Share

Cinta Rumit Tiga Sekawan
Cinta Rumit Tiga Sekawan
Author: Ayu Azalea

Bab 1

Author: Ayu Azalea
Begitu telepon terputus, terdengar suara musik keras dari lantai bawah, dan samar-samar terdengar juga suara orang yang sedang menyanyikan lagu ulang tahun.

Itu adalah pesta ulang tahun yang diadakan oleh Yoga dan Sandro untuk Hana.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari luar. Entah sejak kapan, Hana sudah berjalan masuk sembari tersenyum dan membawa sepotong kue black forest.

"Matanya yang indah berkedip beberapa kali, wajahnya yang cantik dihiasi riasan yang halus, tetapi ada sedikit noda krim yang agak mencolok. Dia pun berkata, "Kak Wenny, ayo turun dan main denganku?"

"Wenny yang bisa melihat jelas ada topeng di balik wajahnya, berkata dengan suara dingin, "Masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan, jadi aku nggak bisa ikut. Selamat bersenang-senang."

Seketika, mata Hana penuh dengan air mata. "Kak Wenny, apa kamu nggak suka padaku, makanya kamu menolak?"

Wenny refleks mengerutkan dahinya. Dia tidak melakukan apa-apa, tetapi kenapa malah kelihatannya seperti dia yang menyakiti Hana?

Dalam hati, dia tersenyum sinis, tidak ada niat untuk terus mendengarkan omong kosongnya. "Simpan saja pertunjukan ini untuk Yoga dan Sandro, nggak ada gunanya untukku."

Begitu selesai berbicara, dia langsung ingin menutup pintu.

"Kak Wenny, jangan ...."

Tiba-tiba Hana mengulurkan satu tangannya untuk menahan pintu.

Akibatnya, seluruh tangannya terjepit dengan keras pada saat pintu tertutup.

Seketika muncul bercak kebiruan pada punggung tangannya yang putih.

"Sss …."

Yoga dan Sandro kebetulan naik ke lantai atas, dan mereka langsung melihat kejadian ini.

Kedua pria itu hampir bersamaan berlari mendekat, satu di antaranya memeluk Hana dengan penuh kasih, dan memeriksa tangannya dengan hati-hati.

Melihat luka di punggung tangan Hana, Sandro ikut merasa cemas hingga matanya mulai merah.

Dengan kepribadiannya yang agak kasar, Sandro langsung menyalahkan Wenny. "Kalau kamu nggak suka Hana, ya sudah. Kenapa harus melakukan hal rendahan begini? Wenny, sejak kapan kamu berubah jadi begini?"

Yoga yang biasanya dingin, saat itu menatap Wenny dengan mata yang juga penuh kekecewaan.

"Wenny, hari ini ulang tahun Hana, nggak seharusnya kamu bersikap berlebihan."

Namun, ketika dia menundukkan kepala melihat Hana, nada suaranya langsung berubah.

"Hana, masih sakit nggak? Biar aku antar kamu mengambil obat."

Melihat Yoga menggandeng tangan Hana sambil pergi, Sandro juga mengejar Hana dan buru-buru ikut menghiburnya, "Hana, jangan sedih, mobil sport baruku akan aku berikan padamu. Setelah pesta selesai, aku akan bawa kamu jalan-jalan, biar suasana hatimu jadi lebih baik!"

Dikelilingi oleh dua pria yang memanjakannya, akhirnya Hana berhenti menangis, hanya suaranya masih sedikit tersendat. "Terima kasih, Yoga."

Setelah mengucapkan terima kasih kepada Yoga, dia kembali menatap Sandro. Dengan mata berkaca-kaca, dia memohon, "Sandro, jangan pergi balapan, itu sangat berbahaya, aku akan khawatir."

Melihat Hana berhenti menangis dan tersenyum, Sandro segera menjawab, "Baik, baik, Nona Besar, asalkan kamu senang, apa pun yang kamu bilang aku turuti!"

Melihat mereka menuruni tangga, Wenny berdiri di depan pintu, sejenak merasa seolah-olah dia berada dalam mimpi.

Dia masih ingat dulu, orang yang berdiri di antara Yoga dan Sandro adalah dirinya.

