"Bilang aja saya kakak kamu.” Ucap Daniel memecah keheningan, dalam mobil mewah berwarna hitam miliknya.
Hari ini Daniel memaksaku untuk ikut dengannya berangkat ke kampus. Dan ini kali pertama aku menaiki mobil mewah. “Bilang sama siapa, Bos?” Tanyaku heran. Hidungku mengendus perlahan, mencium wangi parfum mobil beraroma kopi yang menyegarkan. “Sama Abang kamu!” Aku melirik Daniel. Laki-laki keturunan Surabaya Turki yang mempunyai tampang manis dengan sedikit jambang dan hidung mancung. Kulitnya putih bersih dan sedikit berotot. Daniel sangat suka olahraga, dia terlihat energik. Aku selalu terpesona melihatnya. “Oh...” Jawabku singkat. Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan Surabaya yang padat. Aku memperhatikan trotoar jalanan yang dipenuhi dengan para pedagang kaki lima dengan berbagai masakan khas Jawa Timur di pagi hari. “Kamu kenapa nggak mau berangkat bareng Salman?” Daniel belum puas membahas Salman. “Nggak apa-apa, Bos.” Timpalku. Sebenarnya, selain aku malas meladeni Salman, aku juga merasa malu menaiki mobil mewah. Jika Daniel tidak memaksa, aku pun tidak mau ikut dengannya kali ini. Aku malu dengan penampilanku yang kucel. Bedak tipis tanpa lipstick, rambut terurai natural tanpa sentuhan salon, membuatku merasa tidak pantas menaiki mobil dan duduk di sampingnya. “Udah sampe.” Daniel melihat ke arahku. Mata kami bertemu. Jantungku seketika berdebar kencang. Aku menunduk malu. “Makasih, Bos.” Ucapku dg senyuman. “Sama-sama.” Jawab Daniel sembari membalas senyumku. Aku membuka pintu mobil, lalu turun dan menutupnya kembali. “Sofi.” Daniel membuka kaca mobilnya dan memanggilku. “Iya, Bos.” Aku menoleh. “Tuh, ada yang nungguin.” Dia menunjuk dengan matanya ke arah seorang laki-laki yang ternyata itu adalah Salman. “Apaan sih, Bos?!” Aku memonyongkan bibirku. “Inget, bilang aja saya kakak kamu, biar dia nggak cemburu.” Aku memelototinya. Daniel langsung menutup kaca dan melajukan mobilnya dengan cepat. “Iiiiiih.. Bos bunglon. Bentar-bentar baik, bentar-bentar jahat.” Aku menggerutu kesal. Aku berjalan menyusuri jalanan kampus menuju kantin. Aku tidak memperdulikan Salman yang sedang memperhatikanku. Aku pura-pura tidak sadar dengan keberadaannya. *** “Sofi, I miss you!” Rena datang memelukku yang sedang duduk di kantin. Sudah beberapa hari Rena izin tidak masuk kuliah karena sakit. “Miss you too.” Aku mencubit pipi Rena. “Aww... Sakit tahu!” Rena menjerit. Aku menertawainya. “Kangen tapi nggak kerumah. Sahabat macam apa kamu, ha?! Aku sakit, nggak dijenguk." Rena cemberut. “Seandainya hidup aku enak kayak kamu. Gak harus mikirin gimana caranya dapet duit. Mungkin aku bakal dateng ke rumah kamu tiap hari." "Hemm.. Masa?" Rena menyenggolku. "Aku kan gak punya siapa-siapa disini, Ren. Sahabat juga cuma satu, kamu.” Jelasku. “Oke deh. Udah jangan sedih-sedih! Yang penting kamu sekarang udah nggak bingung buat dapet uang sekaligus masih bisa kuliah.” Aku memeluk Rena. “Aku nggak tahu kapan aku bisa hidup enak kayak kamu.” Ucapku dengan tetasan air mata yang segera kuseka karena malu. “Sofi, percaya deh! semua akan indah pada waktunya.” Rena melepaskan pelukanku. Dia menepuk punggungku untuk menguatkan. “Kamu mungkin ngeliat hidupku enak, aku gak perlu kerja buat kuliah. Bisa beli semua yang aku butuhin. Tapi, jauh di dalam