Amira tidak tahu. Perasaannya bisa campur aduk seperti ini dan genangan liquid bening yang tengah menutupi pelupuk matanya mengaburkan segala pandangan di hadapannya. Kedua kaki Amira gemetar hebat dan membeku di tempat. Rasa sakit itu belum juga menghilang meski perlakuan manis Justin cukup membuatnya terkesan. Namun, Amira justru berpikir untuk mendorong Justin pergi. Amira tidak ingin bersama dengan siapapun di sini. Amira ingin sendiri dan hanya di peluk oleh rasa sakitnya saja. Amira ingin menangis sejadi-jadinya untuk meluapkan rasa sakitnya.“Ayo, sarapan.” Justin membuka pintu kamarnya dan mendapati Amira yang duduk sedang mengusapi kedua pipinya dengan tangan. “Menangis?” tanya Justin dengan tebakan. “Kenapa? Ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman? Ingin sarapan di luar?”Justin tidak akan menjudge apa-apa saja yang Amira alami. Setiap orang berhak merasakan sedih dan rasa sakitnya. Setiap orang juga berhak untuk menangis agar sesak di dadanya bisa berkurang. Amira di mata J
“Tentang meminta maaf, apa yang kamu pikirkan tentang itu?” tanya Amira pada seorang pria yang telah lama ingin dirinya temui. “Kamu bersembunyi dengan sangat apik. Semarang seluas itu ternyata.”Amira terkekeh sebentar lalu meneguk minuman dinginnya. Hari ini cuaca di Semarang panas. Dalam beberapa hari ini hujan tidak mengguyur setelah terakhir kali membuat banjir di titik tertentu. Semilir angin membelai kulit Amira dan anak-anak rambutnya yang tidak terkuncir rapi ikut terbang terbawa. Ah, rasanya masih seperti mimpi bisa bertemu dengan pria ini. Amira tidak menyangka akan bertemu dengan mudah setelah sekian lama menunggu kabar darinya.“Jangan bilang kamu mengancamku?” Pria itu bertanya lalu tersenyum sinis. Menatap Amira yang tidak merasa terintimidasi seperti sebelumnya. Wanita ini kembali bangkit dari keterpurukannya dengan cepat. “Kamu penuh kejutan dan aku tidak berpikir tentang ini sebelumnya. Apa dia lebih baik dariku? Maksudnya, kamu yakin akan membersamainya setelah ta
“Kamu gila?!”“Ah, kamu mengejutkanku.”Kurang lebih begitulah para betina yang sedang mengaung. Amarah yang Amira tahan-tahan sejak tadi akhirnya tersembur keluar begitu Randy hengkang dari hadapannya. Menatap Justin lekat-lekat dengan napas yang memburu, Amira kesal setengah mati. Pria ini datang ke hidupnya jika sekadar untuk menjadi pasangan hidup, maka tidak akan menjadi masalah. Namun karena Justin datang dan merusak segala tatanan hidupnya, Amira sungguh-sungguh ingin membuang Justin ke kali Banjar Kanal. Masuk bui bukan suatu hal masalah yang besar asal Justin bisa lenyap dari jangkauannya.“Tidak seharusnya kamu menantang Randy. Kamu tahu apa akibatnya?” Beruntung sekali karena kafe di siang itu telah kembali sepi. Jam istirahat perkantoran telah usai sehingga mneyisakan beberapa pengunjung yang tidak duduk berdekatan dengan keberadaan Amira. “Dia itu gila, kamu tahu! Dia bisa melakukan apa saja yang bahkan kamu tidak akan menduganya sama sekali. Ya, aku mengakuinya. Aku s