Sejak kecil tubuhnya lemah dan sering sakit-sakitan, juga menderita asma. Sayang sekali, Kota Jintara yang lembap dan sering hujan tidak cocok untuk kesehatannya.

Pada usia lima tahun, orang tuanya mengirimnya dari Kota Jintara ke kota pesisir yang selalu cerah, Kota Hanis, untuk dirawat di rumah tantenya yang bekerja sebagai dokter.

Di sanalah Wenny mengenal Yoga dan Sandro yang tinggal di sebelah rumah tantenya.

Mereka bertiga tumbuh bersama, menjadi sahabat masa kecil.

Begitu melihatnya pertama kali, kedua anak laki-laki itu langsung terpesona. Setiap hari mereka selalu ada di dekatnya, menjadi kesatria yang melindunginya.

Dulu, mereka mengantarnya pergi dan pulang sekolah setiap hari, membelikannya sarapan, membawakan susu, merobek semua surat cinta yang diterimanya, dan melarang pria mana pun mendekatinya.

Setelah dewasa, salah satu dari mereka menjadi CEO dari bisnis keluarga yang diwarisinya, sementara yang lainnya menjadi pembalap internasional terkenal. Meskipun keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mereka sama-sama membeli rumah di kedua sisi rumah Wenny. Mereka menghubungkan rumah-rumah itu lalu tinggal bersamanya, memasak untuknya setiap hari.

Bahkan ketika Wenny sudah makin pulih dari penyakitnya dan keluarganya mendesaknya untuk kembali ke Kota Jintara, dengan mata berkaca-kaca, mereka memohon agar dia tidak pergi. Jika tidak, mereka juga akan meninggalkan segalanya di kota ini dan ikut pergi bersamanya.

Mereka selalu berkata, di mana pun Wenny berada, mereka akan ikut.

Karena mereka berdualah, Wenny menunda kepulangannya ke Kota Jintara meskipun kondisi kesehatannya sudah stabil.

Namun, sejak kehadiran Hana Susilo, segalanya berubah.

Hana adalah anak magang di bawah bimbingan Wenny.

Hari pertama Hana mulai bekerja, dia merasa canggung dan tidak mau bergabung dengan teman-teman lain untuk makan siang. Itu berlangsung setiap hari, sampai Wenny bertemu dengannya saat dia sedang mengunyah roti kukus dan acar sayuran, sendirian di salah satu sudut kantor. Setelah ditanya, barulah dia tahu bahwa Hana berasal dari desa terpencil dan berhasil lulus ujian untuk masuk ke kota besar. Kondisi keluarganya sangat terbatas, sehingga dia mencoba menghemat sebanyak mungkin.

Sebagai putri sulung Keluarga Sanjaya, Wenny tumbuh dalam lingkungan yang serba mewah. Setelah mendengar cerita itu, dia merasa kasihan dan dengan kebaikan hatinya, dia pun selalu berusaha menjaga dan merawat gadis itu.

Kadang-kadang saat makan dengan Yoga dan Sandro, dia juga mengajak Hana ikut.

Karena itulah, Hana bisa mengenal Yoga dan Sandro.

Yoga yang biasanya tenang, tidak menyukai pesta yang ramai seperti ini, sekarang melanggar prinsipnya untuk Hana.

Begitu juga Sandro. Satu kalimat sederhana dari Hana, cukup untuk membuat Sandro yang sangat mencintai balap mobil dan tidak mudah dipengaruhi itu menyerah.

Hal seperti ini sudah berulang kali terjadi dalam sebulan terakhir.

Dulu, mereka tidak pernah menyembunyikan perasaan mereka terhadap Wenny, dan sering kali mereka membuat suasana tegang dengan memaksa Wenny untuk memilih salah satu di antara mereka.

Wenny memang pernah merasa tertarik pada mereka dan berpikir untuk memilih salah satu dari mereka.

Namun, sekarang dia menerima perjodohan yang sudah diatur oleh keluarganya sepertinya tidak buruk juga.

Wenny tersenyum tipis dan mengatur hitung mundur keberangkatannya di ponselnya.

