Selanjutnya, Yoga dan Sandro duduk di meja di sebelah Wenny bersama Hana.Kedua anak muda itu berebut menyiapkan makanan untuk Hana, dengan mata penuh kasih sayang.Melihat pemandangan itu, Maudy merasa kesal sampai steik di piringnya hancur, tetapi Wenny tetap terlihat tenang. Akhirnya Maudy memilih untuk diam dan tidak mengatakan apa-apa.Tidak lama kemudian, mereka selesai makan malam dan pergi bersama.Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Maudy, Wenny kembali ke rumah.Malam itu, Yoga dan Sandro masih belum pulang.Wenny juga tidak peduli, dia sibuk mengemas barang-barang terakhirnya.Pagi-pagi, dia mendengar suara langkah kaki dari luar, jadi dia tahu bahwa Yoga dan Sandro sudah pulang.Mereka seharusnya memang sudah pulang, karena hari ini adalah hari mereka pindah ke rumah baru.Hanya saja mereka tidak tahu, di rumah baru mereka, di masa depan mereka, tidak akan ada Wenny lagi.Suara gaduh di luar makin keras, sepertinya mereka sedang memindahkan barang-barang. Wenny berpu
Wenny naik ke pesawat tanpa menoleh sedikit pun. Dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Yoga dan Sandro.Pesawat lepas landas dan dia merasakan kelegaan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.Namun, di Vila Teluk di Kota Hanis, suasananya sangat tegang.Sudah tiga jam berlalu. Yoga dan Sandro tiba di Vila Teluk bersama Hana, tetapi mereka belum juga melihat sosok Wenny.Di dalam vila hanya ada barang-barang mereka bertiga, sementara barang-barang Wenny tidak terlihat.Yoga merasa sangat gelisah, seolah-olah ada sesuatu yang tidak terduga sedang terjadi.Sandro duduk di sofa, wajahnya juga terlihat sangat cemas.Hana sudah tahu apa yang sedang terjadi, tetapi dia memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa.Melihat kedua pria itu diam saja, akhirnya dia mencoba bicara untuk memecah keheningan."Mungkin Kak Wenny belum selesai berkemas. Bagaimana kalau kita suruh orang lain mengatur semuanya dulu? Lagi pula, kita 'kan masih ada rencana makan malam bersama. Kak W
Barulah kini Sandro menyadari dan mengingat semuanya.Selama ini, semua kejanggalan dari Wenny tiba-tiba muncul di benaknya sekaligus.Yoga juga terdiam.Mungkin sejak lebih dari sebulan yang lalu, Wenny sudah merencanakan untuk pergi.Apakah pengaruh Hana terhadap Wenny begitu besar?Baru saja mereka berpikir tentang Hana, telepon Hana langsung masuk."Sandro, Yoga, aku sudah menunggu kalian di restoran. Tadi 'kan sudah janji kita akan makan bersama untuk merayakan, kalian di mana?"Sandro memegang ponsel, tetapi tidak segera menjawab.Setelah lama, akhirnya dia berbicara dengan suara serak, "Hana, kita tunda dulu makan bersamanya. Nanti kita atur lagi."Wenny sudah tidak ada lagi di sini, apa artinya lagi makan bersama?Yoga tetap diam, menatap ponselnya yang pecah berkeping-keping di lantai. Entah apa yang ada di pikirannya.Tiba-tiba, seorang agen properti yang pernah mereka temui, datang bersama seorang pria yang mengenakan jaket abu-abu."Pak, bagaimana menurut Anda rumah ini … "
