“Kamu hamil?” tanya Justin dengan bibir tersungging mengejek Amira yang menatapnya tanpa berkedip. “Dan kamu ingin aku bertanggung jawab, begitu?”
“Mau nggak?!” Amira berseru cukup lantang yang membuat Justin memundurkan kepalanya heran. “Toh kamu dipaksa untuk menikah demi mewarisi seluruh harta kekayaan Brotolaras, ‘kan? Dan bahagianya, Mamamu akan mendapatkan cucu sekaligus.”
Justin pernah mendengar temannya berkata jika kaum hawa memang penghuni bumi yang paling sulit untuk ditebak apa maunya. Mereka adalah sekumpulan manusia yang mencari penyakit telah menciptakan sebuah masalah. Mereka bertindak arogan padahal tahu tidak ada tameng di dalam dirinya saat sebuah fakta diungkapkan. Mereka akan menangis tersedu-sedu sambil menyalahkan kaum adam dengan berseru: kamu jahat!
“Siapa?” Justin menoleh dengan tangan meremas kemudinya kuat-kuat. Amira melihatnya dengan jelas hingga buku-buku kuku Justin memutih. “Siapa yang melakukan itu padamu? Aku tahu kamu bukan wanita bebas bak jalang di luar sana. Aku tahu kamu berbeda dari wanita lain sehingga Mamaku begitu ngotot menginginkan dirimu menjadi menantu Brotolaras. Katakan padaku! Beritahu aku dan aku akan menikahi kamu. Aku menerima calon bayimu tanpa terkecuali!”
Amira masih sempat-sempatnya membalas dengan decihan. Menatap Justin dengan pandangan super jijik dan memalingkan begitu saja. Jika sudah begini, pria mana yang tidak kebingungan? Justin bukannya marah atau tersinggung dengan pertanyaan Amira. Hanya saja, bisa tidak memberi penjelasan yang detail agar tidak menimbulkan kesalahpahaman?
“Kamu sedang unjuk gigi, ya, seakan-akan kamu mampu? Kamu sadar dari mana asalmu?” cibir Amira. “Kamu akan mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh Mamamu dengan menerimaku, begitu? Aku tidak tertarik ataupun tersentuh.”
“Jangan libatkan Mamaku, tolong. Mari kita singkirkan masalah orang tua masing-masing dan fokus saja dengan masalahmu. Kamu memancing niat baik seseorang untuk bertanggung jawab lalu melepasnya bak balon yang terbang terbawa angin. Kamu terlalu arogan untuk seorang wanita yang telah kehilangan masa depannya,” balasan Justin tak kalah pedasnya. Terakhir, Justin menyematkan kekehan yang membuat Amira menatap dengan sinis.
“Apa kamu pikir kamu yang paling layak untuk bertanggung jawab atas masalahku? Lagi pula, serius, kamu sangat percaya diri untuk aku meminta pertolonganmu. Aku bisa mengatasi masalahku sendiri. Aku bisa menemukan jalan keluar untuk semua perkara yang aku ciptakan. Aku hanya bertanya tentang pendapatmu saja. Jangan terlalu berlebihan, oke?” Amira bergegas keluar dari mobil Justin. “Ada menu baru di sini.”
Amira berjalan meninggalkan Justin yang masih duduk manis di dalam mobilnya. Pria itu berdecak dengan gerutuan kecil di bibirnya. Umpatan demi umpatan bergaung dalam kepala Justin. Mengeluarkan unek-unek tanpa ada si empunya nama bukan sesuatu yang etis untuk Justin lakukan. Hanya akan menimbulkan rasa dongkol tak berkesudahan.
***
Amira mengetuk-etukkan jarinya di atas meja. Setelah makan siang usai bersama Justin dan berakhir dengan saling diam selama perjalanan, Amira menyadari jika tindakannya terbilang keterlaluan. Tidak seharusnya mulutnya mengeluarkan unek-unek yang tidak tepat hanya untuk menguji seorang Justin Brotolaras. Mendengar cara bicaranya yang tegas dan siap bertanggung jawab padanya tanpa melihat apa masalahnya dan dari mana sumbernya, Amira yakin jika pria itu memang layak untuk dimiliki. Tapi apakah mungkin?