lubuk hatiku. Aku sakit." Aku tahu, Rena juga tidak mudah menjalani kehidupannya. Kedua orang tuanya masih lengkap, tapi dia selalu merasa kesepian. Kalaupun orang tuanya ada di rumah, mereka selalu membuat keributan. Rumahnya ramai dengan teriakan dari keduanya. Aku pernah diajak bermalam di rumah Rena. Aku menyaksikan bagaimana orang tua Rena berkelahi dengan hebat tanpa memikirkan perasaannya. Rena menangis semalaman setelah mendengar keributan orang tuanya yang tak pernah usai. Karenanya, Rena lebih suka kedua orang tuanya tidak pulang ke rumah. Harapan terburuk Rena adalah berharap keduanya bisa bercerai dengan baik dari pada mempertahankan pernikahan yang sakit. Sayangnya, orang tua Rena lebih memilih bertahan untuk menjaga nama baiknya. “Nggak apa-apa Ren. Setiap orang punya jalan ujiannya masing-masing. Aku tahu, kamu wanita kuat.” “Kamu juga. Sayangnya, kamu nggak mau jadi maid dirumahku.” Rena melipat tangannya dengan wajah cemberut. “Aku nggak bisa, Ren. Kamu terlalu baik. Aku pasti ngerepotin kamu terus kalo aku jadi maid kamu.” Rena memang pernah menawariku untuk menjadi maid dirumahnya. Tapi aku segan, Rena terlalu baik. Dia sering membantuku dalam banyak hal. Rena sudah lebih dari seorang teman untukku. Bahkan dia sering mendahulukan aku dari pada dirinya sendiri. Aku tidak mau lebih merepotkan, meskipun dia tidak pernah keberatan setiap kali aku meminta bantuannya. “Kan, best friend.” Ucap Rena tulus. Kami tertawa. “Mau dong jadi best friend.” Salman nyeletuk sambil menyodorkan dua orange jus kesukaanku. Aku dan Rena salaing pandang. “Nggak usah, Bang. Makasih.” Aku menolaknya halus. “Nggak papa kali, Sof.” Rena mengambilnya dan memberikannya satu padaku. Aku memeloti Rena, tapi dia memaksaku untuk menerimanya. “Makasih, Bang.” Aku terpaksa menerimanya karena Rena. “So, aku best friend kalian nih, sekarang.” Aku melihat Rena. Rena asik menyeruput minumannya. “Kita udah temen kok, Bang. Nggak usah ada embel-embel best friend segala.” “Enggak, enggak, Sofi. Dia sekarang best friend kita.” Rena mulai membuatku kesal. Kenapa dia selalu memutuskan seenaknya sendiri. “Terserah, lah! Aku mau masuk kelas.” Aku berdiri dan berjalan kekelas. “Sofi.” Salman mengejarku di belakang. “Maaf deh.. Oke, kita temenan biasa aja. Aku nggak perlu jadi best friend kamu, kok. Yang penting kamu nggak ngejauhin aku.” Aku terus berjalan mengacuhkan Salman. “Sofi.” Salman menarik tanganku. Aku melempar tangan Salman kesal. “Hei! Nggak usah pegang-pegang!” Aku membentaknya. “Sorry, Sorry. Aku cuma mau kamu nerima aku sebagai teman kamu. Nggak lebih, kok. Tapi kalau kamu mau, kita boleh pacaran.” “Boleh.” Sahut Rena dari belakang Salman. “Okey, sorry. Man, kita temenan aja, yah. Best friend aku cukup Rena aja. Kita belum buka lowongan lagi." "Maaf, yah..” Rena meraih tanganku. “Maaf.” Aku masih merengut melihat Rena. “Jangan marah, dong. Aku bercanda.” “Iya, Sof. Aku juga minta maaf. Jangan sampe persahabatan kalian putus gara-gara aku.” Salman pergi meninggalkan kami.Tidak seperti biasa, hari ini badanku terasa kurang fit. Aku menatap langit-langit kamarku. Aku meraih selimut disamping tempat tidurku dan mulai meringkuk didalamnya. Aku merasa badanku panas, tapi rasanya dingin sekali. Kemarin, aku kehujanan saat pulang kuliah. Tapi malam sebelum aku tidur, rasanya badanku masih sehat. Tiba-tiba aku meriang ditengah malam. Pagi ini, kepalaku pening, badanku lemah. Aku tak mampu berdiri. Tanganku keluar dari dalam selimut. Menggapai ponsel di atas meja samping kasur. Aku melihat jam, sudah pukul 08.00, aku belum sarapan. