Share

Bab 3

Penulis: Ayu Azalea
Melihat dua pria di depannya yang terlihat tegang, Wenny berkata dengan tenang, "Ini hanya foto saja, bisa difoto lagi nanti."

"Karena sudah habis terbakar, nanti kita foto ulang saja. Kebetulan kita sudah lama nggak pergi liburan."

Yoga mencoba menenangkan situasi dan Sandro segera menambahkan, "Kali ini kita juga bisa ajak Hana. Dia sering bilang kalau dia belum pernah pergi liburan sebelumnya."

Mendengar kata-kata Sandro, Wenny kembali tersenyum pahit, menertawakan dirinya sendiri.

Yoga dan Sandro mengira dia setuju dengan usulan ini, dan langsung menghela napas lega.

Ketika mereka hendak masuk ke dalam, mereka melihat beberapa kotak besar yang tiba-tiba ada di ruang tamu. Tadi pagi saat mereka keluar, kotak-kotak ini belum ada di sana.

"Apa lagi ini?" Keduanya bertanya serempak.

Wenny melirik sejenak, lalu berkata, "Oh, aku sudah mengundurkan diri, rencananya mau cari pekerjaan baru."

Bukankah sebelumnya dia sangat menyukai pekerjaan ini?

Pertanyaan yang sama terlintas di benak Yoga dan Sandro.

Hari ini, sikap Wenny terasa sangat berbeda, dan entah kenapa, hati Yoga dan Sandro mulai gelisah.

Sandro hendak bertanya lebih lanjut, tetapi dering telepon tiba-tiba memecah keheningan.

Yoga menjawab telepon dan terdengar suara Hana di seberang yang panik dan kebingungan.

"Yoga, di rumahku tiba-tiba mati lampu. Aku takut sekali … aku harus bagaimana?"

Sandro, yang mendengarnya, langsung bereaksi cepat dan berbicara mendahului Yoga, "Hana, jangan takut. Aku akan segera ke sana."

Yoga mengernyitkan dahi, wajahnya yang biasanya tenang jelas menunjukkan ketegangan.

Karena begitu khawatir terhadap Hana, Yoga dan Sandro langsung mengambil kunci mobil dan buru-buru pergi.

Sementara itu, Wenny tetap tenang, dan setelah mereka pergi, dia menelepon tantenya.

Saat kecil, dia diasuh oleh tantenya, Reyna yang memperlakukannya dengan sangat baik, seperti anak sendiri.

Sekarang, karena akan pergi, dia ingin berpamitan dengan baik.

Mendengar bahwa Wenny ingin pulang untuk menikah, tantenya berbicara dengan berat hati, tetapi rasa kagetnya lebih besar. "Wenny, apa Yoga dan Sandro tahu kamu mau pulang untuk menikah?"

Wenny terdiam sejenak sebelum menjawab, "Mereka nggak tahu. Tante, tolong bantu aku merahasiakan ini. Aku nggak mau ada masalah lagi."

Setelah mendengar itu semua, Tante Reyna di ujung telepon terdiam sejenak.

Tante menghela napas panjang. "Aduh, memang, dari kecil hingga besar kamu itu kesayangan mereka. Siapa pun bisa melihat bahwa kedua anak itu menyukai kamu. Kalian selalu bersama, aku bahkan berpikir kamu akan memilih salah satu dari mereka untuk dinikahi, sayang sekali ...."

Wenny tersenyum tipis dan berkata dengan tenang, "Nggak ada yang perlu disayangkan. Kami memang nggak cocok."

Mendengar itu, Tante tidak memaksa lagi, hanya berkata, "Wenny, Tante tahu kamu pada akhirnya akan pulang. Tapi, Tante nggak menyangka akan secepat ini. Tante sudah melihatmu bertumbuh sejak kecil. Sebelum kamu pergi, mampir dulu ya. Kalau kamu sudah kembali ke Kota Jintara nanti, kita nggak tahu kapan bisa bertemu lagi ...."

Wenny tersenyum, suaranya terdengar sedikit manja. "Tentu saja, Tante. Aku punya beberapa hadiah untuk Tante. Aku juga sebenarnya nggak ingin berpisah dengan Tante."

Setelah itu, tantenya masih terus berbicara panjang lebar sebelum akhirnya menutup telepon.

