Home / Fantasi / Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir / BAB 135: "CAHAYA TAKDIR: KETIKA ARTEFAK BERBICARA"

Share

BAB 135: "CAHAYA TAKDIR: KETIKA ARTEFAK BERBICARA"

last update Last Updated: 2025-03-09 17:00:31
Setelah kejadian kemarahan Banaspati, suasana di istana Gilingwesi semakin tegang. Api-api gaib telah padam, tetapi bekas-bekasnya masih terlihat di beberapa bangunan penting. Para prajurit dan penduduk lokal mulai mempertanyakan apakah kerajaan ini benar-benar akan bertahan dari badai ancaman yang datang dari dalam maupun luar.

Raka, Dyah Sulastri, Rakai Wisesa, dan Resi Agung Darmaja berkumpul di ruang meditasi spiritual di sayap utara istana. Ruangan itu dipenuhi aroma dupa kemenyan, cahaya lilin yang redup, serta getaran energi artefak yang semakin kuat. Semua mata tertuju pada benda kuno itu, yang kini berada di tengah meja kecil, memancarkan cahaya redup namun intens.

Angin malam berdesir pelan melalui celah-celah jendela tinggi, membawa aroma belerang yang menyengat—sebuah tanda bahwa dunia gaib semakin dekat. Suara angin itu seperti bisikan halus, seolah-olah roh-roh leluhur sedang mengamati apa yang terjadi di dalam ruangan. Getaran energi spiritual artefak yang dibawa Raka ju
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 136: PERJALANAN KE PUNCAK GUNUNG SUCI

    Setelah kejadian kemarahan Banaspati dan penemuan baru tentang artefak, Raka menyadari bahwa mereka membutuhkan jawaban lebih mendalam untuk memahami kekuatan benda itu. Resi Agung Darmaja menyarankan agar mereka melakukan perjalanan spiritual ke puncak Gunung Suci, tempat para leluhur kerajaan sering bermeditasi untuk mendapatkan petunjuk dari dunia gaib.Raka, Dyah Sulastri, Arya Kertajaya (yang meskipun masih pulih tetap bersikeras ikut), dan beberapa prajurit setia memutuskan untuk memulai perjalanan ini. Mereka membawa artefak serta perlengkapan minimal, karena perjalanan ini bukan sekadar fisik—melainkan ujian spiritual yang akan menguji keyakinan, ketabahan, dan hubungan mereka dengan dunia gaib.Gunung Suci dikenal sebagai tempat suci yang dijaga oleh makhluk-makhluk gaib seperti Banaspati, Genderuwo, dan Naga Niskala. Ada legenda bahwa hanya mereka yang memiliki hati murni dan tujuan mulia yang bisa mencapai puncaknya tanpa terhalang oleh rintangan supranatural.Angin malam be

    Last Updated : 2025-03-09
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 137: PENGLIHATAN TENTANG MASA LALU

    Setelah mencapai puncak Gunung Suci, tim Raka menemukan altar batu kuno yang dikelilingi oleh api kecil milik Banaspati. Altar itu tampak seperti tempat meditasi, dengan simbol-simbol kuno yang terukir di permukaannya. Udara di sana terasa lebih dingin dan berat, seolah-olah waktu melambat. Suara angin malam membawa aroma belerang yang semakin kuat, menciptakan atmosfer mistis yang mendalam.Resi Agung Darmaja menginstruksikan agar mereka semua duduk dalam lingkaran di sekitar altar. "Kita harus memahami kekuatan artefak ini," katanya dengan suara tegas. "Namun, untuk melakukannya, kita harus membuka pintu ke masa lalu. Hanya dengan memahami sejarah kerajaan ini, kita bisa menemukan jawaban."Raka, Dyah Sulastri, Arya Kertajaya, dan beberapa prajurit setia duduk dalam posisi meditasi, sementara Resi Agung Darmaja mulai melantunkan mantra spiritual. Artefak di tangan Raka mulai berdenyut, cahayanya menyilaukan dan memenuhi seluruh area di sekitar mereka. Getaran energi spiritualnya sema

    Last Updated : 2025-03-10
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 138: IDENTITAS SEJATI RAKA TERUNGKAP