“Aku ini sudah rusak. Mana mungkin orang mau menikahiku di saat sudah rusak begini,” gumam Amira seraya menarik napasnya dalam-dalam. “Aku juga mau menikah tapi kenapa aku selalu sial dalam percintaan?”
“Mengeluh saja tidak akan menghasilkan apa-apa!” Vokal yang masuk ke dalam rungu Amira membuat wanita berbalut kemeja formal itu mendengkus penuh kekesalan. “Kamu harus memikirkan kandunganmu. Aku tidak ingin berkomentar terlalu panjang lebar tapi kamu melupakan letak otak yang sebenarnya. Kenapa bisa-bisanya kamu kebablasan sampai hamil?”
“Diam!” bentak Amira dengan wajah lucu yang diberi tanggapan usapan pada kepalanya. “Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil!” Tangan kekar itu menjauh dari kepala Amira yang berwajah kusut. “Aku hanya penasaran dan tidak berminat untuk menikah. Jika bisa aku membesarkan seorang diri, kenapa tidak?”
“Kamu bosan hidup?” tanya si pria sarkas. Kedua tangannya terlipat dan bibirnya tersungging penuh ejekan. “Aku bisa membantumu jika memang ingin mengakhiri hidup.”
“Apa yang kamu ketahui tentang hidup? Kamu selalu menjadi sempurna untuk kedua orang tuamu dan mengalah dengan mengorbankan hidupmu sendiri. Lalu sekarang kamu berkomentar tentang kehidupan yang sesungguhnya. Ada kaca di sebelah sana, Kevin.”
Pria yang disebutkan namanya sebagai Kevin oleh Amira itu mendudukkan dirinya di samping Amira. Wanita ini pernah mentahtai hati Kevin. Namun sayang, karena Kevin yang tidak berpegang teguh pada prinsipnya, Amira memilih hengkang.
“Aku juga ingin bahagia bersamamu. Tapi kamu menolakku dan mengejar Justin yang bukan apa-apa. Semua orang tahu bahkan publik pun tahu. Kenapa dia?” Kevin penasaran sementara Amira acuh. “Kenapa harus dia?”
Amira menoleh dengan kedua mata menyipit. Lalu menunjuk wajah Kevin menggunakan garpunya yang masih belepotan cokelat. “Jika kamu mampu melawan kehendak Mamamu, ayo menikah. Tapi jika tidak bisa membawa serta bayi ini ke dalam keluarga Kusumo, maka jangan berharap apa pun lagi padaku. Kita tetap menjadi teman dan beri aku sekat karena aku merasakan nyaman saat menjadi temanmu. Bagaimana?”
***
“Aku bingung.” Justin menyulut rokok dengan koreknya. “Serius, aku nggak ngerti jalan pikiran wanita itu seperti apa. Mereka asal ngomong tapi setelah diberi respons justru merendahkan dan bersikap arogan.”
“Amira?” tanya Pandu menebak. “Kamu nggak seharusnya terlibat dengan Amira. Dia itu terkenal dengan mulutnya yang pedas.”
“Aku nggak pernah masalah dengan itu. Kita sama-sama memiliki mulut dengan level kepedasan cabe 50 kilo.”
Ayolah! Kalian para wanita yang memiliki pemikiran rumit, sadarlah! Tidak semua yang kalian inginkan harus selalu terwujud. Pikirkan kami, kaum adam yang selalu kalian tindas dengan kata-kata kejam. Jangan mencari masalah dengan kami. Jangan merasa seolah-olah paling tersakiti padahal masalah itu kalian sendiri yang mencari. Kalian seharusnya cukup diam dan bertanya ketika memang di rasa perlu. Lalu percaya dengan jawaban kami yang memang benar adanya. Jangan kalian ungkit masalah yang telah berlalu selama bertahun-tahun. Lihat saja detik ini yang sedang terjadi dan kita temukan solusi bersama-sama.
“Ya sudah, kalau sudah merasa yakin dan bisa. Cuma perlu nikahin dia, ‘kan?”
Jusin berdecak. Pandu dan otaknya yang kecil sungguh perpaduan yang menguras energy.
“Menikah bukan hal yang sulit. Aku perlu pemahaman bahwa saat aku menjawab ya artinya aku serius.”