Baru saja dia menutup telepon, telepon lain sudah masuk.

Kali ini, dari direktur perusahaan tempat Wenny bekerja.

"Wenny, karya desainmu sebelumnya memenangkan penghargaan mewakili perusahaan. Piala penghargaannya baru saja sampai. Karena kamu sudah mengundurkan diri dan belum mengambilnya, aku minta anak magang untuk mengantarnya ke rumahmu."

Begitu direktur selesai bicara, bel pintu berbunyi.

Wenny menutup telepon, membuka pintu, dan melihat Hana berdiri di sana sambil memegang piala penghargaan itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 4

    Hana memeluk piala itu, tetapi tidak ada kebahagiaan di wajahnya atas kemenangan Wenny. Dia juga tidak menyerahkan piala tersebut.Dia malah menggigit bibirnya dan berkata dengan wajah sedih, "Kak Wenny, Direktur menyuruhku mengantarkan piala ini untukmu. Penghargaan ini sangat bergengsi, kamu hebat sekali.""Aku mau meminta sesuatu, meski terdengar agak memalukan. Aku belum pernah menerima penghargaan ini, bisakah piala ini aku pinjam beberapa hari?"Meminjam piala ini beberapa hari?Ini pertama kalinya Wenny mendengar permintaan yang begitu konyol.Dia mengernyitkan dahi, lalu tersenyum dingin seraya berkata, "Kalau sudah tahu agak memalukan, sebaiknya jangan ajukan permintaan seperti itu. Kalau kamu benar-benar mau, ikut saja kompetisi itu dan menangkan sendiri."Setelah itu, dia mengulurkan tangannya untuk mengambil pialanya dari pelukan Hana.Tidak menyangka sikap Wenny begitu dingin, wajah Hana langsung pucat, tampak seperti sangat tertekan. "Kak Wenny, kenapa kamu bicara seperti

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 5

    Entah sejak kapan, telepon di tangan Wenny sudah terputus.Dia menenangkan emosinya sejenak, lalu berkata, "Sahabatku akan menikah, kenapa? Apa kalian mau ikut?"Saat ini, Yoga dan Sandro makin dingin terhadapnya. Setelah dia kembali ke Kota Jintara, mereka tidak akan bertemu lagi, bahkan mungkin tidak bisa dianggap sebagai teman lagi.Jadi, tidak perlu mengatakan yang sebenarnya kepada mereka, bahwa dia akan pulang ke Kota Jintara untuk menikah.Mendengar kata-kata itu, Yoga dan Sandro langsung saling berpandangan dan merasa agak aneh.Namun, mereka tidak terlalu memikirkannya, dan hanya berkata dengan santai, "Nggak, kamu saja yang pergi, aku sibuk di kantor."Setelah itu, seolah-olah masih marah karena Wenny membuat Hana terluka, dengan wajah dingin Yoga mengambil dokumen dan masuk ke ruang kerjanya.Sandro juga memasang wajah masam dan berkata, "Hari ini Hana sampai terluka karena kamu, sebaiknya kamu minta maaf padanya. Kalau nggak, aku nggak tertarik menemani kamu ke acara pernik

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 6

    Wenny akhirnya berhasil pulih dengan susah payah. Dia bersandar di dinding, memegang obat di tangannya dengan erat sambil menutupi wajahnya untuk menghalangi serbuk bunga masuk lagi.Belum sempat beristirahat sejenak, terdengar suara Yoga yang bertanya padanya.Apa kamu benar-benar membenci Hana? Dia baru saja memberikan bunga-bunga ini kepada kita, tapi kamu langsung menghancurkannya!Tak lama kemudian, suara Sandro yang penuh dengan kemarahan juga menyusul.Wenny, aku merasa kamu makin susah dipahami belakangan ini, bagaimana kamu bisa berubah seperti ini!Mendengar kata-kata itu, Wenny menarik napas dalam-dalam.Seluruh tubuhnya bergetar, marah dan kesal. Ada banyak kemarahan yang ingin diungkapkan, tetapi pada akhirnya, hanya menjadi suara yang terisak dengan mata berair.Aku yang berubah? Atau sebenarnya kalian yang berubah?Aku menderita asma dan alergi terhadap serbuk bunga, apa kalian nggak tahu?Suaranya lemah, tidak ada semangat sedikit pun.Setiap kata dan kalimatnya seperti

