Setelah perjalanan spiritual ke puncak Gunung Suci, tim Raka kembali ke perkemahan sementara di lereng gunung. Arya Kertajaya, yang sebelumnya terluka parah dalam pertempuran melawan pasukan bayangan Ki Jagabaya, sedang berbaring di sebuah kemah kecil yang dikelilingi oleh obat-obatan tradisional dan ramuan herbal. Wajahnya masih pucat, tetapi luka-lukanya mulai sembuh berkat perawatan dari tabib kerajaan.Di luar kemah, angin malam berdesir pelan, membawa aroma daun sirih dan rempah-rempah yang digunakan untuk merawat luka. Api unggun di tengah perkemahan menyala-nyala, memberikan cahaya hangat yang kontras dengan dinginnya udara pegunungan. Suara alunan gamelan Jawa kuno terdengar samar-samar dari jarak jauh, menciptakan atmosfer mistis yang mendalam.Raka, Dyah Sulastri, dan beberapa prajurit lainnya berkumpul di dekat api unggun, membicarakan rencana berikutnya. Namun, mata mereka sesekali tertuju pada kemah Arya Kertajaya, khawatir akan kondisinya.Saat matahari mulai terbit di pa
Setelah beberapa hari beristirahat di perkemahan, tim Raka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju sungai suci yang terletak di lembah bawah gunung. Menurut legenda, sungai ini adalah tempat tinggal Naga Niskala, makhluk gaib penjaga kerajaan yang diyakini memiliki jawaban atas misteri lenyapnya Gilingwesi dari sejarah.Saat mereka tiba di tepi sungai, suasana menjadi semakin mistis. Air sungai berkilauan seperti permata biru di bawah sinar matahari pagi, namun di kedalaman air tampak bayangan hitam besar yang bergerak pelan. Uap tipis mengepul dari permukaan air, membawa aroma tanah basah dan rempah-rempah kuno. Angin sepoi-sepoi membawa suara gemericik air dan desiran dedaunan, menciptakan harmoni alam yang mendalam.Raka, Dyah Sulastri, Arya Kertajaya, dan para prajurit lainnya berdiri dengan hormat di tepi sungai. Mereka menyadari bahwa tempat ini bukan sekadar lokasi fisik—ini adalah portal spiritual yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia gaib.Tiba-tiba, air
Sementara tim Raka berada di tepi Sungai Suci, mencari jawaban dari Naga Niskala, Ki Jagabaya diam-diam merencanakan langkahnya di balik layar. Di ruang bawah tanah istana yang gelap dan lembap, ia duduk di depan meja kayu tua yang dipenuhi gulungan kuno, peta kerajaan, dan artefak-artefak misterius. Lilin hitam menyala-nyala, memancarkan cahaya redup yang membuat bayangan panjang di dinding batu. Udara di ruangan itu terasa berat, membawa aroma belerang dan rempah-rempah kuno.Ki Jagabaya adalah seorang tokoh yang selalu bergerak dalam bayang-bayang. Ia tahu bahwa kekuasaan sejati tidak datang dari tahta, melainkan dari pengendalian dunia gaib. Matanya yang tajam memandang peta kerajaan dengan ekspresi dingin, sementara tangannya memegang sebuah kristal hitam yang berdenyut pelan, seolah memiliki kehidupan sendiri."Raka," gumamnya pelan, suaranya seperti bisikan angin malam. "Kau pikir kau bisa mengubah takdir? Kita akan lihat."Ki Jagabaya mulai menyusun rencana baru untuk menggulin
Setelah meninggalkan tepi Sungai Suci, tim Raka memutuskan untuk kembali ke puncak gunung suci. Mereka percaya bahwa di sana, Raka akan menghadapi ujian spiritual yang menentukan apakah ia layak menjadi harapan baru bagi kerajaan Gilingwesi. Perjalanan menuju puncak dipenuhi dengan ketegangan dan antisipasi. Udara semakin dingin, dan kabut tebal mulai menyelimuti jalan mereka. Setiap langkah yang mereka ambil terasa lebih berat, seolah-olah gunung itu sendiri sedang menguji tekad mereka.Saat mereka mencapai puncak, suasana menjadi semakin mistis. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga liar yang tidak dikenal. Di tengah puncak, sebuah altar batu kuno berdiri tegak, dikelilingi oleh api gaib yang menyala biru kehijauan. Resi Agung Darmaja, yang telah mendampingi mereka, memberikan instruksi terakhir kepada Raka."Inilah saatnya, Saudara Raka," katanya dengan nada serius. "Ujian ini bukan hanya tentang kekuatanmu, tetapi juga tentang keyakinanmu terhadap cinta, takdir