“Katanya nggak masalah. Kenapa sekarang mengeluh? Wanita seperti Amira nggak bakalan mau mengerti perkara begituan. Kamu ditanya dan mengajukan tanya justru bikin dia naik darah.”
“Terus aku nggak punya hak buat bertanya, begitu?”
“Muminya pindah ke sini, ya?” tanya sebuah suara yang tetap membuat Amira bergeming di tempatnya. “Aku baru tahu wabahnya telah menyerang Semarang.”Barulah Amira mendongakkan kepalanya diiringi senyuman tipis yang canggung. Bak maling tertangkap basah, Amira menolehkan kepalanya ke arah jam digital di atas mejanya. Oh, sekarang Amira tersadar kenapa pria ini berada di kantornya. Rupanya Amira yang terlambat dapat ke ruang rapat.“Tersadar, eh?” kekehnya dengan wajah penuh ejekan. “Aku pikir kamu orang yang disiplin dan selalu memanfaatkan waktu yang kamu miliki. Siapa yang sangka kamu bisa seceroboh ini?”“Hm, aku ceroboh,” aku Amira yang cepat-cepat berdiri dari duduknya. “Ini, ‘kan yang kamu butuhkan?” Amira bubuhkan tanda tangan miliknya setelah semalam membaca isi kontraknya. “Ada beberapa yang harus kamu revisi termasuk nominal uang yang tertera. Jangan terlalu menekan pihak lawan atau mereka akan membalas secara diam-diam. Dunia bisnis tidak seaman yang kamu bayangkan. Banyak l
Justin datang dengan sendirinya menemui Amira. Yang siang itu panas terik menyambangi Semarang dan sampai kapanpun Semarang dengan cargon ‘neraka bocor’ memang selalu melekat tanpa bisa dipisahkan. Bak perangko dan kertas surat yang selalu bersama. Semarang dan udara panasnya adalah perpaduan yang syahdu bak nyanyian pasangan kasmaran.“Makan siang?” Amira mengerutkan keningnya saat Justin menawarkan makan siang yang serupa dengan pertanyaan. Pria ini tidak bisakah langsung saja menyampaikan niatnya tanpa berkelit-kelit atau Amira yang selalu sensitif jika Justin berada di dekatnya?“Kapan?” tanya Amira membalas pertanyaan Justin. Dengan wajah juteknya, Amira tahu jika saat ini Justin berniat mengajaknya makan siang. Mungkin untuk mengakrabkan diri dan mengenal satu sama lain. “Aku lumayan sibuk.”“Aku tahu.” Justin tersenyum dan tetap berdiri di hadapan meja kerja Amira. “Kamu hanya sedang menghindariku dan mencari sejuta alasan agar ajakanku kamu tolak. Kenapa?” Justin melihat
Terbangun dari tidurnya di tengah malam, perasaan sedih melingkupi diri Amira. Perasaan itu campur aduk namun yang paling bertahta adalah kesedihan dan kesakitan. Tanpa alasan yang jelas, Amira ingin menangis sejadi-jadinya. Rasa sakitnya teramat dalam sehingga yang Amira rasakan adalah remasan sakit pada jantungnya. Bak di tusuk-tusuk kawat berduri, rasa sakitnya membuat Amira sesak napas. Amira ingin menyerah. Berhenti dan menghentikan semua yang saat ini ada di depan matanya. Namun faktanya, Amira akan menjadi manusia paling bodoh yang mengambil tindakan tanpa mau berpikir panjang. Amira masih memiliki hati nurani bahwa kehidupan berat tidak hanya menyapa dirinya. Mungkin saja di luar sana masih ada yang lebih daripada ini. Amira hanyalah bagian dari secuil biji sawi.“Mimpi buruk?” tanya sebuah suara dari arah samping Amira. “Minum.” Menyodorkan gelas berisi air, Amira menoleh dan mendapati Justin yang terduduk dengan wajah menahan kantuknya. “Kalau ada apa-apa, beritahu aku.”