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 7

    Urusan rumah akhirnya sudah beres, Wenny pun bisa merasa lega.Beban yang dirasakannya langsung terasa jauh lebih ringan.Saat menandatangani kontrak, Wenny menyadari bahwa hari pengurusan dokumen properti itu ternyata tepat pada hari dia akan pergi.Kebetulan sekali. Jadi dia tidak perlu menjelaskan lagi ke Yoga dan Sandro.Saat menulis namanya di atas kertas, dia merasa sangat lega.Segalanya akan segera berakhir.Sekarang, hanya ada satu hal terakhir yang tersisa.Dia pergi ke pusat perbelanjaan. Di sana, dia memilih dan membeli sebuah alat pijat serta sebuah perhiasan gelang dengan cermat, lalu pergi ke rumah tantenya.Begitu dia masuk, Tante Reyna langsung memeluk Wenny dengan erat.Wenny, aku benar-benar nggak rela kamu pergi. Kamu sudah bertahun-tahun tinggal di Kota Hanis, aku sudah menganggapmu seperti anak kandungku sendiri. Aku nggak terbayang hidup tanpa kamu.Tante Reyna menghapus air matanya, menggenggam tangan Wenny dengan erat dan tidak mau melepaskannya.Wenny juga tid

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 8

    Wenny berbalik dan hendak pergi. Setelah kedua orang itu memastikan bahwa dia tidak marah, barulah mereka merasa lega.Yoga melangkah maju, lalu menggenggam tangannya. "Nggak perlu merapikan koper, terlalu banyak dan melelahkan. Nanti aku akan suruh sopirku datang, lalu kita akan pindah ke rumah baru bersama-sama."Sandro juga mengangguk setuju.Di saat itu, Wenny merasa seperti melihat kembali dirinya yang dulu selalu menjadi prioritas utama mereka.Dulu, saat masih kecil, setiap Wenny berbicara, mereka akan menanggapinya dengan tawa.Namun, sekarang janji di masa muda itu telah berubah menjadi sekadar kata-kata tanpa makna.Wenny melirik Hana sambil menggelengkan kepala, "Nggak perlu, banyak hal yang harus aku atur sendiri."Setelah mengatakan itu, tanpa memperhatikan ekspresi kedua orang itu, dia langsung berbalik dan pergi.Setibanya di rumah, dia membereskan koper, lalu membersihkan diri. Setelah itu, saat baru saja berbaring, tiba-tiba dia mendapat telepon dari Hana.Dari ujung t

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 9

    Selanjutnya, Yoga dan Sandro duduk di meja di sebelah Wenny bersama Hana.Kedua anak muda itu berebut menyiapkan makanan untuk Hana, dengan mata penuh kasih sayang.Melihat pemandangan itu, Maudy merasa kesal sampai steik di piringnya hancur, tetapi Wenny tetap terlihat tenang. Akhirnya Maudy memilih untuk diam dan tidak mengatakan apa-apa.Tidak lama kemudian, mereka selesai makan malam dan pergi bersama.Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Maudy, Wenny kembali ke rumah.Malam itu, Yoga dan Sandro masih belum pulang.Wenny juga tidak peduli, dia sibuk mengemas barang-barang terakhirnya.Pagi-pagi, dia mendengar suara langkah kaki dari luar, jadi dia tahu bahwa Yoga dan Sandro sudah pulang.Mereka seharusnya memang sudah pulang, karena hari ini adalah hari mereka pindah ke rumah baru.Hanya saja mereka tidak tahu, di rumah baru mereka, di masa depan mereka, tidak akan ada Wenny lagi.Suara gaduh di luar makin keras, sepertinya mereka sedang memindahkan barang-barang. Wenny berpu

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 10

    Wenny naik ke pesawat tanpa menoleh sedikit pun. Dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Yoga dan Sandro.Pesawat lepas landas dan dia merasakan kelegaan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.Namun, di Vila Teluk di Kota Hanis, suasananya sangat tegang.Sudah tiga jam berlalu. Yoga dan Sandro tiba di Vila Teluk bersama Hana, tetapi mereka belum juga melihat sosok Wenny.Di dalam vila hanya ada barang-barang mereka bertiga, sementara barang-barang Wenny tidak terlihat.Yoga merasa sangat gelisah, seolah-olah ada sesuatu yang tidak terduga sedang terjadi.Sandro duduk di sofa, wajahnya juga terlihat sangat cemas.Hana sudah tahu apa yang sedang terjadi, tetapi dia memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa.Melihat kedua pria itu diam saja, akhirnya dia mencoba bicara untuk memecah keheningan."Mungkin Kak Wenny belum selesai berkemas. Bagaimana kalau kita suruh orang lain mengatur semuanya dulu? Lagi pula, kita 'kan masih ada rencana makan malam bersama. Kak W