Setelah pertempuran spiritual yang melelahkan di puncak gunung suci, Raka kembali ke perkemahan dengan langkah yang lebih ringan namun dipenuhi oleh rasa tanggung jawab yang semakin besar. Artefak di tangannya masih berdenyut lembut, seolah-olah memberikan pengakuan atas perjuangannya melawan bayangan dirinya sendiri. Udara malam terasa lebih tenang, tetapi aroma belerang dari dunia gaib masih menyelimuti atmosfer.Dyah Sulastri dan tim lainnya menyambutnya dengan senyum lega. Dyah mendekat, matanya penuh kekaguman. "Kau berhasil, Raka," katanya pelan. "Aku tahu kau bisa melakukannya."Raka tersenyum tipis, tetapi ekspresinya cepat berubah menjadi serius. Ia menatap artefak di tangannya, yang kini memancarkan cahaya biru keemasan. Ada sesuatu yang berbeda—ia merasakan hubungan baru antara dirinya dan dunia gaib."Ada sesuatu yang berubah," gumam Raka pelan. "Aku... aku bisa mendengar mereka."Angin malam berdesir pelan, membawa aroma daun basah dan bunga liar yang tidak dikenal. Suara
Setelah beberapa hari berada di puncak gunung suci, tim Raka memutuskan untuk kembali ke istana. Mereka membawa pengetahuan baru tentang artefak dan kekuatan spiritual mereka, tetapi suasana di antara mereka masih dipenuhi ketegangan. Udara pagi terasa dingin, dan kabut tebal menyelimuti hutan lebat yang mereka lalui. Suara angin bercampur dengan deru air sungai suci yang mengalir di kejauhan.Raka berjalan di depan, matanya penuh tekad. Artefak di tangannya masih berdenyut pelan, seolah-olah memberikan pengingat bahwa waktu mereka semakin sempit. Dyah Sulastri berjalan di sampingnya, wajahnya tampak cemas namun teguh. Ia tahu bahwa perang besar akan segera dimulai, dan ia harus siap menghadapi takdirnya."Kita tidak punya banyak waktu," kata Raka pelan, suaranya penuh keteguhan. "Ki Jagabaya sudah mulai menyerang desa-desa di pinggiran kerajaan. Jika kita tidak bertindak cepat, semuanya akan runtuh."Dyah menatapnya dengan mata penuh keyakinan. "Aku percaya padamu, Raka. Tapi aku juga
Dengan suasana yang semakin tegang, Rakai Wisesa mengumpulkan para pemimpin sekutu kerajaan di balairung istana. Udara di ruangan itu terasa berat, dipenuhi oleh kecemasan dan ketegangan. Para pemimpin sekutu duduk di kursi-kursi kayu yang dihiasi ukiran kuno, sementara prajurit-prajurit bersenjata lengkap berdiri di setiap sudut ruangan. Api unggun besar di tengah ruangan memberikan cahaya redup, namun tidak cukup untuk menghangatkan suasana.Rakai Wisesa berdiri di depan singgasana dengan wajah penuh tekad, meskipun garis-garis kelelahan tampak jelas di wajahnya. Di sisinya, Resi Agung Darmaja berdiri tenang, matanya menyapu seluruh ruangan dengan tatapan bijaksana. Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya berdiri di belakang raja, menunjukkan solidaritas mereka dalam situasi genting ini."Para sekutu setia," kata Rakai Wisesa dengan suara tegas, "kita berada di ambang perang besar melawan pasukan bayangan Ki Jagabaya. Mereka telah menyerang desa-desa kita, menculik warga, dan melemah
Di tengah malam yang sunyi, Arya Kertajaya duduk di tepi tempat tidurnya di ruang penyembuhan istana. Luka-lukanya akibat pertempuran sebelumnya masih belum sepenuhnya sembuh, tetapi pikirannya terus melayang ke medan perang yang akan datang. Suara angin malam berdesir pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang gugur. Aroma belerang samar-samar menyelinap masuk melalui celah jendela, menciptakan atmosfer yang menggelisahkan. Api lilin di sampingnya berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang di dinding.Meskipun tubuhnya masih lemah, tekadnya tak tergoyahkan. Ia tahu bahwa waktu mereka semakin sempit. Ki Jagabaya dan pasukan bayangannya sudah mendekati istana, dan jika tidak ada yang bertindak, kerajaan ini akan hancur. Pikiran tentang Dyah Sulastri—wanita yang ia cintai lebih dari apa pun—menghantui benaknya. Ia tidak bisa membiarkan apa pun terjadi padanya."Aku tidak bisa hanya duduk diam," gumam Arya Kertajaya pada dirinya sendiri, suaranya penuh keyakinan meskipun nadanya