“Dasar anak kurang ajar!”“Aish!” Justin menggosok telinganya yang hampir terputus akibat teriakan Mamanya. Dalam satu hari ini, teriakan demi teriakan telah menyambangi telinga Justin. Dan tindakan teraman yang akan Justin ambil adalah segera membuat janji temu dengan dokter keluarganya guna melakukan pemeriksaan lanjutan. “Kamu bosan hidup?” seru Tami sekali lagi dengan deru napasnya yang memburu. Wanita paruh baya yang mengenakan baju olagraganya itu menahan emosinya mati-matian. Justin berulah dan itu bukan suatu hal yang biasa dilakukan oleh putra kesayangannya. Tapi kenapa harus sefatal ini? Tami ingin meledak detik itu juga namun yang terjadi justru terduduk lemas di atas sofa ruang tamunya. “Kenapa kamu melakukan kesalahan yang bahkan tidak pernah Mama bayangkan sebelumnya? Justin, kamu sadar kita siapa?”Seolah tidak peduli dengan keluhan Tami, Justin ikut duduk di samping Mamanya dengan wajah tak bersalah sama sekali. Cengiran khasnya muncul yang beruntung tidak diliha
“Kenapa bisa Amira berakhir di sini?”Itu adalah gaungan dari isi kepala Amira yang sore itu setengah kacau namun juga merasakan kelegaan. Amira marah dan misuh-misuh tapi anehnya, hatinya baik-baik saja. Seperti terasa sangat ringan dan sesuatu yang sudah lama terpendam dalam dadanya lepas begitu saja. Tapi apa?Nah, ini adalah PR yang harus Amira cari jawabannya. Amira harus mengorek-orek agar menemukan alasan yang tepat sekali pun harus mengais di antara tumpukan sampah depan kantornya. Demi Tuhan! Amira Meena merasa senang dan bahagia. Ini sesuatu yang belum pernah Amira rasakan sebelumnya. Dan lebih dari apa pun itu, Amira harus mengakui ini dengan sangat berat hati. Sejak bertemu dengan Justin Brotolaras, pria yang Amira kira amatlah dingin dan kaku, nyatanya dia adalah pria hangat dengan sejuta kalimat-kalimat bijak yang mampu mengendurkan rasa sakit di hati Amira. Aneh, ‘kan?Ah, bukan. Lebih tepatnya karena Amira memanglah wanita binal. Bagaimana tidak? Semudah itu Amira m
“Bagaimana jika Seina tiba-tiba datang?”Justin menghentikan tangannya yang hendak membuka pintu mobil. Tujuan mereka telah sampai dan halaman parkir mall lumayan sepi. Hanya beberapa mobil yang lalu lalang dan petugas kebersihan yang sedang melakukan tugasnya. Pertanyaan Amira mudah saja untuk Justin tanggapi atau abaikan saja karena itu tidaklah penting. Justin hanya fokus pada dirinya saat ini dan apa-apa saja yang akan dirinya lakukan bersama Amira. Seina bukan daftar penting untuk Justin ingat. Tapi bisakah itu Justin lakukan?“Kamu mau jawaban yang seperti apa?” Justin memberi pilihan untuk Amira secara halus. “Jujur saja, mungkin mulutku akan menjawab tidak peduli namun hatiku merasakan pukulan yang lain. Hm, bagaimana, ya menjelaskannya?”“Apa?” Amira melepas sabuk pengamannya dan sepenuhnya menghadapkan tubuhnya ke Justin. “Aku hanya bertanya sederhana dan berharap jawaban darimu juga cukup sederhana.”Justin terkekeh. Menggelengkan kepalanya lalu terdiam selama sekian de
“Ayo!” ajak Justin di siang hari yang terik. “Aku belum makan,” katanya menyambung kalimat sebelumnya yang membuat Amira terbengong di tempat duduknya.Wanita hamil itu hanya menatap Justin tanpa reaksi untuk segera bangkit dari kursi kebesarannya dan malah menggeleng. Heran dengan perubahan sikap Justin dan getolnya pria itu menghampiri dirinya di kantor. Jika dihitung dari jaraknya, antara kantor Justin dan kantor Amira bisa memakan waktu hingga 30 menit, belum termasuk kemacetan yang terjadi di kota Semarang. Mungkin dekat tapi tidak juga. Namun memang pria ini penuh dengan tekad yang tidak bisa Amira tebak bagaimana akhirnya. Membingungkan dan Amira benci di buat menebak-nebak seperti ini. Pria dan segala egonya yang tinggi sungguh membingungkan.“Amira!” panggilnya halus masih dengan tubuh yang berdiri di ambang pintu. Embusan napas Justin terdengar dan pria itu menundukkan kepalanya. Netra madunya menatap lantai marmer kantor Amira untuk kemudia diangkat kembali guna melihat Ami