Mulai sekarang, dia tidak akan mengganggu mereka bertiga lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 2

    Wenny menutup pintu, lalu memakai earphone. Dia tidak ingin mendengar keramaian di luar.Karena sudah memutuskan untuk pulang dan menikah, maka pekerjaannya di sini harus dia tinggalkan. Namun, dia tetap ingin menyelesaikan tugas-tugasnya dahulu agar tidak merepotkan orang lain.Dia duduk di depan jendela besar, menyelesaikan pekerjaannya sendirian.Matahari di luar mulai tenggelam, langit pun perlahan menjadi gelap.Wenny melepas earphone-nya, bangkit dan meregangkan tubuh. Setelah sekian lama, akhirnya pekerjaannya selesai.Suasana di lantai bawah kini benar-benar sudah hening.Secara refleks dia membuka ponselnya untuk bersantai sejenak.Saat itu, muncullah pesan dari Hana. Wenny pun langsung membukanya.[Kenapa kamu nggak kasih 'like' di postinganku?]Baru satu menit pesan itu dikirim, pesan lainnya masuk.[Maaf ya, Kak Wenny, aku salah kirim, jangan marah ya?]Wenny membuka akun media sosial Hana, ingin melihat apa yang dia posting.Yang terlihat di depan mata adalah kolase foto d

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 3

    Melihat dua pria di depannya yang terlihat tegang, Wenny berkata dengan tenang, "Ini hanya foto saja, bisa difoto lagi nanti.""Karena sudah habis terbakar, nanti kita foto ulang saja. Kebetulan kita sudah lama nggak pergi liburan."Yoga mencoba menenangkan situasi dan Sandro segera menambahkan, "Kali ini kita juga bisa ajak Hana. Dia sering bilang kalau dia belum pernah pergi liburan sebelumnya."Mendengar kata-kata Sandro, Wenny kembali tersenyum pahit, menertawakan dirinya sendiri.Yoga dan Sandro mengira dia setuju dengan usulan ini, dan langsung menghela napas lega.Ketika mereka hendak masuk ke dalam, mereka melihat beberapa kotak besar yang tiba-tiba ada di ruang tamu. Tadi pagi saat mereka keluar, kotak-kotak ini belum ada di sana."Apa lagi ini?" Keduanya bertanya serempak.Wenny melirik sejenak, lalu berkata, "Oh, aku sudah mengundurkan diri, rencananya mau cari pekerjaan baru."Bukankah sebelumnya dia sangat menyukai pekerjaan ini?Pertanyaan yang sama terlintas di benak Yog

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 4

    Hana memeluk piala itu, tetapi tidak ada kebahagiaan di wajahnya atas kemenangan Wenny. Dia juga tidak menyerahkan piala tersebut.Dia malah menggigit bibirnya dan berkata dengan wajah sedih, "Kak Wenny, Direktur menyuruhku mengantarkan piala ini untukmu. Penghargaan ini sangat bergengsi, kamu hebat sekali.""Aku mau meminta sesuatu, meski terdengar agak memalukan. Aku belum pernah menerima penghargaan ini, bisakah piala ini aku pinjam beberapa hari?"Meminjam piala ini beberapa hari?Ini pertama kalinya Wenny mendengar permintaan yang begitu konyol.Dia mengernyitkan dahi, lalu tersenyum dingin seraya berkata, "Kalau sudah tahu agak memalukan, sebaiknya jangan ajukan permintaan seperti itu. Kalau kamu benar-benar mau, ikut saja kompetisi itu dan menangkan sendiri."Setelah itu, dia mengulurkan tangannya untuk mengambil pialanya dari pelukan Hana.Tidak menyangka sikap Wenny begitu dingin, wajah Hana langsung pucat, tampak seperti sangat tertekan. "Kak Wenny, kenapa kamu bicara seperti