Amira tidak tahu. Perasaannya bisa campur aduk seperti ini dan genangan liquid bening yang tengah menutupi pelupuk matanya mengaburkan segala pandangan di hadapannya. Kedua kaki Amira gemetar hebat dan membeku di tempat. Rasa sakit itu belum juga menghilang meski perlakuan manis Justin cukup membuatnya terkesan. Namun, Amira justru berpikir untuk mendorong Justin pergi. Amira tidak ingin bersama dengan siapapun di sini. Amira ingin sendiri dan hanya di peluk oleh rasa sakitnya saja. Amira ingin menangis sejadi-jadinya untuk meluapkan rasa sakitnya.“Ayo, sarapan.” Justin membuka pintu kamarnya dan mendapati Amira yang duduk sedang mengusapi kedua pipinya dengan tangan. “Menangis?” tanya Justin dengan tebakan. “Kenapa? Ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman? Ingin sarapan di luar?”Justin tidak akan menjudge apa-apa saja yang Amira alami. Setiap orang berhak merasakan sedih dan rasa sakitnya. Setiap orang juga berhak untuk menangis agar sesak di dadanya bisa berkurang. Amira di mata J
“Tentang meminta maaf, apa yang kamu pikirkan tentang itu?” tanya Amira pada seorang pria yang telah lama ingin dirinya temui. “Kamu bersembunyi dengan sangat apik. Semarang seluas itu ternyata.”Amira terkekeh sebentar lalu meneguk minuman dinginnya. Hari ini cuaca di Semarang panas. Dalam beberapa hari ini hujan tidak mengguyur setelah terakhir kali membuat banjir di titik tertentu. Semilir angin membelai kulit Amira dan anak-anak rambutnya yang tidak terkuncir rapi ikut terbang terbawa. Ah, rasanya masih seperti mimpi bisa bertemu dengan pria ini. Amira tidak menyangka akan bertemu dengan mudah setelah sekian lama menunggu kabar darinya.“Jangan bilang kamu mengancamku?” Pria itu bertanya lalu tersenyum sinis. Menatap Amira yang tidak merasa terintimidasi seperti sebelumnya. Wanita ini kembali bangkit dari keterpurukannya dengan cepat. “Kamu penuh kejutan dan aku tidak berpikir tentang ini sebelumnya. Apa dia lebih baik dariku? Maksudnya, kamu yakin akan membersamainya setelah ta
“Kamu gila?!”“Ah, kamu mengejutkanku.”Kurang lebih begitulah para betina yang sedang mengaung. Amarah yang Amira tahan-tahan sejak tadi akhirnya tersembur keluar begitu Randy hengkang dari hadapannya. Menatap Justin lekat-lekat dengan napas yang memburu, Amira kesal setengah mati. Pria ini datang ke hidupnya jika sekadar untuk menjadi pasangan hidup, maka tidak akan menjadi masalah. Namun karena Justin datang dan merusak segala tatanan hidupnya, Amira sungguh-sungguh ingin membuang Justin ke kali Banjar Kanal. Masuk bui bukan suatu hal masalah yang besar asal Justin bisa lenyap dari jangkauannya.“Tidak seharusnya kamu menantang Randy. Kamu tahu apa akibatnya?” Beruntung sekali karena kafe di siang itu telah kembali sepi. Jam istirahat perkantoran telah usai sehingga mneyisakan beberapa pengunjung yang tidak duduk berdekatan dengan keberadaan Amira. “Dia itu gila, kamu tahu! Dia bisa melakukan apa saja yang bahkan kamu tidak akan menduganya sama sekali. Ya, aku mengakuinya. Aku s