    Setelah penglihatan mendalam tentang masa lalu kerajaan, suasana di puncak Gunung Suci semakin tegang. Raka masih terduduk di dekat altar batu, tubuhnya gemetar karena beban emosional dari apa yang ia lihat. Dyah Sulastri duduk di sampingnya, wajahnya penuh kekhawatiran. Arya Kertajaya dan para prajurit lainnya berdiri agak jauh, memberikan ruang bagi Raka untuk merenung.Angin malam berdesir pelan melalui pepohonan tinggi, membawa aroma belerang yang semakin kuat. Suara angin itu seperti bisikan halus, seolah-olah roh-roh leluhur sedang mengamati apa yang terjadi di dalam ruangan. Getaran energi spiritual artefak yang dibawa Raka juga semakin intens, menciptakan atmosfer yang semakin mencekam.Resi Agung Darmaja, yang sejak awal tampak tenang, kini melangkah maju dengan langkah perlahan namun penuh otoritas. Matanya yang tajam menatap Raka, seolah-olah ia telah menunggu momen ini selama bertahun-tahun."Saudara Raka," kata Resi Agung Darmaja dengan suara berat namun lembut, "apa yang

    Last Updated : 2025-03-10
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 139: DYAH SULASTRI MENGHADAPI TAKDIRNYA

    Setelah pengungkapan identitas Raka sebagai reinkarnasi salah satu pendiri kerajaan, suasana di puncak Gunung Suci semakin tegang. Semua orang mulai menyadari bahwa kehadiran Raka bukanlah kebetulan—ia adalah bagian integral dari siklus takdir kerajaan Gilingwesi. Namun, ketegangan ini tidak hanya berfokus pada Raka. Dyah Sulastri, yang selama ini mencoba menyangkal takdirnya, mulai merasakan beban yang lebih besar.Dyah duduk agak jauh dari kelompok utama, wajahnya muram saat ia memandangi artefak di tangan Raka. Matanya berkaca-kaca, seolah-olah ia sedang berjuang melawan perasaannya sendiri. Angin malam berdesir pelan melalui pepohonan tinggi, membawa aroma belerang yang semakin kuat. Suara angin itu seperti bisikan halus, seolah-olah roh-roh leluhur sedang mengamati apa yang terjadi di dalam ruangan. Getaran energi spiritual artefak yang dibawa Raka juga semakin intens, menciptakan atmosfer yang semakin mencekam.Raka mendekatinya dengan langkah pelan, khawatir akan apa yang mungki

    Last Updated : 2025-03-10
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 140: ARYA KERTAJAYA PULIH

    Setelah perjalanan spiritual ke puncak Gunung Suci, tim Raka kembali ke perkemahan sementara di lereng gunung. Arya Kertajaya, yang sebelumnya terluka parah dalam pertempuran melawan pasukan bayangan Ki Jagabaya, sedang berbaring di sebuah kemah kecil yang dikelilingi oleh obat-obatan tradisional dan ramuan herbal. Wajahnya masih pucat, tetapi luka-lukanya mulai sembuh berkat perawatan dari tabib kerajaan.Di luar kemah, angin malam berdesir pelan, membawa aroma daun sirih dan rempah-rempah yang digunakan untuk merawat luka. Api unggun di tengah perkemahan menyala-nyala, memberikan cahaya hangat yang kontras dengan dinginnya udara pegunungan. Suara alunan gamelan Jawa kuno terdengar samar-samar dari jarak jauh, menciptakan atmosfer mistis yang mendalam.Raka, Dyah Sulastri, dan beberapa prajurit lainnya berkumpul di dekat api unggun, membicarakan rencana berikutnya. Namun, mata mereka sesekali tertuju pada kemah Arya Kertajaya, khawatir akan kondisinya.Saat matahari mulai terbit di pa

    Last Updated : 2025-03-10
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 141: NAGA NISKALA MEMBERIKAN JAWABAN

