Share

Bab 9

Penulis: Ayu Azalea
Selanjutnya, Yoga dan Sandro duduk di meja di sebelah Wenny bersama Hana.

Kedua anak muda itu berebut menyiapkan makanan untuk Hana, dengan mata penuh kasih sayang.

Melihat pemandangan itu, Maudy merasa kesal sampai steik di piringnya hancur, tetapi Wenny tetap terlihat tenang. Akhirnya Maudy memilih untuk diam dan tidak mengatakan apa-apa.

Tidak lama kemudian, mereka selesai makan malam dan pergi bersama.

Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Maudy, Wenny kembali ke rumah.

Malam itu, Yoga dan Sandro masih belum pulang.

Wenny juga tidak peduli, dia sibuk mengemas barang-barang terakhirnya.

Pagi-pagi, dia mendengar suara langkah kaki dari luar, jadi dia tahu bahwa Yoga dan Sandro sudah pulang.

Mereka seharusnya memang sudah pulang, karena hari ini adalah hari mereka pindah ke rumah baru.

Hanya saja mereka tidak tahu, di rumah baru mereka, di masa depan mereka, tidak akan ada Wenny lagi.

Suara gaduh di luar makin keras, sepertinya mereka sedang memindahkan barang-barang. Wenny berpura-pura tidak mendengar. Lalu, setelah memeriksa semua koper, datang telepon dari ibunya.

Telepon dijawab, suara lembut ibunya terdengar.

"Wenny, pesawatnya jam berapa? Kami akan menjemputmu."

Wenny membuka aplikasi untuk melihat tiket pesawatnya, lalu berkata dengan suara pelan. "Aku akan sampai sekitar jam tujuh malam."

Saat itu, pintu kamarnya didorong terbuka. Dia menoleh sedikit, melihat Yoga dan Sandro berdiri di ambang pintu.

Sandro bertanya dengan santai, "Sedang menelepon siapa?"

"Bukan siapa-siapa."

Wenny menutup telepon dan menjawab dengan dingin.

Mendengar jawabannya yang dingin, Yoga dan Sandro agak terkejut.

Sejak kehadiran Hana, Wenny sepertinya selalu menjauh dari mereka dalam beberapa waktu ini ....

Awalnya Yoga berpikir tidak perlu penjelasan, tetapi belakangan ini, perilaku aneh Wenny terus terbayang di benaknya dan mulai membuatnya merasa cemas.

Secara refleks dia berkata, "Wenny, Hana berbeda denganmu. Keluarganya nggak mampu dan dia mengalami banyak kesulitan sejak kecil. Jadi aku hanya mau membantunya lebih banyak. Nggak ada maksud yang lain."

Sandro juga menjelaskan, "Ya, kami hanya merasa kasihan pada Hana. Lagi pula, bukankah kamu yang memperkenalkan Hana kepada kami? Bagaimana bisa kamu cemburu padanya?"

Wenny berkata dengan tenang, "Untuk apa kalian mengatakan ini padaku?"

Dua orang itu serentak berkata, "Karena kamu peduli!"

Mereka bertiga telah tumbuh bersama sejak kecil, dan kedekatan yang terjalin selama bertahun-tahun membuat mereka saling mengerti. Begitu Wenny membuka mulut, mereka sudah tahu apa yang ingin dia katakan. Begitu Wenny mengulurkan tangan, mereka tahu apa yang dia inginkan. Bagaimana mungkin mereka tidak menyadari apa yang Wenny pedulikan?

Namun, sekarang mereka makin sulit memahami dirinya.

Wenny memandang dengan tatapan dingin, seolah-olah melihat dua orang yang tidak penting. "Aku nggak peduli, 'kan kalian bilang cuma menganggap dia teman, aku juga teman kalian, jadi apa yang perlu aku pedulikan?"

Seketika, kedua pria itu terdiam.

Yoga terdiam cukup lama, sampai akhirnya dia tidak tahan dan berkata, "Wenny, kamu tahu, aku bukan cuma menginginkan pertemanan."