Hana yang cemas sudah entah berapa kali menelepon, tetapi Sandro tetap tidak mengangkat.Vila Teluk juga sama sepinya.Di mana pun sepertinya tidak ada perbedaan.Hingga larut malam, suhu makin menurun, dan akhirnya, mereka berdua tidak bisa duduk lagi dan hanya bisa kembali ke Vila Teluk.Begitu pintu dibuka, yang terlihat pertama kali adalah Hana yang tertidur di sofa.Vila itu diterangi dengan cahaya kuning hangat, terlihat redup tetapi nyaman.Meski begitu, Yoga dan Sandro tidak tertarik untuk memperhatikan itu."Kenapa kamu belum tidur?"Suara Sandro terdengar lelah, juga ada sedikit rasa jengkel.Dia benar-benar tidak punya energi untuk merawat seorang pasien lagi.Yoga langsung menuju kamarnya, sambil berkata dengan dingin."Sudah waktunya tidur, lain kali nggak usah tunggu kami lagi."Hana yang meringkuk di sofa empuk tampak kebingungan.Apa yang telah terjadi?Sebelumnya, Yoga dan Sandro sangat baik padanya. Apa hanya karena Wenny pergi, mereka jadi bersikap dingin padanya?Ha
Melihat Sandro datang, Yoga segera mematikan rokoknya."Sudah datang? Aku sudah membelikan tiket pesawat terakhir ke Kota Jintara untukmu. Kita akan pergi mencarinya, makin banyak orang, makin besar harapan."Sandro tidak sempat berpikir lebih jauh, dia pun segera mengangguk setuju.Mereka berdua masuk ke mobil, Sandro bahkan tidak peduli lagi dengan kecepatannya. Dia mengemudikan mobil sportnya seperti sedang balapan.Dengan kecepatan tinggi, Yoga dan Sandro tiba di bandara. Mereka tidak membawa barang apa pun, hanya ada satu pikiran di kepala mereka, yaitu segera ke Kota Jintara mencari Wenny!Mereka khawatir jika terlambat sedikit saja, sesuatu yang tidak bisa mereka terima akan terjadi.Pesawat baru saja hendak lepas landas ketika langit mulai terang.Yoga dan Sandro merasa gelisah dan tidak bisa tenang.Sementara itu, Wenny di Kota Jintara juga tidak tidur semalam penuh.Dia bangun pagi-pagi, mulai berdandan dan mengganti pakaian.Hari ini adalah hari dia dan Cakra Gunawan akan me
Sandro terpaku di tempat, ekspresi di wajahnya berubah beberapa kali.Pada akhirnya, senyum yang dipaksakan di wajahnya terlihat lebih menyakitkan daripada tangisan.Bibirnya bergerak beberapa kali, baru dia bisa berbicara."Wenny, kamu dapat aktor dari mana? Aktingnya jelek sekali, jangan bohong pada kami."Meskipun cincin dan akta nikah sudah terlihat di depan mata, dia tetap tidak percaya.Wenny tidak menyangka mereka akan datang begitu cepat.Namun, dia sudah tidak berniat untuk melanjutkan hubungan dengan mereka."Dia bukan aktor. Aku tahu kalian kecewa, tapi seperti yang kalian lihat, aku sudah menikah."Dia berbicara dengan tenang, bahkan mengangkat akta nikah di tangannya dan mengibaskannya di depan Yoga dan Sandro.Cakra juga dengan santai memeluk pinggang Wenny, lalu dengan sopan menganggukkan kepala ke arah mereka."Halo, kenalkan. Aku suami Wenny. Namaku Cakra Gunawan."Matanya indah berwarna coklat keemasan.Pandangannya melayang ringan ke arah Yoga dan Sandro, memberikan
Tanpa ragu Wenny menolak, "Nggak, di Kota Jintara ada orang tua dan keluargaku, sedangkan di Kota Hanis ... aku sudah bosan."Yoga tiba-tiba tersenyum, kemudian wajahnya segera berubah dingin."Wenny, aku akan membuatmu menyesal. Kamu pasti akan kembali mencariku!""Nggak perlu, aku nggak akan memberi kalian kesempatan itu."Cakra memberi isyarat dengan jarinya, kemudian sekelompok pengawal segera menutup mulut Yoga dan Sandro, serta mengikat tangan dan kaki mereka, lalu melemparkan mereka ke dalam helikopter.Cakra merasa agak cemas ketika istrinya melihat sisi dirinya yang keras seperti itu."Wenny, apa kamu takut melihatku seperti ini?"Dia berhasil bertahan di Keluarga Gunawan tentu bukan dengan cara-cara lembut.Namun, dia tidak ingin menunjukkan sisi itu di depan Wenny.Wenny menatap wajah Cakra, dan tiba-tiba, dia merasa hubungan mereka menjadi jauh lebih dekat.Dia tersenyum sambil menggelengkan kepala."Bagaimana mungkin? Caramu menangani ini sangat bagus."Hilangnya dua masal