Justin Brotolaras tahu dan sadar. Ada jenis cinta yang tidak bisa dimiliki. Hanya terikat secara batin, kuat dan tahu bahwa pemilik hati masing-masing saling memikirkan. Rasanya mustahil untuk bersama dan pada akhirnya mereka memilih untuk merindu seumur hidup.Ah, membayangkannya saja Justin sudah merinding setengah mati. Lalu mengalami hal itu untuk sesaat, Justin didominasi rasa sesal. Dan meyakinkan diri sendiri untuk menepis perasaan itu bukanlah sesuatu yang mudah. Justin bertarung dengan waktu dan egonya sendiri.Mengenal Seina Ibrahim, mencintainya tidak memberi dampak yang buruk. Dari Seina, Justin belajar ikhlas dan caranya menerima. Maka kalimat yang tepat untuk menggambarkan hatinya adalah terima kasih. Justin tidak pernah menyesal mencintai Seina. Sebab Seina benar-benar orang baik yang memberi Justin kebahagiaan. Walau bukan dengan kebersamaan seperti seharusnya dan normalnya orang mencintai. Dari Seina, Justin belajar banyak hal.Tuhan tidak pernah mempertemukan kita de
“Kalau sama orang yang salah saja kamu bisa setulus ini gimana sama orang yang tepat?”Adalah kalimat terakhir yang Amira dengar sebelum Justin hengkang.Sejenak Amira bimbang. Ragu untuk melangkah namun mustahil berjalan ditempat. Justin membuatnya ragu dan ingin maju tapi juga takut untuk semua risiko yang sudah menunggu.“Justin itu baik banget,” ucap Nita—sahabat Amira yang baru kembali dari studynya di Singapura. “Dia kelihatan tulus sama kamu. Cuma kamunya saja yang belum siap buat membuka diri.”“Setelah semua ini?” Amira perlihatkan perutnya yang mulai kelihatan. “Aku punya trauma yang aku sendiri nggak tahu kapan mau sembuh.”“Trauma nggak bisa sembuh total. Seumur hidup dia bakal menghantui kamu. Tinggal gimana kamunya dalam mengambil langkah. Life must go on, Mir. Kamu nggak bisa terus-terusan kejebak di masa kelam. Justin itu masa depan sedangkan yang jadi ketakutanmu adalah dirimu sendiri. Semua tergantung gimana kamu.”Amira diam. Apa yang Nita katakan benar adanya. Kala
Amira menikmati brownies buatan Justin. Rasanya enak dan pas. Manisnya sesuai dengan selera Amira walaupun ini brownies siap jadi tapi tetap saja ini enak. Amira tidak biasanya memberi pujian jadi ketika itu meluncur maauk ke dalam mulutnya meski tidak terucap secara langsung artinya masakan Justin sudah diberi tanda. Bahwa Amira akan meminta dimasakkan lagi entah untuk kapan.“Jangan lupakan vitaminmu.” Justin letakkan segelas air mineral dan sebutir vitamin dari dokter ke dalam piring kecil.Senyum Justin mendesirkan sesuatu yang lain kala mata Amira bersitatap dengan netra Justin. Dasar sialan! Amira akan melabeli dirinya sebagai wanita murahan yang benar-benar nggak punya harga diri lagi. Hanya karena senyuman Amira tidak berkedip sama sekali. Hanya karena perhatian kecil yang Justin berikan Amira terbuai.“Terima kasih.” Amira teguk air mineralnya dan memasukkan vitamin ke dalam mulutnya.Tatapan mata Justin belum terputus sama sekali. Membuat Amira semakin merasakan gugup dan sa