“Dasar anak kurang ajar!”“Aish!” Justin menggosok telinganya yang hampir terputus akibat teriakan Mamanya. Dalam satu hari ini, teriakan demi teriakan telah menyambangi telinga Justin. Dan tindakan teraman yang akan Justin ambil adalah segera membuat janji temu dengan dokter keluarganya guna melakukan pemeriksaan lanjutan. “Kamu bosan hidup?” seru Tami sekali lagi dengan deru napasnya yang memburu. Wanita paruh baya yang mengenakan baju olagraganya itu menahan emosinya mati-matian. Justin berulah dan itu bukan suatu hal yang biasa dilakukan oleh putra kesayangannya. Tapi kenapa harus sefatal ini? Tami ingin meledak detik itu juga namun yang terjadi justru terduduk lemas di atas sofa ruang tamunya. “Kenapa kamu melakukan kesalahan yang bahkan tidak pernah Mama bayangkan sebelumnya? Justin, kamu sadar kita siapa?”Seolah tidak peduli dengan keluhan Tami, Justin ikut duduk di samping Mamanya dengan wajah tak bersalah sama sekali. Cengiran khasnya muncul yang beruntung tidak diliha
“Kenapa bisa Amira berakhir di sini?”Itu adalah gaungan dari isi kepala Amira yang sore itu setengah kacau namun juga merasakan kelegaan. Amira marah dan misuh-misuh tapi anehnya, hatinya baik-baik saja. Seperti terasa sangat ringan dan sesuatu yang sudah lama terpendam dalam dadanya lepas begitu saja. Tapi apa?Nah, ini adalah PR yang harus Amira cari jawabannya. Amira harus mengorek-orek agar menemukan alasan yang tepat sekali pun harus mengais di antara tumpukan sampah depan kantornya. Demi Tuhan! Amira Meena merasa senang dan bahagia. Ini sesuatu yang belum pernah Amira rasakan sebelumnya. Dan lebih dari apa pun itu, Amira harus mengakui ini dengan sangat berat hati. Sejak bertemu dengan Justin Brotolaras, pria yang Amira kira amatlah dingin dan kaku, nyatanya dia adalah pria hangat dengan sejuta kalimat-kalimat bijak yang mampu mengendurkan rasa sakit di hati Amira. Aneh, ‘kan?Ah, bukan. Lebih tepatnya karena Amira memanglah wanita binal. Bagaimana tidak? Semudah itu Amira m
“Kalau sama orang yang salah saja kamu bisa setulus ini gimana sama orang yang tepat?”Adalah kalimat terakhir yang Amira dengar sebelum Justin hengkang.Sejenak Amira bimbang. Ragu untuk melangkah namun mustahil berjalan ditempat. Justin membuatnya ragu dan ingin maju tapi juga takut untuk semua risiko yang sudah menunggu.“Justin itu baik banget,” ucap Nita—sahabat Amira yang baru kembali dari studynya di Singapura. “Dia kelihatan tulus sama kamu. Cuma kamunya saja yang belum siap buat membuka diri.”“Setelah semua ini?” Amira perlihatkan perutnya yang mulai kelihatan. “Aku punya trauma yang aku sendiri nggak tahu kapan mau sembuh.”“Trauma nggak bisa sembuh total. Seumur hidup dia bakal menghantui kamu. Tinggal gimana kamunya dalam mengambil langkah. Life must go on, Mir. Kamu nggak bisa terus-terusan kejebak di masa kelam. Justin itu masa depan sedangkan yang jadi ketakutanmu adalah dirimu sendiri. Semua tergantung gimana kamu.”Amira diam. Apa yang Nita katakan benar adanya. Kala
Amira menikmati brownies buatan Justin. Rasanya enak dan pas. Manisnya sesuai dengan selera Amira walaupun ini brownies siap jadi tapi tetap saja ini enak. Amira tidak biasanya memberi pujian jadi ketika itu meluncur maauk ke dalam mulutnya meski tidak terucap secara langsung artinya masakan Justin sudah diberi tanda. Bahwa Amira akan meminta dimasakkan lagi entah untuk kapan.“Jangan lupakan vitaminmu.” Justin letakkan segelas air mineral dan sebutir vitamin dari dokter ke dalam piring kecil.Senyum Justin mendesirkan sesuatu yang lain kala mata Amira bersitatap dengan netra Justin. Dasar sialan! Amira akan melabeli dirinya sebagai wanita murahan yang benar-benar nggak punya harga diri lagi. Hanya karena senyuman Amira tidak berkedip sama sekali. Hanya karena perhatian kecil yang Justin berikan Amira terbuai.“Terima kasih.” Amira teguk air mineralnya dan memasukkan vitamin ke dalam mulutnya.Tatapan mata Justin belum terputus sama sekali. Membuat Amira semakin merasakan gugup dan sa