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Rena. Aku berusaha menghubunginya kembali. Aku akan memintanya datang dan membawa sarapan. Beberapa kali aku menghubunginya, Rena tetap tidak menjawab panggilanku.Tok.. tok.. tok.. Seseorang diluar mengetuk pintu kamarku. Mungkin itu Daniel. Aku bangun dengan sekuat tenaga. Langkahku goyah. Aku berjalan tertatih. Tapi aku berusaha menggapai daun pintu untuk membukanya.“Kamu kenapa,
Daniel tiba-tiba masuk dengan kaos oblong warna hitamnya. Mungkin dia baru pulang jogging. Daniel selalu pergi jogging setiap pagi. Mungkin itu sebabnya badannya selalu sehat dan memberikan vibes positive untukku. Untukku? Aku tersenyum.“Ada apa?” Daniel merapat kemeja mini bar. Dia mengagetkan aku yang sedang terpesona melihat ketampanannya.“Eng.. Enggak papa, Bos.” Aku langsung memalingkan wajahku dan beralih memandangi sayuran yang tengah kupotong-potong.“Kamu udah sehat?” Tanya Daniel sembari berjalan lalu duduk menyandarkan tubuhnya disofa. Daniel terlihat letih. Aku mengambilkan air putih untuknya.“Mendingan, Bos. Hari ini saya mau berangkat kuliah. Biar gak tambah sakit. Bosen tidur terus. Tapi saya belum beres-beres rumah, Bos.”Aku melihat rumah Daniel sudah tidak rapi. Kertas kerjanya berserakan diruang tamu. Daniel terlalu sibuk untuk membereskannya sendiri."It's oke. Saya udah biasa sama rumah yang berantakan." Daniel mengangkat kakinya dan meneguk air putih yang
"Aduh! Pelan-pelan dong, Bos." Kepalaku hampir terantuk dashboard mobil. Aku terkejut Daniel ngerem mendadak. “Udah sampe, tuh! Makanya jangan ngelamun terus.” Daniel memarkirkan mobilnya tepat didepan gedung jurusanku, Fakultas Ekonomi.Aku memonyongkan bibirku sembari membuka pintu mobil. Aku menuruninya perlahan, karena mobil Daniel yang tinggi.Sepanjang perjalanan kami memeng diam. Aku hanya sibuk melihat jalanan. Danielpun tidak menegurku. Aku malu memulai obrolan. Sebuah mobil sedan berwarna hitam merapat terparkir di samping mobil Daniel.“Hei, Sofi. Gimana keadaanmu? Udah sehat?” Seseorang mengulurkan tangannya setelah menuruni mobil tersebut. Aku terkejut dan melihatnya. Ternyata Salman yang datang menghampiriku.“Oh iya, Bang. Sudah agak baikan.” Aku menyambut tangannya lalu bersalaman.Daniel turun dari mobil menghampiri kami. Salman tersenyum menyambut Daniel.“Salman, Mas” Salman mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.“Daniel.” Daniel meraih tangan Salman la
Aku dan Rena memasuki salah satu mall besar di Surabaya. Kami turun dari mobil setelah berhasil parkir dibasement. Aku berjalan disamping Rena. Kami masuk kedalam mall dan menyisiri lorong demi lorong rak makanan ringan, keperluan dapur, alat mandi dan lainnya. Setelah beberapa barang yang dibutuhkan sudah masuk semua kedalam keranjang, kami berjalan menuju kasir untuk membayarnya. Seorang kasir dengan seragam warna biru menscan satu persatu belanjaan Rena. Dia menyebutkan angka yang harus Rena bayar. Rena mengeluarkan ATM card dalam dompetnya. Mengetikkan pin dan mendapatkan struk dari kasir tersebut.“Okey, belanjaanku dah selesai. Sekarang, waktunya makan.” Rena menarik tanganku, tapi aku menahannya.“Makan dirumah aja, yuk. Aku yang masakin.” Pintaku pada Rena. Aku tidak mau merepotkannya.“No! Kamu udah capek-capek nemenin aku. Masa aku tega sih, bikin kamu capek lagi?”“Aku suka masak, Ren. Cuma masak doang gak akan bikin aku capek.”“Enggak! Kita cari café dan makan se