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 5

    Entah sejak kapan, telepon di tangan Wenny sudah terputus.Dia menenangkan emosinya sejenak, lalu berkata, "Sahabatku akan menikah, kenapa? Apa kalian mau ikut?"Saat ini, Yoga dan Sandro makin dingin terhadapnya. Setelah dia kembali ke Kota Jintara, mereka tidak akan bertemu lagi, bahkan mungkin tidak bisa dianggap sebagai teman lagi.Jadi, tidak perlu mengatakan yang sebenarnya kepada mereka, bahwa dia akan pulang ke Kota Jintara untuk menikah.Mendengar kata-kata itu, Yoga dan Sandro langsung saling berpandangan dan merasa agak aneh.Namun, mereka tidak terlalu memikirkannya, dan hanya berkata dengan santai, "Nggak, kamu saja yang pergi, aku sibuk di kantor."Setelah itu, seolah-olah masih marah karena Wenny membuat Hana terluka, dengan wajah dingin Yoga mengambil dokumen dan masuk ke ruang kerjanya.Sandro juga memasang wajah masam dan berkata, "Hari ini Hana sampai terluka karena kamu, sebaiknya kamu minta maaf padanya. Kalau nggak, aku nggak tertarik menemani kamu ke acara pernik

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 6

    Wenny akhirnya berhasil pulih dengan susah payah. Dia bersandar di dinding, memegang obat di tangannya dengan erat sambil menutupi wajahnya untuk menghalangi serbuk bunga masuk lagi.Belum sempat beristirahat sejenak, terdengar suara Yoga yang bertanya padanya.Apa kamu benar-benar membenci Hana? Dia baru saja memberikan bunga-bunga ini kepada kita, tapi kamu langsung menghancurkannya!Tak lama kemudian, suara Sandro yang penuh dengan kemarahan juga menyusul.Wenny, aku merasa kamu makin susah dipahami belakangan ini, bagaimana kamu bisa berubah seperti ini!Mendengar kata-kata itu, Wenny menarik napas dalam-dalam.Seluruh tubuhnya bergetar, marah dan kesal. Ada banyak kemarahan yang ingin diungkapkan, tetapi pada akhirnya, hanya menjadi suara yang terisak dengan mata berair.Aku yang berubah? Atau sebenarnya kalian yang berubah?Aku menderita asma dan alergi terhadap serbuk bunga, apa kalian nggak tahu?Suaranya lemah, tidak ada semangat sedikit pun.Setiap kata dan kalimatnya seperti

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 7

    Urusan rumah akhirnya sudah beres, Wenny pun bisa merasa lega.Beban yang dirasakannya langsung terasa jauh lebih ringan.Saat menandatangani kontrak, Wenny menyadari bahwa hari pengurusan dokumen properti itu ternyata tepat pada hari dia akan pergi.Kebetulan sekali. Jadi dia tidak perlu menjelaskan lagi ke Yoga dan Sandro.Saat menulis namanya di atas kertas, dia merasa sangat lega.Segalanya akan segera berakhir.Sekarang, hanya ada satu hal terakhir yang tersisa.Dia pergi ke pusat perbelanjaan. Di sana, dia memilih dan membeli sebuah alat pijat serta sebuah perhiasan gelang dengan cermat, lalu pergi ke rumah tantenya.Begitu dia masuk, Tante Reyna langsung memeluk Wenny dengan erat.Wenny, aku benar-benar nggak rela kamu pergi. Kamu sudah bertahun-tahun tinggal di Kota Hanis, aku sudah menganggapmu seperti anak kandungku sendiri. Aku nggak terbayang hidup tanpa kamu.Tante Reyna menghapus air matanya, menggenggam tangan Wenny dengan erat dan tidak mau melepaskannya.Wenny juga tid

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 8

    Wenny berbalik dan hendak pergi. Setelah kedua orang itu memastikan bahwa dia tidak marah, barulah mereka merasa lega.Yoga melangkah maju, lalu menggenggam tangannya. "Nggak perlu merapikan koper, terlalu banyak dan melelahkan. Nanti aku akan suruh sopirku datang, lalu kita akan pindah ke rumah baru bersama-sama."Sandro juga mengangguk setuju.Di saat itu, Wenny merasa seperti melihat kembali dirinya yang dulu selalu menjadi prioritas utama mereka.Dulu, saat masih kecil, setiap Wenny berbicara, mereka akan menanggapinya dengan tawa.Namun, sekarang janji di masa muda itu telah berubah menjadi sekadar kata-kata tanpa makna.Wenny melirik Hana sambil menggelengkan kepala, "Nggak perlu, banyak hal yang harus aku atur sendiri."Setelah mengatakan itu, tanpa memperhatikan ekspresi kedua orang itu, dia langsung berbalik dan pergi.Setibanya di rumah, dia membereskan koper, lalu membersihkan diri. Setelah itu, saat baru saja berbaring, tiba-tiba dia mendapat telepon dari Hana.Dari ujung t