“Jadi ada apa?” tanya Justin yang belum menyerah bertanya. “Kamu bukan orang dengan tipe mau meminta tolong ke orang lain kecuali itu hal yang sangat penting. Dan aku merasa sedikit penasaran alih-alih tersanjung.”Amira memutar matanya malas. Amira sudah mengira jika Justin Brotolaras adalah pria dengan sejuta kepercayaan diri tinggi tapi kenapa bisa Amira lupa?“Bukan sesuatu yang penting,” jawab Amira duduk di sofa. “Kamu bisa pulang sekarang.”“Kamu ngusir aku?” Justin mulai berdrama dengan ekspresi wajahnya yang memelas. “Setelah aku menerjang hujan.”Menerjang hujan apanya? Baju dan badannya saja kering tanpa sedikit pun terkena tetesan air hujan. Bisa-bisanya melebih-lebihkan sesuatu yang tidak terjadi.“Kamu lebay banget,” cibir Amira. “Aku ngidam.” Amira mengakui meski dengan wajah yang malu. “Pengen makan sesuatu dan anehnya itu harus dari masakan tangan kamu.”“Aku?” Justin menunjuk dirinya sendiri. “Oh, aku sangat special dan bayinya sudah bisa mengenali aku. Itu bagus.”A
Begini, Justin Brotolaras memaksa otaknya untuk tetap berpikir waras. Waras di sini, entahlah yang seperti apa artinya. Justin hanya bisa mengurut keningnya yang sakit dan meloloskan suaranya dari mulutnya berulang kali. Bukan untuk menyerah atau mengingkari omongannya soal tanggung jawab. Tapi siapa yang sangka kalau Amira Meena begitu keras kepala?“Wanita itu bebal, ya?”Suara Judhi memenuhi ruangan kerja Justin yang sunyi. Matahari sore mulai kembali ke peraduannya, jalanan mulai dipadati oleh pemobil dan pemotor yang telah menyelesaikan aktivitasnya. Justin sendiri masih berkutat denga nisi kepalanya yang penuh.“Rata-rata wanita memang seperti itu.”“Oh, tidak! Jawaban kamu terlalu logis dan aku tidak setuju.” Judhi menyangkalnya dengan gerakan tangan gemulai dan mendudukkan bokongnya di meja kerja Justin. “Amira spesies berbeda.”Justin tertawa. “Spesies? Kamu pikir dia jenis ikan dan hewan lainnya? Kamu lucu.”“Aku serius! Pegang ucapanku, kamu yang akan kesusahan sendiri suat
Bertemu tanpa sengaja, mencintai secara tiba-tiba lalu melupakan secara terpaksa adalah suatu kebetulan yang tak terduga. Ceritanya singkat namun melekat, hanya ada momen bukan komitmen, dan sekadar hadir bukanlah takdir.Amira Meena pernah berada di posisi seperti itu. Amira bisa mencintainya sepuas yang diri Amira mau namun bagian sakitnya adalah membiarkan dia mencintai pilihannya dan itu bukan Amira. Tidak ada yang menyakiti. Bukan Amira, bukan juga dia tapi lebih kepada harapan Amira yang terlalu dipaksakan untuk bisa membersamainya. Gila! Amira tidak sadar sama sekali tentang ini.Siapa bilang Amira tidak berusaha melupakan? Amira sudah berusaha setengah mati. Ini tidak semudah kita membalikkan telapak tangan dan dalam sekedip mata semuanya usai. Percaya atau tidak, semesta juga punya peran di dalamnya. Yaitu membuat Amira yang sudah hampir lupa untuk kembali mengingat tentangnya.Sekadar dekat tanpa ikatan, hanya teman namun takut kehilangan. Sesekali terselip rasa cemburu yang
Justin Brotolaras tahu dan sadar. Ada jenis cinta yang tidak bisa dimiliki. Hanya terikat secara batin, kuat dan tahu bahwa pemilik hati masing-masing saling memikirkan. Rasanya mustahil untuk bersama dan pada akhirnya mereka memilih untuk merindu seumur hidup.Ah, membayangkannya saja Justin sudah merinding setengah mati. Lalu mengalami hal itu untuk sesaat, Justin didominasi rasa sesal. Dan meyakinkan diri sendiri untuk menepis perasaan itu bukanlah sesuatu yang mudah. Justin bertarung dengan waktu dan egonya sendiri.Mengenal Seina Ibrahim, mencintainya tidak memberi dampak yang buruk. Dari Seina, Justin belajar ikhlas dan caranya menerima. Maka kalimat yang tepat untuk menggambarkan hatinya adalah terima kasih. Justin tidak pernah menyesal mencintai Seina. Sebab Seina benar-benar orang baik yang memberi Justin kebahagiaan. Walau bukan dengan kebersamaan seperti seharusnya dan normalnya orang mencintai. Dari Seina, Justin belajar banyak hal.Tuhan tidak pernah mempertemukan kita de