Sandro makin tidak bisa menyembunyikan ekspresi di wajahnya, "Selama bertahun-tahun ini, bagaimana aku memperlakukanmu, Wenny? Apa kamu benar-benar berpikir kita hanya teman?"

Wenny jelas tahu apa yang mereka maksud.

Mereka berdua menyukainya dan ingin bersamanya.

Namun, jika rasa sayang mereka kepadanya ini ditunjukkan dengan membantu Hana menyakiti dirinya, maka Wenny tak sanggup menerimanya.

Dia mengangguk, "Benar, kita akan punya hubungan yang berbeda."

Tak lama setelah ini, hubungan pertemanan mereka akan berakhir.

Mereka hanya akan menjadi orang asing satu sama lain ....

Kata-katanya menyiratkan banyak hal. Hati Yoga berdebar kencang, dia merasa gelisah. Baru saja dia akan mengatakan sesuatu, seorang sopir masuk untuk mengambil koper Wenny.

Wenny menahan sopir itu. "Kalian berangkat saja duluan, aku akan mengantar barangku sendiri."

Mendengar itu, Sandro merasa kesal, "Banyak begini barangnya, bagaimana kamu mau bawa sendiri? Sudahlah, jangan marah, ini salahku. Aku minta maaf, ya?"

Wenny tetap bersikeras menolak. "Aku benar-benar nggak butuh bantuan. Kalian bantu Hana saja, dia tinggal sendirian. Lagi pula dia perempuan yang lemah, nggak akan bisa bawa banyak barang. Dia pasti lebih membutuhkan bantuan kalian."

Yoga mendengar nada sindiran dalam kata-katanya dan mengerutkan kening, tetapi tepat saat itu, Hana menelepon.

"Yoga, Sandro, bisakah kalian datang bantu aku? Aku memang ceroboh dan nggak bisa melakukan apa-apa."

Suara cemas dan rapuhnya terdengar jelas melalui telepon, sampai ke telinga mereka semua.

Keduanya saling bertatapan, lalu melihat wajah Wenny yang dengan tegas menolak bantuan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pergi lebih dulu.

Yoga mematikan telepon dan melihat Wenny. "Hana belum bisa mengatasi semuanya sendiri, aku akan bantu dia."

Sandro juga mengambil kunci mobil, "Aku juga ikut."

Saat akan keluar, Yoga masih tidak tenang. Dia kembali menoleh dan menambahkan, "Wenny, aku tahu kamu nggak mau mendengarku sekarang. Aku sudah pesan restoran, setelah pindahan, kita makan bersama, ya. Soal Hana, nanti aku akan jelaskan dengan baik."

Sebelum Wenny bisa menjawab, dia sudah terburu-buru keluar.

Sambil menyaksikan kepergian mereka berdua, Wenny berusaha tersenyum.

Menjelaskan nanti?

Sayangnya, di antara mereka, tidak ada lagi yang namanya "nanti".

Apalagi, setelah apa yang mereka lakukan dalam beberapa waktu terakhir, Wenny tidak tahu bagaimana mereka bisa menjelaskannya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Hana kembali mengirimkan pesan yang memancing keributan.

[Maaf ya, Kak Wenny, aku nggak menyangka cukup satu kalimat dariku, Yoga dan Sandro langsung meninggalkanmu. Nanti saat kita tinggal bersama, semoga bisa saling bantu ya!]

Wenny tersenyum tipis, jarinya menekan layar dan mengetikkan beberapa kata.

[Kalian bertiga silakan jalani hidup kalian dengan baik, aku nggak mau ikut campur.]

Begitu pesan itu terkirim, dia langsung memblokir semua kontak Hana.

Kemudian Yoga.

Dan terakhir Sandro.

Daftar kontaknya dihapus satu per satu. Ketiga orang ini akan benar-benar hilang dari hidupnya.