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 9

    Selanjutnya, Yoga dan Sandro duduk di meja di sebelah Wenny bersama Hana.Kedua anak muda itu berebut menyiapkan makanan untuk Hana, dengan mata penuh kasih sayang.Melihat pemandangan itu, Maudy merasa kesal sampai steik di piringnya hancur, tetapi Wenny tetap terlihat tenang. Akhirnya Maudy memilih untuk diam dan tidak mengatakan apa-apa.Tidak lama kemudian, mereka selesai makan malam dan pergi bersama.Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Maudy, Wenny kembali ke rumah.Malam itu, Yoga dan Sandro masih belum pulang.Wenny juga tidak peduli, dia sibuk mengemas barang-barang terakhirnya.Pagi-pagi, dia mendengar suara langkah kaki dari luar, jadi dia tahu bahwa Yoga dan Sandro sudah pulang.Mereka seharusnya memang sudah pulang, karena hari ini adalah hari mereka pindah ke rumah baru.Hanya saja mereka tidak tahu, di rumah baru mereka, di masa depan mereka, tidak akan ada Wenny lagi.Suara gaduh di luar makin keras, sepertinya mereka sedang memindahkan barang-barang. Wenny berpu

Latest chapter

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 29

    Yoga melihat pernikahan megah Wenny di berbagai berita.Dia menatap foto Cakra di ponselnya dengan penuh kemarahan yang terus bergolak dalam hati."Pasti ini ulah Cakra, 'kan?"Pasti begitu!Setelah memikirkan itu, tanpa peduli pada larangan Bu Fanny dan Bu Shinta, dia bergegas keluar dari rumah sakit.Di kediaman Keluarga Gunawan.Hari ini adalah hari pertama pernikahan Cakra dan Wenny.Cakra, yang jarang bersantai, memeluk Wenny di ranjang, menikmati momen kebersamaan.Cahaya matahari lembut dan udara segar di luar jendela tidak lagi menarik perhatian mereka.Namun, suasana tenang itu tiba-tiba pecah oleh dering bel pintu yang keras.Cakra mengernyit, tidak menyangka ada yang mengganggu mereka di saat seperti ini.Dia mengenakan pakaian tidur seadanya dan berjalan ke pintu.Begitu pintu dibuka, tinju Yoga langsung melayang ke arahnya.Cakra dengan gesit menghindar ke samping dan menangkap tangan Yoga dengan erat."Kenapa kamu begitu gila?"Yoga kini tampak kacau dengan mata yang gela

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 28

    Setelah tayangan ucapan selamat selesai, dilanjutkan dengan siaran langsung pernikahan sesungguhnya antara Wenny dan Cakra.Saat itu juga, mereka berada di bekas kediaman pangeran di Kota Jintara, mengadakan pernikahan dengan gaya tradisional.Seluruh istana dengan ukiran indah di kediaman itu dihiasi kain sutra. Suara seruling dan musik perayaan menyelimuti hati setiap orang yang hadir.Di bawah tatapan semua orang, Cakra mengenakan pakaian pengantin tradisional, menunggang kuda gagah, diikuti tandu pernikahan di belakangnya.Dengan iringan suara tabuhan gong dan gendang, rombongan pengantin melemparkan koin emas murni dan berbagai permen serta makanan ringan perayaan ke arah kerumunan.Banyak orang berbondong-bondong mengumpulkan koin emas dan permen itu sambil mengucapkan berbagai doa selamat.Di saat yang sama, para tamu di dalam taman juga menerima hadiah berupa emas batangan kecil dan aneka permen serta kue.Kemewahan pernikahan ini membuat semua orang tertegun.Yoga dan Sandro m