“Ayo!” ajak Justin di siang hari yang terik. “Aku belum makan,” katanya menyambung kalimat sebelumnya yang membuat Amira terbengong di tempat duduknya.Wanita hamil itu hanya menatap Justin tanpa reaksi untuk segera bangkit dari kursi kebesarannya dan malah menggeleng. Heran dengan perubahan sikap Justin dan getolnya pria itu menghampiri dirinya di kantor. Jika dihitung dari jaraknya, antara kantor Justin dan kantor Amira bisa memakan waktu hingga 30 menit, belum termasuk kemacetan yang terjadi di kota Semarang. Mungkin dekat tapi tidak juga. Namun memang pria ini penuh dengan tekad yang tidak bisa Amira tebak bagaimana akhirnya. Membingungkan dan Amira benci di buat menebak-nebak seperti ini. Pria dan segala egonya yang tinggi sungguh membingungkan.“Amira!” panggilnya halus masih dengan tubuh yang berdiri di ambang pintu. Embusan napas Justin terdengar dan pria itu menundukkan kepalanya. Netra madunya menatap lantai marmer kantor Amira untuk kemudia diangkat kembali guna melihat Ami
“Bagaimana jika Seina tiba-tiba datang?”Justin menghentikan tangannya yang hendak membuka pintu mobil. Tujuan mereka telah sampai dan halaman parkir mall lumayan sepi. Hanya beberapa mobil yang lalu lalang dan petugas kebersihan yang sedang melakukan tugasnya. Pertanyaan Amira mudah saja untuk Justin tanggapi atau abaikan saja karena itu tidaklah penting. Justin hanya fokus pada dirinya saat ini dan apa-apa saja yang akan dirinya lakukan bersama Amira. Seina bukan daftar penting untuk Justin ingat. Tapi bisakah itu Justin lakukan?“Kamu mau jawaban yang seperti apa?” Justin memberi pilihan untuk Amira secara halus. “Jujur saja, mungkin mulutku akan menjawab tidak peduli namun hatiku merasakan pukulan yang lain. Hm, bagaimana, ya menjelaskannya?”“Apa?” Amira melepas sabuk pengamannya dan sepenuhnya menghadapkan tubuhnya ke Justin. “Aku hanya bertanya sederhana dan berharap jawaban darimu juga cukup sederhana.”Justin terkekeh. Menggelengkan kepalanya lalu terdiam selama sekian de
“Kenapa bisa Amira berakhir di sini?”Itu adalah gaungan dari isi kepala Amira yang sore itu setengah kacau namun juga merasakan kelegaan. Amira marah dan misuh-misuh tapi anehnya, hatinya baik-baik saja. Seperti terasa sangat ringan dan sesuatu yang sudah lama terpendam dalam dadanya lepas begitu saja. Tapi apa?Nah, ini adalah PR yang harus Amira cari jawabannya. Amira harus mengorek-orek agar menemukan alasan yang tepat sekali pun harus mengais di antara tumpukan sampah depan kantornya. Demi Tuhan! Amira Meena merasa senang dan bahagia. Ini sesuatu yang belum pernah Amira rasakan sebelumnya. Dan lebih dari apa pun itu, Amira harus mengakui ini dengan sangat berat hati. Sejak bertemu dengan Justin Brotolaras, pria yang Amira kira amatlah dingin dan kaku, nyatanya dia adalah pria hangat dengan sejuta kalimat-kalimat bijak yang mampu mengendurkan rasa sakit di hati Amira. Aneh, ‘kan?Ah, bukan. Lebih tepatnya karena Amira memanglah wanita binal. Bagaimana tidak? Semudah itu Amira m