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 11

    Barulah kini Sandro menyadari dan mengingat semuanya.Selama ini, semua kejanggalan dari Wenny tiba-tiba muncul di benaknya sekaligus.Yoga juga terdiam.Mungkin sejak lebih dari sebulan yang lalu, Wenny sudah merencanakan untuk pergi.Apakah pengaruh Hana terhadap Wenny begitu besar?Baru saja mereka berpikir tentang Hana, telepon Hana langsung masuk."Sandro, Yoga, aku sudah menunggu kalian di restoran. Tadi 'kan sudah janji kita akan makan bersama untuk merayakan, kalian di mana?"Sandro memegang ponsel, tetapi tidak segera menjawab.Setelah lama, akhirnya dia berbicara dengan suara serak, "Hana, kita tunda dulu makan bersamanya. Nanti kita atur lagi."Wenny sudah tidak ada lagi di sini, apa artinya lagi makan bersama?Yoga tetap diam, menatap ponselnya yang pecah berkeping-keping di lantai. Entah apa yang ada di pikirannya.Tiba-tiba, seorang agen properti yang pernah mereka temui, datang bersama seorang pria yang mengenakan jaket abu-abu."Pak, bagaimana menurut Anda rumah ini … "

Bab terbaru

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 29

    Yoga melihat pernikahan megah Wenny di berbagai berita.Dia menatap foto Cakra di ponselnya dengan penuh kemarahan yang terus bergolak dalam hati."Pasti ini ulah Cakra, 'kan?"Pasti begitu!Setelah memikirkan itu, tanpa peduli pada larangan Bu Fanny dan Bu Shinta, dia bergegas keluar dari rumah sakit.Di kediaman Keluarga Gunawan.Hari ini adalah hari pertama pernikahan Cakra dan Wenny.Cakra, yang jarang bersantai, memeluk Wenny di ranjang, menikmati momen kebersamaan.Cahaya matahari lembut dan udara segar di luar jendela tidak lagi menarik perhatian mereka.Namun, suasana tenang itu tiba-tiba pecah oleh dering bel pintu yang keras.Cakra mengernyit, tidak menyangka ada yang mengganggu mereka di saat seperti ini.Dia mengenakan pakaian tidur seadanya dan berjalan ke pintu.Begitu pintu dibuka, tinju Yoga langsung melayang ke arahnya.Cakra dengan gesit menghindar ke samping dan menangkap tangan Yoga dengan erat."Kenapa kamu begitu gila?"Yoga kini tampak kacau dengan mata yang gela

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 28

    Setelah tayangan ucapan selamat selesai, dilanjutkan dengan siaran langsung pernikahan sesungguhnya antara Wenny dan Cakra.Saat itu juga, mereka berada di bekas kediaman pangeran di Kota Jintara, mengadakan pernikahan dengan gaya tradisional.Seluruh istana dengan ukiran indah di kediaman itu dihiasi kain sutra. Suara seruling dan musik perayaan menyelimuti hati setiap orang yang hadir.Di bawah tatapan semua orang, Cakra mengenakan pakaian pengantin tradisional, menunggang kuda gagah, diikuti tandu pernikahan di belakangnya.Dengan iringan suara tabuhan gong dan gendang, rombongan pengantin melemparkan koin emas murni dan berbagai permen serta makanan ringan perayaan ke arah kerumunan.Banyak orang berbondong-bondong mengumpulkan koin emas dan permen itu sambil mengucapkan berbagai doa selamat.Di saat yang sama, para tamu di dalam taman juga menerima hadiah berupa emas batangan kecil dan aneka permen serta kue.Kemewahan pernikahan ini membuat semua orang tertegun.Yoga dan Sandro m