Akhirnya, dia membawa koper dan melangkah keluar dari rumah yang menyimpan banyak kenangan, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 10

    Wenny naik ke pesawat tanpa menoleh sedikit pun. Dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Yoga dan Sandro.Pesawat lepas landas dan dia merasakan kelegaan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.Namun, di Vila Teluk di Kota Hanis, suasananya sangat tegang.Sudah tiga jam berlalu. Yoga dan Sandro tiba di Vila Teluk bersama Hana, tetapi mereka belum juga melihat sosok Wenny.Di dalam vila hanya ada barang-barang mereka bertiga, sementara barang-barang Wenny tidak terlihat.Yoga merasa sangat gelisah, seolah-olah ada sesuatu yang tidak terduga sedang terjadi.Sandro duduk di sofa, wajahnya juga terlihat sangat cemas.Hana sudah tahu apa yang sedang terjadi, tetapi dia memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa.Melihat kedua pria itu diam saja, akhirnya dia mencoba bicara untuk memecah keheningan."Mungkin Kak Wenny belum selesai berkemas. Bagaimana kalau kita suruh orang lain mengatur semuanya dulu? Lagi pula, kita 'kan masih ada rencana makan malam bersama. Kak W

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 11

    Barulah kini Sandro menyadari dan mengingat semuanya.Selama ini, semua kejanggalan dari Wenny tiba-tiba muncul di benaknya sekaligus.Yoga juga terdiam.Mungkin sejak lebih dari sebulan yang lalu, Wenny sudah merencanakan untuk pergi.Apakah pengaruh Hana terhadap Wenny begitu besar?Baru saja mereka berpikir tentang Hana, telepon Hana langsung masuk."Sandro, Yoga, aku sudah menunggu kalian di restoran. Tadi 'kan sudah janji kita akan makan bersama untuk merayakan, kalian di mana?"Sandro memegang ponsel, tetapi tidak segera menjawab.Setelah lama, akhirnya dia berbicara dengan suara serak, "Hana, kita tunda dulu makan bersamanya. Nanti kita atur lagi."Wenny sudah tidak ada lagi di sini, apa artinya lagi makan bersama?Yoga tetap diam, menatap ponselnya yang pecah berkeping-keping di lantai. Entah apa yang ada di pikirannya.Tiba-tiba, seorang agen properti yang pernah mereka temui, datang bersama seorang pria yang mengenakan jaket abu-abu."Pak, bagaimana menurut Anda rumah ini … "

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 12

    Hana yang cemas sudah entah berapa kali menelepon, tetapi Sandro tetap tidak mengangkat.Vila Teluk juga sama sepinya.Di mana pun sepertinya tidak ada perbedaan.Hingga larut malam, suhu makin menurun, dan akhirnya, mereka berdua tidak bisa duduk lagi dan hanya bisa kembali ke Vila Teluk.Begitu pintu dibuka, yang terlihat pertama kali adalah Hana yang tertidur di sofa.Vila itu diterangi dengan cahaya kuning hangat, terlihat redup tetapi nyaman.Meski begitu, Yoga dan Sandro tidak tertarik untuk memperhatikan itu."Kenapa kamu belum tidur?"Suara Sandro terdengar lelah, juga ada sedikit rasa jengkel.Dia benar-benar tidak punya energi untuk merawat seorang pasien lagi.Yoga langsung menuju kamarnya, sambil berkata dengan dingin."Sudah waktunya tidur, lain kali nggak usah tunggu kami lagi."Hana yang meringkuk di sofa empuk tampak kebingungan.Apa yang telah terjadi?Sebelumnya, Yoga dan Sandro sangat baik padanya. Apa hanya karena Wenny pergi, mereka jadi bersikap dingin padanya?Ha

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 13

    Melihat Sandro datang, Yoga segera mematikan rokoknya."Sudah datang? Aku sudah membelikan tiket pesawat terakhir ke Kota Jintara untukmu. Kita akan pergi mencarinya, makin banyak orang, makin besar harapan."Sandro tidak sempat berpikir lebih jauh, dia pun segera mengangguk setuju.Mereka berdua masuk ke mobil, Sandro bahkan tidak peduli lagi dengan kecepatannya. Dia mengemudikan mobil sportnya seperti sedang balapan.Dengan kecepatan tinggi, Yoga dan Sandro tiba di bandara. Mereka tidak membawa barang apa pun, hanya ada satu pikiran di kepala mereka, yaitu segera ke Kota Jintara mencari Wenny!Mereka khawatir jika terlambat sedikit saja, sesuatu yang tidak bisa mereka terima akan terjadi.Pesawat baru saja hendak lepas landas ketika langit mulai terang.Yoga dan Sandro merasa gelisah dan tidak bisa tenang.Sementara itu, Wenny di Kota Jintara juga tidak tidur semalam penuh.Dia bangun pagi-pagi, mulai berdandan dan mengganti pakaian.Hari ini adalah hari dia dan Cakra Gunawan akan me