Rena melempar tasnya. Dia berbaring diatas sofa ruang tamu rumahnya dengan wajah nampak kesal.Aku mengambil dua gelas air dingin didapur, memberikan salah satunya pada Rena agar dia sedikit tenang.Rena bangun dan meneguk air yang kusodorkan kepadanya. Ponselnya berdering dari dalam tas. Tangannya masuk kedalam tas dan meraihnya.“Ngapain sih, nelpon-nelpon?!” Rena melempar ponselnya keatas sofa.“Siapa, Ren?” Tanyaku.“Kak Di lah. Siapa lagi?.” Jawabnya ketus.“Oooh.” Aku mempersingkat jawabanku agar tidak ribut lagi.“Kamu kok kayaknya biasa aja sih, Sof? Kamu punya hati nggak, sih?” Tanya Rena sembari memandangku heran.“Kata siapa? Aku juga sakit, Ren.” Aku merasa serba salah meresponnya. Aku tidak mau Rena semakin kesal. Aku bingung memilih jawaban yang pas.“Aku sama kamu itu beda, Ren. Aku nggak bisa marah kayak kamu. Aku kan, cuma maid dia. Sedangkan kamu, sepupunya.Meskipun kita sama-sama kesal, sama-sama marah, sama-sama sakit hati, kita akan memberikan respon yang b
Pagi hari yang sejuk, aku membuka jendela disudut-sudut ruangan. Matahari mengintip kedalam rumah melalui sela-sela jendela.Aku bergegas mengambil sapu dan mulai menggoyangkannya ditanganku. Aku merapikan beberapa kertas kerja Daniel yang berserakan.Butuh waktu sebentar untuk membersihkan dan merapikan rumah ini. Karena rumah Daniel tidak terlalu besar.Daniel dan Rena memang sepupu dengan karakter yang sama. Mereka sama-sama orang kaya yang baik juga sederhana.Mungkin juga karena Daniel belum berkeluarga, jadi dia tidak terlalu membutuhkan rumah yang besar nan mewah."Tapi, kalau aku jadi istrinya, aku nggak masalah harus tinggal dirumah sederhana ini. Ah, aku mulai bermimpi disiang bolong." Gumamku.“Sofi, Kamu gak kuliah hari ini?” Daniel membuatku terkejut. Dia baru saja pulang dari jogging. Badannya masih kuyup dengan peluh.“Gak ada, bos.” Sahutku. Daniel sedang menyeka lehernya yang berpeluh dengan handuk kecil ditangannya. “Kalo gitu, boleh bikinin saya sarapan?” Danie
Aku membuka mata dan melirik jam didindingkamarku. Ternyata sudah jam 09.00 siang. Dua jam sudah aku tertidur karenaletih menangis.Aku bangun lalu duduk ditepi ranjang. Mengahadapcermin yang menempel pada lemari. Aku melihat mataku yang sedikit bengkak.Aku menghela nafas Panjang. Aku berdiri laluberjalan kekamar mandi untuk mencuci mukaku yang lusuh.Seusai dari kamar mandi, mataku berkelilingmencari sosok Daniel. Aku menangkap sosok Daniel sedang duaduk disofa ruangtamu.Mungkin labih baik aku meminta maaf untukmengakhiri perselisihan ini.Aku hanya seorang maid. Aku tidak berhak untukmarah-marah apa lagi sampai sok-sokan ngambek dan meninggalkan dia sebelum diaselesai berbicara.Daniel adalah bosku, kalau sewaktu-waktu dia marahdan memecatku, kemana lagi aku harus mencari pekerjaan?Kakiku berjalan menghampirinya.“Bos.”Aku menyapa Daniel.Aku berdiri disamping sofa tempat Daniel duduk.Tapi Daniel tidak mau menoleh kearahku.“Hemm..”Jawabnya singkat.Daniel terlihat