    Setelah beberapa hari beristirahat di perkemahan, tim Raka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju sungai suci yang terletak di lembah bawah gunung. Menurut legenda, sungai ini adalah tempat tinggal Naga Niskala, makhluk gaib penjaga kerajaan yang diyakini memiliki jawaban atas misteri lenyapnya Gilingwesi dari sejarah.Saat mereka tiba di tepi sungai, suasana menjadi semakin mistis. Air sungai berkilauan seperti permata biru di bawah sinar matahari pagi, namun di kedalaman air tampak bayangan hitam besar yang bergerak pelan. Uap tipis mengepul dari permukaan air, membawa aroma tanah basah dan rempah-rempah kuno. Angin sepoi-sepoi membawa suara gemericik air dan desiran dedaunan, menciptakan harmoni alam yang mendalam.Raka, Dyah Sulastri, Arya Kertajaya, dan para prajurit lainnya berdiri dengan hormat di tepi sungai. Mereka menyadari bahwa tempat ini bukan sekadar lokasi fisik—ini adalah portal spiritual yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia gaib.Tiba-tiba, air

    Last Updated : 2025-03-10
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 142: KI JAGABAYA MENYUSUN RENCANA BARU

    Sementara tim Raka berada di tepi Sungai Suci, mencari jawaban dari Naga Niskala, Ki Jagabaya diam-diam merencanakan langkahnya di balik layar. Di ruang bawah tanah istana yang gelap dan lembap, ia duduk di depan meja kayu tua yang dipenuhi gulungan kuno, peta kerajaan, dan artefak-artefak misterius. Lilin hitam menyala-nyala, memancarkan cahaya redup yang membuat bayangan panjang di dinding batu. Udara di ruangan itu terasa berat, membawa aroma belerang dan rempah-rempah kuno.Ki Jagabaya adalah seorang tokoh yang selalu bergerak dalam bayang-bayang. Ia tahu bahwa kekuasaan sejati tidak datang dari tahta, melainkan dari pengendalian dunia gaib. Matanya yang tajam memandang peta kerajaan dengan ekspresi dingin, sementara tangannya memegang sebuah kristal hitam yang berdenyut pelan, seolah memiliki kehidupan sendiri."Raka," gumamnya pelan, suaranya seperti bisikan angin malam. "Kau pikir kau bisa mengubah takdir? Kita akan lihat."Ki Jagabaya mulai menyusun rencana baru untuk menggulin

    Last Updated : 2025-03-11
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 143: PERTEMPURAN SPIRITUAL

    Setelah meninggalkan tepi Sungai Suci, tim Raka memutuskan untuk kembali ke puncak gunung suci. Mereka percaya bahwa di sana, Raka akan menghadapi ujian spiritual yang menentukan apakah ia layak menjadi harapan baru bagi kerajaan Gilingwesi. Perjalanan menuju puncak dipenuhi dengan ketegangan dan antisipasi. Udara semakin dingin, dan kabut tebal mulai menyelimuti jalan mereka. Setiap langkah yang mereka ambil terasa lebih berat, seolah-olah gunung itu sendiri sedang menguji tekad mereka.Saat mereka mencapai puncak, suasana menjadi semakin mistis. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga liar yang tidak dikenal. Di tengah puncak, sebuah altar batu kuno berdiri tegak, dikelilingi oleh api gaib yang menyala biru kehijauan. Resi Agung Darmaja, yang telah mendampingi mereka, memberikan instruksi terakhir kepada Raka."Inilah saatnya, Saudara Raka," katanya dengan nada serius. "Ujian ini bukan hanya tentang kekuatanmu, tetapi juga tentang keyakinanmu terhadap cinta, takdir

    Last Updated : 2025-03-11

Latest chapter

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 215: KEPUTUSAN TERAKHIR

    Malam itu, angin dingin berdesir melalui reruntuhan istana Gilingwesi. Raka berdiri di ruang bawah tanah yang gelap, tempat portal waktu kini aktif kembali. Cahaya biru keperakan dari artefak perunggu memancar dengan intensitas yang membuat udara di sekitarnya bergetar seperti gelombang energi kosmik. Ia merasakan tarikan kuat dari portal itu—sebuah panggilan yang sulit diabaikan.Namun, suara lain juga terdengar di kepalanya. Suara-suara halus dari masa lalu dan masa depan bergema bersamaan, membisikkan pilihan-pilihan yang saling bertentangan. "Kembalilah... duniamu menantimu," bisik salah satu suara. "Tetaplah... hanya kau yang bisa menyelamatkannya," balas suara lainnya.Raka menutup matanya erat-erat, mencoba menghalau keraguan yang mulai memenuhi pikirannya. "Apa

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 214: PORTAL WAKTU AKTIF KEMBALI

    Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, suasana di istana Gilingwesi mulai mereda. Namun, ketegangan masih menyelimuti udara. Raka berdiri di tepi sungai suci, artefak perunggu di pinggangnya bergetar lemah. Ia tidak bisa menyingkirkan perasaan bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi—sesuatu yang melampaui kemenangan sementara atas pasukan asing dan penyihir gelap.Saat ia memandangi artefak itu, cahaya biru keperakan tiba-tiba memancar dengan intensitas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Getarannya semakin kuat, hingga nyaris terlepas dari genggamannya. Suara gemuruh rendah bergema di udara, seperti desiran energi kosmik yang membangunkan seluruh istana."Raka!" seru sebuah suara di belakangnya. Arya Kertajaya berlari mendekat, wajahnya dipenuhi oleh kekhawatiran. "Apa yang terjadi? Apakah itu cerminmu?"

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 213: KEMENANGAN SEMENTARA

    Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, pasukan asing akhirnya mundur. Penyihir gelap telah dikalahkan oleh kekuatan spiritual Raka, dan pasukan loyalis berhasil menekan sisa-sisa pasukan bayangan Ki Jagabaya. Namun, kemenangan ini tidak datang tanpa harga mahal. Kerajaan Gilingwesi terlihat seperti reruntuhan—istana utama hancur sebagian, desa-desa di sekitarnya luluh lantak, dan banyak korban jiwa berjatuhan.Angin dingin berembus di medan perang, membawa aroma darah dan abu yang masih menyelimuti udara. Asap tebal mengepul dari bangunan-bangunan yang terbakar, menciptakan suasana kelabu yang suram. Prajurit loyalis berkumpul di lapangan istana, wajah mereka lelah namun penuh rasa syukur atas kemenangan yang diraih dengan susah payah.Namun, bagi Raka, kemenangan ini terasa kosong. Ia berdiri di tengah-tengah kerumunan prajurit, tetapi pikirannya jauh dari perayaan. Matanya tertuju pada reruntu

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 212: KI JAGABAYA DITANGKAP

    Pertempuran besar di luar istana mulai mereda setelah kekalahan penyihir gelap. Pasukan loyalis berhasil menekan pasukan bayangan Ki Jagabaya, yang kini tercerai-berai tanpa pemimpin mereka yang menghilang bersama penyihir gelap. Namun, Arya Kertajaya tidak puas dengan hasil ini. Ia tahu bahwa Ki Jagabaya adalah otak di balik serangan mematikan terhadap kerajaan, dan ia bertekad untuk menangkap pria itu sebelum ia melarikan diri. Di tengah kekacauan medan perang, Arya Kertajaya memimpin pasukan kecil menuju lokasi rahasia di hutan lebat tempat Ki Jagabaya diketahui bersembunyi. Ia telah mendengar desas-desus dari beberapa prajurit bayangan yang tertangkap bahwa Ki Jagabaya sedang mempersiapkan langkah selanjutnya—rencana yang lebih berbahaya daripada serangan pertama. Setelah berjam-jam mencari, Arya Kertajaya dan pasukannya akhirnya menemukan Ki Jagabaya di sebuah gua tersembunyi di tepi sungai suci.

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 211: KEKUATAN BARU RAKA

    Setelah Dyah Sulastri jatuh ke dalam koma, medan perang terasa semakin sunyi bagi Raka. Tubuhnya masih gemetar karena kelelahan dan emosi yang memuncak. Ia berlutut di tanah, memegang tubuh tak berdaya sang putri dengan erat, air mata mengalir deras di pipinya."Kenapa harus seperti ini?" gumamnya pelan, suaranya penuh rasa bersalah dan kemarahan. "Kenapa aku tidak bisa melindungimu?"Pasukan loyalis mencoba mendekat untuk membawa Dyah Sulastri ke tempat aman, tetapi Raka menolak mereka dengan gerakan tangan yang tegas. Matanya kosong, namun di dalam dirinya, api kemarahan mulai menyala. Ia merasakan sesuatu yang baru—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Angin dingin berdesir, membawa aroma belerang yang semakin kuat. Penyihir gelap muncul kembali, tertawa dingin di tengah kabut hitam yang menyelimuti medan perang. "Lihatlah dirimu, Raka," ejeknya. "Kau