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 27

    Jika menyerah begitu saja, lalu apa arti cinta yang mereka pertahankan selama bertahun-tahun ini?Apa sebenarnya arti dua puluh tahun lebih kebersamaan ini?Apakah cinta yang terjalin selama bertahun-tahun itu kalah dengan seseorang yang baru dikenal selama dua puluh hari?Mata Yoga dan Sandro dipenuhi dengan kobaran tekad.Mereka serempak berkata pada satu sama lain, "Kita bekerja sama. Setelah itu, kita bertindak sesuai kemampuan masing-masing!"Hampir tanpa perlu berkomunikasi, mereka segera mengatur rencana masing-masing.Sandro meminta foto-foto lama yang tersisa di rumah dari Bu Fanny dan Bu Shinta, yang mencatat masa lalu mereka selama lebih dari dua puluh tahun.Sayangnya, tidak banyak foto bersama yang tersisa, sebagian besar telah dibakar oleh Wenny.Foto yang bisa ditemukan kebanyakan hanya foto mereka saat masih kecil, seorang diri.Meski begitu, mereka merasa cukup puas.Setidaknya, itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.Sementara itu, Yoga menyusupkan orang ke dal

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 26

    Mata Sandro memerah hingga terlihat seperti penuh darah, kedua tangannya mengepal erat, lalu dengan keras dia melayangkan pukulan ke arah Cakra."Kenapa harus dia? Aku nggak terima! Wenny, asalkan kamu nggak menikah, aku akan membawamu kabur! Ke luar negeri, atau kembali ke Kota Hanis, ke mana pun yang kamu mau, akan kuturuti!"Namun, Cakra bisa dengan mudah menghindari pukulan Sandro, dia hanya memiringkan wajahnya sedikit, membiarkan tinju itu meleset dan hanya menyapu wajahnya.Lukanya tidak terlalu parah, tetapi tetap meninggalkan bekas merah yang mencolok."Sss … "Cakra menutupi pipinya yang sedikit terluka, menarik napas pelan, dan wajahnya meringis karena kesakitan.Meski begitu, ketampanannya sama sekali tidak luntur.Melihat Cakra terluka, Wenny merasa sangat kasihan. Dia memegang tangan Cakra, berusaha untuk melihat lukanya lebih dekat."Nggak apa-apa, aku nggak terluka, nggak sakit kok."Cakra berpura-pura santai dan tersenyum.Namun, makin dia berusaha tersenyum, makin Wen

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 25

    Wenny dan Cakra saling menggenggam tangan, menatap Yoga dan Sandro dengan agak waspada.Melihat tatapan itu, Sandro merasa sangat terluka."Wenny, kita ini sahabat sejak kecil. Kenapa kamu memandangku seperti itu?"Wenny mengerutkan alisnya, tidak ingin membuang waktu membahas hal-hal tidak berguna.Lagi pula, bukankah mereka sendiri yang memutuskan hubungan bertahun-tahun itu sejak awal?Dengan pandangan datar, dia menatap kedua pria itu dan berkata dengan tenang."Nggak perlu mengatakan hal-hal seperti itu. Aku harus pulang. Kalau ada yang mau kalian katakan, cepatlah."Mendengar itu, Sandro ingin bicara, tetapi Yoga segera memotongnya.Yoga berdiri di depan Wenny dengan tatapan penuh tekad di mata dinginnya."Wenny, dulu kami memang salah. Kami nggak pernah benar-benar menyukai Hana. Kami hanya memanfaatkan dia untuk membuatmu cemburu, agar kamu sadar siapa yang sebenarnya ada di hatimu. Kami nggak menyangka … "Dia pun menjelaskan nasib Hana dan alasan mereka memperlakukan Wenny se

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 24

    Cakra sengaja memberi instruksi kepada anak buahnya untuk mengendurkan pengawasan terhadap Yoga dan Sandro.Bukan berarti dia lengah, melainkan dia sengaja memberikan peluang agar mereka masuk jebakan. Dengan begitu, dia bisa bersiap lebih dulu.Setelah menerima perintah itu, anak-anak buahnya segera melaksanakan tugas.Pada saat yang sama, Cakra sengaja memberitahukan kabar kedatangan Yoga dan Sandro ke Kota Jintara kepada orang tua Wenny, Pak Haris dan Bu Maya."Apa? Mereka sudah memperlakukan Wenny seperti itu, tapi masih berani datang ke pernikahannya?"Bu Maya langsung naik pitam begitu mendengar kabar itu.Dulu, dia selalu memuji Yoga dan Sandro.Dia bahkan menganggap mereka calon menantu yang ideal.Namun kini, mereka benar-benar tidak seharusnya bermain-main dengan nyawa Wenny!Waktu Hana menyakiti Wenny, bagaimana perasaan Wenny saat itu?Terlebih lagi, sahabat masa kecilnya yang selalu berada di sisinya sejak kecil justru bersikap dingin hanya karena bunga yang diberikan wani