Aku dan Danielmemasuki sebuah mall. Tangan Daniel mempersilahkan aku untuk berjalandisampingnya.Aku maju kedepan dan mulai berjalan disampingDaniel. Ada perasaan bahagia karena Daniel lagi-lagi membuat aku merasadihargai.Aku merasa dia tidak pernah merendahkan aku yanghanya seorang maid.Daniel membawaku masuk ke outlet baju. Mungkin diaingin membelikan baju untuk Farah.“Pilihbaju yang kamu suka.” Ucap Daniel.“Buatsiapa, Bos?” Aku bertanya heran.“Buatkamu.” Jawab Daniel.Dia semakin membuatku bingung. “Enggak usah, Bos. saya nggak punya duitbuat beli baju mahal disini.” Akumengelak.“Aku yangbayar.” Jelasnya.“Tapi,Bos.”“Kamubaru tadi loh, minta maaf sama saya karena kamu ngebantah. Sekarang kamu maungebantah lagi?” Aku menggelengkan kepalaku.“Okey,sekarang kerjakan apa yang saya perintahkan. Please!” Aku mengangguk danberjalan menuju baju-baju yang berjejer.Aku mengambil satu dress cantik berwarna hitam.Kemudian masuk ke fitting room untuk mencoba dr
“So beautiful, anak Mamah.” Aku memeluk Mamah Daniel. Aku mencoba menahan air mata yang ingin jatuh. Memeluk mamah Daniel serasa memeluk Ibuku. Aku merasa sedikit damai dalam pelukannya. “Makasih, Mah. Makasih juga udah mau dateng.” Dia melepas pelukanya dan tersenyum sambil menatap mataku. Mata Mamah Daniel berbinar. Terpancar kebahagiaan disana. Ada perasaan kecewa dalam hatiku atas kebahagiaannya. Kecewa, karena Ia bahagia atas pernikahanku yang bukan dengan anaknya. “Mamah pasti dateng sayang. Kan, yang nikah anak Mamah.” Jawab Mamah Daniel teduh. 'Iya. Mamah Daniel bahagia, karena dia menganggapku anaknya. Ah, aku terlalu berlebihan karena kecewa.' “Mas Di nggak dateng?” Dia Kembali melempar senyumnya. “Dateng, dong.. kalau nggak dateng, gimana kamu nikahnya?” Balasnya. Aku mengernyitkan dahiku. Aku memang berharap Daniel bisa datang, tapi kalaupun dia tidak datang, itu tidak akan berpengaruh apa-apa pada pernikahanku. Aku mengangguk, meskipun aku tidak meng
Untuk Mas Daniel, Daniel, Satu nama yang terpateri dalam hati ini. Terima kasih karena sempat menjadi warna dalam hidupku. Sampai saat ini, aku masih mencintaimu. Sangat. Meski raga ini sudah tak mampu lagi berlari mengejarmu, tapi hati ini senantiasa merindumu. Semua memang sudah terlambat. Aku tidak bisa melawan takdirku.Tapi tak salah bukan, kalau aku berharap, suatu saat takdir berpihak padaku. Aku masih mengaharapkanmu, mas. Meski secuil saja harap adalah sesuatu yang mustahil. Tapi, bukankah berawal dari kemustahilan mencintai dengan derajat yang berbeda sudah kita lewati? Sekarang, aku hampir menjadi isteri orang, dan kamu masih sendiri. Apakah ini juga akan menjadi mustahil? Ah, entahlah! Kamu terlalu dalam untuk aku keluarkan dari lubuk hatiku. Kamu terlalu berkuasa dalam otakku hingga aku tak mampu melupakanmu. Kalau boleh aku bilang ‘aku benci takdirku’. Tapi itu tidak boleh, kan? Karenanya, aku tidak membencinya. Apapun dan siapapun. Selamat tingg