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 14

    Sandro terpaku di tempat, ekspresi di wajahnya berubah beberapa kali.Pada akhirnya, senyum yang dipaksakan di wajahnya terlihat lebih menyakitkan daripada tangisan.Bibirnya bergerak beberapa kali, baru dia bisa berbicara."Wenny, kamu dapat aktor dari mana? Aktingnya jelek sekali, jangan bohong pada kami."Meskipun cincin dan akta nikah sudah terlihat di depan mata, dia tetap tidak percaya.Wenny tidak menyangka mereka akan datang begitu cepat.Namun, dia sudah tidak berniat untuk melanjutkan hubungan dengan mereka."Dia bukan aktor. Aku tahu kalian kecewa, tapi seperti yang kalian lihat, aku sudah menikah."Dia berbicara dengan tenang, bahkan mengangkat akta nikah di tangannya dan mengibaskannya di depan Yoga dan Sandro.Cakra juga dengan santai memeluk pinggang Wenny, lalu dengan sopan menganggukkan kepala ke arah mereka."Halo, kenalkan. Aku suami Wenny. Namaku Cakra Gunawan."Matanya indah berwarna coklat keemasan.Pandangannya melayang ringan ke arah Yoga dan Sandro, memberikan

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 15

    Tanpa ragu Wenny menolak, "Nggak, di Kota Jintara ada orang tua dan keluargaku, sedangkan di Kota Hanis ... aku sudah bosan."Yoga tiba-tiba tersenyum, kemudian wajahnya segera berubah dingin."Wenny, aku akan membuatmu menyesal. Kamu pasti akan kembali mencariku!""Nggak perlu, aku nggak akan memberi kalian kesempatan itu."Cakra memberi isyarat dengan jarinya, kemudian sekelompok pengawal segera menutup mulut Yoga dan Sandro, serta mengikat tangan dan kaki mereka, lalu melemparkan mereka ke dalam helikopter.Cakra merasa agak cemas ketika istrinya melihat sisi dirinya yang keras seperti itu."Wenny, apa kamu takut melihatku seperti ini?"Dia berhasil bertahan di Keluarga Gunawan tentu bukan dengan cara-cara lembut.Namun, dia tidak ingin menunjukkan sisi itu di depan Wenny.Wenny menatap wajah Cakra, dan tiba-tiba, dia merasa hubungan mereka menjadi jauh lebih dekat.Dia tersenyum sambil menggelengkan kepala."Bagaimana mungkin? Caramu menangani ini sangat bagus."Hilangnya dua masal

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 16

    Yoga dan Sandro telah membuat kesepakatan, tidak peduli siapa yang dipilih Wenny, yang lain harus menekan semua perasaan yang seharusnya tidak ada di dalam hati, dan mulai saat itu hanya menjadi teman biasa.Namun, keduanya tidak menyangka bahwa Wenny tidak memilih siapa pun.Kenapa bisa begini?Kenapa hasil dari tekanan ini justru menjadi seperti ini?Yoga dan Sandro saling memandang, dengan sedikit rasa kesal yang muncul di hati masing-masing.Kenapa saat itu mereka bisa terpikirkan ide buruk ini?Kalaupun saat itu mereka bertindak lebih cepat atau lebih lambat, mungkin hubungan pertemanan mereka bertiga bisa tetap seperti sebelumnya. Itu jelas lebih baik daripada sekarang, bahkan untuk bertemu satu sama lain saja sangat sulit.Helikopter mendarat di atap Vila Teluk.Keduanya dilempar begitu saja oleh para pengawal, tanpa sedikit pun mempertimbangkan keadaan mereka. Tak lama kemudian, helikopter itu kembali lepas landas.Mendengar suara gemuruh dari atap, Hana segera naik untuk memer