“Jadi ada apa?” tanya Justin yang belum menyerah bertanya. “Kamu bukan orang dengan tipe mau meminta tolong ke orang lain kecuali itu hal yang sangat penting. Dan aku merasa sedikit penasaran alih-alih tersanjung.”Amira memutar matanya malas. Amira sudah mengira jika Justin Brotolaras adalah pria dengan sejuta kepercayaan diri tinggi tapi kenapa bisa Amira lupa?“Bukan sesuatu yang penting,” jawab Amira duduk di sofa. “Kamu bisa pulang sekarang.”“Kamu ngusir aku?” Justin mulai berdrama dengan ekspresi wajahnya yang memelas. “Setelah aku menerjang hujan.”Menerjang hujan apanya? Baju dan badannya saja kering tanpa sedikit pun terkena tetesan air hujan. Bisa-bisanya melebih-lebihkan sesuatu yang tidak terjadi.“Kamu lebay banget,” cibir Amira. “Aku ngidam.” Amira mengakui meski dengan wajah yang malu. “Pengen makan sesuatu dan anehnya itu harus dari masakan tangan kamu.”“Aku?” Justin menunjuk dirinya sendiri. “Oh, aku sangat special dan bayinya sudah bisa mengenali aku. Itu bagus.”A
Begini, Justin Brotolaras memaksa otaknya untuk tetap berpikir waras. Waras di sini, entahlah yang seperti apa artinya. Justin hanya bisa mengurut keningnya yang sakit dan meloloskan suaranya dari mulutnya berulang kali. Bukan untuk menyerah atau mengingkari omongannya soal tanggung jawab. Tapi siapa yang sangka kalau Amira Meena begitu keras kepala?“Wanita itu bebal, ya?”Suara Judhi memenuhi ruangan kerja Justin yang sunyi. Matahari sore mulai kembali ke peraduannya, jalanan mulai dipadati oleh pemobil dan pemotor yang telah menyelesaikan aktivitasnya. Justin sendiri masih berkutat denga nisi kepalanya yang penuh.“Rata-rata wanita memang seperti itu.”“Oh, tidak! Jawaban kamu terlalu logis dan aku tidak setuju.” Judhi menyangkalnya dengan gerakan tangan gemulai dan mendudukkan bokongnya di meja kerja Justin. “Amira spesies berbeda.”Justin tertawa. “Spesies? Kamu pikir dia jenis ikan dan hewan lainnya? Kamu lucu.”“Aku serius! Pegang ucapanku, kamu yang akan kesusahan sendiri suat
Bertemu tanpa sengaja, mencintai secara tiba-tiba lalu melupakan secara terpaksa adalah suatu kebetulan yang tak terduga. Ceritanya singkat namun melekat, hanya ada momen bukan komitmen, dan sekadar hadir bukanlah takdir.Amira Meena pernah berada di posisi seperti itu. Amira bisa mencintainya sepuas yang diri Amira mau namun bagian sakitnya adalah membiarkan dia mencintai pilihannya dan itu bukan Amira. Tidak ada yang menyakiti. Bukan Amira, bukan juga dia tapi lebih kepada harapan Amira yang terlalu dipaksakan untuk bisa membersamainya. Gila! Amira tidak sadar sama sekali tentang ini.Siapa bilang Amira tidak berusaha melupakan? Amira sudah berusaha setengah mati. Ini tidak semudah kita membalikkan telapak tangan dan dalam sekedip mata semuanya usai. Percaya atau tidak, semesta juga punya peran di dalamnya. Yaitu membuat Amira yang sudah hampir lupa untuk kembali mengingat tentangnya.Sekadar dekat tanpa ikatan, hanya teman namun takut kehilangan. Sesekali terselip rasa cemburu yang