Yoga dan Sandro telah membuat kesepakatan, tidak peduli siapa yang dipilih Wenny, yang lain harus menekan semua perasaan yang seharusnya tidak ada di dalam hati, dan mulai saat itu hanya menjadi teman biasa.Namun, keduanya tidak menyangka bahwa Wenny tidak memilih siapa pun.Kenapa bisa begini?Kenapa hasil dari tekanan ini justru menjadi seperti ini?Yoga dan Sandro saling memandang, dengan sedikit rasa kesal yang muncul di hati masing-masing.Kenapa saat itu mereka bisa terpikirkan ide buruk ini?Kalaupun saat itu mereka bertindak lebih cepat atau lebih lambat, mungkin hubungan pertemanan mereka bertiga bisa tetap seperti sebelumnya. Itu jelas lebih baik daripada sekarang, bahkan untuk bertemu satu sama lain saja sangat sulit.Helikopter mendarat di atap Vila Teluk.Keduanya dilempar begitu saja oleh para pengawal, tanpa sedikit pun mempertimbangkan keadaan mereka. Tak lama kemudian, helikopter itu kembali lepas landas.Mendengar suara gemuruh dari atap, Hana segera naik untuk memer
Yoga melihat pernikahan megah Wenny di berbagai berita.Dia menatap foto Cakra di ponselnya dengan penuh kemarahan yang terus bergolak dalam hati."Pasti ini ulah Cakra, 'kan?"Pasti begitu!Setelah memikirkan itu, tanpa peduli pada larangan Bu Fanny dan Bu Shinta, dia bergegas keluar dari rumah sakit.Di kediaman Keluarga Gunawan.Hari ini adalah hari pertama pernikahan Cakra dan Wenny.Cakra, yang jarang bersantai, memeluk Wenny di ranjang, menikmati momen kebersamaan.Cahaya matahari lembut dan udara segar di luar jendela tidak lagi menarik perhatian mereka.Namun, suasana tenang itu tiba-tiba pecah oleh dering bel pintu yang keras.Cakra mengernyit, tidak menyangka ada yang mengganggu mereka di saat seperti ini.Dia mengenakan pakaian tidur seadanya dan berjalan ke pintu.Begitu pintu dibuka, tinju Yoga langsung melayang ke arahnya.Cakra dengan gesit menghindar ke samping dan menangkap tangan Yoga dengan erat."Kenapa kamu begitu gila?"Yoga kini tampak kacau dengan mata yang gela
Setelah tayangan ucapan selamat selesai, dilanjutkan dengan siaran langsung pernikahan sesungguhnya antara Wenny dan Cakra.Saat itu juga, mereka berada di bekas kediaman pangeran di Kota Jintara, mengadakan pernikahan dengan gaya tradisional.Seluruh istana dengan ukiran indah di kediaman itu dihiasi kain sutra. Suara seruling dan musik perayaan menyelimuti hati setiap orang yang hadir.Di bawah tatapan semua orang, Cakra mengenakan pakaian pengantin tradisional, menunggang kuda gagah, diikuti tandu pernikahan di belakangnya.Dengan iringan suara tabuhan gong dan gendang, rombongan pengantin melemparkan koin emas murni dan berbagai permen serta makanan ringan perayaan ke arah kerumunan.Banyak orang berbondong-bondong mengumpulkan koin emas dan permen itu sambil mengucapkan berbagai doa selamat.Di saat yang sama, para tamu di dalam taman juga menerima hadiah berupa emas batangan kecil dan aneka permen serta kue.Kemewahan pernikahan ini membuat semua orang tertegun.Yoga dan Sandro m