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 210: DYAH SULASTRI MENGORBANKAN DIRI LAGI

    Pertempuran besar di luar istana mencapai puncaknya. Suara senjata yang beradu, teriakan prajurit, dan raungan makhluk gaib menggema di udara malam. Api melahap beberapa sudut benteng, sementara asap hitam membumbung tinggi ke langit, menyelimuti medan perang dalam kabut pekat. Pasukan bayangan Ki Jagabaya dan sekutunya dari dunia gaib terus menyerang tanpa henti, memanfaatkan setiap celah dalam pertahanan kerajaan.Di tengah medan perang yang kacau, Raka berdiri di garis depan, menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Meskipun ia berhasil menahan serangan-serangan awal, kekuatannya mulai terasa melemah. Ia merasakan energinya terkuras habis dengan cepat, membuat tubuhnya semakin goyah.Penyihir gelap muncul di tengah medan perang, dikelilingi oleh kabut hitam yang pekat. Matanya bersinar seperti bara ap

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 209: PENYIHIR GELAP MENGAMUK

    Medan perang yang sudah penuh dengan kekacauan semakin memanas saat penyihir gelap muncul di tengah-tengah pertempuran. Tubuhnya dikelilingi oleh energi hitam pekat yang mengintimidasi, dan matanya berkilat merah seperti bara api. Ia melangkah maju dengan gerakan anggun namun menakutkan, seolah-olah seluruh dunia ada dalam kendalinya."Kalian semua telah bermain cukup lama," katanya dengan suara dingin yang menusuk. "Sekarang, saatnya kalian membayar harga atas perlawanan kalian."Penyihir itu mengangkat kedua tangannya, menciptakan pusaran energi hitam besar di udara. Pusaran itu mulai melepaskan serangan sihir yang menghantam barisan pasukan loyalis, menyebabkan banyak prajurit terpental dan jatuh tak bernyawa. Para makhluk gaib yang setia kepada kerajaan pun terlihat kesulitan menghadapi kekuatan gelap ini.

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 208: ARYA KERTAJAYA MENYELAMATKAN MEREKA

    Langit di atas medan perang mulai menghitam, tertutup awan tebal yang menandakan kemarahan alam. Angin dingin berhembus kencang, membawa aroma darah dan belerang yang menebal seiring dengan intensitas pertempuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya terus melancarkan serangan brutal, sementara makhluk gaib dari kedua pihak saling bertarung tanpa ampun.Di tengah kekacauan, Raka masih mencoba mengatur napasnya setelah menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Namun, energinya hampir habis, dan ia merasa dirinya tidak lagi mampu melawan jika serangan baru datang. Dyah Sulastri berdiri di sampingnya, mata hijaunya penuh dengan kekhawatiran."Kau harus istirahat," bisik Dyah pelan. "Kekuatanmu sudah mencapai batasnya."Raka menggeleng lemah. "Aku tidak bisa berhenti sekarang. Jika aku berhenti, kita semua akan mati."Sebelum mereka sempat melanjutkan percakapan, sebuah suara raungan keras memenuhi udara. Sebuah Genderuwo raksasa muncul dari

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 207: RAKA MENGGUNAKAN KEKUATANNYA

    Pertempuran di luar istana telah berubah menjadi badai kehancuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya yang dipersenjatai dengan senjata mistis dan sihir hitam terus menggempur pertahanan kerajaan. Makhluk-makhluk gaib seperti Banaspati, Buto Ijo, dan Genderuwo juga turut berperang, masing-masing memilih pihak mereka. Di tengah kekacauan itu, Raka berdiri di garis depan, masih mencoba memahami situasi yang semakin tak terkendali. Angin malam membawa aroma belerang yang menusuk, sementara cahaya bulan redup tertutup awan kelabu. Suara gema tombak dan pedang bergesekan dengan energi spiritual memenuhi udara. Raka merasakan tubuhnya bergetar hebat. Dalam beberapa hari terakhir, ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh terjadi padanya. Sejak ritual gaib yang dipimpin Dyah Sulastri di bab sebelumnya, ia merasakan aliran energi aneh di dalam dirinya—seperti gelombang panas yang melingkupi seluruh tubuhnya. Awalnya, ia mengabaikannya sebagai efek sam

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status