Malam itu, angin dingin berdesir melalui reruntuhan istana Gilingwesi. Raka berdiri di ruang bawah tanah yang gelap, tempat portal waktu kini aktif kembali. Cahaya biru keperakan dari artefak perunggu memancar dengan intensitas yang membuat udara di sekitarnya bergetar seperti gelombang energi kosmik. Ia merasakan tarikan kuat dari portal itu—sebuah panggilan yang sulit diabaikan.Namun, suara lain juga terdengar di kepalanya. Suara-suara halus dari masa lalu dan masa depan bergema bersamaan, membisikkan pilihan-pilihan yang saling bertentangan. "Kembalilah... duniamu menantimu," bisik salah satu suara. "Tetaplah... hanya kau yang bisa menyelamatkannya," balas suara lainnya.Raka menutup matanya erat-erat, mencoba menghalau keraguan yang mulai memenuhi pikirannya. "Apa
Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, suasana di istana Gilingwesi mulai mereda. Namun, ketegangan masih menyelimuti udara. Raka berdiri di tepi sungai suci, artefak perunggu di pinggangnya bergetar lemah. Ia tidak bisa menyingkirkan perasaan bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi—sesuatu yang melampaui kemenangan sementara atas pasukan asing dan penyihir gelap.Saat ia memandangi artefak itu, cahaya biru keperakan tiba-tiba memancar dengan intensitas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Getarannya semakin kuat, hingga nyaris terlepas dari genggamannya. Suara gemuruh rendah bergema di udara, seperti desiran energi kosmik yang membangunkan seluruh istana."Raka!" seru sebuah suara di belakangnya. Arya Kertajaya berlari mendekat, wajahnya dipenuhi oleh kekhawatiran. "Apa yang terjadi? Apakah itu cerminmu?"
Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, pasukan asing akhirnya mundur. Penyihir gelap telah dikalahkan oleh kekuatan spiritual Raka, dan pasukan loyalis berhasil menekan sisa-sisa pasukan bayangan Ki Jagabaya. Namun, kemenangan ini tidak datang tanpa harga mahal. Kerajaan Gilingwesi terlihat seperti reruntuhan—istana utama hancur sebagian, desa-desa di sekitarnya luluh lantak, dan banyak korban jiwa berjatuhan.Angin dingin berembus di medan perang, membawa aroma darah dan abu yang masih menyelimuti udara. Asap tebal mengepul dari bangunan-bangunan yang terbakar, menciptakan suasana kelabu yang suram. Prajurit loyalis berkumpul di lapangan istana, wajah mereka lelah namun penuh rasa syukur atas kemenangan yang diraih dengan susah payah.Namun, bagi Raka, kemenangan ini terasa kosong. Ia berdiri di tengah-tengah kerumunan prajurit, tetapi pikirannya jauh dari perayaan. Matanya tertuju pada reruntu
Pertempuran besar di luar istana mulai mereda setelah kekalahan penyihir gelap. Pasukan loyalis berhasil menekan pasukan bayangan Ki Jagabaya, yang kini tercerai-berai tanpa pemimpin mereka yang menghilang bersama penyihir gelap. Namun, Arya Kertajaya tidak puas dengan hasil ini. Ia tahu bahwa Ki Jagabaya adalah otak di balik serangan mematikan terhadap kerajaan, dan ia bertekad untuk menangkap pria itu sebelum ia melarikan diri. Di tengah kekacauan medan perang, Arya Kertajaya memimpin pasukan kecil menuju lokasi rahasia di hutan lebat tempat Ki Jagabaya diketahui bersembunyi. Ia telah mendengar desas-desus dari beberapa prajurit bayangan yang tertangkap bahwa Ki Jagabaya sedang mempersiapkan langkah selanjutnya—rencana yang lebih berbahaya daripada serangan pertama. Setelah berjam-jam mencari, Arya Kertajaya dan pasukannya akhirnya menemukan Ki Jagabaya di sebuah gua tersembunyi di tepi sungai suci.