Jika menyerah begitu saja, lalu apa arti cinta yang mereka pertahankan selama bertahun-tahun ini?Apa sebenarnya arti dua puluh tahun lebih kebersamaan ini?Apakah cinta yang terjalin selama bertahun-tahun itu kalah dengan seseorang yang baru dikenal selama dua puluh hari?Mata Yoga dan Sandro dipenuhi dengan kobaran tekad.Mereka serempak berkata pada satu sama lain, "Kita bekerja sama. Setelah itu, kita bertindak sesuai kemampuan masing-masing!"Hampir tanpa perlu berkomunikasi, mereka segera mengatur rencana masing-masing.Sandro meminta foto-foto lama yang tersisa di rumah dari Bu Fanny dan Bu Shinta, yang mencatat masa lalu mereka selama lebih dari dua puluh tahun.Sayangnya, tidak banyak foto bersama yang tersisa, sebagian besar telah dibakar oleh Wenny.Foto yang bisa ditemukan kebanyakan hanya foto mereka saat masih kecil, seorang diri.Meski begitu, mereka merasa cukup puas.Setidaknya, itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.Sementara itu, Yoga menyusupkan orang ke dal
Mata Sandro memerah hingga terlihat seperti penuh darah, kedua tangannya mengepal erat, lalu dengan keras dia melayangkan pukulan ke arah Cakra."Kenapa harus dia? Aku nggak terima! Wenny, asalkan kamu nggak menikah, aku akan membawamu kabur! Ke luar negeri, atau kembali ke Kota Hanis, ke mana pun yang kamu mau, akan kuturuti!"Namun, Cakra bisa dengan mudah menghindari pukulan Sandro, dia hanya memiringkan wajahnya sedikit, membiarkan tinju itu meleset dan hanya menyapu wajahnya.Lukanya tidak terlalu parah, tetapi tetap meninggalkan bekas merah yang mencolok."Sss … "Cakra menutupi pipinya yang sedikit terluka, menarik napas pelan, dan wajahnya meringis karena kesakitan.Meski begitu, ketampanannya sama sekali tidak luntur.Melihat Cakra terluka, Wenny merasa sangat kasihan. Dia memegang tangan Cakra, berusaha untuk melihat lukanya lebih dekat."Nggak apa-apa, aku nggak terluka, nggak sakit kok."Cakra berpura-pura santai dan tersenyum.Namun, makin dia berusaha tersenyum, makin Wen
Wenny dan Cakra saling menggenggam tangan, menatap Yoga dan Sandro dengan agak waspada.Melihat tatapan itu, Sandro merasa sangat terluka."Wenny, kita ini sahabat sejak kecil. Kenapa kamu memandangku seperti itu?"Wenny mengerutkan alisnya, tidak ingin membuang waktu membahas hal-hal tidak berguna.Lagi pula, bukankah mereka sendiri yang memutuskan hubungan bertahun-tahun itu sejak awal?Dengan pandangan datar, dia menatap kedua pria itu dan berkata dengan tenang."Nggak perlu mengatakan hal-hal seperti itu. Aku harus pulang. Kalau ada yang mau kalian katakan, cepatlah."Mendengar itu, Sandro ingin bicara, tetapi Yoga segera memotongnya.Yoga berdiri di depan Wenny dengan tatapan penuh tekad di mata dinginnya."Wenny, dulu kami memang salah. Kami nggak pernah benar-benar menyukai Hana. Kami hanya memanfaatkan dia untuk membuatmu cemburu, agar kamu sadar siapa yang sebenarnya ada di hatimu. Kami nggak menyangka … "Dia pun menjelaskan nasib Hana dan alasan mereka memperlakukan Wenny se
Cakra sengaja memberi instruksi kepada anak buahnya untuk mengendurkan pengawasan terhadap Yoga dan Sandro.Bukan berarti dia lengah, melainkan dia sengaja memberikan peluang agar mereka masuk jebakan. Dengan begitu, dia bisa bersiap lebih dulu.Setelah menerima perintah itu, anak-anak buahnya segera melaksanakan tugas.Pada saat yang sama, Cakra sengaja memberitahukan kabar kedatangan Yoga dan Sandro ke Kota Jintara kepada orang tua Wenny, Pak Haris dan Bu Maya."Apa? Mereka sudah memperlakukan Wenny seperti itu, tapi masih berani datang ke pernikahannya?"Bu Maya langsung naik pitam begitu mendengar kabar itu.Dulu, dia selalu memuji Yoga dan Sandro.Dia bahkan menganggap mereka calon menantu yang ideal.Namun kini, mereka benar-benar tidak seharusnya bermain-main dengan nyawa Wenny!Waktu Hana menyakiti Wenny, bagaimana perasaan Wenny saat itu?Terlebih lagi, sahabat masa kecilnya yang selalu berada di sisinya sejak kecil justru bersikap dingin hanya karena bunga yang diberikan wani