"I love you, Mas." Aku terisak dibahu Daniel. Bahu yang selalu kuharapkan dapat menopang kepalaku saat aku sedih."Love you too, sayang." Jawab Daniel. Malam ini kami sedang duduk bersama diteras rumah Daniel. Aku ingin menghabiskan malamku bersama Daniel.Orang tua Daniel sedang keluar untuk menemui koleganya.Besok, aku harus kembali menjadi Sofi tunangan Salman. Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan pernikahanku atas permintaan Daniel.Daniel memberikan alasan yang masuk akal untuk tidak merebutku dari tangan Salman. Daniel bukan tipikle laki-laki curang dan licik.Dan aku harus bertanggung jawab atas semua keputusan yang kuambil. Sebenarnya, bisa saja waktu itu aku menggagalkan pertunanganku.Tapi aku memilih meresmikan pertunanganku dengan Salman."Mas, udah beberapa hari lagi aku akan nikah sama Salman. Aku akan jadi milik dia Mas." Daniel menatapku. Hatiku sakit melihat mata Daniel yang juga meneteskan air mata."Apapun yg terjadi esok, aku harap kamu akan selalu bahagia sayan
“Ada apa Di?” Samar-amar aku mendengar suara Mamah Daniel.“Sofi sakit, Mah.” Jawab Daniel sambil menggendongku dan berjalan terburu-buru. Daniel membawaku kekamarnya. Kamar Dimana aku meninggalkan Daniel saat dia terbaring lemah.“Kamu nggak apa-apa, sayang?” Tanya Mamah Daniel. wajah yang seiras dengan Daniel inipun sama-sama mengkhawatirkanku. Aku melihat ketulusan mereka menyayangiku.“Nggak apa-apa, Mah. Mamah nggak usah khawatir, yah..” Jawabku menenangkan Mamah Daniel.Aku melihat Daniel yang sedari tadi tidak tenang.“Ini buburnya, Pak.” Maid Daniel mengantarkan mangkuk berisi bubur pada Daniel.“Makasih, Bi.” Daniel meraih mangkuk itu dan menghampiriku. “Makan dulu ya, sayang.” Ucap Daniel. Aku melirik Mamah Daniel. Aku malu Daniel memanggilku sayang didepan Mamahnya. Aku mengangguk dan membuka mulutku saat Daniel menyuapiku. Entah kenapa aku bisa jatuh ketangan Salman, padahal begitu lebarnya jalan untukku masuk kekeluarga Daniel.Aku sangat yakin, ini bukan takdir. Mela
Seusai meeting, semua staff keluar dari ruang meeting. Aku tidak benar-benar fokus pada meeting hari ini."Rena nggak masuk lagi, Mas?" Tanyaku pada Daniel. Aku tidak melihat Rena sedari pagi. "Begitulah." Jawab Daniel yang masih sibuk memeriksa kertas-kertas laporan hasil meeting. Aku masih duduk terpaku melihat Daniel sambil berfikir keras bagaimana cara menggagalkan penikahanku tanpa menyakiti dan membuat malu pihak manapun. Selain itu juga, aku teringat bagaimana kemarahan Ayah Salman dan ancamannya terhadapku semalam. Aku takut. Tanganku mulai gematar lagi.Dari semalam aku belum makan. Aku letih memikirkan semuanya.“Sofi.” Daniel menoleh kearahku lalu memanggilku. Aku mencoba menahan semua rasa sakit. “Heii.. kamu kenapa, sayang?” Daniel menghampiriku.Terlihat wajah Daniel nampak khawatir melihat kondisiku. Aku tidak bisa menyembunyikan kondisiku yang lemah. Tapi aku masih berusaha kuat. “Kita pulang, ya.” "Aku nggak apa-apa, Mas. Aku cuma terlalu panik menghadapi semuany
Daniel menghampiriku dan memberikan kotak kecil yang ia ambil dimeja kerjanya. “Buka.” Pinta Daniel. Aku mengambil kotak tersebut dan membukanya. Ada cincin cantik dengan permata hitam diatasnya. Warna favorite kami. “Apa ini?” Tanyaku masih bingung. “Cincin. Cincin ini aku beli buat aku kasih kekamu untuk menyatakan perasaanku sama kamu. Waktu itu, Rena masuk keruangan ini dan dia liat cincin ini. Aku bilang, kalau aku mau melamar kamu. Tapi dia nggak ngizinin aku dengan alasan, kalau kamu nggak suka sama aku. Dia bilang, kamu cinta sama Salman. Dan hampir bertunangan sama dia.” Mataku terbelalak mendengar penjelasan Daniel. sebelumnya, aku sudah bisa menebak, bahwa Rena adalah dalangnya. Tapi aku tidak menyangka, sejauh ini dia menipu kami. “Oke, satu lagi yang masih jadi teka teki dan sampai sekarang Mas belum ngasih tahu aku. Mas inget kan, waktu aku masih kerja dirumah Mas sebagai maid? Waktu itu Mas pergi ke Turki. Dan sepulang Mas dari Turki, Mas marah dan nuduh