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 17

    Air mata Hana pun berhenti mengalir, kedua tangannya terkulai lemas, wajahnya penuh kebingungan saat menatap Yoga dan Sandro.Dia tidak mengerti kenapa sikap mereka terhadapnya berubah begitu cepat?Dulu, setiap kali dia menangis, mereka selalu sangat cemas.Namun, sekarang yang tersisa hanyalah ketidakpedulian.Seakan-akan, meskipun dia menangis sampai air matanya kering, mereka tidak akan tergerak sedikit pun.Hana tidak berani mengakui segala perbuatannya yang sudah memprovokasi Wenny, dan segala hal yang dia lakukan untuk menjebak gadis itu.Dia menutup mulutnya rapat-rapat, lalu memohon kepada Sandro dengan hampir putus asa."Sandro, aku nggak melakukan apa-apa, percayalah padaku, oke? Kak Wenny sudah banyak membantuku. Aku sangat berterima kasih padanya, mana mungkin aku berbuat buruk padanya?""Kalau orang yang ada di hati kalian adalah dia, maka ... aku bisa pindah dari sini ...."Sambil berkata begitu, Hana memaksakan air mata yang seolah-olah tidak mau berhenti."Apa Kak Wenn

Bab terbaru

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 29

    Yoga melihat pernikahan megah Wenny di berbagai berita.Dia menatap foto Cakra di ponselnya dengan penuh kemarahan yang terus bergolak dalam hati."Pasti ini ulah Cakra, 'kan?"Pasti begitu!Setelah memikirkan itu, tanpa peduli pada larangan Bu Fanny dan Bu Shinta, dia bergegas keluar dari rumah sakit.Di kediaman Keluarga Gunawan.Hari ini adalah hari pertama pernikahan Cakra dan Wenny.Cakra, yang jarang bersantai, memeluk Wenny di ranjang, menikmati momen kebersamaan.Cahaya matahari lembut dan udara segar di luar jendela tidak lagi menarik perhatian mereka.Namun, suasana tenang itu tiba-tiba pecah oleh dering bel pintu yang keras.Cakra mengernyit, tidak menyangka ada yang mengganggu mereka di saat seperti ini.Dia mengenakan pakaian tidur seadanya dan berjalan ke pintu.Begitu pintu dibuka, tinju Yoga langsung melayang ke arahnya.Cakra dengan gesit menghindar ke samping dan menangkap tangan Yoga dengan erat."Kenapa kamu begitu gila?"Yoga kini tampak kacau dengan mata yang gela

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 28

    Setelah tayangan ucapan selamat selesai, dilanjutkan dengan siaran langsung pernikahan sesungguhnya antara Wenny dan Cakra.Saat itu juga, mereka berada di bekas kediaman pangeran di Kota Jintara, mengadakan pernikahan dengan gaya tradisional.Seluruh istana dengan ukiran indah di kediaman itu dihiasi kain sutra. Suara seruling dan musik perayaan menyelimuti hati setiap orang yang hadir.Di bawah tatapan semua orang, Cakra mengenakan pakaian pengantin tradisional, menunggang kuda gagah, diikuti tandu pernikahan di belakangnya.Dengan iringan suara tabuhan gong dan gendang, rombongan pengantin melemparkan koin emas murni dan berbagai permen serta makanan ringan perayaan ke arah kerumunan.Banyak orang berbondong-bondong mengumpulkan koin emas dan permen itu sambil mengucapkan berbagai doa selamat.Di saat yang sama, para tamu di dalam taman juga menerima hadiah berupa emas batangan kecil dan aneka permen serta kue.Kemewahan pernikahan ini membuat semua orang tertegun.Yoga dan Sandro m