Wenny sedang mencoba gaun pengantin saat ponselnya tiba-tiba berbunyi beberapa kali.Dia sedang sibuk merapikan bagian bawah gaunnya, sehingga tidak sempat melihat pesan tersebut.Sambil menunduk, dia segera berkata, "Cakra, tolong lihat pesannya."Di sebelahnya, Cakra mengenakan setelan jas hitam yang membuat tubuhnya terlihat makin tinggi dan tegap."Baik."Pria itu bersandar ringan di dinding, mengambil ponsel Wenny, lalu memasukkan inisial nama dan tanggal lahir Wenny untuk membuka kunci layar.Saat melihat pesan dari Tante Reyna, Cakra terdiam sejenak, kemudian membacakan isi pesan itu."Wenny, Yoga dan Sandro bilang ingin menghadiri pernikahanmu. Menurutmu ... bagaimana? Apa kamu mau mengizinkan mereka datang?"Tatapan Cakra agak muram dan suaranya mengandung nada cemburu. "Wenny, menurutmu bagaimana? Apa mereka boleh datang ke pernikahan kita?"Cakra melangkah maju, berdiri di belakang Wenny, mengisyaratkan kepada asisten di sampingnya untuk pergi. Dia sendiri yang membantu mera
Hana dengan gigih berlutut di luar vila selama sehari semalam, hingga akhirnya tubuhnya tidak kuat lagi dan dia pingsan.Ketika terbangun, dia tidak menemukan sosok Yoga atau Sandro di sekitarnya.Dia malah berada di rumah sewaannya.Dari luar kamar terdengar suara Pak Rendra dan Bu Linda yang sedang berdiskusi."Hari ini kita pulang saja. Kita nggak bisa terus tinggal di sini. Hana nggak akan patuh. Selama dia punya kaki, pasti dia akan kabur lagi. Kita bawa saja dia pulang selagi dia masih pingsan!"Bu Linda berkata dengan nada cemas.Pak Rendra mengangguk setuju dan hanya menjawab, "Baiklah."Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Hana dengan cepat berjuang untuk bangkit dan lari keluar.Dia bahkan tidak sempat memakai sepatu, tetapi masih sempat menyambar ponselnya.Hana tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Yoga dan Sandro begitu dingin padanya.Di tengah kebingungannya, mendadak Hana teringat pada Wenny."Benar! Dia begitu baik hati dan mudah luluh. Dia pasti akan memaa
Suara dingin petugas keamanan kota itu menusuk hati Hana tanpa ampun.Dia mengentakkan kaki dengan marah, dan menjawab dengan kesal, "Baiklah, aku pergi sekarang!"Baru saja Hana selesai menelepon mobil pindahan untuk membawa barang-barangnya.Akan tetapi, dia tidak tahu harus ke mana, sementara pengemudi mulai tidak sabar dan berulang kali bertanya ke mana dia akan pergi.Setelah waktu yang lama, dengan enggan dia menyebutkan nama kompleks tempat dia tinggal sebelumnya. "Ayo pergi ke Kompleks Lavender.Dia terpaksa menghubungi pemilik rumah lama untuk membahas perpanjangan sewa.Untungnya, baru beberapa hari berlalu, jadi rumah itu belum sempat disewakan ke orang lain.Saat Hana tiba di Kompleks Lavender, dia langsung disambut oleh keluarga besarnya yang menunggu di gerbang kompleks.Meski penampilan Keluarga Susilo sederhana dan kuno, mereka terlihat cukup bersih dan rapi.Namun, di dalam hati, Hana merasa muak. Wajar saja sikapnya terhadap mereka sangat buruk.Dia bahkan ingin memin