Setelah Dyah Sulastri jatuh ke dalam koma, medan perang terasa semakin sunyi bagi Raka. Tubuhnya masih gemetar karena kelelahan dan emosi yang memuncak. Ia berlutut di tanah, memegang tubuh tak berdaya sang putri dengan erat, air mata mengalir deras di pipinya."Kenapa harus seperti ini?" gumamnya pelan, suaranya penuh rasa bersalah dan kemarahan. "Kenapa aku tidak bisa melindungimu?"Pasukan loyalis mencoba mendekat untuk membawa Dyah Sulastri ke tempat aman, tetapi Raka menolak mereka dengan gerakan tangan yang tegas. Matanya kosong, namun di dalam dirinya, api kemarahan mulai menyala. Ia merasakan sesuatu yang baru—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Angin dingin berdesir, membawa aroma belerang yang semakin kuat. Penyihir gelap muncul kembali, tertawa dingin di tengah kabut hitam yang menyelimuti medan perang. "Lihatlah dirimu, Raka," ejeknya. "Kau
Pertempuran besar di luar istana mencapai puncaknya. Suara senjata yang beradu, teriakan prajurit, dan raungan makhluk gaib menggema di udara malam. Api melahap beberapa sudut benteng, sementara asap hitam membumbung tinggi ke langit, menyelimuti medan perang dalam kabut pekat. Pasukan bayangan Ki Jagabaya dan sekutunya dari dunia gaib terus menyerang tanpa henti, memanfaatkan setiap celah dalam pertahanan kerajaan.Di tengah medan perang yang kacau, Raka berdiri di garis depan, menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Meskipun ia berhasil menahan serangan-serangan awal, kekuatannya mulai terasa melemah. Ia merasakan energinya terkuras habis dengan cepat, membuat tubuhnya semakin goyah.Penyihir gelap muncul di tengah medan perang, dikelilingi oleh kabut hitam yang pekat. Matanya bersinar seperti bara ap
Medan perang yang sudah penuh dengan kekacauan semakin memanas saat penyihir gelap muncul di tengah-tengah pertempuran. Tubuhnya dikelilingi oleh energi hitam pekat yang mengintimidasi, dan matanya berkilat merah seperti bara api. Ia melangkah maju dengan gerakan anggun namun menakutkan, seolah-olah seluruh dunia ada dalam kendalinya."Kalian semua telah bermain cukup lama," katanya dengan suara dingin yang menusuk. "Sekarang, saatnya kalian membayar harga atas perlawanan kalian."Penyihir itu mengangkat kedua tangannya, menciptakan pusaran energi hitam besar di udara. Pusaran itu mulai melepaskan serangan sihir yang menghantam barisan pasukan loyalis, menyebabkan banyak prajurit terpental dan jatuh tak bernyawa. Para makhluk gaib yang setia kepada kerajaan pun terlihat kesulitan menghadapi kekuatan gelap ini.
Langit di atas medan perang mulai menghitam, tertutup awan tebal yang menandakan kemarahan alam. Angin dingin berhembus kencang, membawa aroma darah dan belerang yang menebal seiring dengan intensitas pertempuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya terus melancarkan serangan brutal, sementara makhluk gaib dari kedua pihak saling bertarung tanpa ampun.Di tengah kekacauan, Raka masih mencoba mengatur napasnya setelah menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Namun, energinya hampir habis, dan ia merasa dirinya tidak lagi mampu melawan jika serangan baru datang. Dyah Sulastri berdiri di sampingnya, mata hijaunya penuh dengan kekhawatiran."Kau harus istirahat," bisik Dyah pelan. "Kekuatanmu sudah mencapai batasnya."Raka menggeleng lemah. "Aku tidak bisa berhenti sekarang. Jika aku berhenti, kita semua akan mati."Sebelum mereka sempat melanjutkan percakapan, sebuah suara raungan keras memenuhi udara. Sebuah Genderuwo raksasa muncul dari
Pertempuran di luar istana telah berubah menjadi badai kehancuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya yang dipersenjatai dengan senjata mistis dan sihir hitam terus menggempur pertahanan kerajaan. Makhluk-makhluk gaib seperti Banaspati, Buto Ijo, dan Genderuwo juga turut berperang, masing-masing memilih pihak mereka. Di tengah kekacauan itu, Raka berdiri di garis depan, masih mencoba memahami situasi yang semakin tak terkendali. Angin malam membawa aroma belerang yang menusuk, sementara cahaya bulan redup tertutup awan kelabu. Suara gema tombak dan pedang bergesekan dengan energi spiritual memenuhi udara. Raka merasakan tubuhnya bergetar hebat. Dalam beberapa hari terakhir, ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh terjadi padanya. Sejak ritual gaib yang dipimpin Dyah Sulastri di bab sebelumnya, ia merasakan aliran energi aneh di dalam dirinya—seperti gelombang panas yang melingkupi seluruh tubuhnya. Awalnya, ia mengabaikannya sebagai efek sam