Aku sampai dikantor pukul 07.00 pagi ini. Kondisiku sedang tidak baik-baik saja. Semalaman aku terus menerus memikirkan ancaman Ayah Salman, tapi aku juga harus menyelesaikan masalahku dengan Daniel. Aku sudah janji untuk menemui Daniel pagi ini,dan sebelum Daniel samapi kantor, aku juga harus menyelesaikan laporan untuk persiapan meeting. Aku langsung menghadap komputer dimeja kerjaku. Menyelesaikan semua tugas yang dibutuhkan. Sesekali aku menyeruput kopi yang aku buat sebelum aku duduk dimeja kerjaku.Beberapa staff mulai berdatangan dan menyapaku. Mereka menempati kursi mereka masing-masing.“Temen-temen, kita nanti meeting jam 10.00. Maaf ngasih tahu mendadak. Soalnya Bos baru ngasih tahu kemaren. Jadi sekarang kalian masih punya waktu sampe jam 10.00 buat ngerjain laporan. Okey..“Oke, Mba Sofi.” Jawab mereka Bersama-sama. Aku Menyusun lembaran demi lembaran laporan yang sudah selesai kubuat. Aku menatap pintu ruangan Daniel yang belum juga dibuka oleh tuannya. Aku me
Aku berjalan masuk kedalam salah satu Restoran mahal dikota Surabaya. Mahal menurutku yang tidak mampu membeli makanan didalamnya. Aku belum pernah masuk ke Restoran ini.Aku melihat kesekeliling Restoran, mencari sosok yang memintaku untuk datang kesini.“Maaf, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang pelayan Restoran berseragam hitam putih penghampiriku. Pelayan itu menanyaiku. Mungkin dia melihatku yang sedang kebingungan.“Oh, iya, Mba. Aku nyari meja pesanan atas nama Salman.” Aku memberi tahu pelayan tersebut.“Mari ikut saya, Bu.” Pelayan itu menunjukkan jalan dengan sangat sopan. Ia berjalan perlahan, dan aku menyusulinya dari belakang. Aku diantarkan kemeja makan tertutup dipojok Restoran ini. “Silahkan duduk, Bu." Pelayan itu menarik kursi dan mempersilahkan aku untuk duduk. "Ini buku menunya, Bu. Silahkan diliat-liat dulu." Dia menyodorkan buku menu padaku. "Nanti kalau mau pesan bisa pencet bel aja disini.” Pelayan itu menunjuk tombol bel disamping meja.Aku menatap b
Hari ini kepalaku masih sakit. Semalaman aku tidak bisa tidur. Aku tidak berhenti memikirkan semua cerita Salman. Aku tidak tahu bagaimana kelanjutan hubunganku dengannya. Setelah semua yang terjadi, sepertinya kali ini aku harus terlebih dulu mencari kebenaran. Aku mulai ragu dengan semuanya.Aku harus mencari dalang dari semua skenario ini.Aku mengambil tas yang tergantung dibalik pintu dan menjinjingnya dibahu. Aku berjalan keluar lalu menyetop taxi. Aku menaiki taxi dan meminta driver tersebut untuk mengantarkan aku kerumah Daniel. Aku harus meminta penjelasan Daniel sebelum meminta penjelasan dari Rena. Aku harus mendengarkan semua pihak.Atau mungkin dari Daniel aku akan menemukan sedikit jawaban kepada siapa aku harus percaya.Setelah sampai didepan rumah Daniel, aku melihat gerbang rumah Daniel sudah menganga. Aku yakin Daniel sudah bangun. Aku melihat seorang Ibu paruh baya yang sedang menyapu diteras rumah Daniel. sepertinya dia adalah maid baru Daniel lagi. “Selam