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 23

    Wenny sedang mencoba gaun pengantin saat ponselnya tiba-tiba berbunyi beberapa kali.Dia sedang sibuk merapikan bagian bawah gaunnya, sehingga tidak sempat melihat pesan tersebut.Sambil menunduk, dia segera berkata, "Cakra, tolong lihat pesannya."Di sebelahnya, Cakra mengenakan setelan jas hitam yang membuat tubuhnya terlihat makin tinggi dan tegap."Baik."Pria itu bersandar ringan di dinding, mengambil ponsel Wenny, lalu memasukkan inisial nama dan tanggal lahir Wenny untuk membuka kunci layar.Saat melihat pesan dari Tante Reyna, Cakra terdiam sejenak, kemudian membacakan isi pesan itu."Wenny, Yoga dan Sandro bilang ingin menghadiri pernikahanmu. Menurutmu ... bagaimana? Apa kamu mau mengizinkan mereka datang?"Tatapan Cakra agak muram dan suaranya mengandung nada cemburu. "Wenny, menurutmu bagaimana? Apa mereka boleh datang ke pernikahan kita?"Cakra melangkah maju, berdiri di belakang Wenny, mengisyaratkan kepada asisten di sampingnya untuk pergi. Dia sendiri yang membantu mera

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 22

    Hana dengan gigih berlutut di luar vila selama sehari semalam, hingga akhirnya tubuhnya tidak kuat lagi dan dia pingsan.Ketika terbangun, dia tidak menemukan sosok Yoga atau Sandro di sekitarnya.Dia malah berada di rumah sewaannya.Dari luar kamar terdengar suara Pak Rendra dan Bu Linda yang sedang berdiskusi."Hari ini kita pulang saja. Kita nggak bisa terus tinggal di sini. Hana nggak akan patuh. Selama dia punya kaki, pasti dia akan kabur lagi. Kita bawa saja dia pulang selagi dia masih pingsan!"Bu Linda berkata dengan nada cemas.Pak Rendra mengangguk setuju dan hanya menjawab, "Baiklah."Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Hana dengan cepat berjuang untuk bangkit dan lari keluar.Dia bahkan tidak sempat memakai sepatu, tetapi masih sempat menyambar ponselnya.Hana tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Yoga dan Sandro begitu dingin padanya.Di tengah kebingungannya, mendadak Hana teringat pada Wenny."Benar! Dia begitu baik hati dan mudah luluh. Dia pasti akan memaa

  • Cinta Rumit Tiga Sekawan   Bab 21

    Suara dingin petugas keamanan kota itu menusuk hati Hana tanpa ampun.Dia mengentakkan kaki dengan marah, dan menjawab dengan kesal, "Baiklah, aku pergi sekarang!"Baru saja Hana selesai menelepon mobil pindahan untuk membawa barang-barangnya.Akan tetapi, dia tidak tahu harus ke mana, sementara pengemudi mulai tidak sabar dan berulang kali bertanya ke mana dia akan pergi.Setelah waktu yang lama, dengan enggan dia menyebutkan nama kompleks tempat dia tinggal sebelumnya. "Ayo pergi ke Kompleks Lavender.Dia terpaksa menghubungi pemilik rumah lama untuk membahas perpanjangan sewa.Untungnya, baru beberapa hari berlalu, jadi rumah itu belum sempat disewakan ke orang lain.Saat Hana tiba di Kompleks Lavender, dia langsung disambut oleh keluarga besarnya yang menunggu di gerbang kompleks.Meski penampilan Keluarga Susilo sederhana dan kuno, mereka terlihat cukup bersih dan rapi.Namun, di dalam hati, Hana merasa muak. Wajar saja sikapnya terhadap mereka sangat buruk.Dia bahkan ingin memin

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status