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 27

    Jika menyerah begitu saja, lalu apa arti cinta yang mereka pertahankan selama bertahun-tahun ini?Apa sebenarnya arti dua puluh tahun lebih kebersamaan ini?Apakah cinta yang terjalin selama bertahun-tahun itu kalah dengan seseorang yang baru dikenal selama dua puluh hari?Mata Yoga dan Sandro dipenuhi dengan kobaran tekad.Mereka serempak berkata pada satu sama lain, "Kita bekerja sama. Setelah itu, kita bertindak sesuai kemampuan masing-masing!"Hampir tanpa perlu berkomunikasi, mereka segera mengatur rencana masing-masing.Sandro meminta foto-foto lama yang tersisa di rumah dari Bu Fanny dan Bu Shinta, yang mencatat masa lalu mereka selama lebih dari dua puluh tahun.Sayangnya, tidak banyak foto bersama yang tersisa, sebagian besar telah dibakar oleh Wenny.Foto yang bisa ditemukan kebanyakan hanya foto mereka saat masih kecil, seorang diri.Meski begitu, mereka merasa cukup puas.Setidaknya, itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.Sementara itu, Yoga menyusupkan orang ke dal

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 26

    Mata Sandro memerah hingga terlihat seperti penuh darah, kedua tangannya mengepal erat, lalu dengan keras dia melayangkan pukulan ke arah Cakra."Kenapa harus dia? Aku nggak terima! Wenny, asalkan kamu nggak menikah, aku akan membawamu kabur! Ke luar negeri, atau kembali ke Kota Hanis, ke mana pun yang kamu mau, akan kuturuti!"Namun, Cakra bisa dengan mudah menghindari pukulan Sandro, dia hanya memiringkan wajahnya sedikit, membiarkan tinju itu meleset dan hanya menyapu wajahnya.Lukanya tidak terlalu parah, tetapi tetap meninggalkan bekas merah yang mencolok."Sss … "Cakra menutupi pipinya yang sedikit terluka, menarik napas pelan, dan wajahnya meringis karena kesakitan.Meski begitu, ketampanannya sama sekali tidak luntur.Melihat Cakra terluka, Wenny merasa sangat kasihan. Dia memegang tangan Cakra, berusaha untuk melihat lukanya lebih dekat."Nggak apa-apa, aku nggak terluka, nggak sakit kok."Cakra berpura-pura santai dan tersenyum.Namun, makin dia berusaha tersenyum, makin Wen

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 25

    Wenny dan Cakra saling menggenggam tangan, menatap Yoga dan Sandro dengan agak waspada.Melihat tatapan itu, Sandro merasa sangat terluka."Wenny, kita ini sahabat sejak kecil. Kenapa kamu memandangku seperti itu?"Wenny mengerutkan alisnya, tidak ingin membuang waktu membahas hal-hal tidak berguna.Lagi pula, bukankah mereka sendiri yang memutuskan hubungan bertahun-tahun itu sejak awal?Dengan pandangan datar, dia menatap kedua pria itu dan berkata dengan tenang."Nggak perlu mengatakan hal-hal seperti itu. Aku harus pulang. Kalau ada yang mau kalian katakan, cepatlah."Mendengar itu, Sandro ingin bicara, tetapi Yoga segera memotongnya.Yoga berdiri di depan Wenny dengan tatapan penuh tekad di mata dinginnya."Wenny, dulu kami memang salah. Kami nggak pernah benar-benar menyukai Hana. Kami hanya memanfaatkan dia untuk membuatmu cemburu, agar kamu sadar siapa yang sebenarnya ada di hatimu. Kami nggak menyangka … "Dia pun menjelaskan nasib Hana dan alasan mereka memperlakukan Wenny se

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 24

    Cakra sengaja memberi instruksi kepada anak buahnya untuk mengendurkan pengawasan terhadap Yoga dan Sandro.Bukan berarti dia lengah, melainkan dia sengaja memberikan peluang agar mereka masuk jebakan. Dengan begitu, dia bisa bersiap lebih dulu.Setelah menerima perintah itu, anak-anak buahnya segera melaksanakan tugas.Pada saat yang sama, Cakra sengaja memberitahukan kabar kedatangan Yoga dan Sandro ke Kota Jintara kepada orang tua Wenny, Pak Haris dan Bu Maya."Apa? Mereka sudah memperlakukan Wenny seperti itu, tapi masih berani datang ke pernikahannya?"Bu Maya langsung naik pitam begitu mendengar kabar itu.Dulu, dia selalu memuji Yoga dan Sandro.Dia bahkan menganggap mereka calon menantu yang ideal.Namun kini, mereka benar-benar tidak seharusnya bermain-main dengan nyawa Wenny!Waktu Hana menyakiti Wenny, bagaimana perasaan Wenny saat itu?Terlebih lagi, sahabat masa kecilnya yang selalu berada di sisinya sejak kecil justru bersikap dingin hanya karena bunga yang diberikan wani

