan. Ia pun masih saja menolak mentah-mentah perihal sekolah. Ayya sudah terlanjur malas. Lagi pula uang dari mana? Ia bukan termasuk siswi yang pintar, beasiswa tidak akan bisa ia dapatkan.Di titik itu, Ayya baru merasa menyesal, tentang bagaimana sikapnya di masa lalu. Sering bermain
Setelah subuh berlalu, Ayya sudah berkutat dengan sebuah cermin kecil yang dulu kerap ia bawa ke sekolah, juga sisa alat make-up telah ia siapkan di samping letak tubuhnya. Gadis cantik itu tampak sibuk bersolek, mempercantik wajahnya dengan beberapa pulas riasan bermerek mahal yang masih tersisa.Kesibukan Ayya di pagi-pagi buta seperti saat ini tentu saja bukan tanpa sebab, melainkan karena kabar dari Wawan yang ia dapatkan tadi malam. Yang mana pria itu memintanya hadir ke kafe untuk uji suara dan akan dinilai secara langsung oleh owner sekaligus CEO kafe tersebut.“Untungnya aku tidak sok jual mahal, pas Om itu minta nomorku,” ucap Ayya kemudian tersenyum dan menatap wajahnya di pantulan cermin kecil di tangannya tersebut.Detik berikutnya, gadis itu menghela napas lalu menurunkan cermin yang kemudian ia geletakkan di atas ranjang. “Setelah ini, aku akan bekerja dengan keras demi membantu Papa dalam membangkitkan ekonomi keluarga. Tak masal
Di sebuah ruang kerja berisi dengan berbagai berkas, Ayya tengah duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan meja kerja milik Wawan. Sebenarnya, ia cukup bingung akan melakukan apa, karena sejak tadi Wawan justru hanya diam sembari menatapnya. Sifat Ayya yang sudah semakin dingin, kini hanya berekspresi datar dan ketus, daripada memilih menanyakan maksud tatapan dari pria yang berada di hadapannya.Sampai akhirnya, terdengar Wawan sedang berdeham. “Jadi, kamu ingin sekali mendapatkan pekerjaan?” tanyanya pada gadis cantik di hadapannya itu.“Kalau tidak ingin, saya juga tidak mau ikut sama Om!” Dengan ekspresi yang masih datar, Ayya memberikan jawaban.Wawan menggelengkan kepala. Ia tidak habis pikir dengan sikap Ayya yang sekenanya saja, sama sekali tidak mencerminkan rasa sopan santun, meski situasi dirinya saat ini adalah sedang melamar pekerjaan. Apa karena usia Ayya yang masih terlalu muda? Sehingga belum paham tentang tata krama?Namun, bagaimana tenta
Ayya berdiam diri di suatu tempat bernama halte bus. Meski bus sudah datang, bahkan beberapa kali, ia sama sekali tidak mau naik. Pikirannya sedang kacau, dan tidak ingin pulang terlebih dahulu. Penyebab kerisauan hati Ayya bukan karena kenangan buruk tentang kebangkrutan saja, tetapi dalam hal mendapatkan sumber penghasilan.Ternyata, mencari pekerjaan bukanlah sesuatu yang mudah bagi Ayya. Sebagai anak yang bahkan belum lulus dari bangku SMA, tentu saja akan membuat para bos enggan menerima tenaganya. Dengan kenyataan se-demikian buruk itu, lantas, harus ke mana lagi ia mencari sumber penghasilan?Sudah terhitung tiga hari, Ayya kebingungan. Ia pun masih saja menolak mentah-mentah perihal sekolah. Ayya sudah terlanjur malas. Lagi pula uang dari mana? Ia bukan termasuk siswi yang pintar, beasiswa tidak akan bisa ia dapatkan.Di titik itu, Ayya baru merasa menyesal, tentang bagaimana sikapnya di masa lalu. Sering bermain
Dering ponsel yang tiba-tiba berbunyi, membuat Ayya terpaksa terbangun dari tidurnya. Dengan gerak malas dan mata yang masih sembab, ia berusaha meraih ponselnya di samping kepalanya. Dikerjap-kerjapkannya matanya lagi, supaya pandangannya menjadi jelas. Setelah itu, ia terbangun, tepatnya saat mendapati nama sang kekasih muncul di layar ponsel tersebut."Halo, Randy," sapa Ayya pada pria itu."Hai, Ayy. Selamat pagi," balas Randy dari kota nun jauh sana.Sejenak, Ayya terdiam. Lalu, setelah beberapa saat ia kembali berkata, "Kamu apa kabar, Randy?""Baik, Ayy. Kamu sehat, 'kan?""Ya, aku sehat."Ayya menghela napas. "Aku pikir kamu kenapa-napa.""Tidak, Ayy.""Ya, syukur Alhamdulillah. Ada apa? Kenapa kamu baru menghubungi aku?""Ayy?""Ya?""Kita ... kita berpisah saja."Berpisah? Sebuah permintaan yang sebenarnya sangat berat untuk dikabulkan. Tentu saja, membuat hati Ayya yang sudah lara akan semakin pilu. P
Selang satu minggu kemudian, setelah semua yang terjadi pada keluarga Pak Raden, mereka sudah berada di kota besar bernama Jakarta. Entah apa yang menyebabkan Anwar—orang kepercayaan Pak Raden—memutuskan untuk mengirim keluarga atasannya itu ke kota itu. Bukan perkara mudah untuk hidup di kota besar. Tidak ada sanak saudara, bahkan sebatas kenalan pun tidak ada.Di dalam rumah kontrakan sempit, Pak Raden beserta anak dan istrinya kini tinggal. Sesuatu yang sangat ia takuti, bahkan sedari muda, kini terjadi. Bangkrut! Impiannya hanya satu; ingin membuat keluarganya selalu diliputi bahagia, tanpa adanya kekurangan apa pun. Namun kini, momok menakutkan malah terjadi. Meskipun ia begitu keras dalam membangun usaha, terus berbuat kebaikan, tetap ada saja orang yang berlalu curang.Pak Raden hanya bisa berpasrah pada keadaan. Bahkan, ia belum memiliki rencana apa pun. Tidak banyak harta yang ia miliki, hanya uang sisa pemberian Anwar. Yang tentunya akan habis, jika ia tidak be
Tadi malam, hujan turun begitu deras. Bahkan bersama halilintar yang bersahut-sahutan. Tubuh lunglai Pak Raden seperti sudah tidak kuasa untuk bangkit lagi. Sedangkan, Ibu Medina masih sibuk menangis. Ayya Diandra Pratama—anak tunggal alias semata wayang mereka berdua—tengah menatap langit biru yang sudah cerah kembali, seolah tidak bersedia turut larut ke dalam penderitaan yang mereka semua alami."Pa, kita mau tinggal di mana lagi?" Suara serak bersama isakan tangis terdengar dari bibir tipis dari Ibu Medina."Papa belum tahu, Ma," jawab Pak Raden di detik berikutnya. Sedih dalam hatinya, apalagi saat melihat anak dan istri ikut menderita. Pak Raden merasa sangat terpukul sekaligus tidak berguna.Ya, mereka bertiga saat ini tengah berada di bawah kolong jembatan yang kumuh. Jika berjalan lebih ke lima ratus meter ke depan, sisa-sisa dari kericuhan kemarin masih banyak. Pembakaran akibat amukan dari massa. Lalu, mengapa mereka bertiga terkena dampaknya? Para pende