Justin Brotolaras tahu dan sadar. Ada jenis cinta yang tidak bisa dimiliki. Hanya terikat secara batin, kuat dan tahu bahwa pemilik hati masing-masing saling memikirkan. Rasanya mustahil untuk bersama dan pada akhirnya mereka memilih untuk merindu seumur hidup.Ah, membayangkannya saja Justin sudah merinding setengah mati. Lalu mengalami hal itu untuk sesaat, Justin didominasi rasa sesal. Dan meyakinkan diri sendiri untuk menepis perasaan itu bukanlah sesuatu yang mudah. Justin bertarung dengan waktu dan egonya sendiri.Mengenal Seina Ibrahim, mencintainya tidak memberi dampak yang buruk. Dari Seina, Justin belajar ikhlas dan caranya menerima. Maka kalimat yang tepat untuk menggambarkan hatinya adalah terima kasih. Justin tidak pernah menyesal mencintai Seina. Sebab Seina benar-benar orang baik yang memberi Justin kebahagiaan. Walau bukan dengan kebersamaan seperti seharusnya dan normalnya orang mencintai. Dari Seina, Justin belajar banyak hal.Tuhan tidak pernah mempertemukan kita de
“Ayo!” ajak Justin di siang hari yang terik. “Aku belum makan,” katanya menyambung kalimat sebelumnya yang membuat Amira terbengong di tempat duduknya.Wanita hamil itu hanya menatap Justin tanpa reaksi untuk segera bangkit dari kursi kebesarannya dan malah menggeleng. Heran dengan perubahan sikap Justin dan getolnya pria itu menghampiri dirinya di kantor. Jika dihitung dari jaraknya, antara kantor Justin dan kantor Amira bisa memakan waktu hingga 30 menit, belum termasuk kemacetan yang terjadi di kota Semarang. Mungkin dekat tapi tidak juga. Namun memang pria ini penuh dengan tekad yang tidak bisa Amira tebak bagaimana akhirnya. Membingungkan dan Amira benci di buat menebak-nebak seperti ini. Pria dan segala egonya yang tinggi sungguh membingungkan.“Amira!” panggilnya halus masih dengan tubuh yang berdiri di ambang pintu. Embusan napas Justin terdengar dan pria itu menundukkan kepalanya. Netra madunya menatap lantai marmer kantor Amira untuk kemudia diangkat kembali guna melihat Ami
“Bagaimana jika Seina tiba-tiba datang?”Justin menghentikan tangannya yang hendak membuka pintu mobil. Tujuan mereka telah sampai dan halaman parkir mall lumayan sepi. Hanya beberapa mobil yang lalu lalang dan petugas kebersihan yang sedang melakukan tugasnya. Pertanyaan Amira mudah saja untuk Justin tanggapi atau abaikan saja karena itu tidaklah penting. Justin hanya fokus pada dirinya saat ini dan apa-apa saja yang akan dirinya lakukan bersama Amira. Seina bukan daftar penting untuk Justin ingat. Tapi bisakah itu Justin lakukan?“Kamu mau jawaban yang seperti apa?” Justin memberi pilihan untuk Amira secara halus. “Jujur saja, mungkin mulutku akan menjawab tidak peduli namun hatiku merasakan pukulan yang lain. Hm, bagaimana, ya menjelaskannya?”“Apa?” Amira melepas sabuk pengamannya dan sepenuhnya menghadapkan tubuhnya ke Justin. “Aku hanya bertanya sederhana dan berharap jawaban darimu juga cukup sederhana.”Justin terkekeh. Menggelengkan kepalanya lalu terdiam selama sekian de
“Kenapa bisa Amira berakhir di sini?”Itu adalah gaungan dari isi kepala Amira yang sore itu setengah kacau namun juga merasakan kelegaan. Amira marah dan misuh-misuh tapi anehnya, hatinya baik-baik saja. Seperti terasa sangat ringan dan sesuatu yang sudah lama terpendam dalam dadanya lepas begitu saja. Tapi apa?Nah, ini adalah PR yang harus Amira cari jawabannya. Amira harus mengorek-orek agar menemukan alasan yang tepat sekali pun harus mengais di antara tumpukan sampah depan kantornya. Demi Tuhan! Amira Meena merasa senang dan bahagia. Ini sesuatu yang belum pernah Amira rasakan sebelumnya. Dan lebih dari apa pun itu, Amira harus mengakui ini dengan sangat berat hati. Sejak bertemu dengan Justin Brotolaras, pria yang Amira kira amatlah dingin dan kaku, nyatanya dia adalah pria hangat dengan sejuta kalimat-kalimat bijak yang mampu mengendurkan rasa sakit di hati Amira. Aneh, ‘kan?Ah, bukan. Lebih tepatnya karena Amira memanglah wanita binal. Bagaimana tidak? Semudah itu Amira m