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 27

    Jika menyerah begitu saja, lalu apa arti cinta yang mereka pertahankan selama bertahun-tahun ini?Apa sebenarnya arti dua puluh tahun lebih kebersamaan ini?Apakah cinta yang terjalin selama bertahun-tahun itu kalah dengan seseorang yang baru dikenal selama dua puluh hari?Mata Yoga dan Sandro dipenuhi dengan kobaran tekad.Mereka serempak berkata pada satu sama lain, "Kita bekerja sama. Setelah itu, kita bertindak sesuai kemampuan masing-masing!"Hampir tanpa perlu berkomunikasi, mereka segera mengatur rencana masing-masing.Sandro meminta foto-foto lama yang tersisa di rumah dari Bu Fanny dan Bu Shinta, yang mencatat masa lalu mereka selama lebih dari dua puluh tahun.Sayangnya, tidak banyak foto bersama yang tersisa, sebagian besar telah dibakar oleh Wenny.Foto yang bisa ditemukan kebanyakan hanya foto mereka saat masih kecil, seorang diri.Meski begitu, mereka merasa cukup puas.Setidaknya, itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.Sementara itu, Yoga menyusupkan orang ke dal

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 26

    Mata Sandro memerah hingga terlihat seperti penuh darah, kedua tangannya mengepal erat, lalu dengan keras dia melayangkan pukulan ke arah Cakra."Kenapa harus dia? Aku nggak terima! Wenny, asalkan kamu nggak menikah, aku akan membawamu kabur! Ke luar negeri, atau kembali ke Kota Hanis, ke mana pun yang kamu mau, akan kuturuti!"Namun, Cakra bisa dengan mudah menghindari pukulan Sandro, dia hanya memiringkan wajahnya sedikit, membiarkan tinju itu meleset dan hanya menyapu wajahnya.Lukanya tidak terlalu parah, tetapi tetap meninggalkan bekas merah yang mencolok."Sss … "Cakra menutupi pipinya yang sedikit terluka, menarik napas pelan, dan wajahnya meringis karena kesakitan.Meski begitu, ketampanannya sama sekali tidak luntur.Melihat Cakra terluka, Wenny merasa sangat kasihan. Dia memegang tangan Cakra, berusaha untuk melihat lukanya lebih dekat."Nggak apa-apa, aku nggak terluka, nggak sakit kok."Cakra berpura-pura santai dan tersenyum.Namun, makin dia berusaha tersenyum, makin Wen

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 25

    Wenny dan Cakra saling menggenggam tangan, menatap Yoga dan Sandro dengan agak waspada.Melihat tatapan itu, Sandro merasa sangat terluka."Wenny, kita ini sahabat sejak kecil. Kenapa kamu memandangku seperti itu?"Wenny mengerutkan alisnya, tidak ingin membuang waktu membahas hal-hal tidak berguna.Lagi pula, bukankah mereka sendiri yang memutuskan hubungan bertahun-tahun itu sejak awal?Dengan pandangan datar, dia menatap kedua pria itu dan berkata dengan tenang."Nggak perlu mengatakan hal-hal seperti itu. Aku harus pulang. Kalau ada yang mau kalian katakan, cepatlah."Mendengar itu, Sandro ingin bicara, tetapi Yoga segera memotongnya.Yoga berdiri di depan Wenny dengan tatapan penuh tekad di mata dinginnya."Wenny, dulu kami memang salah. Kami nggak pernah benar-benar menyukai Hana. Kami hanya memanfaatkan dia untuk membuatmu cemburu, agar kamu sadar siapa yang sebenarnya ada di hatimu. Kami nggak menyangka … "Dia pun menjelaskan nasib Hana dan alasan mereka memperlakukan Wenny se

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 24

    Cakra sengaja memberi instruksi kepada anak buahnya untuk mengendurkan pengawasan terhadap Yoga dan Sandro.Bukan berarti dia lengah, melainkan dia sengaja memberikan peluang agar mereka masuk jebakan. Dengan begitu, dia bisa bersiap lebih dulu.Setelah menerima perintah itu, anak-anak buahnya segera melaksanakan tugas.Pada saat yang sama, Cakra sengaja memberitahukan kabar kedatangan Yoga dan Sandro ke Kota Jintara kepada orang tua Wenny, Pak Haris dan Bu Maya."Apa? Mereka sudah memperlakukan Wenny seperti itu, tapi masih berani datang ke pernikahannya?"Bu Maya langsung naik pitam begitu mendengar kabar itu.Dulu, dia selalu memuji Yoga dan Sandro.Dia bahkan menganggap mereka calon menantu yang ideal.Namun kini, mereka benar-benar tidak seharusnya bermain-main dengan nyawa Wenny!Waktu Hana menyakiti Wenny, bagaimana perasaan Wenny saat itu?Terlebih lagi, sahabat masa kecilnya yang selalu berada di sisinya sejak kecil justru bersikap dingin hanya karena bunga yang diberikan wani