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 23

    Wenny sedang mencoba gaun pengantin saat ponselnya tiba-tiba berbunyi beberapa kali.Dia sedang sibuk merapikan bagian bawah gaunnya, sehingga tidak sempat melihat pesan tersebut.Sambil menunduk, dia segera berkata, "Cakra, tolong lihat pesannya."Di sebelahnya, Cakra mengenakan setelan jas hitam yang membuat tubuhnya terlihat makin tinggi dan tegap."Baik."Pria itu bersandar ringan di dinding, mengambil ponsel Wenny, lalu memasukkan inisial nama dan tanggal lahir Wenny untuk membuka kunci layar.Saat melihat pesan dari Tante Reyna, Cakra terdiam sejenak, kemudian membacakan isi pesan itu."Wenny, Yoga dan Sandro bilang ingin menghadiri pernikahanmu. Menurutmu ... bagaimana? Apa kamu mau mengizinkan mereka datang?"Tatapan Cakra agak muram dan suaranya mengandung nada cemburu. "Wenny, menurutmu bagaimana? Apa mereka boleh datang ke pernikahan kita?"Cakra melangkah maju, berdiri di belakang Wenny, mengisyaratkan kepada asisten di sampingnya untuk pergi. Dia sendiri yang membantu mera

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 22

    Hana dengan gigih berlutut di luar vila selama sehari semalam, hingga akhirnya tubuhnya tidak kuat lagi dan dia pingsan.Ketika terbangun, dia tidak menemukan sosok Yoga atau Sandro di sekitarnya.Dia malah berada di rumah sewaannya.Dari luar kamar terdengar suara Pak Rendra dan Bu Linda yang sedang berdiskusi."Hari ini kita pulang saja. Kita nggak bisa terus tinggal di sini. Hana nggak akan patuh. Selama dia punya kaki, pasti dia akan kabur lagi. Kita bawa saja dia pulang selagi dia masih pingsan!"Bu Linda berkata dengan nada cemas.Pak Rendra mengangguk setuju dan hanya menjawab, "Baiklah."Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Hana dengan cepat berjuang untuk bangkit dan lari keluar.Dia bahkan tidak sempat memakai sepatu, tetapi masih sempat menyambar ponselnya.Hana tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Yoga dan Sandro begitu dingin padanya.Di tengah kebingungannya, mendadak Hana teringat pada Wenny."Benar! Dia begitu baik hati dan mudah luluh. Dia pasti akan memaa

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 21

    Suara dingin petugas keamanan kota itu menusuk hati Hana tanpa ampun.Dia mengentakkan kaki dengan marah, dan menjawab dengan kesal, "Baiklah, aku pergi sekarang!"Baru saja Hana selesai menelepon mobil pindahan untuk membawa barang-barangnya.Akan tetapi, dia tidak tahu harus ke mana, sementara pengemudi mulai tidak sabar dan berulang kali bertanya ke mana dia akan pergi.Setelah waktu yang lama, dengan enggan dia menyebutkan nama kompleks tempat dia tinggal sebelumnya. "Ayo pergi ke Kompleks Lavender.Dia terpaksa menghubungi pemilik rumah lama untuk membahas perpanjangan sewa.Untungnya, baru beberapa hari berlalu, jadi rumah itu belum sempat disewakan ke orang lain.Saat Hana tiba di Kompleks Lavender, dia langsung disambut oleh keluarga besarnya yang menunggu di gerbang kompleks.Meski penampilan Keluarga Susilo sederhana dan kuno, mereka terlihat cukup bersih dan rapi.Namun, di dalam hati, Hana merasa muak. Wajar saja sikapnya terhadap mereka sangat buruk.Dia bahkan ingin memin

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status