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 23

    Wenny sedang mencoba gaun pengantin saat ponselnya tiba-tiba berbunyi beberapa kali.Dia sedang sibuk merapikan bagian bawah gaunnya, sehingga tidak sempat melihat pesan tersebut.Sambil menunduk, dia segera berkata, "Cakra, tolong lihat pesannya."Di sebelahnya, Cakra mengenakan setelan jas hitam yang membuat tubuhnya terlihat makin tinggi dan tegap."Baik."Pria itu bersandar ringan di dinding, mengambil ponsel Wenny, lalu memasukkan inisial nama dan tanggal lahir Wenny untuk membuka kunci layar.Saat melihat pesan dari Tante Reyna, Cakra terdiam sejenak, kemudian membacakan isi pesan itu."Wenny, Yoga dan Sandro bilang ingin menghadiri pernikahanmu. Menurutmu ... bagaimana? Apa kamu mau mengizinkan mereka datang?"Tatapan Cakra agak muram dan suaranya mengandung nada cemburu. "Wenny, menurutmu bagaimana? Apa mereka boleh datang ke pernikahan kita?"Cakra melangkah maju, berdiri di belakang Wenny, mengisyaratkan kepada asisten di sampingnya untuk pergi. Dia sendiri yang membantu mera

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 22

    Hana dengan gigih berlutut di luar vila selama sehari semalam, hingga akhirnya tubuhnya tidak kuat lagi dan dia pingsan.Ketika terbangun, dia tidak menemukan sosok Yoga atau Sandro di sekitarnya.Dia malah berada di rumah sewaannya.Dari luar kamar terdengar suara Pak Rendra dan Bu Linda yang sedang berdiskusi."Hari ini kita pulang saja. Kita nggak bisa terus tinggal di sini. Hana nggak akan patuh. Selama dia punya kaki, pasti dia akan kabur lagi. Kita bawa saja dia pulang selagi dia masih pingsan!"Bu Linda berkata dengan nada cemas.Pak Rendra mengangguk setuju dan hanya menjawab, "Baiklah."Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Hana dengan cepat berjuang untuk bangkit dan lari keluar.Dia bahkan tidak sempat memakai sepatu, tetapi masih sempat menyambar ponselnya.Hana tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Yoga dan Sandro begitu dingin padanya.Di tengah kebingungannya, mendadak Hana teringat pada Wenny."Benar! Dia begitu baik hati dan mudah luluh. Dia pasti akan memaa

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 21

    Suara dingin petugas keamanan kota itu menusuk hati Hana tanpa ampun.Dia mengentakkan kaki dengan marah, dan menjawab dengan kesal, "Baiklah, aku pergi sekarang!"Baru saja Hana selesai menelepon mobil pindahan untuk membawa barang-barangnya.Akan tetapi, dia tidak tahu harus ke mana, sementara pengemudi mulai tidak sabar dan berulang kali bertanya ke mana dia akan pergi.Setelah waktu yang lama, dengan enggan dia menyebutkan nama kompleks tempat dia tinggal sebelumnya. "Ayo pergi ke Kompleks Lavender.Dia terpaksa menghubungi pemilik rumah lama untuk membahas perpanjangan sewa.Untungnya, baru beberapa hari berlalu, jadi rumah itu belum sempat disewakan ke orang lain.Saat Hana tiba di Kompleks Lavender, dia langsung disambut oleh keluarga besarnya yang menunggu di gerbang kompleks.Meski penampilan Keluarga Susilo sederhana dan kuno, mereka terlihat cukup bersih dan rapi.Namun, di dalam hati, Hana merasa muak. Wajar saja sikapnya terhadap mereka sangat buruk.Dia bahkan ingin memin

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status